PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 13 Maret 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



Di ruangan ICU, terlihat pasein yang kehilangan detak jantungnya lalu  dua dokter ingin tahu berapa norepinefrin yang diberikan. Sementara di ruangan ICU sampingnya, Song Hwa dengan tenang memeriksa pasienya, setelah itu keluar ruangan dan melihat seorang ibu yan hanya bisa menatap anaknya dari luar ruangan tanpa bisa masu.
“Putraku sedang menunggu transplantasi hati.” Ucap ibu pasien bertemu Song Hwa di dalam lift.
“Oh Begitu. Pantas aku merasa sering melihatmu.” Ucap Song Hwa.
“Dia bolak-balik rumah sakit selama enam bulan serasa sudah tinggal di sini.  Tiga hari lalu, kondisinya mulai memburuk. Putraku... Mungkin harus kurelakan.” Kata Ibu pasien seperti pasrah.
“Jangan begitu... Bu, dia bisa sembuh.”  Ucap Song Hwa. Ibu pasien mengaku terlalu fokus pada putranya sampai tak tahu ibunya sakit dan merasa kalau semua adalah salahnya.
“Kondisi putramu seperti itu. Ibu mana yang tak akan fokus padanya? Tak satu pun bisa menyalahkanmu.” Ucap Song Hwa.
Saat itu pesan masuk ke ponsel sang ibu pasien [KAU SUDAH BUATKAN MAKAN MALAM UNTUK IBUKU? CEPAT PULANG!] Ia pu mengeluah nafas bertanya pada Song HwaApa di dunia ini ada wanita lain semalang dirinya.
“Aku menikah sudah 40 tahun, dan suamiku menguras habis uang yang tersisa di rumah untuk berbisnis. Aku hidup karena putraku satu-satunya yang sangat baik. Aku merasa ibu dan putraku sakit karena aku pembawa sial.” Ucap Ibu pasien.
“Aku...benar-benar sial dalam hidup. Aku sungguh tak ingin hidup sama sekali. Aku hanya ingin mati.” Jerit Ibu Pasien menangis didalam lift menumpahkan keluh kesahnya. Sang Hwa pun hanya bisa menenangkanya.
Dua dokter akan masuk lift, Tapi Song Hwa menyuruh keduanya naik lift nanti agar sang ibu tak tergangu. Keduanya hanya bisa menganguk mengerti. 



Song Hwa mengantri cukup panjang untuk membeli kopi. Pesan masuk kedalam ponselnya “AMERICANO DINGIN UNTUKKU” Song Hwa mencari seseorang dan melihat seoran dokter melambaikan tanganya diseberang. Akhirnya keduanya duduk di ruangan tunggu pasien.
“Aku yang mengoperasi saraf ibumu. Seharusnya kau yang belikan aku kopi. Bukan sebaliknya.” Keluh Sang Hwa.
“Saat ayahmu masuk IGD tengah malam karena kaki patah, aku datang meski itu bukan jadwal piketku. Lalu apa? Hanya Americano dingin?” balas temanya.
“Itu cukup. Teman dilarang memberi lebih karena bisa tak nyaman.” Kata Song Hwa. Temanya mengeluh kalau Song Hwa itu pandai sekali berbicara.
“Tampaknya IGD santai sampai kau bisa belanja di toserba.” Ejek Song Hwa.
“Hati-hati kalau bicara! Jangan pernah katakan itu.” Keluh temanya lalu terlihat berita di TV
“Terjadi kecelakaan beruntun antara sebuah truk dan empat mobil di dekat persimpangan Bupyeong di tol Gyeongin. Kecelakaan ini mengakibatkan enam orang luka parah, termasuk pengemudi truk berusia 52 tahun.Mereka sedang dilarikan... Dua di antaranya dalam keadaan kritis”
“ Mereka akan segera tiba. Aku pergi!” ucap temanya lalu pergi ke IGD. 


Pasien pun masuk pertama memberitahu  Pasien hilang kesadaran, Saat ditemukan tekanan darah 30/60, dan saturasi oksigen turun ke 70. Bahkan Pendarahan laserasinya parah. Dokter pun meminta agar  Pasangkan infus dan beri larutan garam.
Semua terlihat sangat sibuk dengan pasien yang datang dan terlihat sebuah keluarga datang dengan pria yang mengunakan topi. 
Sang ibu yang sebelumnya menangis datang menemui Song Hwa lalu memberitahu kalau Akhirnya putranya bisa dioperasi dan merasa seperti mimpi. Ia mengaku hampir menyerah karena putranya di urutan ketiga jadi membuatnya tak dapat mempercayainya.
“Katanya pasien sebelumnya tak dapat dioperasi... Ya Tuhan, terima kasih.” Ucap sang ibu
“Syukurlah, Bu. Itu kabar baik.” Ungkap Song Hwa. Sang ibu mengaku merasa bersalah kepada donor yang sudah meninggal.
“Entah apa aku boleh merasa senang. Hati manusia memang jahat sekali.” kata Sang Ibu
“Siapa dokter penanggung jawab anakmu?” tanya Song Hwa. Sang iu mengaku Dia sangat terkenal dan juga pernah muncul di acara... Good Doctors.
“Dokter Kwon Sun Jung?” kata Song Hwa. Sang ibu membenarkan. Sang Hwa mengaku dekat dengannya.
“Dia juga orang yang kuhormati. Tapi setahuku Dokter Kwon pergi hari ini.” Kata Song Hwa
“Begitu dengar berita ini, katanya dia akan segera kembali kemari setelah operasi di Milyang, dan operasi akan segera dilakukan begitu Dokter Kwon tiba. Apa tak masalah, Apa dia tak lelah?” ucap Sang ibu. Song Hwa hanya bisa menganguk saja. 


Dokter masuk rumah sakit, seorang ibu langsung menghadangnya  memebritahu kalau di sana juga ada pasien karena Anak yang mengoleskan lem super di helm lalu Ayahnya tak tahu dan memakai helm itu. Jadi, helm tak bisa lepas dari kepala ayahnya.
“Kami juga terdesak , Mohon periksa kami dulu.” Ucap Si wanita
“Saat ini ada situasi darurat... Jadi, mohon tunggu sebentar.” Kata sang dokter.
“Kami juga darurat! Dia nyaris mati karena malu!” teriak Si ibu kesal dan akhirnya terlihat pasien dengan bersimadarah masuk ke rumah sakit.
“Pak, apa kita pergi ke rumah sakit lain?” kata si ibu. Tapi si anak dan cucunya masuk ke rumah sakit.
“Kau mau ke mana? Kita belum dipanggil. U-ju, hentikan ayahmu!” Teriak si ibu.
“Ayah sedang marah, Bi. Dia bilang akan menghancurkan semuanya.” Ucap U Ju. 

Di ruangan IGD, Dokter lain datang terlihat panik bertemu dengan Dokter Kwon dan bertanya apa yang terjadi. Dokter Kwon mengaku Ini bukan dislokasi bahu jadi tak perlu khawatir dan hanya Jemarinya sulit digerakan.
“Kurasa ini fraktur radius distal. Lakukan tes sinar-X dan hubungi bedah ortopedi. Bagaimana dengan bedah saraf?” ucap  Dokter IGD. Song Hwa pun datang dengan memakai sarung tanganya.
“Ini buruk.” Ucap Dokter Kwon dengan mata yang diperiksa oleh Song Hwa.
“Dokter Kwon, bagaimana operasinya?” tanya Song Hwa. Dokter Kwon heran Song Hwa bisa mengetahuinya.
“Segera hubungi dokter lain, Pasien harus segera dioperasi.” Ucap Song Hwa
“Kalau ada, Apa kau pikir aku mau menyetir kemari setelah bergadang? Tidak ada dokter lain.” Ucap Dokter Kwon
“Transfer saja ke rumah sakit lain.” Ucap Dokter IGD. Song Hwa pikir  Kalau tak bisa operasi, mereka hanya akan mengambil lever dan Ini kesempatan terakhirnya.
“Operasi ini tak mudah. Harus menggunakan prosedur long midline incision.” Kata Dokter Kwon. Song Hwa mengeluh kalau keadan sekarang benar-benar genting. 

Sementara sang ibu terlihat gugup menunggu karena dokter Kwon yang belum datang. Saat itu perawat datang memberitahu, sang ibu langsung jatuh lemas. Song Hwa terlihat memikirkan dan lalu menemukan cara. Dokter IGD ingin tahu caranya.
“Ada dia.” Ucap Song Hwa menunjuk ke depan. Dokter IGD kalau Song Hwa menujuk dirinya.  
“Jangan bercanda! Aku memang bergelar ganda, tapi sudah lima tahun tak mengoperasi. Operasi transplantasi hal serius!” keluh Dokter IGD.
“Bukan kau.” Kata Song Hwa lalu meminta agar bergeser, saat itu terlihat pria dengan topi yang menempel di kepalanya.
Lee Ik Jun memanggil anaknya menyuruh agar memberikan salam pada temannya. U Ju langsung membungkuk. Ik Ju menahan malu muji sang anak yang pintar.

Ik Jun akhirnya mencuci tangan dan sudah berganti pakain dengan baju operasi lalu merasa khawatir kalau Kepala Rumah Sakit tahu, Apa kita baik-baik saja, perawat mengatakan Dokter Chae sudah mengurusnya.
“Aku juga harus meminta persetujuan keluarga dan menjelaskannya. Dokter Chae kenal mereka dan mendapat persetujuan hanya dalam lima menit.”ucap Perawat
“Apa Dokter penanggung jawabnya tak marah? Kalau aku pasti marah.” Ucap Ik Jun heran.
“Dokter Chae sudah membicarakan segalanya.” Kata Perawat.  Ik Jun mengeluh mendengarnya.
“Lebih baik dia bantu aku melepas benda ini.” Keluh Ik Jun akhirnya masuk ke ruang operasi
“Mohon bantuannya! Mari kita selamatkan pasien ini.” Kata Ik Jun dan beberapa tim menatap kosong.
Di bagian atas ruangan terlihat [ OPERASI SEDANG BERLANGSUNG] Orang tua pasien pun menunggu dengan wajah khawati. 

Song Hwa tidur dengan U Ju disofa, saat itu Kepala  menelpnya bertanya apakah  masih di rumah sakit. Song Hwa membenarkan. Kepala memberitahu kalau Dia meninggal. Song Hwa kaget memastikan kalau  Operasi Kim Dong-hyeok gagal.
“Apa maksudmu? Presdir yang meninggal.” Kata Kepala. Song Hwa pun menganguk mengerti.
“Dia di rumah duka nomor 201. Ke sanalah lebih dahulu. Aku pulang sebentar untuk ganti baju dan segera menyusul.” Kata Kepala Ruma sakit. Song Hwa pun menganguk mengerti. 

Song Hwa pun melihat berita di internet [ PRESDIR AHN BYEONG-UTELAH MENINGGAL DI USIA 78 TAHUN] Rumah duka sudah penuh dengan pelayat dan juga karangan bunga, seorang pria masuk memberikan hormat terakhir.
“Aku turut berduka.” Ucap si pria. Nyonya Jung pikir kalau suaminya itu paling menyukai pria itu.
“Karena itu... sekarang aku... sangat sedih.” Ucap Sang pria menangis.  Nyonya Jung pikir Ternyata masih tersisa air mata di umur mereka ini lalu menyapa empat anak Tuan Ahn.
“Belakangan ini, kita sering bertemu.” Ucap Si pria lalu menepuk bahu anak terakhir Tuan Ahn. Ternyata Jung Won berdiri menyambut tamu yang datang melayat sebagai anak dari Tuan Ahn. 

U Ju sedang makan dengan lahap, sementara Song Hwa, Jun Wan dan Suk Hyung seperti tak percaya kalau Jung Won itu anak dari Tuan Ahn, yaitu pemilik rumah sakit.  Jun Wan pikir Suk Hyun dan Jung Won itu  berteman sejak kecil.
“Kukira kau juga kenal keluarganya... Kau sudah tahu, 'kan?” kata Jun Wan. Suk Hyung membenarkan.
“Kenapa tak bilang?”keluh Song Hwa. Suk Hyung mengaku kalau meeka itu tak pernah bertanya tapi tahu Jung-won kaya.
“Tapi aku tak tahu sekaya ini. Bahkan kupikir bisnis keluarganya sudah bangkrut. Dia sudah tahunan menumpang di rumahku. Orang kaya memang lebih kejam. Teganya dia merahasiakan selama 20 tahun. Memang kita akan minta pekerjaan atau pinjam uang kalau tahu?” keluh Jun Wan kesal.
Keduanya langsung menjawab itu bisa saja terjadi.  Jun Wan mengerti kalau itu alasan dia tak bilang lalu bertanya  Apa Ik-jun belum datang. Song Hwa menjawab kalau Ik Jun masih operasi dan sebentar lagi pasti beres.
“Operasinya amat sulit. Jadi, memakan waktu.” Kata Song Hwa. Jun Won mana mungkin dia operasi?
“Dia melakukan operasi mendesak di rumah sakit kami.” Ucap Song Hwa. Jun Won pikir Dia pasti tahu. Song Hwa mengaku tidak.
“Hei.. Kepala Rumah Sakit datang.” Ucap Song Hwa dan mereka pun langsung berdiri menyapanya.
“Kenapa kau ada di sini?” sapa kepala rumah sakit pada Jun Wan lalu memperkenalkan pada istrinya.
“Kenalkan. Dia dulu muridku.” Ucap kepala rumah sakit. Jun Wan pun langsung memberikan hormat.
“Apa Kau kenal Dokter Ahn, putra Presdir?” tanya Kepala RS. Jun Wan mengaku kenal dan Jung Won itu teman terdekatnya. Song Hwa hanya bisa menghela nafas dengan tingkah temanya.
Jung Won akhirnya duduk dengan tiga temanya mengucapkan terima kasih sudah datang. Song Hwa mengeluh kalau sudah seharusnya mereka datang karena ayah seorang teman wafat.
“Apa Kau sungguh anak Presdir? Apa Kenapa tak pernah bilang? Apa Kau takut kami minta uang?” ucap Jun Wan kesal.
“Tak ada kesempatan untuk beri tahu. Maaf... Aku tak berniat merahasiakannya. Tapi ini Sungguh. Aku tak bohong. Aku tak punya uang. Sumpah.” Ungkap Jung Won. Song Hwa mengeluh kalau  Itu lebih menyebalkan.
“Lalu Apa sekarang rumah sakit menjadi milikmu?” tanya Jun Wan penasaran.
Jung Won memikirkan tentang Rumah sakit lalu tiba-tiba terdengar suara sirene ambulance, Semua langsung terlihat tegang. Jun Wan mengaku nyaris keguguran. Suk Hyung mengaku Jantungnya hampir copot. Jun Wan mengeluh kalau Jung Won itu ingin pamer kalau dirinya dokter dengan bunyi nada deringnya.
“Jantung copot itu mengerikan. Jangan asal bicara!” keluh Jun Wan pada Suk Hyung.
“Kau juga jangan asal bicara karena keguguran sangat menyedihkan! Kau tak punya kasih sayang seorang ayah.” Ucap Suk Hyung
“Tolong hentikan. Kepalaku nyaris pecah.” Keluh Jung Wan. Song Hwa mengeluh kalau kepalanya pecah itu pasti sudah mati.  
Kakak laki-laki Jung Won memanggil kalau sang Paman datang. Jung Won pun bangun menyapa pamanya. Kakak Jung Won melihat teman adiknya menyapa dan meminta agar membantu sang adik juga. Jung Won pun pergi dengan kakaknya.
“Kenapa kau tak menerima telepon?” keluh sang kakak. Jung Won meminta maaf mengaku menggunakan mode getar.
Junior masuk keruangan Song Hwa memberitahu kalau hasilnya sudah keluar. Ik Jun menelp dengan anak yang sudah terlelap di pangkuan Song Hwa.Song Hwa lalu memberitahu kalau akan segera ke sana. Suk Hyung pun bertanya apakah Operasinya berhasil. Song Hwa menganguk.
“Kalau begitu, suruh dia segera kemari.” Kata Jun Won. SongHwa mengaku Ada yang harus kulakukan jadi pergi dulu sebentar.
Keduanya menganguk mengerti, lalu membuka jas agar menjadi bantal dan juga selimut untuk U Ju. 



Song Hwa sudah ada didepan kamar ganti berbicara dengan Ik Jun kalau ia yang mengoperasinya jadi dia saja yang bilang. Ik Jun mengeluh  Dengan penampilan seperti ini menurutnya ini Tidak karena  Jika melihat penampilanya jadi ibu pasien pasti tak mungkin percaya.
“Tadinya aku ingin minta tolong dokter residen untuk bicara, tapi kurasa lebih baik kau yang bicara. Cepat pergilah. Dia pasti menunggu lama.” Ucap Ik Ju. Song Hwa pun akhirnya setuju dengan menahan tawa hanya melihat bayanga Ik Jun yang masih memakai topi yang menempel dikepalanya. 


Song Hwa akhirny menemui ibu pasien memberitahu kalau Operasi berjalan lancar. Ia membeirtahu Operasinya cukup sulit, tapi kini pendarahan sudah banyak berkurang, dan kondisi lever yang diterima sangat baik. Jadi Sekarang dia dipindahkan ke Unit Perawatan Intensif.
“Terima kasih... Terima kasih, Dokter.” Ucap sang ibu dengan wajah haru lalu memeluk sang suami karena anak mereka bisa sembuh.
“Hasil tes ibumu juga sudah keluar, dan syukurlah baru stadium satu. Setelah radioterapi, ibumu akan sehat selama sepuluh tahun ke depan. Ini kabar baik. Kenapa kau menangis?” kata Song Hwa.
Sang ibu kembali menangis  tak percaya karena anak dan ibunya bisa sembuh juga.  Sang ibu langsung mengucapkan Terima kasih banyak Song Hwa.
“Aku wanita paling beruntung di dunia ini... Tidak ada yang seberuntung aku... Aku beruntung sekali... Aku orang paling bahagia. Karena itu, aku bisa bertemu dokter baik sepertimu dan ibuku bisa sehat kembali. Aku sungguh beruntung.” Ungkap Sang ibu menangis haru. 

Nyonya Jung akan keluar dari rumah duka dan terlihat kesal melihat Tuan Ju datang sambil mengeluh Kenapa dia kemari dan menurutnya pasti sudah gila. Tapi Tuan Ju tetap memberikan hormat dan masuk ke rumah duka.
Esok harinya, Nyonya Jung membersihkan ruangan suaminya dengan papan nama “PRESDIR AHN BYEONG-U” Jung Won membantu ibunya lalu bertanya paakha  Foto keluarga juga dimasukkan ke dalam kadus. Nyonya Jung menyuruh agar menyimpa di tasnya saja.
“Wah.. Kenapa biaya rumah sakitnya mahal sekali?” komenatr Jung Won melihat nota di tas ibunya.
“Ini bangsal VIP... Ayahmu seorang VIP.” Kata Nyonay Jung. Jung Won bertanya apakah  Ini termasuk biaya pemakaman
“Tidak. Hanya biaya kamar rawat.” Ucap Nyonya Jung santai. Jung Won menjerit tak percaya kalau ini Mahal sekali!
“Kurang dari sepekan, tapi biayanya lebih dari 10 juta won?” kata Jung Won tak percaya.
“Kau berlebihan. Itu tak seberapa ketimbang kamar VIP rumah sakit lain. Uang tak penting bagi pasien VIP. Mereka pasti rela membayar tiga atau empat, bahkan sepuluh kali lipat, selama bisa sehat kembali.” kata Nyonya Jung
“Ibu memangnya punya uang?” tanya Jung Won polos. Nyonya Jung heran dengan sikap anaknya.
“Meski begini, ibu menikah demi kenyamanan. Tidak ada cinta dalam pernikahan kami,  tapi ibu cukup bahagia.” Akui Nyonya Jung
“Ibu, terlalu banyak info.” Kata Jung Won cepat. Nyonya Jung tak mendengarnya ingin tahu apa yang dikatakan Jung Won.
“Tidak. Jangan hiraukan.” Kata Jung Won. Pengacara Pyun datang memberitahu Pak Ju sudah datang.
Jung Won mengaku segera ke sana. Nyonya Jung akan pergi langsung memukul kepala anaknya. Jung Won mengaduh kesakitan karena mendengar ucapan anaknya. 


Tuan Ju bertemu dengan Jung Won dengan wajah serius. Jung Wo  mengaku Kakaknya sudah setuju dan juga sudah membujuk Ibunya. Sementara Nyonya Jung bertemu dengan pengacara Pyun di ruangan lainya. Pengacara Pyun ingin memastikan.
“Besok kau juga akan datang ke rapat direksi, 'kan?” kata Pengacara Pyun.  Nyonya Jung menjawabTidak.
“Jung-won pasti kecewa.” Komentar Pengacara Pyun. Nyonya Jung seolah tak peduli.
“Aku mengerti selama ini kau sudah bekerja keras. Maafkan aku. Kumohon bantuanmu.” Kata Jung Won. Tuan Ju yang tadinya cemberut hanya bisa tertawa.
“Keluargamu memang unik.”komentar Ju masih terus tertawa.  Sementara Pengacara Pyun pikir semua sudah beres. Nyonya Jung membenarkan kalau sudah beres dan Selesai.
“Apa Presdir Hwang setuju?” tanya Pengacara Pyun tak percaya.
“Jeong-won memohon kepada Presdir Hwang untuk memilih Pak Ju, bukan dirinya. Kuminta dia memikat Presdir Hwang. Astaga, aku salah mendidik anak. Semua usahaku untuk membesarkan anak sia-sia.” Kata Nyonya Jung kesal.
“Baiklah... Tapi rapat direksi diadakan besok. Bagaimana aku bisa percaya?” kata Tuan Ju tersenyum bahagia.
“Ini lembar persetujuan para direksi yang diminta oleh Presdir Hwang, juga pernyataan pengunduran diriku dan ibu dari jabatan direktur.” Kata Jung Won. Tuan Ju sudah siap melihatnya.
“Tapi... Aku memiliki satu syarat.” Kata Jung Won. Tuan Ju melihat  surat
[YAYASAN YULJE, SELURUH KEUNTUNGAN BANGSAL VIP MENJADI MILIK PIHAK PERTAMA. HAK PENGGUNAAN DAN PENGELOLAAN PUN MENJADI MILIK PIHAK PERTAMA]
“Maaf kelancanganku, tapi bolehkah aku boleh bertanya uang itu untuk apa?” tanya Tuan Ju penasaran.
“Sama seperti konglomerat lainnya. Semua punya uang simpanan.” Kata Jung Won
“Konsep bangsal VIP sangat lucu, kan? Jumlah ruangnya hanya empat.Itu Bisa diperbanyak, tapi tak perlu. Begitu diperbanyak, makatak ada yang menginginkannya.” Ucap Tuan Ju
“Tempat itu berharga tinggi agar orang-orang yang berkelas tinggi datang. Kita hanya membutuhkan dokter-dokter terbaik. Namun, sulit mencari dokter yang baik. Kudengar sekarang rumah sakit kita sedang kekurangan dokter.” Ucap Tuan Ju
“Aku akan mengatasi masalah itu. Kau hanya perlu menyiapkan gaji yang banyak.” Ungkap Jung Won.
Bersambung ke part 3


Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar