Selasa, 14 Februari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 17 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Moo Myung melawan semua orang yang ingin menyerangnya, semua teman satu kamarnya berusaha untuk menyelamatkanya. So Ho menghalangi Moo Myung agar tak kena pedang, Moo Myung pikir tak perlu melindunginya karena yang mereka inginkan adalah dirinya.
“Omong kosong. Mereka di sini, menyerang kita.” Kata So Ho mencoba melindungi Moo Myung.
Dari kejauhan Dan Se juga melepaskan panah untuk menyelamatkan Moo Myung. Tiba-tiba Moo Myung mulai merasakan seperti lemas dan ingin jatuh pingsan tapi masih bisa melawan musuhnya. So Ho menahan Moo  Myung sebelum terjatuh, Dan Se pun berlari mendekat.  Moo Myung akhirnya jatuh tak sadarkan diri dengan melihat semua temanya berusaha melindunginya. 

Maek Jong melihat gelang raja lalu mengambilnya, terlihat Tuan Park tertidur pulas. Tiba-tiba Maek Jong sudah ada diatas tubuh Tuan Park dengan pedangnya mengancam kalau mengeluarkan suara maka pedangnya itu akan menembus tenggorokannya. Tuan Park panik bertanya siapa pria yang berada didepanya.
“ Aku adalah Pemilik gelang sebenarnya. Orang yang kau cari. Raja tanpa wajah.” Kata Maek Jong
“Kupikir... putra Ahn Ji Gong adalah Raja.” Ucap Tuan Park, Maek Jong menegaskan kalau yang sebenarnya adalah dirinya.
“Aku Rajamu... Jinheung.” Kata Maek Jong dan ingin mengarahkan pedangnya ke arah Tuan Park
Tapi Maek Jong memilih hanya menusuk tepat disamping lehera Tuan Park berpikir kalau lain kali akan sungguh membunuhnya, lalu berjalan pergi. Tuan Park seperti masih shock berpikir diriya sedang mimpi tapi disampingnya ada pedang. 

Ratu Ji So pergi ke ruangan raja, dibuat panik karena singgasana tempat biasa raja duduk menghilang begitu saja. Akhirnya ia terbangun dari tidurnya dan melihat ada sebuah bunga tanda kalau Maek Jong ingin bertemu denganya.
Ia masuk ke dalam ruang raja melihat Maek Jong duduk di singasana. Maek Jong menegaskan kalau tak akan menghindarinya lagi. Ratu Ji Soo pura-pura tak mengerti maksudnya. Maek Jong mengatakan  Sekarang. harus menjadi Raja Silla sesungguhnya.
“Apa Kau tahu apa arti raja itu? Aku telah melindungi Silla. Aku yang mengalami saat tahta tak stabil. Aku bertahan melalui masa yang kejam bahwa Silla masih suci. Kau tak pernah menumpahkan darah. Kau tak tahu apa arti melindungi tahta. Apa kau Raja Silla sesungguhnya?” ucap Ratu Ji So meremehkan anaknya.
“Aku tahu...Ibu telah melindungi Silla. Namun, nama ibu tetap tak akan berada dalam sejarah. Karena Raja Silla, adalah Raja Jinheung, Tak ada yang lain.” Tegas Maek Jong
“Aku alasan kau masih hidup. Bahwa kau masih hidup, karena aku yang membunuh musuhmu.” Tegas Ratu Ji So
“Jangan menggunakanku sebagai alasan Ibu atas keserakahan kekuasaan. Jika kau merasa kesal karena aku, lakukan saja. Pada akhirnya kau benci diri sendiri karena kemarahan dan penyesalan. Ini adalah Silla aku. Aku yang berhak memerintah... di Silla.” Tegas Maek Jong 


Ratu Ji Soo terdiam dalam kamarnya, lalu bermimpi Maek Jong yang mencekik lehernya. Dengan wajah panik memanggil Moo Young, sang pelayan. Moo Young masuk kamar,  Ratu Ji So meminta agar memanggil Ahn Ji Gong.
“Yang Mulia, Ahn Ji Gong mengobati Cheol-in yang menderita wabah. Apa Anda ingin minum teh?” kata Moo Young, Ratu Ji Soo menganguk seperti lupa kalau harus menghindari teh yang dibawakan Moo Young. 

Tuan Park melihat pedang yang masih menempel darah bekas dilehernya, lalu teringat saat Maek Jong mengatakan “Orang yang kau cari. Raja tanpa wajah. Aku Rajamu... Jinheung.” Ho Kong khawatir melihat Tuan Park menanyakan keadaan lebih dulu. Tuan Park hanya diam saja. 


So Ho dan Yeo Wool menjaga Moo Myung yang masih terbaring. So Ho heran karena  tak terlihat Moo Myung terluka tapi belum sadar juga, bahkan Yeo Wool sudah melihat seluruh bagian tubuhnya. Namun, tidak ada cedera kritis.
“Lalu kenapa dia tak bangun?” tanya So Ho heran
“Kupikir itu aneh tapi ini adalah Pingsan sebagian. Apa Kau tak tahu tentang pingsan tiba-tiba?” ucap Yeo Wool, So Ho hanya bisa diam dengan wajah khawatir. 

Tuan Ahn dan Woo Reuk seperti mulai kelabakan dengan semua orang terserang wabah penyakit. Tuan Ahn menanyakan kabar dari  Wolseong. Woo Reuk hanya bisa mengelengkan kepala, Tuan Ahn mengumpat kesal karena belum bisa menanggulangi bencana.
Seorang wanita datang dengan anaknya meminta agar Tuan Ahn menyelamatkan putranya, tapi ia sendiri sudah muntah darah.  Tuan Ahn meminta si wanita untuk berbaring dulu. Si wanita merasa dirinya baik-baik saja meminta agar menyelamatkan putranya.
Tuan Ahn berlari mengambil sesuatu dari tasnya, Woo Reuk kaget melihat Tuan Ahn menumbuk sesuatu karena itu Tanaman itu beracun. Tuan Ahn pikir sudah tidak punya pilihan dan tak bisa hanya duduk dan menonton.  Lalu memberikan pada si wanita berharap kalau racun tak menyebar, maka akan hidup. Tapi si ibu seperti sudah tak bisa bertahan malah semakin muntah darah lalu tak sadarkan diri.
Sang anak menangis memanggil ibunya, Woo Reuk langsung memeluk sang anak. Tuan Ahn terlihat sangat frustasi karena tak ada bantuan apapun untuk menanggulangi wabah penyakit. 

Ah Ro pergi ke pasar mencari ginseng atau peony. Pedagang mengatakan kalau tu obat sulit di dapatkan dan tak memilikinya. Ah Ro duduk diam mengingat ucapan ayahnya kalau  “Jika kau tak bisa dapatkan obat...Apa terjadi pada orang-orang? Kita harus selamatkan entah bagaimana.”
Seekor kuda menarik beberapa banyak barang bawaan dengan gerobak, lalu Ah Ro melihat beberapa ceceran di tanah yang terjatuh dari lubang karung.  Ia melihat kalau Bintang adas mustahil temukan di ibukota lalu bertanya-tanya apa sebenarnya isi dari gerobak itu. 

Disebuah gudang penyimpanan.
Ho Kong melihat isi peti tanaman obat, Tuan Park datang mengeluh karena kemajuan begitu lambat. Ho Kong pikir Mungkin Ahn Ji Gong menyelamatkan Cheol-in buat wabah menyebar lambat. Tuan Park mengumpat Tuan Ahn itu  Pria mengganggu dan menjengkelkan.
“Haruskah kita jual di pasar sekarang?” kata Ho Kong
“Apa kau tahu cara mengubah ini jadi emas? Jika 70% obat di sini membusuk maka ini berubah jadi emas. Ketakutan wabah, kecemasan tak dapatkan obat. akan mengubahnya jadi emas.Orang-orang seperti Ahn Ji Gong yang membuat emasku.” Kata Tuan Park licik. 

Kyung Kong dengan kaki yang pincang masuk dengan wajah penuh amarah, menanyakan alasan Ratu yang .ingin membuat Wonhwa lagi, lalu berpikir tak tahu apa yang terjadi pada Nam Mo dan Joon Jung
“Joon Jung tewas, Nam Mo cemburu. Nangdong Nam Mo menewaskan Joon Jung.” Kata Ratu Ji So
“Anda mungkin tahu cerita berbeda. Berhenti sampai disini, Lalu aku akan berhenti juga.” Tegas Kyung Kong, Ratu seperti tak mengerti.
“Mundur dari tahta dan serah mahkota dan Juga, jangan sentuh Hwarang. Lalu tak akan ada kesulitan.” Ucap Kyung Kong
“Kau terdengar seperti pemberontak bersekongkol. Beraninya kau menyuruhku mundur dari tahta? Mereka Hwarangku!! Kau tak lebih dari setan. Ini bukan sesuatu bisa kau ikut campur!” tegas Ratu dengan nada tinggi.
Kyung Kong berjanji jika Ratu Ji So turun dari tahta maka  tidak menginginkan apapun, bahkan  Tanpa nama dan seolah-olah tidak dilahirkan, itu lah cara meninggalkannya. Ratu Ji So seperti tak mengerti, Kyung Kong menekanya kalau semua Dimulai karena Ratu Ji So sendiri. Ratu Ji So hanya terdiam melihat Kyung Kong keluar dari ruanganya. 

Ah Ro berlari dan bertemu dengan Wi Hwa yang baru keluar ruangan, Wi Hwa seperti ingin buru-buru karena menahan sesuatu.  Ah Ro menegaskan Ada sesuatu harus diberitahu. Wi Hwa yang sudah tak bisa menahan ingin pergi ke toilet berpikir lebih baik mengatakan nanti.
“Ini sangat penting, Banyak nyawa berbahaya.” Kata Ah Ro
“Aku tak ada waktu lagi. Mari kita bicara nanti.” Ucap Wi Hwa
Ah Ro pun memutuskan akan menunggu di dalam. Wi Hwa setuju, Ah Ro akan masuk ke dalam ruangan tiba-tiba terdengar sesuatu, Wi Hwa kali ini bukan menahan buang air kecil tapi air besar dan pergi sambil memegang perutnya. 

Joo  Ki memberikan sebuah obat Diare untuk Wi Hwa, Wi Hwa duduk di meja kerjanya bertanya apa yang dimaksud banyak  Nyawa dalam berbahaya. Ah Ro menceritakan  Ada wabah epidemi di desa Makmang dan banyak Orang meninggal akibat penyakit tersebut.
“Namun, tidak ada obat jadi Mereka tidak dapat diobati.” Jelas Ah Ro
“Setiap kali ada epidemi, para petani mati lebih dulu. Lalu kenapa ?” kata Wi Hwa, Ah Ro memperlihatkan tanaman obat yang ditemukan dijalan.
“Bukankah ini bintang adas untuk... batuk dan pilek? Tidak mungkin menemukan hari ini Dimana kau menemukannya?” kata Joo Ki bingung
“Ini Tidak ada di ibukota, bahkan dengan bayaran tak bisa ditemukan. Namun, mereka membusuk di satu tempat.” Ucap Ah Ro

Wi Hwa bertanya dimana tempatnya,  Ah Ro mengatakan kaalu itu ada di Ruang penyimpanan Young Shil Gong jadi meminta agar membantunya karena mereka harus menyelamatkan para korban, Wi Hwa pikir dirinya itu  tidak punya kekuatan apapun.
“Aku tak punya rumah, tanah, atau bahkan perak.” Ucap Wi Hwa merasa bukan orang kaya layaknya penjabat.
“Apa kau hanya duduk dan menonton?!” teriak Ah Ro denga mata melotot, Joo Ki dan Wi Hwa terkejut mendengar Ah Ro yang berteriak marah.
“Kau harus dapatkan solusi.” Tegas Ah Ro ingin memberikan pelajaran, Wi Hwa heran dengan Ah Ro yang meminta tolong padanya.
Ah Ro seperti terus memohon, Joo Ki bertanya apakah  Ah Ro tak ingin menemui kakaknya, Ah Ro kaget bertanya apa yang terjadi pada kakaknya. Joo Ki menceritakan kalau  Tadi malam, pembunuh datang di Rumah Hwarang jadi mendapatkan sedikit... Ah Ro panik mendengar ada yang ingin membunuh Moo Myung.  Joo Ki pikir keadaan lebih baik karena tidak luka serius.


Ah Ro berlari ke tempat Moo Myung dirawat, saat itu Moo Myung memimpikan saat mencium Ah Ro dan merasakan seseorang menyentuh wajahnya dengan mata terpenjam langsung menariknya.Tapi ternyata bukan Ah Ro tapi Putri Sook.
Putri Sook yang berada sangat dekat dengan Moo Myung langsung menciumnya, Ah Ro melihat dari balik pintu, akhirnya memilih untuk pergi karena shock. Moo Myung pun kaget melihat ternyata bukan Ah Ro tapi putri Sook dan langsung bangun dari tempat tidurnya.
“kau pikir akusiapa...?” kata Putri Sook. Moo Myung mengaku kalau tak berpikir yang penting.
“Aku punya tunangan dan tak berencana jadi istri separuh bangsawan Namun... Aku harus tahu apa ini. Kenapa aku begitu bingung saat melihatmu? Apa ini... perasaanku?” ucap Putri Sook
“Kedengarannya seperti aku membingungkanmu. Tapi Tidak perlu, karena Aku akan lupakan baru saja Anda lakukan.” Tegas Moo Myung
“Aku tak peduli apa yang kau pikirkan. Aku ingin tahu tentang perasaanku. Ini perintah dari Putri Silla. Sampai rasa ingin tahu aku puas... maka jangan menjauh. Sampai aku tak lagi penasaran, kau harus tetap dekat.” Tegas Putri Sook. Moo Myung seperti tak peduli memilih untuk keluar dari ruangan. 


Ah Ro mondar mandir di depan ruang tabib, dan ingin bersembunyi ketika Moo Myung datang. Ia akhirnya berpura-pura seperti baru saja datang, keduanya saling menatap. Moo Myung mengingat saat bertemu dengan Rati Ji So
“Aku berencana menggunakan Ia, agar kau digunakan juga. Aku tahu Ia punya kekuatan menggerakkanmu. Jika kau berpura-pura jadi Raja... terus bertindak seperti itu. Jika kau tak ingin kehilangan adikmu.” Ucap Ratu Ji So mengancam.

“Aku dengar pembunuh menyelinap ke sini. Apa kau terluka?” ucap Ah Ro khawatir, Moo Myung dengan sikap dingin mengaku baik-baik saja. Tiba-tiba Ah Ro mengingat saat Putri Sook yang mencium Moo Myung didepan matanya.
Tapi akhirnya Ah Ro memilih untuk ingin melihat luka teman kakaknya, tapi Moo Myung menghindar. Keduanya tiba-tiba terdiam. Moo Myung pikir kalau Ah Ro selesai bicara maka lebih baik dirinya pergi saja. Ah Ro mengalihkan dengan berkomentar kalau  Cuaca hari ini sangat cerah. Moo Myung dengan sikap dinginnya memilih untuk pergi lebih dulu.
“Waaaah.. dia mulai lagi. Orang macam apa memainkan perasaan? Aku sudah melalui itu sebelumnya tapi masih sakit.” Ucap Ah Ro menahan rasa sedihnya. 


Ah Ro pergi ke ruangan dan dikagetkan dengan Putri Sook yang sudah duduk didalam, dengan wajah sinis bertanya apa tujuanya datang.  Putri Sook pikir Ah Ro itu benar bahwa kakaknya itu ada di rumah Hwarang, yaitu Ji Dwi. Ah Ro kaget karena Putri Sook tahu bahwa Maek Jong sebagai Ji Dwi adalah seorang raja.
“Sudah kubilang, kalau tak pantas hanya kau saja yang tahu.” Ungkap Putri Sook sinis
“Apakah orang lain tahu tentang hal itu?” tanya Ah Ro panik, Putri Sook pikir Ah Ro itu terlalu serakah. Ah Ro binggung kalau dirinya serakah.
“Kakakmu bukan Raja dan diserang oleh pembunuh. Namun kau masih ingin menjaga kakakku juga.” Ucap Putri Sook, Ah Ro binggung menjelaskanya.
“Apa Sun Woo... bahkan kakakmu? Tapi kau berbeda cara melihat Sun Wo. Aku tahu kalau dia bukan kakakmu.” Kata Putri Sook menyindir, Ah Ro langsung bertanya apa yang ingin dikatakanya.
“Di satu sisi, kau dekat kakakku. Di sisi lain, kau dekat Sun Woo. Apa kau mempermainkannya?” sindir Putri Sook
Ah Ro menegaskan kalau Putri Sook yang serakah, yang menginginkan seseorang meskipun pria itu tidak menyukainya, tapi itu semua  tak terjadi padanya dan Situasi mereka berbeda. Putri Sook melihat Sekarang, tahu alasan Ratu memilih Ah Ro, menurutnya  Ah Ro sangat menjengkelkan. Ah Ro binggung maksud yang dipilih, Putri Sook memilih untuk keluar dari ruangan. 


So Ho duduk dengan Yee Wool melihat Ban Ryu yang duduk dengan teman-temanya, Yeo Wool pikir kalau itu artinya kembali ke masa lalu. Han Sung pikir Ban Ryu telah kembali ke dirinya yang dulu. Akhirnya So Ho pergi menemui Ban Ryu.
“Di mana kau semalam?” tanya So Ho, Ban Ryu pikir urusi urusannya sendiri.
“Ada pembunuh, Sun Woo hampir terbunuh. Dan kami tak menemukanmu sepanjang malam. Apa itu hanya kebetulan?” kata So Ho curiga
“Aku tak peduli apa yang kau bayangkan jadi Urusi urusanmu. Aku kehilangan nafsu makanku karena melihat Anjing Ratu.” Sindir Ban Ryu
“Apa kau berubah lagi Jadi orang jahat?” ucap So Ho khawatir.
Ban Ryu memperingatkan kalau  Jangan bersikap seperti temannya. So Ho berharap lebih baik Ban Ryu tak terlibat insiden itu,  tapi kalau memang memang terlibat maka pasti brengsek,  jadi akan membunuhnya. 


Moo Myung masuk ke dalam ruang makan, semua menatapnya. Teman Ban Ryu membawakan makanan seperti melayani seorang raja. Moo Myung dengan gugup mengucapkan terimakasih, semua teman satu kamarnya hanya menatap dengan canggung, Moo Myung merasa tak enak.
“Karena pembunuh datang tadi malam. Semua orang percaya kau adalah Raja sekarang.” Ucap Han Sung, Yeo Wool memukul Han Sung untuk memperingatinya.
“Kau tak perlu peduli itu lagi.” Kata Yeo Wool, So Ho terlihat kikuk dengan mengunakan bahasa formal dan menganti ucapan dengan bahasa banmal menanyakan keadaanya.
“Kau tahu itu aneh juga, 'kan?” kata Moo Myung, So Ho mengetahuinya. Han Sung melayani Moo Myung memberikan potongan ikan di atas sendoknya.
“Karena kita bicara tentang itu... Apa Kau sungguh Yang Mulia? Maksudku, beritahu kami saja, bisa tidak?” bisik Yeo Wool
Tiba-tiba Moo Myung berdiri dari tempat duduknya, So Ho binggung. Moo Myung merasa tak selera lalu keluar dari ruang makan. So Ho dan Han Sung menendang Yeo Wool yang membahas masalah itu. 


 Maek Jong datang menemui Wi Hwa,  Wi Hwa layaknya seperti orang yang lebih tua menanyakan tujuan Maek Jong datang, tapi teringat kalau Maek Jong adalah Raja langsung berdiri dan mengunakan bahasa formal.  Maek Jong pikir lebih baik Wi Hwa duduk saja karena  wajar untuk keponakan jauh untuk berdiri, selain itu Wi Hwa itu adalah gurunya.
“Jika Anda memberiku perintah, Itu akan buatku lebih nyaman.” Kata Wi Hwa memberikan hormat lalu kembali duduk.
“Perintahku, Jika aku jadi raja sesungguhnya, maka Aku harus menanggungnya.” Kata Maek Jong, Wi Hwa membenarkan karena itu yang sebelumnya dikatakan.
“Jika aku menanggungnya, Apa lagi yang harus aku lakukan?” kata Maek Jong, Wi Hwa mengatakan Maek Jong harus mendapatkan orang yang ada disisinya.


“Jika aku raja tanpa wajah maka Aku akan dapatkan orang yang kuat. Seseorang yang kuat. Apakah Seperti Park Young Shil?” kata Maek Jong
Wi Hwa membenarkanya, kalau Maek Jong harus mendapatkan Tuan Park maka semua kekuatan yang dimiliki Tuan Park  akan menjadi miliknya. Maek Jong bertanya apa yang bisa didapatkanya dan bagimana jika tak bisa mendapatkan, apakah ia harus membunuhnya. Ia seperti ingin menyakin diri, apakah ia bisa mendapatkanya.
“Anda akan mendapatkan pembenaran.” Kata Wi Hwa
“Jika aku tak punya pembenaran.. Apa kau sudah memilih orang lain?” tanya Maek Jong
“Terkadang, seleksi bukanlah sesuatu yang baik. Tetapi sesuatu yang diputuskan.” ucap Wi Hwa 
Maek Jong berjalan dan melihat Moo Myung didepanya dan ingin mengambaikanya, Moo Myung kesal karena bertanya sampai kapan akan berlari dan apakah Maek Jong tak mengatakan apapun. Maek Jong menyindir rasanya berpura jadi Raja. Moo Myung langsung memberikan pukulan karena Maek Jongharus tahu bagaimana rasanya, keduanya akhirnya saling memukul.
“Aku tak pernah berpura jadi Raja.” Tegas Maek Jong, Moo Myung pikir Maek Jong tak pernah jadi Raja nyata.
“Jangan pikir kau tahu segalanya.” Ucap Maek Jong, Moo Myung merasa kalaui juga melakukan semua yang bisa dilakukan.
“Aku...berjuang juga.” Tegas Maek Jong,
“Apa itu kau sebut berjuang? Melarikan diri, bersembunyi, menghindari?!” teriak Moo Myung marah
“Ini perjuangan...berharap Silla jadi lebih baik. Perjuangan berharap rakyat Silla, tak akan mati lagi karena aturan Silla. Perjuangan melindungi rakyat sehingga mereka tak akan pernah jadi pencuri lagi.” Tegas Maek Jong, Moo Myung terdiam mendengarnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar