Sabtu, 04 Juni 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 4 Part 2

Nyonya Yang ingin masuk, petugas menghalanginya melarang Nyonya Yang untuk masuk ke gedung Zeze. Nyonya Yang tak terima bertanya apakah petugas itu tak mengenalinya dan baru pertama kalinya datang.
Aku ibu-nya presiden kalian dan bukan orang asing.” Tegas Nyonya Yang
Maafkan aku. ini perintah langsung dari Tn.Je.” kata petugas
Dia tidak memberitahumu untuk mencegahku.” Balas Nyonya Yang tak terima. Ryang Ha melihat dari kejauhan berjalan mendakt berusaha untuk memantapkan dirinya lebih dulu.
Dia benar-benar memberitahuku secara khusus untuk mencegahmu.” Kata Petugas 

Ryang Ha pun menyapa Nyonya Yang sambil menjabat tanganya karena sudah lama tak bertemu. Nyonya Yang terlihat gembira lalu melirik pada petugas mengajak Ryang Ha untuk masuk bersama.
Aku hampir marah karena seseorang yang tidak tahu apa-apa.” Kata Nyonya Yang sinis merangkul Ryang Ha untuk masuk.
Aku pikir mungkin lebih baik bagimu untuk pulang hari ini.” ucap Ryang ha, Nyonya Yang binggung berpikir temana anaknya itu sedang bercanda.
Kau tahu kita semua sedang  waspada sekarang.” Jelas Ryang Ha.
Itu sebabnya aku di sini dengan jimat keberuntungan.” Bisik Nyonya Yang
Soo Ho seperti singa yang siap menerkam hari ini. Aku khawatir dia akan menyakiti hati manismu jika kau pergi menemuinya sekarang. Kau bisa kembali lagi nanti” kata Ryang Ha sambil memuji Nyonya Yang tampak cantik hari ini.
Si petugas pun mengucapakan selamat tinggal pada Nyonya Yang ketika berjalan meninggalkan gedung. Nyonya Yang melirik sinis. Ryang Ha pun meminta agar Si petugas tak mencari perkara lagi dan langsung mengajak Nyonya Yang untuk segera pergi. 

Ryang Ha meminta Nyonya Yang menunggu didepan karena akan mengantarnya pulang. Nyonya Yang mengomel meminta untuk tidak berlagak pintar dengannya, karena Ryang Ha saja berpaling darinyajadi ia  tidak akan pernah masuk ke sana. Ryang Ha pun meminta Nyonya Yang agar pulang dengan selamat dan mengatakan sangat mencintainya, lalu masuk ke dalam.
Nyonya Yang mengeluh terlalu malu untuk menghadapi teman anaknya. Bo Nui pun baru masuk ke kantor. Nyonya Yan melihat ID Card yang digunaka Bo Nui bertuliskan “Zeze Factory, Shim Bo Nui” lalu memangil dengan panggila “gadis yang berambut pendek. Bo Nui membalikan badanya. 

Nyonya Yang memberikan selembar kertas keberuntungan meminta tolong pada Bo Nui. Bo Nui tahu itu adalah jimat keberuntungan. Nyonya Yang terkejut gadis muda seperti Bo Nui tahu benda seperti itu. Bo Nui dengan penuh semangat memberitahu benda itu untuk menangkal nasib buruk.
“Astaga... Bagaimana dia menemukan karyawan cerdas sepertimu? Soo Ho beruntung memilikimu. Masuklah diam-diam ke kantornya saat dia keluar kalau kau ketahuan,matilah kita berdua. Kau mengerti kan?” kata Nyonya Yang, Bo Nui mengangguk mengerti.
Tunggu Sebentar, Boleh aku bertanya padamu?” kata Bo Nui, Nyonya Yang pikir boleh saja lalu bertanya ada apa.
Makanan apa yg disukai Tn.Je? Aku harus menyiapkan sebuah restoran untuk makan malam tim.” Kata Bo Nui,
Nyonya Yang memikirkan lalu menjawab seafood karena sejak kecil anaknya suka makan ikan dan mereka pernah tinggal di daerah dekat pesisir pantai. 

Bo Nui masuk sendirian kedalam ruangan yang masih kosong ditanganya sudah membawa jimat keberuntungan, lalu mengeluarkan dua sandwich yang dibelinya, lalu memilih satu yang berlabel orange. Lalu ia mengendap-ngendap masuk ke dalam ruangan Soo Ho.
Pertama-tama ia memeriksa ke bagian bawah meja Soo Ho, dan jimatnya masih menempel dengan baik. Lalu ia pergi ke bagian rak buku, mencari buku dibagian bawah dan menaruh jimat keberuntungan di selipan buku. Soo Ho tiba-tiba masuk ruangan, Bo Nui kaget langsung menaruh bukunya. Soo Ho bertanya apa yang dilakuanya, Bo Nui langsung cekukkan saking terkejutnya dan berpura-pura terbatuk-batuk.
Soo Ho sedikit khawatir bertanya apakah ia baik-baik saja, Bo Nui berusaha untuk berdeham. Soo Ho heran sebenarnyaada apa dengan pegawainya itu. Bo Nui mengatakan ia baik-baik saja, lalu memberikan sandwich tuna karena tahu Soo Ho sudah melewatkan makan siangnya. Soo Ho mengambilnya, Bo Nui meminta Soo Ho menikmatinya lalu buru-buru pamit pergi. 

Soo Ho langsung membuangnya, tapi saat itu juga Bo Nui kembali masuk ke ruangan dan melihat Soo Ho yang membuang sandwichnya ke tempat sampah. Soo Ho terlihat kebinggungan menatap sandwich yang sudah ada ditempat sampah.
Aku tidak makan ikan, karena tidak tahan baunya.” Kata Soo Ho beralasan
ohh... Aku mengerti.. Emmm... Kau tidak lupa tentang besok kan?” ucap Bo Nui, Soo Ho binggung.
“Sekarang hari sabtu... tentang kencannya. kau lupa ‘kan?” kata Bo Nui kesal, Soo Ho mengaku kalau ia tak lupa dan  akan memilih tempat, Bo Nui menolak akan memilihnya dan mengirimkan SMS tempatnya.
waktumu  adalah milikku.” Ucap Bo Nui lalu keluar ruangan, Soo Ho masih terlihat shock mendengarnya, lalu menatap sandwich yang sudah dibuangnya dan berusaha tak peduli. 

Bo Nui mencoba mencocokan baju miliknya dalam cermin tapi menurutnya terlihat membosakan. Lalu bertanya-tanya apakah Soo Ho akan mengacuhkannya jika terlihat terlalu menggoda dari awal, dan kembali mencoba dari baju warna merah, biru dengan bunga-bunga atau polos seperti ingin terlihat baik dimata Soo Ho.
Beberapa saat kemudian Bo Nui sudah melamun lalu membuka ponselnya dan melihat website untuk memesan hotel dan mulai check in kamar pada tanggal 4 juni. 

Esok paginya, Bo Nui sudah mengunakan sepatu heels keluar dari apartement. Tiba-tiba namanya dipanggil, Gun Wook baru saja belanja bertanya mau kemana Bo Nui sekarang padahla ingin mengajaknya makan malam.
“Apa Kau ada janji kencan?” kata Gun Wook melihat pakaian Bo Nui yang sangat rapih
Bukan,ini urusan pekerjaan. Sesuatu yg sangat mendesak.” Kata Bo Nui berbohong
Ini Sabtu sore,mereka membuatmu bekerja terlalu keras.” Komentar Gun Wook.
Tidak ada yang bisa kulakukan.... Aku harus menyelesaikannya secepatnya.... Hei... Jangan ganti makananmu dengan susu Pastikan kau makan banyak” kata Bo Nui melihat Gun Wook membeli banyak susu.
“Kau juga Pastikan juga jangan makan sendirian” kata Gun Wook,
Bo Nui mengerti dan pamit pergi, lalu kembali berbalik dengan wajah tegang meminta agar Gun Wook memberikan semangat agar berhasil. Gun Wook pun memberikan semangat agar Bo Nui berhasil. Bo Nui pun tersenyum menaiki tangga. 

Bo Nui sudah menunggu didepan sebuah tempat, lalu memakai lipstiknya agar tampil lebih sempurna, tapi wajahnya masih terlihat tegang. Akhirnya ia meminum penambah energi agar menenangkan dirinya. Mobil Soo Ho datang dan langsung berhenti didepan mengunakan valley, Soo Ho melihat Bo Nui yang menunggu sambil meminum sesuatu. Bo Nui pun menyapa Soo Ho yang baru datang.
Soo Ho dengan acuh bertanya kenapa Bo Nui menungu didepan bukan masuk, Bo Nui terdiam melihat cara berpakaian Soo Ho bukan seperti orang yang ingin berkencan, dengan celana jins, baju kaos dan sandal masuk ke dalam lobby, tapi akhirnya dengan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. 

Soo Ho terus menguap dan kakinya sengaja dinaikan ke atas kursi, Bo Nui menatapnya lalu berpikir pasti Soo Ho itu kurang tidur dan kelihatan capek. Soo Ho seperti tak merasa seperti itu. Bo Nui mengatakan memang terlihat tak bersemangat.
Aku baru-baru ini memasukkan diriku ke dalam kontrak kerja yang aneh, jadi aku kurang tidur. Apa yang bisa kulakukan?Aku harus memegang kata-kata ku.” Kata Soo Ho tanpa peduli dengan menakikan kakinya tanpa peduli sedang ada di sebuah restoran mewah.
“AKau sudah makan?kau belum makan kan?” ucap Bo Nui mencairkan suasana
Aku memang belum makan,tapi aku tidak lapar. Dan aku akan makan kalau kau mau. Itu cara kencan yang normal.” Kata Soo Ho
“bagaimana kalau kita makan dikamar saja?” tanya Bo Nui, Soo Ho menatap binggung.
Yah, aku memenangkan kontes promosi. Kau tahu hotel ini punya pemandangan malam terbaik, kan? Aku tidak pernah beruntung kalau undian, tapi kupikir alam semesta merestui kencan kita dan berharap semuanya lancar.. Aku menang undian menginap satu malam di hotel ini.” ucap Bo Nui lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, Soo Ho pun menyandarkan kepala dan menurunkan kakinya.

"Ayo kita pergi kesana selama 5 jam.  Ah.. Tidak. Aku akan senang hanya dengan 4 jam 30 menit.  Jangan disia-siakan. Aku mendapatkannya gratis dan ingin memeriksa ruangannya.” Kata Bo Nui
Soo Ho hanya bisa tertunduk lesu, Bo Nui meminta Soo Ho untuk berhenti mengerut wajahnya seperti itu, menurutnya ruangannya sangat tenang,jadi mereka juga bisa berbicara tentang IF. Bahkan menurutnya Gary Choi tinggal di kamar hotel seperti sekarang ketika di luar negeri untuk laga tandang.
Kita dapat menambahnya dalam IF. "Pengalaman Hotel Bintang Lima". Coba pikirkan... Aku yakin banyak orang bahkan tidak bisa bermimpi... tinggal di tempat seperti ini sepanjang hidup mereka. Pengalaman hidup semewah ini sekali seumur hidup adalah...” ucap Bo Nui berusaha merayu secara logis.
Soo Ho langsung berdiri, Bo Nui menahanya untuk tak pergi. Soo Ho langsung mengambil kartu kunci hotel dari tangan Bo Nui untuk segera makan. Bo Nui pun buru-buru mengikutinya dari belakang. 

Bo Nui sudah mempersiapkan makanan didalam kamar tapi Soo Ho hanya melipat tangan tanpa mau memakannya. Bo Nui bertanya kenapa Soo Ho tak makan, Soo Ho pikir tak perlu memperdulikanya dan menyuruh Bo Nui untuk makan saja.
Aku ingin makan stik daging, tapi aku memesan stik salmon untukmu” kata Bo Nui
Aku sudah bilang padamu.Aku tidak makan ikan karena baunya” ucap Soo Ho
Bukankah dulu kau tinggal dekat dengan laut? kudengar sejak kecil kau sangat suka ikan.” Kata Bo Nui, Soo Ho tak percaya Bo Nui mencari tahu latar belakangnya.
“Dulu kau kan sangat terkenal...” ucap Bo Nui berbohong dan pikir memang itu dulu. Soo Ho menegaskan dirinya itu masih terkenal juga sekarang.
“Pokoknya,mungkin seleraku sudah berubah, Aku tidak lagi makan ikan.” Tegas Soo Ho
Bo Nui pun memberikan roti agar Soo Ho bisa memakannya, Soo Ho hanya menatapnya sambil meminum air putih. Bo Nui pun bertanya apa yang disukai dan makanan yang disukainya. Soo Ho mengatakan sangat suka pil jadi Itulah yang akan dilakukan pada saat pension, menurutnya Sesuatu yang akan memberi energi yang dibutuhkan dalam satu pil
“wahh.. Kau bahkan tidak tahu kenikmatan makanan, bagaimana bisa kau hidup seperti itu?” kata Bo Nui tak percaya
“Kau suka permen,coklat,dan sesuatu yg berbahan terigu kan?” ucap Soo Ho, Bo Nui membenarkan kalau bisa makan roti,kue beras dan mie setiap hari.
Itu menunjukkan betapa kau tidak bahagia dengan hidupmu, tubuhmu kekurangan serotonin dan dopamin, dan kau merasa cemas, Ini membuatmu makan berlebihan dan menjadi terobsesi dengan makanan. itulah alasannya” jelas Soo Ho dengan logis lalu mengambil salah satu roti.

bagaimana kau tahu?Aku sangat bahagia dengan hidupku Tapi semuanya akan lebih baik mulai sekarang, "Sesuatu yang hebat. Aku baik-baik saja.Semua akan baik-baik saja." kau harus mengatakan hal-hal positif... untuk menerima energi positif. Jadi kau juga harus ...” kata Bo Nui, Soo menyelanya
Itu disonansi kognitif... sederhananya,kau mencoba lari dari kenyataan” kata Soo Ho
Bo Nui menyindir Soo Ho yang terdengar sangat pintar. Soo Ho mengatkan kalau ia adalah Je Soo Ho, Si jenius. Bo Nui berusaha tertawa mendengarnya, lalu mencoba makan kembali. Soo Ho menolehkan kepalanya ke arah lain, Bo Nui mencari kesempatan dengan menyiram badannya dengan wine. Bo Nui pura-pura menjerit kaget lalu meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar. Soo Ho pun mempersilahkan tapi bertanya Bagaimana itu bisa terjadi tiba-tiba. 

Bo Nui pergi ke kamar mandi dan terlihat gelisah, lalu menenangkan diri kalau Soo Ho itu seorang pria, dan ia adalah seorang wanita, sedangkan Dalam bahasa cerdas Soo Ho  kromosom XY bertemu kromosom XX  dan energi maskulin bercampur dengan energi feminine Saat itulah tindakan suci, reproduksi, terjadi...... Bo Nui pun keluar kamar dengan mengunakan pakaian dalam dan terlihat Soo Ho sudah duduk disofa.
Jangan salah paham dan dengarkan saja aku.. jadi... Yang ingin kulakukan adalah...” kata Bo Nui, lalu tersadar melihat tangan Soo Ho jatuh lemas disofa dan melihat kalau Soo Ho ternyata tidur dikursi.
“Wah... apa ini? Apakah dia tidur sekarang?” ucap Bo Nui jatuh lemas lalu matanya melihat Soo Ho yang tertidur.
“Tapi Dia terlihat sangat manis saat dia tidur.” Komentar Bo Nui menatap Soo Ho yang tertidur.
Tiba-tiba Soo Ho berkata “lalu Apa yang ingin kau lakukan? ” dengan mata tertutup. Bo Nui langsung menjerit terkejut melihat Soo Ho membuka matanya menutupi tubuhnya. Soo Ho meminta Bo Nui untuk selesaikan kalimatnya. Bo Nui kebingungan, tiba-tiba Soo Ho mendekatkan wajahnya membuat Bo Nui makin panik.
Waktunya habis, Saatnya untuk pergi.” Bisik Soo Ho lalu pergi.
Tunggu!!! kita masih punya sisa waktu” ucap Bo Nui menahanya
Kita juga harus berpikir tentang waktu di jalan. Jika kita pergi sekarang... itu akan memakan waktu lebih dari satu jam.  kita akan terlambat.” Kata Soo Ho akan pergi.
jadi kau akan meninggalkan aku sendirian disini?” ucap Bo Nui tak percaya
kita menikmati pemandangan malamn,dan kita makan juga. kau bisa tinggal lebih lama kalau kau mau.” Kata Soo Ho berjalan pergi.
Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkan dia pergi seperti ini.jerit Bo Nui panik dalam hati. 


Soo Ho ingin mengambil jaketnya, Bo Nui ingin menepuknya tapi malah membuat dirinya terjatuh karena terlalu ke depan. Soo Ho panik bertanya apakah Bo Nui baik-baik saja dan apakah ada yang terluka. Bo Nui mengatakan kalau ia baik-baik saja. Soo Ho berteriak bertanya bagian mana yang sakit.
Bo Nui menyuruh Soo Ho pergi saja, Soo Ho tak mendengar bertanya apa yang dikatakanya. Bo Nui pun memperjelas menyuruhnya untuk pergi saja. Soo Hoo binggung, Bo Nui berteriak menyurh Soo Ho pergi saja karena merasa sangat malu. 

Soo Ho keluar kamar dengan memakai jaketnya, Bo Nui berteriak meminta untuk menunggunya kalau akan ikut denganya. Soo Ho hanya bisa menghela nafas melihat Bo Nui memakai jaketnya dan membawa pakaianya yang basah.
Astaga, aku terlihat seperti orang cabul berpakaian mantel.” Ucap Bo Nui
kau bilang apa, Orang cabul berpakaian mantel?!!” Kata Soo Ho binggung.
“Apa kau tidak tahu? Aku bicara tentang orang-orang aneh  yang menunggu gadis berjalan sendirian dan menyerang mereka. Ada satu di setiap lingkungan... issh.. Ada satu di daerahku yang sudah aku kenal sejak SMA.” Cerita Bo Nui
Lalu Bo Nui dengan wajah heran bertanya apakah Soo Ho itu benar-benar jenius. Soo Ho hanya bisa menghela nafas melihat pakaian Bo Nui mengatakan kalau ia benar-benar jenius. 

Keduanya bersama-sama keluar dari lift, beberapa orang yang sedang berjalan melihat Soo Ho, dan mengenalnya sebagai si jenius, Je Soo Ho. Semua orang langsung mengerubunginya dan mengambil fotonya, Soo Ho hanya tertunduk dan terlihat tak bisa berjalan. Semua mengatakan kalau ia adalah fansnya tak percaya bisa beruntung bertemu dengan Soo Ho.
Bo Nui hanya melihat dari kerubungan orang yang ingin meminta foto, dimata Soo Ho langsung melihat seperti orang mengambil fotonya dan menertawainya, dan kembali ingatanya pada wartawan yang menanyakan pertanyaan bertubi-tubi padanya, lalu ejekan teman-temanya.
Bo Nui melihat Soo Ho seperti menahan kesakitan, akhirnya ia menerobos masuk ke dalam orang-orang meminta untuk tak mengambil foto dan langsung memegang tangan Soo Ho, perlahan menanyakan keadaanya. Soo Ho tak bisa berkata-kata lagi. Bo Nui pun meminta maaf pada semua dan menarik keluar Soo Ho dari kerumunan. 

Soo Ho terus menahan rasa sesak dadanya, Bo Nui pun membawa Soo Ho kesudut restoran yang cukup tenang  sambil bertanya apakah baik-baik saja dan menyuruhnya duduk. Soo Ho duduk dengan nafas tak teratur dan terus memegang tangan Bo Nui.
Bo Nui pun kembali bertanya apakah ia baik-baik saja. Soo Ho tersadar sedari tadi memegang tangan Bo Nui dan langsung melepaskanya, lalu menyadarkan diri dengan mengepalkan tanganya. Bo Nui khawatir dan ingin membawakan air minum.
Beberapa saat kemudian, Soo Ho kembali mengucapkan perkalian 19 19 kali 19 sama dengan 361. 19 kali 18 sama dengan 342. 19 kali 17 sama dengan 323. 19 kali 16 sama dengan 304. 19 kali 15 sama dengan 285. 19 kali 14 sama dengan 266. 19 kali 13 sama dengan 247. 19 kali 12 sama dengan 228. 19 kali 11 sama dengan 209. 19 kali 16 sama dengan 304.
Dengan wajah tertunduk. Bo Nui berlari menghampirinya dan terlihat binggung karena Soo Ho yang bisa menghitung perkalian yang sangat rumit. 

Didalam mobil terlihat sunyi, Bo Nui melirik lalu memukul dadanya seperti merasakan sesak. Soo Ho pun melihatnya, suasana kembali senyap. Bo Nui pun mulai berbicara Yang dihafal tadi adalah tabel perkalian dan kemarin Soo Ho kemarin juga melakukannya sewaktu di taman.
Ya. perkalian 19... Melakukan perhitungan sederhana membantu  saat kau ingin membersihkan kepalamu.” Kata Soo Ho
Aku bahkan tidak bisa kelipatan sembilan dalam urutan terbalik. Kau juga pingsan dalam demonstrasi. Apa kau...” ucap Bo Nui menduga sesuatu.
mari kita bicarakan itu lain kali saja” kata Soo Ho tak ingin membahasnya, lalu memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Apa kau mau secangkir teh?” tanya Bo Nui menawarkan. Soo Ho langsung menolaknya.
Waktu kita tinggal satu jam lagi. sebenarnya 2 jam 10 menit.” Kata Soo Ho tanpa menatap Bo Nui.
Tapi Bo Nui pikir mereka sudah sedikit dekat. Keduanya tiba-tiba sama-sama terdiam. Soo Ho memangil Bo Nui, dengan senyuman manis Bo Nui menjawabnya dengan penuh semangat. Soo Ho menatap Bo Nui lalu bertanya apakah tidak akan turun. Bo Nui pun mengatakan akan pergi dan segera turun, ketika ingin mengatakan berhati-hati, mobil Soo Ho langsung melaju dengan kencang.
“Wah.. Dia kembali menjadi Je Soo Ho yang semua orang tahu. Aku hanya membuang-buang waktu dan uangku. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa.” Keluh Bo Nui
Sementara Soo Ho terlihat mencoba menahan rasa gelisahnya, sambil menyetir.
“Ini konyol sekali.. Aku akan tenang jika ia meninggalkanku sendirian. Kenapa dia tiba-tiba harus memegang tanganku seperti itu? Dia bahkan menutup mulutku, aishh.... dia sangat liar. Aku harus menambahkan poin persyaratan bahwa dia tidak boleh menyentuhku. Ini Serius.” Ucap Soo Ho kembali mengingat sentuhan tangan, akhirnya ia berusaha melupakan dengan mendengarkan lagu klasik. 


Gun Wook duduk dihalte bus, sambil menelp karena tak melihat Bo Nui di bus terakhir dan bertanye kenapa masih belum pulang karena semua es krimnya akan mencair. Bo Nui memberikan sudah ada didepan gedung apartement dan bertanya keradaanya. Gun Wook pun kaget karena Bo Nui sudah rumah sekarang lalu meminta untuk menunggunya karena akan secepat kilat menemuinya.
Bo Nui duduk dengan wajah tertunduk depan apartement, Gun Wook mengagetkan dengan menepuk pundak Bo Nui dari belakang. Bo Nui kaget melihat Gun Wook yang mengunakan masker. Gun Woo mengodanya agar Bo Nui tak keluar rumah karena banyak orang cabul yang berkeliaran. Bo Nui mengeluh Gun Wook yang sangat mengejutkan.
Tiba-tiba seseorang langsung menyerang Gun Wook dari samping, keduanya bergulinga. Bo Nui berteriak panik. Keduanya saling menyerang dan Gun Wook bisa mendorong si pria sampai membentur ke dinding. Lalu bisa menelungkupkan badannya dan melintir tanganya. Si pria mulai menjerit kesakitan.

Gun Wook meminta Bo Nui untuk segera menelp polisi, pria itu tiba-tiba memanggil nama Bo Nui yang sudah mengeluarkan ponselnya. Gun Wook binggung siapa sebenarnya pria itu karena mengetahui nama Bo Nui. Ketika membuka jaket penutup kepalanya, Soo Ho terbatuk-batuk memanggil nama Bo Nui. Bo Nui kaget melihat atasanya yang datang kerumah. 
Soo Ho melihat luka dibagian telapak tanganya dan juga dua lenganya sambil menahan rasa sakit, lalu melihat ke arah Gun Wook nampak manja dengan meminta ditempelkan plester pada lenganya. Gun Wook pun meminta Bo Nui untuk perlahan-lahan. Soo Ho melihatnya hanya bergidik malas, Bo Nui bertanya apakah baik-baik saja,
Iya.Aku punya goresan lain di sini... Beri juga ciuman di sini.” Kata Gun Wook, Bo Nui pun mengumpat kalau Gun Wook kurang ajar
Tn Je, apa kau baik-baik saja?” ucap Bo Nui, Gun Wook pun mengatakan baik-baik saja.
Luka dan goresan pasti terasa sakit. Setidaknya sterilkan lukanya.” Kata Bo Nui mengambilnya alkohol.
Ya ampun,aku sudah bilang tidak apa-apa!! Sebagai orang yang berintelektual serta warga negara yang demokratis, Aku pikir yang aku lakukan benar tapi sekarang Aku kira aku salah. Itu adalah pengalaman besar untukku.” Keluh Soo Ho kesal

Setidaknya tempelkan ini pada lukamu.” Kata Bo Nui memberikan plester untuk lukanya, Soo Ho pun mengambilnya dengan kasar.
Jadi kau presiden perusahaan, kan? Kau seperti bos yang bicara omong kosong. Hanya karena kau presiden, kau pikir bisa mengunjungi rumah karyawanmu jam segini?” kata Gun Wook menyindirnya sambil berdiri. Bo Nui ikut berdiri menncoba mengatakan kalau bukan seperti itu.
Lalu apa? Ini jelas pelanggaran privasi Bahkan bisa dianggap sebagai pelecehan seksual.” Kata Gun Wook, Soo Ho pun berdiri tak terima dianggap sebagai pelecehan seksual
Katakan dengan jujur. Dia melecehkanmu, kan? Aku akan memberinya pelajaran.” Ucap Gun Wook siap menghukumnya.
Bo Nui menahanya memberitahu Soo Ho kalau Gun Wook itu temannya sejak kecil dan hanya bereaksi berlebihan. Gun Wook merasa  tidak berlebihan sama sekali. Bo Nui pun mendorong Gun Wook untuk pergi sekarang.
Gun Wook menahanya karena melihat Soo Ho itu sangat kasar. Bu Nui terus mendorongnya sampai ke pintu, Gun Wook tetap tak ingin pergi. Bo Nui berbisik akan menceritakan semuanya nanti jadi meminta untuk segera pergi dan menelpnya nanti. Gun  Wook teringat sesuatu dan bertanya-tanya apakah pria itu lahir pada tahun macan.

Soo Ho pun membuka plester dan ingin menempelkan pada telapak tanganya, Bo Nui melihat dan ingin membantu tapi Soo Ho menolaknya ingin memakain sendiri saja. Bo Nui tetap ingin membantu memakainya, Soo Ho membiarkan Bo Nui membantu menempelkanya, ditelapak tanganya dengan menahan rasa sakitnya.
Setelah itu Bo Nui mengambil spidol dan meminta mengulurkan tanganya, Soo Ho menariknya apa yang ingin dilakukannya. Bo Nui mengatakan hanya butuh  30 detik, lalu menuliskan sebuah huruf memberitahu kalau itu  karakter Cina yang berarti katak dan ular dan akan membantu menyembuhkan luka dengan cepat.
Soo Ho mengatakan tidak percaya tahayul seperti itu. Bo Nui membalas percaya itu jadi memohon tinggal di rumahnya untuk malam ini saja. Soo Ho menatap Bo Nui yang menuliskan karakter ditanganya, Bo Nui pun menyelesaikan tulisan ditangan Soo Ho. Soo Ho langsung berdiri dan menarik tanganya. 

Aku akan menambahkan ini ke kontrakmu. Tidak ada sentuhan fisik. Mulai sekarang, aku akan sangat menghargainya ... jika kau bisa menahan diri untuk menyentuhku.” Kata Soo Ho
“Tapi .. Ini benar-benar normal jika bersentuhan fisik sedikit selama kencan.” Ucap Bo Nui, Soo Ho mengatakan mereka tidak benar-benar berkencan. Bo Nui ingin protes tapi Soo Ho lebih dulu berbicara.
Aku datang untuk memberitahumu itu, karea Aku pikir harus menarik garis yang jelas” ucap Soo Ho lalu teringat sesuatu dan mengeluarkan dari saku jaketnya dan menaruh dilantai. Bo Nui melihat ada sebungkus obat,
Kau tampaknya memiliki gangguan pencernaan. Jika kau mau antibiotik, ambil pil dalam kotak biru. Jika kau mau obat penghilang rasa sakit, ambil yang di kotak kuning. Kau pasti tahu lebih banyak tentang obat-obatan dari diriku. Aku yakin kau bisa mencari tahu.” Kata Soo Ho, Bo Nui binggung kenapa Soo Ho memberikannya obat.
Katakan padaku... Apa penyakit yang kau miliki? Aku melihatmu minum obat di hotel lalu Kau batuk sepanjang waktu. Kau sering cegukan dan Kau juga jatuh dengan sangat mudah, serta punya masalah pencernaan. Bagaimana kondisimu?” kata Soo Ho yang mengingat saat Bo Nui minum sebotol, seperti obat lalu terbatuk di kantor dan cegukan saat di ruanganya dan ketika dihotel tiba-tiba terjatuh begitu saja, yang terakhir  Bo Nui memukul dadanya dalam mobil Bo nui makin binggung.
Apa yang akan terjadi... tiga minggu kemudian? Apa kau akan dioperasi? Apa Kau akan mati? Apa yang akan terjadi sebenarnya?” kata Soo Ho
Tunggu. Aku tidak mengerti maksudmu. Kenapa aku dioperasi? Kenapa kau tanya apa aku akan mati?” kata Bo Nui

Soo ho meminta agar Bo Nui  tidak berusaha keras menyembunyikannya karena sudah tahu semuanya, kalau Bo Nui punya sisa waktu terbatas. Keduanya saling menatap bersama. Bo Nui pun tertawa, lalu memastikan kalau Soo Ho itu berpiki dirinya itu sakit parah, lalu memberitahu yang minum di hotel adalah obat herbal anxiolytic dan meminumnya karena sangat gugup. Soo Ho pun hanya terdiam.
Apa itu maksudnya... kau menipuku?” kata Soo Ho salah menduganya. Bo Nui tak mengeri dengan yang dikatakan Soo Ho
Saat itu mengenai apa yang kau katakan padaku? Kau bilang hidupmu bergantung pada hal itu dan akan berakhir dalam tiga minggu. Kau itu menipuku.” Ucap Soo Ho
Kau langsung mengambil kesimpulannya sendiri. kenapa malah menyalahkanku ?” keluh Bo Nui
Terserahlah..  Mari kita berhenti membicarakannya. Aku akan mengirim perjanjian yang direvisi  dengan bagian tentang tidak ada sentuhan fisik.” Kata Soo Ho mengambil kembali obatnya.

Bo Nui tersenyum menahan tawa, lalu berkata Soo Ho itu ternyata lebih baik dari yang dipikirkanya. Soo Ho mengeluh Omong kosong apa yang dibicarakan. Bo Nui menjelaskan kalau Soo Ho berpikir dirinya sekarat jadi merasa kasihan dan menyetujui syarat yang konyol. Soo Ho mengomel ternyata Bo Nui itu tahu kalau itu konyol.
Kau khawatir dan membawakan ku obat. Kau tidak mahir berkelahi, tapi kau melakukannya untuk melindungiku... Kau sebenarnya baik. Kalau kau bicara sedikit lebih baik, maka kau akan menjadi pria sempurna.” Saran Bo Nui. Soo Ho sempat terdiam mendengarnya.
Waktunya.... Sudah lebih 1 jam 20 menit. Batalkan kencan besok dan tambahkan 1 jam 30 menit... ke kencan hari sabtu depan. Sampai jumpai minggu depan.” Kata Soo Ho buru-buru keluar. 
Bisakah kita... menggunakan waktu itu sekarang? Maksudku 1 jam 30 menit. Mari kita gunakan sekarang. Tidurlah denganku, Tuan... Je Soo Ho.” Kata Bo Nui dengan penuh pengharapan

[Shim Bo Nui sakit parah.]
Soo Ho berjalan akan meninggalkan rumah sakit, lalu tak sengaja melihat Bo Nui yang menolong wanita tua yang panik dengan memakai sepatu. Lalu Bo Nui berkata sendirian.
Dia akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja, Yah..... Akan baik-baik saja.” Ucap Bo Nui meyakinkan untuk ibu pasien dan dirinya.
Soo Ho pun terdiam tak percaya ternyata dugaan Ryang Ha benar kalau Bo Nui itu sedang sakit parah.
bersambung ke episode 5 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar