Selasa, 28 Februari 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

Sim Jae Bok duduk di dalam bus dengan hujan yang sangat deras, siaran radio terdengar memutarkan lagi “Like Rain, Like Music” sementara Jae Bok terlihat penuh dendam bergumam “Aku akan membunuhmu.”
Ia berjalan masuk ke sebuah lorong dengan terburu-buru tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria sampai payungnya terjadi. Akhirnya ia kembali berjalan menaiki tangga dan dikejutkan dengan sosok mayat yang berada ditangga. 

Jae Bok duduk diam dalam ruang interogasi, wajahnya terlihat shock. Beberapa polisi berbicara di control membahas tentang kasus pembunuhan. Salah satu polisi seperti tak percaya kalau Jae Bok itucmembunuh seseorang. Saat melihat mayat perempuan, Jae Bok yang menjerit histeris melihat tanganya dengan noda darah.
“Ini bisa menjadi balas dendam atau hubungan cinta. Kita akan tahu dan aku duga seperti itu” ucap salah satu polisi. 

[3 minggu yang lalu, SJ Law Office]
Kang Bong Goo dan Jae Bok terdiam melihat seorang wanita yang terus menangis didepan mereka. Bong Goo mulai membahas bawah suami klienya itu berselingkuh.Si Wanita membenarkan kalau suaminya selingkuh  dengan seorang rekan perempuan di tempat kerja nya.
“Bagaimana dia bisa melakukan ini di belakangku?” ucap Si wanita sambil menangis. Jae Bok meminta agar klienya itu tak menangis lagi, Tapi si wanita yang merasa sakit hati terus saja menangis.
“”Sejak datang, kami akan membuatmu bisa keluar dari semua masalah ini. Dengan Membagi-bagi atas aset, dan menerima tunjangan anak. Mari kita lihat.. Dia menyingkirkan kotak hitam mobilnya dan juga membersihkan semua catatan panggilan nya. Dia orang yang sangat teliti.” Jelas Bong Goo

“Itu sebabnya aku menyadap mobilnya. Dia entah bagaimana menemukan ... dan mengatakan kepadaku tidak akan memberi kompensasi apapun. Aku bahkan pergi ke rumahnya dan ingin membunuhnya. Lalu ia terkurung  dan mengancam akan memanggil polisi. Dia mulai berteriak padaku.” Cerita Si klien, Bong Goo sempat mengumpat si wanita itu penyihir.
“Aku bodoh.... Itu karena aku bodoh.” Ucap Si wanita kembali menangis.
“Nyonya.. Lee Jung Soon, tolong berhenti menangis.” Pinta Jae Bok, tapi Jung Soon tetap saja menangis
“Suami kau yang  berselingku dan kau tidak bodoh.” Tegas Jae Bok, Jung Soon merasa kalau dirinya itu sudah tertipu oleh suaminya. 


Seorang wanita berjalan dengan ID Card bernama Jung Na Mi, berjalan menemui Manager dengan memberika berkas sebuah note tertulis didalamnya “Sayang, temui aku di parkir 10 menit lagi.” Seorang wanita cantik memberikan kode, lalu berjalan lebih dulu. Goo Jung Hee bergegas keluar dari bangkunya.
Jae Bok sedang menyakinkan Jung Soon kalau suaminya itu yang berencana untuk berbohong  dan ini bukan kesalahan klienya dan juga Jung Soon itu tak bodoh. Bong Goo yang mendengarnya terlihat mulai panik. Jae Bok tahu kalau Jung Soon sudah menyadap dan  bahkan pergi ke rumah kekasihnya.
“Menurut Pasal 19 KUHP, pelanggaran bisa mendapatkan tiga tahun penjara atau hingga 5.000 dolar di denda. Apakah Anda tahu bahwa penyadapan ilegal, menurut Perlindungan Komunikasi Rahasia Act, bisa mendapatkan setahun untuk 10 tahun di penjara dan di bawah lima tahun suspensi kualifikasi.” Ucap Jae Bok menegaskan yang dilakukan itu salah

“Nona Shim, bahkan jika bukti itu dikumpulkan secara ilegal, kebenaran itu lebih penting tuntutan hukum keluarga...Pengecualian ...” jelas Bong Goo ingin menjelaskanya.
“Hal ini dapat diterima sebagai pengecualian, tapi suami dan kekasihnya tidak akan duduk diam dan menunggu. Dia bisa membingkaimu sebagai ibu rumah tangga gila yang delusi dan obsesif.  Kau mungkin tidak mendapatkan  pembagian harta dari kekayaannya.” Jelas Jae Bok  Bong Goo makin panik dengan mencolek pingang rekan kerjanya. 

Na Mi masuk ke dalam mobil dan langsung bercumbu dengan Jung Hee, beberapa perkerja lewat. Keduanya langsung menurunkan bangku mobil untuk bersembunyi, lalu tersenyum seperti melakukan hubungan yang sangat intens di dalam ruang kerja.
Jae Bok menyarankan agar Jung Soon tidak  terbawa oleh emosi serta harus rasional dan tenang, serta jangan menyalahkan diri  sendiri. Bong Goo hanya bisa menahan amarahnya.
“ Lebih dari itu, mendengarkan hatimu. Apakah kau benar-benar ingin bercerai? Apakah kau dengan perceraian untuk menghukum suamimu? Apakah kau memiliki rencana kehidupan setelah perceraian? Apa yang akan kau lakukan dengan anak-anakmu? Apakah perceraian satu-satunya cara? Jadilah tenang dan membuat strategi yang harus dilakukan dengan satu kali serangan” kata Jae Bok. Bong Goo mencoba terus mencolek tapi dua jarinya langsung dipegang erat oleh Jae Bok seperti ingin dipatahkan. 

“Sementara itu, kau perlu untuk membangun kemampuanmu sendiri. anak-anakmu sudah dewasa sekarang. Kau dapat melakukan hal-hal yang selalu di ingin. Kau bilang Seorang suami kecurangan? Kau bisa Menganggapnya sebagai ATM. Dengan mengambil gajinya dan memasukkannya ke dalam sakumu, Kemudian berpakaian sendiri dengan baik.Dari sekarang,kejayaan keduamu akan mulai.” Tegas Jae Bok. Jung Soon mengangguk mengerti. 

Jae Bok menelp seseorang tapi ponselnya tak aktif, terlihat didepan meja kerjanya foto bersama suaminya Jung Hee dan dua anak mereka. Sementara Jung Hee berada dalam sebuah kamar sedang berciumand dengan Na Mi sampai semua bibirnya penuh dengan lipstik.
“Sayang, kenapa kau begitu sulit dihubungi? Rumah kita tak dapat disewakan lagi, pemilik tidak ingin karena kita memiliki dua anak.” tulisJae Bok dalam pesannya.
Jung Hee melihat pesan dari istrinya akhirnya meminta Na Mi agar diam lalu nelp Jae Bok. Jae Bok mengangkat telp dari suaminya mengeluh karena tak mengangkat telpnya, lalu memberitahu kalau mereka harus mencari tempat baru.
“Sebelumnya pemilik mengatakan itu baik-baik saja. Dia tampak seperti seorang wanita yang baik.” Ucap Jung Hee dengan Na Mi yang mengelus pundaknya.
“Ahh.. Kau benar-benar tidak memiliki mata untuk apa pun.. Apa yang aku harapkan dari mu?” keuh Jae Bok.


Jung Hee pun meminta maaf pada istrinya, Jae Bok tak peduli menyuruh suaminya agar sama-sama mencari rumah baru karena hanya memiliki dua minggu sampai harus pindah, dan memberitahu bahwa Jin Wook tidak ingin pindah sekolah.  Saat itu telp lain masuk, Jung Hee langsung mengangkatnya sambil berdiri memanggil nama Tuan Jo. Terdengar teriak suara amarah menanyakan keberadaan Jung Hee sekarang. Jae Bok masih saja terus berbicara di telp sampai akhirnya tersadar kalau ponselnya sudah ditutup. 

Sementara Jung Hee sudah kena marah Tuan Jo Young Bae. Didepan semua karyawan, Tuan Jo menduga Jung Hee berselingkuh karena tak ad dikantor, Na Mi yang melihat Jung Hee kena marah hanya bisa diam dengan tatapan sedih.
“Kau memiliki nol bulan lalu dan nol bulan ini... Mr. Koo Jung Hee. Apakah kau datang bekerja untuk bersenang-senang? Pergi dan mengemis di lutut,  Aku tidak peduli. Lakukan sesuatu dan mengubah mereka dari nol menjadi angka.” Teriak Tuan Jo sangat marah
Jung Hee pun hanya diam saja, salah satu pegawai mencari perhatian dengan mengajak Tuan Jo agar pergi makan siang saja.  Tuan Jo pun menyapa Na Mi dengan mengajaknya makan siang. Na Mi langsung memalingkan wajah dengan wajah cemberut. 

Jae Bok mencari-cari informasi tentang rumah baru, lalu pesan Chat masuk ke dalam laptopnya. “Rita, kau harusnya makan siang?” Jae Bok membalasnya “Halo, Blue Rose... Aku akan makan... Nikmati makan siangmu.”
“Ini tentang rumah yang aku katakan sebelumnya. Mereka mengatakan kau bisa melihatnya saat ini. Jika kua belum menemukan apa pun, apa ingin melihatnya?”tulis seseorang yang duduk dibangku bos dengan secangkir bertuliskan huruf D.
“Terimakasih telah memikirkanku. Namun, aku akan ...” ketik Jae Bok lalu terhenti melihat kalimat yang dikirimkan oleh Rose Blue.
“Ketika kau mengatakan kepada mereka kau memiliki anak-anak, pemiliknya benar-benar senang. Sepertinya anakmu tidak perlu pindah sekolah” tulis Blue Rose. 
Jae Bok terlihat ragu akhirnya menganti kalimat dengan menanyakan apakah ia bisa melihat rumah tersebut. 

Na Hye Ran sedang melatih pilates menerima telp dari Jae Bok membahas tentang Blue rose yaitu calon pacar pengacaranya secara online. Jae Bok mengeluh Hye Ran menganggapnya “pacar”. Hye Ran pikir tetap saja itu adalah Pacar online lalu bertanya apakah akan melihatnya tempat sekarang
“Iya.. Kami harus pindah dalam dua minggu. Aku hanya akan memeriksa tempat.” Jelas Jae Bok
“Namun, kau bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya. Bagaimana kau bisa percaya padanya?” kata Hye Ran
“Aku sudah tahu Blue Rose selama tiga tahun sudah. Kami hanya belum bertemu belum. Dia membantuku begitu banyak. Dia memberiku dengan mengajar materi, contoh pertanyaan, dan bahkan catatan sendiri.” Cerita Jae Bok lalu memberitahu kalau sudah sampai.
Ponsel pun dimatikan, Hye Ran kembali melatih membernya, seorang wanita tambun datang menatap Hye Ran dengan sinis. Hye Ran pun menayapnya berpikir kalau wanita itu ini belajar pilates. Si wanita tambun hanya menatap sinis lalu pergi. 

Jae Bok berjalan dengan seorang pria seperti seorang agen properti, lalu bertanya apakah mengenal “Blue Rose” yaitu  Orang yang memperkenalkan dengan rumah yang akan dilihatnya. Si pria mengaku tak tahu karena hanya diberitahu oleh bosnya.
“Aku tidak melihat dia di kantor makelar.” Ucap Jae Bok, Si Pria mengaku kalau bosnya  seang dalam perjalanan bisnis ke China dan mendapat pesan.
Mereka pun sampai didepan sebuah rumah yang terlihat memiliki halaman yang luas.  Jae Bok pikir si agen properti berada di tempat yang salah karena ia hanya mencari rumah sewa, Si pria tetap mengajak masuk kedalam rumah yang cukup besar. Sesampai di dalam rumah, Jae Bok pikir lebih baik pergi karena tak mungkin tinggal dirumah yang tidak mampu membelinya. Saat itu seorang wanita turun dari tangga menyapa Jae Bok, Lee Eun Hee. Jae Bok langsung meminta maaf karena merasa datang ke tempat yang salah.

“Kau berada di tempat yang tepat. Aku mendengar kau memiliki anak-anak.” Ucap Eun Hee berjalan mendekat, Jae Bok membenarkan.
“Aku senang kau di sini.” Ucap Eun Hee lalu mengajak Jae Bok berkeliling. 
Eun Hee membawa Jae Bok pergi ke bagian rumah yang lengkap dengan perabotan sofa dan juga dapur yang cukup luas serta kamar tidur anak yang lengkap. Jae Bok sempat terkesima lalu bertanya apakah pernah ada anak-anak yang tinggal dikamar itu sebelumnya. Eun Hee mnagatakan kalau anak-anak dari kakaknya tinggal dikamar itu.
“Mereka berimigrasi ke Kanada bulan lalu. Apakah kau memiliki anak perempuan atau anak laki-laki?” tanya Eun Hee, Jae Bok mengatakan kalau sudah memiliki sepasang.
“Ah. itu sempurna.. kakakku memiliki seorang putri dan seorang putra juga.” Ungkap Eun Hee dengan senyuman lebar, Jae Bok pikir kalau tempat ini terlalu besar dan mungkin harganya mahal.

“ Aku hanya akan mengambil apa makelar mengatakan kepadamu Tidak apa-apa bahkan jika itu berkurang sangat banyak” kata Eun Hee.
Jae Bok merasa ini tempat yang bagus dan tawaran luar biasa tapi seperti tak bisa menyewanya. Eun Hee memberitahu kalau sudah lima tahun sejak menikah dan belum punya anak belum, Ia menceritakan sudah berkali-kali mencobanya tapi tetap tak berhasil.
“Aku suka anak-anak banyak, Tapi kakakku pindah kerumah ini karena aku memohon padanya. Kemudian dia pindah ke luar negeri. Anak-anak saling mengobrol di sini seperti burung kecil. Mereka begitu lucu dan indah. Aku rindu keponakanku” ungkap Eun Hee dengan mata berkaca-kaca. 


Jae Bok akhirnya keluar dari rumah saat itu Eun Hee berlari keluar dari rumah memberikan sesuatu pada Jae Bok. Ia mengatakan membuat beberapa sandwich, karena mendengar Jae Bok yang datang saat istirahat makan siang jadi belum makan. Jae Bong  terdiam, Eun Hee mengaku kaalu ini sebagia suap darinya jadi memohon agar Jae Bok bisa pindah kerumahnya.

Jae Bok mengingat kembali perkataan Eun Hee “Aku ingin keluarga bahagia  dengan anak-anak yang lucu berjalan sekitar dan tertawa sebagai tetanggaku”
Ia merasa kalau Eun Hee itu  agak aneh. Bahkan jika keponakan dan keponakannya pergi dan Eun Hee kesepian. Menurutnya memang kesepiand dalam rumah besar sendirian dan melirik kotak makan yang diberikan oleh Eun Hee.
Eun Hee masuk ke dalam ruangan rumah yang kosong, berjalan dengan memasukan semuanya terlihat ada senyuman bahagia. Jae Bok pergi ke tangga darurat makan sandwich yang buatkan oleh Eun Hee, seperti rasanya sangat enak, lalu melihat di bagian kainya ada jahitan inisial "K dan H"

Jae Bok berbicara di telp kalau baru saja akan meninggalkan pekerjaan dan akan sampai setengah delapan malam untuk melihat rumahnya. Saat akan pergi Bong Goo sudah menghadangnya,  Jae Bok meminta maaf karena harus melakukan sesuatu. Bong Goo seperti menahan Jae Bok untuk tak pergi.
“Biaya konstruksi klaim. Mereka dipanggil untuk mengatakan pemeriksaan minggu depan. Persiapan harus diselesaikan pagi hari.” Perintah Bong Goo
“Apa Kau ingin aku pulang terlambat lagi? Aku sudah bekerja empat malam berturut-turut minggu ini.” Kata Jae Bok protes
“Yah.. Kau tak perlu melakukanya, karena aku yakin kau memiliki banyak untuk dilakukan karena kau adalah seorang ibu.  Apa aku harus meminta Mi Hyun karena dia itu single?” ucap Bong Goo memanggil Min Hyun. Jae Bok langsung menendang Bong Goo saat akan berjalan pergi.
“Kau sedang membuat ulah, kan? Kau marah karena aku mengkirim kembali klien perceraian.” Kata Jae Bok, Bong Goo menyangkal.

“Besok, kau akan mengumumkan siapa yang akan mendapatkan pekerja penuh waktu, sehingga kau pikir ini adalah waktu yang tepat. Kau bisa menyiksa Shim Jae Bok yang takut bahwa dia tidak akan mendapatkannya.” Kata Jae Bok
Bong Goo pura-pura tak mengerti, Jae Bok akhirnya kembali menaruh tas dan juga jaketnya , menegaskan kalau dirinya bukan karena takut tapi  muak mendengar Bong Goo yang selalu mengejaknya sebagai seorang ibu dan menegaskan bahwa tidak pernah pergi dari tanggung jawabnya, makan memutuskan untuk terlambat pulang hari ini lagi.
“Baiklah kalau begitu, selamat Bekerja keras. Aku harus bertemu klien.” Kata Bong Goo keluar dari kantor.
“Dia bilang Seorang klien? Dimana? Apa Di sebuah klub? Atau Di tempat tidur?” ejek Jae Bok sinis. Bong Goo sudah berganti pakaian dan menari-nari dengan seorang wanita dalam club. 


Jung Hee berbicara ditelp meminta Jae Bok mengirimkan pesan alamatnya dan akan melihat rumahnya sekarang serta menjemput anak-anak juga. Saat itu Tuan Joo menghadangnya depan pintu bertanya mau kemana Jung Hee sekarang. Jung Hee menutup ponselnya.
“Apa kau tidak tahu kita memiliki makan malam dengan klien? Kau perlu untuk mendapatkan kontrak.” Tegas Tuan Joo. 

Jung Hee kembali menelp istrinya, Jae Bok mengeluh suaminya yang tak pernah berguna. Jung He berjanji  akan melihatnya besok pagi. Jae Bok yang sudah kesal mengatakan akan pergi saja. Jung Hee seperti merasa tak enak hati meminta maaf pada sang istri.
“Jika kau menyesal, maka kau harus mendapatkan kesepakatan melalui malam ini. Mengerti ?” tegas  Jae Bok, Jung Hee berjanji akan melakukan yang terbaik. 

Jae Bok menelp Kim Won Jae, seorang wanita baru saja menuruni tangga mengerti dengan permintaan Jae Bok akan memberitahu pengasuhnya untuk mengambil Jin Wook dan Hae Wook.
Jae Bok meminta maaf karena merasa tak enak hati paa ibunya yang menjaga anaknya selama tiga malam berturut-turut. Won Jae dengan sinisnya berkomntar kalau Jae Bok juga nanti akan merasa tak enak padanya, seorang mahasiswa menyapa Won Jae.
Won Jae pun membalasnya dengan tatapan melihat pria muda dan tetap berbicara ditelp dengan temanya, merasa kalau dirinya harus membantu selagi bisa melakukanya. Jae Bok sedikit berlari sambil menelp kalau akan naik subway untuk melihat rumah, tapi ternyata rumahnya sudah ada penyewa lainya, wajah Jae Bok terlihat benar-benar kecewa. 

Jung Hee melayai kliennya dengan menyanyi bersama, dengan Tuan Joo dan semua karyawan tak lupa juga dengan para wanita. Setelah itu Ia menerima banyak minuman wine, setelah itu si klien meminta agar Jung Hee bisa menyanyikan sebuah lagu. Jung Hee pikir sedari tadi sudah bernyanyi sepanjang waktu.
“Dia bilang ingin kau menyanyi sendiri, kau bisa Mengubah sedikitmood, mengerti?” ucap Tuan Joo
Jung Hee pun tak bisa menolaknya dan mengambil micnya, saat membalikan badan langsung menyanyikan lagu rock dengan suara lantang. Semua orang hanya bisa melonggo melihatnya. Jung Hee makin beraksi seperti ada diatas panggung dengan kaki dinaikan ke atas panggung.
Sepertinya Jung Hee sedang mengingat kembali saat dirinya seperti di puja-puja oleh para mahasiswa, sebagai vokalis di tahun 2002 Sehyun Universitas auditorium.
Tuan Joo langsung menghentikan musiknya,  Si klien terlihat marah merasa kalau Jung Hee itu sudah tak waras seperti layaknya seorang bintang, lalu mulai mengejek kalau Jung Hee itu lulus dari universitas ternama,  tapi malah tak bisa membuatnya senang. Tuan Joo mengatakan kalau Jung Hee itu lulusan pada sebuah universitas di Seoul. Si klien terlihat marah mengusir Jung Hee keluar, Tuan Joo pun akhirnya menyuruh Jung Hee segera keluar saja. 


Jung Hee duduk lemas dipinggi jalan dan ingin mengirimkan pesan pada Jae Bok “Maaf sayang... Aku baru saja keluar... Aku akan bergegas kembali”  Saat itu telp dari Na Mi masuk sebelum pesan dikirim.
Na Mi dengan suara lembutnya bertanya apakah Jung Hee minum banyak lagi dengan nada khwatir. Jung Hee mengaku kalau hanya minum sedikit saja. Na Mi merasa kasihan pada Jung Hee karena tidak bisa minum banyak dan meminta agar berhati-hati agar tak jatuh lagi seperti waktu lalu.

Jae Bok baru saja sampai didepan pintu  menerima pesan dari Jung Hee “Maaf sayang. Ini akan lebih lama dari yang aku harapkan.”, membaca pesan dari suaminya, Jae Bok pikir sudah mendug dari sebelumnya. Lalu menekan  bel rumah memberitahu kalau ibu dari Jin Wook.
Na Mi membuka pintu rumah dikagetkan dengan melihat Jung Hee datang, Jung Hee masuk mengaku tak bisa lama-lama dan hanya sebentar saja, Na Mi  langsung memeluk erat. Jung He pun memeluknya dengan erat seperti bisa meluapkan rasa tertekanya pada selingkuhanya. 

Jae Bok mengendong anaknya dengan menidurkan disofa, Won Jae yang melihat Jae Bok seperti tak bisa membayangkan dengan hidup temanya setiap hari dan pasti melelahkan. Jae Bok pikir  akan lebih baik setelah menjadi karyawan tetap. Won Jae bertanya apakah Jae Bok yakin dengan hal itu.
“ Tentu saja .. Aku sudah diakui sebagai seorang pekerja yang baik.”ungkap Jae Bok yakin
“Yah.. Kau adalah seorang pekerja yang baik... Hanya saja kau tidak beruntung.” Komentar Won Jae, Jae Bok pikir ia memiliki punya banyak keberuntungan.
“Ahh.. Apa kau ingat cinta pertamamu, Cha Kyung Woo? Asistenku adalah istrinya ...” ucap Won Jae lalu terhenti karena Jin Wook datang mengeluh ibunya yang selalu datang terlambat.

Jae Bok meminta maaf pada anaknya yang paling besar,  Che Ri, anak dari Won Jae menyapa Jae Bok sambil mengeluh Jin Wook yang sudah dewasa karena menjadi pemarah.  Jin Wook menyangkalnya, tapi saat Jae Bok ingin menciumnya sang anak  menolaknya.
Jae Bok pun meminta maaf pada Che Ri, lalu bertanya apakah Hye Ran mengatakan akan mampir. Won Jae juga tak tahu karena menurutnya Hye Ran  sangat sibuk. Che Rin langsung berkomentar kalau teman ibunya it mungkin berkencan seperti yang dikatakan ibunya. Won Jae mengelak tapi Che Rin sudah tahu dari ibunya. Jae Bok hanya tersenyum melihat ibu dan anak yang saling adu mulut.
Bersambung ke part 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar