Minggu, 26 Februari 2017

Sinopsis Tomorrow With You.Episode 7 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
So Joon melihat Doo Sik yang ada didepan rumah, Do Sik mengaku kalau  datang untuk melihat apakah So Joon baik-baik saja. So Joon pikir lebih baik Do Sik itu menelp dan bertanya apakah sudah membaca suratnya.  Do Sik mengangguk, So Joon makin kesal karena Do Sik membaca tapi tak menelpnya.
Ma Rin keluar rumah melihat keduanya bicara bertanya-tanya siapa pria yang tak dikenalnya itu. So Joon tiba-tiba berbicara serius membahas perkataan Do Sik kalau takdirnya akan berubah saat menikah, tapi menurutnya hidupnya jadi lebih tidak terduga dan rumit dibanding sebelumnya.
“Kesampingkan saja soal masa depan.Fokus pada masa kini, jalani hidupmu."Masa depan akan menentukan jalannya sendiri." Kata Doo Sik saat itu menyadari kalau sedari tadi Ma Rin menatapnya. Ma Rin pun buru-buru bersembunyi.

Do Sik ketakutan buru-buru pamit pergi, So Joon kebinggungan langsung mengejarnya. Ma Rin heran melihat So Joon yang pergi mengejar Do Sik

So Joon menarik Do Sik yang kabur karena menurutnya sangat aneh dan ingin tahu alasan temanya itu menghindarinya dan yakin kalau melihat sesuatu di masa depan. Do Sik terlihat marah menurutnya mengetahui masa depan adalah keberuntungan. So Joon pikir akan lebih sulit jika tidak mengetahuinya
“Aku akan menghilang saat musim dingin.Aku bahkan tidak tahu, selama 2 tahun menghilang,aku tetap hidup atau tidak.Bukankah itu keberuntungan dapat melihat masa depan? Ini Sangat menguntungkan.Karena aku bisa mengantisipasi kekacauan hidupku di masa depan.” Kata So Joon
“Semakin kau mencoba mengetahuinya,segala sesuatu akan lebih sulit untuk kalian berdua.Maksudku adalah...So Joon, percaya saja padaku.Jangan menjelajah waktu selama sebulan, oke?” ucap Do Sik memohon
“Apa pun yang kau lihat di masa depan...Tidak peduli seaneh apa pun sikapku...Aku selalu memihakmu.Kau harus mempercayai itu sampai akhir.Oke?” ucap Do Sik

“Bagaimana aku bisa memercayaimu? Aku tidak tahu apa motifmu membantuku,bagaimana aku bisa memercayaimu?Aku tidak akan meminta bantuanmu lagi. Apa Kau sungguh  berpikir....aku tidak mampu melindungi wanitaku?” kata So Joon memilih untuk pergi, Do Sik kebinggungan melihat sikap So Joon. 


Ma Rin monda mandir diruang TV mengingat kembali dengan tatapan Do Sik dan belum pernah melihat wajahnya menurutnya itu Wajah asing yang tidak dikenalnya. So Joon akhirnya pulang, Ma Rin langsung bertanya darimana, So Joon mengaku baru saja mencari udara segar.
“Apa Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Ma Rin ingin mengetes kejujuran.
“Kau menyuruhku tidak bicara padamu.” Kata So Joon, Ma Rin terus mencoba agar So Joon mau bercerita.
“Apa Kita sungguh akan tidur terpisah?” tanya So Joon, Ma Rin menjawab itu tergantung pada So Joon karena Harus ada alasan bagus untuk berdamai. So Joon pikir mereka bisa bicara kalau amarah istrinya itu sudah reda lalu masu ke dalam kamar.  Ma Rin heran melihat sikap So Joon karena seharusnya bisa merayunya
Ma Rin mencoba mengintip dari depan pintu tapi saat itu So Joon membuka pintu kamar, menyuruhnya masuk. Ma Rin pikir itu akan melanggar aturan. So Joon menyuruh Ma Rin mengunakan kamar itu dan ia mengunakan kamar lainya, Ma Rin langsung menolak karena merasa tidak enak jika melakukannya.
“Perasaanku tidak enak, sedangkan badanmu bisa sakit jika tidur di kamar lain jadi Kita impas.” Kata Ma Rin kata Ma Rin pindah tidur dikamar lainya. 


Ma Rin berbaring dikamar lainya memikirkan tentang Sesuatu terjadi dan Hal serius tapi menurutnya Sudah terjadi banyak hal yang tidak masuk akal. Ia pun juga kesal pada So Joon yang terus berbohong menurutnya ini tidak normal.
Ma Rin berada di dalam tumpukan baju sambil mengeluh dirinya yang melipat pakaian bahkan di dalam mimpi, seperti mengambarkan tingkat stressnya dan menyuruh agar dirinya bisa bangun. Tiba-tiba lembaran kertas terbang ke arahnya, Ma Rin melihat [Sukses Bom Hidrogen] lalu berpikir kalau itu artinya Keretanya tetap melaju meski Anjing menggongong.

So Joon datang dengan gaya seperti tentara memberitahu kalau kampung halamannya dari Pyongyang, Republik Demokrasi Rakyat Joseon,Korea Utara. Ma Rin tak percaya karena tak mungkin pria Korea Utara setampan  So Joon. So Joon tiba-tiba mendekat mencekik leher Ma Rin menyuruhnya  mati saja karena terlalu banyak tahu.
Ma Rin yang ketakutan akhirnya bangun dari mimpinya, So Joon sudah ada di depan pintu. Ma Rin melihatnya memberitahu baru saja bermimpi, saat itu So Joon berpindah tempat membuat Ma Rin ketakutan. Ma Rin akhirnya terbangun sesungguhnya dengan nafas terengah-engah. 

Terdengar teriakan suara So Joon, Ma  Rin dibuat binggung sekarang dirinya ada dialam mimpi atau nyata. So Joon seperti sedang bermimpi buruk berkata “Kau tidak boleh mati.” Ma Rin masuk kamar bertanya “Siapa yang mati?” dengan berbisik di telinga So Joon
So Joon akhirnya terbangun, merasakan Ma Rin yang telinganya, Ma Rin beralasan kalau So Joon yang mengingau jadi datang untuk melihatnya.
“Kenapa kau bicara panjang lebar saat tidur? Apa saja yang sebenarnya kau lakukan?” ucap Ma Rin lalu bergegas pergi
“ Hei.. Kau tidak perlu pura-pura marah begitu.” Pikir So Joon, Ma Rin tak peduli memilih untuk keluar kamar dengan wajah gelisah. 

Gun Sook terlihat kesal karena di ejek kalau Suami Ma Rin adalah Presdir di tempat suaminya berkerja lalu menelp Sek Hwang untuk bertemu.  Se Hwang datang kerumah, Gun Sook ingin tahu kebiasaan buruk dari So Joon karena setiap orang pasti punya keburukan,/
“Pertama, dia tidak bekerja keras. Hidup hanya lelucon,  perusahaan baginya hanya tempat bermain.” Ucap Sek Hwang, Ma Rin pikir Kaya raya dengan banyak waktu luang itu bukan kesalahan tapi menarik
“Kudengar, dia misterius dan aneh. Apa dia punya skandal dengan wanita lain? Aoa Dia sering menggoda wanita dan dapat masalah ? Apa dia cabul? Mungkin kau pernah dengar Hubungan dengan para wanita.” Kata Gun Sook
“Saya tidak yakin harus menceritakan ini pada Anda atau tidak. Ini situasi besar yang bahkan tidak saya ceritakan pada Direktur. Ini mengenai  orientasi seksual Presdir.” Kata Sek Hwang, Gun Sook kaget mendengarnya.

“Saya tidak sengaja mendengar Presdir bicara pada Manajer Kang.” Cerita Sek Hwang lalu memperlihatkan video dari ponsel yang berhasil direkamnya.
So Joon ada di atap dengan Ki Doong seperti sepasang kekasih yang sedang marah. Sek Hwang merasa kalau keduanya memiliki hubungan yang aneh yaitu Lebih dari sekedar persahabatan.
“Aku juga tinggal di tempatmu, Anggap saja menyewa.” Ucap So Joon diatap,
“Aku benci dan tidak menyukainya.” Kata Ki Doonh marah, So Joon berusaha merayu dengan memegang tanganya, Ki Doong nampak sangat marah tak ingin disentuh.
Sek Hwang pikir Senyuman itu tidak biasa diberikan antar sesama pria dan wajah So Joon yang biasa pria tunjukkan saat melihat girlgroup menari. Keduanya kembali melihat video, Ki Doong pikir So Joon bisa tahu tentang hubungan mereka. Keduanya langsung tak percaya kalau keduanya memang punya hubungan. Sek Hwang pikir Para pria tidak akan saling melakukan ini meski dibayar sekalipun.

“Mereka tidak bisa hidup tanpa yang lain. Bahkan mereka memakai bersama ruangan Presdir. Itu jadi bahan gunjingan di kantor. Tapi mereka tidak peduli dengan kata orang.” Cerita Sek Hwang
“Apa  Mereka berbagi ruangan? Seorang Presdir dan Manajer?” tanya Ma Rin tak percaya.
Sek Hwang mengajak agar bisa melihat kembali video bagian lain, So Joon mengajak agar bertemu tanggal 3 desember tahun  karena ingin menceritakan semuanya dan tidak ingin membuat hidup Ki Doong ikut rumit dan Ada sesuatu yang ingin diminta.
“Apa itu artinya?  Kenapa mereka sampai perlu membuat janji bertemu bulan Desember?” kata Ma Rin binggung
“Artinya "Aku akan menyatakan perasaanku padamu hari itu. Kita bertemu bulan Desember itu dan melalui hari romantis. 3 Desember, tahun ini...ayo kita bertemu di rumahmu."” Kata Sek Hwang yakin
“Astaga! Aku tidak percaya ini. Itu cinta... Cinta yang berbeda dan tidak dapat diungkapkan. Aku sudah merasa aneh saat dia buru-buru menikahi Bap Soon.Pernikahan untuk menutupi dirinya.” Kata Gun Sook tak percaya.

Ma Rin sedang membersihkan lantai dengan vacum cleaner, lalu berbicara pada robot vacum yang mendekatinya menyuruh agar pergi ke area lain. Si robot langsung pergi, Ma Ri binggung vacumnya itu bisa mengerti ucapanya, lalu mengetes kembali dengan menyuruhnya berhenti, vacum clenaernya juga berhenti.
“Bahkan vacum cleaner di rumah ini misterius.” Ucap Ma Rin heran, lalu menerima telp dengan wajah malas.
Ma Rin bertemu dengan Gun Sook seperti terpaksa. Gun Sook mengatakan kalau sudah mengirimkan pesan yaitu alamat Ki Doong tempat suaminya tinggal sementarnya dan memberitahu kalau suaminya itu selingkuh, menurutnya sekarangan tak peduli itu  pria atau wanita tapi hanya perlu menangkap basah.

“Apa yang akan kau lakukan apabila Presdir Yoo menyukai pria sedangkan dia menikahimu? Hidupmu akan benar-benar berakhir. “ kata Gun Sook mengejek
“Hei, Lee Gun Sook. Pria itu suamiku.Apa hidup Lee Gun Sook mundur ke belakang? ” Kata Ma Rin melihat temanya itu bahagia sekali membuat kesal.
“Aku hanya mencemaskanmu. Rumor itu benar-benar serius.” Komentar Gun Sook
“Cukup!! Kau sangat keterlaluan. Apa Kau duduk 24 jam penuh merencanakan untuk menghancurkanku? Kau bahkan tidak dapat uang.  Kenapa semangat sekali? Semestinya hasilkan uang dari minatmu itu.” Tegas Ma Rin

Gun Sook merasa kalau Ma Rin menganggapnya itu hanya omong kosong, Ma Rin pikir akan mempercayainya jadi  karena temanya itu sudah menemukan kelemahanya maka Gun Soo bisa mulai istirahat sekarang atau menemui  lagi kalau ada sesuatu yang lebih menarik. Gun Sook piki ini menarik karena So Joon berselingkuh dengan Seorang pria, bukan wanita.
“Kau ini Benar-benar, hentikan omong kosongmu Dan, jangan ikut campur urusan keluargaku! Dasar Permainan kotor!” teriak Ma Rin lalu bergegas pergi.
“ Kau harus Baca SMS-ku dengan baik-baik.” Kata Gun Sook seperti berharap Ma Rin membacanya
Ma Rin berjalan sebuah jalan dengan menutupi wajah mengunakan kacamata hitam dan syal seperti sedang menyamar. So Joon sedan berbaring ditempat tidur sambil makan, Ki Doong  bertanya apakah So Joon tidak pulang ke rumah?
So Joon beralasan kalau Ki Doong bisa bosan makan malam sendirian dan mengajaknya makan bersama. Ki Doon pikir So Joon  merasa takut pulang untuk makan malam di rumah. So Joon mengelaknya,  Ki Doong mengeluh So Joon yang makan diatas tempat tidurnya, So Joon meminta Ki Doong agar membantunya agar bangun.
So Joon malah sengaja menariknya keduanya pun bercanda diatas tempat tidur, Ki Doong dan So Joon tiba-tiba berada diposisi saling menatapnya. Suasana seperti canggung, akhirnya So Joon langsung berkata kalau Ki Doong berat karena berada diatas tubuhnya. Ki Doong pun buru-buru bangkit. 

Ma Rin yang penasaran seperti mencari sepanjang jalan, akhirnya mengirimkan pesan pada suaminya menanyakan keberadaanya. So Joon mengaku sedang ada di kantor dan akan pulang telat hari ini. Ma Rin langsung berbalik arah merasa percaya kalau suaminya pasti ada dikantor dan tak mungkin ada dirumah temanya.
“Maafkan aku. Aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.” Tulis Ma Rin
“Tidak masalah... Pekerjaanku hari ini banyak sekali. Tetap saja, aku kepala keluarga! Ayo semangat”balas So Joon
Ma Rin pun percaya So Joon banyak pekerjaan. So Joon dan Ki Doong keluar dari rumah, mereka akan pergi ke warnet, Ki Doong pikir lebih baik main billyard saja. Keduanya akhirnya berpapasan dengan Ma Rin dan Ki Doong yang lebih dulu menyadarinya.
Akhirnya Ma Rin mencoba menutupi rasa amarahnya dengan berpura-pura mesra, So Joon binggung Ma Rin yang ada di tempat Ki Doong. Ma Rin mengaku kalau hanya lewat saja dan sangat kaget, dengan mengoda suaminya karena tak mengunakan jaket dan pasti sangat dingin.
“Aku tidak merasa ini kebetulan.” Kata Ki Doong, Ma Rin seperti mendelik memberikan peringatan.
“Ahh... Kita kebetulan saja bertemu... Aku pergi dulu.” Ucap Ki Doong lalu bergegas pergi. So Joon berteriak memanggilnya karena takdirnya hancur ketahuaan berbohong pada Ma Rin. 


So Joon merasa Ma Rin itu sedang menguntitnya, Ma Rin dengan nada menyindir kalau So Joon pasti bekerja di rumah Ki Doong. So Joon bingung menjelasnya. Ma Rin langsung blak-blakan bertanya apakah So Joon  mengencani Ki Doong. So Joon kaget mendengar pertanyaan Ma Rin.
“Seseorang mengatakan padaku kalau kalian tinggal bersama. Apa Kau menyukai pria? Apa Kau menikahiku untuk menyembunyikan fakta itu?” kata Ma Rin
“Itu hal paling aneh yang pernah kudengar seumur hidup. Lebih baik, Jangan lakukan di jalan, Kita pulang dulu.” Ucap So Joon menariknya pulang, Ma Rin menolak ingin bicara sekarang.
“Aku tidak bisa menahannya meski hanya semenit.Siapa pria yang kau temui di depan rumah semalam?Kau mengejar saat dia berusaha lari, Seperti film saja.” Ucap Ma Rin sinis, So Joon seperti baru sadar kalau Ma Rin melihatnya.
“Dia Hanya kenalanku.... Kau... Jangan marah.” Ucap So Joon, Ma Rin langsung memegang kepalanya yang sakit. So Joon panik melihatnya.

“Mari Kita selesaikan ini... Kau Presdir yang membangun sendiri perusahaan investasi real estate, lalu Kau malaikat tanpa nama yang rajin donasi tanpa publikasi. Hobimu tidak bekerja dan pergi ke warnet. Ini saja sudah aneh, aku tidak bisa memahaminya.” Ungkap Ma Rin
“Selain itu Kau selalu berbohong dan menemui pria asing malam hari. Lalu sepatu aneh yang kau kenakan. Ada juga vacum cleaner yang sepintar Anjing peliharaan. Hal yang paling menggangguku adalah artikel soal Pilpres itu. Bahkan kampanye saja belum dimulai. Bagaimana bisa koran tahun depan ada di rumah kita?” ucap Ma Rin heran.
So Joon terdiam tak bisa menjelaskanya, Ma Rin pikir Kecuali So Joon itu mata-mata Korea Utara,  maka tidak bisa memahaminya. So oon mengaku kalau menjalankan wajib militer di Korea Selatan,  Ma Rin pun berpikir kalau So Joon itu punya kepribadian ganda, kadang seperti mata-mata, Presdir,  malaikat dan yang lainya.
“Aku penjelajah waktu...” akui So Joon, Ma Rin merasa So Joon itu pasti bercanda dan langsung berjongkok sambil menangis.
“Kenapa kau menangis? Apakah aku sebagai penjelajah waktu perlu ditangisi begitu?” kata So Joon bingung, Ma Rin pikir So Joon memang benar-benar kekanakan.
Sesampai dirumah So Joon mengajak Ma Ri agar bicara serius, Ma Rin menolak karena ingin sendiri, So Joon kebinggungan dengan berkata jujur malah membuat semuanya makin kacau.

Tuan Shin tersenyum sambil mengemudikan mobilnya, Se Youn melihta Ayahnya sedang dalam suasana hati yang baik, Tuan Shin mengelak. Se Young pikir ayahnya tak bisa berbohong karena terlihat dari senyuman yang lebar.
“Rumah Cinta... Bukan hanya satu atau dua. Kita sudah membangun 30!” kata Tuan Shin bahagia, Se Young pun bertanya apakah Ki Doong akan datang
“Aku sudah menyuruhnya datang kalau luang.” Ucap Tuan Shin, Se Young pikir kenapa Ki Doong itu harus datang. Tuan Shin pikir Ki Doong itu harus mampir ke tempat mererka.
Se Young cemberut mengingat saat mabuk, bersama dengan Ki Doong dan dua kali mengeluarkan kemarahanya karena So Joon yang menikah dengan Bap Soon.  Se Young melihat Ki Doong lalu menyapanya karena datang. Ki Doong pikir dirinya harus datang karena ia adalah orang pertama yang menerima salah satu rumah itu lalu melihat Se Young kelihatan berbeda. Se Young terlihat gugup.

“Ini rumah terbaik yang dari yang pernah kau bangun. Bahkan rumah keluargaku di Daejeon tidak sebanding dengan ini.” Komentar Ki Doong mengurangi rasa canggung, Se Yong pun mengucapkan terimakasih. 

Ma Rin baru datang melihat keduanya sambil bergumam bahwa Se Young adalah Wanita yang mabuk dan berkelahi dengannya sementar Ki Doong adalah Pria yang punya skandal dengan suaminya  Akhirnya itu pun menyapa keduanya, Ki Doong kembali berkomentar Ki Doong yang melihat Ma Rin itu kelihatan berbeda hari ini. Se Young dengan sinis berkomentar kalau Ki Doong mengatakan hal yang sama.
“Kurasa yang lain belum datang. Ahh.. Kenapa rasanya aneh sekali? Kita datang lebih awal dan Terlalu cepat.” Ucap Ki Doong seperti merasakan rasa canggung antara ketiganya.  Akhirnya Ma Rin pun ingin mempersiapkan peresmian lebih dulu. 

So Joon duduk sendirian dalam rumahnya menatap foto pernikahan dengan Ma Rin didepanya. Sementara Tuan Shin sedang memberikan pidato bahwa rumah adalah Tempat yang hangat dan nyaman untuk ditinggali.
“Namun, belakangan ini orang-orang tidak berpikir demikian  akan rumah mereka. Mereka hanya menganggapnya aset belaka.</i>Kurasa, uang begitu penting di dunia ini. Waktu berharga yang kita habiskan bersama keluarga setiap hari, juga kenangan indah... kita bangun di rumah. Bukankah kedua hal itu yang semestinya kita utamakan?” ucap Tuan Shin, beberapa orang yang mendengarnya menyetujuinya, Ma Rin pun sibuk dengan dengan mengambil gambar mengunakan kameranya.
“Di Rumah Cinta ke-30 ini, selamat pada para lansia yang akan tinggal di sini. Hidup bahagia di sini sampai akhir hayat,  sebagaimana pasangan baru menikah. Bergenggaman erat dan hidup bahagia bersama.” Ucap Tuan Shin.
Sepasang kakek dan nenek pun terlihat bahagia menerima uang dari dana rumah cinta. Ma Rin pun mengambil gambar semua orang yang terlibat dalam peresmian. 


Ki Doong pikir Se Young yang harusnya tak memperlihatkan tingkah yang sangat aneh karena dirinya itu santai saja sekarang. Se Young hanya seperti ingin mengelak. Ki Doong pikir entah Se Young menyukai suka So Joon atau tidak, tak ada untungnya  untuk dirinya.
“Kau yang merasa malu dan tidak sanggup menatapku. Apa Memang rasa malu itu berkurang dengan menyalahkan orang lain?Tapi, apa So Joon tahu kau menyukai dia?” kata Ki Doong, Se Young terlihat kesal tak ingin Ki Doong  mengejeknya.
“Jadi, sebaiknya dengar aku baik-baik, kecuali kau ingin aku mengatakannya pada So Joon!” ucap Ki Doong, Se Young malah menendang kaki Ki Doong karena kesal

“Kau mungkin bersenang-senang akan hal itu. Jadi jangan main-main! Oke?!!” ucap Se Young marah
Ki Doong mengejek kalau tetap ingin mengejeknya,  Se Young mengaku kalau merasa sangat terganggu oleh Ki Doong, serta merasa  Tidak nyaman dan menjengkelkan jadi meminta agar  berpura-pura sajalah tidak tahu apa pun. Ki Doong pikir seharusnya Se Young tidak tertangkap basah olehnya, dan apa yang akan dilakukan Se Young walaupun perasaannya pada So Joon itu tulus.
Se Young pun hanya bisa diam,  Ki Doong menyuruh Se Young untuk berhenti bersikap sok keren serta mengakhiri persaanya itu.  Se Young melihat Ki Doong itu menjengkelkan. 


Ma Rin membawakan makanan dan memanggil nenek dan kakek yang baru menerima rumah, lalu terdiam melihat keduanya sedang duduk dikursi taman dan masih terlihat mesra. Ia mengeluarkann ponselnya mengambil gambar, tiba-tiba wajah So Joon muncul dilayar membuatnya sangat kaget.
“Kenapa? Tetaplah memotret... Kau bilang ingin punya banyak fotoku.” Ucap So Joon, Ma Rin dengan wajah cemberut bertanya kenapa So Joo datang.
“Aku bosan sendirian di rumah.” Ucap So Joon, Ma Rin memalingkan wajahnya. So Joon mengaku kalau sengaja datang untuk menemui Ma Rin.
“Kenapa kau harus muncul saat aku sedang kerja ? Apa kau tidak lihat, aku sedang bekerja?” keluh Ma Rin 
“Ini tidak sebanding dengan kau yang sampai datang  ke rumah temanku untuk menangkap basah” komentar So Joon
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar