PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 30 April 2019

Sinopsis My Fellow Citizens Episode 18

 PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Jung Kook dan Joo Myung keluar dari tempat debat, beberapa wartawan sudah menunggu dan langsung mengajukan pertanyaan “Apakah komentar penipu  itu pernyataan politik? Kenapa Anda mengganti strategi kampanye? Tolong beri tahu kami!”
“Pernyataan tentang penipu bukan tentang dirinya, tapi semua kandidat dalam debat. Mereka membuat janji palsu yang tidak bisa mereka tepati dan begitu terpilih, mereka pura-pura tidak tahu.” Ucap Joo Myung lalu Jung Kook memilih masuk mobil.
“Dia mengatakan politisi seperti it tidak berbeda dari penipu Jika kita pikirkan, kita semua adalah penipu. Penipu yang menipu warga! Aku harap kalian mengerti arti di baliknya. Kami akan menjelaskan detailnya nanti lewat pernyataan tertulis.” Kata Joo Myung
Wartawan terus meminta agar Jung Kook memberikan komentar dan pernyataannya. Jung Kook tetap diam dalam mobil tak ingin membahasnya. 

Jung Kook duduk diam dalam ruangan, Joo Myung menatap dingin bertanya apakah sudah puas. Jung Kook hanya diam. Joo Myung mencoba menahasn emosi berpikir akan membahasnya, menurutnya lebih baik Jung Kook mencoba menghipnotis orang-orang
“Mari kita memilih konsep yang gila...”ejek Joo Myung. Jong Kook pikir kalau Joo Myung tidak berhak bicara karena Joo Myung juga salah.
“Terserah. Berbuatlah sesukamu... Hidupmulah yang berakhir, bukan hidupku... Baik. Kerjamu bagus, Pak Yang. Mulai besok, saat berkampanye, pastikan kau memakai topi dan rompi antipeluru. Orang-orang mungkin akan menyerangmu dengan pisau, batu, dan telur... Aku akan pergi.” kata Joo Myung lalu keluar dari ruangan. 

Jung Kook bertanya  Berapa banyak sukarelawan yang berhenti dari kampanye mereka. Seung Yi menjawab ada 20 lalu menerima pesan kalau jumlahnya jadi 21, lalu Charles juga menerima pesan dan jumlahnya 22 lalu dengan Dong Il yang baru saja pergi, menjadi 23.
“Apa Dong Il juga berhenti?”kata Jung Kook tak percaya. Charles pikir Jung Kook yang sudah menghabisinya di TV jadi tak ada gunanya untuk tetap bersama mereka.
“Dia mengirim pesan teks tadi mengatakan dia akan memilih Kang Soo Il karena dia membencimu.” Jelas Charles
“Begini, kita bisa mempekerjakan orang baru.. Aku punya kalian, Ohh Ya .. ada Pak Park.” Ucap Jung Kook menatap Wang Goo. Wang Goo yang akan membuka jaket akhirnya kembali memakainya.
“Kalian mendukungku... Omong-omong. Aku hanya akan berkampanye dengan orang-orang yang kupercaya sekarang. Bekerjalah sebaik mungkin sampai akhir. Bantu aku berkampanye mulai besok.” Ucap Jung Kook
“Apa Kau ingin kami keluar di lapangan? Bagaimana jika istrimu tahu?” kata Seung Yi dan Charles pun juga merasa khawatir.
“Dia sudah tahu kalian bekerja untukku.”kata Jung Kook lalu melihat nama Hoo Ja yang menelp pada layar ponselnya, tapi membiarkanya. 
Hoo Ja terlihat kesal karena Jung Kook yang tak mengangkat telpnya tapi mencoba untuk tenang. Saat itu seseorang masuk ruangan. Jung Kook dkk kaget melihat Sang Jin dan dua anak buahnya datang berkunjung. 


Mereka makan daging pangang bersama, tapi Jung Kook hanya duduk bersama Sang Jin. Anak buah Sang Jin bertanya pada Wang Goo yang  kuliah jurusan ekonomi di Harvard, apa tahu George Big.
“Kami pergi berwisata ransel bersama. Apa Kau kenal George?” ucap Anak Buah Sang Jin. Wang Goo mengaku mengenalnya.
“Kami sangat akrab, Dia sangat menyukai nasi goreng kimchi. Dia selalu datang untuk makan. Dia makan banyak kimchi. Dan dia bahkan bukan orang Korea.” Kata anak buah Sang Jin
“Nama yang besar. George Big...” komentar Chalres pada Seung Yi
“Siapa itu George Big? Siapa dia yang pergi berwisata ransel denganmu?” kata Anak buah Sang Jin yang pria.
“Sayang... Saat itu kau ikut dengan kami, Bodoh. Kau sangat tertarik kepada adik perempuannya. Makin aku mulai ingat, maka aku makin kesal. Dasar.. Kau terus berhubungan,kan?” ucap si wanita marah. Si pria mengelak.
“Kau satu-satunya wanita yang kuhubungi.. Aku mencintaimu.” Ucap si pria. Si wanta tak percaya meminta suaminya agar memberikan ponselnya sebagai bukti. 


Jung Kook melihat anak buah Sang Jin yang berkelahi, lalu bertanya apakah  tidak akan menghentikan mereka yang berkelahi. Sang Jin pikir tak masalah menurutnya itu cara mereka mengekspresikan cinta masing-masing.
“Mereka punya 7 anak. 5 putra dan 2 putri” ucap Sang Jin. Jung Kook bisa mengerti kalau Mereka pasti saling mencintai.
“Jung Gook, mengenai apa yang kukatakan di debat...” kata Sang Jin merasa bersalah. Jung Kook pikir tak masalah karena tidak peduli.
“Semua politisi sama saja.” Kata Jung Kook. Sang Jin pikir kalau perkataan itu penghinaan
“Itu bukan pujian.... Benar... Kau cukup berpendidikan. Semua politisi di luar sana belajar di universitas top. Tapi mereka tidak pernah inga atau tahu apa pun. Jika kau tidak ingat dan tidak tahu apa pun, bagaimana kau bisa belajar? Apa aku salah?” komentar Jung Kook. Sang Jin hanya diam sambil minum Soju.
“Aku tidak datang ke sini untuk meminta maaf dan memintamu memaafkan aku... Bukan itu... Aku hanya ingin mengatakan satu hal ini. Aku harap kekecawaanmu kepadaku sebagai politisi tidak akan meluas menjadi kekecewaan kepadaku secara pribadi. Itu yang ingin kukatakan.” Ucap Sang Jin.
“Satu-satunya hal yang kudengar adalah "Aku akan mengecewakanmu mulai sekarang" dalam perkataanmu. Orang-orang terjun dalam politik, dan menciptakan politik. Jadi, bagaimana aku tidak kecewa kepada mereka? Jangan berusaha meloloskan diri dengan omong kosong itu.” Ucap Jung Kook lalu berdiri
“Fokus saja pada kampanyemu... Akan memalukan jika kau kalah melawanku. Sampai jumpa.”ucap Jung Kook
“Aku mendengarmu tadi... Aku dengar apa yang kau katakan kepada Kim Joo Myung di debat.” Kata Sang Jin. 



Flash Back
Sang Jin bisa mendengar ucapan Jung Kook marah “Apa Pengaduan perdata apa yang kau serahkan terkait Mi Young? Beri tahu aku sekarang. Apa yang kamu lakukan kepada Mi Young?”
“Kenapa kamu berbicara tentang Mi Young dengannya? Apakah pemilihanmu untuk jabatan ini berkaitan dengan Mi Young?” ucap Sang Jin
“Jika kau menanyaiku hal ini beberapa jam yang lalu, jawabanku mungkin akan berbeda. Tapi sekarang,.. aku akan menjawab sepertimu. Aku tidak tahu.. Aku kurang ingat.” Kata Jung Kook lalu mengajak Seung Yi dkk untuk segera pergi.
Sementara anak buah Sang Jin masih saja berkelahi membahas tentang wanita lain yaitu Josephina Big.



Detektif Koo dan Detektif Na terlihat gugup. Mi Young datang dengan seragam lengkap. Detektif Ko ingin tahu Apa yang terjadi, Mi Young mengaku sudah berusaha sebaik mungkin jadi yakin akan diskors selama satu atau dua bulan.
“Seorang bedebah menerima suap dan menipu kita. Kenapa kau yang harus ditegur?” keluh Detektif Na marah
“Kita tidak punya bukti... Lebih baik mengatakan aku gila dan kehilangan kendali.” Ucap Mi Young
“Kau bilang salah satu dari kami adalah bayaran Park Hoo Ja. Mari kita temukan orang itu dahulu. Jika kita menyelidiki bedebah itu, maka kita akan bisa menemukan bukti.” Ucap Detektif Ko geram. Mi Young pikir tak perlu.
“Sudah kubilang aku tidak mau mencurigai dan marah kepada satu sama lain. Mari menunggu sampai orang itu kembali kepada kita.” Ucap Mi Young. Detektif Lee hanya diam saja.
“Di luar menyenangkan... Aku tidak ingin bekerja... Mari membolos. Jika ketahuan, kita akan mengatakan itu pesta perpisahanku.” Kata Mi Young, Detektif Koo dan Na ikut pergi mengikutinya. Detekif Lee terlambat ikut bersama Mi Young. 



Mi Young menuangkan soju pada Myung Shik berpesan agar membantu para detektif selagi dirinya tidak ada dan Jangan selalu tertidur. Myung Shik menganguk mengerti.  Detektif Na pun kembali memesan dua botol soju lagi.
“Tapi Letnan, kurasa ada banyak detektif yang menerima bayaran dari orang jahat dan melindungi mereka seperti di film-film.” Komentar Myung Shik
“Tidak, tidak ada... Hanya sampah yang tidak berguna yang melakukan itu. Mana mungkin polisi melakukan itu? Mereka sampah...” kata Detektif Ko. Detekti Lee bergumam dirinya memang sampah.
“Bedebah yang menerima suap seharusnya ususnya ditarik keluar dari tubuh mereka dan dikunyah. Kita harus mengunyah semua orang berengsek itu.” Ucap Detektif Na marah. Detektif Lee bergumam kalau dirinyaadlah  orang berengsek.
“Di film-film, orang seperti Detektif Lee menerima suap dan ditembak mati oleh karakter utama.” Komentar Myung Shik.
“Apa yang kamu bicarakan, Berandal? Kenapa kau menonton film-film aneh seperti itu? Kau harus belajar, Berandal! Kau terlihat bodoh. Apa Kau tahu persamaan kuadrat? Sebutkan. Jangan membuat lelucon tentang Formula One.”ucap Detektif Lee marah
“Tenanglah, Detektif Lee... Kenapa kau mengejeknya? Lagi pula bukan kau yang menerima suap. Kau sangat aneh.” Kata Mi Young heran.
“Tidak apa-apa... Itu karena dia mengatakan hal-hal tentang penampilanku... Hei... Myung Shik, pulanglah  dan belajar persamaan kuadrat. Orang dewasa perlu bicara.” Ucap Detektif Lee.
Myung Shik binggung, Detektif Lee menyuruh untuk pergi. Akhirnya Myung Shik pergi dan pamit pada seniornya. Setelah Myung Shik pergi, Detektif Lee langsung meminum soju satu botol habis. Semua terlihat bingung dengan tingah rekan kerjanya.

“Aku orangnya, Letnan... Aku yang menerima suap Park Hoo Ja... Setelah penipuan makelar real estat palsu itu, aku menerima telepon dari nomor tidak dikenal... Dia memintaku bertemu, jadi, aku pergi.” akui Detektif Lee 


Flash Back
Detektif Lee pertema kali bertemu saat di ruangan Real Estate, lalu datang menemui Hoo Ja kaget melihat ada banyak uang di dalam koper, lalu bertanya alasa memberikan uang itu padanya. Hoo Ja tahu kalau seluruh keluarga Detekti Lee tinggal di luar negeri
“Dan kau mengirimi mereka uang... Aku meminjamimu uang tanpa agunan agar anak-anakmu bisa belajar dengan nyaman. Perusahaan kami paling menghargai detektif. Detektif selalu memberi kami sebanyak apa yang kami berikan, tidak seperti politisi.”ucap Hoo Ja dengan senyuman mengoda. 

“Tapi aku benar-benar tidak tahu tentang kasus ini. Aku tidak tahu apakah dia tidak memercayaiku, tapi aku benar-benar... Kau mengambil semua ponsel kami. Tapi Dia mengambil...” ucap Detektif Lee
Tiba-tiba Detektif Koo langsung meluapkan amarah memukul Detektif Lee itu sangat menjijikkan. Detektif Na meminta agar berhenti, Detektif Lee mulai mengaduh kesakitan, Mi Young pun membiarkan seperti ingin melampiaskan amarahnya. 

Akhirnya Detektif Lee sudah babak belur sambil mengepel lantai yang basah. Mi Young meminta Detektif Lee agar mendekat dan mengajak untuk melakukan sesuatu. Detektif Lee terlihat binggung, Mi Young tahu kalau Park Hoo Ja akan terus melakukan kejahatan.
“Dan aku akan kembali setelah skorsku usai. Tetaplah bersamanya sampai saat itu.” Ucap Mi Young. Detektif Lee tak mengerti maksudnya.
“Aku akan melupakan masalah suapmu Jadi, bayar aku dengan sesuatu yang besar nanti. Kau Jadilah agen ganda di antara kami.” Kata Mi Young
“Untuk apa kau melupakannya? Kau harus memenjarakannya.” Keluh Detektif Kook. Detektif Lee meminta diam saja karena Mi Young  sedang bicara.
“Jadi, maksudmu, jika aku memainkan peran besar dalam menjatuhkan Park Hoo Ja, lalu apa kau akan melupakan bahwa aku menerima uang darinya?” kata Detektif Lee memastikan.
“Kau sudah mengaku, jadi Kau harus menebus kesalahanmu. Jauhilah masalah selagi aku tidak ada.” Pesan Mi Young
“Tentu saja. Aku akan bersikap baik dan tenang seperti tikus. Letnan kita sangat keren. Aku berpikir begitu sejak pertemuan pertama kita. Kau sungguh-sungguh tipeku.” Kata Detektif Lee. Tiba-tiba Detektif Na membanting gelas dimeja.
“Tapi sebelum itu, bolehkah aku memukul Dal Shik si Berengsek itu sekali saja di wajahnya? Aku sangat kesal.” Kata Detektif Na
Detektif Lee pikir rekan kerjanya itu sedang mabuk. Mi Young mengajak Detektif Koo untuk pergi saja. Detektif Koo memberitahu Detektif Lee kalau Na Bo Yun adalah juara tinju jadi akan mati.
“Hei, Dal Shik. Aku akan bersikap tidak sopan khusus hari ini... Kemari, Berandal.” Ucap Detektif Na, Mi Young dan Detektif Koo membiarkan Detektif Na untuk membiarkan dipukuli. 


Jung Kook kembali melakukan kampanye dan makan didalam mobil sambil mengeluh. Wang Goo datang meminta maaf karena ketiduran padahal Biasanya bangun pukul 6.00 sama dengan ayam jantan.. Jung Kook menyindir Wang Goo yang bilang tidak pernah ketiduran seumur hidupnya.
“Benar. Ini pengalaman pertamaku ketiduran, aku sangat bingung. Aku menghukum diriku agar tidak mengulanginya lagi.” Kata Wang Goo membela diri
“Terserah. Entah belajar menyetir atau tidur lebih sedikit... Kau tidak bisa mengerjakan apa pun dengan baik kecuali PR. Bahkan sebelumnya, aku memintamu membeli apa pun selain kopi karena aku tidak bisa tidur dan kau membelikanku kopi.” Kata Jung Kook marah
“Aku memberitahumu berulang kali bahwa aku melewatkan kata "selain". Aku mendengarmu berkata, "Belikan kopi." Ucap Wang Goo membela diri.
“Kau selalu membuat alasan dan Bahkan makanan ini... Kau yang memesannya, kan?” ucap Jung Kook. Wang Goo membenarkan.
“Aku memberitahumu berkali-kali bahwa aku tidak bisa mencerna daging. Semuanya adalah daging tumis.” Kata Jung Kook lalu mengeluh dengan semua kotak makan yang dipesn Wang Goo.
“Apa ini Deodeok dan daging perut?” ucap Jung Kook kesal, Wang Goo mengaku kalau itu kotak makan miliknya.
“Kau memesan makanan yang mahal khusus untuk dirimu. Cepat bantu yang lain. Bekerjalah untuk deodeok dan daging perut.” Kata Jung Kook kesal
Wang Goo mulai menari dengan lima jari sambil mengatakan "Sempurna, sempurna Yang Jung Gook sempurna" Jung Kook makin kesal menyuruh Wang Goo pergi saja.  Jung Kook mengeluh Wang Goo itu memang tidak tahu malu.



Saat itu Hoo Ja kembali menelp tapi Jung Kook memilih untuk tak mengangkat telpnya dan akan mulai makan. Tiba-tiba Min Ji datang dari pintu sebelah kanan, Jung Kook mengeluh agar membiarkan bisa makan lebih dulu.
“Aku akan membantu kakak karena aku mengerti situasi kakak... Sejujurnya, kenapa kakak meminta bantuanku hanya dengan 70 dolar? Setidaknya berikan sedikit perhatian.” Kata Mi Jin kesal
“Jika kakak membayarmu lebih tinggi, itu akan ilegal dan melanggar UU Pemilu..Itulah hukumnya.” Jelas Jung Kook.
“ Itu hukum yang bodoh. Setidaknya kakak harus membayar upah minimum. Aku pekerja yang hebat. Sejujurnya, aku baik... Tapi mereka akan berhenti jika kita mengatakan akan membayar mereka 70 dolar sehari. Bagaimana? Kakak akan membayar lebih, atau haruskah aku berhenti?” ucap Mi Jin.
“Apa kau mengancam kakakmu?” keluh Jung Kook. Mi Jin pikir itu pasti.
“Apa ini terdengar seperti permintaan? Aku berbicara terlalu baik.” Komentar Mi Jin
Jung Kook mengaku tidak punya uang. Mi Jin mengeluh dengan kakaknya, lalu mencoba mencari di saku baju kakaknya sambil mengancam akan memberikan 100 pukulan untuk setiap sen yang ditemukan. Jung Kook meminta Mi Jin untuk berhenti.
“Hei... Kau akan membuat kakak menumpahkan ini.” Ucap Jung Kook. Tiba-tiba Tuan Choi datang dengan anak buahnya menyurh Mi Jin pergi.
Mi Jin binggung akhirnya pindah ke kursi belakang, Tuan Choi tiba-tiba langsung memberikan pukulan untuk Jung Kook. 
Mi Jin terbangung dan panik melihat tubuhnya sudah diikat pada bangku. Jung Kook panik memastikan keadaan Mi Jin baik-baik saja dan bertanya apa yang dilakukan. Mi Jin mengaku tak tahu karena si brengsek yang membawanya juga.
“Di mana kita? Aku takut.” Kata Mi Jin panik. Jung Kook meminta adiknya agar bisa tenanguntuk saat ini karena  Tidak akan terjadi apa-apa.
“Yang benar saja... Apa maksudmu tidak akan terjadi apa-apa? Kami di sini untuk memastikan sesuatu terjadi.” Ucap Tuan Choi datang dengan Hoo Ja dan adiknya.
“Siapa dia?” tanya Hoo Ja melihat Mi Jin. Tuan Choi memberitahu kalau itu adalah adik Jung Kook.
“Aku membawanya ke sini juga karena mereka bersama.” Jelas Tuan Choi. Hoo Ja pun bertanya apakah Jung Kook adalah kakak Mi Jin.
“Kau sangat sial punya kakak seperti dia.”ejek Hoo Ja. Jung Kook meminta adiknya agar jangan takut.
“Percayalah kepada kakak... Percayalah kepada kakak dan kakak akan membebaskanmu...” kata Jung Kook menyakinkan. 




“Siapa kau? Aku bukan adik orang berengsek itu. Aku baru bertemu dengannya hari ini.” Ucap Mi Jin tak mau mengakui Jung Kok
“Tenanglah. Percayalah kepada kakakmu.” Tegas Jung Kook binggung, Mi Jin mengeluh Jung Kook yang mengaku sebagai kakaknya.
“Kau orang asing.” Teriak Mi Jin. Jung Kook meminta adiknya agar sadar. Mi Jin menjerit kalau Jung Kook yang harusnya sadar.
“Dengar, Nona... Maksudku, Bu. Aku baru bertemu dengan orang berengsek itu hari ini. Aku datang untuk bekerja paruh waktu dan aku berdebat dengannya karena membayar kami sangat rendah. Aku tidak berbuat salah. Ampuni aku.” Ucap Mi Jin pada Hoo Ja.
“Dengar, Pimpinan Park. Adikku tidak melakukan kesalahan.” Ucap Jung Kook membela. Mi Jin mengeluh Jung Kook yang mengakui sebagai adiknya.
“Lepaskanlah dia... Aku tidak tahu kenapa aku dibawa ke sini, tapi...” ucap Jung Kook yang disela oleh Mi Jin ingin tahu alasan ikut dibawa juga
“Lepaskan adikku... Berhentilah bicara. Lepaskan adikku lalu kita akan bicara... Kau hanya membutuhkan aku.” Tegas Jung Kook. Hoo Ja hanya diam sedari tadi melihat adik kakak yang adu mulut.
“Akan kulihat bagaimana kerjamu. Buat dia tidak sadarkan diri sampai kita selesai bicara. Dia terlalu berisik.” Ucap Hoo Ja pada Tuan Choi. 



Mi Jin menjerit panik karena Tuan Choi pasti akan memukulnya. Jung Kook meminta Mi Jin agar diam saja. Tuan Choi akhirnya mendekat dan seketika Mi Jin langsung jatuh pingsan dipelukanya. Jung Kook binggung begitu juga Tuan Choi lalu memastikan menjatuhkan kelantai.
“Diam... Kita tidak punya banyak waktu... Aku menikmati debatnya... Kau hebat... Banyak omong kosong.” Ucap Hoo Ja menyindir
“Kau yang menyebabkan semua ini! Jika kau tidak mencari masalah dengan Mi Young... Jika kau tidak mencari masalah dengan ayah kami, semua ini tidak akan terjadi.” Tegas Jung Kook
“Jangan membicarakan itu. Aku sangat kesal sekarang.. Jadi Jelaskan kepadanya.” Kata Hoo Ja pada Sek Park.
“Han Sang Jin, 28 persen... Kang Soo Il, 35 persen. Yang Jung Gook, 3.9 persen... Ini adalah hasil poling sebelumnya... Kau tahu, bukan? Sekarang pukul 11.55... Dalam lima menit, hasil poling kedua akan keluar. Hasilnya akan menentukan apa yang terjadi kepadamu.” Jelas Sek Park.
“Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi kepadaku?” tanya Jung Kook binggung
“Ratingmu sebelumnya adalah 3,9 persen. Untuk setiap penurunan 0,1 poin dalam poin ini, maka kami akan memotong satu jarimu. Jika turun 0,1 persen, ibu jarimu. Jika turun 0,2 persen, telunjukmu. Jika turun 0,3 persen...” kata Sek Park dan Tuan Choi memperlihatkan Jari tengahnya.
“Jika turun 0,5 persen, maka Kau akan kehilangan seluruh tangan kirimu. Jika turun satu persen... Kau harus makan dengan kakimu. Jika turun lebih dari satu persen... Kepalamu akan kupenggal.” Ucap Hoo Ja mengancam.
“Aku sudah memberitahumu, kan? Bahwa jika kau berencana mempermainkan aku, maka kau harus mempertaruhkan nyawamu terlebih dahulu.” Tegas Hoo Ja.
“Kau pasti bingung. Aku bukan pria yang sama seperti dahulu. Sekarang aku kandidat untuk Majelis... Kau tidak bisa menyentuhku lagi. Itulah diriku!” tegas Jung Kook berani melawan.
“Kami akan menyebarkan video bahwa kau akan mundur dari pemilu. Dalam sebulan, tidak ada seorang pun yang akan memikirkanmu. "Ada seorang pria, Aku bertanya-tanya apa kegiatannya sekarang." Hanya sejauh itu mereka akan memikirkanmu.” Tegas Hoo Ja. Jun Kook ingin bicara.
“Tutup mulutmu... Tutup mulutmu dan jangan ucapkan satu kata pun. Aku muak mendengarkanmu sekarang. Seharusnya kau bekerja lebih baik saat aku sudah menyiapkan semuanya untukmu.” Kata Hoo Ja. Jung Kook bertanya apa itu.
“Kau bersikap seperti orang bodoh di televisi. Kini waktu kita tiga menit.”ucap Hoo Ja. Jun Kook panik mendengarnya.
“Setelah tiga menit, nasibmu akan ditentukan.” Tegas Hoo Ja. Tuan Choi siap dengan ponselnya melihat jam dan menghitung mundur. 




Joo Myung masuk ruangan dengan wajah lesu sambil mengeluh karena semua orang bekerja keras, sehingga tidak ada seorang pun di kantor padahal meurutnya sudah usia. Ia pun mengambil salah satu brosur "Yang Jung Gook" dan mulai mengambarnya. 
“Berapa menit lagi?” tanya Hoo Ja di ruangan. Tuan Choi memberitahu satu menit lagi. Jung Kook makin panik. Tuan Choi memberitahu kalau waktunya 30 detik lagi.
“Poling itu tidak berarti... Seringkali hasil poling berbeda dari hasil sebenarnya...” ucap Jung Kook, Hoo Ja langsung menyuruh diam saja. Diam.
“Aku tidak akan mengulangi perkataanku.” Ucap Hoo Ja marah. Tuan Choi menghitung mundur dari sepuluh.
Sementara Joo Myung sedang mengambar wajah Jung Kook dengan tanduk dsb, seperti melampiaskan amarahnya.  Jung Kook mulai berdoa karena hidupnya tinggal tiga detik lagi dan Waktunya habis. Saat itu telp dikantor berbunyi. Hoo Ja pun meminta anak buahnya memberitahu hasilnya dari telp. 

“Apa Kang Soo Il mendapat 40 persen? Naik lima persen?” kata Joo Myung kesal mengeluh dengan Tuan Kang itu sangat beruntung
“Apa dia mendapat bantuan dari langit? Lalu Han Sang Jin? Han Sang Jin mendapat berapa?” ucap Joo Myung
“32 persen... Han Sang Jin mendapat 32 persen.” Kata Hoo Ja. Joo Myung mengeluh kalau Sang Jin mengambil semua suara mereka
“Berapa perolehan Yang Jung Gook?” tanya Joo Myung. Hoo Ja pun ingin tahu Berapa penurunan kandidat mereka.
Jung Kook terus berdoa,  tiba-tiba Joo Myung dan Hoo Ja kaget karena hasilnya Sepuluh persen. Joo Myung memastikan kalau memang melihatnya dengan benar dan meminta agar memeriksa lagi.
“Apa Aku mendapat 10 persen? Itu tidak mungkin. “kata Jung Kook juga tak percaya. Mi Jin sedikit membuka mata bisa mendengar.
“Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau bagaimana.” Kata Joo Myung
“Baiklah... Cari tahu bagaimana dia bisa mendapat 10 persen..” kata Hoo Ja menyudahi telpnya. Jung Kook pun tersenyum bahagia.
“Bagaimana jika kita rehat sejenak, Pak? Kau sudah bekerja keras.” Kata Hoo Ja keluar ruangan lalu menelp Joo Myung mengajak untuk bertemu.
“Apa Kakak mendapat 10 persen? Sungguh? Kakak yang terbaik. Aku mencintai Kakak. Kakak tahu aku mencintai Kakak, bukan?” kata Mi Jin terlihat bahagia. 



Hoo Ja datang bertemu dengan Joo Myung ingin tahu Apa yang terjadi. Joo Myung pikir Menurutnya mereka mundur beberapa langkah dan menginjak berlian. Hoo Ja hanya bisa tertawa tapi terpaksa. Mi Young pergi menaiki lift.
Ia melihat  berita di Lift "Yang Jung Gook menerima 10 persen dalam poling” wajahnya tersenyum lalu berita di TV “Istri Kandidat Bekerja Keras dalam Kampanye" sambil membersihkan rumah dan memasak. 


Mi Young makan menu makan dan mengajak ibunya makan. Nyonya Kim membahas Mi Young diskors selama sebulan meminta agar menganggap saja sebagai libur dari pekerjaan dan istirahatlah selama sebulan tapi tetap “ akan mempertahankan mejanya. Mi Young mengucapkan  Terima kasih.
“Dan Mi Young, kau harus segera menyelesaikan masalah Jung Gook.” Ucap Nyonya Kim.
“Bagaimana caraku melakukan itu?” tanya Mi Young binggung. Nyonya Kim pikir Mi Young tidak bisa membiarkan dia tetap melakukan itu.
“Terus terang, bagaimana jika Park Hoo Ja membalas dendam?” kata Nyonya Kim khawatir.
“Aku akan memastikan dia tidak melakukannya.” Ucap Mi Young yakin.  Nyonya Kim bertanya bagaimana cara Mi oung bisa melakukan itu
“Jika dia kalah dalam pemilu, maka kau tidak bisa melakukan apa-apa. Kau tidak bisa mengikutinya 24 jam sehari.” Ucap Nyonya Kim khawatir, Mi Young pun memikirkan caranya.
“Aku harus terkurung di rumah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Apa yang harus kulakukan?” jerit Mi Young frustasi. Nyonya Kim pikir heran Mi Young yang berpikir tidak bisa melakukan apa-apa. 


Joo Myung duduk bersama Jung Kook dkk mengajak untuk melihat yang dikatakan orang-orang yang akan memilih Jung Kook,  "Dia keren selama debat. Aku terkejut dia menyebut dirinya dan kandidat lainnya penipu. Dia tampak bodoh. Orang bodoh adalah politisi terbaik."
"Apa Dia tampan"? Itu omong kosong. "Caranya yang bersemangat untuk mengalahkan ketakutannya terhadap kekalahan dan mengekspresikan pendapatnya. Dan komentar tajamnya seperti lahar membara membuat jantungku berdebar." Kenapa berandal ini menulis puisi? Ada banyak orang aneh di luar sana.”keluh Joo Myung
“Omong-omong, ini konsensus. Tapi ada banyak perbincangan mengenai istrimu.” Ucap Joo Myung. Jung Kook bertanya apakah in Tentang Mi Young?
“ Ya, beberapa mengatakan mereka akan memilihmu, tapi mereka belum yakin. Sekitar 3 hingga 4 persen. Mereka mengatakan, "Kenapa istrinya tidak membantu kampanye? Apa ada masalah di antara mereka? Jika ada, aku tidak bisa memilih dia.” Ucap Joo Myung
“Jika dia tidak bisa berkomunikasi dengan istrinya, bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan masyarakat?" kata Joo Myung membaca komentar.
“Mari kita minta bantuan Mi Young. Dia pasti punya banyak waktu luang.” Kata Hoo Ja
“Kamu tidak boleh mengatakan itu, setelah perlakuanmu kepadanya.” Keluh Jung Kook.
“Istrimu tidak mati, jadi, hentikanlah. Pikirkan saja tentang pemilu ini. Haruskah kuingatkan apa yang akan terjadi jika kau kalah? Aku lelah mengulangi perkataanku.” Kata Hoo Ja.
“Tidak! Jika aku kalah, biarlah. Aku tidak bisa memintanya melakukan itu. Aku tidak bisa menepati satu janji kecil. Bagaimana mungkin aku bisa menghadapinya lagi jika aku memintanya...” ucap Jung Kook lalu kaget melihat yang datang adalah Mi Young



Flash Back
“Mari kita selamatkan dia. Mari kita selamatkan dia lebih dahulu, paham? Meski dia mengacau, dia pria yang kau cintai. Siapa lagi yang bisa membantu dia selain kau? Dia suamimu.” Ucap Nyonya Kim menyakinkan anaknya.
Jung Kook kaget melihat Mi Young yang datang, Mi Young seperti yaki akan membantu suaminya lalu bertanya apakah ada yan bisa dilakukanya.
Bersambung ke episode 19
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar