PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 19 September 2019

Sinopsis When The Camellia Blooms Episode 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Sebuah mobil masuk ke dalam TKP, sepatu hitam pun turun lalu berjalan mendekati TKP. Beberapa orang berkumpul membahas “Seorang lain tewas di sini bertahun-tahun lalu dan menduga itu ulah si Pengusil, mereka tak percaya kalau terjadi lagi.
Si POLISI masuk ke dalam TKP, Korban terlihat diangkat dengan tandu dan sudah ditutup kain putih. Terlihat tangan korban terjatuh dari tandu dan sudah tak sadarkan diri dengan luka, serta gelang ditanganya.

[EPISODE 1- WANITA DENGAN GELANG GERMANIUM]
Sebuah mobil masuk ke dalam kawasan perdagangan, semua orang sibuk melihat yang datang. Beberapa orang sibuk membawa bahan untuk dijual. Park Chan Sook menemui dua ahjumma yang kuat.  Bibi Jung Gwi Ryun bertanya apa yang terjadi.
“Mereka membuka toko bunga.” Ucap Bibi Kim Jae Young. Chan Sung tak percaya ada Toko bunga di gang kuliner.
Mereka akhirnya melihat sebuah papan nama dipasang “CAMELLIA” Tuan Song Jin Bae mengaku penasaran apa mereka akan sukses karena Ongsan tempat yang keras untuk orang baru. Chan Sung bertanya apakah mereka  Pernah lihat pemiliknya. 

Saat itu seseorang keluar memakain topi tak terlihat wajahnya, ngambil boneka yang jatuh. Tiba-tiba angin menjatuhkan topinya, terlihat wajah Dong Baek dengan rambut panjangnya dan sangat muda. Semua orang hanya bisa melonggo, seperti kehilangan kesadaran sejenak.
“Apa? Menurutmu dia cantik?” tanya Chan Sook, Dua bibi menyangkal kalau itu tidak sama sekali.
Suami Chan Sook masih tetap melonggo, Chan Sung langsung memukul mulut Tuan Song agar menutup mulutnya. Dong Baek yang masih muda pun membantu pria yang membawa Stroler ke dalam tokonya.

“Dia seorang ibu. Dia pasti pengantin baru.” Komentar Bibi Kim, Bibi Jung pun memuji kalau Dong Baek itu Ibu muda yang cantik. Tuan Song seperti tak tertarik memilih untuk pulang.
“Apa Kau mau pergi?” teriak Bibi Kim melihat Deok Soon yang berjalan cepat sambil komat-kamit
“Dia menyumpah, 'kan? Yong-sik pasti membuat onar lagi.” Komentar Chan Sung. Mereka pun berpikiran yang sama.
“Kudengar Yong-sik ditikam.” Kata Yang Seung Yeob sambil terus memainkan bola baseball. 


Tuan No Kyu Tae memeriksa semua barang di dalam toko, melihat  Air dari keran tampaknya berkarat. Dong Baek berkomentar kalau tidak butuh jendela jika ini untuk menyimpan ikan kering, tapi bagus jika ada satu jendela di sebelah sana.
“Tempat ini 800.000 won per bulan karena tak ada jendela.” Kata Tuan No sebagai pemilik kios
“Tetap saja, kurasa butuh jendela karena terlalu gelap.” Komenar Dong Baek.
“Saat menyewa tempat sebesar ini dengan sewa murah, kau diharap membayar renovasi dengan uangmu sendiri. Kau, sebagai penyewa, bisa mengurusnya sendiri. Biar kuberi tahu soal diriku. Aku suka penyewa yang mandiri.”tegas Tuan No. Dong Baek menganguk mengerti.
“Omong-omong, di mana suamimu? Aku perlu bicara soal biaya rumah dan bak dapur. Apa dia bekerja di akhir pekan? Aku lebih suka bicara dengan suamimu soal perbaikan...” ucap Tuan No
“Aku mandiri... Kau bisa bicara denganku tentang semua.” Ucap Dong Baek ternyata ibu tunggal. Tuan No hanya bisa terdiam tak percaya. 


Nyonya Duk pergi menemui peramal, si Peramal berpikir kalau Apa Yong-sik terlibat masalah lagi atau dia memukuli seseorang. Nyonya Duk mengeluh kalau anaknya itu bukan preman, lalu meminta si peramal aga menyudahi tentang ramalan tipuan beras itu.
“Kenapa tidak buatkan aku jimat saja?” kata Nyonya Duk, Si peramal mengeluh jimat apa itu.
“Bantu aku menghentikan ini. Aku sudah minum ini selama 20 tahun, itu lama sekali.” keluh Nyonya Duk
“Aku bisa membuat seratus jimat untukmu, tapi bahkan dukun tak bisa mengubah nasibmu. Andai Yong-sik lahir di masa lalu, seluruh sistem Joseon akan terjungkir balik.” Komentar si peramal
“Kau sepertinya selalu menganggap putraku terlahir dari keturunan rendah.” Keluh Nyonya Duk
“Maksudku, aku hanya berpikir Yong-sik akan memberi semua aristokrat semena-mena itu pelajaran serius.” Jelas si peramal
“Apa takdirnya akan berubah andai aku tak pernah memintanya pergi ke bank hari itu untuk membayar tagihan rumah?” kata Nyonya menyesal. 
Flash Back
September, Tahun 2003
Hwang Yong Sik yang masuk muda duduk dengan slip ditanganya, Pegawai bank memberitahu kalau mereka perlu periksa rekening pada kuartal tiga dan empat. Jam lima, bank sudah mulai tutup dan pintu trolly mulai diturunkan.
Yong Sik melihat pria yang duduk disampingnya, menutup wajahnya dengan slayer lalu memeluk tasnya. Ia pun mengikutinya seperti mereka berteman, Sipria mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yong Sik mengikutinya dan melihat si pria mengeluarkan pistol. 


Nyonya Duk sedang melayani pelanggan di restoran Kepiting Rendam Baekdu, mengangkat telp berpikir ada pesanan antar. Tapi terlihat kaget kalau dari Kantor polisi. Yong Sik terlihat sudah babak belur, Nyonya Duk melihat rekaman CCTV.
Tuan Byun heran melihat Nyonya Duk santai melihat rekaman CCTV sambil makan permen. Nyonya Du pun megeluh anaknya itu memang pembuat onar. Petugas polisi datang memberitahu kalau ada berita akhirnya menyalakan TV.
“Saat perampok bersenjata mengancam para pegawai bank, seorang warga sipil pemberani bergumul berusaha menjatuhkannya Warga sipil ini mengeluarkan kotak bekalnya. Walau dalam situasi berbahaya saat dia bisa saja tertembak, dia melawan perampok tanpa ragu.” Perampok menodongkan senjata ke arahnya setelah.
Wajah Yong Sik tersenyum bahagia melihat rekaman CCTV dari bank, seperti bangga.  Sementar Nyonya Duk mengeluh kalau anaknya itu  pahlawan Ongsan, padahal membawakan bekal untuk belajar usai sekolah, bukan untuk memukuli perampok bank.


Si pelaku sudah babak belur dengan wajah tak karuan didalam sel. Nyonya Duk tak terima kalau harus membayar pengobatan gigi perampok bank itu. Polisi Byun menegaskan kalau polisi anggap ini penyalahgunaan kekuatan, sebagian menganggap ini soal hak asasi.
“CobaLihat, Aa kau tak lihat dia menggunakan seragam sekolah? Bisanya perampok bank meminta kompensasi setelah dipukuli anak SMA?” ucap Nyonya Duk membela anaknya.
“Masalahnya, walau putramu 17 tahun...  Aku paham dia perampok, tapi lihat wajah ini. Maksudku, lihat saja matanya.” Kata Polisi Byun.
“Aku yakin dia melihat kotak bekal di tangan putraku, jadi, seharusnya dia berhati-hati. Kenapa dia membiarkan anak SMA mematahkan giginya saat dia punya pistol? Lalu kenapa aku harus membayar pengobatannya?” ucap Nyonya Duk mengomel. Yong Si malah memilh makan permen diatas meja.
“Dasar bodoh, kenapa kau makan ini?” teriak Nyonya Duk kesal memukul anaknya, Polisi Duk pun mencoba memisahkan.
“Kurasa hanya aku...di negara ini yang harus membayar implan gigi perampok bank. Hidup Yong-sik sendiri merupakan perang melawan kejahatan.”


Yong Sik terlihat sedikit mabuk sedang buang air kecil di dinding, lalu melihat pria yang membawa motor. Ia pun menahanya dan bertanya apakah kehilangan kuncinya karena tak menyalakan motornya tapi menuntunya.
“Dia pernah menangkap pencuri motor saat sedang kencing di jalan.”
Yong Sik sedang menjadi sopir penganti, lalu melihat ke sisi kiri jalan, lalu memberitahu Pelangganya kalau baru melihat sesuatu dan langsung memutarkan balik mobil dengan cepat.
“Kenapa dia harus melihat pencopet saat mengemudikan taksi?” 

Yong Sik menjadi kurir pengantar paket, lalu melihat pria akan menuruni tangga terlihat senang karena ternyata ada orang dirumah padahal terus menelepo tapi tak ada yang mengangkat. Ia pun memberikan paket untuk Unit 401. Si pria menganguk dan terdengar suara anjing mengonggong.

“Anjingnya terus menyalak. Kenapa kau memakai sarung tangan di panas terik begini? Apa Kau yakin ini untukmu?” ucap Yong Sik. Si pria menganguk dengan wajah panik akan mengambil paket.
“Sebentar, aku lupa memeriksa... Apa kau Kim... Kim A-reum?” ucap Yong Si mulai curiga karena harusnya seorang wanita. Si pria kebingungan. 


Si Pria akhirnya dibawa polisi dengan wajah babak belur. Yong Sik terlihat bangga karena penghuni mengetahui anak muda yang memukul pelaku. Polisi Byun mengeluh pada Yong Sik agar menelpnya saja karean merek selalu ada untuknya.
“Saat aku di sana, aku melihat si berengsek itu berjalan keluar. Astaga, waktunya pas. Aku mendapat firasat buruk saat melihat berandalan kecil itu.” Ucap Yong Sik bangga
“Dia tidak "kecil." Kami pasti menyiapkan amunisi saat menahan penjahat sepertinya. Kau selalu tangkap mereka tanpa apa pun. Kami jadi mirip pecundang. Apa Kau mempermainkan kami?” ucap Tuan Byun menunjukan selembaran buronan.
“Apa aku akan mendapat penghargaan lagi?” tanya Yong Sik tak percaya ternyata itu pelaku kejahatan yang dicari polisi.


Di rumah banyak “ANUGERAH PENGAKUAN, PENGHARGAAN” dan ada jimat juga yang ditaruh disampingnya. Nyonya Duk pun binggung anaknya akan menjadi sesuatu dan kenapa anaknya bisa seperti itu. Yong Sik pun akhirnya mengunakan seragam polisi.
Nyonya Duk duduk disamping Polisi Byun terharu datang ke acara, UPACARA PELANTIKAN POLISI KE-243 terlihat terharu melihat anaknya. Yong Sik terlihta gugup didepan wartawan mengaku  hanya menangkap karena melihat.
“Apa yang kau pikirkan saat melihat tersangka kabur?” tanya wartawan. Yong Suk mengaku tak ada.
“Kau tahu, aku bukan tipe orang yang berpikir panjang. Saat aku melihat penjahat, tubuhku otomatis bereaksi.” Ucap Yong Si. Wartawan tak percaya itu terjadi saat melihat penjahat
“Benar. Maksudku, saat aku melihat mereka, tubuhku otomatis.. Aku merasakan dadaku membuncah, dan tubuhku otomatis...” ucap Yong Sik gugup.
“Astaga, si bodoh itu. Kenapa dia katakan hal yang sama berulang-ulang?” keluh Nyonya Duk melihat anaknya.
“Kau mungkin bingung apa harus senang atau tidak soal ini, tapi yang penting kini dia pegawai negeri. Jika Yong-sik tak masuk kepolisian, dia mungkin melakukan hal yang sangat konyol.” Ucap Tuan Byun.
“Bukankah kau sibuk? Kau pasti banyak waktu senggang.” Ejek Nyonya Duk, Tuan Byun mengaku mengambil cuti.
“Kenapa kau mengambil cuti?” tanya Nyonya Duk. Tuan Byun  mengaku ingin hadir di peristiwa bersejarah ini.
“Katanya kau pasti buang air besar jika terus kentut. Dengar, aku tahu ini akan tiba saat dia tangkap perampok bankdengan kotak bekalnya.” Ucap Tuan Byun.
“Begini... Kumohon jangan terlalu dekat dengan putraku.” Kata Nyonya Duk. Tuan Byun hanya bisa melonggo. 



Nyonya Duk mengeluh Yong Sik  bersikeras bekerja di Seoul, berkata dia harus pacaran dengan wanita yang lahir dan besar di Seoul. Karena itu anaknya pindah ke sana, tapi masih belum menikah. Ia pun mengeluh karena lengan anaknya dijahit.
“Kenapa lompat ke arah orang dengan pisau saat dia tak membawa apa pun?” keluh Nyonya Duk kesal
“Jangan khawatir. Hatinya akan lunak saat bertemu dengan orang yang tepat.” Kata Si peramal
“Wanita? Apa Menurutmu dia akan menikah?” tanya Nyonya Duk. Si peramal melempar garam di meja.
“Seekor kelinci akan bertemu seekor naga.” Ucap Peramal. Nyonya Duk pikir mungkin ini artinya Yong-sik akan terbang tinggi.
“Kurasa dia akan bertemu gadis yang seperti kelinci lucu.” Kata Nyonya Duk bangga.
“Tidak. Maksudku, Yong-sik akan bertemu naga... Yong-sik adalah kelinci.” Kata Si peramal.
“Astaga, apa kau mabuk? Lalu di mana naga ini?” tanya Nyonya Duk tak percaya.
“Di timur.” Kata peramal menujuk ke sisi kirinya, Nyonya Duk mengeluh kalau peramal itu selalu mengatakan itu.
“Aku bahkan tak tahu timur di sebelah mana.” Keluh Nyonya Duk, Saat itu Dong Baek datang.
“Aku kemari untuk menyapa. Aku membawa kue beras.” Ucap Dong Baek mengunjungi tetangganya. 


Chan Sung melihat kartu nama CAMELLIA lalu mengaku setuju karena Dong Bae jelas butuh jendela karena toko bunga harus punya jendela. Bibi Kim Jae Young pun berpikir kalau Dong Baekhususnya menjual kamelia. Dong Bae ingin menjelaskan tapi dua bibi menyela.
“Aku penasaran apa toko bunga bisa sukses di sini.” Komentar Bibi Kim, Bibi Park yakin itu pasti bisa sukses.
“Aku membeli anyelir sekali setahun.” Ucap Bibi Park, diam-diam Nyonya Duk menguping.
“Sebenarnya, ini bukan toko bunga... Tapi Ini bar... Ini bar bernama Camellia.” Akui Dong Baek. Semua kaget dan bisa mengerti.
“Apa Kau membuka pub bersama suamimu?” tanya Bibi Park, Dong Baek mengaku hanya sendiri. Mereka pun kaget lag.
“Apa pekerjaan suamimu?” tanya Bibi Park, Bibi Km mengeluh kalau mereka harus hormati privasinya.
“Aku tak punya suami.” Akui Dong Baek, mereka kaget lagi kalau Dong Bae tak punya suami.
“Apa Kau bercerai? Atau janda?” tanya Bibi Kim yang akhirnya ingin tahu. Dong Baek mengaku Belum pernah menikah. Mereka makin tak percaya dengan Dong Baek.
“Kalau begitu siapa ini? Apa dia keponakanmu?” kata Bibi Park, Dong Baek mengeluh wajah anak kecil didepanya dan mengaku sebagai putranya.
“Kalian bisa punya anak tanpa menikah... Itu bisa saja.” Ucap Dong Baek santai. Keduanya pun menganguk mengerti walaupun terlihat kebingungan.
“Silakan datang kapan saja.” Ucap Dong Baek, mereka menganguk kalau suka bir.


Bibi Park sambil membersihkan kepiting tak percaya kalau  ibu tunggal membuka bar. Nyonya Duk pikir tak ada hukum yang melarang ibu tunggal membuka bar dan menurutnya janda juga tidak boleh menjual kepiting rendam padahal menjual soju dengan kepiting rendam.
“Kau mungkin tidak tahan denganku.” Sindir Nyonya Duk,  Bibi Park mengaku bukan begitu maksudnya.
“Apa punya suami bisa dibanggakan?” komentar Nyonya Duk,  bibi Park pikir Itu bukan katanya.
“Suami yang tinggal di rumah tak berguna di Ongsan.  Mereka hanya bisa membantu di tempat parkir.” Komentar Nyonya Duk.
Tuan Song sibuk makan nanas lalu berlari saat melihat ada mobil yang akan parkir. Bibi Park pikir Itu masih lebih baik daripada tak punya dan hanya berkata jujur. Nyonya Duk pun langsung meminta agar uangnya dikembalikan pada Bibi Park sesegera mungkin.
Bibi Park pun tak bisa berkata-kata, saat itu terdengar bunyi suara alarm mobil dan Tuan Song terlihat sedang mencoba memarkirkan mobil tapi menabrak mobil dibelakangnya. Bibi Park yang marah langsung menancapkan pisaunya. 


Dong Baek menerima pesanan kubis, Si kurir pun menurukan pesanan. Dong Baek pun bertanya apakah boleh hanya membeli separuh boks kubis. Si kurir terihat binggung. Dong Baek akhirnya mengurungkan niatnya. Pria akhirnya mengetahui kalau Camelia bukan toko bunga.
“Lelaki tidak berguna di Ongsan. Mereka hanya bisa merusak bumper.” Komentar Nyonya Duk. Tuan Song pun sedang berusaha agar tak terlihat lecet. Sementara Dong Bae sibuk memotong kol dan terlihat kurang mahir.
“Seung-yeop, kau sedang apa? Bersiaplah membuka restoran.” Kata Bibi Jung Gwi Ryun didepan restoran KEPITING RENDAM PUTRI
“Kenapa Ibu melahirkanku jika dia akan memberikan semua kepada putrinya?” keluh Seung Yeob siap membuka toko.
Bibi Park bertanya pada Suaminya Tuan Park,  Berapa nanas yang dijual. Tuan Song mengaku Tidak sebanyak itu dan hanya menjual beberapa. Terlihat tempat yang menjual KEPITING RENDAM
“Entah karena resep atau restorannya, semuanya diturunkan kepada putri atau menantu wanita.” 


Bibi Jang membawak piring kotor lalu menyuruh suaminya agar mebeli ayam goreng saat pulang. Tuan Yang bertanya apa ingin yang pedas. Bibi Jan menjawab Separuh pedas dan separuh biasa. Tuan Yang menganguk mengerti.
“Saat istrimu adalah bosmu, kau harus bekerja 24 jam sehari.”
Sebotol bir dibuka, Dong Baek seperti mulai mahir melakukan semua dalam satu waktu.  Tuan Yang dan Tuan Song sedang mancing bersama, mereka pikir tak ada yang  mau minum-minum di restoran tempat mereka bekerja seharian, bahkan bau kepiting rendam.
“Kami bahkan tak punya tempat untuk bersantai dan menikmati minuman. Tapi ternyata, ini bukan toko bunga.”
Dong Baek terlihat makin sibuk dan orang yang datang makin banyak memesan soju dan bir. Keahlian memotongnya pun makin bagus, sangat halus, tipis dan cepat.
“Apa Kau pernah melihat orang baru bertahan di Ongsan?” ucap Bibi Park. Bibi Kim yakin akan terkesan jika dia bertahan tiga bulan. Setelah berganti musim, bar CAMELLIA masih bisa bertahan.
“Berkat suka dan duka orang-orang di Ongsan, Camellia bertahan selama enam tahun.” 

ENAM TAHUN KEMUDIAN
Di malam hari, Tuan Song keluar dari bar mengaku ada di pemakaman. Setelah itu masuk ke dalam bar Camelia yang penuh dengan para pria yang merasa tertekan. Dinding banyak sekali coretan “LEZAT SEKALI AKU SUKA SOMAEK”

Dong Baek dilantai atas melihat buku kamus bahasa inggris, anaknya Pil Goo sedang makan. Dong Bae melihat SEKOLAH DASAR ONGSAN BULETIN ditanganya terlihat binggung. Pil Goo bertanya apakah ibunya sudah memutuskan nama Inggrisnya.
“Apa aku harus hadir di sesi konseling ini?” tanya Dong Baek. Pil Goo memberitahu kalau semua ibu teman sekelasnya datang.
“Apa Kau mau melewatkannya lagi?” keluh Pil Goo. Dong Baek ingin tahu pakah guru anaknya itu orang asing.
“Apa gurumu hanya bisa bahasa Inggris?” tanya Dong baek heran. Pil Goo pun ingin tahu apa nama inggris ibunya.
“Nama Inggrisku? Diana... Yah... Diana saja.” Ucap Dong Baek setelah berpikir. Pil Goo binggung.
“Dia adalah  ratu Inggris.” Jelas Dong Baek, Pil Goo binggung bertanya Diana itu putri atau permaisuri.
“Bagaimanapun, dia sangat modis dan cerdas. Dia tampak sangat cerdas.” Jelas Dong Baek
“Ibu, apa kau ingin tampak cerdas?” tanya Pil Goo, tiba-tiba teriakan pelangga memanggil Dong Baek agar membawakan berondong jagung.  Dong Baek pun bergegas turun, Pil Goo pun terlihat sedih melihat ibunya. 

Tuan Byun mengeluh pada pria yang duduk sofa kalau sebelumnya mengatakan akan bertemu Putri Diana di Seoul, tapi turun pangkat bahkan sebelum bertemu jodohnya. Ia pun ingin tahu alasan pangkatnya diturunkan.
“Aku dipindahkan kemari. Tolong jangan menyebutnya turun pangkat.” Ucap Yong Sik membela diri.
“Omong kosong... Kenapa memukul orang saat menjadi polisi? Lalu kenapa kau memukulinya di depan kamera?” keluh Tuan Byun kesal. 

Flash Back
Yong Sik membawa pelaku ke depan wartawan didepan kantor polisi. Wartawan mulai bertanya “Apa perasaanmu saat itu? Kenapa kau membunuh pacarmu?” Pelaku menjawab dengan gaya arogan mengatakan pacarnya tak pernah patuh.
“Aku memukulnya karena dia pantas mendapatkannya.” Ucap si pelaku, Yong Sik tak bisa menahan emosi langsung mukul kepala si pelaku.
Wartawan melihatnya kaget karena polisi memukul si pelaku,  si pelaku pun bingung Yong Sik yang berani memukulnya. Yong Sik pun berteriak kalau itu karena pantas mendapatkannya dan terus memukulnya, temanya binggung meminta Yong Sik agar tenang.
Akhirnya berita dengan Yong Sik yang memukul  pelaku tersebar [PRIA KASAR MEMBUNUH PACARNYA] Komentar dari netizen pun muncul  [BAGUS, AKU SUKA POLISI KASAR SEPERTINYA, TAPI PANGKATNYA MALAH TURUN] 

Tuan Byun mengeluh kalau Yong Sik berpikir dirinya itu petarung MMA. Yong Sik mengaku tak menyesal sama sekali soal hantaman lutut itu. Tuan Byun pun tak peduli, Yong Sik mengaku merasa sedih karena pindah kemari sebelum bertemu Putri Diana di Seoul.
“Kenapa dia sangat menyukai Putri Diana?” keluh Tuan Byun pada juniornya.
“Wanita impianku adalah seseorang yang cerdas, anggun, dan pintar. Kau tahu maksudku. Sederhananya, seseorang yang selalu dapat peringkat lima ke atas saat ujian di sekolah. Itu tipe wanita yang kumaksud.” Ucap Yong Sik bangga
“Apa kau haus kecerdasan?” keluh Tuan Byun, Yong Si pikir wanita Idealnya, seseorang yang tinggal di Seoul, bukan di perdesaan.
“Lalu kenapa kau dipindahkan kemari sebelum mengencani tipe itu?” ejek Tuan Byun.
“Anehnya, wanita asli Seoul bukan satu-satunya di kota. Anehnya, setiap wanita yang kutaksir berasal dari perdesaan.” Ungkap Yong Sik
“Apa yang aneh dari itu? Orang kampung saling mengenali.” Komentar Tuan Byun.
“Astaga, yang benar saja. Aku mungkin tak seharusnya mengatakan ini di depan orang dari kampungku, tapi dalam hal ini, semua mengira aku dari Seoul.” Komentar Yong Sik dengan tawa mengejek.
“Baiklah, tentu saja. Mari adakan pesta penyambutan. Di Ongsan ada Diana juga.” Ucap Tuan Byun
“Astaga, aku tidak pergi ke bar tempat ada para gadis.” Kata Yong Sik menolak. Tuan Byun menegaskan tempat itu tidak seperti itu.


Tuan No mengajak dua orang teman, Yong Baek masuk terlihat wajah cantiknya. Dua pria bertanya apakah Tuan No dekat dengan Dong Baek.   Tuan No mengaku kalau dekat seperti teman. Temanya berkomentar kalau  Tuan No itu seperti pelanggan VIP terbesar.
“Mungkin hanya dia yang minum Chivas Regal di Ongsan.” Komentar teman lainya.
“Hei, Dongbaek. Aku pesan Chivas lagi.. Apa Kau punya kacang? Ya, aku membawa pejabat tinggi di distrik kita, jadi, berikan aku kacang gratis.” teriak Tuan No bangga pada Dong Baek.
“Kau pasti dekat dengannya jika bisa minta gratis.” Komentar temanya bangga.
“Kacang harganya 8.000 won. Akan kubawakan.” Ucap Dong Baek, Tuan No terlihat malu menyuruh Dong Baek pergi saja.
“Kukira kalian teman dan dekat dengannya.” Ejek temanya, Tuan No pun hanya bisa menahan malu. 

Pil Goo menemui pelanggan lain, mengeluh karena memanggil ibunya "Dongbaek". Tuan Song pikir kalau ini nama tempatnya. Pil Goo pikir Tuan Song juga harus memanggil ibu Jun-gi "Kepiting" dan ibu Dae-seong "Perut Babi" Tuan Song terlihat bingung.
“Kalau begitu aku harus panggil apa?” kata Tuan Song, Pil Goo menegaskan ibunya pemilik bar jadi meminta agar memanggil CEO. Tuan Song pun menganguk mengerti.
“Jika kalian bicara tak sopan lagi kepadanya, maka aku tak akan memberi berondong gratis.” Tegas Pil Goo memberikan berondong jagung.
“Kukira dia akan katakan ingin memukulku.” Komentar Tuan Song ketakutan melihat Pil Goo
“Bagaimana orang seperti Dongbaek melahirkan anak sok tahu sepertinya?” keluh temanya. Tuan Song pikir itu pasti keturunan ayahnya.


Saat itu di TV, terlihat seorang pria sedang mengendong seorang bayi. Kang Jong Ryul  dudk dengan Jessica sambil mengendong anaknya mengaku kalau lakukan bersam dan ia  banyak bantu. PD melihat kalau istri Tuan Kang memang cantik.
“Apa Kau mau aku mencucinya? Penonton mengeluhkan kau selalu pura-pura makan dan tak pernah makan sungguhan.” Komentar Jong Ryul melihat istrinya hanya memainkan cream diatas kue.
“Apa Kau harus merekam kami memakan ini? Mari hentikan di sini.” Keluh Jessica yang tak mau syuting. 


Jessica mengunakan pakaian yang ketat dan sexy, terlihat lekuk badanya dan mulai berpose didepan cermin. Ia pun langsung mengungah di social medianya dengan hastag #CEKTUBUH, #PEDIET, #TAPI_MAKAN_KUE, #AKU_NYONYA_KANG_JONG-RYEOL saat itu mencium sesuatu dari dapur. 

Jessica marah melihat Jung Ryul makan mie instant mengeluh kalau  egois sekali, karena seharusnya makan  mi instan, setelah pergi ke rumah ibunya dan malah makan sekarang lalu mengejek kalau akan menambahkan telur juga.
“Aku harus makan sebelum naik kereta. Biarkan aku makan mi instan.” Keluh Jung Ryul kesal
“Astaga, kau egois.” Ejek Jessica. Jung Ryul tak terima menurutnya Jessic yang egois.
“Suamimu seorang atlet... Kenapa kau hentikan aku makan di rumah?” keluh Jung Ryul
“Jika ingin istri suportif, kenapa menikahiku?” ucap Jessica. Jung Ryul merasa tak minta dukungan.
“Biarkan saja aku saat masak untuk diriku sendiri. Aku tak pernah memintamu memasak.” Kata Jung Ryul
“Kau pikir aku menikahimu untuk memasak?” ucap jessica. Jung Ryul pikir kalau Jessic menikahinya untuk berfoto.

Jessica sudah siap memakain masker keluar rumah, Jong Ryul mengeluh kalu Jessica hanya pergi dari unit 101 ke 103, jadi tak perlu masker dan tak seterkenal itu Bahkan bintang idola di unit 105 tidak pakai. Jessica tak mengubris kalau Jong Ryul memberi tahu nanti jika ada rekaman.
“Jika mereka datang mendadak, aku tak mau” ucap Jessica, Jong Ryul pikir kru itu juga bodoh ,karena sudah tahu mereka tak tinggal bersama.
“Karena itu kau harus lebih baik.”tegas Jessica. Jong Ryul pun bertanya apakah dengan aktingnya.
“Jong Ryul, aku Jessica.” Tegas Jessica. Jung Ryul mengejek Apa artinya itu. Jessica mengaku figur publik.
“Kenapa kau figur publik?” ejek Jong Ryul, Jessica pikir Jong Ryul  bisa lihat tanda centang di akun media sosialnya.
“Aku punya 77.000 pengikut.” Tegas Jessica bangga. Jong Ryul pun makin mengejek Jessica.
“Benar, kau mengunggah makananmu, cara tidur dan membersihkan tubuh. Karena penasaran, aku mengikutimu.. Lalu... bisakah kau pakai pakaian yang benar? Kau pasti mengira celana ketat itu seksi, tapi itu membuatmu seperti lolipop hitam.” Ucap Jong Ryul melemparkan jaket.
“Apa pedulimu jika aku buka baju? Aku tak buka baju untukmu, jadi, urus saja urusanmu Atau perlukah kukatakan, bermimpilah?” ejek Jessica.
“Hei, kau ini hanya cantik, ya? Kau hanya itu.” Keluh Jong Ryul, sang anak tiba-tiba menangis.
“Kenapa anak itu menangis?” keluh Jessica kesal sambil menutup matanya.
“Kau bilang "Anak itu?" Dia bukan anak orang lain.” Teriak Jong Ryul kesal melihat tingkah Jessica. 


Akhirnya Jung Ryul mengendong sendirian anaknya sambil menatap kearah jendela mengeluh kalau hidup berat sekali. Ia pun terus merasa seperti... lalu mengelus anaknya kalau sebagai ayah yang jahat.  Sementara Dong Baek melakukan hal yang sama pada sang anak.
“Ada apa? Kenapa kau kesal lagi?” tanya Dong Baek lalu memeluk anaknya dan saat itu seperti dibelakangnya ada orang yang mengikuti keduanya.
Bersambung ke episode 2

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar