Selasa, 31 Januari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Maek Jong menemui Moo Myung menanyakan keadaanya, Moo Myung mengejek Maek Jong yang mengkhawatirkanya. Maek Jong mengaku kalau mengkhawatirkan temanya, Moo Myung menanyakan alasan Maek Jong harus khawatir, Maek Jong terlihat gugup menjelaskan alasanya, tiba-tiba Moo Myung mengarahkan pedangnya di leher Maek Jong.
“Apakah itu kau? Apa kau... Raja?” ucap Moo Myung ingin memastikanya.,
Maek Jong terdiam karena Moo Myung sudah mengetahui jati dirinya sebagai raja. Ah Ro berlari mencari-cari sesorang saat itu melihat Moo Myung sudah mengarahkan pedang ke lehar Maek Jong. 

Moo Myung ingin Maek Jong mengatakan kalau ia memang benar-benar seorang raja, saat itu Ah Ro datang langsung menghalangi kakaknya. Moo Myung menegaskan pada Ah Ro kalau ini bukan urusanya, Ah Ro membalas kalau ini adalah urusanya karena sang kakak meletakan pedang di leher seseorang. Moo Myung menyuruh Ah Ro segera Minggir.
“Apakah kau benar-benar percaya gosib itu? Raja tidak bodoh. Mengapa ia akan berada di sini? Tempat ini penuh dengan musuh. Dia tidak akan berada di sini. Aku tidak tahu ada urusan apa kau dengan Raja, tapi dia bukan Raja. Aku tahu dan bersumpah untuk itu. Jadi tolong berhenti bicara omong kosong... Dan tidak melakukan hal ini.” Ucap Ah Ro
“Aku berkata, minggir!” teriak Moo Myung marah
“Orang ini bukan Raja.. Aku mengatakan yang sebenarnya.” Kata Ah Ro menyakinkan., saat itu Moo Myung ingin mengayunkan pedangnya, tapi malah membuat mengenai tangan Ah Ro. Akhirnya Ia memilih untuk pergi tanpa berkata-kata. 

Ah Ro akhirnya berjongkok dengan tubuh yang lemah karena bisa membuat kakaknya pergi. Maek Jong yang melihat Ah Ro menanyakan alasan Ah Ro yang melakukan hal itu dengan melihat luka dibagian tangan. Ah Ro piki tak ada yang bisa dilakukan karena identitas Maek Jong  tidak boleh terungkap.
“Jadi bagaimana jika kau adalah Raja? Mengapa ia sangat membenci Raja? Jangan khawatir. Ia akan percaya apa yang saya katakan.” Kata Ah Ro menyakikan raja.
“Kau terluka...” ucap Maek Jong menarik Ah Ro agar berdiri melihat luka dibagian tangan. 

Ah Ro memberikan obat pada lukanya dan memakian perban, Maek Jong ingin menolongnya, Ah Ro menolak merasa bisa melakukan sendiri. Maek Jong mengatakan kalau merasa masalah kalau tak membantu Ah Ro. Akhirnya Ah Ro membiarkan Maek Jong membantunya.
“Dia adalah kakakmu. Mengapa Kau pergi sejauh itu?” ucap Maek Jong
“Yah, saya tidak bisa membiarkan dia membunuh... kau tahu...” kata Ah Ro
“Aku merasa seperti kau mendapatkan bahaya karena aku, jadi aku marah pada diriku sendiri.” Ungkap Maek Jong
“Apa gunanya menjadi marah pada diri sendiri? Bahkan jika tidak ada seorang pun di dunia ini di sisimu, kau masih harus berada di sisimu. Bahkan jika kau menyedihkan dan lemah, maka kau harus percaya diri. Apakah kau tidak berpikir begitu?” kata Ah Ro
Maek Jong terdiam, Ah Ro menjelaskan kalau bukan berarti bahwa Maek Jong itu menyedihkan. Maek Jong hanya diam seperti mengerti maksud ucapan Ah Ro. 

Moo Myung melamun mengingat saat Ah Ro menghalanginya saat berhadapan dengan raja, lalu mengatakan “ Aku tidak tahu ada urusan apa kau dengan Raja, tapi dia bukan Raja. Aku tahu dan bersumpah untuk itu. Jadi tolong berhenti bicara omong kosong Dan tidak melakukan hal ini.” Lalu tak sengaja malah melukai tangan Ah Ro dengan pedangnya.
“Teknikmu kurang... dan serampangan dengan pedang. Namun, Kau memiliki bakat untuk menang.” Komentar Putri Sook mendatangi Moo Myung yang duduk sendirian.
“Apa Kau berani menatap pada wajahnya? Apakah semua anggota keluarga kerajaan tidak tahu malu? Kau tidak tampak menyesal sama sekali... untuk seseorang yang menembak panah padaku. Kau memang mirip satu sama lain.” Sindir Moo Myung lalu berjalan pergi.
“Berhenti.... Aku bisa mengajarkanmu bagaimana menggunakan pedang. Jika kau belajar sedikit, maka Kau bisa menjadi... Kau pasti tidak tahu...” ucap Putri Sook ingin membantu.
“Saya akan membunuh jika saya belajar ilmu pedang.” Tegas Moo Myung lalu berjalan pergi. 


Ah Ro mencari-cari keberadaan Moo Myung karena sebelumnya melihat seperti terluka. Tiba-tiba Joo Ki sudah ada disamping Ah Ro membuat Ah Ro sangat kaget, lalu ia bertanya alasan Ah Ro seperti sedang mencari seseorang.
Ah Ro ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Joo Ki heran karena Ah Ro tak mau mengatakanya, lalu bertanya apakah ingin pulang, lalu mengajaknya pergi. Keduanya berjalan keluar dari rumah Hwarang, tapi Ah Ro masih melihat ke belakang.

Joo Ki bertanya apa sebenarnya yang dicari Ah Ro. Ah Ro mengaku kalau hanya berharap untuk melihat sesuatu. Joo Ki bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin dilihat sambil menengok ke belakang. Ah Ro akhirnya berjalan lebih dulu. Joo Ki langsung mengeluh Ah Ro yang selalu saja pergi sendirian.
Di balik celah jendala terlihat, Moo Myung yang bersembunyi melihat Ah Ro yang pulang diantar Joo Ki seperti sengaja untuk tak menampakan dirinya. 


Maek Jong melihat pengawal ibunya menemuinya, akhirnya kembali menemui ibunya diam-diam. Ia bertanya alasan ibunya membiarkan Sook Myung melakukan nya. Ratu Ji Soo pikir kalau itu hal yang baik karena  Orang lain keliru mengira Moo Myung  sebagai Raja bukan anaknya.
“ Anak dari Ahn Ji adalah kekeliruan untuk Raja, jadi tutup mulut. Itulah satu-satunya hal yang dapat Kau lakukan sekarang.” Tegas Ratu Ji So
“Apakah kau mengatakan... bahwa kau merencanakan semua ini?” ucap Maek Jong tak percaya
“Aku bisa melakukan apa saja. Jika Kau bisa mendapatkan takhta yang aman. Aku bisa membunuh semua anggota Hwarang sekarang.” Tegas Ratu Ji Soo
Maek Jong merasa kalau ibunya berpikir bahwa itu adalah apa yang dinginkan. Ratu Ji So menegaskan kalau tidak peduli tentang apa yang diinginkan dan dilakukan, ataupn yang dibenci. Namun, ia sangat peduli tentang apa yang dapat dilakukannya.
“Jika kau ingin mengambil tahta dalam hidupmu, jangan lakukan apapun.   Bahkan Tidak ada sama sekali. Apakah kau mengerti?” tegas Ratu, Maek Jong hanya bisa diam saja. 

Maek Jong bersiap-siap tidur begitu juga Moo Myung ditempat tidur masing-masing. Saat Maek Jong menutup matanya tiba-tiba Moo Myung menyerang dengan mencekik lehernya.
“Apa kau... Raja? Kau... membunuh temanku. Kau!” ucap Moo Myung penuh dendam mencekik lehernya.
Maek Jong terbangun dengan wajah panik memegang lehernya, seperti merasakan kalau mimpinya itu seperti kenyataan, lalu melihat ke arah tempat tidur Moo Myung, ternyata kosong. 

Moo Myung berdiri didepan danau sendirian, mengingat sepanduk RAJA dengan simbol naga dan itu sama dengan gelang yang dipakai olehnya. Wi Hwa mendekati Moo Myung menanyakan apa yang sedang dilakukan pada larut malam dengan mengumpat anak didiknya yang kasar anak nakal karena tidak pernah menyapa guru.
“Spanduk bertuliskan "Raja ada di dalam Hwarang." Apakah itu benar?” kata Moo Myung penasaran
“Apakah itu terlihat seperti... Raja adalah Hwarang untukmu?” komentar Wi Hwa
“Ji Dwi... Apakah dia benar-benar keponakan Anda?” tanya Moo Myung curiga, Wi Hwa sempat gugup mengaku kalau Ji Dwi  adalah saudara jauh.
“Mengapa kau begitu ingin pada menemukan Raja?” tanya Wi Hwa
“Kita punya... hubungan naas.” Akui Moo Myung
Wi Hwa bertanya apakah ini maksudnya antara Moo Myung dengan Raja dan apakah akan membunuhnya jika melihatnya. Moo Myung malah balik bertanya pada Wi Hwa kenapa harus menanyakan hal itu lalu ingin tahu apakah bisa melakukanya.
“Pernahkah Kau mendengar kata, "Abyss"? Coba Lihatlah kolam ini.Di permukaan, itu tenang dan hitam. Tapi di dalamnya... yang tak terhitung jumlahnya batu, ikan hidup, tanaman air, dan sampah... perjuangan yang hidup seolah-olah dalam perang.” Ucap Wi Hwa memberikan perumapaan. Moo Myung meminta Wi Hwa berbicara yang sederhana agar bisa dimengerti.
“Banyak yang ingin melihat kolam ini dan kesalahan itu. Hanya karena Kau melihat permukaan tenang nya, itu tidak berarti Kau tahu segalanya tentang hal itu. Aku hanya mengatakan... bahwa aku tidak ingin kau... untuk membuat kesalahan seperti itu.” Jelas Wi Hwa lalu menyurh Moo Myung segera pergi ke kamarnya dan tidur.


Moo Myung berjalan masuk ke dalam kamarnya memikirkan perkataan Wi Hwa kalau yang dilihat itu "Neraka" lalu berdiri menatap Maek Jong yang sedang tertidur. Maek Jong sengaja memiringkan badanya, membuka matanya seperti merasakan kedatangan Moo Myung yang berdiri dibelakanganya.
Sementara Tuan Park memegang seperti dadu dengan ujung-ujungnya yang sedikit runcing. Lalu langsung melemparnya, anak buahnya langsung terlihat berdarah dibagian pelipisnya dan ia menyuruh segera pergi. Ho Kong mengambil benda mirip dadu dengan noda darah.

“Kita bisa menyelesai dia segera, tapi kenapa repot-repot.” Keluh Tuan Kang
“Apa pendapatmu tentang mempekerjakan seorang pembunuh?” saran Ho Kong 
“Tidak sekarang... Dia adalah Hwarang yang mengalahkan penjaga ku. Jadi Semua Hwarang dan pejabat memiliki mata mereka pada dirinya. Bagaimana kita dapat mengirim pembunuh?” ucap Tuan Park, Ho Kong  binggung apa yang akan dilakukanya.
 “Akan ada kesempatan.” Ucap Tuan Park penuh rencana.


Pengawal yang sedang berjaga binggung mendengar suara tapak kuda yang sedang berjalan, tiba-tiba kuda tanpa ada yang menunggainya masuk. Dua pengawal kaget melihat ada dua kepala yang digantung dan peringatan  (Mereka mengincar Baekje akan mendapatkan sesuatu yang layak)
Rapat pun diadakan dalam ruangan Raja, Para pendukung Tuan park mengeluh Ratu yang hanya duduk dan menonton menurutnya jika mereka  tidak mengambil tindakan, maka akan  berpikir bahwa Silla adalah penurut. Kim Seub pikir mereka tidak dapat mematahkan aliansi telah terus berkerja sama dengan Baekje selama lebih dari 100 tahun.
“Setelah istirahat aliansi kami, Goryeo... pasti akan mencoba untuk menaklukkan bangsa ini.” Ucap Kim Seub membela
“Kau bilang aliansi?!! Dari apa yang terjadi sekarang, jelas aliansi kami sudah pecah.” Komentar Anak buah Tuan Park
Kim Seub makin marah dengan yang dikataka Anak buah Tuan Park, Anak buah Tuan Park lainya melihat Pangeran Baekje terkenal untuk menjadi agresif dan tirani jadi mereka tak ingin ratu hanya duduk diam saja. Tuan Park langsung berkomentar mengajak mereka  pergi ke perang karena Baekje memprovokasi setiap kali ada kesempatan jadi mereka sekarang akan mengambil kesempatan itu. Semua terlihat kaget.
“Baekje lebih kuat dari kami. Bagaimana kita bisa mengambil alih?” ucap Kim Seub panik
“ Jika kita tidak bisa perang, mengapa kita tidak mengirim Putri untuk berdamai? Jika kita mengirim jumlah minimum delegasi mengawal dia, mungkin diselesaikan lebih mudah dari yang kita pikirkan.” Saran Tuan Park, Ratu mulai gelisah
“Bagaimana kita bisa menggunakan Putri dalam hal-hal seperti itu?” komentar Kim Seub
Tuan Park pikir dengan begitu mereka bisa berperang sekarang lalu menanyakan Ratu Ji Soo apa yang dipilihanya, Apakah perang atau persahabatan. Ratu Ji Soo mengatakan akan mengirimkan Hwarang sebagai pendamping dirinya. Semua terlihat kebinggungan dengan keputusan Ratu.
“Jika ini adalah untuk berdamai dengan Baekje, maka itu lebih masuk akal untuk mengirim Hwarang dari tentara. Dengan cara itu, mereka akan percaya kita berada di sana untuk persahabatan. Apakah Kau tidak setuju?” kata Ratu Ji Soo melirik sinis pada Tuan Park 


Ho Kong melaporkan pada Tuan Park bahwa Para pejabat khawatir jika anak-anak mereka akan dijemput. sebagai salah satu pendamping dan tidak pernah kembali. Tuan Park hanya diam sambil menaruh baduknya, Ho Pikir dugaan mereka  tidak benar kalau memang Sun Woo adalah Raja, maka Ratu tidak harus menyarankan untuk mengirim Hwarang segera.
“Apakah Kau tidak mendengar Ratu? Mereka tidak akan ada perang dan pergi ke sana untuk persahabatan. “ ungkap Tuan Park santai
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Jika mereka tidak menerima, maka Hwarang bisa menjadi sandera atau bahkan mati.” Ucap  Ho Kong khawatir
“Aku yakin dia adalah Sam Maek Jong. Namun, bahkan jika bukan dia, aku yakin Raja pasti di Hwarang. Mari kita menonton Ratu dengan perjalanan dalam perangkap sendiri.” Kata Tuan Park 

Wi Hwa berjalan di lorong istana, lalu berhenti mengingat saat berbicara dengan Maek Jong.
Flash Back
Maek Jong bertanya pada Wi Hwa apakah ia menjadi seorang raja yang sesungguhnya karena ibunya tidak akan pernah menjatuhkan tahta. Wi Hwa pikir yang Silla inginkan bukan Ratu Ji Soo tapi seorang Raja. Maek Jong bertanya apabila ia mengambil takhta, apakah akan baik-baik saja.
“Sebuah bangsa dengan mata pelajaran bahagia dan raja penderitaan. Seseorang yangjangan khawatir tentang bangsa, tapi raja khawatir tentang mata pelajaran. Apakah kau tidak mengatakan bahwa kau ingin tinggal di negara tersebut? Jika kau ingin membuat sebuah bangsa seperti itu, maka itu akan baik-baik saja bagimu untuk menjadi raja.” Jelas Wi Hwa
“Aku ingin menjadi lebih kuat. Namun, Aku telah pergi berkelana dan menyembunyikan semua hidup ku. Siapa yang akan mendukung ku?” ucap Maek Jong rendah diri.

Wi Hwa bertemu dengan Ratu Ji Soo terlihat kaget, Ratu memberitahu kalau mereka akan memilih beberapa Hwarang untuk mengawal Putri. sebagai delegasi ke Baekje. Wi Hwa mengartikan kalau keluarga kerajaan dan para pejabat berkelahi satu sama lain, maka merka digunakan sebagia langkah sementara.
“Pernahkah Kau berpikir tentang apa yang bisa perang lakukan untuk Silla? Jika istirahat aliansi kami, yang akan menjadi akhir dari perdamaian di Silla. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghindari perang. Dengan Membentuk kelompok dari anak-anak para pejabat... di sisi Tuan Young Shil.” Tegas Ratu Ji Soo

“Sekarang Anda benar-benar terdengar seperti seorang raja. Namun, kau bukan ditempat “Yang Mulia”  ungkap Wi Hwa
“Ini adalah keputusan... “Yang Mulia” harus diperbuat,  Pada saat ini, Aku kekuasaan tertinggi Silla. Apa yang harus Kau katakan kepada ku sekarang adalah, "Aku mengerti, Yang Mulia." “ ucap Ratu Ji Soo, Wi Hwa pun tak bisa menolaknya.
“Namun, Aku harus memilih mana dari Hwarang... Yang di kirim” kata Wi Hwa. 


Ah Ro melonggo mencari seseorang dan melihat Moo Myung berjalan kearahnya, lalu menenangkan dirinya agar bisa terlihat biasa agar tak terlihat kalau pertemuanya disengaja. Saat akan berjalan pergi, melihat Moo Myung malah sudah membalikan arahnya.
“Apakah dia tidak melihat ku? Aku rasa Dia tidak melihat ku” ungkap Ah Ro sedih melihat Moo Myung seperti pergi meninggalknya. Sung Rang datang melihat tatapan Ah Ro ke arah Moo Myung
“Anjing-Burung melihat mu, kemudian ia berbalik dan pergi dengan cara itu dan Aku melihat.” Ungkap Sung Rang, Ah Ro seperti tak percaya kalau Moo Myung melakukanya.,
“Apakah saudara mu mengabaikan mu sekarang? Tapi Bagaimana itu bisa terjadi? Seorang kakak biasanya melindungi adik mereka. Apakah kau mengkhianatinya?” kata Sung Rang
“Aku tidak mengkhianatinya. Keadaan itu...” ucap Ah Ro tak bisa menjelaskanya, Sung Rang sudah bisa menebak kalau Ah Ro itu mengkhianatinya. Ah Ro menyangkal dan pergi meninggalkanya. Sung Rang mengikutinya ingin tahu alasan Ah Ro mengkhianatinya. 

Ah Ro berlari menuju lorong dan langsung menghadang Moo Myung menanyakan kenapa menghindarinya. Moo Myung hanya diam menatap teman adiknya. Ah Ro menjelaskan dirinya sebagai  seorang dokter melihat Moo Myung melambaikan pedang, merasa kalau dirinya harus mengambil tindakan.
“Lalu Apa kesalahan yang telah aku perbuat? Kau memiliki mulut, jadi berbicaralah” ucap Ah Ro, Moo Myung mengingat saat tak sengaja melukai tangan Ah Ro lalu menatap kearah bagian tangan.
“Mengapa kau menolak untuk melihat ku? Mengapa kau begitu berpikiran sempit?” ucap Ah Ro, Moo Myung tak menjawab. Ah Ro kesal karena sikap Moo Myung seperti itu, apabila adan hal-hal yang sulit, terus menghindarinya.
“Tapi berapa lama kau akan menghindarinya? Apakah Kau berencana untuk tidak pernah melihat ku lagi karena hal itu? Kau bahkan tidak bisa lari. Aku tahu kau akan tinggal di sisiku.” Kata Ah Ro, Moo Myung memilih untuk pergi meninggalkanya tanpa bicara. Ah Ro pun hanya bisa menangis. 

Wi Hwa merenung dalam ruanganya, Assitantnya menanyakan apakah terjadi suatu masalah. Wi Ha dengan wajah serius meminta agar memanggil semua Hwarang karena punya pesan untuk mereka.

Moo Myung berjalan dan berpapasan dengan Maek Jong, tapi berusaha untuk mengabaikanya. Maek Jong langsung menariknya dan Moo Myung dengan penuh amarah langsung mencengkram bajunya.  Maek Jong bertanya apakah Moo Myung masih berpikir kalau dirinya sebagai Raja.
“Kalau memang benar itu aku, apakah tidak bisa kau dan aku... menjadi teman?” tanya Maek Jong
“Saat aku mengkonfirmasi kau adalah Raja, maka Aku akan membunuhmu.” Tegas Moo Myung penuh dendam.
“Maka  aku akan terus tidak menjadi Raja. Aku lebih suka menjadi teman mu daripada menjadi raja. Maksudku, terlepas dari siapa... yang kau pikir tentang aku” ucap Maek Jong.
“Kau tidak tahu apa artinya teman ... karena kau tidak pernah memiliki satu. Aku membiarkan mu menjadi teman hanya untuk satu alasan Karena Ah Ro melindungi mu untuk beberapa alasan. Jadi Jangan sentuh aku... sampai aku menjadi lebih yakin padamu” tegas Moo Myung lalu pergi meninggalkanya.
Pa Oh melihat Moo Myung yang mencengkram Maek Jong ingin memarahinya, tapi Maek Jong menahanya membiarkan Moo Myung pergi lalu bertanya kenapa datang menemuinya. Pa Oh mengatakan kalau ada surat dari Ratu dengan memastikan tak ada orang disekelilingnya. Maek Jong melihat isinya “Tetap Tinggal”


Semua anggota Hwarang berkumpul dari ruangan, Moo Myung duduk dan langsung duduk disamping Yeo Wool.Semua menatap Moo Myung dengan penuh arti. Yeo Wool heran melihat tatapan para anggota Hwarang.
Anak buah Ban Ryu membahas Moo Myung yang beradu pedang kemarin, bahkan hampir terkencing dicelana. Salah satunya merasa menyesal karean tak bersikap baik pada Sun Woo kalau memang tahu ia adalah seorang Raja. Maek Jong masuk melirik sinis pada Moo Myung dan memilih duduk menjauh. 

Ban Ryu menatap Moo Myung, teringat kembali saat bertemu dengan ayah tirinya.
Flash Back
Tuan Park memerintahkan Ban Ryu agar menemukan jawabannya, apakah dia adalah Raja atau tidak dan Jangan sampai ada raja sehingga ia membuat Ban Ryu menjadi seorang raja.
Sementara Soo Ho juga menatap Moo Myung penuh arti teringat kembali dengan Ratu yang bertemu denganya.
Flask Back
Ratu bertanya apakah  So Ho mengenal Sun Woo berpesan agar menjaga dirinya. Soo Ho yang mengingat pesan Ratu seperti akan selalu berada didekat Moo Myung.
Yeo Wool melihat Moo Myung menanyakan apakah wajahnya baik-baik saja karena terlalu tegang, dan Semua orang menatapnya. Moo Myung hanya diam saja seperti mengabaikan tatapan orang lain padanya. 
Wi Hwa akhirnya masuk ruangan memberitahu  punya... sesuatu yang istimewa untuk mengatakan kepada mereka dan yang dikatakan  bukan tugas yang hasilnya harus lulus atau gagal, dan itu bukan tugas yang harus dilakukan.
“Namun, itu adalah sesuatu yang harus... seseorang lakukan.” Ucap Wi Hwa 


Putri Sook menemui Ratu seperti kaget kalau dirinya yang  akan pergi ke Baekje tanpa tentara. Ratu Ji Soo menegaskan tidak mengirimkan untuk perang, tapi untuk persahabatan. Putri Sook bertanya apakah dengan perang meraka bisa menyangkalnya.
“Sook Myung. Jika aliansi kami dengan mereka gagal, maka Tiga Kerajaan akan berada dalam kekacauan. Mereka tahu ini juga. Jadi Kau harus mengingatkan mereka dari risiko dan memperbaiki hubungan.” Jelas Ratu
“Mengapa... harus aku yang melakukannya?” tanya Putri Sook
“Karena ini bukan perang, tapi persahabatan” tegas Ratu, Putri Sook akan melihat kondisinya lebih dulu.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar