Kamis, 23 Juni 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 9 Part 1

[RS. Universitas Hanguk]
Bo Nui berjalan menuruni tangga dan Soo Ho mengikutinya dari belakang. Sampai di tangga terakhir Bo Nui membalikan badanya berpikir kalau semua itu tak nyata dan hanya mimpi saja. Soo Ho hanya tersenyum mengejek.
Kubayangkan Bo Ra bangun, ratusan ribu kali. Tapi aku tak pernah egois ingin melihatnya, dalam mimpi sekalipun.” Ungkap Bo Nui
Mulai sekarang, kita datang melihatnya, bahkan Ratusan ribu kali.” Kata Soo Ho, Bo Nui tersenyum lebar, Soo Ho pun memalingkan wajahnya menahan senyumannya.
Di kehidupanmu sebelumnya, aku pasti berbuat baik untukmu. Tapi aku tak akan berharap lebih. Kupikir tak akan bisa melihatnya seumur hidup jadi aku akan melihatnya satu kali.” Kata Bo Nui lalu mengucapkan terimakasih dan pamit pulang.
“Tunggu Sebentar! Kau mau pergi begitu saja?” kata Soo Ho, Bo Nui binggung
Soo Ho dengan gugup akan mengantarnya pulang, Bo Nui pikir tak perlu karena jaraknya dengan jadi bisa jalan dan tak akan merepotkannnya. Soo Ho pun tak bisa berbuat apa-apa membiarkan Bo Nui pergi. 

Bo Nui menaiki tanga jalan, tiba-tiba dari belakang Soo Ho berlari dengan wajah gugup mengatakan “Makan saja” dan mengajak mereka makan. Bo Nui binggung tiba-tiba Soo Ho mengajaknya makan.  
Maksudku, dari pagi sampai sekarang, aku mengantarmu. Aku kan jimatmu. Mau kabur gitu saja setelah memanfaatkanku?  Kau bilang terima kasih. Aku tak percaya kehidupan masa lalu, jadi balasnya sekarang saja.” Ucap Soo Ho
Tidak, tadi aku mau datang berkunjung ke  tempatorang tuaku, tapi malah memaksaku…” kat Bo Nui, Soo Ho tak mau dengar langsung menunjuk restoran yang ada didekat sana.
Soo Ho membua buku menu, Bo Nui melihatnya mengajak untuk pergi sja, Soo Ho mengatakan Habis makan baru mereka pergi. Bo Nui melihat menu makannya Belut, ikan pipih, salmon, nigiri, ikan, jadi tak ada yang bisa dimakan jadi lain kali saja mentraktirnya. Soo Ho langsung mengangkat tangan untuk memesan. Bo Nui meminta maaf pada pelayan karena akan pergi. Tapi Soo Ho mengatakan akan memesan makanan. 

Dua menu makanan ditaruh diatas meja, Soo Ho bersyukur karena ada menu makanan  yang bisa dimakan. Bo Nui pikir benar juga. Soo Ho yakin anak buahnya itu pasti senang karena baik-baik saja, Bo Nui menyangkalnya, lalu Soo Ho mengajak untuk segera makan saja.
Setelah makan seafood perutmu pasti sakit? Kudengar dari Ibumu dulunya kau suka sekali ikan.” Kata Bo Nui khawatir, Soo Ho hanya menatapnya, Bo Nui pun  tak ingin membahasnya, tapi akhirnya Soo Ho mulai bicara.
Aku hampir mati, karena jatuh ke laut. Sebelumnya sudah kubilang, imajinasiku bagus. Memoriku bahkan lebih bagus lagi. Rasa Asinnya seolah tertinggal di tenggorokan, bahkan baunya seolah masih nempel di hidungku. Itu Begitu jelas. Setelah itu aku tak mau makan ikan dan Ini trauma yang penyebabnya jelas.” Cerita Soo Ho lalu menyuruh mereka segera makan setelah itu pergi membeli kopi. Bo Nui menatap Soo Ho dengan raut wajah kesedihan. 

Soo Ho membaringkan kepalanya di kursi taman, Bo Nui membawa dua gelas kopi mesin melihat Soo Ho yang membaringkan kepalanya lalu perlahan mendekatinya dan tepat diatas wajah atasanya langsung mengagetkanya. Soo Ho terbangun, terlihat tenang melihat Bo Nui ada tepat didepan matanya.
“Kau Sedang apa?” ucap Soo Ho dingin, Bo Nui akhirnya duduk disampingnya dengan memberikan segelas kopi.
“Aku cuman ingat saat pertama kali bertemu denganmu.  Hari itu kau kesal gara-gara aku, kan?” kata Bo Nui menyadarinya.
“Kau Terus-menerus, selalu, bikin kesal, setiap waktu.” Ucap Soo Ho dingin
“Aku minta maaf karena terus-terusan, dan selalu membuat masalah untuk mu Kurasa itu sebabnya kehidupan yang sudah digariskan tak bisa diperbaiki. Aku akan lebih berhati-hati.” Kata Bo Nui dengan duduk menjau karena tak ingin membuat Soo Ho sial.
Kau bilang… orang tuamu meninggal saat usiamu 16, kan? Menurutmu... itu juga kesalahanmu? Karena pisau, takdir, atau apalah namanya?” ucap Soo Ho menatap Bo Nui
Waktu itu aku tidak tahu. Awalnya hanya anak ayamku yang mati, hanya teman sebangkuku yang terluka, alu Ayah-Ibuku… Bahkan saat mereka tiada ketika membelikan tiket untuk putrinya, kupikir hal itu kebetulan semata. Apabila sejak awal aku tahu, mungkin keadaan akan lebih baik. Dan Kalau tahu sejak dulu, aku akan menyerahkan Bo Ra untuk diadopsi…” ucap Bo Nui merasa menyesal
Soo Ho mengomel Bo Nui itu berlebihan karena selama ini sudah memberikan hidupnya pada adiknya.  Bo Nui pikir harus cari uang dan tak butuh makanan, tapi ada sesuatu yang paling menakutkan.Pikiran kalau akan mengambil Bo Ra darinya dan beberapa terbangun dengan  menyentuh wajahnya lagi dan lagi. Soo Ho menatap Bo Nui dalam-dalam.

Haruskah kutebak yang tengah Presdir pikirkan? Coba…“Oh, betapa menyedihkannya, betapa naifnya wanita ini... benar-benar tidak berubah” Benar kan?” kata Bo Nui
Pasti berat sekali bagimu. Kau Masih kecil sudah memberi makan, mendandani dan membesarkan adiknya… Pasti sangat berat.” Ucap Soo Ho, Bo Nui balik menatap dengan berkaca-kaca lalu mengajak pulang karena sudah menyita banyak waktunya. Soo Ho pun berlari mengejar Bo Nui, agar bisa berjalan bersebelahan. 

Bo Nui sedang berdoa tiba-tiba mengingat saat Soo Ho memeluknya dirumah sakit, lalu menyadarkan kenapa ditengah berdoa malah berpikir yang macam-macam dan memcoba memejamkan matanya untuk bisa fokus berdoa.
Aku hanya memikirkan Bo Ra! Tolong jaga dia, dari kepala sampai kaki, dan sadarkanlah dia, Aku tak ingin yang lainnya.” Ucap Bo Nui berdoa
Soo Ho berbaring ditempat tidurnya, mengingat saat Bo Nui mengagetkanya, senyuman terlihat lalu terbangun menatap tanganya, mengingat saat memeluk Bo Nui di rumah sakit dengan mengatakan Kapanpun Bo Nui ingin membesuknya, maka katakan padanya. Akhirnya ia membanting tubuhnya di tempat tidurnya.
Bo Nui terlihat gelisah diatas tempat tidurnya begitu juga Soo Ho, sampai akhirnya mereka seperti saling berhadapan di tempat tidur masing-masing membuat mata mereka terlelap. 

Pagi hari
Soo Ho duduk melamun di sofa depan tempat tidurnya, seperti sedang berlatih bicara  bertanya “ apakah tidurmu nyenyak semalam?” lalu membaringkan tubuhnya di sofa memikirkan kalau itu terlalu berlebihan atau tidak, dengan menatap ponselnya kakinya pun dinaikan ke atas.
“Apa kau sudah bangun? Kau sedang apa?” ucap Soo Ho kembali berlatih, lalu menghela nafas memikirkan caranya bicara dengan Bo Nui
“Apa Kau sudah sarapan?” kata Soo Ho, akhirnya menyerah dengan melempar ponselnya di kasurnya. 

Bo Nui sudah pergi ke rumah sakit dengan membaca banyak makanan dan diberikan pada perawat yang menjaga dilantai adiknya sedang dirawat. Perawat Lee heran melihat Bo Nui yang bawa banyak sekali makanan, Bo Nui menanyakan keadaan adiknya hari ini karena  Mulai sekarang, ingin menulis buku harian. Perawat Lee memberitahu kalau Bo Ra sedang sangat sibuk karena sedang bertemu pria super tampan yang kemarin bersamanya, Bo Nui terdiam menebak-nebak.  

Bo Nui mengintip melihat siapa yang mengunjungi adiknya, Gun Wook keluar dari ruangan. Bo Nui hampir kaget tapi bisa bernafas lega ternyata Gun Wook yang mengunjungi adiknya. Gun Wook heran menurutnya memang ada orang lain selain dirinya.
Tidak. Perawat Lee bilang ada pria tampan datang. Kata Bo Nui, Gun Wook dengan bangga mengatakan memang hanya dirinya. Bo Nui hanya bisa menahan tawa saja.
“Lalu Bo Ra bagaimana? Dia makin membaik, kan? Tangannya bagaimana? Apa Kau lihat jarinya gerak?” tanya Bo Nui
Dia pasti masih tidur. Aku menyelinap ke sana untuk menyapanya lalu pergi. Nuna juga ingin lihat Bo Ra, kan?” kata Gun Wook 
Gun Wook, aku sudah lihat wajahnya Bo Ra! Menatapnya langsung!” Ucao Bo Nui dengan wajah bahagia, Gun Wook kaget bertanya kapan Bo Nui melihat adiknya.
Kemarin, berkat Presdir Je. Dia menyuruhku menganggapnya sebagai jimat! Kapanpun aku ingin membesuk Bo Ra, dia mau datang bersamaku. Presdir memang sangat benci takhyul! Kupikir orangnya keras, tapi makin mengenalnya dia ternyata sangat baik.” Ungkap Bo Nui, Gun Wook terlihat sedih tapi berusaha untuk tersenyum menurutnya itu bagus. 

Gun Wook dan Bo Nui pulang kerumah bersama-sama, Bo Nui melihat sosok orang yang dikenalnya, tapi kenapa harus datang keruma tanpa menelpnya. Gun Wook bertanya siapa yang datang. Bo Nui memberitahu itu Presdir Je,sambil bertanya apakah sudah nunggu lama, karena seharusnya menelpnya lebih dulu.
“Apa Dia masih suka ke sini?” ucap Gun Wook kesal
Kadang mampir kalau lewat sini...” kata Bo Nui merapihkan rambutnya dikaca mobil.
“Ahh.... orang kepribadiannya... Kemarin ia mendadak datang, ngomong hal yang menakutkan, kalau Nuna mau bunuh diri. Lalu Dia mondar-mandir di sekitar sini, semalam suntuk.” Cerita Gun Wook
Bo Nui tak percaya Soo Ho bisa seperti itu dan bertanya kapan, Gun Wook menyuruh tetanggaitu itu sadar dan memberitahu saat Bo Nui tak pulang seharian. Bo Nui terdiam karena baru mengetahuinya, Gun Wook melepaskan sabuk pengamanya menurutnya tak bisa dibiarkan jadi akan jelaskan batasannya. Bo Nui panik ikut keluar dari mobil untuk menahanya. 

Gun Wook menepuk pria yang memakai jaket dengan memanggil Presdir Je, tapi saat berbalik ternyata bukan Suk Ho. Pria itu tiba-tiba mengatakan kalau dugaanya itu benar kalau Gary Choi,
Halo, aku reporter Choi dari Women's Sense. Kudengar kau mencari ayahmu. Benar begitukah?” Ucap Reporter Choi langsung mengajukan pertanyaan. Gun Wook binggung tiba-tiba disodori pertanyaan.
Bo Nui akhirnya maju bertanya apa yang sedang dilakuanya, tiba-tiba jepretan blitz dari pintu apartement. Bo Nui melarang reporter lain agar tak mengambil gambar. Gun Wook pun dengan tanganya mencoba menutupi kamera agar tak mengambil gambarnya. 

Foto Gun Wook yang melarang reporter mengambil gambarnya terlihat dilayar. Sul Hee mondar mandir diruangan rapat, menurutnya Kantor penyelidik, detektif entah apalah itu, kemungkinan informasi bocor dari situ, sambil duduk didepan Gun Wook meminta agar memberikan nomor telpnya. Gun Wook hanya membaringkan tubuhnya sambil mengangkat kakinya, Soo Ho ikut melihat dari meja sebelah.
Jangan khawatir. Kita punya berkas yang asli. Mereka janji akan bayar denda kalau membuat salinannya.” Kata Sul Hee, Gun Wook hanya diam. Suk Hee frustasi menurutnya haruskah menuntut mereka semua
“Aku pikir Tak perlu digubris, karena Hanya akan membuat gosip yang lain.” Kata Soo Ho
Amy, aku mau wawancara di tv.” Ucap Gun Wook akhirnya duduk tegak dikursinya. Sul Hee kaget mendengarnya.
Sekarang mungkin kita bisa memblokirnya, tapi hanya soal waktu rumornya akan beredar. Setelah wawancara di tv, untuk game juga tidak akan ada masalah.” Kata Soo Ho
Jangan paksakan diri. Kalau kau tak mau, kami juga tak akan memaksa.” Ucap Soo Ho bisa mengerti
Gary. Orang diluar sana sangat kejam. Mungkin sekarang mereka memujimu, tapi begitu tahu kesalahan kecil Maka kau akan dicap bajingan. Atau anak palling menyedihkan.” Jelas Sul Hee
Mereka bisa mengatakan hal semacam itu. Akan kutanggung sendiri. Selama Ayah bisa kutemukan, maka tak masalah bagiku.” Kata Gun Wok
Wawancara TV dampaknya bagus. Yang paling penting, karena Gary, hal itu akan jadi cepat menyebar.” Ucap Soo Ho
Sul Hee bisa mengerti lalu mengusulkan akan ajukan konsep yang mereka inginkan karena tak mau Gary dicaci maki oleh siapapun. Soo Ho menegaksan Zeze juga akan mendukung Gun Wook sebisa mungkin jadi  Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Sul He bisa sedikit tersenyum dan Gun Wook bisa sedikit lega walaupun wajahnya terlihat khawatir. 


Bo Nui mondar mandir depan ruang rawat, lalu melihat Gun Wook baru keluar dan langsung menghampiri menanyakan kelanjutanya. Gun Wook menjelakancPertahanan terbaik adalah menyerang jadi memutuskan melakukan dengan caranya sendiri. Bo Nui bisa bernafa lega mendengarnya. 

D-30
Soo Ho memberitahu  Versi betanya harus mereka selesaikan sebelum Gary pergi. Dal Nim panik karena waktunya terlalu mepet, begitu juga yang lainya terlihat menghela nafas panjang.
Gary adalah karakter utamanya,  jadi kita butuh kepastiannya. Orang yang menangani skenarionya adalah Shim Bo Nui Setelah wawancara Sabtunya, tolong tulis kisah mengenai orang tuanya.” Ucap Soo Ho, Bo Nui mengerti menuliskan pada agendanya.
Dalam sebulan, kita akan buka beta. Lalu Dalam 3 bulan, kita akan rilis resminya.” Jelas Soo Ho semua menjerit kaget.
“Lalu Workshop kita bagaimana? Hari Jumat ini! Tak bisa dibatalkan! Aku ingin makan daging! Daging!” kata Seung Hyun merengek, Yoon Bal menyuruh teman kantornya itu tak banyak komentar, Soo Ho menopang dagunya.
Kalau kupikir-pikir, kita harus..... kurasa kita harus pergi.” Kata Soo Ho, Semua menjerit tak percaya Atasanya yang gila kerja mau pergi berlibur.
Bersenang-senanglah saat workshop. Supaya kalian lebih giat kerja. Mengerti!” ucap Soo Ho, semua menjerit bahagia mendengarnya. Soo Ho bisa tersenyum melihat Bo Nui juga ikut tersenyum. Ponsel Bo Nui getar, buru-buru Bo Nui keluar ruangan, Mata Soo Ho pun mengikuti arah saat Bo Nui keluar lalu ikut keluar ruangan. 

Bo Nui menerima telp di luar ruangan, saat membalikan badan melihat Soo Ho sedang berjalan memberitahu akan kembali keruangan. Bo Nui memangilnya lalu mengucapkan terimakasih. Soo Ho melihat sekeliling lalu mendekat dan bertanya untuk apa berterimakasih.
“Dengan mempertimbangkan Geon Wook, Harus diakui kau memang Harimau yang baik.” Ungkap Bo Nui 
“Ini Beda kalau bicara soal dirimu tapi kenapa aku harus jadi Harimau yang baik untuk Gary? Dan Kenapa juga kau berterima kasih padaku karena hal itu?” keluh Soo Ho
Karena dia sudah seperti adikku.” Ucap Bo Nui
Wow, kau pasti sangat peduli padanya.” Komentar Soo Ho terdengar cemburu, Bo Nui langsung tersenyum dan pamit pergi.
Soo Ho tiba-tiba berteriak “makan” Bo Nui membalikan badanya. Soo Ho mengajak Bo Nui makan kalau memang mengucapkan terimakasih jadi meminta untuk mentraktirnya makan. Bo Nui meminta maaf karena ada janji hari ini, Soo Ho ingin tahu dengan siapa, tapi akhirnya bisa mengangguk mengerti dan pergi. Bo Nui bertanya-tanya kenapa Soo Ho itu ingin sekali makan denganya. 

Seung Hyun dan Dal Nim sedang di depan komputer menganggum Gary Choi yang terlihat sangat keren dangan badan yang bagus. Seung Hyun bahkan Gary itu lebih baik dibandingkan coklat. Soo Ho melihat keduanya yang menganggum Grafik wajah Gary dalam games
“Dia pasti salah satu manusia tampan di bumi.” Komentar Dal Nim dengan memegang layar Komputernya
Dengan kata lain, wanita tergila-gila kalau lihat pria tampan...” komentar Ji Hoon sinis, Seung Hyun menyuruh mulut temanya itu diam saja.
Ji Hoon pun meledeknya. Seung Hyun mengajak Dal Nim untuk melihat pemandangan indah lagi. Soo Ho yang melihatnya juga terlihat kesal lalu masuk ruangan. Dal Nim berbisik kalau Soo Ho tak bisa membandingkannya dengan malaikat.

Nyonya Yang mengetuk pintu memanggil Tuan Goo, Bo Nui melihatnya panik tapi akhirnya mencoba menghampirinya. Nyonya Yang senang melihat Bo Nui yang akhirnya datang juga, lalu memberitahu tempat itu adalah peramal yang sangat terkenal jadi Bo Nui juga harus meramal nasibnya dan ia yang kaan membayarnya. Bo Nui ingin menolak tapi Nyonya Yang menariknya untuk segera masuk ke dalam.
Kami mau minta jimat lain. Ini Nona yang tahu soal jimat jug.Dia staf di perusahaan anakku. Terlihat Cantik, kan?” ucap Nyonya Yang pada Tuan Goo,
Bo Nui hanya bisa tertunduk terlihat Tuan Goo menatap sinis padanya. Bo Nui akhirnya menyapa Tuan Goo. Nyonya Yang kaget karena terlihat keduanya saling kenal
“Aku juga sering kesini untuk minta jimat keberuntungan. Maaf sebelumnya tak bilang padamu” ucap Bo Nui mengakuinya.

Omo, jangan-jangan di kehidupan sebelumnya kita suami-istri. Ini kebetulan sekali, Tuan Goo Tolong lihat kecocokan kami! Sepertinya kami bagus kalau bersama.” Ucap Nyonya Yang penuh semangat
Jangan pedulikan aku, Nyonya saja,  Aku ke sini untuk melakukan tugas! “ ucap Bo Nui
Pertama, anakku dulu! Bagaimana dengan Rakun itu? Apa masih di dekatnya?” kata Nyonya Yang, Bo Nui panik memberikan kode agar Tuan Goo tak memberitahunya.
Aku pernah cerita soal rakun jahat itu, kan?” ucap Nyonya Yang pada Bo Nui, dengan wajah tak tahu apa-apa Bo Nui mengatakan mengingat dengan mengumpat si Rakun jahat. Nyonya Yang pun kembali bertanya pada peramal, Tuan Go menyebar garam lalu melirik pada Bo Nui dan memberitahu melihat sebuah ombak. 


Soo Ho membungkuk di meja kerjanya melihat grafik Gun Wook yang sedang bermain tenis dengan badan yang terlihat sangat bagus. Lalu matanya melirik pada Garam dan kaktus di atas mejanya, keduanya pemberian dari Bo Nui.
Ombaknya bergulung-gulung. Soo Ho menaruh semua barang Bo Nui dalam laci meja karena tak mau melihatnya.
“Dia masih bergelayut di kakinya, Sebelum anakmu menyadarinya, maka dia ada di bawahnya! Soo Ho pun kembali menaruh garam dan kaktusnya, lalu tersenyum melihat barang yang diberikan Bo Nui. 

Bo Nui dan Nyonya Yang makan siang bersama, Nyonya Yang bertanya apakah di kantor tak terjadi sesuatu, seperti atap yang bocor,toiletnya luber atau penjernih udara di ruangan Soo Ho yang rusak. Bo Nui mengeleng, Nyonya Yang memberitahu anaknya itu harus jauh-jauh dari air.
Dia pernah jatuh dan hampir mati saat masih kecil!” kata Nyonya Yang khawatir
Oh! Begitu rupanya... Aku akan mengawasinya.” Kata Bo Nui
Aku tak percaya. Manusia bodoh itu menceburkannya ke laut, katanya untuk mengajarinya renang.” Ucap Nyonya Yang menyesal
“Lalu Siapa... yang sengaja menceburkannya?” tanya Bo Nui
Pria yang waktu itu kepalanya bocor. Apa dia rakun bagi Soo Ho?” pikir Nyonya Yang, Soo Ho hanya diam saja 

Nyonya Yang memberikan jimat pada Bo Nui untuk percayakan jimatnya, Bo Nui pikir lebih baik Nyonya Yang memberikan sendiri saja kalau memang sedang didekat kantornya. Nyonya Yang mengatakan tak ingin Soo Ho membuang di depan matanya, membuatnya hatinya menciut. Bo Nui akhirnya menerima jimatnya. 
Tiba-tiba Tuan Ahn akan mengantar ayam memanggil Bo Nui, akhirnya Bo Nui menyapa Tuan Ahn lebih dulu. Tuan Ahn melihat Bo Nui yang baru makan siang. Nyonya Yang bisa mendengar suara Tuan Ahn yang dikenalnya. Bo Nui pun bertanya balik apakah Tuan Ahn sudah makan, Tuan Ahn mengatakan sudah makan lalu menyuruh Bo Nui segera menemui tamunya kembali.
Bo Nui memberitahu kalau wanita itu adalah ibu dari Presdir Je, karena mendapatkan tugas darinya. Nyonya Yang membalikan badanya, seolah-olah tak kenal hanya menyapa tanpa mau menatapnya. Tuan Ahn sedikit kaget, Bo Nui memperkenalkan Tuan Ahn itu pemilik restoran ayam didekat kantor. Nyonya Yang pun memilih untuk buru-buru pamit pergi saja, Bo Nui pun pamit masuk ke kantor pada Tuan Ahn. 

Dal Nim masuk ke dalam kantor lalu menjerit panik melihat komputernya dan memanggil Seung Hyun, bertanya apa yang terjadi dan apakah bisa diperbaiki. Seung Hyun kaget melihat wajah Gun Wook yang tak beraturan menurutnya itu pasti ulah laki-laki di tim mereka.
Siapa!!! Siapa yang melakukan ini!!!” teriak Seung Hyun marah saat tim pria pada masuk ruangan.
Oh! Sepertinya kau salah pencet!” kata Ji Hoon, Seung Hyun menuduh pasti Ji Hoon yang melakukanya. Ji Hoon mengelengkan kepala kalau bukan ia yang melakukanya.
Kami semua baru balik makan siang. Kenapa menuduh kami?” keluh Yoon Bal, Dal Nim berteriak siapa yang melakukan sesuatu Kekanak-kanakan sekali.
“Mana mungkin aku mengetahuinya” jerit Dae Kwon mengikuti gaya Dal Nim dengan bertolak pinggang. 

Soo Ho berjongkok sambil memegang tabnya sengaja membuat wajah Gun Wook jelek menurutnya, ada orang yang tulang hidung, tulang pipi dan jidatnya sama semua, menurutnya tak ada tampan sama sekali. Wajahya tersenyum bahagia ketika melihat Grafik wajah Gun Wook yang dibuatnya tak berhentuk.
Lalu tersadar melihat ada gelas berisi Garam dan kacang merah, menurutnya Bo Nui benar-benar berlebihan karena setiap sudut pasti diberi penangkal. Ketika akan keluar, Dal Nim menarik  Bo Nui ke pantry, Soo Ho pun kembali berjongkok dibalik counter. Dal Nim mengeluh Bo Nui yang tak akan ikut workshop.
 “Aku harus melihat kondisi Bo Ra setiap hari. Kalau terjadi apa-apa saat aku ikut bagaimana?” ucap Bo Nui khawatir
Saat kuliah kau juga seperti itu, tak ikutan MT karena kerja. Kau hanya pergi ke Seoul itupun karena harus kerja sambilan! Sekarang Bo Ra sadar, apa tak bisa kau liburan sejenak?” kata Dal Nim
“Aku memang pingin seperti itu,  Ke tempat yang bagus, lihat pemandangan bagus, makan yang enak.” Ucap Bo Nui berharap, Dal Nim pun merengek akan Bo Nui ikut denganya.
Hari itu, Bo Ra mengalami kecelakaan. Kupikir kalau diberi waktu sedikit lagi, maka bugnya bisa kutemukan. Dan aku terus berfikir begitu, semenit, dua menit lalu operasinya Bo Ra ditunda.Seperti yang kau katakan, setelah Bo Ra sadar, hati ini rasanya ingin istirahat. Tapi... itu namanya aku egois.” Kata Bo Nui lalu meninggalkan temanya karena sudah tahu pasti tak akan bisa ikut. Dal Nim mengeluh kalau itu bukan egois, Soo Ho terus mendengar pembicaran keduanya dalam diam. 

Bo Nui menemui Tuan Won bertanya apakah sudah siap, Tuan Won membawakan beberapa eksemplar selebaran, Bo Nui pikir karena ditempatnya sekarang baik-bauk jadi Tuan Won juga harus kerja dengan baik. Tuan Won pun mengucapkan terimakasih., berjanji akan membalas budi secepatnya. Bo Nui mengambil setengah dari lembaran brosur dan mengajak mereka cerita kapan-kapan lagi.
Tuan Won meminta Bo Nui mengembalikan brosurnya, Bo Nui pikir dua  orang kerjanya lebih cepat. Tuan Won benar-benar mengucapkan terimakasih banyak karena membuatnya bisa bertahan hidup. Bo Nui menyuruh Tuan Won tak perlu berkata seperti itu dan  bicara kencang-kencang seperti biasa saja. Tuan Won kembali berbicara dengan lantang mengucapkan terimakasih. 

Tuan Won dan Bo Nui memberikan brosur restoran untuk datang makan siang, beberapa orang pun ada yang mengambil lalu membuangnya, atau menolaknya. Soo Ho baru pulang kerja melihat Bo Nui yang membagi-bagikan selebaran di jalan, lalu berusaha tak peduli akhirnya meninggalkanya.
Bo Nui ingin memberikan selembaran pada seorang pria berdasi, dengan kasarnya mendorongnya sampai membuat brosurnya jatuh semuanya. Akhirnya Bo Nui membereskan Brosur yang berserakan, tiba-tiba datang seseorang yang membantunya, Bo Nui kaget melihat Soo Ho yang membantu membereskanya lalu mengucapkan terimakasih. 
Soo Ho mengulurkan tanganya, Bo Nui binggung. Soo Ho bertanya apakah Bo Nui tak ingin berkerja dengan memberikan brosurnya. Bo Nui hanya diam saja, Soo Ho akhirnya mengambil sendiri. Bo Nu menjelaskan sebagai ganti dari air mineral itu jadi Tuan Won melakukan kerja sambil dan ia membantunya. Soo Ho mengtakan kalau ia tak bertanya lalu berjalan pergi, mengelilingi pohon kecil dan kembali mengulurkan tanganya.

Sekarang ini... apa yang sedang kau lakukan?” ucap Bo Nui binggung
“Aku Minta Brosurnya, Dari orang ternaif sedunia.” Kata Soo Ho lalu mengambil banyak-banyak ke tanganya.
“Presdir Won jadi begini gara-gara aku.” Ucap Bo Nui merasa menyesal
“Kau katakan itu lagi!!! Pisau tajam itu? Kau bernasib sial? Itu lagi?” keluh Soo Ho
Setelah dia merekrutku, penjualannya menurun!” kata Bo Nu, Soo Ho tak mau dengar lalu ingin membahas tentang Worshop.
Tapi Tuan Won melihat Soo Ho langsung berlari mendekatinya ingin menjabat tanganya, tapi Soo Ho terlihat sinis. Tuan Won memberitahu punya proposal brilian, tentang AlphaGom, Generasi robot dan kecerdasan buatan masa depan akan hadir dan  punya teman di Cheongwadae (istana presiden). Bo Nui langsung mengajak Tuan Won untuk menyingkir saja. 

Soo Ho pun ikut pergi, Bo Nui memohon pada Tuan Won tak masalah kalau melakukan padanya tapi jangan pada Soo Ho. Tuan Won mengerti lalu melihat ke arah Soo Ho lalu Bo Nui dan berbisik kalau keduanya itu pasti ada sesuatu. Bo Nui Binggung.
“Aku Tahu, walaupun hanya melihatnya, aku tahu semuanya.” Ucap Tuan Won bisa menebaknya.
Kalau seperti ini harusnya kau jadi peramal saja. Tak ada apa-apa antara kami!” kata Bo Nui yakin
Oh, kalau tak ada apa-apa, lalu kenapa Presdir Je mondar mandir di sana?” kata Tuan Won menunjuk kearah Soo Ho
Bo Nui melihat Soo Ho mondar mandir didepan sepedanya, melihat Bo Nui dari kejauhan akhirnya memilih untuk membalikan sepedanya lalu pergi. Tuan Won melihat Soo Ho yang pergi lalu mengoda Bo Nui pasti itu adalah cinta. Bo Nui menyangkalnya menurutnya tak mungkin, Tuan Won yakin kalau seperti itu dan sangat wajar melihatnya seperti itu. 

Tuan Ahn sedang membereskan meja direstoranya, Nyonya Yang menelpnya meminta maaf karena tadi siang bersikap seperti orang yangtak mengenalnya. Tuan Ahn mengatakan mengerti karena merasa canggung harus menyapanya didepan staf anaknya.
Bukan begitu! Anak itu stafnya putraku, jadi Takutnya dia nyebarin gosip. Maaf, Young Il Oppa.” Ucap Nyonya Yang, Tuan Je yang sedang lewat mendengar istrinya yang menyebut nama Young Il dengan panggilan Oppa.
Oppa! Kau harus Ingat , makan sup ikannya. Kalau habis bilang saja, mengerti?” ucap Nyonya Yang, Tuan Je mendengar istrinya untuk mengingatkan makan sup ikan,Tuan Ahn pun mengatakan akan mengingatnya dan mengucapkan terimakasih. 

Setelah Tuan Ahn menutup ponselnya, Soo Ho terlihat sudah berdiri didepan pintu dengan tatapan dingin. Nyonya Yang sempat terlihat khawatir lalu menengok memastikan tak ada yang mendengarnya. Tuan Je sudah tak ditempatnya berdiri, ia sudah pergi ke pinggir danau menenangkan dirinya.
Tuan Ahn membawa dua gelas, satu berisi soda dan satu bir seperti biasa. Soo Ho menukar dengan memilih minum bir, Tuan Ahn binggung bertanya apakah terjadi sesuatu. Soo Ho yang tak biasa minum bir langsung mengeluarkan kembali lalu menyebutkan nama Shim Bo Nui, dengan menghela nafas kalau stafnya itu yang menjadi masalahnya. 

Bo Nui kenapa? Apa Dia bikin masalah?” tanya Tuan Ahn panik
Tidak, aku terlihat uring-uriangan sendiri, Apa dia juga bicara aneh saat kerja di sini?” tanya Soo Ho
Dia hanya terlalu khawatir.” Kata Tuan Ahn menenangkanya, Soo Ho dengan kebinggungan bertanya apa yang harus dilakukan pada Bo Nui.
Bukan soal apa yang akan kau lakukan, tapi Bo Nui khawatir terjadi sesuatu padamu. Coba lihat, Bo Nui melekatkan itu sendiri, Untuk memastikan aku tak terluka.” Ucap Tuan Ahn menunjuk ke langit-langit ada sebuah lembaran jimat menempel.
Dia tak pernah membolehkanku mengantar kerjaan yang menggunakan pisau dan minyak panas, jadi dia yang mengerjakannyam Karena dia takut kesialannya menimpaku.” Cerita Tuan Ahn
Soo Ho teringat kata-kat Bo Nui “Presdir Won jadi begini gara-gara aku. Setelah dia merekrutku penjualannya menurun!

Tiap kali memikirkan Bo Nui, aku merasa kasihan. Di umurnya sekaranga seharusnya dia bisa menikmati hidup. Tapi dia malah mengerjakan hal yang berbahaya.” Kata Tuan Ahn ikut khawatir
Ryang Ha tiba-tiba datang membawas Soo Ho yang mengadakan workshop lalu bertanya kapan waktunya, dengan gayanya sok sibuk mengaku malas ikut tapi sebagai pemegang saham terbesar maka akan traktir mereka semua. Soo Ho tiba-tiba langsung berdiri, Ryang Ha bertanya mau kemana temanya. Soo Ho mengatakan  mau ke suatu tempat dan temanya makan semuanya saja. Ryang Ha binggung bertanya apakah ada yang salah dengan ucapanya pada Tuan Ahn. 


Bo Nui baru masuk kerja, betapa kagetnya melihat Tuan Won yang menjadi petugas kemanan saat masuk Zeze. Tuan Won pun menyapa Bo Nui dengan senyuman bahagia. Bo Nui binggung kenapa bisa Tuan Won berkerja sebagai petugas kemanan. Tuan Won mengatakan kalau kemarin malam, Soo Ho datang memohon bantuannya.

Flash Back
Tuan Won kaget mengetahui tentang Petugas keamanan, Soo Ho memberitahu ada lowongan untuk petugas keamanan,  dengan begitu akan dapat asuransi, uang tunjangan dan uang lembur. Tuan Won pikir mereka itu posisinya sesaama atasnya, merasa aneh kalau berkerja pada Soo Ho.
Soo Ho pikir kalau meman Tuan Won tak mau yang masalah. Tuan Won menarik Soo Ho kembali duduk bukan mau menolaknya tapi hanya aneh saja, dengan wajah serius bertanya kapan bisa mulai berkerja. 


Tuan Won mengatakan kalau itu hanya sementara, apabila sudah punya modal, maka akan buat proyek. Bo Nui tersenyum bahagia merasa sekarang beban dipundaknya jadi menghilang. Tuan Won langsung menyapa Soo Ho dari kejauhan, Soo Ho baru masuk kantor berusaha acuh lalu masuk kantor dengan cepat, Bo Nui pun berlari mengikutinya, dengan senyuman bahagia. 

Di dalam lift
Bo Nui melirik begitu juga Soo Ho melirik tapi keduanya tak ada yang mau bicara lebih dulu. Bo Nui menarik nafas ingin bicara, tapi Soo Ho mulai bicara mengatakan kalau aneh sekali. Bo Nui menengok binggung berpikir kalau yang aneh itu dirinya.
Itu... Presdir Ku,  Won Dae Hae, yang bangkrut karenamu. Kudengar dia dapat kerja di tempat yang bagus. Kau bilang, kalau dirimu itu membawa sial, tapi hal bagus terjadi. Ini Aneh sekali!” ucap Soo Ho, Bo Nui hanya bisa tersenyum mendengarnya karena semua itu berkat Soo Ho. 

Bo Nui melihat adiknya dengan teropong, Gun Wook datang ke atap membawakan bir, menurutnya Sepulang kerja harusnya Bo Nui  mampir ke Rumah sakit. Bo Nui mengatakan hanya ingin terus melihatnya. Gun Wook pikir karena Bo Nui akan pergi workshop Besok jadi merasa tak tenang. Bo Nui mengatakan kalau tak akan ikut.
Kenapa? Apa Presdir Je memintamu tak ikut? Apa dia mendiskriminasi karyawan kontrak?” ucap Gun Wook menuduh
Tidak! Aku harus mengawasi Bo Ra, jadi tak punya waktu untuk melakukan hal lain. Oh iya. Apa Kau siap untuk wawancara? Jangan gugup, lebih baik santai saja!” kata Bo Nui masih memikirkan Gun Wook.
Sebetulnya, aku mau minta bantuanmu. Nuna, Apa kau mau menemaniku? Rasanya kalau kau bersamaku, maka aku jadi punya banyak kekuatan!” ucap Gun Wook
Kalau gara-gara aku, lalu kau dapat sial bagaimana? Aku akan mendukungmu dari rumah.” Ucap Bo Nui,
Gun Wuk pikir Bo Nui bisa mengusir kesialan karena akan bawa garam dan sangat yakin kalau semua ini sangat penting baginya. Bo Nui karena itu tak bisa datang kesana,  menurutnya Kalau Gun Wook tak bisa menemukan Ayahnya karena dirinya, maka nanti pasti akan menyesalinya seumur hidup. Gun Wook tertunduk diam terlihat sedih. 

Sul Hee sedang ada dirumah, menerima telp Gun Wook dimalam hari. Gun Wook memberitahu Latihan besok sepertinya harus dibatalkan. Sul Hee binggung, Gun Wook pikir Sul Hee itu lupa. Sul Hee menyangkalnya dan berpesan jangan sampai lelah sebelum tampil di tv, karena ia juga ada keperluan penting, serta meminta agar merawat wajah dan juga menenangkan pikiranya. Gun Wook mengerti.
Setelah menutup ponselnya terlihat senang dan sibuk dengan membungkus bekal pada kotak makan dan memasukan ke dalam tas. Gun Wook menatap ponselnya lalu membuka sebuah website dengan senyuman bahagia.
bersambung ke part 2 
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar