PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 20 Juni 2020

Sinopsis Oh My Baby Episode 11 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
“Aku juga berharap bisa menjadi kekasihmu. Tapi aku tidak bisa punya anak.” Akui Yi Sang. Ha Ri kaget mendengar pengakuan Yi Sang.
“Aku tidak tahu cara membahasnya, mengetahui kau mungkin akan meninggalkanku atau memberiku ekspresi itu saat aku memberitahumu.Bagaimanapun aku mengatakannya, aku tahu kau pasti terkejut. Tapi kita...” kata Yi Sang
Ha Ri yang shock berpikir tak bisa dan bergegas pergi. Yi Sang bingung meminta agar Ha Ri menunggu, tapi Ha Ri memilih pergi dengan menahan tangisnya. Yi Sang pun hanya bisa terdiam sementara Tuan Nam yang melihat Ha Ri tiba-tiba pergi binggung.
Akhirnya Ha Ri sampai didepan studio melihat ke arah belakang seperti memastikan kalau Yi Sang akan mengejarnya atau tidak. Ia pun pergi ke lantai atas  menangis sendirian karena baru mengetahui kalau Yi Sang tak bisa punya anak, padahal ia harus memiliki anak secepatnya.
Sementara Jae Young yang galau duduk diatas ayunan dengan sang anak, seperti sangat berharap kalau bisa berkencan dengan Ha Ri dan menjadi ibu dari anak-anaknya.
[Episode 11, Lebih dari Apa pun... Maafkan Aku dan Aku Mencintaimu] 


Ha Ri akhirnya kembali setelah menenangkan diri, Yeo Ho melihat Ha Ri mengeluh  Dari mana saja  karena Pak Kim menunggu. Ha Ri meminta maaf dan mengaku ada urusan lalu mengaja masuk ke ruang rapat.  Tuan Kim sudah menunggu, dan Ha Ri mulai membahas Perusahaan yang memperpanjang kontrak iklan
“Kita sudah membahasnya kemarin. Aku ingin membahas sampulnya. Apa Kita juga akan memakai foto bayi untuk sampul bulan depan?” ucap Tuan Kim
“ Siapa model pilihanmu?” tanya Ha Ri. Yeon Ho menjawab Layla, gadis yang melakukan pemotretan mode bulan lalu.
“Menurutmu kita bisa memilih selebritas saja?” ucap Tuan Kim. Yeon Ho pikir mereka akan memilih konsep hamil. Ha Ri seperti hanya mendengar gema dengan tatapan kosong.
“Tidak banyak klien yang ingin beriklan di majalah kita. Situasinya makin sulit. Nona Jang, kau kenal selebritas?”tanya Tuan Kim.
Ha Ri hanya diam saja. Yeon Ho akhirnya menyadarkan Ha Ri. Ha Ri akhirnya tersadar, Tuan Kim memberitahu kalau Eco and Bebe, pesaing mereka menampilkan Lee Mi-do dan Kentang Raja untuk halaman sampul bulan depan.
“Benarkah? Bagaimana mereka mendapatkannya? Mari kita juga mencari artis papan atas untuk kita.” Kata Yeon Ho tak mau kalah
“Nona Jang, klien kita selalu membandingkan kita  dengan Eco and Bebe saat aku menemui mereka. Tidak masalah jika hanya harga diriku yang terluka. Tapi klien kita beralih ke mereka.” Ucap Tuan Kim
Ha Ri yang tak mendengarnya hanya menganguk mengerti, Yeon Ho kaget kalau Ha Ri akan melakukannya. Ha Ri membenarkan. Tuan Kim pun terlihat sedikit lega. 



[Dachae Media]
Hyo Joo ke lobby mengambil paket untuk "The Baby", Eu Ddeum datang dengan wajah lesu. Hyo Joo melihat Eu Ddeum terlihat kesal dan langsung menghadangnya. Eu Ddeum pun membungkuk memberikan salam dan berjalan pergi. Hyo Joo kembali menghadangnya.
“Apa Tidak ada yang ingin kau katakan kepadaku?” ucap Hyo Joo sinis. Eu Ddeum terlihat bingung
“Begini... Maksudku... Ini berat.” Kata Hyo Joo kesal akhirnya memberikan paketnya. Eu Ddeum pun tak bisa menolak membawakan barangnya. 

Didalam lift, Eu Ddeum yang sangat sedih hanya diam saja. Hyo Joo akhirnya yang mulai bicara ingin tahu alasan Eu Ddeum melakukan itu. Eu Ddeum yang melamun  terlihat bingung. Hyo Joo bertanya Apa terjadi sesuatu di akhir pekan. Eu Dddeum menganguk. Hyo Joo pun bisa mengerti. 

Eu Ddeum berjalan dilorong dan langsung terhenti saat melihat Ha Ri duduk di ruangan santai, lalu hanya bisa menatap dari kejauhan. Hyo Joo tersadar Eu Ddeum berhenti berjalan dan bertanya Sedang apa di sana. Eun Ddeum langsung bersembunyi.
“Apa kau akan menyatakan perasaanmu kepada...” kata Hyo Joo melihat tatapan Eu Ddeum pada Ha Ri. Eu Ddeum tak menjawab hanya memberikan paketnya dan bergegas pergi. Hyo Joo menatap Ha Ri tak percaya ternyata bukan dirinya tapi Ha Ri sebagai sainganya. 

Eu Ddeum kembali ke ruangan, hanya bisa duduk melamun. Rekan kerjanya datang meminta agar Eu Ddeum selesaikan berkasnya. Eu Ddeum menganguk mengerti walaupun terlihat masih sedih
Sementara Hyo Joo sangat kesal karena ternyata Eu Ddeum bukan suka denganya tapi dengan Ha Ri. Ia pu melihat sandal pemberian Eu Ddeum yang berpikir memberikan perhatian, lalu membuangnya dengan wajah kesal. 

Jae Young keluar dari kamar, Nyonya Lee bertanya Bagaimana keadaan Do-ah. Jae Yong mengaku  Kondisinya akan membaik dan baru minum obat. Ia pikir anaknya harus mandi tapi akan terluka dan menatap kearah lantai atas setelah mengambil minum.
“Pergilah. Ha-ri sepertinya sudah pulang.” Kata Nyonya Lee mengerti dengan perasaan Jae Young.
“Begini... Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Ucap Jae Young akhirnya duduk diruang tamu.
“Kenapa? Kau bahkan tidak bisa menemuinya?” tanya Nyonya Lee. Jae Young mengaku takut akan memberitahunya karena  Semuanya akan berakhir.
“Aku menyetujuimu, tapi Ha-ri tidak. Maafkan aku.” Kata Nyonya Lee tahu tentang anaknya.
“Tapi kenapa Bibi menyetujuiku? Aku duda beranak satu.” Kata Jae Young heran.
“Aku juga janda beranak satu. Bagi Ha-ri, kau adalah ayah dan kakaknya. Aku merasa bersalah karena dia sendirian. Aku senang dia memiliki dirimu. Itu juga alasanku mengandalkanmu.” Jelas Nyonya Lee
“Dahulu ibumu dan aku sudah sepakat bahwa kau akan menjadi menantuku. Tapi kau menikahi wanita lain. Pria yang ditemui Ha-ri belakangan ini. Dia yang pernah pergi ke Mureung bersamanya, bukan?” kata Nyonya Lee Jae Young membenarkan,
“Kau pikir hubungan mereka tidak akan lancar karena dia aneh bagimu? Apa Kau menunggu karena merasa mereka akan putus?” tanya Nyonya Lee
“Sejujurnya, siapa pun itu, aku pasti membencinya. Namun, jika Ha-ri bilang hanya ingin bersamanya, tidak ada yang bisa kulakukan. Sebaiknya aku menyerah.” Ucap Jae Young. Nyonya Lee hanya bisa menghela nafas panjang. 


Tuan Nam sibuk bermain basket dengan nafas terengah-engah, lalu bertanya pada Yi Sang apakah putus dengannya dan Itukah yang terjadi. Yi Sang tak menjawab terus bermain bola. Tuan Nam pikir mereka  harus melakukan ini sampai Yi Sang melupakannya
“Kami tidak putus.” Ucap Yi Sang melempar bola basket ke ring.
“Maksudku, jika kau tidak putus dengannya, kenapa aku harus melakukan ini selarut ini? Jawab aku.” Kata Tuan Nam
“Aku tidak bisa punya anak.. Hanya itu yang ingin kukatakan.” Ucap Yi Sang. Tuan Nam kaget mendengarnya.
“Bukan apa-apa.” Ucap Yi Sang mencoba untuk santai. Tuan Nam memastikan kalau Yi Sang tak bisa punya anak.
“Bukan Ha-ri, tapi kau? Yi-sang, apa karena itu kau putus dengan In-a? Apa Ha-ri bilang ingin putus denganmu?” tanya Tuan Nam
“ Hanya aku yang boleh kesulitan, tapi aku tidak mau membuatnya...” ucap Yi Sang. Tuan Nam pun tak bisa berkata-kata.
Yi Sang dan Tuan Nam berjalan pulang, tiba-tiba Yi sang berhenti melangkah memberikan bola basket pada Tuan Nam mengatakan kalau harus pergi ke suatu tempat lalu bergegas pergi. 


Yi Sang berlari ke arah rumah Ha Ri, dengan nafas terengah-engah menatap dari luar lalu ragu untuk menekan bel. Tapi akhirnya memberanikan diri menekanya, sayang pintu rumah Ha Ri tak terbuka. Yi Sang pun melangkah pergi, tapi saat itu pintu rumah terbuka.
“Maafkan aku.. Maafkan aku... Semua ini.. salahku... Aku hanya sangat ingin mengatakan itu.” Ucap Yi Sang setelah melihat Ha Ri keluar dari rumah
“Katakan padaku hal yang belum kau katakan.” Ucap Ha Ri. 

Keduanya duduk dicafe, dengan rasa cangung dan hanya diam saja. Yi Sang akhirnya mengenggam tanganya, untuk menenangkan diri sebelum bercerita. Ia akhirnya menceritakan  Saat bertunangan dengan mantannya sudah memeriksakan diri.
“Aku tidak punya gejala dan semuanya normal. Kupikir tidak akan ada masalah. Tapi kami mengetahui bahwa aku punya masalah. Kukira aku bisa kembali normal setelah pengobatan selama tiga bulan.” Cerita Yi Sang yang mengingat saat sang pacar meninggalkan dirinya.
“Tapi aku akhirnya berpisah secara menyakitkan. Rasanya sangat sulit dan menyakitkan untuk melupakannya. Jadi, aku tidak ingin mengalami masalah yang sama denganmu. Namun, aku jadi menyukaimu.” Akui Yi Sang. Ha Ri mengalihkan pandangan menahan air matanya.
“Aku tidak khawatir soal melukai diriku sendiri.Aku khawatir akan menyakitimu. Hal itu yang paling membuatku khawatir.” Kata Yi Sang
“Kau juga pernah mengalami momen saat kau merasa semuanya sudah berakhir. Tetap saja, jika kau tidak ingin melukaiku dan jika kau mengkhawatirkanku, seharusnya beri tahu aku lebih awal. Aku harus menangani banyak masalah. Aku akan pergi.” kata Ha Ri lalu melangkah pergi. Yi Sang pun hanya bisa diam saja. 


Ibu Ha Ri diam-diam pergi ke lantai atas, membaca jus herbal. Ia memeriksa kulkas anaknya dan melihat jusnya sudah berubah. Senyuman Nyonya Lee bahagia karena Dahulu tidak pernah mau meminumnya tapi  Akhirnya, meminumnya secara teratur.
Nyonya Lee mengintip kamar anaknya, dan kembali tersenyum bahagia. Sementara Ha Ri ternyata menangis mengetahui nasib hubungan yang kemungkinan akan tak berjalan lancar. 

Jae Young memeriksa pasien anaknya dan memberitahu kalau Pneumonianya lebih lama dari dugaannya. Si ibu pikir itu tidak bagus, Jae Young yakin  Begitu diobati, kondisinya membaik jadi tidak perlu khawatir.
Setelah pasien itu pergi, Jae Young melirik ke arah artikel majalah dengan wajah Ha Ri. Ia lalu mengingat saat memandang Ha Ri yang tertidur lelap, lalu mencoba melupakan dengan menutup majalah.

[Dachae Media]
Hyo Joo memberikan artikel yang ditulisnya, Ha Ri bertanya   Bagaimana penampilan "celana bayi mewah" dan "celana pof elegan". Hyo Joo menjawab  Keduanya tampak mewah dan elegan.
“Hyo-joo, kau tidak bisa menulis artikel tanpa "it items" atau "hot items"? Jangan selipkan bahasa Inggris. Ulangi.” Ucap Ha Ri. Hyo Joo mengerti. Ha Ri heran Hyo Joo hanya diam saja.
“Soal model anak-anak untuk iklan merek mainan, mereka tidak bisa. Bisa dapatkan bayi temanmu?” ucap Hyo Joo
“Kau tidak seperti meminta bantuan. Kesannya itu pekerjaanku. Baiklah.” Ucap Ha Ri
Saat itu Hyo Joo pergi ke mejanya lalu menepuk pundak So Yoon agar ikut denganya keluar ruangan. Ha Ri akhirnya melihat Daftar Obat Perangsang Ovulasi dan mengingat obat yang ada di rak rumah Yi Sang dan langsung memanggil Yeon Ho.
“Yeon-ho... Bisakah pria juga mengonsumsi obat perangsang ovulasi?” tanya Ha Ri
“Ya. Obat itu juga dipakai untuk mengobati kemandulan pria. Kudengar pria harus disuntik dua atau tiga kali sepekan selama 3 bulan. Aku tahu itu sulit bagi wanita, tapi ini juga sulit bagi pria.” Ucap Yeon Ho. Ha Ri hanya bisa terdiam. 


So Yoon menemui Hyo Joo ingin tahu Ada apa mengajaknya ke gedung. Hyo Joo menegaskan  Kali ini aku benar-benar akan mencari pekerjaan lain. So Yoon mengeluh kalau mengatakan hal yang sama sebelumnya dan berkomentar kalau temanya itu bukan pembohong patologis.
“Hei! Aku serius... Tidak ada alasan lagi untuk tetap di perusahaan ini. “ kata Hyo Joo
“Tapi berhenti kurang dari setahun tidak dihitung sebagai pengalaman, bukan? Lebih baik mencari pekerjaan lain setelah satu atau dua tahun? Atau lebih baik segera mencari pekerjaan baru?” kata So Yoon.
“Jika ingin perusahaan mempekerjakanmu, kau harus berhenti.” Kata Hyo Joo. So Yoon mengeluh kalau Ini pilihan pertamanya. 


Saat itu Yeon Ho masuk gudang. Keduanya terlihat kaget dan hanya bisa terdiam. Yeon Ho mengeluh kalau mereka seharusnya bekerja tapi malah diam-diam mengobrol lagi, lalu mengajaknya untuk ikut mengobrol juga.
“Banyak majalah saingan kita tutup. Orang terus meneleponku apa kita mencetak edisi bulan depan.” Ucap Yeon Ho
“Kurasa aku harus mencari pekerjaan baru.” Kata So Yoon kesal. Hyo Joo mengeluh kepala temanya berkomentar kalau mereka sepemikiran.
“Rumor semacam ini menyebar tiap tahun. Aku yakin itu hanya rumor.” Kata Yeon Ho yakin
“Kurasa itu bukan sekadar rumor.” Ucap So Yoon sedih, dua temanya pun hanya bisa tertunduk diam memikirkan nasibnya. 

Eu Ddeum duduk termenung menatap cincin yang tak bisa diberikkan pada Ha Ri. Saat itu Hyo Joo melihat Eu Ddeum mencoba tak mengubrisnya lalu masuk ke minimarket. Eu Ddeum kaget melihat Hyo Joo tiba-tiba duduk didepanya dan langsung memasukan cincinya.
“Apa? Nona Choi, kenapa kau... Kenapa kau di sini?” kata Eu Ddeum. Hyo Joo tak menjawab langsung meminum bir.
“Tunggu, kau belum pulang kerja.” Kata Eu Ddeum. Hyo Joo tak peduli langsung menghabiskan 1 kaleng bir dan langsung membuangnay dengan kasar ke tempat sampah, tapi tanganya malah terkena tutup sampah.
“Apa Kau terluka?” ucap Eun Ddeum pank. Hyo Joo kesal karena Eun Ddeum peduli padanya.
“Apa pedulimu jika tanganku patah atau tidak?” ucap Hyo Joo marah. Eu Ddeum mengaku alasanya karena mengenalnya.
“Apa Kau selalu membantu dan menjaga wanita yang kau kenal? Dasar bedebah.’ Ucap Hyo Joo kembali duduk.
“Aku memang punya kekurangan, tapi aku bukan bedebah.” Kata Eu Ddeum
“Coba Lihat... Kau tidak sadar dirimu bedebah. Itu membuatmu lebih buruk.” Kata Hyo Joo menahan airmatanya.
“Aku tidak mengerti kenapa... Kenapa aku bedebah? Aku tidak mengerti apa salahku.” Ucap Eu Ddeum
“Kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau membeli plester untukku, tersenyum kepadaku, dan membuatku salah paham? Ini memalukan.” Kata Hyo Joo akhirnya mulai menangis.
“Kenapa kau menangis?” ucap Eu Ddeum bingung. Hyo Joo mengelak kalau tak menangis tapi mengeluh karena maskaranya luntur
“Sial. Tertulis ini tahan air.” Kata Hyo Joo terus menangis. Eu Ddeum pikir kalau Hyo Joo menangis karena maskarany luntur
“Akan kubelikan yang bagus, ya? Jangan menangis.” Kata Eu Ddeum . Hyo Joo berteriak kesal karena Eu Ddeum kembali melakukannya lagi.
“Berhenti bersikap baik kepadaku!” ucap Hyo Joo kesal. Eu Ddeum melihat Hyo Joo akhirnya bertanya pada pemiliki minimarket apakah menjual maskara. 



Ha Ri akan masuk ke studio foto, lalu terlihat ragu saat membuka pintu. Tiba-tiba Yi Sang datang setelah berolahraga lalu bertanya apakaha ragu untuk masuk karena dirinya. Ha Ri mengelak dan langsung masuk kedalam studio.
Yi Sang selesai berganti pakaian, Ha Ri sibuk menyusun produk diatas meja. Yi Sang mengambil kamera dan langsung mengambil gambar Ha Ri dari kejauhan, Ha Ri kaget dan langsung menatapnya. Yi Sang mengaku hanya foto percobaan.
“Ini akan menjadi foto kecil untuk produk.” Ucap Ha Ri. Yi Sang pun mendekat dan langsung mengambul foto produk.
“Apa Seperti ini?” tanya Yi Sang memperlihatkan fotonya. Ha Ri memuji kalau ini bagus lalu mulai membereskan barangnya. Yi Sang ingin membantu tapi Ha Ri menolak. Akhirnya Yi Sang memegang tangan Ha Ri dan menatapnya.
“Sudah kubilang bahwa aku takut menyakitimu. Jadi, aku tidak akan menyakitimu. Kenapa kita tidak mencari cara bersama? Aku akan melakukan semua cara. Masalah ini...” ucap Yi Sang memenangkan Ha Ri.
“Kau bilang rasanya sangat sulit dan berakhir menyakitkan.” Ucap Ha Ri
“Kau bilang cinta seperti keajaiban dan kau tidak akan pernah melepaskan orang yang kau cintai. Itu jawaban yang aku tahu.” Balas Yi Sang
“Kau akan tersiksa karena tidak bisa membantu. Aku akan tersiksa karena tidak bisa berharap. Tidak ada yang salah dengan kita asalkan tidak menginginkan anak. Jika tidak bersamaku, kau tidak perlu melewati proses menyakitkan ini lagi.” Ucap Ha Ri mencoba melepaskan tangan Yi Sang.
“Jangan bilang begitu, Ha-ri.” Pinta Yi Sang. Ha Ri melepaskan tangan Yi Sang berpikir Mungkin seharusnya mereka tidak memulainya.


Yeon Ho kembali ke ruangan, So Yoon bertanya apakah dari Tim Seni. Yeon Ho menganguk lalu bertanya Di mana Nona Jang, apaah Dia pergi ke suatu tempat. So Yoon menganguk.
“Omong-omong, Hyo-joo menghilang.” Kata So Yoon. Yeon Ho bingung apa maksudnya Menghilang. Saat itu Eu Ddeum datang mendengar dengan wajah panik
“Tasnya di sini, tapi aku belum melihatnya seharian dan dia tidak bisa dihubungi.” Kata So Yoon
“Apa dia mabuk di suatu tempat dan bermalas-malasan?” keluh Yeon Ho kesal
“Tidak!” teriak Eu Ddeum tiba-tiba datang. Yeon Ho kaget melihat Eu Ddeum yang tiba-tiba datang.
“Dia menata gudang bersamaku.” Kata Eu Ddeum. Yeon Ho mengerti dan berkomentar Semoga hari mereka indah. Eu Ddeum mengerti dan diam-diam mengambil tas Hyo Joo lalu bergegas pergi ke gudang. 


Eu Ddeum pergi ke gudang dan kaget melihat Hyo Joo sudah berbaring terbalik di rak. Hyo Joo yang mabuk mengeluh kalau Hidup ini sangat sulit. Eu Ddeum mencoba menyadarkan Hyo Joo tapi Hyo Joo sudah tak sadarkan diri setelah meminum satu kaleng bir.
“Kau harus bangun dan pulang... Kau tahu apa ini?” ucap Eu Ddeum. Hyo Joo berusaha untuk bangun dan menjatuhkan diri ke lantai. Eu Ddeum pun tak bisa membantu.
“Menyedihkan. Pasti menyenangkan jika aku bisa minum segelas lagi.” Ucap Hyo Joo lalu bertanya-tanya keberadaanya sekarang dan mengaku lelah.
“Aku bisa melakukannya... Ayo Bantu aku keluar.” Jerit Hyo Joo. Tapi Eu Ddeum ketakutan tak bisa membantunya. 

Eu Ddeum mengemudikan mobilnya sesuai dengan GPS di mobilnya lalu membangunkan  Hyo Joo kalau sudah mengikuti GPS dan ingin tahu Apa ini rumahnya. Hyo Joo yang masih mabuk mengeluh tak peduli sambil menutup telinganya.
“Berapa nomor rumahmu? Sebutkan kata sandimu dan biar kuantar dengan selamat.” Kata Eu Ddeum
“Beraninya seorang pria datang ke rumahku. Ini rumahku.” Kata Hyo Joo marah. Eu Ddeum kebingunga memikirkan yang harus dilakukan sekarang. 

Hyo Joo akhirnya tertidur di pangkuan Eu Ddeum. Seseorang memberitahu kalau  Alamatnya yang tercatat adalah Busan. Eu Ddeum terlihat mengeluh kesal, ternyata membawa Hyo Joo ke kanto polisi dan ada beberapa pria mabuk disampingnya.
“Sepertinya dia tidak memperbarui datanya.” Kata Polisi. Eu Ddeum mulai memikirkan caranya.
“Maaf, apa tidak masalah jika dia bermalam di sini?” tanya Eu Ddeum. Polisi pun menganguk setuju. Eu Ddeum pun langsung memberikan jas agar Hyo Joo tak kedinginan. 

Jae Young menatap pintu rumah Ha Ri dan langsung menekan bel. Ha Ri membuka pintu bertanya ada apa. Jae Young memberitahu kalau Do-ah tidur cepat dan Bibi bilang akan menjaganya jika bangun. Ha Ri tak peduli duduk diam di meja makan.
“Ada drama yang selalu kutonton, tapi Bibi menonton acara lain.” Kata Jae Young duduk didepan TV lalu melihat Ha Ri hanya duduk dengan tatapan kosong.
“Apa ada masalah? Kenapa kau tampak murung?” tanya Jae Young penasaran.
“Kukira kau akan menonton drama. Pergilah jika tidak mau.” Ucap Ha Ri kesal
“Kau terlihat seperti itu dan sudah berapa hari? Aku tahu ini akan terjadi lagi. Jika kau tidak bisa berpacaran, jangan.” Kata Jae Young
“Apa maksudmu kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu sesuatu yang tidak kuketahui? Berapa banyak orang di dunia ini yang jatuh cinta setelah berbagi suka dan duka? Ada hubungan seperti itu?” kata Ha Ri marah
“Siapa yang jatuh cinta, padahal tahu akan patah hati? Seharusnya aku tahu.” Teriak Ha Ri lalu masuk ke dalam rumah. Jae Young terdiam melihat Ha Ri yang marah-marah dan akhirnya keluar rumah.
***
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar