Rabu, 22 Juni 2016

Sinopsis Doctors Episode 2 Part 1

[SMA Wanita: Namyang]
Seorang Kepala sekolah berjalan dengan Hye Jung dilorong berkomentar anak muridnya barunya itu jagoan, mengaku sebagai guru Spesialis siswa nakal lalu memperingatkan kalau berulah maka akan langsung dikeluarkan,  Hye Jung berjalan dibelakangnya hanya diam dengan wajah cemberut.
Hidup serampangan adalah bentuk dari penyiksaan diri. Hal itu akan menyakiti dirimu sendiri lebih dari sakit apapun Tapi, ketika kalian sudah terbiasa, hal ini akan menyenangkan.
Keduanya masuk ke dalam ruangan guru, Hye Jung melihat Ji Hong yang sedang duduk dengan senyuman menerima sebuket bunga.
Aku berharapa dia tak akan menjadi wali kelasku, tapi sepertinya tidak. Hidupku tak pernah memberikan apa yang aku inginkan.

Ji Hong membaca profile Yoo Hye Jung, dengan foto memakai seragam dengan IQ 156 lalu membaca tulisan yang ada dikolom bawah. Lalu Hye Jung sudah siap membungkuk, menerima pukulan Ji Hong.
Meskipun hidupku serampangan, aku sering bertanya, "Kapan aku bisa berubah?"
Ji Hong mengatkan akan menunjukan betapa hebatnya ia dalam hal yang dibencinya itu, tangan membuat ancang-ancang dan siap memukul, tapi tanganya terhenti tepat dibelakang punggung Hye Jung. Ia membuang tongkat kayunya lalu menyuruh Hye Jung untuk berbalik.
Kau lah yang menginginkan kekerasan. Aku tak akan melakukan hal yang kubenci bahkan pada orang yang tak kusuka.” Ucap Ji Hong, Hye Jung melirik sinis
Kenapa? Apa kau shock mendengarku berkata bahwa aku tak menyukaimu?” kata Ji Hong
“Tidak, Aku suka kejujuranmu daripada memukul karena sok peduli.” Ucap Hye Jung, Ji Hong melipat tangan tak percaya.
Apa yang akan kau lakukan jika aku sungguh memukulmu tadi?” kata Ji Hong kesal
Ada bagusnya kau memukulku saja sekarang, karena aku merasa berhutang padamu sekarang. Dan karena ini keputusanmu, aku tak harus menulis surat itu, 'kan?” kata Hye Jung sinis
Ji Hong mengeluh menyindir seperti  Pertukaran yang bagus dan mengetahui Hye Jung tadi ke pasar dengan Nenek. Hye Jung mengomel karena Ji Hong hanya memanggilnya "Nenek" seperti bahasa Banmal. Ji Hong menegaskan bukan tak sopan tapi memang nada dialeknya yang terdengar seperti tak sopan.
Kau membuat nenekku terdengar sangat tua rentah sekarang! Nenekku masih tak setua itu, meskipun hanya dialek, kau tak sopan!” kata Hye Jung mengomel
Kau ini! Sebutan itu hanya kosa kata yang mudah dimengerti. Kau saja yang aneh menganggapku tak sopan.” balas Jung Gi
Tapi, jika kosa kata itu menyinggung orang lain, Apa kata itu tak bisa digunakan?” ucap Hye Jung sinis
Kau lah orang baru di sini yang tak berhak melarang.” Teriak Ji Hong
Dia adalah nenekku, Jadi aku punya hak!” kata Hye Jung membela neneknya.
Kau bahkan jarang menemuinya dan sekarang belagak jadi "Cucu perhatian".” Sindir Jung Gi
Nah, inilah yang disebut Keluarga. Apa Kau tak tahu, ? Kau kan punya keluarga.” Teriak Hye Jung, Jung Gi bergumam mendengar kata “Keluarga...” 


Flash Back 
Ji Hong duduk dibelakang dengan ayah dan ibunya duduk didepan, ketiganya terlihat bahagia menyanyi bersama dalam mobil. Terlihat kalung astro boy dilehernya serta boneka Astro Boy, tiba-tiba dari arah samping sebuah truk menabrak mobil sedangnya.
Mobil berguncang dan berputar-putar sampai akhirnya terbalik ditengah jalan. Ayah dan ibu Ji Hong terlihat tak sadarkan diri dengan penuh luka, Ji Hong dengan setengah sadar melihat dua paman yang beradu mulut saling menyalahkan karena tak boleh lewat jalan itu. Ji Hong meminta tolong agar menyelamatkannya.
Manusia itu egois. Kehidupan mereka lebih penting daripada kematian orang lain. Itulah yang kutahu saat aku kehilangan keluargaku. Gumam Ji Hong 

Hye Jung melihat Ji Hong hanya diam lalu bertanya apakah ia bisa pergi sekarang. Ji Hong tak peduli menurutnya Keputusannya adalah tanggung jawabnya dan ia tak memberikan perlakuan khusus. Hye Jung mengambil tasnya keluar dari lab.
Soon Hee ikut melihat di Lab, Mi Ra dkk mendorongnya untuk menjauh. Dengan sinis Mi Ra bertanya untuk apa Soon Hee datang ke lab, Hye Jung keluar dari Lab, senyuman Soon Hee terlihat melihatnya. Mi Ra dkk pun hanya bisa diam karena ketakutan. Hye Jung pun pergi, Soon Hee mengikutinya dari belakang. Mi Ra ingin memukulnya, dua temannya menahan karena Mi Tak tak boleh kena pukul lagi. Jadi menyuruhnya untuk sabar karena Level mereka berbeda

Soon Hee langsung merangkul tangan Hye Jung, mengaku namanya  Yoo Na, lalu menduga teman barunya dari Gangnam dan menceritakan Sepupunya juga tinggal di sana, tapi  hanya pernah ke sana satu kali. Hye Jung mengejek Nama Yoo Na, karena di name tagnya itu  terlihat jelas tulisan  "Chun Soon Hee". Soon Hee malu menutup name tagnya.
Ibuku sudah berumur 45 tahun, jadi dia sering jatuh sakit.” Ucap Soon Hee terus bercerita.
“Apa Kau tak punya harga diri ?” kata Hye Jung heran
Aku tak memiliki gen yang hebat. Orang tuaku bertemu saat mereka sudah tua, karena itu genku jelek.”cerit Soon Hee, Hye Jung hanya bisa menghela nafas
Tapi, aku masih punya harga diri. Aku menyukaimu dan merasakan sesuatu saat kita pertama bertemu. Ini takdir.” Kata Soon Hee berbinar-benar

Hye Jung berpikir Soon Hee itu  lesbian, Soon Hee berteriak kaget dan mengatakan ia tak suka hal-hal yang semacam itu. Hye Jung menjelaskan  Saat wanita menyukai wanita itu namanya Lesbian. Soon Hee menjerit, mengaku memang menyukai wanita dengan polosnya berpikir dirinya memang lesbian. Hye Jung hanya diam saja.
Tapi, memangnya wanita tak menyukai wanita lain ?” kata Soon Hee polos,
Kau ini lucu juga.” Komentar Hye Jung melihat Soon Hee itu benar-benar polos, lalu meninggalknya. Soon Hee tersenyum Hye Jung memujinya lucu lalu menjerit bahagia  karena temanya itu juga menyukainya. 


Dokter Jin memeriksa bagian belakang Nenek Kang, lalu menyuruhnya untuk berbalik. Ia bertanya berapa lama Nenek Kang merasa kesakitan. Nenek Kang pikir selama hidupnya. Dokter Jin pun bertanya kenapa Nenek Kang terlambat dan bertanya ada sakit dibagian mana.
Pencernaanku tak lancar dan aku sering merasa nyeri dan tak napsu makan.” Jelas Nenek Kang
Baiklah, kita akan melakukan pemeriksaan.” Kata dokter Jin
Apa anda bisa memberiku obat pereda rasa sakit saja?” ucap Nenek Kang
Jika hanya obat yang anda mau, kenapa repot-repot check up?” kata Dokter Jin heran
Obat di apotek sudah tak mempan jadi aku membutuhkan resep dokter.” Jelas Nenek Kang
Nenek, ada beberapa factor yang menyebabkan rasa sakit. Mungkin karena terjadinya infeksi di perut.” Jelas Dokter, Nenek Kang bertanya berapa semua Total pemeriksaannya,
Ponsel Dokter berdering, Dokter Jin melihat itu telp dari ayahnya dan langsung bertanya Apa yang Ketua Hong katakan, lalu mengeluh ayahnya yang belum memberitahunya dan akan segera kesana. Nenek Kang mulai memakai jaketya dan terlihat tak enak hati. 

Di gerbang sekolah
Hye Jung menghela nafas melihat Soo Chul sudah menunggu dengan motornya, Seo Woo dan Soon Hee sedang berjalan bersama, bertanya-tanya siapa pria yang datang. Soon Hee melihat Soo Chul merasa terpana karena terlihat sangat tampan bahkan Motornya keren sekali!
Soo Chul menyuruh Hye Jung untuk naik dan memberikan helmnya, Hye Jung memperingatkan Soo Chul tak perlu mendekatinya lalu berjalan pergi. Soon Hee berpikir keduanya itu berkencan. Mi Ra yang mendengarnya langsung menyela Soo Chul itu adalah pacarnya.
Ia berjalan mendekati Soo Chul meminta agar mengantarnya pulang, Soo Chul langsung menarik tanganya menatap sinis pada Mi Ra, memperingatkan untuk tak mendekatinya. Soon Hee pun pamit pulang lebih dulu pada temanya, Seo Woo memberitahu punya waktu luang jadi Soon Hee bisa bermian kerumahnya. Soon Hee pikir tak perlu lalu berjanji akan menelpnya nanti lalu berlari pergi meninggalkanya. 

Soon Hee berlari langsung menyapa Hye Jung yang akan berjalan pulang. Hye Jung menghela nafas mengejek Soon Hee itu pasti tak punya teman. Soon Hee pikir punya karena mereka sekarang berteman, lalu melihat Hye Jung belum beli seragam. Hye Jung bertanya apakah Soon Hee tahu tempat membeli seragam. Soon Hee mengatakan tak tahu, ia tahu tempat yang memberikan seragam gratis lalu menarik Hye Jung pergi akan mengantarnya. 

Ji Hong menyalakan piringan hitam dengan sebuah foto bersama, ditanganya memegang sebuah gantungan astro boy. Nenek Kang datang mengetuk pintu kamarnya, samil bertanya kenapa Ji Hong tak meminta makan malam Ji Hong mengatakan mau pergi ke Seoul. Nenek Kang tah pasti Ji Hong ingin menemui ayahnya. Ji Hong membenarkan.
Matikan musiknya, terdengar bising diteligaku” kata Nenek, Ji Hong pun mematikan piringan hitamnya.
Apa ada yang ingin nenek katakan?” tanya Ji Hong dengan wajah serius
“Apa Kau bertemu Hye Jung tadi? Siapa wali kelasnya?” tanya Nenek Kang, Ji Hong mengaku kalau ia sebagai wali kelasnya. Nenek Kang langsung berlutut yang membuat Ji Hong panik dan akhirnya ikut berlutut.

Aku tak pernah berlutut seumur hidupku, karena Harga diriku sangat tinggi.” Akui Nenek Kang, Ji Hong meminta Nenek Kang untuk berdiri.
Dua orang yang paling kuhormati adalah seorang guru dan dokter. Orang biasanya ingin tahu masa lalu seseorang Dan mereka akan langsung menudingnya. Tapi, guru tak bisa seperti itu.  Hye Jung masih memiliki hari yang sangat panjang. Entah apa saja yang kau tahu Tentang cucuku, tapi tolong lupakanlah. Aku mohon Tolong jaga cucuku.” Kata Nenek Kang sambil berlutut, Ji Hong tersenyum mendengarnya.
Hye Jung itu cerdas. Dia hanya perlu motivasi dan pujian. Jangan khawatir dia” kata Ji Hong meyakinkan.
Saatnya ibunya masih hidup, semua orang tahu kepintarannya. Bahkan tanpa diajar, dia sudah bisa membaca semua tanda jalan.” cerita Nenek Kang
Ji Hong tersenyum melihat Nenek Kang kalau konsep kasih sayangnya yang sangat sederhana, meminta agar tak perlu memberitahu semuanya pada Hye Jung tentang pembicaranya sekarang. Nenek Kang pun mulai merasa kram dikakinya, lalu melihat kalau cucunya sebentar lagi pasti datang. 


Hye Jung mencoba baju seragam dan melihatnya di cermin, Soon Hee ikut melihat dari belakang melihat seragam itu cocok dengan temanya. Hye Jung heran Kenapa Soon Hee beli seragam baru, padahal Seragam lamanya kan masih bagus.
Soon Hee mengatakan kalau ingin menunjukan kasih sayang, karena dirinya itu anak yang kurang kasih sayang. Lalu ia memutar tubuh Hye Jung melihat temanya itu sangat cantik bahkan dadanya juga besar membuatnya iri, Hye Jung pun ingin memberikan rahasianya lalu membisikan pada telinga temanya, kalau ukuran dadanya itu berbeda. Soon Hee menjerit tak percaya karena temanya itu pasti bercanda.
Lalu ia ingin melihat agar bisa membuktinya, Hye Jung langsung memberikan perlintiran tangan karena kebiasanya, Soon Hee menjerit kesakitan, Hye Jung pun meminta maaf. Soon Hee kembali ingin melihat dada temanya, Hye Jung terus menutupi dadanya. Ketika pulang menaiki bus, Hye Jung tersenyum karena bisa memiliki teman seperti Soon Hee yang polos dan lucu. 

Sampai di halte dekat rumahnya, Hye Jung turun dari  bus dan berjalan pulang tak sengaja bertemu dengan Ji Hong yang melihatnya sudah mengunakan seragam, bertanya apakah ia sudah membelinya. Hye Jung hanya diam memberikan hormat lalu pergi, Ji Hong menegur Hye Yung bahkan tak mau menjawab pertanyaanya.
Tiba-tiba di depan Hye Jung, ibu Hamil pingsan dengan anak yang masih kecil, sang anak panik bertanya apakah ibunya sakit. Hye Jung pun langsung berlari meghampirinya, Si anak menangis meminta Hye Jung melakukan sesuatu pada ibunya. Ji Hong ikut melihat keadaan ibu Hamil yang terlihat sangat pucat. Hye Jung mencoba memanggil si ibu hamil, Ji Hong menyuruh Hye Jung minggir untuk melihat keadaanya, dan memeriksa hembusan nafas dari hidung.
Ia lalu mengambil tas milk Hye Jung untuk dijadikan bantal, beberapa orang langsung melihat mereka. Ji Hong mengeluarkan isi kotak pensilnya dan mengeluarkan senter untuk memeriksa mata pasienya, dan meminta Hye Jung untuk segera menelp ambulance. Ji Hong mencoba menekan bagian tangan ibu Hamil, terlihat pasiennya melakukan gerakan seperti merasa sakit. Hye Jung menelp ambulance memberitahu ada pasien ibu sedang hamil pingsan dan mereka ada di dekat stasiun Geum-Gok.
Ji Hong memeriksa dibagian lehernya, Hye Jung melihat air yang mengalir dibagian kaki, lalu memberitahu gurunya. Beberapa orang melihat itu air ketuban dan wanita itu akan segera melahirkan. Ji Hong memikirkan dengan wajah serius.

Tuan Jin masuk ruangan menemui Tuan Hong yang sedang ada dikamar rawat, berkomentar kalau temanya itu bersantai padahal masih saja Masih ada operasi yang harus dilakukan. Tuan Hong mengatakan ingin mundur dari posisinya sekarang dan pergi ke Amerika. Tuan Jin bertanya untuk apa pergi kesana. Tuan Hong mengatakan  Untuk belajar bisnis dan kesejahteraan.
Kau adalah ahli bedah. Untuk apa kau mempelajari bisnis?” kata Tuan Jin heran
Kau dan aku, harus berubah Sekarang.” Kata Tuan Hong, lalu melihat ada telp dari anaknya. 

Ji Hong memberitahu ayahnya mendapatakan pasien gawat, Tuan Hong langsung memerintahkan Tuan Jin untuk memanggil Dokter Kim Tae Heo segera. Tuan Jin pun mengerti lalu keluar ruangan. Sementara Hye Jung berusaha menenangkan anak si ibu hamil kalau keadaan ibunya akan baik-baik saja. Ji Hong menyuruh keduanya untuk diam dan jangan berisik.
“Dia adalah wanita hamil berusia 30 tahun-an. Pupilnya tak beraksi, dan pupil kanannya membesar 5mm. Dia mengalami lumpuh pada bagian kirinya Kemungkinan terjadi pendarahan otak kanan atau infark.” Jelas Ji Hong, Tuan Hong pikir aneurisma otaknya pecah.
Bagaimana aku bisa memeriksanya?” tanya Ji Hong, Hye Jung menatap Ji Hong melonggo karena bisa mengerti istilah kedokteran.
Kau tak bisa langsung memeriksanya. Apa Kau sudah menelepon Ambulance?” ucap Tuan Hong
Ya, sudah. Tapi, air ketubannya sudah pecah 3 menit yang lalu. Tak ada rumah sakit di sini yang memiliki ginekologi dan bedah saraf. Apa Ayah bisa menyediakan ruangan?” kata Ji Hong, Tuan Hong mengerti.
Tiba-tiba ibu hamil itu muntah, Hye Jung berteriak memanggil gurunya. Ji Hong langsung membuka mulut pasien seperti memeriksa sesuatu, lalu memberikan nafas bantuan dari mulut. Semua yang melihatnya panik, sampai akhirnya si ibu bisa bernafas kembali. Ji Hong pun terlihat bisa sedikit lega, Hye Jung melihat Ji Hong nampak panik saat ibu hamil mulai muntah.

Suara terdengar dari ponsel, Tuan Hong memanggil anaknya dan bertanya apa yang terjadi. Ji Hong dengan mata berkaca-kaca memberitahu pasienya itu baru saja muntah dan Pernapasannya sangat rendah. Menurutnya pasienya itu harus diintubasi.
Jika ambulans terlambat, maka aku akan membedah tenggorokannya.” Ucap Ji Hong
Jangan… Kau tak bisa melakukannya tanpa peralatan operasi. Jika terjadi sesuatu, kau tak akan bisa menjadi dokter lagi. Satu kesalahan kecil, dia akan mengalami pendarahan jika mengenai arterinya atau kau mungkin akan membahayakan tiroidnya.” Jelas Tuan Hong
Pegang tangan ibumu dan Berikan dia kekuatan.” Kata Ji Hong pada anak si ibu hamil, Hye Jung pikir untuk apa itu dilakukan sekarang.
“Dan Kau juga harus melakukanya. Cinta tidak kau rasakan dengan hati, tapi kau rasakan dengan otakmu. Kasih sayang dan kebencian... berasal dari inti amygdaloid dalam sistem limbik otak. Otak memiliki emosi.” Jelas Ji Hong
Hye Jung dan anak itu langsung sama-sama memegang tangan ibu hamil, tapi masih tak yakin kalau Ji Hong itu dokter sungguhan. Ji Hong bertanya apakah Hye Jung memiliki pisau, Hye Jung berpikir itu  Untuk membedah tenggorokannya. Ji Hong memuji kepekan anak muridnya. Hye Jung mengatakan akan segera mengambilnya.
Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?” tanya Ji Hong menahan Hye Jung sebelum pergi.
Apa kondisinya akan berbahaya?” tanya Hye Jung, Ji Hong mengatakan “ya”. Hye Jung menegaskan mereka harus tetap melakukannya dan berlari untuk mengambil pisau. Saat itu juga ambulance datang. Ji Hong pun bisa sedikit bernafas lega, Hye Jung pun kembali ke tempat kejadian. Petugas ambulance turun dari mobil.
Ji Hong memberitahu pasien harus diintubasi jadi mereka harus menyiapkan tabungnya. Petugas bertanya apakah Ji Hong seorang dokter. Ji Hong membenarkan. 

Pasien ibu hamil sudah berada didalam ambulance, beberapa orang melihat dari orang, Hye Jung mengendong anak pasien dengan wajah tegang. Ji Hong memulai dengan memberikan oksigen, lalu meminta petugas memberikan Laringoskop. Ji Hong membuka lebar mulut si ibu dan meminta agar menahan sebentar.
Si ibu terlihat kesakitan karena ada alat yang masuk tengorokan. Petugas pun membantu memegang tangan si pasien, Ji Hong meminta Tabung lalu menyuruh petugas untuk menarik benangnya. Hye Jung terus melihat yang dilakukan Ji Hong dari luar. Ji Hong berhasil memasukan tabung dan memeriksa bagian dadanya, setelah semuanya stabil menyuruh sopir untuk menuju ke RS. Kookil.
Hye Jung dan anak pasien langsung naik ke ambulance, Ji Hong menyuruh anak muridnya keluar tapi Hye Jung tak mau karena ingin menjaga si anak yang masih kecil dan menyuruh si anak memegang tangan ibunya. Mobil ambulance pun segera meninggalkan tempat kejadian. 

Pasien langsung masuk ke dalam ruang operasi, Hye Jung mengendong anak yang tertidur dengan wajah cemas. Pisau bedah pun terlihat membuka perut si pasien, Ji Hong melihat dari luar dengan wajah tegang dengan pakaian operasi, bayi pun bisa dikeluarkan dari perut si ibu dengan menangis keras. Akhirnya bayi pun dikeluarkan dari ruang operasi.
Dokter Kim pun datang menyapa Ji Hong yang menungu di depan ruang operasi. Dengan sedikit nada menyindir, Ji Hong itu pasti sangat khawatir hingga datang ke rumah sakit, sambil mencuci tangan bertanya bagimana bisa masuk sampai tepat didepan ruang operasi. Ji Hong mengaku dengan mengunakan "koneksiku".
Bagaimana rasanya... melihat pasien yang sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa?” tanya Dokter Kim ingin menyadarkan Ji Hong .
Tapi, syukurlah dia hanya mengalami hipertensi perdarahan intraserebral.” Kata Ji Hong
Sesuatu yang harus kau syukuri adalah kenyataan pasien itu bertemu dengan dokter sepertimu. Dan juga, syukurlah dia tak mengalami aneurisma otak. Jika itu terjadi, dia pasti sudah meninggal saat intubasi. Lalu jika itu terjadi, kau akan menyalahkan dirimu seumur hidupmu.” Ucap Dokter Kim, Ji Hong hanya diam saja
Aku mengatakan ini, karena kau adalah tipe orang yang merasa bertanggung jawab penuh pada semua pasienmu.” Kata Dokter Kim, Ji Hong  hanya tersenyum mengeluh Dokter Kim itu jahat sekali.
Apa kau sakit hati? Akan kuperlihatkan apa yang bisa dilakukan oleh ahli bedah saraf. Aku akan menyelamatkan hidup pasien itu. Kenapa? Itu karena aku, Kim Tae Ho.” Ucap Dokter Kim menyakinkan dirinya pada Dokter Kim,
Dokter Kim mulai membedah dan melakukan operasi. Ji Hong melihat dari luar. Terlihat Dokter Kim yang benar-benar teliti membuka selaput tipis, Tangan Ji Hong berkeringat seperti merasakan gejala kegelisahan. 


Flash Back
Dalam ruang operasi, Dokter meminta untuk menyiapkan defibrillator. Ji Hong melihat monitor. Dokter lain mencoba menekan bagian organ dalam, Dokter lain melihat kalau tak akan berhasil. Akhirnya garis lurus pun terlihat dimonitor dan pasien pun tak bisa diselamatkan.
“Apa Kau sudah mengecek pasien demam atau tidak sebelum operasi?” ucap Dokter setelah keluar dari ruang operasi
Kupikir dokter magang sudah memeriksanya.” Ucap Dokter bedah, Dokter Kim memarahinya karena bukan memastikan tapi hanya menduga, lalu menendang kakinya.
Ji Hong saat itu masih menjadi dokter magang pun hanya bisa diam, ikut menerima tendangan di kaki. Dokter pun memperingatakan kalau terjadi sesuatu maka mereka berdualah akan bertanggung jawab lalu berjalan pergi, si Dokter senior menjerit marah pada Ji Hong karena harus kena omel juga.
Kau tak berhak untuk tidur dan juga tak berhak untuk makan” kata Dokter Senior pada Ji Hong melakukan kesalahan dan membuat seseorang meninggal. 

Dokter Kim bertemu dengan suami dari pasien ibu hamil memberitahu  Operasinya lancer, jadi tak perlu khawatir. Suaminya pun mengucapkan terimakasih pada dokter. Hye Jung melihat dari kejauhan bisa tersenyum dengan perasaan lega.
Ji Hong sudah berganti pakaian lalu melihat keluarga yang ditolongnya lalu mengajak Hye Jung untuk segera pergi sekarang. Didalam bus menuju Namyangju, Hye Jung dan Ji Hong duduk berjauhan. Hye Jung tersenyum-senyum sendirian, entah apa yang ada dalam pikiranya. Ji Hong terdiam menatap tanganya, seperti masih bimbang tak bisa mengunakan untuk operasi. Hye Jung melirik gurunya dengan senyuman bahagia.
Sesampai dirumah, Hye Jung terlihat canggung, Ji Hong pun menyuruh Hye Jung segera masuk, Hye Jung membungkuk memberikan hortmat lalu Ji Hong pun masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara. 

Hye Jung masuk kamar langsung berbaring dengan memeluk neneknya, sambil mengingat ucapan Ji Hong “Cinta tidak kau rasakan dengan hati, tapi kau rasakan dengan otakmu.
Flash Back
Didepan ruang operasi, Suami si ibu hamil mengucapkan terimakasih. Hye Jung merendah menurutnya tak melakukan banyak hal karena Gurunya   yang membantunya. Pria itu bertanya siapa namanya, Hye Jung binggung. Ayah dari si bayi mengatakan ingin anak yang baru dilahirka memiliki nama yang sama dengannya, karena berharap anaknya nanti menjadi seperti Hye Jung yang rela membantu orang lain. Hye Jung tersenyum mendengarnya, anak yang pertama juga terlihat bahagia karena selama ibunya sakit dijaga oleh Hye Jung.
Hye Jung tersenyum mengingat ada orang yang benar-benar menghargainya, dan memeluk erat neneknya. Nenek Kang merasakan cucunya yang memeluknya ikut memegang tanganya.
Sementara dikamar, Ji Hong sibuk dengan buku-buku kedokteran dan juga layar komputernya yang memperlihatkan video operasi untuk mempelajari organ tubuh manusia yang sebenarya. 

[Toko Musik Namyang]
Hye Jung masuk ke dalam, si pemilik terlihat sinis melihat Hye Jung yang datang ke tokonya. Hye Jung mengucapkan permintaan maafnya, lalu memberikan uang 100 won untuk menganti CD yang diambilnya, karena ingin memulai awal yang baru, Tapi merasak tak tenang jika  belum mengganti CD yang diambilnya. Si pemilik mengatakantak bisa menerimanya.
Apa uang ini tak cukup?” kata Hye Jung binggung
Berikan uang ini pada Guru Hong dari SMA Wanita Namyang. Dia pernah ke sini untuk beli CD dan juga membayar CD ini juga. Dia bilang, menemukannya di jalan.” jelas si pemilik, Hye Jung kaget mendengarnya ternyata Gurunya yang sudah membayarnya 

Hye Jung berlari pulang kerumahnya, dengan senyuman mengetuk pintu kamar tetangganya. Ji Hong belum juga keluar dari kamar, Hye Jung mencoba mengetuk kembali tapi pintu Ji Hong sudah terbuka membuat hampir jatuh. Ji Hong bertanya apa yang lagi. Hye Jung dengan senyuman mengatakan ada sesuatu yang ingin dikatakan, Ji Hong pun menyuruh segera mengatakan.
Apa aku bisa masuk?” tanya Hye Jung, Ji Hong pikir tak bisa karena kamarnya sedang berantakan
Wah~ berantakan sekali.” Jerit Hye Jung melihat kamar Ji Hong benar-benar berantakan, lalu masuk ke dalam mengambil buku. Ji Hong bertanya yang dilakukan muridnya itu.
Aku ingin membersihkannya.” Kata Hye Jung membungkuk, Ji Hong langsung berteriak melarangnya.
Jangan menyentuh apa pun. Mungkin terlihat berantakan, tapi, aku sengaja melakukannya. Aku tak suka orang menyentuh barang-barangku.” Kata Ji Hong, Hye Jung pun langsung menaruh kembali bukunya. Ji Hong pun memuji Hye Jung anak yang baik seperti memuji anak anjing. Hye Jung pun duduk diantara buku-buku.
Ada apa? Kenapa kau datang ke sini? Apa kau mau mendekatiku?” goda Ji Hong dengan bercanda.
Ya. Menurutku, kau ini keren.” Komentar Hye Jung memujinya, Ji Hong mengejek anak muridnya itu memang selalu blak-blakan.
Dokter punya gaji yang tinggi dariada guru dan juga lebih dihormati. Tapi, kau berhenti dan menjadi seorang guru. Kenapa kau berhenti?” kata Hye Jung
“Kau bertanya "Kenapa kau berhenti?" Menurutmu kenapa?” ucap Ji Hong balik bertanya dengan nada bicara Hye Jung yang lucu.
Aku sungguh tak mengerti. Tapi Yang kulihat, semua ini adalah buku kedokteran. Sepertinya, kau masih punya keinginan untuk menjadi dokter. Ahh.... atau kau dipecat?” kata Hye Jung mencoba menebak sambil menopang dagunya.
Aku berhenti karena kemauanku sendiri.” Kata Ji Hong, Hye Jung menanyakan alasaanya.
Aku tak berhenti menjadi dokter. Aku hanya menganggap mengajar sebagai bagian dari seorang dokter.” Jelas Ji Hong, Hye Jung mengaku bisa mengerti maksudnya seperti sebuah kebenaran.
Kau bilang, otaklah yang memiliki emosi. Siapa yang memberitahumu?” tanya Hye Jung,
Ji Hong mengatakan itu adalah anggapannya sendiri. Hye Jung kembali memuji gurunya itu keren, lalu membahas Ji Hong yang  bilang sesuatu tentang sistem limbik otak menurutnya itu terdengar seperti orang yang pintar. Ji Hong kembali mengodanya kalau Hye Jung  sudah terpesona dengannya dan  terlihat seperti akan menulis biografinya saja. Hye Jung mengatakan ia baru 18 tahun dan tak bisa hidup seperti sekarang selamanya menurutnya membosankan.
Dulu, aku tak bisa menemukan alasanku untuk hidup, meskipun aku ingin tetap hidup. Tapi, sekarang aku sudah punya alasannya.” Jelas Hye Jung, Ji Hong menanyaka apa alasanya.
Aku ingin membuat hidup nenekku nyaman.” Kata Hye Jung.
“Kau bilang, Hidup dalam kenyamanan. Tapi, menurutku, pilihan katamu itu sangat norak untuk seusiamu.” Ejek Ji Hong. Hye Jung menegaskan dirinya itu serius dengan keputusanya akan mengubah hidupnya.
Tapi, kenapa kau memberitahuku hal ini?” tanya Ji Hong heran
Aku ingin merubah hidupku, tapi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jelas Hye Jung
Ji  Hong meminta maaf mungkin mengecewakanya karena dirinya itu  tak bisa mengubah hidupnya, dan memberitahu tentang Pepatah mengatakan Kegagalan awal dari kesuksesan.” Menurutnya itu adalah kebohongan besar, karena Orang yang terus menerus gagal tak akan pernah berhasil dan Hanya mereka yang telah mengalami kesuksesan yang bisa berhasil, lalu Satu-satunya yang tersisa dari kegagalan rasa malu.
Aku bisa berhasil jika mulai serius melakukannya.” Tegas Hye Jung yakin, Ji Hong menyuruh Hye Jung mencobanya dan tunjukan padanya jika  sudah mencobanya.
Tapi, apa yang bisa kulakukan sekarang?” tanya Hye Jung binggung
“Apa Kau tak tahu cara agar anak sekolah bisa sukses?” kata Ji Hong, Hye Jung pikir dengan cara belajar, tapi bagaiman caranya belajar. Ji Hong menegaskan dirinya itu gurunya dan juga wali kelasnya, jadi tak bisa memberitahu bagaimana caranya belajar lalu menyuruhnya pergi. Hye Jung pun akhirnya berdiri akan keluar ruangan.
Terima kasih.... Aku pergi ke Toko Musik tadi.” Ucap Hye Jung lalu membungkuk dan pergi. Ji Hong terdiam karena Hye Jung mengetahui ia yang menyelasaikan semua masalahnya.
Terdengar teriakan seorang wanita memanggil Ji Hong, Hye Jung melihat sosok wanita masuk kamar gurunya, lalu buru-buru keluar dari kamar. In Soo bertanya siapa wanita itu. Ji Hong memberitahu itu cucu dari Nenek Kang. 

Hye Jung kembali ke kamar melihat ponselnya bergetar, lalu mengaku bahagia karena Soon Hee menelpnya lebih dulu. Soon Hee bingugung bertanya Apa terjadi sesuatu. Hye Jung bertanya Siapa murid yang paling pintar di kelas mereka.
Seo Woo masuk ke sebuah restoran cepat saji, Soon Hee memanggilnya dengan Hye Jung sudah duduk disampingnya. Seo Woo duduk didepan keduanya, Soon Hee memperkenalkan Hye Jung kalau memang belum mengenalnya. Seo Woo mengatakan sudah mengetahuinya. Soon Hee memperkenalkan Seo Woo pada Hye Jung,
Kenapa kau meneleponku?” tanya Seo Woo, Soon Hee memberikan  Makanan kesukaan temanya, burger ikan. Seo Woo menyuruh mereka Tak usah berbelit-belit dan langsung saja.
Hye Jung ingin belajar. Tapi, dia tak tahu dasar-dasarnya dan tak memiliki tutor.” Jelas Soon Hee. Hye Jung hanya tertunduk dengan membuka bungkus burgernya.

Apa kau tak punya mulut? Kenapa kau menyuruh dia untuk meminta padaku?” kata Seo Woo dengan nada menyindir.
Apa kau bisa mengajariku bagaimana caranya belajar?” kata Hye Jung akhirnya menunda makannya.
Aku terlalu sibuk dengan pelajaranku sendiri. Kau bisa masuk di les privat.” Ucap Seo Woo sinis
Hye Jung ingat  Minggu depan sudah ujian mid semester,  ia harus mendapat nilai yang bagus dan membuktikannya pada Guru Hong. Seo Woo bertanya alasan Hye Jung harus membuktikannya. Hye Jung kembali bertanya apakah Hye Jung mau mengajarinya karena tak ingin memberitahu alas an kepada orang yang tak mau mengajarinya. Seo Woo mengejek Hye Jung itu bersikap kaku sekali padahal meminta bantuan padanya. 
Soo Chul tiba-tiba datang dengan kawan-kawannya melihat Hye Jung dan langsung mendekatinya, semua teman-temanya pun langsung ikut duduk disamping Seo Woo. Soo Chul mengoda Hye Jung  mereka bertemu lagi, menurutnya mereka itu memang ditakdirkan untuk bersama. Hye Jung tak banyak komentar hanya melirik sinis.
Lalu Soo Chul melihat Seo Woo sebagai wajah baru dan berkomentar suka getarannya. Teman Soo Ho mengenal wajah Seo Woo sebagai  Ratu di SMA Wanita Namyang yang pintar dan ayahnya juga adalah dokter, menurutnya levelnya jauh berbeda dengan mereka. Pria tambun yang duduk disamping, Seo Woo melihat kalau mereka sama dengan memeluk dan menyandarkan kepalanya.
Seo Woo meminta untuk tak menyentuhnya dengan melepaskan tanganya, Teman Soo Chul yakin kalau mereka itu berbeda karena nada ucapan Seo Woo saja berbeda. Semua tertawa mendengarnya, Hye Jung melihat tangan pria yang masih ada di pundak Seo Woo, langsung berdiri dan memelintirnya karena lalu mendorongnya, Si pria tambun menjerit kesakitan dan semua orang terlihat kaget.
Dia sudah bilang, jangan sentuh aku. Apa Kau tak tahu bahasa Korea?” ucap Hye Jung
Pria yang duduk disamping Hye Jung langsung membuang makanan dari meka karena marah, Si pria tambun pun ingin memukul Hye Jung. Soo Chul  menahanya meminta agar menghentikanya karena Hye Jung adalah miliknya jadi jangan menyentuhnya.
Hye Jung mengejek kalau Soo Chul itu memalukan sekali dan menegaskan kalau ia adalah pemilik dirinya dan tak ada orang lain, lalu memberitahu kalau mereka adalah anggotanya jadi jangan pernah menyentuhnya lalu mengajak semua pergi dengan menarik tangan Seo Woo pergi. Teman Soo Chul bertanya apakah Soo Chul itu berhutang sesuatu pada wanita itu dan hanya diam saja. 

Ketiganya kelua dari restoran, Seo Woo dan Soon Hee terlihat ketakutan. Hye Jung dengan santai bertanya apakah mereka semua mengikuti mereka. SeoWoo panik karena pria berandal itu mengikutinya. Hye Jung berteriak mereka harus berlari, kejar-kejaran terjadi di kawasan pertokoan.
Hye Jung menunjuk arah berbelok pada teman-temanya, Soo Chul dkk terlihat kehilangan arah. Soo Chul baru datang menunjuk arah Hye Jung dkk lurus, lalu melihat dari kejauhan kalau Hye Jung dkk terbebas dari kejaran temanya. Soon Hee pun memastikan teman Soo Chul sudah mengejarnya, ketiganya dengan nafas terengah-engah sambil bersandar pada dinding seng.
“Astaga.... Kenapa kau lari cepat sekali? Dan Kau berlari sangat cepat, untuk ukuran kutu buku.” Kata Soon Hee pada dua temanya, Hye Jung terlihat hanya bisa tertawa harus berlari dari kejaran Genk Soo Chul.
Aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya belajar.” Kata Seo Woo, Hye Jung tak percaya mendengarnya.
Setelah aku memastikan sesuatu pada Guru Hong.” Ucap Seo Woo, Hye Jung pun berpelukan dengan Soon Hee dengan senyuman bahagia.
bersambung ke part 2
 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar:

  1. WOW...Dramanya kayaknya makin seru dan menjanjikan. Semangat ya mbak Dee. Gamsahamida!!

    BalasHapus