PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 13 Maret 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Di sebuah rumah, hujan deras dengan bunyi petir yang mengelar, lampu pun mati. Dua orang pria dan wanita bersama, tapi tak terjadi kepanikan. Seorang wanita, bernama Cha Sung Hwa memastikan kalau Lampunya akan segera  menyala. Seorang pria berdiri didepan saklar.
“Suk-hyung,  aku sedang memegang kopi.” Ucap Sung Hwa. Suk Hyung meminta maaf lalu akhirnya lampu menyala.
“Berapa lama tempat ini kosong? Debunya banyak sekali.” ucap Sung Hwa melihat lampu akhirnya menyala.
“Tiga sampai empat tahun?” kata Suk Hyung. Sung Hwa pun mulai mengeluh
“Tempat ini seperti kelab malam. Lampu itu pasti segera mati.” Kata Sung Hwa melihat lampu yang mulai kedap kedip
“Ibu, lampunya mati lagi. Tolong panggilkan teknisi... Oh... Begitu. Berarti dia akan segera tiba... Baiklah.” Ucap Suk Hyung lalu menutup telpnya.
“Seharusnya kau juga bertanya apa boleh minum kopi kepada ibumu.” Ejek Sung Hwa
“Katanya secangkir per hari tak apa.” Kata Suk Hyung. Sung Hwa pun melihat kalau Suk Hyung belum membuangnya.
“Kenapa harus dibuang? Omong-omong, apa kau sungguh tak mau?” kata Suk Hyung. Sung Hwa mengaku tidak .
“Lalu kenapa kau datang?” tanya Suk Hyung. Sung Hwa menjawab Untuk menemuinya khawatir.
“Kalau begitu, kau bisa..” ucap Suk Hyung. Sung Hwa pikir Ik Jun saja cukup dengan nada menyindir kalau mereka itu tak butuh dirinya.
“Tapi Kami butuh kau.”kata Suk Hyung. Sung  Hwa menyindir apakah mereka sunggung butuhnya.
“Tidak... Lagi pula aku tak ada waktu. Aku harus membimbing tesis residenku.” Kata Sung Hwa
“Tolong bimbing aku juga.” Ungkap Suk Hyung. Sung Hwa pikir untuk apa lalu bertanya kalau Suk Hyung yang bertemu Ji-eun. Suk Hyung membenarkan.
“Apa Kau juga belikan barang yang dia suka?” tanya Sung Hwa. Suk Hyung mengaku mentraktirnya dan membelikan pengeras suara bluetooth agar dia sering mendengarkan musik.
“Andai kau juga sebaik itu kepada teman-temanmu.” Sindir Sung Hwa. 


Saat itu petugas datang sambil mengeluh kalau Lampunya mati lagi. Suk Hyung memberitahu kalau Tadi berkedip lalu mati lagi. Petugas melihat lalu mengeluh kalau harus dipasang kabel baru jadi akan coba perbaiki sementara,tapi harus cari yang lebih ahli jika berulang.
“Baik... Kamarku bisa dikerjakan besok. Kau tak perlu bekerja larut malam.” Ucap Suk Hyung. Petugas pun mengucapkanTerima kasih.
“Hati-hati, Pak... Lepaskan kotak sekringnya dulu, Kau juga bisa tersetrum kalau tak pakai sarung tangan.” Ucap Sung Hwa melihat petugas menaiki tangga dengan tangan yang basah.
Saat itu juga Petugas langsung jatuh pingsan. Sung Hwa langsung mencoba membangunkanya meminta agar segera menghubungi 119. Suk Hyung pun mencoba menelp. Sung Hwa memastikan keadaan petugas agar sadar, tapi masih terlihat pingsan.
“Halo.. Alamatku di Jogang-dong 33-1... Ada yang pingsan karena tersetrum... Mohon segera kemari.” Ucap Suk Hyung menelp ambulane.
“Kau merasa sesak dan sulit bernapas?” tanya Suk Hwa yang terlihat tenang, sementara petugas lain terlihat panik. 


Akhirnya petugas ambulance pun datang dengan tandu.  Si pria terlihat sudah mulai sadar. Suk Hwa bertanya pada si pria apakah tahu keberadanya sekarang. Si petugas dengan lemah pun bisa menganguk.  Petugas ambulance meminta agar pasein berbaring saja  Suk Hwa pun menerima telp dan berkata akan segera kembali.
“Dia tersetrum tujuh menit lalu, ada luka bakar ringan di tangan kanan, dan diberi CPR selama dua menit. Detak jantungnya sudah kembali, tapi masih tak stabil.” Ucap Suk Hwa
“Apa Kau dokter?” tanya petugas. Suk Hwa membenarkan. Petugas memberitahu Tanda-tanda vital pasien masih belum stabil.
“Apa kau bisa ikut dengan kami?” kata Petugas. Suk Hwa menjawab ada panggilan darurat dan Ada dokter lain yang akan ikut lalu menunjuk ke arah belakang petugas. 

Suk Hyung duduk dengan gugup dalam ambulance. Petugas menanyakan keadaan temanya, Si teman menganguk dengan alat bantu nafas. Petugas pikir temanya itu beruntung sekali karena dirumah itu tempat tinggal dokter. Si pria langsung memegang tangan Suk Hyung.
“Kau bisa dengar aku, 'kan? Tekanan darah dan detak jantungnya sudah membaik.” Kata Suk Hyung gugup. Temannya pun menganguk mengerti.
“Tapi kenapa dia gemetar seperti ini? Apa Kau baik-baik saja?” tanya temanya bingung.
“Dia hanya kedinginan... Permisi. Tolong nyalakan pemanasnya... Coba Bisa beri tahu dia? Minta nyalakan pemanas ke level tertinggi.” Kata Suk Hyung. Si pria hanya bisa melonggo lalu mengetuk pintu supir. 

Jam 7 pagi, Ahn Jung Won berbicara dengan temanya  kalau sudah dapat pesan dari Suk-hyung dan menginginkanya. Kim Jun Wan mengeluh kalau tidak. Jung Won bertanya apakah temanya sudah mendapat pesan itu. Jun Wan mengaku tidak
“Aku akan jawab begitu jika dapat... Buang-buang waktu saja. Waktu luangku lebih baik untuk pacar. Untuk apa aku bertemu kalian?”kata Jun Wan.
“Memang kau mau bertunangan hari ini? Kenapa rapi sekali hanya untuk bertemu pacarmu?” ejek Jung Won
“Aku memesan tempat bagus di pesisir pantai Busan.” Kata Jun Wan. Jung Won menyindir pasti senang.
“Aku pergi bekerja, sedangkan kau pergi kencan. Lalu Bagaimana kau pergi ke Busan?” kata Jung Won
“Dengan mobil pacarku...Ah.. Itu dia. Menepilah.” Kata Jun Wan. Jung Won melihat pacar temanya itu masih agak mabuk.
“Itu karena dia begadang kemarin dan kami segera pergi.” kata Jun Wan. Jung Won meminta memastikan temanya yang menyetir. Jun Won mengerti lalu pamit pergi.
“Bekerjalah yang rajin.” Ejek Jun Won. Jung Wan mengumpat kesal.


Jung Won bertemu dengan seorang pasien wanita, si pasien mengaku Setelah mencari tahu,di RS Daeseong intususepsi dapat sembuh dengan prosedur non-operasi.Jung Won menjelaskan Seperti dikatakan sebelumnya.
“Dalam kasus Bit-na, kemungkinan besar sudah terjadi proses nekrosis sehingga tak ada jalan lain selain operasi.” Ucap Jung Won.
“Kau yakin, 'kan? Dia boleh dioperasi?” kata Pasien. Jung Won menegaskan Bukan "boleh," tapi harus.
“Tapi kulihat di internet, operasi bisa menghambat pertumbuhan anak.” Jelas Ibu Pasien.
“Jangan percaya hal semacam itu. Lebih baik kau segera pergi mengurus administrasi.” Kata Jung Won. Ibu pasien pun menganguk mengerti.
“Kalau begitu, kumohon bantu Bit-na...” kata ibu pasien lalu panik karena suara rekaman terdengar dari ponselnya. Jung Won pun mencoba tak mengubrisnya.
“Apa sudah ada kamar untuk Bit-na? Tolong tanyakan kembali.” ucap Jung Wan pada perawat. Sang perawat menganguk mengerti. Ibu pasien pu meminta agar Jung Hwa membantunya. 


Jung Won menghadapi  pasien baru. Perawat meminta Dong-min agar membuka bajunya sebentar tapi Dong Min menolak. Jung Won hanya diam saja lalu akhirnya berpaling pada bonek yang dibawa oleh ibu Dong Min.
“Teddy Bear, kau datang karena sakit perut?.. Biar kuperiksa.” Kata Jung Won. Ibunya berpura-pura menjadi boneka kalau Perutnya sakit sekali.
“Mari kita lihat... Setelah kuperiksa kau langsung sembuh. Sekarang tak sakit lagi, 'kan?” kata Jung Won. Boneka pun mengaku sudah sembuh.
“Kalau begitu, sekarang kita periksa apa perut Ibu juga sakit.” Ucap Jung Won.
“Dokter, aku sudah sembuh... Tidak terasa sakit sama sekali.” kata Ibu Dong Min
“Kalau begitu, sekarang giliran siapa? Dong-min mau coba?” kata Jung Won. Dong Min langsung mengangkat bajunya agar bisa diperiksa.  Jung Won pun memuji pasien anak yang pintar sekali. 

Jung Won sedang ada di lift melihat temanya masuk dengan wajah lesu, Jun Wan masuk lift dengan wajah sendu. Jung Won mengejek kalau rumah sakit  jadi Busan. Jun Wan mengaku tiba di sini lebih cepat daripada temanya itu.
“Ayo makan malam bersama.” Kata Jung Won. Jun Wan setuju kalau  setelah memperiksa satu pasien.
“Siapa penanggung jawab kamar 513?” tanya Jun Wan. Si junior tambun mengangkat tangan.
“Siapa yang piket semalam? Kau? Siapa yang beri penurun panas untuk Kim Suk-hui di 513? Pasti kau.” Kata Jun Wan. Si junior menjawab bukan dirinya.
“Kalau begitu kau?” tanya Jun Wan. Si pria tambun mengaku  Tidak sama sekali bahkan tak pernah melihat wajahnya.
“Ya, kau tak pernah melihatnya. Kalian sibuk tidur sampai memberi obat demam tanpa tahu wajah pasien. Beraninya kalian memberi obat tanpa pertimbangan? Apa Kalian ingin terkenal? Bilang kalau kalian tak ingin jadi dokter. Jangan buang waktuku.. Paham?” kata Jun Wan memarahi juniornya.
Keduanya pun hanya bisa terunduk meminta maaf. Saat itu telp Jun Wan berdering lalu mengeluh karena tiba-tiba dan mengatakan segera ke sana lalu menyuruh agar ikut denganya.  


Jun Wan masuk ke ruangan rawat, Dokter lain memberitahu kalau pasien sedang memakai ECMO, tetapi terjadi edema paru sehingga kami melakukan intubasi da Kini detak jantung pasien tampak sangat lemah. Jun Wan pikir Kemarin Eun-a baik-baik saja.
“Padahal dia siap melepas ECMO dan dipindah ke bangsal. Apa Keluarganya sudah tahu?” tanya Jun Wan. Dokter itu menganguk. 

Jun Wan melihat pasien anak yang didepanya lalu mengajak ibu pasien untuk bicara lalu memberitahu kalau Fungsi jantung Eun-a memburuk sehingga terjadi edema paru. Dan ECMO sudah tak cukup membantu.
“Menurutku, jantung buatan lebih tepat untuk mengurangi tekanan pada ventrikel kirinya. Eun-a harus dioperasi hari ini atau besok.” Jelas Jun Wan
“Bagaimana ini? Dokter, saat ini aku tak memiliki biaya untuk operasi. Biaya operasi tak murah. Bagaimana caranya? Tolong beri aku waktu satu minggu. Aku akan berusaha mencari biaya operasi apa pun caranya. Kumohon... Eun-a... Selamatkan Eun-a.” Kata Ibu Pasien memohon dengan wajah kebingungan.
“Tidak ada waktu... Eun-a harus segera dioperasi... Jika tidak, Eun-a tak selamat.” Kata Jun Wan. Ibunya pun makin kebingungan.
“Ibu tak perlu khawatir... Banyak bantuan dari rumah sakit. Eun-a pasti bisa dioperasi. Bahkan segera.. Dan Kau. Carikan informasinya.” Ucap Jun Wan menyuruh juniornya. Si dokter tambun hanya diam saja.
“Kenapa diam? Cepat telepon!” kata Jun Wan kesal. Si pria pun akhirnya keluar dari ruangan dengan wajah bingung. 

Akhirnya ia masuk ke “GRUP BINCANG BEDAH TORAKOPLASTIK” Lalu memberitahu [GADIS LIMA TAHUN, DCMP AKU HARUS TELEPON KE MANA? “DCMP: KARDIOMIOPATI DILATASI]
“Jika aku yang harus mengoperasi dan mencari tahu hal ini, untuk apa kau ada di sini?” keluh Jun Wan keluar dari ruanga
“Halo. Aku dokter torakoplastik, Kim Jun-wan. Apa aku bisa menerima bantuan Malaikat Penolong? Tunggu Sebentar.” Kata Jun Wan memberikan ponselnya pada sang junior.
Juniornya melihat nama “BAGIAN PELAYANAN SOSIAL” lalu memberitahu kalau ia Lee Suk-hyun. dokter residen torakoplastik dan bertanya Apa salah satu pasien mereka bisa menerima dana bantuan karena Pasien harus segera dioperasi jadi Tidak ada waktu lagi.
“Ya, kami ingin meminta dana bantuan dari Malaikat Penolong. Usia pasien lima tahun, butuh operasi pemasangan alat bantu ventrikel.” Ucap Dokter Lee. 

Jung Won masuk ruangan bertanya Jun Wan pesen apa dan menebak  kalau pasti Toppoki lagi. Jun Wan sedang sibuk menelp bertanya  Kapan bisa menerima jawaban dan menyuruh Jung Won agar makan dulu.  Jung Won akhirnya membuka mangkuk diatas meja.
“Harusnya kau pesan hamburger.” Keluh Jung Won melihat toppoki. Jun Wan mengaku kalau itu level satu jadi tidak pedas dan makan saja.
“Kau masih belum mengirim pesan?” tanya Jung Won berbicara di telp. Diseberang jalan memberitahu mereka  jadi baru selesai verifikasi sekarang akan menghubungi.
“Biasanya jika tak ada halangan akan ditransfer dalam dua atau tiga hari.” Jelas diseberang telp.
“Baik. Mohon beri tahu aku kalau sudah ada kabar. Terima kasih.” Kata Jun Wan lalu menutup telp
Jun Wan pun berbicara dengan Jung Won kalau toppokinya pasti tak pedas. Jung Won mengeluh kalau dianggap tak pesa karena harus memeriksa sendiri. Jun Wan mengeluh tak mau karena menurutnya Buang-buang uang.
“Sepertinya akan segera ada panggilan. Untung aku pesan tteokbokki, 'kan?” kata Jun Wan mendengar ambulance.
“ Angkat saja teleponmu!” kata Jung Won. Jun Wan mengeluh kalau  Hari ini sibuk sekali lalu mengangkat telpnya.
“Ya? Aku masih di rumah sakit. Aku akan segera pulang. Kau di mana? Aku tak makan apa pun.” Ucap Jun Wan. 

Jung Won menelp Song Hwa yang menanyakan keberadanya. Song Hwa mengeluh kalau Jung Won pasti sudah tahu dimana. Jung Won pun ingin tahu akhir pekan ini ke mana. Song Hwa mengaku adan Kencan karena Dokter Jang bilang ada waktu.
“Kenapa semua orang kencan?” keluh Jung Won. Song Hwa heran  Jun-wan masih belum putus?
“Kali ini langgeng juga. Kenapa menelepon? Pasti karena Suk Hyung? Aku sudah bilang tak mau.” Keluh Song Hwa
“Bukan. Dia cukup dibiarkan saja. Aku ingin meminta bantuanmu secara serius.” Kata Jung Won.
“Apa Kau ada masalah?” tanya Song Hwa. Jung Won mengaku tidak tapi merencanakan sesuatu sejak lama...
“Tidak. Kuceritakan nanti saja saat bertemu. Pulanglah. Hari ini aku pulang cepat setelah sekian lama.” Kata Jung Won.
Saat itu dokter lain datang dengan wajah pank mengejar Jung Won, Jung Won bertanya Ada apa. Dokter itu memberitahu kalau Tanda vital Min-yeong terus turun. Jung Won pun menutup telpnya. Dokter memberitahu kalau memberikan larutan garam 100 ml karena tekanan darahnya terus turun, tapi tak bereaksi.
“Apa Sudah diberi norepinefrin?” tanya Jung Won. Dokter mengaku sudah  tapi tetap tak stabil.


Song Hwa menutup telp tahu kalau Jung Won juga tak akan bisa pulang hari ini lalu melihat berita online di komputernya [PENDARAHAN DI OTAK, PRESDIR YULJE TAK SADARKAN DIRI]
[AHN BYEONG-U DIKABARKAN KOMA - RUMAH SAKIT YULJE MENJADI MILIK PUTRA KETIGANYA? SEMUA MENUNGGU SIAPA PEMIMPIN YAYASAN YULJE BERIKUTNYA]
Saat itu telp dari Kepala, Song Hwa mengaku Tadi  sudah melihat berita. Kepala memberitahu kalau harus berada di samping Presdir Jadi meminta Song Hwa agar melakukan kraniotomi malam ini pada pasien darurat perdarahan subdural, dan pasang VP shunt besok. Song Hwa mengerti.
“Tapi apa kau baik-baik saja?” tanya Song Hwa. Kepala mengaku tidak karena Semua tampak sudah mempersiapkan diri dan lelah.



Saat itu dua dokter berjalan dilorong dan masuk ke ruangan VIP, bertemu dengan seorang wanita lau menyapanya. Si wanita mengaku kabarnya buru dengan nada dingin. Dua dokter pun meminta maaf. Nyonya Jung So Ra mengaku Tidak perlu meminta maaf karena  hanya berkata jujur.
“Dia Kepala Rumah Sakit dan Dia Kepala Bagian Saraf.” Kata Tuan Ju Jong So
“Itu tak penting saat ini. Bagaimanapun, senang bertemu kalian. Apa dia takkan bertahan?” tanya Nyonya Jung
“Kurasa takkan mudah. Tapi Kami akan berusaha sebaik mungkin.” Ucap Dokter.
Saat itu Seorang pria datang. Nyonya Jung langsun menyapa Pengacara Pyun. Pengacara Pyun langsung bertanya Apa yang terjadi dengan wajah panik lalu meminta izin agar berbicara dengan Nyonya Jung.
“Pak Ju, mari kita minum kopi di ruanganku. Kau tak perlu khawatir.” Kata dokter. 


Akhirnya mereka kumpul dalam satu ruangan dengan meminum kopi. Tuan Ju hanya duduk dibalik meja dengan dua dokter yang saling mengobrol lalu berkomentar Pemandangan ditempat duduknya sangat indah. Temanya mengeluh kalau masih sempat melihat pemandangan
“Rumah sakit terancam jatuh ke tangan anak muda yang tak tahu apa-apa.” Keluh Kepala rumah sakit.
“Umur 40 tahun tak muda.” Kata Tuan Ju. Kepala Bagian saraf memastikan aklau  Rumah sakit mereka sungguh akan diwariskan kepada anak terakhir Presdir yang dokter
“Tidak ada wasiat, 'kan?” kata Kepala bagian bedah. Tuan Ju mengatakan  Meski ada wasiat Presdir, keputusan tetap dari pemungutan suara direksi.
“Pak Ju mungkin saja terpilih, bukan?” tanya Kepala bagian saraf

Pengacara Pyun bertemu dengan Nyonya Jung kalau harus menghubungi direksi satu demi satu dan Lebih baik lagi bila Andrea yang melakukannya. Nyonya Jung hanya bisa menghela nafas, Pengacara Pyun yakin Presdir baik-baik saja, tapi mereka tak bisa membaca masa depan.
“Setidaknya kau harus menghubungi Presdir Hwang besok.” Ucap Pengacara Pyun
“Kau khawatir akan Pak Ju, 'kan?” kata Nyonya Jung. 

Kepala rumah sakit yakin Para direksi dekat dengan Presdir Ahn dan Anggota lain cenderung mengikuti Presdir Hwang, bahkan Mereka bersahabat selama 30 tahun. Dan Jika istri Presdir Ahn menghubunginya, semua segera berakhir.
“Padahal Presdir Ahn sangat hebat. Ternyata dia juga serakah.” Ucap Kepala bagian saraf
“Kau tak bisa sebut dia serakah karena ini. Dia mendonasikan seluruh hartanya. Aku heran kenapa kau malah meminta dukungan yayasan? Jabatan di anak perusahaan lain diserahkan kepada ahli. Kenapa kita... Kupikir aku bisa diuntungkan oleh sepupuku sendiri.”keluh kepala rumah sakit
“Kita masih belum tahu. Aku juga harus berusaha keras.” Kata Tuan Ju 

Nyonya Jung mengeluh kalau sudah menelepon mereka tapi belum tiba lalu merasa kalausalah mendidik anak. Saat itu pintu terbuka, Pengacara memberitahu kalau anaknya sudah datang. Sementara kepala bagian saraf masuk ke ruangan.
“Pak Ju ke mana?” tanya Kepala bagian saraf. Kepala RS pikir Tuan Ju pasti pergi ke kamar istrinya.
“Dia beruntung sekali tahun ini.” Kata Kepala rumah sakit sambil melemaskan otot tanganya.
“Omong-omong, kenapa Presdir mewariskan rumah sakit ke putra bungsunya? Padahal dia punya tiga putra. Apa semua kakaknya berbuat onar?” kata Kepala bagian saraf heran.
“Pekan depan hari terakhir kau bekerja? Apa Pulang kampung?” tanya Kepala rumah sakit. Kepala bagian saraf menganguk dengan senyuman bahagia.
“Kau sungguh tak peduli dengan masalah duniawi. Anak TK saja tahu masalah ini. Anak pertamanya sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya.” Ucap Kepala rumah sakit. 

Saat itu pintu ruangan diketuk, Anak pertama Tuan Ahn masuk dengan pakaian pendeta membungkuk menyapa ibunya dan menanyakan keadaanya. Kepala Bagian saraf pun ingin tahu putra keduanya. Kepala rumah sakit memberitahu kalau ia melayani orang yang amat penting.
Seorang pria masuk dengan pakaian pendeta juga, Kepala Bagian saraf pun tahu kalau Tuan An juga punya putri. Kepala RS mengatakan putrinya pun sama. Seorang biarawati masuk dengan pakaian hitam menyapa ibunya yang sudah lama tak bertemu.
Sang anak langsung menangis melihat ayahnya yang tak sadarkan diri. Kepala bagian saraf pun menduga kalau putri keduanya juga... Seorang wanita masuk dengan pakaian yang sama dan akhirnya ikut berdua dengan kakak perempuanya.
“Apa Jung Won pasti datang hari ini? Jangan-jangan dia datang setelah pemakaman ayahnya.” Ucap Nyonya Jung
“Ibu, katanya Andrea sudah di lift.” Ucap Kakak pertama. Saat itu seorang pria masuk ke dalam ruangan
“Kau datang juga. Kakak-kakakmu sudah di sini.” Ucap ibunya. Sang anak langsung memeluk ibunya sambil menangis.
“Nak, ibu ingin bicara sebentar.” Ucap sang ibu pada anak terakhirnya. 


Di dalam lift, Pengacara Pyun bertanya apakah Nyonya Jung sudah bicara dengannya. Nyonya Jung mengaku sudah. Pengacara Pyun pikir lebih baik menelepon sekarang karena Dia pebisnis. Jadi, pasti mau terima telepon meski sudah malam.
“Aku sudah menyuruhnya menelepon. Setidaknya dia anak paling penurut. Dia paling waras di antara anak-anakku.” Ucap Nyonya Jung
Sementara di luar seperti terdengar suara kalau telpnya sedang sibuk. Anak pertama Tuan Ahn mengeluh kalau menelepon lama sekali, lalu seperti berbicara dengan adiknya yang belum tidur jadi menyuruh masuk dan tidur saja.
“Apa Kau merokok?  Sejak kapan? Memang dokter boleh merokok? Astaga.” Keluh Anak pertama Tuan Ahn pada sang adik. Saat itu Nyonya Jung datang dengan pengacara.
“Ibu, dia merokok.” Ucap Anak pertama Tuan Ahn mengadu. Nyonya Jung mengaku ia sendiri yang mengajarinya 20 tahun lalu sambil mengeluarkan bungkus rokok juga.
Pengacara Pyun pun bertanya pada anak Tuan Ahn lain apakah  Sudah bicara padanya. Sementara di dalam mobil, Tuan Ju seperti sedang menerima telp dengan wajah serius lalu meminta supirnya agar melajukan mobilnya untuk meninggalkan parkiran. 


Song Hwa datang ke rumah sakit dengan sang pacar yang mengantarnya lalu masuk ke dalam PUSAT ENDOSKOPI GASTROINTESTINAL, PUSAT GASTROENTEROLOGI lalu berganti pakaian dokter. Banyak pasien yang lalu lalang serta para dokter dan perawat yang membahas keadaan pasien.
Di depan ruangan terlihat nama DOKTER BEDAH SARAF, CHAE SONG-HWA. Song Hwa pun meminta pasien menyeringai lalu bertanya sekarang bagaimana rasanya setelah memegang dua pipi pasienya. Pasienya mengaku Bila kedua sisi ini dibandingkan maka Dua-duanya baik.
“Aku cemas wajahmu akan mati rasa. Tapi ternyata baik-baik saja... Bagus sekali... Obatmu masih sama seperti sebelumnya. Selanjutnya kita lihat tiga bulan lagi. Terima kasih sudah datang.” Ucap Song Hwa
“Terima kasih... Omong-omong, aku punya sesuatu... Ini bukan apa-apa. Hanya buku bagus. Kuharap Dokter membacanya.” Kata pasien ingin memberikan buku.
“Buku ini bagus, 'kan? Aku juga punya di rumah. Kau baca ini juga, 'kan?” ucap Song Hwa pada perawat yang melihat ada selipan amplop. Perawat mengaku sudah membacanya dan jadi buku favoritnya. 
“Oh.. Begitu. Kau sudah baca buku ini? Suamiku memintaku memberinya kepadamu.” Kata Pasien. Song Hwa tak peduli hanya meminta pasien agar sampai jumpa tiga bulan lagi.


Pasien yang lain datang terlihat sudah cukup tua dengan sang anak. Song Hwa memberitahu kalau hasilnya sudah keluar dan Hasil CT menunjukkan adanya benjolan, sehingga dilakukan tes MRI tapi Sayangnya, ada kemungkinan tumor ganas.
“Jadi, harus diperiksa lewat biopsi. Usiamu sudah lanjut, dan posisi tumor tak bagus. Jadi, tampaknya sulit untuk dilakukan operasi. Kau pasti merasakan sakit kepala yang luar biasa sejak lama. Bagaimana kau mampu menahannya?” ucap Song Hwa
“Apa ibuku akan baik-baik saja jika dioperasi?” kata anaknya panik. Song Hwa memberitahu  Bukan operasi, melainkan kemoterapi atau radioterapi.
“Sebelumnya butuh hasil biopsi untuk pastikan diagnosis. Jika dugaanku benar, kau mengalami glioma. Pada glioma stadium awal, peluang bertahannya tinggi. Meski diobati dengan radioterapi.” Jelas Song Hwa
“Namun, bila sudah mencapai stadium akhir  kau harus menjalani kemoterapi dan radioterapi, dengan kemungkinan kambuh tinggi, serta kemungkinan hidup rendah.” Ungkap Song Hwa.
“Astaga... Aku Harus bagaimana ini? Ibu... Aku harus apa demi Ibuku yang malang?” kata Sang anak menangis memeluk ibunya.
“Tidak apa... Ibu sudah hidup cukup lama.”ungkap sang ibu. Anaknya mengeluh meminta agar ibunya Jangan bilang begitu.
“Ibumu masih bisa diobati... Jangan menangis.. Pertama-tama, ibumu harus dirawat dan menjalani biopsi. Aku akan menjelaskan proses pengobatan setelah hasil tesnya keluar. Kau harus kuat demi ibumu.” Kata Song Hwa menenangkan keluarga pasien. Sang anak pun meminta maaf dan sang ibu mengucapkan Terima kasih lalu keluar dari ruangan.
“Hatiku merasa buruk. Tapi kau tak merasa tak asing dengan putrinya? Rasanya aku sering melihatnya.” Komentar Song Hwa. 


[PUSAT MEDIS KANGWOON, ICU ANAK KERETA DORONG DARURAT]
Di sebuah ranjang, seorang dokter seperti ingin melepaskan infus. Sang ibu mengeluh kalau kulit anaknya terkelupas lagi padahal Sebelumnya juga lama sembuhnya. Ia pun berbicara pada Min-yeong karena itu pasti perih jadi akan memarahinya.
“Kulitnya rentan, dan itu sudah menempel lama. Putriku juga bisa merasakan sakit.” Keluh sang ibu
“Baik. Aku akan lebih hati-hati.” Ucap dokter. Sang ibu pun ingn tahu Kapan Dokter Ahn tiba
“Kulihat resep obat kemarin berbeda jauh dengan bulan lalu. Kenapa tak ada vitamin K dan mikronutrien yang biasa diberi setiap Kamis? Selain itu, kenapa kau... menaikkan pengambilan darah dari 30 ml menjadi 70 ml? Dia sudah kelelahan.” Keluh sang ibu
“Sebelumnya sudah kujelaskan... Min-yeong sudah tak...” ucap Dokter dan saat itu Jung Won datang. 

Jung Won langsung memeriksa Min Yeong dengan menyapanya lebih dulu. Sang ibu langsung mengeluh  kenapa resep obatnya berubah Lalu kecepatan infus TPN bulan lalu 16 jam dan kenapa sekarang lebih cepat Ia pun heran  hari ini Min-yeong tampak sulit bernapas.
“Dia juga sering mengernyit... Kurasa ada yang tak beres.” Ucap sang ibu heran.
“Bu, Min-yeong tak akan bisa bertahan lebih lama. Mungkin kau sudah dengar dari Dokter Jo. Kita harus mulai merelakan...” kata Jung Won mencoba agar tetap tenang.
“Apa masalahnya? Aku sudah melakukan segalanya. Kemarin dia terlihat baik-baik saja!” kata Ibu Min Yeong tak terima
“Apa Tanda vitalnya kemarin baik?” tanya Jung Won. Dokter Jo menjawab  Hampir sama seperti hari ini.
“Aku lebih tahu daripada dokter yang datang sehari satu atau dua kali. Aku ibunya!” kata Ibu Min Yeong
“Kalau begitu, hari ini Dokter Jo akan terus mengawasinya. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.” Kata Jung Won. Dokter Jo menganguk mengerti.
Ibu Min-yeong langsung menyapa anaknya dan meminta maaf karena harus menderita seperti ini.
***
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar