PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 04 Maret 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
EPISODE 4: RUMAH TUAKU DI DALAM MIMPI
Hye Won berusaha keras untuk keluar dari hutan dengan wajah ketakutan, tiba-tiba menabrak. Ia menjerit ketakutan tapi  ternyata yang datang adalah Eun Seob. Eun Seob bertanya sedang apa Hye Won dalam hutan. Hye Won langsung memeluk Eun Seob.
“Maafkan aku... Aku sangat takut dan mengira aku tersesat.” Ucap Hye Won akhirnya melepaskan pelukan Eun Seob.
“Dingin, 'kan? Ayo turun.” Ucap Eun Seob. Hye Won melihat Eun Seob pergi menahanya. Eun Seob melihat Hye Won yang ketakutan. 

Akhirnya Eun seob memegang lengan tengan Hye Won lalu membantunya berjalan menuruni gunung. Keduanya pun sampai ke dalam rumah, Hye Won terlihat gugup. Eun Seob pun menyuruh Hye Won untuk naik ke atas lebih dulu.
Akhirnya Eun Seob menyeduh teh untuk Hye Won lalu memberikanya. Hye Won pun menikmati Teh hijau lalu mulai bicara kalau  Ketika masih kecil,.. ibunya kadang meninggalkannya sendirian di rumah.
“Ada hari saat terbangun dan ibu sudah tak ada di rumah. Dan pada hari seperti itu, sepanjang hari aku merasa cemas karena beberapa alasan aneh. Aku pikir ibuku mungkin tak akan pulang.”
Hye Won terbangun dari tidurnya memanggil ibunya, lalu mencari keluar dari kamar menuruni tangga dan tak melihat di ruang tengah. Ia memasuk ke kamar tak melihat ibunya, lalu mencari di kamar mandi dan tempat cuci pakaian, tak ada ibunya di rumah. 


“Saat kucari kau tadi, perasaanku persis sama.” Akui Hye Won. Eun Seob pikir  Namun, tak aman untuk pergi ke gunung pada malam hari.
“Aku hanya akan sampai pintu masuk lalu kembali.” kata Hye Won. Eun Seob memberitahu  Di gunung mudah tersesat, meskipun hanya berjalan beberapa menit ke hutan.
“Kau Habiskan tehmu dan tidur.” Ucap Eun Seob yang terlihat dingin.
“Bagaimana denganmu? Kenapa tak takut pergi ke hutan pada malam hari? Apa Kau bisa lihat jalannya?” tanya Hye Won heran.
“Aku mengenal tempat itu.. Aku sangat mengenal. Tapi itu tak berlaku untukmu, jadi jangan pergi ke hutan sendirian pada malam hari.” Kata Eun Seob.
Eun Seob akhirnya masuk ke dalam kamar menatap kearah jendela bunyi lonceng dan juga salju mulai turun. 

Spanduk terbentang lebar “SESI INFORMASI UNTUK SISWA BARU 2020” Hwi mengayuh sepedanya lalu dan melihat Young Soo didepanya lalu mencoba mengendap-ngendap dari belakang. Hyun Ji datang menyapa temanya. Hwi mengeluh dengan temanya yang menghentikan jalanya. Lalu bertanya ada apa.
“Ada informasi baru soal Kim Young Soo.” Ucap Hyun Ji. Hwi pun ingin tahu berapa banyak.
“Apa? Tak ada uang.” Keluh Hyun Ji. Hwi pun mengeluarkan dompetnya. Hyun Ji melihat kalau Hwi yang mencuri dompet ayahnya lagi
“Tidak, ini milik kakak-ku.” Kata Hwi lalu memberikan uang pada Hyun Ji meminta informasi apa untuknya.
“Young Soo suka buku.”kata Hyun Ji. Hwi melonggo, Hyun Ji dengan santai merasa tak ada yang salah dengan infonya. 
 “Apa kau bercanda? "Kenapa?" "Dia makan tiga kali sehari." Apa Perkataan itu juga dianggap sebagai "informasi"? Hei, dia murid pintar. Tentu saja, dia suka buku! Ayo Kembalikan uangku.” Kata Hwi kesal
“Bukan, maksudku novel... Dia suka novel. Kudengar hanya itu yang dia baca. Dan dia ingin menjadi novelis.” Jelas Hyun Ji
“Novel? Apa Seperti cerita aneh yang ditulis kakak-ku?” tanya Hwi . Hyun Ji membenarkan.
“Hei, Apa hanya itu? Apa Kau temukan sesuatu yang lain?” tanya Hwi. Hyun Ji berjalan pergi. Saat itu Hwi melihat sebuah foto terjatuh ada seorang anak dan ayahnya. 


Hye Won berjalan keluar kamar terlihat gugup lalu memastikan kalau Eun Seob belum keluar. Tapi saat akan masuk kamar, Eun Seob baru keluar kamar. Hye Won pun kaget menyapa Hye Won bertanya apakah  sudah bangun. Eun Seob mengangguk lalu menyapa Hye Won yang baru bangun. “Aku harus pergi ke pusat kota hari ini.” Ucap Eun Seob. Hye Won pun ingin tahu kenapa.
“Aku harus Mencuci baju. Tak ada mesin cuci di sini. Aku biasanya melakukannya di rumah orang tuaku, tapi ada barangmu juga, jadi... Apa Kau ingin ikut?” ucap Eun Seob gugup. Hye Won pun menganguk mengerti lalu memilih untuk mandi. 

Keduanya pun menaiki mobil, Hye Won bertanya apakah Eun Seob   tak harus pergi ke arena seluncur hari ini. Eun Seob memberitahu kalau Ayahnya ada janji dengan teman-temannya hari ini dan besok, jadi, ditutup selama dua hari.
“Baguslah.. Tapi Eun Seop... Kau bilang Irene adalah Hwi, 'kan?” ucap Hye Won mulai membahas melihat gantungan di mobil Eun Seob. Eun Seob mulai gugup.
“Tapi saat kau mabuk, kenapa kau bilang, "Aku senang kau kembali, Irene"? Hei... Eun Seob, kau dengar?” ucap Hye Won melihat Eun Seob seperti melamun. Eun Seob terlihat gugup dan bingung menjelaskanya.
“Apa Hwi pergi?” tanya Hye Won. Eun Seob membenarkan. Hye Won ingin tahu kemana. Eun Seob bingung menjawabnya.
“Tidak... Terdengar seperti kau sedang bicara dengan pacarmu.” Goda Hye Won. Eun Seob berpura-pura tak tahu lalu mencari alasan.
“Aku yakin bukan Hwi... Ayolah..” kata Hye Won saat itu Eun Seob harus menerima telp. 


Didepan CHOWON BIG EDUCATION, Bo Yeong keluar dari gedung dan melihat Hye Won dengan Eun Soeb dalam mobil sedang parkir di pinggir jalan.  Hye Won menuruni mobil kembali bertanya ke mana Hwi pergi saat bepergian, apakah Berkemah.
Eun Seob tak menjawab memilih untuk masuk ke tempat Laundry. Hye Won terdiam melihat Bo Yeong yang menatapnya dari kejauhan.  Bo Yeong pun hanya bisa memanggil Mok Hye Won.

Jang Woo sedang mendaki gunung dengan rekan kerjanya, kepala bidang meminta agar merkea pegang spanduk lebih tinggi. Jang Woo pun menaikan sepanduk dan mereka pun mengambil foto bersama dengan senyuman sumringah dengan berkatak "Hyecheon".
“Upacara pembukaan tahun 2020, selesai! Mari istirahat di sini sebelum mulai kembali.” ucap Ketua pada anggotanya.
“Mari gulung spanduk. Aku akan membawanya.” Kata Jang Woo dengan rekanya. Keduanya pun mengulung spanduk bersama.
“Astaga, turun juga akan butuh waktu. Upacara pembukaan tahun ini mendaki gunung.” Kata Jang Woo
“Aku membeli sepatu hiking ini. sebelum upacara pembukaan pertamaku di pegunungan. Aku tak percaya sudah menggunakannya selama lima tahun.” Komentar teman Jang Woo.
“Aku membeli barangku tahun ini. Tampaknya kita akan terus melakukan ini.” Ucap Jang Woo
“Menurutku bukan ide buruk tahun depan pun mendaki gunung. Bayangkan kau lakukan semua olahragamu sepanjang tahun dalam satu hari.” Ucap seorang nenek
“Ini bukan olahragamu yang kuinginkan.” Ucap Jang Woo. Tapi si nenek memberikan semangat pada dua anak muda. 


Beberapa bibi yang ada ditempat peristirahatan terlihat sedang berjualan. Si nenek menghampirinya lalu melihat seorang wanita dengan wajah pucat bertanya apakah tak dingin. Si wanita mengaku tak dingin dan hanya  flu tapi sekarang sudah baikan.
“Aku akan minum obat saat turun, tak apa.” Ucap si wanita. Nenek itu melihat sepatu yang digunakan wanita itu sepatu biasa.
“Benar. Kakimu pasti kedinginan.” Kata Teman  Jang Woo. Si wanita mengaku kakinya baik-baik saja jadi meminta agar Jangan khawatir.
“Hati-hati jangan sampai terkena radang dingin.” Kata Jang Woo. Si wanita menganguk mengerti.
“Beli sepasang sepatu hiking saat mendapatkan gaji pertamamu. Itu investasi yang bagus. Kau akan menggunakannya untuk sementara waktu. Akan berguna untuk waktu yang lama.” Pesan si nenek. Si wanita menganguk mengerti.
“Ayo cepat turun... Aku tak sabar minum anggur beras dan pancake bawang hijau.” Kata ketua. Mereka pun mulai turun.
Jang Woo sempat melihat si wanita itu untuk turun membantu bibi yang menutup jualanya. Si wanita akhirnya ikut turun dibelakang dan Jang Woo pun turun lebih dulu. 

Hye Won dan Bo Yeong akhirnya bertemu dicafe. Bo Yeong membelikan minum memberikan pada Hye Won tapi karena gugup membuatnya sedikit tumpah. Ia memanggil pelayan tapi pelayan seperti sibuk, Hye Won pun tak peduli tak mau menatap Bo Yeong.
“Dalam perjalanan keluar dari kampus, aku melihat mobil Eun Seob” ucap Bo Yeon.
“Jadi, kau mengikutiku?” kata Hye Won menyindir. Bo Yeong membenarkan
“Hye Won... Itu kesalahpahaman.” Ucap Bo Yeong. Hye Won mengaku   tahu itu yang dikatakan Bo Yeong pada semua orang.
“Itu... Katakan padaku apa yang terjadi selanjutnya. Kenapa itu adalah kesalahpahaman?” ucap Hye Won. Bo Yeong menyakinkan kalau Hye Won sudah salah paham.

Flash Back
Joo Hee dan Bo Yeong berjalan untuk membuang sampah. Joo Hee tahu akalu Bo Yeong itu dekat dengan Hye Won, Bo Yeong membenarkan. Jo Hee pikir Bo Yeong itu tahu alasan Hye Won dia tinggal sendirian di sini.
“Apa itu benar? Apa dia dipindahkan ke sini karena punya masalah?” kata Joo Hee. Bo Yeong kaget mendengarnya.
“Kudengar dia hamil.” Ucap Jo Hee. Bo Yeong menegaskan kalau itu tak benar. 

“Tidak. Kudengar dari seorang anak yang bersekolah di sekolah lamanya.” Kata Jo Hee mengikuti Bo Yeong sampai ke depan tempat sampah.
“Itu Tak benar.” Tegas Bo Yeong. Jo Hee pun ingin tahu apakah memang benar.
“Bukan itu sebabnya dia pindah ke sini.” Tegas Bo Yeong. Joo Hee pun ingin Bo Yeong memberitahu apa alasanya.
“Tampaknya kau tak sedekat itu dengan Hae Won.” Sindir Jo Hee. Bo Yeong hanya diam saja seperti serba salah. 

Di sekolah akhirnya Joo Hee langsung menyebarkan gosip kalau  Ibu Hye Wonmembunuh seseorang dan Ibu Hye Won adalah seorang pembunuh, Mereka pun tak percaya. Beberapa orang mulai menuliskan pesan berantai dengan tulisan “Ibu Hae Won membunuh seseorang.”
Hye Won pun akhirnya mendengar tiga orang temanya membahas tentang ibunya di dalam lab kalau ibunya pembunuh dan tahu dari Bo Yeong. 

Bo Yeong mengaku  hanya beri tahu Joo Hee dan tak beri tahu orang lain. Ia mengaku tak punya pilihan karena Jo Hee menyebarkan desas-desus mengerikan dan Juga, dia berjanji tak akan pernah memberitahu orang lain.
Hye Won mengingat Bo Yeong yang mengatakan “Aku berjanji untuk tak beri tahu siapa pun. Kepada siapa pun.” Dan mereka sudah melingkarkan jarinya.
“Kau pun berjanji tak memberitahu siapa pun.” Sindir Hye Won. Bo Yeong pun mengaku mempercayai Joo Hee.
“Dan aku memercayaimu.” Kata Hye Won. Bo Yeong membela diri kalau Jo Hee yang menyebarkan rumor tentang Hye Won.
“Jadi, kau harus memberitahunya, demi kebaikanku? Terima kasih, Bo Yeong... Tapi akan lebih baik jika seperti itu.” Kata Hye Won. Bo Yeong kaget.
“Aku pikir akan lebih baik jika seperti itu.”ucap Hye Won. Bo Yeong binggung apa maksudnya.
“Joo Hee menyebarkan gosip tentangku. Bagaimana mungkin bisa lebih baik? Anak-anak kira, kau hamil.” Kata Bo Yeong
“Setidaknya itu tak benar. Gossi Itu tak benar. Jadi, tak peduli berapa banyak anak-anak akan mengolok-olokku untuk itu, tak akan menggangguku. Tapi...” kata Hye Won mengingat kenangan buruk di sekolah. 


Flash Back
Hye Won berjalan di lorong sekolah dan mendengar banyak anak murid membahas tentang ibunya “Ibu anak itu membunuh suaminya. Ibunya adalah seorang pembunuh. Aku takut”
“Tapi mengenai ibuku adalah hal yang benar. Jadi, aku tak akan pernah baik-baik saja.” Ucap Hye Won lalu pamit pergi dan mengucapkan terimakasih kopinya pada Bo Yeong. 

Bo Yeong berlari keluar cafe memanggil Hye Won ingin tahu kelanjutanya. Hye Won heran Bo Yeong yang mengatakan hal itu. Bo Yeog ingin tahu apakah Hye Won masih tak bisa memaafkannya karena menurutnya  itu bukan sepenuhnya salahnya.
“Bagaimana bisa kau... Aku hanya melakukan satu kesalahan. Bagaimana bisa kau...” ucap Bo Yeong tak terima.
“Bo Yeong, kau selalu pandai menjadi korban di depan orang,. dan kau masih sama.” Ucap Hye Won. Bo Yeong berteriak memanggil Hye Won.
Eun Seob baru saja keluar dari laundry, meminta agar menelpnya kalau pakaiannya sudah selesai. Paman pemilik Laundry menyuruh Eun Seob makan dulu. Eun Seob pikir bisa lain kali. Paman pun meminta agar menitip salam buat keluarganya.
“Selagi berada di kota,...bagaimana kalau...” ucap Eun Seob masuk ke dalam mobil
“Aku tak mau menjumpai bibiku.” Kata Hye Won. Eun Seob pun menganguk mengerti.
“Eun Seop... Apa aku bisa beli obat sakit kepala?” kata Hye Won. Eun Seob menganguk mengerti lalu mengemudikan mobilnya. 


Hye Won pergi ke apotik meminta pada ibu Hyun Ji untuk memberikan obat sakit kepala yang kuat. Bibi Hyun Ji tak percaya mendengarnya kalau Bibi Sim juga barusan membelinya. Hye Won kaget kalau bibinya baru membeli obat sakit kepala
“Kalian berdua dapat berbagi jika kau mau.” Ucap Ibu Hyun Ji. Tiba-tiba Bibi Sim kembali masuk ke apotik.
“Beli salep infeksi jamur juga.” Ucap Bibi Sim. Hye Won bertanya apakah bibinya infeksi jamur
“Di mana kau akan mengoleskannya?” tanya ibu Hyun Ji. Bibi Sim menjawab  Di kuku kaki
“Apa kau infeksi jamur?” tanya Hye Won kesal. Bibi Sim heran melihat Hye Won yang tiba-tiba kesal
“Jawab saja, apa kau infeksi jamur?” tanya Hye Won. Bibi Sim mengaku tidak.
“Lalu, untuk apa salep itu?” tanya Hye Won dengan nada tinggi. Bibi Sim kesal Hye Won yang berteriak dan sudah gila.
“Ini untuk Su Jeong... Apa kau puas?” ucap Bibi Sim. Ibu Hyun Ji pun mengeluh pada keduanya yang adu mulut di tempat kerjanya. 


Hwi mengayuh sepedanya melihat mobil kakaknya langsung mengedor dan meminta agar menurunkan jendelanya. Eun Seob menurunkan jendela, Hwi langsung meminta kakaknya memberikan uang karena Sudah bertahun-tahun tak memberikan uang.
“Aku tahu kau lakukan itu agar tak memberiku uang.” Keluh Hwi melihat kakaknya yang mengangkat telp.
“Hei, Jang Woo.”ucap Eun Seob. Hwi langsung berteriak pada Jang Woo agar meminta uang.
“Eun Seob, masalah besar.” Kata Jang Woo. Wajah Eun Seob langsung berubah tegang dan bertanya keberadaan Jang Woo sekarang.

Tuan Baek masuk apotik bertanya penghangat tangan, dan meminta untuuk membeli seratus menatap kearah Bibi Sim dan Hye Won yang terlihat tegang. Ibu Hyun Ji mengeluh Tuan Bae itu Untuk apa kau butuh seratus penghangat tangan
“Hei.. Apa Kau tak dengar? Sekarang kacau balau. Seseorang hilang di gunung.. Seluruh kota penuh.” Teriak Tuan Bae. Semua kaget kalau Seseorang hilang. Bibi Sim ingin tahu siapa.
“Kudengar, dia adalah pemula yang bekerja di balai kota.” Kata Tuan Bae. Bibi Sim menyebut namanya Choi Min Jung. Tuan Bae membenarkan.
“Apa Kau kenal?” tanya Tuan Baek. Ibu Hyun Ji memberitahu kalau   dia adalah Putri ketiga dari rumah beratap merah.
“Bukankah dia orang yang lulus ujian tingkat sembilan dan mulai bekerja di balai kota?” kata Tuan Bae
“Ibunya sangat senang dia menjadi PNS.” Kata Ibu Hyun Ji. Bibi Sim kaget kalau Min Jung hilang digunung. Tuan Bae pun panik
Saat itu Hwi datang melihat semua sedang berkumpul lalu memberitahu kalau keadaan darurat karena Rekan Jang Woo hilang di gunung.Tuan Bae memberitahu Itu yang dikatakan kepada mereka.


Polisi dan ambulance akhirnya datang di dekat gunung, mereka saling berembuk kalau seseorang hilang jadi akan tim pencarian. Beberapa pendaki yang turun memberitahu kalau merkea. mengambil istirahat selama turun.
“Terakhir kali melihatnya di dekat dinding batu. Dia tak turun bersama kami.” Ucap Ketua Pendaki lainya.  Jang Woo dipanggil oleh ketuanya.  
“Aku bertanya kepada semua orang, dan sesudah istirahat di dekat dinding batu, tak ada yang melihatnya kembali. Tak ada yang turun bersamanya, dan terakhir kali kami melihatnya adalah saat istirahat.” Jelas Jang Woo. 

Saat itu Eun Seob datang dengan mobilnya sendirian, Jang Woo memberitahu pada tim kalau sudah sekitar 40 menit sejak mulai turun. Dan mereka mengetahui sesudah turun kalau Ada seorang wanita yang hilang di gunung. Eun Seob pun memanggil Jang Woo.
“Eun Seob.. Kami masih belum menemukannya... Kami memanggil polisi, paramedis, dan bahkan pemadam kebakaran, tapi masih belum menemukannya.” Ucap Jang Woo
“Kapan terakhir kali kau melihatnya? Bukankah kau turun bersamanya dari puncak?” ucap Eun Seob. Jang Woo membenarkan lalu merasakan sesuatu. 
Flash Back
Ketua pendaki berjalan paling depan lalu  memberitahu kalau mereka hampir sampai dan Sekitar 40 menit tersisa jadi mereka harus berjalan cepat. Pendaki lain mengeluh kalau sangat lelah dan bertanya akan dibelikan apa saat turun.
“Sudah kubilang aku beli anggur beras dan pancake bawang hijau. Ayo pergi karaoke sesudahnya. Jang Woo, bagaimana?” ucap  Ketua. Jang Woo terlihat gelisah.

“Aku dengar Min Jung adalah penyanyi yang hebat.” Kata Pendaki lain. Mereka pun harus mendengarnya bernyanyi.
“Ji Hyun.. Apa kau tahu di mana Min Jung?” tanya Jang Woo tak melihatnya. Jin yuk pikir kalau Min Jung tertinggal.
“Apa Kau melihat Min Jung?” tanya Jang Woo. Pendaki lainya mengelengkan kepala.
“Kelihatannya dia sedang beristirahat di belakang, katanya dia kedinginan. Dia mungkin ada di belakang.” Kata pendaki dibagian belakang. Jang Woo pun menatap ke belakang tapi tak menemukan Min Jung. 

Jang Woo pikir Min Jung hilang sekitar 40 menit sebelum melanjutkan turun. Eun Seob mnegertikan itu sedikit melewati tengah gunung. Jang Woo tahu Min Jung terakhir terlihat duduk di atas batu dan beristirahat.
“Ada kemungkinan besar dia tertinggal dan tersesat. Gunung ini memiliki banyak titik penyelamatan,. jadi, akan mudah menemukannya jika dia berteriak.” Kata Eun Seob.
Jang Woo mengingat saat diatas Min Jung mengunakan sepatu biasa dan mengaku baik-baik saja, seperti menahan dingin dan juga batuk. Eun Seob pikir Tidak ada kesempatan begitu gelap karena suhu turun drastis di gunung.
“Tapi Eun Seop, matahari sudah mulai terbenam.” Ucap Jang Woo khawatir. Eun Seob pun melihat matahari yang mulai tenggelam. 

Semua petugas berteriak memanggil Min Jung ditengah gelapnya hutan,  Polisi pun melaporkan kalau Min Jung belum ditemukan jadi harus menlanjutkan pencarian. Bibi Choi akhirnya datang dengan Bibi Sim dan juga Hye Won.
Bibi Choi bergegas memberikan makanan untuk para orang-orang yang sedang mencari Min Jung . Sementara Hye Won dan Bibi Sim hanya melihat dari kejauhan.
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar