Senin, 13 Juni 2016

Sinopsis Beautiful Gong Shim Episode 9 Part 2

Gong Shim pulang kerumah dengan membawa pot yang bunga, menatap rumahnya yang ada dilantai dua. Ayah dan ibunya sedang sibuk membuat makanan, Ibu Gong Shim pun meminta suaminya untuk mencoba masakan buatanya, Tuan Gong sudah membuka mulutnya tapi saat itu Gong Shim masuk rumah, akhirnya Ibu Gong Shim menyapa anaknya lebih dulu dengan wajah bahagia.
Senang sekali bisa melihatmu setelah satu bulan.” Kata Tuan Gong melihat anaknya.
Baunya seperti pesta... Selamat ulang tahun, ayah.” Kata Gong Shim memberikan pot bunga.
Apa ini bunga dari pekerjaanmu di Pulau Jeju Aromanya sangat harum. Terima kasih.” Ucap Tuan Gong, Gong Shim pun bertanya keberadaan kakaknya.
Di kantor, Dia bekerja keras di tempatnya bekerja.” Kata Tuan Gong, Gong Shim kaget mengetahui kakaknya yang sudah mulai bekerja. Tuan Gong bertanya pada istrinya kalau belum memberitahu. Ibu Gong Shim tertunduk diam.
Dia bekerja di departemen hukum Grup Star.” Ucap Ayah Gong Shim, Gong Shim menjerit kaget mengetahuinya.

Apa yang bisa kita lakukan? Aku tidak ingin dia pergi ke sana karena mereka memecatmu, Tapi dia ingin pergi. Bagaimana aku bisa menghentikannya?” kata Ibu Gong Shim, Gong Shim hanya bisa mengangguk mengerti.
Ibunya memberitahu kakaknya akan segera pulang, menyuruh Gong Shim berganti pakaian dan segera makan. Gong Shim mengatakan akan pergi ke atap dan memeriksa tanaman. Tuan Gong teringat tanaman diatap, lalu bertanya apa yang terjadi dengan Dan Tae.
Ibunya juga heran Dan Tae yang tidak bisa dihubungi selama satu bulan, lalu menanyakan pada anaknya apakah mengetahui siapapun yang mengenalnya. Gong Shim hanya diam saja  lalu naik keatas melihat pintu rumah Dan Tae yang penuh dengan stiker, belum dilepaskan. Lalu bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. 

Lilin bertuliskan angka 52 ditaruh diatas kue, semua keluarga Gong termasuk Goo Nam menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tuan Gong mencoba meniup semua lilin tapi setelah itu terbatuk-batuk karena nafasnya sudah tak kuat. Ibu Gong Shim mengejek suaminya tidak bisa meniup lilin lagi.
Aku tidak memiliki kapasitas paru-paru yang cukup dan sudah mulai tua.” Kata Tuan Gong,
Tidak apa-apa.... Wajahmu belum berubah sejak kau berusia 20 tahun.” Komentar ibu Gong Shim menyindir. Gong Mi meminta ibunya untuk tak bercanda seperti itu pada ayahnya tapi harus bersikap baik kepadanya, karena hari ulang tahunnya.
Ketika aku pertama kali melihatmu saat aku masih muda, Kupikir kau kakek Shim.” Ucap Goo Nam
Goo Nam... Kenapa kau juga menjadi kejam?” jerit Gong Nim membela
Aku hanya bersikap jujur. Saat aku melihatnya bersama ibumu, kupikir dia adalah ayahnya.” Kata Goo Nam, Tuan Gong menyuruh Goo Nam segera pulang saja.
Goo Nam tersenyum memberikan tanda cinta dengan tanganya, Gong Mi memberikan amplop menurutnya uang adalah tetap yang terbaik sebagai hadiah. Tuan Gong pun mengucapkan terimakasih. Gong Shim memberikan setoples madu yang terbaik untuk nyeri lambung. Tuan Gong juga mengucapkan terimakasih. Goo Nam juga memberikan hadiah pakaian dalam.
Berapa tahun telah berlalu sejak kau memberiku pakaian tiap tahun” kata Tuan Gong
Aku juga sudah memberikan hadiah yang sama selama 10 tahun.” Ucap Ibu Gong Shim memberikan kecupan di pipi sebagai hadiah ulang tahun pada suaminya.
Semua terlihat malu melihatnya, tapi Tuan Gong menjerit bahagia jadi meminta terus beri hadiah yang sama selama 50 tahun lagi. Ibu Gong Shim merasa tak perlu mengkhawatirknya dan mereka pun mulai bersulang bersama-sama untuk kesehatan Tuan Gong. 

Gong Shim melirik ponselnya yang bergetar nama “Pengacara Mesum” yang terlihat dilayar. Ia pun pergi ke sudut ruangan yang sepi untuk mengangkat telpnya, seorang perawat memegang telp Dan Tae, memberitahu menelepon dari rumah sakit dan bertanya apakah Gong Shim mengenal seorang pria bernama Ahn Dan Tae, Gong Shim langsung berteriak kaget mendengarnya.
Dia pingsan di jalan dan sudah dipindahkan ke rumah sakit menggunakan ambulans.” Ucap perawat, Gong Shim makin panik dan kaget.
Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Gong Shim panik
Dia masih belum sadar. Kami membutuhkanmu untuk segera kesini.” Kata Perawat, Gong Shim mengerti dan  akan segera ke sana.

Gong Shim berlari keluar rumah, di rumah sakit perawat mengantungkan kantung infus dan Dan Tae masih tak sadarkan diri lalu dibawa keluar dari ruang UGD. Gong Shim yang baru datang panik melihatnya Dan Tae dibawa keluar dari ruang UGD.
Apa yang terjadi? Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Gong Shim panik
Dia sedang diperiksa sekarang, jadi tunggu di sini.” Kata Perawat
Dan Tae sudah di pindah ke rumah rawat, Gong Shim mengelap keringat yang ada di wajah Dan Tae. Dokter pun datang, Gong Shim langsung bertanya apa yang terjadi dan Kenapa Dan Tae bisa pingsan. Dokter berpikir Dan Tae itu pingsan karena tertekan.
Sepertiya dia sedang berada di bawah banyak tekanan dan kelelahan. Jika dia beristirahat dengan baik, dia akan baik-baik saja.” Kata Dokter, Gong Shim sempat kaget mendengar Dae Tae tertekan tapi  bisa sedikit lega karena Dan Tae akan baik-baik saja.
Kau harus mengisi beberapa formulir. Ikuti aku.” Kata perawat, Gong Shim menatap Dan Tae yang masih tertidur lalu keluar ruangan dengan perawat. 

Dan Tae terlihat tertidur mengingat ayahnya yang memberikan hadiah ulang tahun sebuah sepeda, Dan Tae hanya terdiam dan terlihat kebinggungan. Tuan Ahn pun menyuruh Dan Tae untuk segera memakai sepeda barunya.
Astaga, ini adalah model yang benar-benar mahal.... Ayah... Terima kasih banyak.... Aku sangat bahagia.” Ucap Dan Tae sambil mengayuh sepedanya.
Aku juga berterima kasih kepadamu.” Teriak Tuan Ahn nampak bahagia.
Dan Tae langsung terbangun dengan wajah kaget, lalu melihat sekeliling yang sudah berada dirumah sakit. Ia duduk diatas tempat tidur sambil bergumam “Ayah tidak membunuh Joon Pyo... Dia bukan pembunuh.” Lalu matanya melihat tas yang ada dikursi dan sangat mengenal kalau itu tas milik  Gong Shim.

Gong Shim selesai memberikan data pada bagian administasi, ketika masuk kamar matanya melotot kaget melihat Dan Tae yang sudah terbangun. Dan Tae melihat Gong Shim yang berlari dan terlihat panik menanyakan keadaanya. Gong Shim bertanya apakah Dan Tae masih mengenalinya. Dan Tae tersenyum melihatnya, Gong Shim pun berteriak memanggil Dokter.
“Gong Shim.... Dia baru saja mengunjungiku beberapa menit yang lalu.” Kata Dan Tae.
Aku mengerti. Apa yang dia katakan? Apa dia mengatakan kau baik-baik saja?” tanya Gong Shim panik, Dan Tae mengatakan kalau ia baik-baik saja. Gong Shim pun bisa mengucap syukur.
Kenapa kau ada di sini, Gong Shim? Bukankah seharusnya kau berada di Pulau Jeju?” tanya Dan Tae heran
Bukan itu yang harus kita bicarakan. Apa yang terjadi? Aku tidak bisa menghubungimu selama satu bulan Dan tiba-tiba, kau tidak sadar lalu berada di rumah sakit.” Ucap Gong Shim
Sesuatu yang sangat buruk terjadi pada ayahku. Tapi untungnya, itu semua sudah baik-baik saja sekarang.” Kata Dan Tae, Gong Shim kembali mengucap syukur.
“Gong Shim, bagaimana keadaan di Pulau Jeju?” tanya Dan Tae, Gong Shim sediki memikirkan lebih dulu.

Dan Tae, kau tahu sebuah lagu yang berjudul "Andante, Andante"? Kedengarannya persis seperti namamu. Apa kau tahu? Aku bisa mendengar lagu itu di semua tempat, dan aku hampir gila.” Cerita Gong Shim bersemangat lalu menyanyikan lagu Andante, Andante sambil menyanyi-nyanyi. Dan Tae tersenyum mendengarnya.
Ngomong-ngomong, apa kau ingat benih yang kau beri kepadaku pada hari ulang tahunku? Apa kau tahu kapan aku menyadari bahwa itu adalah biji bunga matahari? Segera setelah aku melihat caranya tumbuh, aku tahu itu bunga matahari. Bunga mataharinya mekar sepenuhnya. Apa kau menerima pesan yang kukirimkan kepadamu?” cerita Gong Shim, Dan Tae tersenyum mendengarnya.
Ada sebuah sekolah Haenyeo di Pulau Jeju. Aku berpikir untuk menjadi Haenyeo, tapi aku menyerah. Itu karena jika aku sekretaris, orang memanggilku Sekretaris Gong. Jadi orang akan memanggilku Haenyeo Gong jika aku menjadi Haenyeo. Tapi Haenyeo Gong tidak terdengar begitu bagus, kan?”ucap Gong Shim
Dan Tae berpura-pura terganggu kupingnya karena  bicara Gong Shim keras sekali. Gong Shim pun meminta maaf karena terlalu keras berbicaranya karena terlalu banyak bicara di depan pasien. Perawat memberitahu makanan untuk pasien datang, Gong Shim pun keluar ruangan untuk mengambilnya.
“Gong Shim, aku merindukanmu.” Gumam Dan Tae melihat Gong Shim yang ceria.

Gong Shim membawa nampan berisi makanan dan menaruh meja kecil diatas tempat tidur, lalu membuka penutup mangkuk yang terlihat sangat lezat, bahkan kimchinya matang dengan sangat baik dan Ada jangjorim juga, lalu menyuruh Dan Tae untuk segera makan. Dan Tae memberitahu  Karena merasa tidak enak badan, jadi tidak ingin makan apapun.
Apa maksudmu? Kau harus makan agar pulih.” Kata Gong Shim mengomel
Aku benar-benar sedang tidak ingin makan sekarang. Apa kau sudah makan, Gong Shim? Kalau belum, kenapa bukan kau saja yang makan?” ucap Dan Tae tetap menolak saat Gong Shim ingin membuka sendok.
Aku bukan seorang pasien, jadi tidak boleh memakan makanan pasien.” Ucap Gong Shim
Tidak masalah. kau harus makan” kata Dan Tae, Gong Shim menegaskan dirinya datang ke rumah sakit bukan untuk makan dan tidak mengerti orang yang memakan makanan untuk pasien.
Dan Tae mengangguk mengerti, Gong Shim bertanya apakah ia benar-benar tak ingin makan. Dan Tae mengangguk, tak ingin makan. Gong Shim pun menutup kembali dan ingin mengembalikan makanan pada perawat. Dan Tae bertanya apakah Gong Shim tak ingim memakanya, Gong Shim dengan kesal sudah mengatakan tak akan makan makanan pasien. 

Gong Shim baru selesai mengembalikan nampan, melihat Dan Tae yang keluar dengan wajah panik bertanya kenapa Dan Tae keluar kamar.  Dan Tae mangaku merasa pengap berada di dalam ruangan sepanjang hari,jadi ingin berjalan-jalan di luar. Gong Shim bertanya apakah Dan tae bisa berjalan, apakah membutuhkan bantuannya dengan memberikan lenganya.
Tiba-tiba Dan Tae menatap wajah Gong Shim yang menempel sisa nasi, Gong Shim bertanya kenapa menatapnya seperti itu. Dan Tae bertanya apakah rasanya enak. Gong Shim menutup mulutnya berpura-pura tak mengerti yang dibicarakan. Dan Tae mengodanya kalau Gong Shim itu memakan makananya. Gong Shim tetap menyangkalnya, tapi tiba-tiba mengeluarkan rasa kenyang dari mulutnya.

Dan Tae tersenyum lalu mengetahui Gong Shim sudah memakan makananya, Gong Shim mencoba menghilangkan baunya lalu mengaku hanya memakannya sedikit untuk mengetahui seperti apa rasanya. Dan Tae menyindir Gong Shim yang hanya makan sedikit sambil mengambil sisa nasi yang menempel kalau  Gong Shim tidak hanya mencicipinya tapi jelas-jelas menghabiskan semuanya dan menyentil bekas nasi Gong Shim jauh-jauh.
Gong Shim panik melihatnya, Dan Tae pun meminta Gong Shim mengaku saja kalau sudah memakan semuanya. Gong Shim pun mengakuinya dan meminta maaf. Dan Tae tersenyum menurutnya itu bagus, lalu mengeluh kenapa Gong Shim tidak makan saat menyuruh tadi di dalam ruangan. Gong Shim mengatakan mana mungkin bisa memakannnya saat Dan Tae sedang sakit. Dan Tae hanya tersenyum, Gong Shim pun mengajak Dan Tae untuk segera masuk ke dalam ruangan supaya bisa beristirahat.

Joon Soo menjamu para kolega bulenya dengan makanan yang sangat nikmat, lalu mengantarnya sampai ke depan restoran. Salah seorang bule  menatakan ini adalah makanan terbaik yang pernah dirasakanya, lalu berjabat tangan dengan Joon Soo kalau mereka menutup kesepakatannya besok pagi di kantor. Joon Soo mengangguk setuju.
Tuan Suk, kau kelas berat. Kau luar biasa.... Sampai jumpa besok.” Ucap pria bule lainnya lalu pamit pergi pada Joon Soo
Setelah keduanya pergi Joon Soo memegang tiang di depan restoran, Sekertarisnya melihatnya, menanyakan keadaanya berpikir terlalu banyak minum. Joon Ho mengatakan baik-baik saja.
Mereka menawarkan kepadamu begitu banyak minuman untuk membuat kesepakatan yang lebih baik.” Kata Sek Kim, Joon Soo hanya tersenyum lalu menyuruh Sek Kim untuk pulang saja dan masuk ke dalam mobilnya. 

Gong Shim tertidur sambil mendengkur di kursi, Dan Tae membuka matanya melihat Gong Shim yang tertidur pulas membuatnya kembali tersenyum, perlahan-lahan turun dari tempat tidurnya dan ingin menaruh selimut di badan Gong Shim. Tapi Gong Shim lebih dulu bangun, membuat Dan Tae mengurungkan niatnya. Gong Shim pun merapihkan wignya karena tak sengaja tertidur.
Kenapa kau berdiri, Dan Tae? Apa kau butuh sesuatu? Kau bisa memintanya kepadaku tanpa berdiri.” Kata Gong Shim panik
“Gong Shim, kau terlihat sangat lelah.. Kau harus pulang, ini sudah larut” ucap Dan Tae
Tidak, aku baik-baik saja, kau bisa Minta padaku jika membutuh sesuatu.” Kata Gong Shim menolak.
Dan Tae mengatakan kalau ia baik-baik saja, jadi meminta agar Gong Shim segera pulang saja. Gong Shim mengatakan kalau ia baik-baik saja.  Dan Tae merasa khawatir jadi meminta agar Gong Shim segera pulang saja. Gong Shim menyakinkan kalau ia ingin tetap tinggal dengan menaruh tas yang dibawa Dan Tae. Joon Soo datang mengetuk pintu, Dan Tae dan Gong Shim tersenyum melihat Joon Soo yang datang. 

Dan Tae. Apa yang terjadi? Aku tidak bisa menghubungimu, dan sekarang tiba-tiba kau ada di rumah sakit” kata Joon Soo khawatir
Aku menyesal semuanya menjadi seperti ini.” ucap Dan Tae
Terima kasih sudah menghubungiku, Gong Shim. Aku tidak bisa datang lebih awal karena harus makan bersama pelangganku.” Kata Joon Soo terlihat mulai mabuk
Gong Shim yang melihatnya menyuruh untuk duduk saja, Joon Soo membuka jasnya dan duduk di kursi yang di tarik oleh Gong Shim. Lalu Gong Shim akan membawakan minuman, Dan Tae ikut memilihkan minuman yang ada didalam kulkas. Tiba-tiba Joon Soo berteriak kalau membenci Joon Soo, Dan Tae dan Gong Shim binggung.
Apa kau baru saja mengatakan kau membenciku?” ucap Dan Tae binggung
Apa kau tahu betapa khawatirnya aku kepadamu? Aku menghubungimu berkali-kali, tapi kau tidak menjawab panggilanku.” Kata Joon Soo. Keduanya pun tersenyum.
Aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal seperti ini lagi. Mengerti?” ucap Joon Soo berdiri. Dan Tae menjawab mengerti, Gong Shim menahan tawa melihat tingkah Joon Soo saat mabuk.
Kenapa kau tertawa?” ucap Joon Soo kesal, lalu bertanya pada Dan Tae mengerti atau tidak. Dan Tae mengatakan kalau mengerti beberapa kal.
Aku benar-benar menyukaimu, Dan Tae, Aku akan mengawasimu seperti ini.  Senang bisa melihatmu, Dan Tae.” Kata Joon Soo dengan dua jari ke arah matanya dan mata Dan Tae.
Gong Shim dan Dan Tae menahan tawanya, Joon Soo lalu mengucapka terimakasih pada Gong Shim. Tiba-tiba badan Joon Soo tak bisa lagi menopang tubuhnya, Gong Shim pun memapah Joon Soo ke tempat tidur untuk penunggu pasien. Dan Tae bisa bernafas lega. Gong Shim kebingungan karena melihat Ada dua pasien di ruangan ini.
Aku lebih membencimu.” teriak Joon Soo lalu tertidur, Gong Shim kaget tiba-tiba Joon Soo meneriakinya.
Kurasa Direktur benar-benar mabuk.” Kata Gong Shim pada Dan Tae
Kupikir juga begitu. Tapi aku berterima kasih karena sudah datang kemari.” Kata Dan Tae lalu menyuruh Gong Shim pulang saja sekarang.
Ada dua pasien di ruangan ini. Bagaimana mungkin aku bisa pergi?” kata Gong Shim
Aku bisa merawatnya. Jadi kau bisa pulang sekarang. Aku bisa mengurus diriku sendiri, jadi sebaiknya kau pergi.” Kata Dan Tae menyakinkan, Gong Shim yang sudah menolak akhirnya keluar dari ruang rawat dan meminta agar segera menghubunginya kalau terjadi sesuatu. 


Pagi hari di rumah sakit
Joon Soo terbangun karena terjatuh dari tempat tidurnya, sambil merasakan kesakitan tersadar kalau ia berada dirumah sakit dan mengingat kejadian saat mabuk.
Aku akan mengawasimu seperti ini.” ucap Joon Soo dengan dua jari yang menunjuk ke arah Dan Tae dan dirinya.
Aku lebih membencimu.” Teriak Joon Soo pada Gong Shim
Joon Soo menyesal sendiri bisa melakukan itu. Dan Tae masuk kamar melihat Joon Soo yang sudah bangun. Joon Soo pun langsung berdiri menanyakan keadaanya dan apakah tidur dengan nyenyak semalam dan bertanya tempat tidurnya tidak nyaman.
Aku yang seharusnya bertanya. Bukankah tempat tidurnya tidak nyaman?” ejek Dan Tae
Aku terlalu mabuk kemarin. Aku tidak melakukan kesalahan apapun, kan?” kata Joon Soo pura-pura lupa
“Jadi kau tidak ingat apa-apa?” kata Dan Tae, Joon Soo mengatakan kalau ia tak mengingatnya.
Dan Tae mengatakan Joon Soo tidak membuat kesalahan. Joon Soo mengaku senangmengetahui bahwa sekarang Dan Tae sudah lebih baik, lalu pamit pergi karena harus kembali pergi berkerja. Dan Tae menahanya sebentar karena mengetahui Joon Soo yang datang bahkan dalam jadwal yang sibuk, dengan mengangkat tangan mengatakan “Aku membencimu.” Seperti yang dilakukan Joon Soo
Joon Soo meminta Dan Tae untuk melupakan, Dan Tae mengejeknya ternyata Joon Soo ingat semuanya. Joon Soo buru-buru pamit dan berpesan agar Dan Tae menjaga dirinya baik-baik, berjanji aka menemuinya nanti. 

Joon Soo dikagetkan dengan Gong Shim yang sudah ada didepanya, lalu berusaha untuk terlihat santai dengan bertanya apakah Gong Shim baru datang dari rumah. Gong Shim membenarkan, Joon Soo memuji Gong Shim yang baik sekali.
“Ah... Tidak apa-apa... Bagaimana dengan mabukmu?” tanya Gong Shim, Joon Soo mengaku sudah baikan.
Aku terlalu mabuk tadi malam, Aku minta maaf.” Ucap Joon Soo, Gong Shim mengejeknya dengan dua jarinya yang mengarakan pada mata Jooon Soo dan dirinya, Joon Soo terlihat malu. Gong Shim lalu mempersilahkan untuk pergi karena harus kembali berkerja.
“Ah.. yah.. Apakah Dan Tae sudah memberitahu kau tentang apa yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini?” tanya Joon Soo penasaran.
Ya, aku tidak tahu rinciannya, tapi sesuatu pasti telah terjadi di rumah. Dia mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja sekarang dan kita tidak perlu khawatir.” Ucap Gong Shim, Joon Soo pun mengaku lega mendengarnya.
Ya, Semoga harimu menyenangkan di tempat kerja.” Ucap Gong Shim sopan, Joon Soo pun menyuruh Gong Shim segera masuk saja. 

Gong Shim membantu melipat baju rumah sakit Dan Tae, lalu setelah melihat semuanya sudah rapih, merasa mereka bisa langsung pergi sekarang. Dan Tae menatap Gong Shim lalu mengucapkan terimakasih dan berjanji akan membalasnya nanti. Gong Shim pikir tak masalah, berpesan agar Dan tae makan makanan sehat, dan istirahat dengan baik.
Apa kau akan makan apapun seperti yang kau lakukan kemarin?” ejek Dan Tae
“Astaga..  Kau bersikap keras kepadaku hanya karena aku satu kali memakan makananmu.” Keluh Gong Shim
Dan Tae tersenyum menatap Gong Shim yang terlihat malu-malu, Gong Shim pun mengajak Dan Tae untuk segera keluar dari rumah sakit. 

Sesampai ditaman, Dan Tae menyuruh Gong Shim harus pulang duluan. Gong Shim bertanya apakah Dan Taetidak akan pulang ke rumah, karena seharusnya beristirahat walaupun sudah diperbolehkan pulang. Dan Tae memberitahu aka mampir ke kantornya dulu, dan Gong Shim tak perlu mengkhawatirkanya jadi lebih baik pulang saja.
Kau belum sepenuhnya pulih, jadi jangan terlalu larut pulang kerumah. Aku akan mengawasimu. Mengerti?” ucap Gong Shim mengikuti gaya Joon Soo, Dan Tae mengatakan kalau ia mengerti lalu menyuruh Gong Shim untuk segera pulang. Gong Shim pun berjalan pulang, Dan Tae pun menatap kepergiaan Gong Shim dengan tatapan sedih.  

Dan Tae kembali ke kantor dengan tatapan dingin, Ji Won sedang memeriksa berkas kaget melihat Dan Tae dan bertanya Apa yang terjadi dan Kemana saja selama sebulan, dengan melihat keadaan tubuh Dan Tae dari atas ke bawah menanyakan keadaanya. Dan Tae mengatakan ia baik –baik saja.
Kau baru saja meninggalkan pesan yang mengatakan aku tidak perlu khawatir tentangmu. Kau tidak menjawab teleponku atau membalas pesan teksku. Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku padamu? Ahn Dan Tae. Kenapa kau melakukan itu?” ucap Ji Won benar-benar khawatir
Bibi Ji Won.... Aku tahu... bahwa aku bukan Ahn Dan Tae.” Ucap Dan Tae yang membuat Ji Won mundur dengan lemas, tanganya bergetar.
Ahn Dan Tae yang sebenarnya tenggelam saat dia berusia lima tahun. Aku sudah ke Bukseong-dong. Aku pergi ke tempat ibu, ayah, kau dan Dan Tae yang sudah mati pernah tinggal. Kau pernah tinggal di sebuah rumah di samping studio foto Dan Dan Tae dimakamkan... di bawah pohon di Yangpyeong.” Ucap Dan Tae, mulut Ji Won kaku dan hanya bisa menangis.

Apa Ayah... menculikku?” ucap Dan Tae dengan tatapan curiga, Ji Won mengelengkan kepala kalau Tuan Ahn menculiknya dan  Bukan itu yang terjadi.
Lalu apa? Kenapa aku hidup sebagai Dan Tae? Kenapa aku hidup sebagai Dan Tae jika aku bukan dia?”teriak Dan Tae 
Flash Back
Terlihat wanita yang tak waras hanya menatap ke arah langit-langit rumahnya. Ji Won yang masih muda mencoba menyuapi kakaknya tapi sang kakak hanya diam saja.
Kakak perempuanku, Ibu dari Dan Tae, menjadi gila setelah melihat anaknya tenggelam.Dia tidak bergerak, hanya duduk di sana menatap ke langit-langit. Dia bahkan tidak makan apapun dan tidak berbicara.
Tuan Ahn pulang dengan Joon Pyo yang terlihat linglung tanpa mengingat apapun, seperti shock melihat ibunya yang tertabrak mobil didepanya.

Tiga hari... setelah kematian Dan Tae, kakakku mencoba untuk bunuh diri dua kali. Dia benar-benar sudah gila. Tapi suatu hari, Soo Yong... membawa pulang anak laki-laki.
Ibu Dan Tae yang melihat Joon Pyo pulang langsung mengucap syukur kalau anaknya sduah kembali dan langsung memeluknya, Tuan Ahn dan adik iparnya tak bisa berbuat apaa-apa.
Kakakku...percaya bahwa anak laki-laki yang datang bersama Soo Yong adalah Dan Tae. Dia sangat bahagia dan merawatmu dengan baik.
Ibu Dan Tae menyuapi Joon Pyo dengan wajah bahagia, tak terlihat seperti orang yang hilang ingatan. Tuan Ahn dan adik iparnya hanya bisa menatap sedih. 

Ji Won menceritakan kakaknya yang mulai membesarkan Joon Pyo, setelah Satu hari berlalu, satu bulan berlalu, satu tahun berlalu dan kemudian, 10 tahun berlalu. Joon Pyo tak pernah berbicara dari pertama kali datang, tapi setelah itu Joon Pyo mulai berbicara dan tersenyum, serta bersikap normal kembali.
Bibi Ji Won.... Apa ayah yang menculikku?” tanya Dan Tae dengan mata berkaca-kaca.
Tidak, Dan Tae.... Itu tidak mungkin. Seseorang muncul dan meminta Soo Yong untuk mengurusmu selama satu hari Itu sebabnya dia membawamu pulang.” Jelas Ji Won sambil menangis.
Soo Yong mendengar bahwa orang itu mencoba untuk meninggalkan atau membunuhmu Kami pikir sesuatu yang buruk akan terjadi padamu jika kau kembali kepadanya. Maka dari itu kami harus meninggalkan rumah di tengah malam.” Cerita Ji Won mengingat saat itu seluruh keluarganya keluar rumah.
Siapa orang yang meminta ayah menjagaku?” tanya Dan Tae
Aku tidak tahu siapa dia. Soo Yong tidak pernah mengatakan apapun tentang hal itu. Inilah yang sebenarnya, Dan Tae. Baru-baru ini, ayahmu... berencana untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku mengatakan kepadanya untuk tidak melakukannya. Aku takut, kami akan menjadi penjahat dan kehilanganmu. Aku minta maaf... Dan Tae.” Ucap Ji Won sudah terlanjur sayang pada keponakanya lalu berlari keluar ruangan. 

Dan Tae menghapus air matanya, setelah mengetahui tentang cerita dirinya. Ji Won menangis di tangga depan kantor. Dan Tae berjalan mendekati Ji Won duduk disampingnya, sambil memeluk pundaknya.
Bibi Ji Won.... Kau akan selalu menjadi bibiku. Kau akan melakukannya untukku, kan? Terima kasih banyak sudah membesarkanku dengan baik.” Kata Dan Tae
Bibi Ji Won... Bantu aku agar aku bisa bertemu ayah... Aku ingin menemuinya.” Kata Dan Tae, Jin Woo mengangguk mengerti sambil menghapus air mata keponakanya. Dan Tae mengajak bibinya untuk kembali ke kantornya. 

Gong Shim menerima dua buah kotak paket untuknya, salah satunya mengeluarkan pot bunga matahari kesayanganya, mengatakan kalau potnya itu kembali dengan selamat dari Pulau Jeju.
Jangan sampai sakit Dan jangan membuatku khawatir tentangmu. Kuharap kau tumbuh dengan baik.” Ucap Gong Shim pada bunga mataharinya.
Gong Shim lalu menaruh pot bunganya diatap rumah, lalu mengomel Dan Tae belum datang padahal sdah menyuruhnya untuk pulang lebih awal, sambil menghela nafas karena Dan Tae benar-benar tidak mendengarkan apa yang dikatakan.
Akhirnya Gong Shim ke dapur, memotong jamur, labu lalu membuat sup kedelai dan juga mengoreng ikan dengan senyuman bahagia. Setelah itu sibuk di atas meja dengan pensil warnanya, mengambar dirinya yang sedang memasak dan meja penuh dengan makanan, dan mengucapkan kalau sudah selesai. 

Dan Tae berjalan di trotoar dan lalu tiba-tiba berhenti berjalan, dengan orang yang lalu lalang disekitar tapi dirinya seperti merasakan sangat hampa karena hidup hanya sendirian saja. Lalu ia pulang kerumah melihat meja yang penuh makanan di tutup dengan tudung saji.
Ia duduk membuka tudung sajinya, melihat ada selembar kertas didekatnya. Lembaran pertama terlihat gambar Gong Shim seperti marah dengan gigi taring yang keluar Aku mengatakan kepadamu untuk pulang lebih awal, kan?
Lalu di lembaran kedua, Gong Shim yang memasak dengan pengorengan untuk menyiapkan makanan Aku meninggalkan makanan karena sudah larut.Mata Dan Tae berkaca-kaca membacanya. Dilembaran terakhir, Gong Shim membawakan beberapa jenis obat Jangan lupa untuk minum obat. Dan Tae langsung menangis ternyata masih ada orang yang memberikan perhatian padanya.
bersambung ke episode 10 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

4 komentar:

  1. Kakak tolong donk, kakak yang buat episode 10 nya.

    BalasHapus
  2. Episode 10 nya ya mba!... udah g sabar nunggu. Makasih sebelumnya ;)

    BalasHapus
  3. Episode 10 nya ya mba!... udah g sabar nunggu. Makasih sebelumnya ;)

    BalasHapus
  4. bolak balik nungguin, gak sabar kelanjutannya...

    BalasHapus