PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 21 Juni 2020

Sinopsis Oh My Baby Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Ha Ri memeluk erat Yi Sang dari belakang lalu mengaku kalau tak bisa Yi Sang terdiam mendengar pengakuan Ha Ri. Ha Ri pun meminta maaf dengan sikapnya. Yi Sang akhirnya membalikan badan dan memeluk erat Ha Ri. 


Di rumah, Jae Young melihat anaknya yang sedang bersenang-senang. Ia lalu melihat nama “Seo Jeong-won” lalu memilih untuk menolak telp ibu Do Ah dan kembali bermain dengan anaknya.
Sementara Ha Ri dan Yi Sang berjalan bersama, Yi Sang memberitahu kalau Sebentar lagi, hasilnya akan keluar lalu Jika hasilnya buruk, maka waktunya sekitar enam bulan sampai setahun. Tapi ia akan berusaha sampai bisa.
“Tapi kau benci anak-anak.” Ucap Ha Ri. Yi Sang mengaku ingin membenci anak-anak karena kalah dari mereka.
“Mulai sekarang, karena sulit memiliki anak, kita harus bicara soal tidak punya anak dan hanya saling mencintai, atau menjalani program bayi tabung. Kita harus membicarakan banyak hal yang tidak nyaman.” Kata Ha Ri dewasa
“Rasanya akan menyakitkan, agak menyinggung, dan tidak menyenangkan. Kita mungkin bertengkar dan suatu saat, kita akan ingin menyerah.” Kata Ha Ri
“ Apa Kau takut?”tanya Yi Sang. Ha Ri membenarkan tapi Yi Sang bilang mereka  akan mencari cara,
“tapi keajaiban mungkin tidak akan terjadi kepada kita. Kita mungkin akan patah hati lagi. Apa Kau tidak akan keberatan?” Kata Ha Ri 
“Bahkan saat itu, kita harus tetap kuat. Ini perjuangan yang tidak adil karena kau akan lebih kesulitan daripada aku.Meskipun kita gagal, kau akan lebih tersakiti daripada aku. Mari tetap kuat dan menang. Aku tidak akan membiarkan kita kalah.” Kata Yi Sang lalu mengangkat tanganay.
Ha Ri pun memberikan tos pada Yi Sang dan mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan. 



[Episode 12, Orang Dewasa Selalu Membuat Tempat untuk Kembali]
Ha Ri masuk ke kamar ibunya bertanya apakah mau tidur,  Nyonya Lee mengejek ada apa anaknya datang ke kamarnya, kalau ingin pamer soal kencan dengan Yi Sang. Ha Ri tak percaya kalau Ha Ri memanggilnya Yi sang
“Aku juga memanggilnya Yi sang.” Kata Ha Ri. Nyonya Lee bingung harus memanggilnya apa lagi?
“Ibu bilang dia menantumu” kata Ha Ri. Nyonya Lee mengeluh mengaku tidak sengaja mengatakannya.
“Ibu belum merestui pernikahan kalian. Dia sepertinya baik. Jangan terburu-buru menikah hanya karena kau menginginkan bayi.” Nasehat Nyonya Lee.
“Aku tidak akan terburu-buru. Memangnya aku petarung?” kata Ha Ri
“Kau tidak sungguh mengenal seseorang meski sudah lama mengenalnya. Hidup dengan mereka tidak akan membantu. Saat hubungannya baru, kau menganggapnya menarik. Jadi, berhati-hatilah. Jika kau menemukan hal yang mungkin mengganggumu,  putuskan saja dia. Mengerti?.” Pesan Nyonya Lee
“ Apa maksudnya putus? Dia bukan tali.” Kata Ha Ri. Nyonya Lee heran dengan jawaban Ha Ri.
“Apa Yi sang punya masalah?” tanya Nyonya Lee. Ha Ri mengaku tak ada menutupinya mengaku kalau Yi Sang bukan orang seperti itu.
“Saat ini kau dibutakan oleh cinta. Tapi ibu tahu. Kau harus menikah secepatnya. Ibu akan memeriksa mana yang lebih baik.” Kata Nyonya Lee. Ha Ri bingung maksud dengan "Yang mana?"
“Ibu ingin memilih menantu ibu dengan hati-hati.” Ucap Nyonya Lee. Ha Ri pikir ibunya jangan pilih-pilih.
“Bermurah hatilah. Selamat malam.” Ucap Ha Ri lalu pergi ke kamarnya. 



Pagi Hari
Nyonya Lee kaget melihat Yi Sang sudah ada didepan rumah dan berpikir  ingin menemui Ha-ri lalu memberitahu Sejak menjadi kepala editor, Ha Ri  berangkat kerja lebih awal. Yi Sang mengaku Sebenarnya, ingin berolahraga dengan Nyonya Lee.
“Denganku?” kata Nyonya Lee tak percaya. Yi Sang membenarkan. Diam-diam Jae Young menguping dari depan pintu.
“Aku tidak menginginkan hal lain. Aku hanya ingin kau terus mencintainya.” Kata Nyonya Lee.
“Di antara semua hal yang bisa kulakukan untuk Ha-ri, inilah yang paling kuyakini. Jangan khawatir.” Kata Yi Sang. Saat itu juga Jae Young keluar dengan Do Ah.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami hanya berolahraga. YI-sang menantuku bilang harus berolahraga.” Kata Nyonya Lee panik melihat Jae Young keluar.
"I-sang menantuku"?” kata Jae Young tak percaya. Nyonya Lee merasa tak yakin kalau bilang "menantuku"?
“Aneh sekali. Kami belum sedekat itu.” Kata Nyonya Lee. Jae Young pergi menyuruh mereka Bersenang-senanglah saja. Yi Sang menatapnya tapi tiba-tiba Jae Young berbalik
“Bi Ok-ran. Aku tidak ada pasien pagi ini. Setelah mengantar Do-ah ke penitipan, aku akan ke kelas aerobik. Di mana tempatnya?” kata Jae Young



Spanduk besar terlihat [Aerobik Tari Gembira, Kelas Olahraga Eunrangcheon] Nyonya Lee terlihat gugup diatas panggung melihat Yi Sang dan Jae Young. Keduanya mencoba mengambil hati Nyonya Lee dengan memperlihatkan keahilan mereka dalam berolahraga.
“Aku tahu kau berusaha memikat hatiku, tapi jangan melakukan ini di tempat kerjaku.” Keluh Nyonya Lee. Yi Sang akhirnya meminta maaf.
“Bi Ok-ran... Kenapa kau terus bicara seperti ibu mertua?” kata Jae Young. Nyonya Lee seperti tak menyadarinya.
“Kenapa kau tidak menyerah saja? Ha-ri dan aku saling mencintai.” Ucap Yi Sang
“Kau tidak tahu malu. Tidak bisakah kau melihat bahwa kau tidak punya kesempatan?” kata Jae Young
“Sekejam apa pun dikritik dan disalahkan, aku akan memilih Ha-ri.” Kata Yi Sang.
“Kau sangat romantis.”puji Nyonya Lee. Jae Young tak bisa menahan amarahnya ingin memberitahu rahasia Yi Sang tapi seperti lidahnya tertahan.
“Lupakan saja... Kau harus bersyukur karena aku punya sopan santun. Aku tidak menyetujui pria ini.” Ucap Jae Young
“Begitukah? Maka, kau harus mengawasinya agar dia bisa lebih baik kepada Ha-ri. “ kata Nyonya Lee
“Apa aku pitcher?” keluh Jae Young  Nyonya Lee tak mengerti Apa itu pitcher? Semacam anjing? Yi Sang yang mendengarnya tak bisa menahan tawa.
“Bukan anjing. Intinya, jangan asal memilih orang hanya karena Ha-ri putus asa.” Tegas Jae Young
“Aku akan jujur dengan kalian. Sejujurnya, tidak ada dari kalian yang pantas untuk Ha-ri. Kukira kau lumayan karena tidak mudah menemukan pria yang santun seusiamu.” Ucap Nyonya Lee
“Kau tidak pernah mengenal seseorang setelah bertemu beberapa kali.” Ucap Nyonya Lee
“Kau benar. Tidak ada yang salah dengan ucapanmu tadi.” Ucap Yi Sang tak mau menyela. Nyonya Lee akhirnya menatap Jae Young
“Dan kau... Selain dokter, kau bukan apa-apa. Aku mencoba menjodohkanmu dengannya karena kau sudah seperti keluarga.” Kata NyonyaLee
“Bi Ok-ran, jangan khianati aku begini. Aku lebih dari bukan apa-apa.” Ucap Jae Young membela diri
“Begini, aku ada di sini. Bukankah tidak sopan membandingkan aku dengan pria lain di depanku?” kata Yi Sang.
“Aku memang plinplan, tapi entah apa yang akan terjadi.” Ucap Nyonya Lee Jae Young membenarkan.
“Perasaan Ha-ri adalah milik Ha-ri. Bagiku, kau tetap kandidat, Jae-young.” kata Nyonya Lee. Jae Young tak percaya mendengarnya.
“Aku bukannya tidak suka salah satu dari kalian. Tolong beri aku waktu. Aku tidak tahu harus pilih siapa. Aku bingung sekali. Aku harus bagaimana?” ucap Nyonya Lee lalu bergegas pergi.
Keduanya akhirnya pulang bersama, Yi Sang menatap Jae Young  mengucapkan Terima kasih. Jae Young merasa Jangan berterima kasih kepadanya karena belum menyerah.

Yeon Ho membawa kardus besar ke kantor. Hyo Joo bertanya apa itu. Yeon Ho menceritakan Ibunya terus mengirimkan ini agar  bisa punya anak.Ia mengeluh tak perceya kalau ibunya bisa melakukan hal itu. Ha ri mengingat kalau ibu mertuanya tidak seperti itu tapi malah Ibu Yeon Ho seperti itu.
“Aku yang tidak menginginkan bayi dan entah kenapa ibuku merasa bersalah.” Kata Yeon Ho
“Rupanya itulah masalah pasangan tanpa anak.”ucap Ha Ri. Yeon Ho pikir mereka lebih baik melupakan masalahnya.
“Jadi, kita akan ke lokakarya?”tanya Yeon Ho. Ha Ri menjawab sudah mengirim program dan anggarannya, tapi belum disetujui.
“Tapi acaranya akhir pekan depan.” Kata Yeon Ho. Hyo Joo bertanya Apa harus di akhir pekan, karena ingin istirahat di akhir pekan.
“Di hari kerja, kita harus bekerja. Aku mau tanya soal lokakarya. Apa Ada hal lain yang ingin ditanyakan?” kata Ha Ri. Semua menjawab tidak.
“Aku harus pergi. Aku segera kembali.” ucap Ha Ri lalu berjalan pergi. 

Jae Young sedang ada diruangan,  mendengar ketukan pintu lalu menyuruhhnya masuk. Ha Ri pun masuk, Jae Young heran Ha Ri datang ke kliniknya, Ha Ri mengaku Untuk pemeriksaan kesehatan. Jae Young mengeluh kalau Ha Ri bukan anak kecil.
“Tapi Kau benar-benar sakit? Ada apa?”tanya Jae Young panik. Ha Ri mengaku Hatinya sakit mengambil stetoskop dan tak tahu alasanya.
“Mungkin ada cacing hati?” goda Jae Young. Ha Ri pikir ingin berterima kasih.
“Untuk teman yang kesulitan berpacaran, kau frustrasi, mengkritikku, dan mengkhawatirkanku seolah-olah itu masalahmu. Aku menghargai usahamu. Terima kasih karena tidak memberi tahu ibuku.” Ucap Ha Ri
“Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar "terima kasih" darimu. Tapi sejujurnya, aku tidak pernah menyukainya. Haruskah kau menempuh jalan yang sulit?” ucap Jae Young
“Jae-young... Aku sangat menyukainya... Aku tidak ingin melepaskannya... Aku pasti bisa..Jangan khawatir dan lihatlah aku” ucap Ha Ri yakin
 “Apa yang akan kau lakukan? Apa Kau menyerah untuk punya anak? Kau selalu sangat menginginkannya. Bisakah kau menyerah semudah itu?” kata Jae Young
“Aku mungkin bisa melakukan itu. Kami akan mencari solusi bersama. Sampai jumpa.” Kata Ha Ri pamit pergi.
“Ha-ri...Kau Pakai ini.”ucap Jae Young memberikan stetoskopnya. Ha Ri bingung ada apa.
“Bagaimana jantungku?” tanya Jae Young. Ha Ri heran karena berdebar sangat kencang.
“Hei, kenapa kau marah? Jantungmu berdebar.” Ucap Ha Ri. Jae Young membenarkan kalau marah karena Ha Ri. Ha Ri hanya bisa terdiam. 




Yi Sang terdiam menatap anak kecil yang sudah siap foto, lalu perlahan mendekatinya dan bertanya Berapa usianya. Si anak tak takut menjawab  Empat tahun. Yi Sang tersenyum mendengarnya, lalu bertanya  Siapa namanya. Anak itu pun menjawab Lee Ro-eun.
“Lee Ro-eun.... Kau cantik...” puji Yi Sang yang mencoba dekat dengan anak kecil 

Di rumah,
Eun Young terdiam melihat pesan yang ada di ponselnya, dua anaknya sedang bersama suaminya. Sang suami memanggil Eun Young dan menyarankan agar membeli mesin pencuci piring. Eun Young hanya diam saja terlihat sedang frustasi
“Ini Bukan karena aku tidak mau mencuci piring. Tugasmu banyak.” Kata suaminya.
Dua anak Eun Young mulai berkelahi, Eun Young dengan tatapan dingin menyuruh mereka agar Berhentilah bertengkar. Keduanya pun berhenti seperti takut dengan tatapan Eun Young.
“Sayang, kita kehabisan sabun cuci piring.” Ucap Suaminya. Eun Young menyuruh agar mencuci dengan soda kue.
Suaminya mengerti akan mengambil soda kue tapi malah menjatuhkan semuanya dilantai saat membukanya. Eun Young langsung menatap dingin dan bergegas keluar rumah. Suaminya bingung melihat Eun Young pergi. 

Eun Young duduk sendirian dicafe, Ha Ri datang mengejek Eun Young yan kabur ke cafe dan ingin tahu Apa yang terjadi, padahal Hyeon-seok membuat lauk, bermain dengan anak-anak, dan membersihkan rumah tapi Eun Young malah pergi.
“Coba Lihat... Lingkaran hitamnya menutupi riasannya. Dia bekerja keras hingga matanya merah. Bukankah itu romantis?”kata Eun Young menunjuk wanita yang duduk tak jauh darinya. Ha Ri bingung apa maksudnya.
“Katakan perusahaan bodoh itu gagal mengenali kuda hitam hebat yang akan mengembangkan industri TI di Korea ini.” Kata Ha Ri
“Aku melamar untuk 50 pekerjaan. Aku bahkan tidak diterima menjadi admin. Bagaimana bisa sebuah garis di resumeku menghapus semua pengalamanku?” keluh Eun Young frustasi
“Lalu Bagaimana denganmu? Apa Kau baik-baik saja?”tanya Eun Young. Ha Ri mengaku masih harus memikirkan tentang memiliki anak, tapi bahagia.
“Entah kenapa aku iri. Ini masalah besar, tapi jangan coba mencari jawaban sekarang. Berpacaranlah dahulu. Aku yakin kau akan baik-baik saja.” Ucap Eun Young memberikan saran
“Terima kasih... Begitu juga kau...”kata Ha Ri. Eun Young merasa tidak mau hidup seperti ini.
“Tapi kurasa aku akan hidup seperti ini.” Kata Eun Young sedih. Ha r pikir tak ada yang tahu.
“Aku bahkan tidak tahu mau sarapan apa besok pagi.” Kata Ha Ri. Eun Young merasa sudah tahu.
“Aku mungkin akan makan sisa makanan yang tidak mereka habiskan.”kata Eun Young kesal
“Tidak. Kau akan sarapan dengan makanan masakanku. Tapi aku belum tahu menunya... Ayo Berdirilah. Aku sudah memberi tahu Hyeon-seok kau menginap di rumahku hari ini.” Ucap Ha ri. Eun Young pun pergi. 


Yi Sang menelp Tuan Nam ingin tahu keberadanya karena bahkan tidak datang ke studio dan bertanya Apa terjadi sesuatu. Tuan Nam mengaku sedang mengerjakan proyek yang sangat penting. Yi Sang bingung Proyek apa?
“Aku meluruskan masa depanku.” Ucap Tuan Nam sibuk memindahkan spanduk toppoki. Yi Sang berjalan dibelakang memanggilnya. Tuan Nam menyahut dan kaget melihat Yi Sang sudah ada dibelakangnya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Yi Sang. Tuan Nam menjawab kalau ini  Proyek penting.

Ha Ri pulang ke rumah kaget melihat Yeon Ho sudah ada didepan rumahnya dan bertanya kenapa ada disini. Yeon Ho bertanya apaTidak ada kamar kosong malam ini dan meminta izin agar bisa menginap malam ini. Ha Ri tak percaya melihat dua temanya.
“Apa tema malam ini kebebasan untuk wanita? Kalian pernah bertemu? Ini temanku, Kim Eun-young. Ini rekan juniorku, Park Yeon-ho.”kata Ha Ri mengenalkan keduanya.
“Kalian para istri yang kabur dari rumah, masuklah.” Kata Ha Ri. Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam rumah. 

Yi Sang bahagia melihat toppoki yang diberi keju diatasnya.  Tuan Nam memberitahu kalau Restoran ini punya banyak pelanggan jadi menurutnya akan jadi pekerjaan sampingan yang bagus akhirnya memilih untuk bisa magang.
“Apa Kau punya uang untuk mendirikan restoran? Aku harus mengambil pinjaman. Aku akan merasa tidak stabil hanya dengan studio.”ucap Tuan Nam sedih. Yi Sang hanya tersenyum
“Ada apa? Kau sudah berbaikan dengannya? Apa Ha-ri bilang tidak keberatan?”tanya Tuan Nam
“Keadaan mungkin akan lebih sulit daripada sekarang, tapi syukurlah dia memilihku. Aku harus berusaha sebaik mungkin dengan harapan itu akan berhasil.” Kata Yi Sang.
“Omong-omong, kau yakin ingin punya anak juga? Kau bilang tidak akan pernah punya anak.”kata Tuan Nam
“Karena Ha-ri ingin punya anak, aku ingin berbagi impian yang sama. Aku ingin menjadi seorang ayah.” Ucap Yi sang.
“Su-cheol... Ada sikap yang harus kumiliki sebelum menjadi seorang ayah?” tanya Yi Sang
“Kau akan tahu setelah punya anak. Aku tidak punya persiapan untuk itu. Siapa yang menduga aku akan menjadi ayah penyayang dan berusaha mencari uang untuk les pribadinya? Ikuti saja alurnya.”ucap Tuan Nam yakin
“Ikuti saja alurnya... Apa Sebaiknya begitu?” ucap Yi Sang pun jadi bisa lebih yakin. Tuan Nam menyuruh agar mulai makan. 


Yeon Ho bercerita sambil menangis kalau Ibunya ingin merkea punya anak, jadi, mengirimkan obat untuk membantu agar mereka hamil. Tapi Suaminya bilang ibunya tidak pengertian. Ia pikir suaminya itu  tidak perlu minum obat taoi Kenapa menjelek-jelekkan ibunya.
“Membesarkan anak 100 kali lebih sulit daripada bekerja. Saat membesarkan anak, aku bentuk kekuatan fisik dan belajar menjadi sabar. Bukankah seharusnya mereka memberiku nilai ekstra untuk membesarkan anak?” cerita Eun Young yang juga menangis
Ha Ri hanya jadi pendengar bingung lalu mengajak mereka minum. Yeon Ho mengaku merasa lebih baik. Eun Young  pikir pasangan tanpa anak menjalani hidup yang mudah tapi mereka punya masalah sendiri.
“Kudengar kau mengasuh anak-anakmu sendirian. Aku lebih baik bergadang sepekan penuh. Kurasa aku tidak bisa membesarkan anak. Astaga.” Ucap Yeon Ho
“Aku setuju. Tapi aku hanya bisa melakukannya karena anak-anakku menggemaskan. Aku sangat marah saat anak-anakku membuatku kesal, tapi saat melihat mereka tidur, kupikir, "Bagaimana aku bisa hidup tanpa mereka?" ungkap Eun Young
Ha Ri terdiam dan mulai membayankan apabila punya dua anak, lalu Yi Sang memakai baju dinosaurus. Ha ri mengeluh kalau menyuruhm bermain dengan anak-anak, bukan menakuti mereka. Yi sang mengeluh kalau menirukan dinosaurus dengan baik. Ha Ri pun mengoda anaknya agar bisa menyerang bapaknya, senyumanya terlihat sangat bahagia.
“Pernahkah kau mempertimbangkan adopsi? Kau bisa mengadopsi meskipun belum menikah.”kata Yeon Ho
“Ada banyak persyaratan, seperti kestabilan keuangan dan keluarga yang bisa membantuku membesarkan anak. Aku juga harus lulus evaluasi keluarga.” Kata Ha Ri
“Rupanya kau sudah memikirkannya.”ucap Eun Young. Ha Ripikir  Anak adalah berkah, bukan pilihan.
“Jika aku mau mengadopsi, anak itu dan aku harus mempersiapkan diri secara mental, tapi aku tidak percaya diri.” Kata Ha Ri. Eun Young merasa Ha Ri terlalu banyak berpikir.
“Apa yang harus kita lakukan? Dua di kamar dan satu di sini. Apa Mau memainkan permainan tangga?”kata Ha Ri
“Aku akan pergi. Aku merindukan anak-anakku.” Kata Eun Young. Ha Ri tahu kalau temanya akan pilang seperti itu
“Bersenang-senanglah dan kembali lagi.” Kata Eun Young pamit pada Yeon Ho. Yeon Ho pu mengajak mereka untuk bertemu lagi.
“Asalkan kita tidak mengalami masalah ini lagi.” Kata Eun Young. Yeon Ho pun meminta Eun Young hati-hati dijalan.  Ha Ri pun meminta temanya agar menelpnya saat sampai dirumah. 




Ha Ri mengobrol dengan Yeon Ho sebelum tidur bertanya apakah berpikir untuk punya anak. Yeon Ho pikir tentu saja Tapi tanpa seorang anak, meskipun terkadang hidup masih terasa tidak stabil jadi lebih takut jika anak mengubah kestabilan hidupnya secara dramatis.
“Aku dan suamiku sangat puas dengan hidup kami sekarang.” Cerita Yeon Ho
“Bagaimana rasanya tinggal berdua saja? Kami lebih saling berdedikasi. Karena hanya ada kami berdua, kami bisa saling memperhatikan. Kami saling bertanya soal hari-hari kami, saling memedulikan perasaan, dan melakukan semuanya bersama.”cerita Yeon Ho
Ha Ri membayankan apabila hanya hidup berdua dengan Yi Sang, mereka saling memperhatikan bahkan memiliki anjing seperti anak merkea.
“Tapi kami tidak mengganggu waktu sendiri kami dan saat menginginkannya, kami bisa bangun suatu pagi dan berlibur. Karena kami hanya punya satu sama lain, cinta kami tidak terbagi. “ ungkap Yeon Ho
“Kau bisa hidup tanpa anak. Tapi di mata orang-orang, aku tidak menginginkan anak meski sudah menikah dan kau ingin anak tanpa menikah sama-sama tidak normal. Mereka tidak memahami kita.”ungkap Yeon Ho
“Kita hidup bukan untuk dipahami oleh orang lain. Kita hanya memilih dari apa pun yang ada. Kau melakukannya dengan baik.”ucap Ha Ri lalu mengucapkan selamat malam dan mereka pun mulai tidur. 


Yi Sang memilih sebuah kalung dan memutuskan akan membelinya. Pegawai pun langsung membungkusnya dan memberitahu Pembelian ini termasuk liburan dua hari ke hotel. Yi Sang kaget kalau mendapatkan Liburan dua hari dan menurutnya Luar biasa.

Ha ri berjalan keluar rumah dengan Yeon-ho lalubertanya apa yang akan dilakukan jika suamnya tidak menjemput. Yeon Ho mengaku suaminya  akan memasak untukku saat pulang karena ia akan mengeluh kelaparan dan saat itu mereka akan berbaikan.
“Bersenang-senanglah dengan temanmu.” Kata Yeon Ho pamit pada Ha Ri melihat suaminya sudah menjemput
“Terima kasih... Cepat pergi.” kata Ha Ri, Suami Yeon Ho pun mengajak istrinya agar segera pulang
“Apa Kau tahu betapa marahnya aku? Aku lapar!”ucap Yeon Ho kesal. Suaminya mengerti dan mengajak masuk ke dalam mobil. Ha Ri menatap keduanya hanya bisa terdiam 

“Tempat untuk kembali. Eun-young dan Yeon-ho bergegas pergi karena tahu harus kembali ke suatu tempat. Saat Ibu dioperasi karena kanker perutnya, aku berada di kantor.”
Ha Ri terlihat sangat sibuk sebelum menjadi kepala editor dengan terus melihat jam karena khawatir denga ibunya.
“Aku harus segera menyelesaikannya untuk ke rumah sakit. Aku tidak sempat bersedih atau marah kepada diriku. Melihat Ibu sakit terasa aneh. Dia tampak rapuh untuk kali pertama, tapi itu bukan masalah besar.”
Ha Ri menemani ibunya semenjak pulang dari kantor memastikan kalau ibunya baik-baik saja. Ia pun melihat rumah yang gelap dan menatap kamar ibunya yang kosong dan wajahnya terlihat sedih.
“Kami baik-baik saja. Ibu dan aku seperti itu. Tapi pulang sendirian< membuatku merasa sangat sedih. Tanpa Ibu, rumah kosong ini tidak akan lagi menjadi rumah bagiku untuk kembali.”
“Aku tidak punya tempat untuk kembali. Sejauh apa pun aku pergi, selelah apa pun aku, semua akan baik saja asal ada tempat untuk kembali. Aku bisa bertahan. Akankah pria itu mau menjadi rumah untukku kembali?”
Ha Ri berjalan ditaman dan melihat Yi Sang yang melambaikan tanganya. 


Ha Ri dan Yi Sang berjalan bersama, lalu Yi Sang berhenti karena melihat tas yang berbentuk pantung. Ha Ri bertanya apakah Yi Sang mengingkan itu. Yi Sang dengan gaya imut merasa itu menggemaskan. Ha Ri pikir Seluruh apartemenmu dipenuhi Moai tapi Yi Sang tetap ingin punya lagi.
“Aku tidak punya yang itu. Aku tidak pernah membeli itu. Aku sangat menginginkan yang itu.” Ucap Yi sang dengan gaya aegyo.
“Menakutkan karena kau sadar dan bersikap seperti itu.” Keluh Ha Ri.
“Ini hanya kepolosanku keluar dari lapisan sebagai orang dewasa.” Kata Yi Sang
“Aku juga ingin bersikap seperti anak kecil. Kau pilih Aku atau Moai?” ucap Ha Ri. Yi Sang terlihat bingung.
“Kenapa kau tidak menjawab? Apa Kau benar-benar ragu?” ucap Ha ri kesal. Yi Sang menyangkal kalau tak ada alasan untuk ragu.
“Tapi kau tidak menjawab.” Ucap Ha Ri. Yi Sang megeluh  Bagaimana bisa membandingkan itu dengan Ha Ri
“Jadi, Moai lebih baik daripada aku?” kata Ha Ri kesal. Yi Sang mengaku bukan seperti itu
“Aku mencintai Moai apa adanya.” Akui Yi Sang. Ha Ri merasa Yi Sang sudah terlambat lalu berjalan pergi.
“Tunggu! Aku bisa menjelaskannya.” Kata Yi Sang mengejarnya. Ha Ri seperti pura-pura kesal. 


Jae Young pergi ke showroom mobil memastikan mobil ini aman. Pegawai pun meminta gar Jae Young bisa mencoba mendudukinya. Jae Young pun masuk ke dalam mobil lalu memastikan dengan melihat ke belakang tempat duduk Do Ah.
Setelah itu Jae Young masuk ke sebuah apartement, Seorang pria memperlihatkan Ruang tamu. Jae Young senang melihat pemandangan Sungai Ha dengan senyuman bahagai kalau ini bagus dan mulai menyemangati dirinya kalau harus bekerja keras.
**
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar