Kamis, 09 Juni 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 5 Part 1

Bo Nui berkomentar  Soo Ho itu ternyata lebih baik dari yang dipikirkanya. Soo Ho mengeluh Omong kosong apa yang dibicarakan. Bo Nui menjelaskan kalau Soo Ho berpikir dirinya sekarat jadi merasa kasihan dan menyetujui syarat yang konyol. Soo Ho mengomel ternyata Bo Nui itu tahu kalau itu konyol.
Kau khawatir dan membawakan ku obat. Kau tidak mahir berkelahi, tapi kau melakukannya untuk melindungiku... Kau sebenarnya baik. Kalau kau bicara sedikit lebih baik, maka kau akan menjadi pria sempurna.” Saran Bo Nui. Soo Ho sempat terdiam mendengarnya.

Waktunya.... Sudah lebih 1 jam 20 menit. Batalkan kencan besok dan tambahkan 1 jam 30 menit... ke kencan hari sabtu depan. Sampai jumpai minggu depan.” Kata Soo Ho buru-buru keluar. 
Bisakah kita... menggunakan waktu itu sekarang? Maksudku 1 jam 30 menit. Mari kita gunakan sekarang. Tidurlah denganku, Tuan... Je Soo Ho.” Kata Bo Nui dengan penuh pengharapan.
Gun Wook kembali kerumah mengambil air minumnya dalam kulkas, lalu teringat sesuatu dan keluar rumah. Didepan apartment melihat bungkus es yang sudah rusak dan mencair. 


Soo Ho terlihat masih kaget memastikan bertanya apa yang dikatakan Bo Nui tadi. Bo Nui mengulang Soo Ho yang tak punya banyak waktu, jadi apabila Soo Ho bermalam dirumahnya maka  kontrak mereka akan diakhiri dan mereka tak perlu kencan lagi, Soo Ho menahanya sebentar berjalan mendekati Bo Nui.  
Jadi maksudmu....bukan sekedar tidur. Tapi tidur bersama seperti pasangan pria dan wanita?” kata Soo Ho binggung, Bo Nui mengangguk, Soo Ho terdiam terlihat shok
Apa hotel dengan pemandangan indah tadi cuma alasan? Apa Dari awal semua ini tujuanmu?” kata Soo Ho
Iya benar... Sejak aku mengajakmu berkencan inilah tujuanku.” Akui Bo Nui
Oh, jadi......alasanmu mengajakku berkencan  dan menabrakku saat mabuk, karena ini rupanya. Apa kau maniak? kau bilang, tak suka padaku dan kencan ini bohongan. Tapi kau ingin tidur denganku, Pada kencan pertama?” jerit Soo Ho kaget. Bo Nui membenarkan

Harusnya bilang dari awal, Supaya aku tidak tanda tangan.” Kata Soo Ho merasa menyesal
Tak bisakah... kau anggap saja aku orang asing? Anggap saja aku orang yang kau jumpai di club. Aku dengar pria menganggap hal seperti ini sebagai olah raga.” Ucap Bo Nui terdengar polos, Soo Ho berteriak tak percaya.
Aku......tidak bohong dan bercanda. Aku bersungguh-sungguh.” Kata Bo Nui terdengar sedikit bergetar, Soo Ho mengatupkan mulutnya seperti tak bisa berkata-kata lagi.
Hal ini memang bisa terjadi,tanpa rasa suka dan cinta, kau mengikuti hasrat tubuhmu. Zaman sekarang sudah tidak aneh. Entah kau maniak atau penggila pria, aku tahu tak berhak untuk mengkritikmu. Tapi, tidak denganku. Terserah sebebas apa hidupmu, tapi aku tidak begitu. ”tegas Soo Ho lalu berjalan pergi.
Bo Nui memohon, Langkah Soo Ho pun terhenti lalu membalikan badanya. Bo Nui langsung berlutut, lalu bertanya kalau ia sudah melakukan hal ini maka Soo Ho masih tak mau menerimanya. Soo Ho melonggo melihatnya. Bo Nui berjanji akan melakukan apapun, yang dinginkannya. Soo Ho binggung kenapa Bo Nui bisa seperti ini.
Kau bilang ini bukan permintaan terakhirmu. Kalau memang karena hasrat seksualmu yang mengebu-gebu, cari pria lain. Diluar sana pasti banyak yang
mau tidur denganmu.” Kata Soo Ho berjalan keluar pintu.
Harus dirimu.... Harus, denganmu.” Ucap Bo Nui dengan mata berkaca-kaca

Soo Ho kembali berhenti melangkah, lalu menatap Bo Nui dengan mata berkaca-kaca menatapnya, sambil berlutut memohon. Tapi akhirnya Soo Ho memilih untuk keluar dari kamar, menyandarkan kepala di dinding seperti kebinggungan dengan keadaanya, Bo Nui masih tetap berlutut terlihat sedih. Soo Ho pun pergi meninggalkan rumah Bo Nui. 

Soo Ho menyetir mobilnya dengan tanganya yang masih bertuliskan kalimat cina, tatapanya masih kebinggunga. Pikiran kembali mengingat ucapan Bo Nui Harus dirimu.... Harus, denganmu. Ia mencoba menenangkan diri dengan menghembuskan nafasnya dan membuka pintu jendelanya.
Bo Nui mengajak pijakan dinding dan melihat kebawah, kembali mengingat ucapan sinis Soo Ho padanya Apa kau maniak? Terserah sebebas apa hidupmu, tapi aku tidak begitu.
Aku juga ingin kencan normal dengan orang yang kusuka.” Ucap Bo Nui berbicara sambil menatap langit. 

Di sebuah club
Soo Ho mendekati Ryang Ha yang sedang mengoda pada wanita, Ryang Ha kaget melihat Soo Ho yang datang lalu memperkenalkan pada para wanita kalau Soo Ho itu temanya sambil mengejek kalau dirinya itu lebih tampan di banding Soo Ho.
Disini berisik dan bau rokok, apa tak ada tempat lain?” tanya Soo Ho seperti tak nyaman, Ryang Ha mengatakan tidak ada.
Ryang Ha kembali mengoda wanita untuk mengajak jalan berdua. Soo Ho langsung menarik temanya ke tempat lain. Ryang Ha meminta semua wanitanya menunggu karena akan segera kembali lagi. 

Bibir Soo Ho manyun duduk disamping temanya. Ryang Ha bertanya ada masalah apa,Soo Ho mengeluh memangnya ia selalu mencarinya cuma kalau ada masalah. Ryang Ha mengatakan kalau Soo Ho itu tak bisa berbohong padanya Tiba-tiba bertanya keberadan dirinya
Kau datang ke club yang kau benci, biasanya cuma minum soda... sekarang kau minum alkohol, pasti ada masalah.” Ucap Ryang Ha melihat temannya minum wine.
Tidak ada masalah.” Kata Soo Ho tetap menyembunyikanya, Ryang Ha menebak masalah Sul Hee, Soo Ho mengatakan bukan.
Saat wanita dalam kenangan muncul kembali, menyebalkan rasanya.” Komentar Ryang Ha, Soo Ho menegaskan bukan itu.

Soo Ho tiba-tiba menatap temanya dengan wajah serius, Ryang Ha sudah siap mendengarnya. Soo Ho mengurungkan niatnya. Ryang Ha kesal sendiri karena temanya bikin emosi saja dengan wajah cemberut. Soo Ho dengan cepat berbisik menanyakan pendapat Ryang Ha alasan Wanita mengajak tidur. Ryang Hae tak percaya wanita bisa berpikir begitu, Soo Ho mengaku benar-benar tak mengerti.
Kau tidur dengan wanita? Jadi Kau tidur dengan wanita?” jerit Ryang Ha, Soo Ho panik langsung menutup mulut temannya agar tak berteriak
Temanku ini... Punya kesempatan untuk...” teriak Ryang Ha mencoba melepaskan tangan temanya, Soo Ho meminta temanya diam dan kembali duduk.
Jadi... wanita itu mengajakmu menghabiskan malam bersama? Tapi kau menolak, dasar pria bodoh” komentar Ryang Ha
Siapa yang bodoh?! Aku biadab namanya kalau melakukannya tanpa rasa suka.” Balas Soo Ho
Aku tak percaya ada wanita yang mau denganmu. Ini Menarik sekali. Apa dia mabuk?” kata Ryang Ha, Soo Ho menjawab tidak
“Apa Dia sedang pakai obat?” tanya Ryang Ha, Soo Ho menjawab tidak
“Apa Dia cantik?” tanya Ryang Ha, Soo Ho langsung menjawab “ya” lalu menjerit merasa terjebak dengan pertanyaan Ryang Ha.

Ryang Ha berkomentar temannya sudah melukai wanita itu, Soo Ho sempat tak peraya. Ryang Ha menyakinkan lalu memperlihatkan pada ruangan  dance banyak wanita cantik, menurutanya semabuk apapun mereka tak akan ada yang mendekati Soo Ho.
Meski orang zaman sekarang lebih terbuka, tak mudah bagi wanita untuk mendekati pria. Apalagi saat sadar.” Jelas Ryang Ha, Soo Ho terdiam mengingat permintaan Bo Nui untuk tidur denganya,
Dia sadar, tapi tidak malu.” Kata Soo Ho, Ryang Ha tak percaya dan memastikan kalau bukan Sul Hee yang dikenalnya. Soo Ho geram mendengarnya.
“Kalau Bukan, Lalu siapa? Ahh.. Bo Nui? Dia itu sekarat. Dan Itu permintaan terakhirnya?” ucap Ryang Ha menebak
Dia tidak sekarat, bodoh.” Balas Soo Ho, Ryang Ha pikir bersyukur mendengarnya tapi masih binggung alasan mengajaknya.
Soo Ho berteriak berusaha menyangkal kalau bukan Bo Nui yang mengajaknya, Ryang Ha seperti sudah mengenal temanya kalau berbohong, lalu menasehati tak perlu takut karena memang awalnya semua juga takut dan ia juga awalnya merasa takut karena bukan hal yang biasa jadi wajah kalau memang takut.
Aku selalu berharap kau punya pengalaman pertama yang indah.” Goda Ryang Ha sambil memeluknya, Soo Hoo menyuruh Ryang Ha menyingkirkan tanganya karena panas.
“Apa Kau butuh saran?” tanya Ryang Ha mengoda. Soo Ho mendorong mulut temannya untuk tak membahasnya lagi. 



Bo Nui masih berada di atap rumah, Gun Wook datang bertanya apa yang sedang dilakukanya. Bo Nui melihat Gun Wook mengaku sedang mencari udara segar. Gun Wook bertanya apakah Soo Ho sudah pergi, Bo Nui mengangguk.
Kenapa? Apa Dia cari masalah denganmu? Apa Dia melakukannya setelah aku pergi?” kata Gun Wook panik, Bo Nui mengatakan tidak
Tidak apanya? Kelihatan dari wajahmu.” Ucap Gun Wook,
“Ahh.. Tidak.. Aku yang terlalu memikiran diri sendiri.” Ucap Bo Nui
“Apa Pria barusan, lahir tahun macan?” tanya Gun Wook menebak, Bo Nui kaget Gun Wook bisa mengetahuinya.
Apa tujuanmu? Apa sebenarnya yang kau inginkan dari pria kelahiran tahun macan?” tanya Gun Wook penasaran , Bo Nui dengan jujur menjawab kalau harus tidur denganya.
Gun Wook tak percaya menyuruh Bo Nui tak bercanda,  Bo Nui menjelaskan ia harus tidur denganya Supaya Bo Ra bisa sadar. Gun Wook binggung karena bisa ada hubunganya dengan Bo Ra dan Kenapa harus tidur dengan pria macan, lalu menebak itu disuruh oleh peramal dan mengatakan kalau itu tak masuk akal.
Bo Nui pikir Gun Wook juga menganggapnya gila, Gun Wook tertunduk diam. Bo Nui membalikan badanya mengetahui kalau ia sadar Perbuatannya ini tak masuk akal Tapi tak bisa diam saja karena menyangkut hidup matinya Bo Ra. Ia merasa sudah mengacaukan lagi  dan bertanya dimana lagi mendapatkan pria harimau dan membuat Kepalanya mau pecah. Gun Wook menarik Bo Nui pergi, Bo Nui bertanya kemana akan membawanya, Gun Wook hanya menjawab ke suatu tempat. 

Soo Ho pergi ke toilet mencuci tanganya, terlihat tulisan ditanganya kata-kata Bo Nui kembali terngiang “Harus dirimu.” Lalu Bo Nui tiba-tiba datang disamping Soo Ho berbisik “Harus denganmu.” Soo Ho menengok melihat Bo Nui ada didekatnya, lalu menjerit kaget dan tersadar kalau hanya bayangan,
Tidak... dia sudah bilang... dia tak suka padaku.” Ucap Soo Ho buru-buru menghapus tulisan ditanganya agar Bo Nui menghilang dari ingatanya.

Bo Nui melihat ke sebuah lorong yang gelap lalu bertanya kemana mereka pergi, Gun Wook hanya meminta Bo Nui ikut saja sambil menariknya tanganya, Lampu tiba-tiba menyala dan memperlihatkan stadion tenis dengan bangku penonton. Bo Nui masih binggung kenapa Soo Ho mengajaknya ke lapangan tenis.
Gun Wook menyuruh Bo Nui untuk memegang raketnya dan mengajarkan cara mengayunkanya, setelah itu ke sisi depanya. Bo Nui berteriak kalau tak pernah main tenis sebelumnya. Gun Wook menyuruh Bo Nui konsentrasi saja. Bo Nui heran apa yang sedang dilakukan teman masa kecilnya. Gun Wook mulai memberikan bola.
Bo Nui menghindarinya beberapa kali, Gun Wook menasehati Supaya kepalanya jernih, maka harus bergerak, jadi menyuruh Bo Nui untuk percaya karena sudaha sering melakukanya. Bo Nui akhirnya membalas bola yang dilemparkan Gun Wook dengan berlari kesana kemari. Setelah beberapa menit, Gun Wook memuji sudah lumayan.
Lalu Bo Nui merasa Gun Wook itu sedang mempermainkannya, Gun Wook menjulurkan lidahnya, Bo Nui pun langsung berlari mengejarnya. Gun Wook  Bo Nui yang merasa  sakit kepala Jadi Kalau bergerak dan berkeringat, Nanti bisa jernih. Keduanya kejar-kejaran berkeliling lapangan tenis.

Bo Nui terlihat sudah kelelahan akhirnya terjatuh, Gun Wook panik menanyakan keadaanya. Bo Nui mengatakan baik-baik saja dan berusaha berdiri. Gun Wook ingin melihat bagian lututnya, Bo Nui menyakinkan kalau baik-baik saja. Gun Wook tetap ingin memeriksanya, Bo Nui menolaknya tiba-tiba terlihat menahan tangisnya.
Gun Wook binggung menanyakan ada apa. Bo Nui langsung duduk seperti berlutut, Gun Wook makin binggung melihat Bo Nui yang menangis sambil menutup wajahnya, akhirnya ia duduk disampingnya menyuruh Bo Nui untuk melepaskan semua tangisnya saja.
Aku tahu betapa marahnya dirimu. Noona harus menangis, sampai lega.” Kata Gun Wook, Bo Nui pun mulai menangis walaupun sedikit tertahan, lalu berteriak.  Gun Wook menyuruh Bo Nui untuk menangis lebih keras lagi
Shim Bo Nui! Kau menjengkelkan!” teriak Gun Wook mencontohkan.
Choi Gun Wook!!!  Kau bodoh!!!” balas Bo Nui ikut berteriak
“Tuan Choi Ho! Dimana kau?” teriak Gun Wook yang mencari ayahnya.
Bo Ra!..  Bangunlah!!! Cepat bangun!!!” jerit Bo Nui sambil menangis 


Soo Ho akan masuk rumahnya, penjaga menyapanya memberitahu Ada bingkisan untuknya. Soo Ho melihat paketnya dari Je Mul Po, yaitu ayahnya. Dengan malas Soo Ho menyuruh penjaga untuk mengambilnya saja, Petugas tak percaya harus menerimanya lagi dan akhirnya mengucapkan terimakasih.
Sesampai di ruang Tvnya, ia membaringkan tubuhnya disofa, suara Bo Nui kembali terdengar “Harus denganmu” ia langsung terbangun dan membuatnya sangat kaget. Akhirnya ia menyalakan TV dari tabnya, menonton Video permainan tenis Gary Choi.
Mata Soo Ho terbuka lebar melihat wajah petenis Gary Choi yang dikenalnya. Ia mengingat saat Bo Nui menyuruh Gun Wook keluar dari rumahnya dan memastikan wajah yang sama dengan yang ada di TV. 

Gun Wook dan Bo Nui berbaring di lapangan tenis, Gun Wook menatapnya bertanya apakah merasa lebih baikan sekarang, Bo Nui mengangguk lalu bertanya apakah Gun Wook pernah ingin kembali ke masa lalu. Gun Wook mengatakan ingin Kembali ke sehari sebelum ke Kanada.
Waktu itu ayah mengajakku tidur dengannya. Tapi kutolak. Kalau noona ingin kembali saat kapan?” tanya Gun Wook
Ke dua tahun lalu.. Saat Bo Ra mengalami kecelakaan. Seandainya... aku bisa kembali ke pagi itu, maka akan kulakukan segalanya.” Ucap Bo Nui sangat berharap.
Gun Wook menopang kepalanya menatap Bo Nui, ingin memegang tanganya, tiba-tiba terdengar jeritan para pelajar wanita yang membuat Gun Wook menarik tanganya kembali. Petugas dari belakang mengejarnya, tiga pelajar mengatakan fans Gary dan meminta tanda tangannya. Bo Nui ikut bangun binggung melihat Gun Wook dikerubungi banyak pelajar.
Petugas meminta maaf pada Gun Wook karena salah satunya itu anak bungsunya yang suka bermain tenis dan mau melihatnya dari jauh saja. Gun Wook pun tak masalah lalu memberikan tanda tanganya. Bo Nui masih saja binggung, melihat tiga pelajar langsung pergi setelah mendapatkan tandatangan.
Aku mencintaimu Gary Choi!” teriak tiga pelajar meninggalka lapangan tenis, Gun Wook memberikan semangat agar Latihan yang keras!
Gary Choi?!!! Kau... Kau ini... Gary Choi?!!!” ucap Bo Nui kaget, Gun Wook hanya tersenyum membenarkan


Dilayar TV masih terlihat wajah Gary Choi, Soo Ho menatap ke jendela terlihat merenung. Pikiranya kembali saat ke rumah Bo Nui yang akan kencan. Bo Nui mengetuk pintu kamar 402, lalu memberitahu kalau ia harus tidur dengan pria itu.
Setelah itu mereka bertemu dan Bo Nui memberitahu teman kecilku, dan  bersikap agak berlebihan. Gun Wook mengaku kalau sikapnya tidak berlebihan. Soo Ho hanya terdiam ternyata Gary Choi adalah teman Bo Nui bahkan tetangga. 

Bo Nui dan Gun Wook menuruni tangga berjalan kerumahnya, Bo Nui mengeluh Gun Wook yan sangat hebat bisa membodohiya. Gun Wook hanya mengingat sebelumnya kalau dirinya itu sangat terkenal. Bo Nui pikir hanya bisa saja tak seperti yang diduganya sekarang. Gun Wook merasa lebih baik Bo Nui itu mengatakan kalau tak tertarik denganya
Noona tak pernah Tanya pekerjaanku, Seharusnya aku yang marah.” Kata Gun Wook cemberut
Kukira kau pengangguran. Kerjamu cuma keluyuran pakai topi dan sandal.” Balas Bo Nui membela diri
Aku sengaja, soalnya kalau orang tahu bisa heboh. Kau Lihat tadi, kan? Sulit menyembunyikan ketampananku.” Kata Gun Wook bangga
Hei.... Jadi Puku-ku adalah Gary Choi?” ejek Bo Nui

Gun Wook merasa kalau tadi bermain serius maka Bo Nui pasti luka parah. Bo Nui pun mengucapkan terimakasih, Gun Wook pikr bukan masalah untuknya, Bo Nui berterimakasih karena Gun Wook tumbuh dengan baik. Gun Wook menatapnya, Bo Nui heran kenapa ia harus bangga karena Gun Woo tumbuh dengan baik. 
“Aku menghasilkan banyak uang. Jadi Jangan khawatir, noona bisa bergantung padaku. Bilang saja kalau butuh apa-apa.” Kata Gun Wook membanggakan diri, Bo Nui langsung menolaknya dan pergi, tapi berhentikan langkahnya.
Gun Wook pikir Bo Nui itu menginginkan sesuatu darinya, Bo Nui mengingat tentang Mengenai tentang harimau kanada, Gun Wook terlihat hilang semangat. Bo Nui akhirnya mengurungkan niatnya memilih untuk mengajak mereka pulang saja. 


Bo Nui duduk di meja kerjanya membuka buku agendanya dan tertulis (Je Soo Ho lahir tahun 1986, tahun harimau.) dibawahnya ia menuliskan  (Gagal mencari macan lain) setelah itu mengambil amplop dan menuliskan (Surat Pengunduran Diri)

Pagi hari
Semua menyapa selamat pagi pada pegawai yang baru datang, Seung Hyun memanggil Bo Nui untuk memeriksa grafis buatanya. Bo Nui melihat dilayar komputer dari pakaian yang dibawat Seung Hyun dengan badan dan wajah Gary Choi sebagai model dari games mereka. Seung Hyun menanyakan pendapat Bo Nui.
Seung Hyun, apa kau pernah melihat Gary Choi?” tanya Bo Nui
Apa maksudmu? Tentu saja aku sering melihatnya.” Kata Seung Hyun memperlihatkan layar monitor dengan foto-foto Gary, Bo Nui mengerti.
Kenapa? Apa Tidak mirip? Atau menurutmu Aneh?” tanya Seung Hyun, Bo Nui mengatakan tidak seperti itu dan ingin memberitahu
Seung Hyun melihat Soo Ho datang langsung menyapanya, Soo Ho tak mau menatap semua pegawai langsung menutup wajahnya menyuruh untuk membatalkan rapatnya dan melanjutkan kerja mereka, lalu buru-buru masuk ruangan dan menutup tirai. Setelah itu mengatakan dengan yakin kalau tadi kelihatan normal.

Bo Nui mengeluarkan amplop Surat Pengunduran Diri dari tasnya, Soo Ho mengintip dari balik tirai matanya langsung melotot melihat Bo Nui yang berjalan kearah ruangannya. Ia berjalan mundur dan membentur meja panik karena Bo Nui malah datang ke ruangannya. Pertama-tama ia berpura-pura duduk tapi akhirnya loncat mengangkat telpnya yang tak berdering. Ketukan pintu terdengar, Bo Nui membuka pintu dan melonggokan kepalanya.
“Hei.. Tidak masuk akal! Kenapa servernya tidak stabil? Ulah siapa itu?” teriak Soo Ho lalu memberitahu Bo Nui kalau ia sedang menerima telp.
Bo Nui kembali menutup pintunya, Soo Ho merasa kalau tingkahnya tadi memang normal. Ponselnya berbunyi membuatnya kaget, ketika melihat ibunya yang menelp memilih untuk merejectnya. 

Soo Ho keluar dari ruangan, matanya sempat melihat Bo Nui, saat itu Bo Nui mengambil surat tap Soo Ho buru-buru keluar dari ruangan seperti menghindarinya. Beberapa saat kemudian Soo Ho baru saja keluar dari toilet, tiba-tiba dikagetkan dengan suara Bo Nui yang memanggilnya.
“Apa Bisa bicara sebentar?” tanya Bo Nui
Aku ada rapat penting.” Kata Soo Ho lalu berjalan lurus
“Presdir...  Ruang rapat di sebelah sini.” Kata Bo Nui menujuk ke arah kiri
“Ah.. yah... Kartu pengenalku jatuh.” Ucap Soo Ho beralasan lalu berbelok ke kiri

Soo Ho mengintip dari lubang-lubang dinding ke dalam ruangan kantornya, Bo Nui datang dengan kotak berkas bertanya Presdirnya ingin mencari siapa. Soo Ho menjawab “ Shim Bo....” ketika menengok menyadari Bo Nui sudah ada depanya.
“Apa Kau menghindariku?” tanya Bo Nui, Soo Ho menyangkal menurutnya untuk apa melakukanya.
Seharian ini.. kita tak bisa bertemu sama sekali.” Kata Bo Nui
Aku tidak memperhatikannya. Ada yang ingin kau katakan, kan? Aku juga. Datang ke ruanganku.” Kata Soo Ho tak bisa menghindarinya. 

Soo Ho duduk dengan gelisah dikursinya dengan mengubah tempat duduknya, Bo Nui mulai bicara meminta maaf tentang kemarin lalu mengeluarkan suara pengunduran dirinya, Soo Ho melirik sinis lalu bertanya apakah Bo Nui Sudah bosan kerja di zeze. Bo Nui menjawab tidak. Soo Ho menatap Bo Nui dengan tatapan sinis.
Setelah kejadian kemarin... mana bisa aku melihat wajahmu?” akui  Bo Nu
Kenapa memangnya? Tidak terjadi apa-apa kan Apa kau masih ada rasa atau mungkin tujuan lain?” kata Soo Ho
Tidak, bukan begitu. Aku...karena terlalu putus asa akhirnya melakukan kesalahan.” Akui Bo Nui menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Soo Ho langsung mengambilnya dengan memalingkan wajahnya mengatakan Bo Nui itu melarikan diri. Bo Nui mengatakan ingin bertanggung jawab. Soo Ho pun menatap Bo Nui mengapa tak memberitahu kalau Gary Choi itu adalah tetangganya. Bo Nui binggung Soo Ho bisa mengetahuinya, Soo Ho pun sudah menduganya, Bo Nui heran karena menurutnya bukan seperti itu.
Kau orangnya bertanggung jawab, kenapa merahasiakan info sepenting ini? Aku tahu, kau sudah tak peduli pada "IF". Tapi bagaimanapun kaulah yang membuat "IF". Kau tahu sepenting apa peran Gary Choi untuk "IF".” Ucap Soo Ho
Tidak, aku baru tahu semalam.” Kata Bo Nui
Kapan kau tahu, dia teman atau pacarmu itu tidak penting. Bawa Gary Choi kemari. Jadikan dia model kita. Itu namanya tanggung jawab, kau paham?” tegas Soo Ho mengembalikan surat pengunduran diri.  


Bo Nui melihat Soo Ho yang memalingkan wajahnya, lalu bertanya apakah Soo Ho merasa baik-baik saja. Soo Ho bertanya apa maksudnya. Bo Nui mengatakan  dengan Melihatnya, lalu bertanya pakah Soo Ho merasa Tak tidak nyaman?
Kemarin aku sudah bilang... Aku menghormati kehidupan pribadimu, jadi itu tak ada hubungannya denganku.” Ucap Soo Ho, Bo Nui  bisa mengerti
Masalah Gary Choi, berusahalah sendiri. Perusahaan akan mendekatinya lewat jalur resmi.” Jelas Soo Ho, Bo Nui pun mengerti

“Presdir... Aku menyukai "IF". Aku yang membuatnya, manamungkin tak peduli? Tapi disini kan Zeze. Orang-orangnya hebat dan berbakat. Aku merasa lancang... jika harus menyuruh-nyuruh mereka. Tapi... Aku sangat berharap "IF" berhasil. Dengan begitu orang-orang bisa merasakan kehidupan terbaik melalui game Itulah tujuanku saat membuat "IF" Aku senang bisa membantu. Aku pasti akan meyakinkan dia.” Ucap Bo Nui mengutarakan semuanya sebelum pergi.
Soo Ho tersenyum setelah Bo Nui pergi, lalu berusaha menyadarkan diri kalau sifatnya yang harus ditampilkan itu sebagai orang yang dingin.


Sul Hee masuk gedung dengan petugas yang membawa sofa dan meminta agar dibawa ke lantai 4, ponselnya berdering memberitahu kalau ia sudah ada dilobby. Ryang Ha yang melihat wanita cantik langsung menyapanya dengan bertanya pindah ke lantai berapa. Sul Hee tak mengubrisnya melambaikan tangan pada orang yang baru datang.
Kurir menurunkan kotak-kotak yang dipesannya, Sul Hee binggung karena seharusnya dibawa ke atas, kurir mengatakan hanya bisa sampai lobby. Ryang Ha menambahkan Tak boleh masuk tanpa kartu. Sul Hee binggung karena tak mungkin membawanya, Ryang Ha menyarankan agar meminta bantuan pada rekan kerjanya. Sul Hee mengatakan belum punya rekan kerja lalu bertanya apa yang harus dilakukanya, seperti memberikan kode
bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar: