Sabtu, 11 Februari 2017

Sinopsis Tomorrow With You.Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Ma Rin bersama So Joon berada dalam stasiun di kagetkan dengan bunyi ledakan, petugas keamanan stasiun panik ingin melihat dari dekat begitu juga So Joon, tapi ledakan kembali terjadi membuat semua yang ada distasiun ikut terhempas.
So Joon melihat kecelakaan didepanya berlari ingin mendekati tempat kejadian, Ma Rin berteriak memanggil So Joon agar tak pergi.  So Joon bergumam dalam hati bertanya-tanya Apa Wanita itu adalah Ma Rin.
Akhirnya So Joon datang kembali ke masa depan membaca berita online berjudul [Bap Soon mengaku sebagai korban selamat dari kecelakaan di Stasiun Namyeong.]
“Kau secara ajaib selamat di hari yang sama denganku. Lalu mati di hari yang sama juga denganku. Apa ini sebenarnya? Kau dan aku... sebenarnya apa hubungan kita?”

So Joon menarik Ma Rin saat sedang berbicara dengan seseorang untuk bicara,  Si pria merasa heran siapa So Joon seperti tak mengenalnya.  So Joon akhirnya memberitahu nama aslinya yaitu Yoo So Joon lalu bertanya siapa sebenarnya Ma Rin itu.
“Kau muncul entah darimana,  lalu bertanya siapa aku?” keluh Ma Rin
“Aku tahu kalau aku aneh. Aku tahu kau mungkin tidak paham,  tapi aku harus menanyakan sesuatu padamu.”kata So Joon
“Aku tidak tahu apa itu,  juga tidak tertarik untuk tahu. Aku tidak ingin dengar dan Juga tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku tidak ingin mengucapkan sepatah katapun padamu.” Tegas Ma Ri
“Apa kau sungguh korban selamat dari kecelakaan di Stasiun Namyeong tujuh tahun lalu? Apa kau dan pria di subway itu...” ucap So Joon
Ma Rin kaget So Joon bisa mengetahuinya,  karena baru melakukan wawancara soal itu hari ini dan Artikelnya pasti belum rilis. So Joon menyimpulkan kalau semuanya benar, Ma Rin tetap menanyakan darimaan So Joon bisa mengetahuinya.

“Apa saat itu kau memang berhenti di stasiun Namyeong atau hanya kebetulan saja?” tanya So Joon
“Aku tidak pernah memberitahu siapa pun.  Bagaimana kau bisa tahu?” kata Ma Rin makin penasaran
So Joon kembali bertanya apakah saat itu Ma Rin memang berniat turun di sana atau hanya kebetulan saja. Ma Rin menjawab kalau memang kebetulan dan ingin tahu alasan So Joon menanyakan hal itu.
“Saat itu merupakan mukjizat besar sehingga aku bisa selamat! Kenapa kau bertanya? Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku sudah berkali-kali tanya padamu bagaimana kau bisa mengetahuinya! Kau sangat aneh.” Ucap Ma Rin kesal
“Tapi, bagaimana bisa? Kita..akan terus bertemu.” Kata So Joon, Ma Rin hanya menatap binggung. 


Ma Rin berbicara sendiri di kamarnya, membicarakan  So Joon yang pikir akan menemuinya setiap kali dinginkan, lalu makin penasaran darimana So Joon bisa mengetahui hal itu. Tapi menurutnya tak perlu dipikiran lagi dan berusaha untuk mengedit foto dan terlihat foto So Joon sebagai modelnya.
“Ahh.. Aku tidak akan pernah goyah olehmu,  apa pun yang kau lakukan.” Ucap Ma Rin menutup matanya tak ingin kesima dengan foto So Joon agar tak menatapnya.
Sementara So Joon yang penasaran mencari artikel dengan keyword [Kecelakaan Stasiun Namyeong] lalu keluar judul  berita [Ledakan Subway Stasiun Namyeong] lalu mencatat dalam bukunya “Kecelakaan Stasiun Namyeong pada tanggal 25 Maret 2009.”
“Aku dan Song Ma Rin... Hari terakhir kami hidup tanggal 25 Maret 2019.” ucap So Joon dengan mengartikan kalau jangka waktunya  Sepuluh tahun setelah insiden kecelakaan kereta.
Ia tiba-tiba mengumpat pada dirinya yang sangat bodoh karena  tidak terpikir sebelumnya. Lalu mengingatkan pada si berengsek itu tidak bilang apa-apa karena pasti Selama ini sudah mengetahuinya. So Joon pun keluar rumah dengan mengemudikan mobilnya. 

[Maret, 2019: Masa Depan]
So Joon datang kerumahnya, mencoba menekan bel tapi tak ada sahutan lalu ingin masuk ke dalam rumah, terdengar suara dari interkom kalau So Joon dimasa depan sedang berada dirumah jadi melarangnya untuk masuk.
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” ucap So Joon  marah
“Apa Soal Song Ma Rin adalah wanita yang sama dalam kecelakaan itu?” tanya So Joon dimasa depan
“Waktu kematian kami tepat di hari yang sama  sepuluh tahun setelah kecelakaan itu. Waktunya pun sama persis. Terjadi pukul 9.15 malam. Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa? Kau sudah tahu segalanya, kan?” ucap So Joon kesal
“Memang apa yang akan berubah dengan mengetahuinya?” ucap So Joon masa depan

“Bukankah semua ini hanya kebetulan? Ini aneh!! Semestinya kau menuliskannya dalam catatan,  atau memberitahu Ahjussi soal itu dan kau memberitahu aku.” Teriak So Joon
“Mengetahuinya tidak akan mengubah apa pun. Itulah pendapatku. Mengetahui segalanya... tidak akan mengubah apa pun.” Ucap So Joon masa depan
So Joon pikir kalau memang mengetahuinya kenapa ia tidak bisa mengubahnya menurutnya apa yang tak bisa diubah, lalu berpikir kalau ada sesuatu yang sembunyikan. So Joon masa depan berpesan agar  Jangan berusaha terlalu keras karena Pada akhirnya akan sia-sia saja lalu memutuskan interkom. So Joon berteriak kesal dan ingin masuk tapi menyadarkan diri tidak bisa masuk ke dalam.

Ma Rin sedang berada dalam sebuah studio, lalu berbicara pada penata lampu agar meminjam satu dari studio. Si penata lampu memberitahu kalau mereka harus membayar sewa tambahan untuk itu. Ma Ri memohon agar bisa meminjam satu saja.
Si pria mencoba membahas tentang Ma Rin adalah  korban selamat Insiden Namyeong. Temanya datang mengaku  sudah membacanya tapi ragu  membicarakannya,  jadi terus menunggu waktu yang tepat. Ma Rin menrendahkan hati kalau itu tidak perlu dibesar-besarkan. Bos datang memanggil Ma Rin  dengan wajah bahagia, modelnya itu melihat direkturnya sekarang memiliki suasana hati sangat baik hari ini.
“Bagaimana lagi? Kau anugerah dari Surga bagi kami.” Ucap Direktur, Modelnya pikir direkturnya itu  membaca artikel itu
“Sekarang kau memiliki arti berbeda untukku. Aku hanya pernah mendengar tentang keajaiban.  Dan Tidak sadar bahwa ada satu di dekatku! Ma Rin, Keajaiban! Kau akan mengajak Yoon So Joon lagi, kan? Semua pakaian yang dikenakan So Joon... sold out!” ucap Direktur
Ma Rin mencari alasan kalau So Joon pergi belajar ke luar negeri,  atau beremigrasi. Direktur seperti tak percaya, lalu tiba-tiba polisi datang memberikan surat penangkapan dengan menyita semua barang, Ma Rin dan modelnya langsung bersembunyi, tapi tetap langsung dibawa ke kantor polisi. 

So Joon baru saja memilih pakaianya, menerima telp dan dikagetkan kalau itu dari Kantor polisi. Sementara di kantor polisi, Direktur dengan bangga kalau dirinya itu lulusan Universitas Ehwa dan sudah terlihat dilayar TV. Polisi mengejek si direktur lulusan Ehwa,  tapi sekarang berada di kantor polisi. Sementara Ma Rin hanya bisa tertunduk diam, Polisi mengenal Ma Rin sebagai Bap Son yang cukup terkenal.
“Kenapa kau melakukan hal semacam ini?” tanya polisi, Ma Rin mengaku tidak percaya terlibat dengan tindak pidana begini.
“Aku menanyaimu sebagai saksi,  jadi kau bisa rileks dan menjawab pertanyaan  dengan benar. Foto-fotonya dicetak dalam berbagai ukuran dan ada tulisannya juga. Apa kau melakukannya sendiri, Song Ma Rin?” tanya Polisi, Ma Rin merasa sangat malu  dan tidak ingin mengatakan apa pun.
“Kau harus menjawab pertanyaanku Apa Kau melakukannya sendiri?” tanya polisi
“Konsep foto-foto itu sama. Kalau aku tidak memenuhi konsep yang diinginkan klien, maka aku tidak akan bisa bertahan hidup. Aku tidak tahu apa pun soal pelanggaran hak cipta itu.” Akui Ma Rin 

Polisi pun menyimpulkan kalau  Ma Rin memang melakukannya.  Ki Doong datang memberikan kartu nama mewakili saksi Yoo So Joon dengan memberitahu kalau ia adalah CEO dari perusahaan mereka serta pengacarnya.
“Kenapa  seorang pria dengan jabatan tinggi  mau jadi model mereka? Ini Aneh sekali.” Komentar polisi, Ki Doong mengaku juga tak tahu apapun. Dan meminta agar bicara dengan pengacara saja
Ki Doong pun menunggu akan berbicara dengan polisi. Sementara polisi mengambil kamera Ma Rin karena akan menyita kartu memori sebagai bukti. Tiba-tiba beberapa gerombolan orang masuk ke kantor polisi, Ma Rin langsung panik menutupi wajahanya melihat ada reporter yang datang.
Ia merasa kalau bukan masalah besar tapi kenapa reporter datang, Polisi mengaku kalau Masih ada yang harus ditanyakan. Ma Rin panik bergegas pergi ke kamar mandi dulu. Tanpa sengaja menabrak Ki Doong dan membuat kameranya terjatuh. Ki Doong pun membantunya.
“Aku akan senang kalau kau tidak mengatakan padanya bahwa kau melihat Bap Soon. Dan Bosmu, Yoo So Joon. Jangan katakan padanya kau melihatku di sini.  Tolong lakukan untukku. Ini rahasia penting negara!” bisik Ma Rin. Ki Doong dibuat binggung dengan Ma Rin yang tiba-tiba pergi begitu saja.

Doo Sik membuka pintu rumahnya tapi tak melihat ada orang didepan, saat itu tiba-tiba So Joon sudah bersembunyi memperlihatkan wajahnya. Doo Sik panik karena tidak pernah bilang menginginkan datang dengan menahan pintu agar So Joon tak masuk ke dalam rumahnya.
“Kita kan cukup akrab untuk saling melihat tempat tinggal masing-masing.” Ucap So Joon ingin bergegas masuk, Do Sik menyuruh So Joon pergi saja.
“Kau ini tidak punya sopan santun sama sekali?” keluh So Joon, Do Sik akhirnya keluar rumah ingin tahu apa lagi yang dinginkan So Joon sekarang.

Keduanya akhirnya duduk dibagian sampah kardus, Do Sik pun mengetahui ceritanya mengaku Sebelumnya, tidak berpikir kalau mereka berdua  memiliki takdir yang tidak wajar dan sama-sama selamat dari kecelakaan yang sama. So Joon merasa dirinya di masa depan kelihatannya tahu sesuatu,  tapi coba menyembunyikannya yang membuatnya sakit kepala.
“Apa Kepalamu sakit?Aku juga terlalu sering menjelajah waktu menggunakan subway. Aku jadi mulai bingung sedang berada di masa lalu, masa kini,  atau masa depan. Apa Aku yang saat ini atau diriku di masa depan merupakan kepribadian sebenarnya?” ungkap Do Sik
“Aku kebingungan sampai kepalaku mulai sakit. Aku sakit kepala, jadi minum obat tapi perutku juga mulai kurang baik. Kemudian, aku pun mengonsumsi obat sakit perut. Konsumsi obat-obatan yang terlalu banyak membuat ginjalku mulai bereaksi. Jadi, aku pun mengonsumsi obat ginjal juga. Akhirnya ketergantungan banyak obat. Saat bicara, nafasku...” ucap Do Sik mengeluarkan nafas dari mulutnya. 

So Joon mengeluh Baunya sangat tidak enak. Do Sik pun mengaku kalau memang belum gosok gigi dan merasa kalau hidup mereka itu  sangat berat. So Joon menyuruh Do Sik mencari teman daripada hanya mengobrol dengannya saja. Do Sik menegaskan dirinya sedang membahas mengenai  kebenaran, So Joon binggung bertanya kebenaran apa yang dimaksud
“Aku sekarang bahkan tidak bisa mengatur segala sesuatu... Bagaimana bisa kita... Itulah maksudku!”kata Do Sik
“ Kau juga tidak tahu apa-apa, paman” keluh So Joon
“Aku bilang tidak tahu,  tapi aku bisa memprediksinya.Pandangan yang luar biasa.Pemikiran yang tepat.Memiliki anak. ” Kata Do Sik 
So Joon kaget mendengarnya,   Do Sik mengulang cerita kalau Dua orang yang terhindar dari kecelakaan yang sama, meninggal bersama 10 tahun kemudian di hari dan waktu bersamaan dan mengartikan Bagaimanapun, mereka ditakdirkan meninggal,  jadi kematian terus mengejar keduanya. So Joon terdiam mendengarnya.
“Kau juga tahu. Kita pergi menjelajah waktu. Apa hal yang tidak dapat kita ubah? Yaitu Kelahiran dan kematian dan Hanya aku yang bisa berpikir sedalam ini.” Ucap Do Sik bangga
“Apa Kau senang?  Apa Itu menyenangkan buatmu?” kata So Joon sinis,  Do Sik melihat eksperesi So Joon seperti yakin. So Joon tak peduli memilih untuk pergi saja.
“Aku pernah melihat seseorang yang menghindari  takdir dan kematiannya. Dia gadis yang sangat cantik dan semestinya meninggal dalam kecelakaan mobil. Aku ingin membantunya, jadi aku berusaha melakukan segalanya. Kami memiliki banyak kesamaan. Jadi, aku menyuruhnya berkencan. Aku mengenalkan dia pada seorang lelaki, ini di luar rencana. Mereka berdua saling jatuh cinta dan terus bersama sepanjang hari. Kemudian, mereka memiliki anak. Kehidupan yang tidak terprediksi.” Cerita Do Sik, So Joon ingin tahu kelanjutanya.
“Ya, mereka hidup dengan sangat baik Kemudian lahir anak kedua dan ketiga.” Cerita Do Sik yang terdengar membual.

So Joon merasa itu hanya sebuah Kebohongan kalau Do Sik yang menyelamatkan seseorang, karena tahu teman itu seorang pemalas. Do Sik mengaku kalau itu adalah anaknya, So Joon kaget mendengarnya.  Do Sik menegaskan kalau itu sebuah kehidupan yang tidak terprediksi.
“Itulah cara untuk mengubah takdir kematian.  Begitulah teoriku.” Ucap Do Sik, So Joon tak percaya ternyata Do Sik punya sebuah keluarga.
“Jadi, maksudmu adalah... Kalau ingin tetap hidup, apa aku harus menikahi Song Ma Rin  dan punya anak?” kata So Joon
“Tepatnya, anak-anak. Dengan begitu, takdirmu akan sepenuhnya berubah.” Jelas Do Sik
“Paman... Kau tidak boleh bicara sembarangan begitu hanya karena tidak menyangkut kehidupanmu.” Keluh So Joon

Do Sik menegaskan kalau memikirkannya dengan serius, So Joon tak peduli ingin pergi saja. Do Sik berteriak kalau memang seperti itu So Joon  mestinya membiarkan saja Ma Rin mati tapi malah menyelamatkannya, menurutnya So Joon ada rasa terhadap Ma Rin, So Joon memilih pergi saja. Do Sik memberitahu kalau hujan turun dan berteriak agar tak bicara banmal padanya. 

Semua barang bukti diperlihatkan oleh polisi dan wartawan mengambil gambarnya. Sementara Ma Rin didalam kamar mandi membaca artikelnya dari ponselnya [Bap Soon mengaku sebagai korban selamat dari kecelakaan Stasiun Namyeong.] lalu mengatakan sengaja ingin memperbaiki citra setelah 25 tahun berlalu.
“Song Ma Rin, kau seharusnya melupakan soal Bap Soon sekarang. Jalani hidupmu sebagai Song Ma Rin saat ini”tulis Ma Rin pada artikelnya. 
“Song Ma Rin, Apa kau tidak mau keluar? Sudah lewat 30 menit.” Teriak Polisi, 

Ma Rin tak peduli kembali menuliskan komentar pada artikelnya “Dan Juga, kuharap artikel perihal Bap Soon berhenti rilis.”Polisi kembali berteriak  memanggil Ma Rin. Ma Rin pun ikut berteriak kalau punya alasan sehingga tidak bisa keluar sekarang, kalau mengidap iritasi pada tius. Polisi menegaskan kalau Ma Rin masih harus menjalani pemeriksaan. Ma Rin menegaskan kalau akan menggunakan hak untuk tutup mulut dan juga tidak nyaman berbicara di toilet.
Polisi memohon agar Man Rin segera keluar,  Ma Rin kembali menuliskan komentar “Kita semestinya tidak perlu lagi tertarik pada kehidupan Song Ma Rin. Itu yang namanya sopan santun. Artikel tentang Song Ma Rin sebaiknya berhenti dirilis, juga tidak perlu dibaca.” Polisi memperingatakan Ma Ri kalau tidak boleh main-main dengan polisi!
“Aku tidak bisa keluar karena ada reporter!”akui Ma Rin sambil menahan sedih. 

So Joon pulang kerumah, Ki Doong mengejek So Joon si "model" sudah pulang rupanya. So Joon tak ingin temanya banyak bicara karena  sangat lelah. Ki Doong memberitahu kalau  orang-orang menggunjing kalau So Joon itu si berengsek yang menjalankan bisnis lain di belakang.
“Siapa menyebutku berengsek?  Aku ini Presdir!” tegas So Joon tak mau dihina mengambil sekaleng bir.
“Hari ini, aku bertemu Bap Soon di kantor polisi. Dia menyuruhku tidak memberitahumu kalau melihat dia. Bukannya aku ingin ikut campur urusanmu, tapi aku hanya penasaran dengan yang sebenarnya kau lakukan belakangan ini.” Kata Ki Doong, So Joon memberika kaleng birnya pada  Ki Doong dan bergegas pergi.


So Joon akan datang ke kantor polisi tapi langsung berbalik melihat Ma Rin sudah keluar. Nyonya Cha mengeluh kelaua Orang tua lain liburan dengan anak mereka, tapi  malah menjemput anaknya di kantor polisi. Menurutnya Hidup berbeda sekali dengan orang lain.
“Terima kasih!! Setiap kali menonton berita,  aku hanya bisa berharap wajahku tidak muncul di sana.” Tegas Nyonya Cha menyindir. So Ri yang ikut meminta Nyonya Cha agar bisa tenang.
“Coba Lihat So Ri. Dia gadis baik dan manis. Menjalankan akademi piano,  dan manis sekali.” Kata Nyonya Cha memuji, So Ri mengaku kalau menunggak biaya sewa gedung akademi jadi akan segera diusir. Nyonya Cha pun berjalan disamping anaknya.
“Betapa memalukannya kalau sampai orang tahu tentang masalah ini?” keluh Ibu Ma Rin
“Tidak akan ada yang tahu selagi Ibu diam dan tidak bergosip, maka tidak akan ada yang sadar aku ini Bap Soon, juga tidak peduli akan kehidupanku.” Kata Ma Rin lalu bergegas pergi
Nyonya Cha berteriak mau kemana Ma Rin pergi,  So Rin menenangkan Nyonya Cha kalau Ma Rin juga korban jadi jangan terlalu keras padanya, karena sudah mengomelinya sepanjang waktu. Nyonya Cha pun meminta bantuan So Ri sebagai temanya dengan bertanya apakah sudah memiliki pacar. So Ri mengelengkan kepala.
“Lihat... lihat... sudah kuduga. Kencanlah dengan seseorang sana! Bisa-bisa kau menua tanpa punya teman. Bagaimana masa depanmu? kau tidak tahu apa-apa soal dunia.. Malang sekali.” Keluh Nyonya Cha terus mengoceh lalu bergegas pergi. So Ri hanya diam saja. 

Ma Rin berjalan pulang melihat So Joon berusaha untuk mengambikanya. So Joon akhirnya menanyakan keadaan Ma Rin, lalu mengatakan kalau seharusnya memikirkannya kalau direkturnya bilang hanya akan mempekerjakan Ma Rin kalau membawa dirinya sebagai model jadi  sudah mengira itu aneh.
“Aku tidak berpikir sejauh itu Maaf karena membuatmu terlibat. Aku minta maaf. Apa kau sudah puas?” ucap Ma Rin
“Bagaimana kalau kita berkencan? Ayo berkencan. Itu tujuanku datang kemari.” Akui So Joon yang membuat Ma Rin kaget.
“Terima kasih sudah jauh-jauh kemari. Tapi sayangnya, hal itu tidak membuatku goyah.” Tegas Ma Rin menolaknya.
“Jangan terlalu kejam. Sejujurnya, itu  bukan apa-apa.” Kata So Joon
“Yah... Memang bukan apa-apa. Kau datang dan pergi sesuka hatimu. Akhirnya selalu aku yang menanggung malu. Jadi Mana bisa berkencan dengan orang sepertimu? Berapa kalipun kupikirkan,  aku tetap tidak mengerti. Kenapa kau bertingkah begitu aneh padaku? Sebenarnya, apa hubungan antara kita?” kata Ma Rin
“Aku juga tidak tahu dan tidak mengetahui hal itu.Aku juga kebingungan, sampai rasanya kepalaku hendak meledak.Aku hanya ingin meluruskan segalanya denganmu sekarang.Perasaanku juga tidak karuan. ” Tegas So Joon
“Kau bilang padaku "Tidak perlulah berkomunikasi lagi, atau juga saling bertemu Kita akhiri sampai di sini". Aku ingatkan karena kau mungkin lupa. Itu yang kau pikirkan sebelumnya. Hubungan kita tidak terlalu dalam. Apa Kau sungguh tidak berpikir aku pun kebingungan selama ini?” kata Ma Rin lalu masuk ke dalam rumah. So Joon hanya diam saja. 


Ma Rin masuk kamar sambil berbicara kalau dirinya itu tak akan datang saat So Joon menelp atau pergi saat disuruh pergi. Lalu melihat lensa kamera yang pecah.
Sementara So Joon pulang mengemudikan mobilnya teringat ucapan Do Sik “Lalu, kenapa kau tidak coba menemukan dia? Wanita yang kecelakaan dan mati bersama denganmu.” Sebelumnya So Joon melihat Ma Rin yang tertabrak truk dan akhirnya berada dikursi roda dengan So Jin yang mendorongnya.
“Ini adalah takdirmu yang sebenarnya. Kau jatuh sakit dan tidak lama kemudian.. kau meninggal,  membuatku merasa kasihan padamu. Itu sebabnya aku membantumu.” Gumam So Joon yang sengaja membantu Ma Rin agar tak tertabrak. 

So Joon melihat Se Young yang sudah berdiri diluar, Se Young mengaku sangat malu dan meminta So Joon agar masuk saja ke dalam.  So Joon bisa menebak yang ayah Se Young sedang lakukan.
Di dalam restoran, Tuan Shin Sung Gyu sedang berbicara pada pelanggan dengan mempromosikan Rumah ini yang dibangun oleh “Happiness.” Jadi meminta agar mereka memberikan sumbangan. So Joon datang langsung mengajakTuan Shin pergi karena Se Young menunggu.
Tuan Shin dengan bangga memberitahu kalau So Joon adalah donatur terbesar di Happiness. So Joon dengan cepat menarik Tuan Shin untuk keluar. 

Tuan Shin akhirnya didalam mobil merasa bangga pada So Joon menurutnya kalau Jika orang tua So Joon melihat, pasti sangat bangga padanya dengan mengelus rambutnya. So Joon memberitahu kalau sedang menyetir. Se Young pun meminta ayahnya agar bisa menghentikanya yang terus mengatakan hal yang sama
“Hentikan kebiasaan itu, jangan minum,  ataupun menghubungi kami.” Keluh Se Young
“Ketika masih hidup, mereka bermimpi mendirikan yayasan amal. Putera mereka mewujudkannya.” Ucap Tuan Shin
“Kalau terus dibahas, aku berhenti mengucurkan dana !” kata So Joon mengancam
“Sudah tujuh tahun berlalu. Ingatlah hanya kenangan indah sekarang. Kau harus bersyukur diberi kehidupan.” Ucap Tuan Shin terus mengoceh, Se Young meminta maaf karena ayahnya  sedang mabuk.
“Kecelakaan di Stasiun Namyeong... lupakanlah. Lepaskan saja.” Kata Tuan Shin
“Bagaimana bisa aku melakukanya? Aku tidak bisa merasa damai hanya karena menginginkannya.Sampai mati sekalipun, tetap sama.Aku tidak mau.Jadi, tolong berhenti membicarakannya.”tegas So Joon kesal
Tuan Shin mengerti, Se Young mencairkan suasana dengan mendengarkan musik. 

Ma Rin berbaring di kamarnya mengingat ucapan So Joon “Aku pun tidak tahu. Aku tidak tahu hubungan antara kita. Aku kebingungan sampai kepalaku rasanya akan meledak. Aku hanya ingin  meluruskan segalanya denganmu sekarang. Aku juga tidak merasa nyaman karenanya.”
“Kenapa kepalanya hampir meledak gara-gara aku?” kata Ma Rin binggung
“Aku tidak boleh goyah! Tetap waspada. Aku bukan wanita gampangan.” Tegas Ma Rin menyakinkan dirinya.
Ma Rin pun melihat di etalase lensa kamera memikirkan untuk membeli atau menyewa saja lalu menyakin diri kalau suatu saat nanti pasti akan jadi milikya. Ponselnya tiba-tiba berdering, Ma Rin dengan sinis kalau temanya itu sedang bulan madu. 
“ Apa tidak dengar suara ombaknya? Pasti ini alasan orang-orang terus membicarakan soal Hawai. Di sini Sangatindah sekali.Aku berencana kemari sekali-dua kali setahun.” Ucap Gun Sook yang ada di dalam rumah, Ma Rin pikir pasti menyenangkan bulan madu di sana lalu ingin tahu jam berapa sekarang dihawai
“Aku berusaha menelepon sesuai waktu Korea. Tempat ini sangat bagus, sampai aku teringat akan kau, temanku.” Kata Gun Sook sengaja ingin pamer.
“Gun Sook.... Kau kan sekarang banyak uang,  bisa tidak pinjamkan sedikit padaku?” kata Ma Rin, Gun Sook memilih untuk menutup telpnya.
 Tuan Kim sudah siap akan pergi ke kantor, Gun Sook mengeluh suaminya yang pergi begitu saja padahal sudah berpura-pura sedang bulan madu. Uan Kim pikir semua temanya pasti sudah berpikir sedang bulan madu jadi kenapa harus menelp.
“Tapi itu penipuan namanya! Bagaimana bisa kau membatalkan bulan madu kita  sesaat setelah pesta pernikahan selesai?” kata Gun Sook marah

“Apa Tahu berapa banyak investor yang bisa kutemui dalam satu minggu? Mereka itu sumber uang tersembunyi. Aku sudah bilang, Sekarang ini,  harus menahan diri demi kebaikan kita berdua. Aku sudah cukup sibuk.” Kata Tuan Kim memberikan sekotak hadiah untuk istrinya.
“Lalu, apa kau pikir ini cukup sebagai ganti  "hon-moon" sekali seumur hidup itu?” keluh Gun Sook, Tuan Kim meminta istrinya untuk bicara yang jelas yaitu Honey Moon. Gun Sook pun mengulang kata honey moon berkali-kali
“Bagus... Jangan menyingkat kata seperti anak-anak begitu.  Itua Kedengaran rendahan!” ejek Tuan Kim
Gun Sook pun ingin melihat seberapa berharganya ini saat dibuat sebuah kartu kredit seperti tak percaya. Tuan Kim menyindir kalau Gun Sook pasti senang, menyuruh agar mengunakan untuk apa saja dan sekarang menjadi  pemilik rumah ini. Gun Sook masih tak percaya kalau kartu itu sebagia pengganti Hawai
“Kau akan sangat kecewa kalau hanya itu ganti dari Hawai. benarkan, Lee Gun Sook? Kau sudah menikah denganku. Aku akan membuat orang-orang memanggilmu "Isteri Presdir." Semoga harimu menyenangkan. Sampai jumpa.” Kata Tuan Kim keluar dari rumah, Gun Sook melonggo tak percaya dirinya akan di panggil "Isteri Presdir”
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar