PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 12 April 2019

Sinopsis Her Private Life Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Eun Ki binggung dengan sikap Duk Mi hari ini, bertanya Apa ada masalah. Duk Mi mengaku Tidak ada dan hanya berharap sesuatu akan terjadi. Sun Joo datang dengan mobil menyapa dua temanya. Duk Mi dan Eun Ji terlihat bahagia melihat Sun Joo datang.
“Wanita dengan senyum terbesar di Korea datang... Seon Joo bahkan lebih besar dari dewa!” ucap Eun Ki memuji
“Eonni, beri 3000 won buat beli soju.” Kata Duk Mi. Sun Joo menutup jendela mobilnya seperti menolak minum soju. Tapi Duk Mi dan Sun Joo menahan sambil merengek. 

Akhirnya mereka pergi ke tempat karaoke, menyanyi menghilangkan stress. Duk Mi dkk terlihat sangat pintar mengikuti gerakan boyband dan boy band. Sun Joo terlihat kelelahan berbaring dikursi, Duk Mi pun menyanyi lagu sendu dengan Eun Ki yang ikut menyanyi.
“Hei, Duk Mi.. Ayo Cepat..” ucap Eun Ki melihat Duk Mi yang tak menyanyi bagianya.
“Aku dipecat... Aku dipecat dari galeri...” kata Duk Mi menahan tangis. Keduanya kaget mendengarnya. 

Sun Joo dkk akhirnya minum soju bersama,  Duk Mi terus minum soju, Sun Joo menahannya agar Duk Mi tak minum banyak lalu bertanya apakah temanya itu setuju saja saat Ryan Gold memecatnya.  Sun Joo pikir Duk Mi harus memperlakukannya seperti cara Duk Mi memperlakukan Eun Ki.
“Hei, apa ini tahun buruk dia?” ucap Eun Ki. Sun Joo melihat ponselnya berdering dan itu nama suaminya, tapi tak mengangkatnya.
“Eun Gi, kita lahir di tahun yang sama. Jika ini tahun buruk dia, begitupun kita.” Jelas Sun Joo. Eun Ki menganguk mengerti.
“Lalu kenapa dia sangat sial  Dan kenapa dia memberi kartu kreditnya kepada orang tuanya? Dia harus mengurus dirinya sendiri.” Kata Eun Ki. Sun Joo membenarkan.
Saat itu pesan masuk kedalam ponsel Sun Joo dan itu dari suaminya, akhirnya memilih untuk pamit untuk pulang karena  Suaminya harus pergi , mendapat telepon dari informan. Eun Ki binggung dengan Duk Mi yang terlihat mabuk.
“Bagaimana apanya? Kita tidak bisa menjalani hidupnya. Kita menghabiskan uang dan waktu kita untuknya, itu sudah cukup. Kau sangat berhati dingin tapi keren.” Ucap Sun Joo pada Eun Ki
“Duk Mi, kau harus pulang... Apa gunanya depresi kalau sudah terlanjur? Jika kau sedih di rumah, maka bekerja paruh waktu di kafeku. Orang bisa mengkhianatimu, tapi uang tidak... Kafe kita punya orang yang hebat Bahkan punya pelanggan tampan... Dia terlihat seperti Shi An.” Ucap Sun Joo memberitahu
“Bisakah minum satu botol soju lagi?” ucap Duk Mi. Sun Joo mengeluh lalu memberitahu kalau Kafe buka pukul 8 pagi
Ia menyuruh Eun Ki agar mengantar Duk Mi pulang. Sun Joo mengeluh karena Sun Joo meninggalkan mereka berdua.  Duk Mi mengumpat Ryan adalah Singa sialan jadi akan menangkapnya hidup-hidup dan hanya memberinya makan rumput, Eun Ki pikir tidak akan memberinya soju.



Geum Woo sedang bermain “Batu gunting kertas.” Dengan ayahnya tapi sang ayah selalu kalah dan akhirnya Geum Woo memberikan pukulan untuk ayahnya. Ayah Geum Woo terlihat pasrah terus kena pukul anaknya, karena Geum Woo terlihat bahagia.
“Kau belum lama di rumah. Kenapa pergi lagi?” keluh Sun Joo akhirnya pulang
“Aku tidak pergi karena ingin.” Ucap Ayah Geum Woo lalu pamit pergi masuk ke dalam mobil
“Kenapa informan itu selalu berubah pikiran saat matahari terbenam?” keluh Sun Joo. Ayah Geum Woo pun berpikir seperti itu.
“Ayah, datang berkunjung lagi!” kata Geum Woo melambaikan tangan apada ayahnya begitu juga Geum Woo
“Aku berjanji, aku akan beralih variety show tahun ini.” Kata Ayah Geum Woo turun dari mobil dan memeluk istrinya, setelah itu mencium anaknya berjanji akan segera pulang.
“Sering-sering berkunjung, Oppa.” Ucap  Sun Joo pada suaminya dan akhirnya Ayah Geum Woo pun pergi. 

Duk Mi menjadi kasir hanya bisa melonggo melihat pelanggan yang datang adalah Ryan Gold. Sun Joo dengan bangga kalau Ryan itu  orang baru yang menurutnya tampan. Duk Mi tak bisa menahan emosi menyuruh Sun Joo menyapa Ryan sebagai mantan atasannya dan mantan direktur dari pekerjaan sebelumnya.
“Apa Kau pelanggan tetap? Biarkan aku bertanya karena penasaran. Apa kau akan terus datang ke sini?” ucap Duk Mi menyindir
“Apa kau punya waktu?” tanya Ryan. Duk Mi mengaku Berkat seseorang yang memecatnya jadi punya banyak waktu.
“Aku tidak punya, Karena orang-orang menungguku... Jadi Kenapa tidak menerima pesananku?” ucap Ryan.
“Mau pesan apa?” tanya Duk Mi, Ryan menjawab susu hangat kental. Duk Mi menahan tawa mengatakan tidak ada menu seperti itu.
“Dia minum latte dengan susu kental tanpa suntikan espresso.” Ucap Sun Joo. Duk Mi terrtawa mendengar Ryan minum tanpa suntikan espresso
“Kenapa dia tidak beli saja susu di toko?” ejek Duk Mi. Ryan menegaskan  Ini tidak sama dengan susu biasa.
“Kau akan menambahkan susu kental.” Ucap Duk Mi. Ryan menegaskan kalau tidak ingin kopi espresso jadi turuti saja.
“Kenapa tanpa suntikan espresso? Apa Kau tidak tahu seberapa besar peran suntikan espresso dalam latte? Bagaimana perasaan espresso mendengar kau tidak menginginkannya? Apa Kau tahu bagaimana rasanya ditendang seperti itu?” ucap Duk Mi sinis
“Lattemu dengan susu kental tanpa suntikan espresso akan segera siap. Kartu kreditmu aku terima.” Ucap Sun Joo akhirnya menerima kartu Ryan Gold.
“Ini bukan cara yang sopan untuk memperlakukan lattes. Apakah rasanya enak?” sindir Duk Mi membalikan badanya. 


Sun Joo akhirnya memberikan pesanan Ryan Gold memperingatkan kalau masih panas.  Setelah itu memberitahu Duk Mi kalau Ryan tidak minum kopi karena benar-benar peduli dengan kesehatannya.
“Apa katamu? Pria tampan yang mirip Shi An? Kau harus menjalani operasi mata... Kau lihat foto dia yang kuambil di bandara.” Ucap Duk Mi kesal
“Kau tahu aku sulit mengenali wajah orang-orang sesudah melahirkan Geon Woo. Tidak... Joo Hyuk tidak akan datang karena ujiannya Dan aku harus menjemput Geon Woo sebentar lagi. Aku tidak bisa membuat si kecil berjalan sendirian ke sini.” Ucap Sun Joo menahan Duk Mi agar tak pergi.
“Lepaskan... Aku akan cuci piring.” Kata Duk Mi. Sun Joo menyuruh Duk Mi agar mengunakan sarung tangan karet.

“Apa dia berani atau bodoh? Kenapa dia melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa dia urus?” ucap Ryan Gold masuk ruangan.
Kyung Ah masuk ruangan bertanya apakah Ryan Gold memanggilnya, Ryan bertanya apakah sudah menelepon Ahn Myeong Seop. Kyung Ah mengaku belum. Ryan bertanya Bagaimana dengan keluarga atau kenalannya. Kyung Ah memberitahu kalau Duk Mi yang bertanggung jawab atas dirinya.
“Jadi?” kata Ryan Gold sinis. Kyung Ah mengatakan tak seperti itu lalu membahas dengan Ryan Gold.
“Apa Kau bersungguh-sungguh saat memecat Kurator Sung?” ucap Kyung Ah memastikanya.
“Apa terdengar seperti lelucon? Aku akan memposting lowongan kerja untuk kurator baru hari ini. Aku ingin kau menulis daftar semua seniman, donatur, kritikus, dan jurnalis.” Kata Ryan Gold. Kyung Ah menganguk mengerti dan akan pergi.
“Aku belum selesai. Aku ingin daftar semua pameran yang diadakan di Galeri Cheum. Kau harus Buat jelas dan sederhana. Aku juga ingin daftar semua karya seni yang dimiliki oleh galeri. Apa sistem klasifikasi kalian? “ kata Ryan Gold.
“Sistem klasifikasi? Kami menggunakan milik kami sendiri...” ucap Kyung Ah binggung.
“Artinya kalian tidak memiliki sistem. Ayo kita gunakan sistem klasifikasi standar internasional. Dan aku akan mengirimkan daftar sekitar 30 seniman baru yang saat ini bekerja di New York melalui email. Jadi teliti tempat-tempat yang biasanya mereka kunjungi.” Jelas Ryan Gold
Kyung Ah akhirnya keluar ruangan sambil menghela nafas, Yoo Sub datang dengan wajah panik memberitahu Ada masalah. Kyung Ah tak percaya kalau terjadi lagi. Yoo Sub membenarkan. 


Duk Mi sibuk melayani semua pelanggan yang datang, cafe Sun Joo terlihat sangat ramai. Yoo Sub dan Kyung Ah berdiri disamping kasir menunggu Duk Mi selesai melayani pelanggan. Duk Mi membahas masalah sekarang Lukisan yang dipinjam Saebit Gallery dikembalikan dalam keadaan berjamur. Kyung Ah membenarkan.
“Kita memeriksa sebelum meminjamkannya kepada mereka, jadi periksa formulir yang kita isi. Apa masalahnya?” ucap Duk Mi. Kyung Ah terlihat binggung.
“Apa Kalian tidak memeriksanya?” kata Duk Mi kaget. Yoo Sub pikir  Jadwal pameran berantakan dan transaksinya...
“Jadi?  Apa Kau menyalahkan kurator karena tidak mengatur jadwal dengan benar?” kata  Duk Mi marah. Yoo Sub mengaku bukan seperti itu.
“Kau tahu.. Pokoknya, dia memarahiku karena memiliki mentor yang buruk.” Kata Kyung Ah.
“Dia bilang apa? Mentor yang buruk? Saebit... Ini Tak bisa dipercaya.” Kata Duk Mi melepaskan celemek dan terlihat marah. Kyung Ah menahanya tapi Duk Mi sudah lebih dulu pergi meninggalkan cafe. 


Duk Mi pergi ke tempat penyimpanan lukisan memeriksa lukisan memastikan kalau lukisan berjamur dengan mikroskop. Setelah itu menelp sabit mengaku Duk Mi  dari Cheum Gallery sambil mengeluh kalau mereka meminjam anak kami yang berharga hanya untuk mengotorinya.
“Kau bilang, Sudah kotor saat kalian menerimanya? Maka, tolong berikan semua daftar karya seni yang kalian pinjam. Aku akan lihat barang kali ada korban lagi.. Dan Juga, kami akan benar-benar memeriksa ruang penyimpanan kami, jadi sebaiknya kalian memeriksa milikmu.”tegas Duk Mi
“Kita akan lihat dari mana jamur ini sebenarnya berasal. Layanan pembersihan yang sama bertugas untuk kedua galeri.” Ucap Duk Mi lalu mematikan ponselnya
“Kau Periksa untuk melihat apa Saebit punya masalah baru-baru ini.” Ucap Duk Mi pada Yoo Sub. Yoo Sub menganguk dan akhirnya meminta maaf karena lupa.
“Aku bersyukur kau cepat mengakui kesalahanmu, tapi ini tidak boleh terjadi lagi. Jika terjadi lagi.. Yah, seharusnya tidak... Semoga beruntung. Sampai jumpa!” ucap  Duk Mi lalu beranjak pergi. Kyung Ah memanggil Duk Mi tapi Duk Mi sudah pergi meninggalkan gudang. 


Ryan Gold menerima telp membahas tentang Jamur, saat itu Kyung Ah datang mendengarnya dengan wajah panik memberikan tulisanya [SAEBIT AKAN MEMBAYAR INI!] Ryan pikir kalau mereka semua ingin yang terbaik.
“Aku akan mengirimkan tagihan sesudah pemulihan selesai... Baik... Aku akan memberitahu Kurator Sung juga.” Kata Ryan lalu menutup ponselnya.
“Lanjutkan. Beri aku sisi ceritamu.” Kata Ryan pada Kyung Ah sambil melipat tangan di dada.
“Mohon ambil kembali pemutusan hubungan kerja Kuroator Sung “ kata Kyung Ah. Ryan ingin tahu alasan harus melakukan itu.
“Dia tidak melakukan kesalahan. Sebenarnya...” kata Kyung Ah 
Flash Back
“Pada otoritas siapa kau membatalkan pameran Pelukis Ahn ? Aku akan berbicara dengannya sendiri, lanjutkan saja. “ ucap Nyonya Eom saat bertemu dengan Kyung Ah dirumah sakit dan mengajak selfie.
Ryan tak percaa kalau Ketua Eom ada dibelakang ini. Kyung Ah pikir itu mungkin.
“Ryan Gold akan hilang sesudah persidangan suamiku selesai, Jadi Nona Yoo, Kau akan bekerja dengan siapa?” tanya Nyonya Eom. Kyung Ah terlihat binggung. 


Saat Ryan Gold marah besar, Kyung Ah yakin kalau  Duk Mi tidak tahu apa-apa soal itu. Ryan Gold pun bertanya Lalu siapa yang menerima proposal. Kyung Ah binggung memberitahu kejadian yang sebenarnya.
Flash Back
Kyung Ah akan pergi menaruh proposal di ruangan Ryan Gold, tapi sek Nyonya Eom sudah menghadangnya dan mengambil proposal ditangan Kyung Ah.
“Aku takut, dan tidak punya pilihan. Hidup mengajariku bahwa lebih mudah untuk mendengarkan para pengganggu. Aku sekarang percaya kau lebih baik dari Ketua Eom” ucap Kyung Ah.
“Terima kasih atas pujiannya.” Kata Ryan Gold hanya bisa mengela nafas.
“Jadi tolong, suruh Kurator Sung kembali.” kata Kyung Ah. Ryan Gold menganguk mengerti menyuruh Kyung Ah keluar.
“Dan Juga, jika Ketua Eom mengetahui bahwa aku memberitahumu semuanya, dia akan menguburku. Bisakah kau merahasiakannya...”kata Kyung Ah takut. Ryan mengerti dan menyuruh Kyung Ah keluar.
“Begitu pun Kurator Sung, Dia cukup pemarah.” Kata Kyung Ah. Ryan menganguk mengerti dan menyuruh Kyung Ah segera pergi. 



Duk Mi sedang membersihkan cafe, menyapa pelanggan yang datang. Ryan masuk cafe yang sepi. Duk Mi dengan sinis melihat Ryan Gold yang datang. Ryan Gold bertanya apakah Ada waktu. Duk Mi mengaku tidak ada dalam menu yang dinginkanya.
“Apa menyenangkan bekerja di kafe? Kalau dipikir-pikir, aku mungkin bereaksi berlebihan. Kau mungkin tidak memiliki cita rasa, tapi aku harus mengakui pengalaman lima tahunmu di Cheum... Maafkan aku. Aku minta maaf.” Akui Ryan Gold.
“Apa Kau bersungguh-sungguh?” tanya Duk Mi tak percaya. Ryan Gold menganguk
“Baiklah. Aku menerima permintaan maafmu.” Kata Duk Mi. Ryan Gold tersenyum pamit pergi dan akan bertemu di tempat kerja besok.
“Aku hanya menerima permintaan maafmu. Jadi Silakan lanjutkan dengan proses pemotretan.” Kata Duk Mi. Ryan Gold kaget
“Apa Kau pikir bisa menyelesaikan ini dengan hanya meminta maaf? Haruskah aku bekerja di galeri dan dipecat semaumu?” sindri Duk Mi. Ryan mengaku bukan seperti itu maksudnya.
“Aku tahu ini soal apa... Kau hanya meminta maaf karena kau membutuhkan aku untuk mengurus kekacauan dan masalah. Cheum membutuhkan aku agar beroperasi dengan baik.” Kata Duk Mi. Ryan membenarkan.
“Itu sebabnya kau harus mengumpulkan rasa tanggung jawabmu... Kaulah yang membunuhku, tapi kau menyuruhku membersihkan darahku. Bagaimana bisa orang seegois ini?” kata Duk Mi kesal
“Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong jangan melewati batas.” Ucap Ryan
“Jika kau benar paham perasaanku, kau akan secara otomatis memfilter kata-kataku.” Tegas Duk Mi
“Jadi, kau tidak akan pernah kembali.” ucap Ryan. Duk Mi menegaskan tidak akan.  Ryan mengerti
“Sepertinya tempat ini lebih cocok untukmu.” Komentar Ryan Gold mengeje.
“Terima kasih Brengsek! Apa kau Mau aku buatkan minuman reguler untukmu? Latte dengan susu kental tanpa suntikan espresso?” kata Duk Mi
Ryan Gold menyindir Karena seseorang jadi akan bekerja lembur jadi akan memberikan es mint cokelat. Duk Mi akan membuat Es mint yang menyegarkan lalu menatap licik.

Ryan Gold masuk ruangan terlihat marah masuk ke ruangan terlihat sangat marah. Ia langsung minum es mint kopi sambil mengeluh kalau korea dan dirinya sangat tak berhubungan menurutnya tak benar, lalu meminum habis es coklat yang sangat nikmat dan meminum habis. 

Duk Mi tersenyum bahagia saat Eun Ki mengunci cafe milik Sun Joo. Eun Ji merasa Sun Joo tampaknya jadi orang yang paling menikmati pekerjaan Duk Mi jadi  menyerahkan seluruh kafe pada temanya itu. Duk Mi terus saja tertawa bahagia.
“Benar, jika kenyataan sulit ditanggung saat waras, jadi gila adalah solusinya.” Kata Eun Ki
“Aku sudah balas dendam.” Kata Duk Mi bahagia. Eun Ki  bertanya apakah itu pada atasanya dan ingin tahu bagaimana caranya.
“Dia sangat terobsesi dengan kesehatannya, dia tidak minum kopi Jadi aku diam-diam mencampur setengah suntikan dalam minumannya.” Ucap Duk Mi bahagia.
“Wow, bicara soal balas dendam. Kau bahkan bisa membuat film dengan itu... Astaga, sangat kejam.” Komentar Eun Ki
Saat itu Duk Mi kaget melihat nama Tuan Ahn yang menelpnya,  lalu mengaku mengaku menelepon sebelumnya untuk meminta maaf. Tuan Ahn mengaku tak masalah  dan dengar Duk Mi yang dipecat dari Galeri Cheum karena dirinya. Duk Mi terlihat bingung.
“Aku khawatir mulai pikun. Aku hanya mendengarkan Ketua Eom dan bertindak terlalu tergesa-gesa.”Akui Tuan Ahn.
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Apa Kau ingin berbicara dengan Direktur  sendiri? Apa Bisa tunggu sebentar? Aku akan menghubungimu lagi.” Ucap Duk Mi penuh semangat. Tuan Ahn pun setuju.
“Benar. Tuan Ahn tidak akan pernah bertindak seperti itu.” Kata Duk Mi mencoba menelp Ryan
Ryan terlihat kesusahan bernafas setelah meminum buatan Duk Mi lalu mengumpat marah dan langsung pingsan. Diatas meja, Ponsel Ryan berdering, Duk Mi menelpnya.  Duk Mi memutuskan akan pergi menemui Ryan karena tak mengangkat telpnya.
“Kenapa? Apa Kau akan berperang? Haruskah aku ikut?” ucap Eun Ki. Duk Mi sudah bergegas pergi. Eun Ki pun memutuskan untuk ikut



 Duk Mi sampai di ruangan mengetuk pintu ruangan Ryan sambil memanggilnya, tapi tak ada sahutan lalu memutuskan untuk masuk. Ia memanggil Ryan memberitahu kalau Tuan Ahn baru saja menelpnya dan panik melihat Ryan tergeletak di lantai.
“Direktur....  kau baik-baik saja? Buka matamu.”jerit Duk Mi panik melihat Ryan tak sadaran diri. Eun Ki masuk ruangan. Duk Mi meminta Eun ki agar bisa membantunya.
“Apa kau membunuhnya?” kata Eun Ki, Duk Mi mengeluh Eun Ki masih  saja bercanda dan meminta agar membawa Ryan Gold. Eun Ki mengendong Ryan bertanya kemana mereka akan pergi. Duk Mi menunjuk jalan ke arah kanan. 
Akhirnya Ryan Gold sudah masuk IGD, Duk Mi kaget mengetahui Ryan ternyata Alergi kafein seperti tak percaya kalau bisa seperti ini hanya karena kopi. Dokter memberitahu kalau Ryan Gold hampir mati. Duk Mi seperti sangat shock mendengarnya.
“Astaga, aku sudah melihat orang-orang kurang tidur dan bilang jantung panas, Tapi aku tidak pernah..” ucap Duk Mi
“Ya, dia hampir mati. Alergi biasanya tidak terdeteksi, tapi tergantung pada tingkat stres, gejala dapat terjadi atau menjadi serius. Tapi jika biasanya dia tidak minum kopi, itu artinya dia sadar akan alergi. Aku ingin tahu apa yang terjadi.” Jelas Dokter
“Bagaimana jika... seseorang diam-diam membuat dia meminumnya?” tanya Eun Ki
“Percobaan pembunuhan?” kata Dokter. Duk Mi panik. Dokter tersenyum mengaku ucapanya hanya bercanda dan  akan segera memindahkann Ryan ke kamar kosong.
“Duk Mi... Aku tahu kau akan membunuh orang suatu hari... Aku pikir kau pun begitu.”kata Ryan tak percaya. Duk Mi hanya bisa melirik lalu mencoba mengencek dibagian hidung memastikan kalau Ryan masih hidup.


Ryan dipindahkan ke ruang rawat, lalu meminta izin untuk membantu menyeka keringat. Ia pun meminta maaf pada Ryan karena melakukan itu, Saat itu tiba-tiba Ryan seperti mimpi buruk dan memegang tangan Duk Mi dengan erat. Duk Mi terlihat binggung, Ryan dalam mimpinya seperti mengingat kejadian masa lalunya yang buruk dibiarkan oleh orang tuanya. 

Duk Mi tertidur di rumahnya, tiba-tiba pintunya digedor dengan keras sambil memanggil namanya.  Duk Mi akhirnya terpaksa bangun bertanya siapa yang datang saat membuka pintu, dua orang sudah berdiri.
“Apa kau Sung Duk Mi dari Cheum Gallery? Apa kau dia?” ucap Si pria. Duk Mi membenarkan.
“Kau ditahan karena percobaan pembunuhan Ryan Gold. Jadi Berikan tanganmu dan Jangan bergerak, Akan sakit jika kau bergerak.” Ucap Polisi. Duk Mi bingung tanganya sudah diborgol.
“Pengelola fanpage Cha Shi An dari White Ocean. Apa Kau "Shi An is My Life"?” ucap polisi lain. Duk Mi membenarkan.
“Kau ditahan karena menyerang Ryan Gold dan penipuan identitas. Jangan bergerak, karena Akan sakit jika kau bergerak.” Kata polisi memborgola tangan Duk Mi untuk kedua kalinya dan menariknya pergi. Duk Mi terlihat binggung. 

Duk Mi menuruni tangga kaget sudah banyak orang didepan rumahnya lalu memanggil orang tua dan juga Eun Gi didekat wartawan. Wartawan melaporkan dari  kediaman Nyonya Sung, seorang wanita berusia 30-an yang juga penggemar idol.
“Dia aktif bekerja sebagai pengelola fanpage.” Ucap Wartawan. Duk Mi tak percaya kalau benar-benar ditangkap seperti tak nyata.
“Dia mencoba membunuh seorang pria berusia 30-an dengan menambahkan kopi ke dalam es cokelatnya.” Ucap Eun Ki dengan suara yang disamarkan dan wajahnya ditutup dengan plastik.
“Dia punya kebiasaan selalu bertanya padaku apa aku mau mati. Dia tiba-tiba membuka dompetnya dan memberi kami kartu kreditnya. Jadi kami berpikir ada sesuatu yang salah, tapi kami tidak pernah tahu bahwa dia akan melakukan pembunuhan.” Ucap Nyonya Yoo memberikan pernyataan.
“Lalu maksudmu ini adalah pembunuhan berencana?” tanya wartawan. Duk Mi kesal karena ibunya bisa mengatakan hal itu.
“Ini Tidak benar. Jangan potret aku... Aku tidak melakukannya.Tidak benar.”jerit Duk Mi tak ingin dibawa polisi. 


Duk Mi ketakutan memegang erat tangan Ryan, sampai Ryan memiringkan badanya karena tertarik. Duk Mi akhirnya bangun dari tidurnya dan kaget melihat Ryan sudah duduk lalu langsung memberikan sandal bosnya kalau memang mau turun dari tempat tidur.
“Apa Kau mau air putih? Ini airmu... Air... Air tawar... 100 persen air tawar.” Ucap Duk Mi memberikan air, tapi Ryan seperti tak percaya lagi akhirnya Duk Mi pun menaruh diatas meja.
“Kemarin...” kata Ryan. Duk Mi mengaku tak tahu kalau Ryan alergi terhadap kopi dan akhirnya membuat kesalahan besar dan sangat menyesal.
“Kemarin...” ucap Ryan. Duk Mi memotong kalau sudah gila dan meras sangat kasar pada Ryan dan pasti sudah gila.
“Kemarin...” kata Ryan, Duk Mi kembali menyela akhirnya Ryan meminta agar bisa membiarkan untuk bicara.
“Bagaimana kau menemukan aku kemarin?” tanya Ryan. Duk Mi membahas kalau Tuan Ahn bilang bahwa ingin berbicara dengan Ryan  untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“Jadi aku ke galeri untuk memberitahumu.” Ucap Duk Mi. Ryan bertanya apakah Duk Mi sudah memberitahu alasanya  tidak bisa berbicara dengannya.
“Ya, sudah larut malam, jadi aku mengirim sms kepadanya. Dia setuju untuk mengikuti gagasanmu soal pameran. Dan dia bilang akan berbicara denganmu soal secara langsung sesudah kau pulang secara terperinci.” Jelas Duk Mi
“Baiklah, Silakan jadwalkan pertemuan dengannya” kata Ryan. Duk Mi memastikan kalau itu artinya Ryan akan memaafkannya.
“Haruskah aku menerima permintaan maafmu tapi masih mengajukan gugatan?” kata Ryan.
“Tidak. Jika kau memberiku kesempatan lagi, aku akan melakukan yang terbaik bekerja untukmu dan Galeri Cheum.” Ucap Duk Mi
 Ryan menyuruh Duk Mi untuk pulang, Duk Mi pun menyuruh Ryan untuk istirahat lalu akan keluar ruangan. Ryan memanggilnya menurutnya dari pada datang ke galeri untuk bekerja besok menurutnya Duk Mi datang ke pertemuan.
“Apa kita akan bertemu dengan seniman?” tanya Duk Mi. Ryan mengatakan  mereka akan bertemu dengan kolektor.
“Dia adalah Cha Shi An dari White Ocean. Kita akan meminta dia untuk karya seni. Jadi, bahkan jika kau tidak begitu menyukainya, Aku harap kau bisa menyingkirkan perasaan pribadimu.” Kata  Ryan. Duk Mi menganguk mengerti menahan senyuman.



Duk Mi menaiki tangga rumahnya sambil terus bersenandung memanggil nama “Shi An...Shi An...Shi An....” lalu menerima pesan dari Ryan “Kita melakukan pertemuan dengan Cha Shi An dari White Ocean. Sampai jumpa di rumahnya.”
“Aku tidak percaya ini!”jerit Duk Mi dengan wajah bahagia, teringat dengan video Shi An yan memberitahu lukisan karya seniman bernama Lee Sol.
“Dan aku jatuh cinta pada saat melihatnya. Itu salah satu edisi terbatas. Bukankah sangat indah? Setiap kali aku melihatnya, aku merasa tersentuh, bahagia, dan terhibur.”ucap Shi An.
Duk Mi terlihat sangat bahagia tak sabar untuk pergi ke rumah Shi An. Sementara Ryan Gold yang sudah memiliki dua lukisan Lee Sol menatap dua lukisan seperti menyembunyikan sesuatu.
Bersambung ke episode 3


Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar: