Jumat, 20 Januari 2017

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 18 Part 1

PS : All images credit and content copyright : SBS
Chi Hyun mendengar ayahnya yang sedang berbicara di telp, air matanya mengalir merasa sakit hati karena ternyata ayahnya sangat menyanyangi Joon Jae. Saat itu tangan Tuan Heo langsung jatuh lemas, Chi Hyun panik melihat ayahnya lalu berlari menghampirinya dan melihat secangkir minuman diatas meja, buru-buru ia pergi ke dapur mencucinya lalu berusaha untuk seolah-olah panik menelp 911 kalau ada pasien gawat. 

Polisi pun memberikan garis polisi dan melakukan penyelidikan gelas diubah menjadi air putih. Chi Hyun berakting seperti sangat terpukul dengan menahan tangisnya, Tim NFS bertanya Apa obat yang baru-baru diminum oleh Tuan Heo, Chi Hyun juga tak tahu tapi yang ia tahu ayahnya itu  baru dioperasi darurat karena pendarahan otak.
“Dia juga dijadwalkan untuk menerima operasi katarak, jadi... dia mungkin meminum obat yang berhubungan dengan katarak.” Ucap Chi Hyun memberitahu dengan menahan tangis sedihnya.
“Tidak ada luka, dan dilihat dari tempat tidurnya, tidak ada tanda-tanda adanya bahan kimia beracun. Dilihat dari bibir birunya, menandakan adanya serangan jantung, tapi kami akan menyelidiki lebih lanjut.” Jelas Tim NFS
Detektif bertanya keberadaan Nyonya Kang, Chi Hyun memberitahu sedang pergi karena ada janji sekitar 2 jam yang lalu. Detektif memastikan kalau ibunya belum tahu kalau Tuan Heo  sudah meninggal. Chi Hyun mengaku  belum sempat memberitahunya karena pasti shcok kalau tahu kabar ini. Detektif pun berpikir mereka akan membawa Tuan Heo ke rumah sakit lebih dulu. Chi Hyun pun setuju.

Chi Hyun melihat jenazah ayahnya dibawa menuruni tangga, tangisnya meledak seperti sangat kehilangan ayah tirinya. Detektif memperhatikan gerak gerik Chi Hyun seperti tak mencurigainya.  Joon Jae baru datang terlihat panik melihat ayahnya yang sudah ditutupi kain putih dan dimasukan ke dalam ambulance untuk di bawa ke rumah sakit.
Joon Jae seperti merasa menyesal langsung jatuh berlutut menangis histeris meminta maaf pada ayahnya. Detektif membantu Chi Hyun berjalan keluar rumah yang terlihat masih lemas.
“Setelah pemeriksaan postmortem, pemeriksaan resmi surat-surat akan dikeluarkan untuk kepentingan pemakaman. Kau perlu mempersiapkan pemakamannya.” Jelas Detektif, Chi Hyun mengerti dengan wajah sedihnya lalu melihat didepan pintu Joon Jae yang menangis.

Joon Jae melihat Chi Hyun langsung menyerangnya, dengan mengumpat marah. Detektif dibuat binggung dengan Joon Jae yang tiba-tiba menyerang Chi Hyun. Joon Jae tahu karena Chi Hyun dan ibunya membuat ayahnya seperti ini. Chi Hyun hanya diam seperti sangat lemah untuk membalasnya.
“Aku tidak akan diam saja! Aku akan membunuhmu. Akan kubunuh kalian berdua !!”teriak Joon Jae, Detektif berusaha menarik Joon Jae yang berteriak histeris seperti orang gila.
“Kalian pembunuh! Kalian membunuh ayahku!” teriak Joon Jae, Detektif akhirnya bisa menjauhkan Joon Jae dari Chi Hyun bertanya siapa ia.
“Aku... aku anaknya Heo Il Joong!” ucap Joon Jae, Chi Hyun membenarkan kalau Joon Jae adalah adiknya.

 “Kau bilang Aku adikmu? Memang kau siapa?! Siapa kau, bajingan!” teriak Joon Jae kembali menyerang dengan pukulan diwajah Joon Jae, Detektif mengancam Joon jae akan menangkapnya dua polisi pun menarik Joon jae agar menjauh dari Chi Hyun. 
Detektif Hong datang dengan anak buahnya, dengan mengumpat agar tak menyentuh Joon Jae lalu memperlihatkan ID Cardnya sebagai polisi. Joon Jae akhirnya dilepaskan dan ingin memukul Chi Hyun kembali. Detektif Hong meminta agar Joon Jae sadar. Joon Jae mencoba tenang dan mengatur nafasnya.
“Ayah telah meninggal. Aku seharusnya menghentikannya..., tapi aku tidak bisa.” Ucap Joon Jae menahan tangisnya.
“Karena itulah, kau harus fokus. Kau harus cari tahu semuanya. Kenapa ayahmu menjadi seperti itu... Kau perlu mencari tahunya. Pergilah ke RS sekarang. Aku yang urus semuanya disini. Paham?” jelas Detektif Hong lal meminta Petugas Cha memulai penyelidikan didalam rumah. 


Sim Chung mondar mandir dipinggir kolam renang, Nam Doo mendekati bertanya apa yang sedang dilakukanya. Sim Chung khawatir dengan Joon Jae sampai tidak bisa tidur. Nam Do pikir ketika Detketif Hong datang ke rumah Joon Jae yakin nanti akan mengambari mereka.
“Tapi Chung, aku penasaran soal sesuatu. Boleh aku bertanya padamu? Kau pernah bilang sebelumnya.” Ucap Nam Do mengingat ucapan Sim Chung
Flash Back
Sim Chung mengatakan Ma Dae Young yang tidak ingat apa-apa sekarang, Nam Do ingin tahu apa yang tak diingat oleh Dae Young , Sim Chung memberitahu kalau Dae Young tak ingat siapa dia dan perbuatan selama ini. 

Nam Doo ingin memastikan kalau Dae Young kehilangan semua ingatannya dan ingin tahu darimana Sim Chung bisa mengetahuinya. Lalu menduga kalau Sim Chung yang membuat Ma Dae Young seperti itu. Sim Cung balik bertanya kenapa Nam Do menanyakan hal seperti itu.
“Tak pernah kusangka aku sangat mengenalimu,tapi belakangan ini, aku sungguhtak yakin siapa dirimu dan apa kemampuanmu.Siapa kau?” ucap Nam Do akhirnya berdiri mendekati Sim Chung
“Aku...temanmu.” ungkap Sim Chung yang tak mengaku sebenarnya. Nam Doo bisa mengerti jawabannya.
“Tapi pekerjaanku ini membuat seseorang percaya kalau aku temannya dan kemudian mengkhianatinya.” Kata Nam Do tak percaya
“Meskipun aku tidak suka kau orang semacam itu, bagiku, sekalinya aku menjadi temanmu, maka itu saja. Entah kau mengkhianati atau tidak itu keputusanmu. Setelah aku dikhianati, aku akan memikirkan apa yang harus kulakukan terhadapmu. Sampai saat itu, kau tetaplah temanku.” Ucap Sim Chung
Suasana terlihat tegang, tiba-tiba Tae O datang mengomel karena keduanya tak ada yang mengangkat ponsel darinya. Nam Do terlihat benar-benar kaget, tatapan Sim Chung terlihat begitu kaget melihat Tae Oh.


Ketiga pergi ke bagian tim forensik, terlihat Joon Jae yang duduk bersandar di depan kamar jenazah, ketiga terlihat sedih. Nam Doo akhirnya mengajak Tae Oh pergi saja dan membiarkan Joon Jae daengan Sim Chung berdua. Sim Chung akhirnya datang memegang tangan Joon Jae, Joon Jae pun menangis dipelukan Sim Chung.
“Apa kau bisa menghapusku? Ingatan akan ayahku.” Ucap Joon Jae sambil menangis. Sim Chung ikut sedih mendengarnya. Joon Jae berharap Sim Chung bisa melakukanya.
“Bisakah kau menghapusnya? Semua kenangan yang indah, membuatku sakit karena kenangan itu indah. Kenangan yang buruk, juga membuatku sakit karena kenangan itu buruk. Semua kenangan akan ayahku membuatku terluka.” Ucap Joon Jae sambil menangis.
“Aku masih tidak bisa menghapusnya. Seberapa sakitnya, kau mencintai ayahmu. Ada pepatah bilang kau harus berpegang teguh pada kenangan cinta.” Ungkap Sim Chung sambil memeluk Joon Jae kembali agar menenangkanya.

“Kalau saja aku sampai ke rumah itu lebih cepat..., maka aku pasti bisa menyelamatkan Ayah. Ahh... Tidak... Jika aku membencinya cuma sedikit..., aku pasti bisa menyelamatkan ayahku.” Ucap Joon Jae merasa bersalah.
Sim Chung meyakinkan Joon Jae kalau itu bukan salahnya dan bukan karenanya. Joon Jae pikir seharusnya  mengangkat telepon terakhir darinya, tapi menurutnya itu seperti  memaafkan tentang semuanya... kalau ia juga mencintai Ayah juga.
“Aku harusnya sudah menyampaikan kata itu pada Ayah. Aku tak bisa mengucapkan kata itu pada Ayah. Aku hanya terlalu sibuk membencinya, sampai aku tidak bisa mengucapkan kata itu padanya. Aku pikir.. Satu hari saja... Tidak... mungkin Satu jam saja... Kalau saja aku punya waktu sebentar. Aku ingin berbicara dengan ayahku. Sekarang aku tidak bisa bicara dengannya lagi” ucap Joon Jae terlihat benar-benar menyesalinya.
“Ada beberapa kata yang tersampaikan pesannya tanpa perlu dikatakan. Aku yakin ayahmu tahu itu semua.” Ungkap Sim Chung lalu memeluk Joon Jae yang terus merasa menyesal. 


Nyonya Kang akhirnya datang dengan Chi Hyun didepan kamar jenazah memperlihatkan wajah shock lalu memanggil suamianya sambil menangis histeris. Joon Jae menatap sinis pada tingkah ibu tirinya yang menangis histeris seolah-olah benar-benar sedih dengan kepergiaan suaminya.
“Ini Tidak mungkin. Dia tadi menyuruhku harus pulang setelah janji ketemuanku. Kau menyuruhku cari udara segar lalu Kau bilang, "Sampai nanti." Aku seharusnya tidak pergi keluar.” Ucap Nyonya Kang menangis histeris merasa tak sanggup hidup tanpa Tuan Heo. 
Chi Hyun meminta agar ibunya tenang, Detektif melihat Nyonya Kang merasa Sulit masuk ke kamar jenazah. Nyonya Kang yang terus menjerit akhirnya jatuh pingsan. Chi Hyun panik. Detektif pikir mereka harus membawa Nyonya Kang ke UGD karena pasti shock.
Joon Jae dkk hanya diam saja, membiarkan Chi Hyun dan detektif yang membawa Nyonya Kang. Nam Do yang melihat tingkah Nyonya Kang merasa malu seperti memang punya bakat akting jadi lebih baik menjadi aktris saja. Joon Jae menahan amarah dengan mengepalkan tanganya. Sim Chung mendekat merangkulnya agar bisa tenang. 

Joon Jae dan ibunya akhirnya duduk di sisi rumah sakit lainya, Nyonya Moo tak percaya mantan suaminya bisa meninggal tiba-tiba. Joon Jae memberitahu kalau tim forensik masih memeriksa tubuhnya jadi akan tahu hasilnya besok pagi.
“Karena itulah aku menyuruhnya jangan banyak minum, dan jangan merokok juga. Dia memang tidak mau dengar apa kataku.” Ungkap Nyonya Moo merasa menyesal. Joon Jae menatap ibunya seperti masih memiliki perhatian pada ayahnya.
“Setelah kau dewasa..., kudengar kau lupa ingatan dan hanya mengingat kenangan yang lama. Begitulah diriku sekarang. Masa-masa yang dulu seperti baru terasa kemarin. Namun ayahmu sepertinyatidak begitu.” Cerita Nyonya Moo sedih
“Apa Ibu pernah bertemu Ayah?” tanya Joon Jae kaget

“Ya. Sekitar sebulan lalu, aku tak sengaja melihat dia di rumah sakit ini. Dia pura-pura tidak mengenaliku. Meskipun mata kami bertemu, dia hanya berpapasan denganku. Tatapannya seperti orang yang benar-benar lupa semuanya. Ayahmu memang orang yang kasar.” Keluh Ibunya
Joon Jae terdiam mengingat pesan ayahnya “Jika boleh aku dilahirkan kembali maka aku ingin hidup sekali lagi sebagai suami istriku dan ayah bagi anakku.”Akhirnya Joon Jae memberitahu kalau Ayah mengalami kerusakan kornea parah, karenanya tidak bisa melihat. Nyonya Moo kaget karena ternyata memang tak bisa melihatnya tapi memang sakit.
“Ayah tidak berpura-pura tidak melihatmu Ibu. Tapi Ayah memang tidak bisa melihat Ibu.” Jelas Joon Jae, Nyonya Moo menangis karena ternyata duganya salah, Joon Jae memeluk ibunya. Nyonya Moo hanya bisa menangis karena menduga sesuatu yang salah tentang mantan suaminya. 


Seo Hee duduk di dalam ruang UGD, wajahnya terlihat segar menelp Jaksa Lee agar bisa kirimkan surat kematiannya besok lalu akan mengirimkan sertifikat dan dokumentasi lain yang diperlukan. Dan Juga, mulailah mengerjakan dokumen pemindahan hak warisan itu dan bertaya berapa lama waktu yang dibutuhkan
“Sekitar seminggu. Itu terlalu lama. Selesaikan secepat mungkin.” Ucap Seo Hee
Chi Hyun datang memastikan tidak ada orang disekitarnya langsung menutup tirai dan duduk di depan ibunya. Seo Hee mengaku  baik-baik saja sekarang. Jadi tidak akan minum obat dan tidak perlu minta resep obat. Chi Hyun memastika kalau ibu yang melakukannya. Seo Hee terlihat gugup mendengar ucapan anaknya.
“Ibu, kau harus memberitahuku. Aku perlu tahu biar aku bisa membantu Ibu.” Kata Chi Hyun menyakinkan, Nyonya Kang pun mengakuinya.
“Tapi.. buat jaga-jaga saja, anggap kau tak tahu apa-apa” kata Nyonya Kang tak ingin anaknya ikut terjerat. 

Chi Hyun keluar dari UGD terlihat benar-benar Shock mengetahui kalau ibunya yang memang sebagai pembunuh.  Nam Do baru keluar dari toilet, tiba-tiba Chi Hyun memanggil namanya. Nam Do terlihat kaget dipanggil oleh Chi Hyun. Saat itu sek  Kim mulai mengerakan tanganya.
Flash back
Beberapa pria sedang berlatih pedang dengan kayu, Tuan Yang tiba-tiba datang melihat pria yang wajah mirip Nam Doo sebagai prajurit baru. Pria itu memperkenalkan namanya Park Moo. Tuan Yang sudah mendengar tentang keterampilannya yang hebat, jadi meminta agar membantu anaknya. Wajah Chi Hyun sudah berdiri samping ayahnya, saling menatap Park Moo. Dan itu sama dengan yang dilakukan Chi Hyun dengan Nam Do dimasa sekarang.

Nam Doo menatap Chi Hyun lalu bertanya kenapa bisa mengetahui namanya, Chi Hyun mengajak Nam Doo agar bisa bicara sebentar.  Keduanya pun berbicara di sudut tangga darurta. Chi Hyun mendengar Joon Jae sedang merencanakan hal yang mencurigakan karena khawatir jadi  sudah mencari tahunya. Nam Doo bisa mengerti
“Sementara aku mencari tahu, aku jadi tahu juga tentangmu. Kau sedikit berbeda dari Joon Jae. Joon Jae menipu dan mengambil uang kotor atau uang haram atau jenis uang ilegal yang korbannya tidak akan melaporkan penipuannya itu. Tapi kau tidak peduli mau darimana uang itu, Jo Nam Doo Dengan kata lain..., Apa kau melakukan segala macam kejahatan?” ucap Chi Hyun
“Ya... Aku tidak pilih-pilih. Aku makan segala macam makanan dan melakukan segala macam pekerjaan.” Ungkap Nam Doo lalu bertanya kenapa Chi Hyun membahasnya.
“Maksudku...aku bisa saja memasukkanmu ke penjara besok, ahh... tidak... malah bisa hari ini. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau mau menuruti apa kataku atau membusuk di penjara selama beberapa tahun?”kata Chi Hyun mengancamnya.

Nam Do tak suka mendengar Chi Hyun yang berbicara informal padanya,meminta agar memperlakukan dengan baik karena dirinya  selalu berpihak pada orang yang banyak uang dan merasa Chi Hyun  akan mewarisi semua aset ayahnya, menurutnya tak ada guna mengancamnya
“Aku sudah punya alasan lebih dari cukup untuk memihakmu. Apa yang kau inginkan?” ucap Nam Doo menyakinkan.
“Aku akan menyingkirkan Joon Jae.” Kata Chi Hyun penuh dendam, Nam Doo ingin tahu akan dibawa kemana.
“Kemana saja. Jadi dia tidak akan berada di sini.” Tegas Chi Hyun
“Ah, sebenarnya..., ada hal istimewa yang sangat kuinginkan. Jika Joon Jae menghilang, kukira lebih mudah juga bagiku. Aku tadi ragu sedikit karena aku dekat dengannya, tapi tentu saja, aku akan berpihak denganmu. Lagipula, hubungan ini pasti akan berakhir cepat atau lambat.” Ungkap Nam Doo seperti sudah tak percaya lagi dengan Joon Jae, Chi Hyun menatap Nam Doo ingin menyakinkan kalau bisa dipercaya. 


Nam Doo kembali kebagian ruangan jenazah melihat Joon Jae sedang berbicara dengan Detektif Hong, tatapan liciknya seperti terlihat dan ingin mengkhianati Joon Jae.
Akhirnya Dokter forensik memberitahu Penyebab kematiannya Tuan Heo, semua berkumpul dengan wajah tegang. Dokter memberitahu Tuan heo mengalami kematian mendadak yang diakibatkan oleh gagal jantung akut. Joon Jae kaget kalau ayahnya mengalami Kematian mendadak Bukan dengan keracunan. Sementara Nyonya Kang dan anaknya bisa bernafas lega.
“Jika kematiannya disebabkan oleh keracunan, bibirnya pasti berwarna coklat tua. Tapi bibirnya kebiruan. Ini memang gejala khas dari serangan jantung.Selain itu, kalaupun ini karenakeracunan, tempat dimana Ayah Anda meninggal seharusnyahitam, tapi pada kenyatanya tidak.Berdasarkan catatan medis, aku yakin itu karena kematian wajar yang disebabkan oleh gagal jantung akut.” Jelas Dokter
“Kalau racun yang Anda maksudkan seperti sianida, mungkin alasan itu masuk akal. Tapi menurut pemahamanku, gejala yang dialami ayahku berbeda jika racunnya diekstraksi dari bahan alami, seperti bunga wolfsbane. Gejala ini memang sangat mirip dengan gagal jantung”jelas Joon Jae. Nam Doo melirik pada Joon Jae yang terus protes
“Aku menuntut dilakukannya otopsi. Dengan begitu, kita dapat mengungkapkan penyebab kematian sebenarnya..., dan menemukan penyebab kerusakan korneanya.” Tegas Joon Jae.
Nyonya Kang terlihat kaget lalu berdalih kalau Joon Jae ingin membunuh ayahnya dua kali. Joon Jae malah menantang kenapa Nyony Kang tak mau melakukanya merasa  Ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak mau ketahuan. Nyonya Kang kembali bersedih menurutnya bukan seperti itu tapi melihat Tuan Heo meninggal sudah membuatnya gila.
“Aku tidak ingin melihat dia dipotong-potong dengan pisau lagi. Apa sebenarnya yang ingin kau ketahui sampai kau ingin melakukan autopsi?” ucap Nyonya Kang menantang
“Ingin membukti bahwa kau membunuh ayahku.” Tegas Joon Jae, Chi Hyun marah tak terima ibunya dituduh. Nyonya Kang menenangkan anaknya agar tak melakukan apapun
“Sudah 10 tahun lamanya, Joon Jae. Selama 10 tahun, ayahmu sangat merindukanmu tapi kau tidak pernah kunjung datang ke rumah. Aku ingin tahu kenapa kau tiba-tiba berubah jadi seperti ini. Apa karena ini uang? Kalau karena uang, akan kuberikan semuanya padamu. Jadi..., relakanlah ayahmu pergi dengan damai. Dia itu ayahmu dan Janganlah seperti ini.” Ucap Nyonya Kang berusaha menyudutkan dengan mulut busuknya.

“Dengan akting yang sempurna..., kau boleh saja membodohibanyak orang dan membutakan mata ayahku tapi itu takkan berhasil lagi.” Tegas Joon Jae pada Seo Hee.
“Akulah anak kandung Heo Il Joong satu-satunya. Bunga wolfsbane yang ditemukan di rumah itu dan jarum-mikro dan sejumlah besar antikolinergik milik Kang Seo Hee..., semua itu bukti yang bisa digunakan untuk pembunuhan, jadi aku menuntut dilakukannya otopsi.” Ucap Joon Jae pada detektif yang menangani kasus ayahnya.
“ Aku anak tertua dari keluarga ini dan juga satu-satunya anak yang diakui Ayah. Adikku lari dari rumah 10 tahun lalu dan memutuskan hubungan dengan Ayah kami. Karena masalah warisan, ada masalah besar dengan Ayah baru-baru ini. Aku dan ibuku tidak ingin dilakukannya autopsi. Ayah akan setuju dengan keputusan itu.” Ungkap Chi Hyun pada deketif, Joon Jae hanya bisa melotot kaget Chi Hyun bisa mematahkan permintaanya, Nyonya Kang pun berpura-pura menangis dipelukan anaknya. 
Detektif Hong dan anak buahnya datang ke rumah Tuan Heo dengan membawa surat perintah penggeledahan dan penyitaan pada pelayan lalu memerintahakn semua anak buahnya untuk mengeledah semua ruangan. Saat itu Nyonya Kang menuruni tangga dengan pakaian hitam tanda berkabung.
“Ah, bukannya ini terlalu cepat memakai pakaian berkabung?” sindir Detektif Hong
“Pemakaman akan segera dimulai. Jika kita melakukan otopsi, kau tidak akan bisa menggelar pemakaman.” Ucap Nyonya Kang, Detektif Hong mengejek Nyonya Kang yang terlalu percaya diri
“Terserah kau mau menganggapku apa. Lagipula apapun yang kukatakan, kau pasti tidak akan percaya padaku.” Kata Nyonya Kang akan pergi keluar rumah

“Apa kau tahu Kang Ji Hyeon?” kata Detektif Hong, Nyonya Kang sempat memperlihatkan wajah terkejut lalu akhirnya membalikan badan dengan wajah tenang memberitahu Detektif Hong untuk menemui pengacara kalau memang ingin mengajukan pertanyaan.
“Ah, pengacara... Sepertinya kau pasti sudah punya sesuatu  yang harus dikatakan lewat pengacaramu. Itu nama saudara kembarmu dan Sungguh sangat sulit mendapatkan foto ini dari masa kecilmu. Kalian berdua memang mirip sekali. Jadi ini persaudaraan, 'kan?” ucap Detektif Hong memperlihatkan foto anak kembar.
Seo Hee berusaha untuk tenang mengatakan kalau  tidak mengerti apa maksudnya. Detektif Hong ingin tahu keberadaan adiknya lalu menduga kalau orang itu adalah Seo Hee sendiri.  Seo Hee memilih untuk pergi tak mengubrisnya. 


Detektif Hong menemui anak buahnya yang sedang mengeledah bagian bawah tanah lalu bertanya apakah mereka belum mendapatkan apapun.  Juniornya pikir bisa melihatnya, lalu merasa kalau dugaan seniornya itu salah kali ini.  Detektif Hong yakin kalau Pasti ada sesuatu di rumah ini.

Jin Joo menemui suaminya yang sedang memasang dasi memberitahu kalau hari ini bukan merah tapi hitam, Tuan Cha bingung, Jin Joo memberitahu bahwa Ketua Heo... meninggal. Tuan Cha kaget bertanya bagaimana bisa terjadi, Jin Joo pun tak mengerti karena baru mendapat kabar itu.
“Oh, bagaimana kelanjutan semua ini sekarang? Jika dia tiba-tiba meninggal begitu, nasib kita akan seperti apa?Kudengar Ketua Heo mewariskan semua asetnya untuk anak angkat dan Kang Seo Hee.?”ungkap Tuan Cha binggung.
“Aku juga sudah tahu itu. Tapi walau begitu, meskipun dia telah meresmikan wasiatnya..., kukira dia akan memberikannya pada anak kandungnya.” Kata Jin Joo, Tuan Cha pikir wasiatnya itu  bisa diubah.
“Tapi jika dia mendadak meninggal begitu maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa.” Ucap Jin Joo.
Tuan Cha berpikir mereka itu merugi. Jin Joo pikir ini semua lebih dari merugi menurutnya kalau diingat-ingat tentang lagi perbuatanya pada Kang Seo Hee itu, mersa pasti dihukum mati dengan cara mutilasi. Tuan Cha pikir istrinya itu bisa memihak pada Seo Hee lagi.  Jiin Joo berpikir maan mungkin, karena Manusia, hanya bisa berganti pihak sekali saja menurutnya Tapi kalau berganti pihak dua kali, maka ada yang salah dengan orang itu. Tuan Cha binggung dengan nasib mereka sekarang, Jin Joo pun tak mengerti. 


Nyonya Moo datang ke rumah duka, Seo Hee kaget melihat teman lama dan mantan istrinya datang ke pemakamana suaminya bertanya kenapa datang ke rumah duka. Nyonya Moo pikir tak ada alasan lain kalau datang sengaja untuk mencari perhatian orang, dan Seo Hee pasti akan merasa canggung.
Seo Hee hanya bisa terdiam dengan melihat tatapan pelayat, Jin Joo pun mengikuti Nyonya Moo masuk memberikan perhormatan. Nyonya Moo menaruh sekuntum bunga untuk mendiang suaminya.
“Ayah Joon Jae..., ada banyak alasan aku tidak bisa memaafkanmu.< Tapi melihat kematianmu seperti ini membuatku sangat sedih.  Apa Kau bisa melihatku sekarang? Jagalah aku. Aku harus mengucapkan selamat jalan padamu.” Gumam Ibu Joon Jae.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar