Minggu, 19 Februari 2017

Sinopsis Tomorrow With You.Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Ma Rin keluar dari kamar dengan wajah bahagia melihat foto pernikahan lalu berjalan ke dapur mengoreng telur dan memasak makanan untuk suaminya. Lalu ia mencari So Joon yang sedang ada di kamar mandi dan langsung membuka pintu.
Dari dalam So Joon terdengar panik, Ma Rin pun berpura-pura terkejut melihat suaminya yang sedang mandi. So Joon berteriak menyuruh Ma Rin Berhenti pura-pura terkejut dan menutup pintunya. Ma Rin mengerti masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya.
“Aku menyuruhmu menutup pintunya.” Teriak So Joon, Ma Rin pikir sudah menutupnya.
“Lalu Kenapa kau malah masuk?” kata So Joon terdengar kesal, Ma Rin baru mengerti kalau So Joon menyuruhnya keluar dari kamar mandi. 

So Joon dengan jubah handuknya keluar dengan wajah panik menurutnya memalukan sekali di pagi hari seperti ini. Ma Rin pikir kalau So Joon menyuruhnya menutup pintu agar ia masuk  ke dalam. So Joon merasa kalau Ma Rin itu seperti ahjumma setelah menikah.
“Aku hanya mengira tadi itu "sinyal".” Ungkap Ma Rin, So Joon sempat binggung akhirnya mulai mendekat.
“Apa kau yang mengirimiku "sinyal" sekarang?” kata So Joon mendekati Ma Rin dengan mengodanya. Ma Rin pura-pura tak mengerti.
“Aku akan gunakan kamar mandi lantai atas, kau pakailah yang dibawah” ucap So Joon lalu bergegas pergi. Ma Rin berteriak agar So Joon membasuh badanya dengan benar dan akan membuatkan makanan lezat.

Ma Rin dan So Joon duduk dimeja makan, Ma Rin pun menyuruh So Joon menikmati makanan buatanya. So Joon mencoba sayur bayam lebih dulu, wajahnya seperti merasakan sesuatu. Ma Rin berpikir kalau rasanya enak dan dengan rendah hati merasa kalau So Joon tak perlu berreaksi berlebihan karena tidak berusaha keras dan tidak perlu seemosional itu.
“Menurutku, rasanya parah.” Ungkap So Joon jujur, Ma Rin mencoba makanannya dan merasa kalau itu Baik-baik saja
“Tidak, jangan dimakan, ini tidak enak. Kau bisa sakit.” Ucap So Joon menjauhkan piring sayuran
“Aku pikir ini, Tidak mungkin seburuk itu. Padahal Aku pergi belanja pagi-pagi. Kurasa, kau hanya tidak suka saja. Lebih baik Jangan dimakan. Ini sampah.” Kata Ma Rin sedih menjauhkan semua makananya. So Joon merasa tak enak hati mengungkap kalau bukan bermaksud seperti itu.
“Aku tidak menyangka kau sangat pilih-pilih makanan. Kalau memang tidak enak, katakan saja. Kenapa kau memperlakukan makanan seperti sampah?” kata Ma Rin kesa
So Joon pikir Ma Rin sendiri yang mengatakan "sampah". Ma Rin sadar kalau pagi ini adalah hari pertama mereka setelah bulan madu selesai dan menganggapnya spesial, tapi malah ia sendiri yang mengacaukannya. So Joon menghela nafas seperti merasa serba salah. Ma Rin melihat So Joon yang menghela nafas makin kecewa.
“Apakah terjadi hal buruk yang tidak kuketahui?” tanya So Joon, Ma Rin mengelengkan kepala.
“Ekspektasiku mungkin terlalu tinggi.” Kata Ma Rin dengan wajah sedih, So Joon piki ini  bisa jadi masalah menurutnya Gadis naif memang rumit.
“Hei... aku tadi hanya bercanda.... Masakan ini Ini lezat, Siapa bilang tidak enak? Apa Kau sedang berpura-pura naif?Hentikan. Itu Tidak cocok untukmu” kata So Joon dengan wajah berbinar-binar makan sayur bayam
“Lupakan. Aku mengerti perasaanmu.” Kata Ma Rin memalingkan wajahnya.
“Terserah kau percaya padaku atau tidak. Tapi kau tahu, aku tidak menikahimu agar memasak untukku. Kau tidak perlu melakukannya” kata So Joon

Ia mencoba kembali sayur dengan nasi, dengan sumringah memuji Ma Ri memang  bukan wanita biasa menurutnya kalau sudah membuat sarapan maka harus menyiapkan makan siang dan makan malam, menurutnya Setiap kali bangun tidur,  Ma Rin harus selalu menyiapkan makanan. Jadi Hidupnya sia-sia kalau dihabiskan hanya membuat makanan.
“Aku tidak ingin menjadikanmu Bap Soon lagi.” kataSo Joon mulai merasakan dan terlihat rasanya yang juga tak enak. Ma Rin tersenyum sadar kalau dirinya yang terlalu sensitif.
“Kita bisa makan roti saja atau lainnya, atau juga bisa mempekerjakan pembantu rumah tangga Mulai sekarang, hiduplah selayaknya "Bunga", oke?” kata So Joon berusaha untuk menghalangi Ma Rin masak.
“Oh, tidak perlu, Memasak itu menyenangkan untukku dan Itu keahlian dan hobiku juga.” Ungkap Ma Rin
So Joon pun terpaksa memuji kalau makanan yang dibuat Ma Rin itu Pantas saja  rasanya lezat sekali. Ma Rin tersenyum lebar dan So Joon pun meminta agar menambah nasi. Ma Rin dengan senang hati mengambilkanya karena yakin So Joon menyukainya jadi memasak banyak nasi. So Joon hanya bisa melotot kaget. 


So Joon akan pergi berkerja,  mengeluarkan sesuatu dari dompet dan memberikan pada Ma Rin. Ma Rin binggung tiba-tiba So Joon memberikan sebuah kartu kredit. So Joon menyuruh Ma Rin mengunakan dan  akan menjalani kehidupan yang mewah. Ma Rin malah merasa sangat aneh.
“Kau Jangan seperti ini dan terlalu berlebihan sebagai suami.” Ucap Ma Rin seperti tak ingin mengambil manfaat dari suaminya, So Joon tetap menyuruh Ma Rin agar mengunakan saja.
“Hitunglah dulu pengeluaran bulanan,  kemudian berikan uangnya padaku.” Ucap Ma Rin, So Joon tetap menyuruh agar Ma Rin menerima kartu darinya. 
“Nanti, kita pelan-pelan saja. Aku merasa belum siap untuk hal itu.” Kata Ma Rin menolak lalu mengantar So Joon sampai keluar rumah.
So Joon seperti merasa tak enak diantar oleh Ma Rin menyuruhnya masuk saja. Ma Rin dengan mengandeng lengan suaminya, karena ini pertama kalinya So Joon pergi berkerja  setelah menikah jadi ingin mengantarnya seperti pasangan lainya. So Joon merasa kalau iu Keinginan yang aneh lalu pamit pergi menuju ke mobil.
“Sayangggg...  Semoga harimu menyenangkan!!! Suamiku... Pulanglah lebih awal...” teriak Ma Rin lalu memberikan tanda cinta dengan tanganya. So Joon terlihat binggung sempat ingin membalas tapi akhirnya menyruh Ma Rin segara masuk saja. 

So Joon masuk ke dalam rumah memanggil Kang Ki Doong dengan sedikit mengomel karena belum berangkat ke kantor. Ki Doong sedang makan ramyun dengan lahapnya. So Joon mendekat ingin makanya, Ki Doong langsung melarang So Joon untuk mendekat dan bergegas pergi.
“Ini hari pertamamu bekerja sebagai pengantin baru! Apa kau tidak sarapan? Ini tidak benar bagi pria yang sudah menikah mencuri ramyeon dari pria lajang!” ucap Ki Doong berjalan dengan panci ramyun ditanganya.
“Bukannya aku tidak dibuatkan sarapan. Tapi sarapannya sungguh tidak layak makan. Beri aku sedikit saja dan Perutku lapar.” Ucap So Joon, Ki Doong tetap tak mau berbagi. So Joon mengumpat temanya itu pelit.
“Hei... Apa Kau makan ini?” teriak So Joon melihat bungkus ramyun hijau diatas meja. Ki Doong ingat kalau So Joon mengatakan kalau milik So Joon maka miliknya juga.
“Aku membawanya dari dunia lain!!! Kau seharusnya menunggu setahun lagi untuk menikmatinya.” Ucap So Joon, Ki Doong pikir itu pantas saja karena rasanya enak dan bertanya apakah itu akan menjadi hits ditahun 2017

“Di masa depan,  produk ini akan jadi sejarah dalam industri ramyeon. Kau harus merasa bangga bisa memakannya sekarang.” Ucap So Joon lalu berbaring diatas tempat tidur.
So Joon mengatakan kalau akan bolos kerja saja hari ini jadi Ki Doong yang akan mengantikanya. Ki Doong pikir  seseorang mestinya lebih bertanggung-jawab dan memiliki beban setelah menikah. So Joon pikir Tidak semuany karena Kalau perusahaan bangkrut,  maka hanya perlu pasang lotere saja. Ki Doong pikir Ma Rin perlu tahu temanya itu punya dua rumah.
“Kau mungkin tidak tahu. Seseorang tidak mungkin berubah dalam semalam hanya karena mereka menikah. Butuh waktu menyendiri...” ungkap So Joon merasa hidupnya berubah setelah menikah.
“Katakan saja kesimpulannya.  Bagaimana rasanya menikah?” tanya Ki Doong
“Rasanya Aneh... Kau coba sendiri kalau penasaran.” Ucap So Joon
“Apa Kau gila ? Aku tidak mau dipanggil “Ahjussi”!!! ejek Ki Doong lalu masuk kamar mandi
So Joon kesal jadi dianggap dirinya sudah pantas di panggil Ahjussi,  lalu melihta ponslenya berpikir harus mendaftakan Ma Rin di les masak karena tak mungkin  harus memakan masakannya seumur hidup, menurutnya istrinya itu yang tidak memiliki selera.


Gun Sook dan suaminya sarapan bersama, Yong Jin melihat Dari sudut pandangnya dibanding Presdir Yoo So Joon menikah dengan  puteri dari keluarga berpengaruh, lebih baik dengan gadis tanpa memiliki apapun dan Jauh lebih baik bersama Bap Soon yang tidak memiliki kelebihan apa-apa.
“Itu kan menurutmu! Kau hanya memikirkan diri sendiri.” Ungkap Gun Sook kesal karena merasa dikalahkan oleh Ma Rin yang punya status suaminya diatas dirinya.
“Kau harus tetap berteman dengan Bap Soon. Kenapa kalian tidak jalan bersama saja dan kau cari informasi darinya soal Presdir Yoo?” perintah Yong Jin

“Kalau menyuruh aku mencari tahu apa? Keluarganya? Koneksinya? Karyawan yang loyal padanya?” tanya Gun Sook kesal
“Sejujurnya, aku penasaran soal itu. Dia begitu misterius,bahkan Sangat misterius.” Uca Yong Jin, Gun Sook heran kenapa harus mengetahui hal itu.
“Hei.... kalau suamimu sedang bicara, tidak bisakah kau... Tidak bisakah kau memanfaatkan kesempatan ini untuk jadi isteri yang berguna?” keluh Yong Jin
“Jadi Kau anggap aku ini apa? Aku ini Lee Gun Sook. Apa Kau mengharapkan si hebat Lee Gun Sook menjadi isteri penjilat? Apa Kau ingin aku mendekati Bap Soon dan mengemis padanya?” ucap Gun Sook marah 


Yong Jin bisa mengerti keputusan istrinya dan akan bersiap pergi. Gun Sook mengikuti suaminya mengungkapkan kalau Belakangan ini, sudah cukup menahan amarahnya Jadi, jangan menyuruh mendekati Bap Soon atau menganggap menjadi isteri yang berguna dan Jangan mengungkitnya lagi. Yong Jin seperti seorang pelayan meminta maaf pada Nyonya Lee.
“Saya tidak dapat menyenangkan Anda, Nyonya.Aku benar-benar minta maafdan akan kublokir kartunya.” Kata Yong Jin, Gun Sook berteriak panik mendengarnya.
“Kalau kau menganggap kata-kataku sebagai lelucon, maka uangku pun jadi lelucon. Jadi, jangan memakainya.” Ucap Yong Jin, Gun Sook mengejak Suaminya itu pelit.

“kau bilang aku pelit?!!! Hei, hidup memang harus pelit. Apa kau tidak tahu? Tapi, aku sudah berusaha memanjakanmu. Tanpa kau sadar aku terus diperlakukan seperti sampah! Aku memenuhi apa pun maumu!” kata Yong Jin marah
“Kau membeli Peralatan dapur dari Jerman. Lampu yang bukan seleraku sama sekali, dan banyak lagi! Lalu, apa kau masih iri pada orang lain? Aku akan memblokir kartunya hari ini.” Ucap Yong Jin dan bergegas pergi.
Gun Sook berteriak marah, Yong  Jin tiba-tiba datang dengan nada tinggi meminta agar Gun Sook Jangan teriak-teriak sepagi ini dan mengawali pagi dengan tenang. Gun Sook sempat kaget melihat sikap suaminya jadi berubah. 

Ma Rin pergi untuk mengambil berkas Pendaftaran pernikahan, dengan bahagia akan mengisi ini bersama So Joon petang nanti. Ketika akan pergi seorang bibi yang sedang menulis memanggil Ma Rin dengan panggilan “Nona” memberitahu kalau ponselnya tertinggal.
Ma Rin seperti tak sadar lalu bergegas kembali mengangkat ponselnya yang berdering, So Ri menanyakan keberadaan temanya. Ma Rin dengan malu-malu memberitahu sedang ada di kantor pemerintah dan ingin mendaftarkan pernikahan. SO Ri seperti mengajak Ma Rin pergi, Ma Rin pun setuju dan  pergi sekarang lalu menutup telpnya.
“Permisi.. Tadi... kau memanggilku "Nona". Aku tidak sadar kalau memanggilku,  tapi sudah menikah.” Kata Ma Rin dengan wajah bahagia memperlihatkan cincin di jari manisnya. 

Ma Rin berjalan disamping So Ri dengan wajah kesal karena mereka sudah sepakat menyingkirkan Gun Sook dari kehidupan keduanya. So Ri menceritakan Gun Sook yang datang ke tempat les piano dan meminta tolong agar membantu bertemu dengan Ma Rin dan Hatinya jadi ini lemah sekali.
“Wanita tidak tahu malu itu!” umpat Ma Rin kesal
“Aku sudah meminta maaf, Aku saja sudah melupakan tapi Kau pendendam sekali.  Aapa kau sedang pamer kekuasaanmu? “ kata Gun Sook yang berjalan didepanya lalu mengajak masuk ke salah satu toko. Ma Rin langsung berbalik arah. 
“Kau harus menahan saja sebentar. Dia sedang mencoba berdamai denganmu.” Ucap So Ri menenangkan temanya
“Jangan coba membuatku berhati lemah sepertimu.” Tegas Ma Rin, So Ri pikir tak ada lagi yang bisa dilakukan, Akhirnya Ma Rin mengikuti temanya. 

Gun Sook menunjuk beberapa baju pria yang digantung, dengan meminta ukuran mengingat kembali perintah suaminya agar bisa mencari informasi soal Presdir Yoo. Ma Rim melihat beberapa pakaian pria merasa bingung dengan pakaian pria karena tidak berselera melihatnya. Gun Sook pun mulai mendekat
“Apa Kau tidak memilih apa pun?” tanya Gun Sook
“Aku merasa kelewat batas kalau memilihkan pakaian untuknya.” Pikir Ma Rin
“Kau sungguh tidak mengerti apapun. Itu bukan melewati batas, tapi peduli padanya.  Bukankah kau ingin mendengar komentar  dari orang-orang? Seperti "Kau kelihatan jauh lebih baik setelah menikah". Kau tidak tahu cara jadi isteri yang berguna.” Komentar Gun Sook sengaja mengejek temanya, Ma Rin terlihat tak mengerti maksud Isteri yang berguna
“Ya, isteri yang berguna, Kau perlu melakukannya dengan sebuah ambisi juga.” Kata Gun Sook mengejek

“Kita pindah ke tempat lain... Apa kalian akan terus bersikap seperti ini? Kalau kita turun ke lantai satu, banyak pakaian untuk kita. Bagaimana sebenarnya hidup kalian?” ucap So Ri yang juga tak tertarik dengan pakaian wanita.
“Kau tidak akan mengerti seberapa menyenangkannya pernikahan sampai mengalaminya sendiri.” Komentar Gun Sook lalu memperlihatkan sebuah kaos.
Ia bertanya komentar Ma Rin merasa itu cocok dengan suaminya dan ingin tahu ukuranya. Ma Rin  pikir teridiam merasa Tubuh suaminyanya itu ideal  yaitu Tubuh yang membuat pria lain merasa minder. Gun Sook mulai mengejek kalau Ma Rin itu tak tahu ukuran baju suaminya.
Ma Rin beralasan Tidak menyenangkan kalau tahu segalanya dan berpikir bisa menanyakan dengan mengeluarkan ponsel untuk menelp So Joon, tapi Ponsel So Joon sedang tak aktif dan berpikir kalau suaminya itu sedang sibuk. 

So Joon sedang pergi ke masa depan, pemilik toko memberitahu alau itu pakaian musim dingin 2017 keluaran terbaru, Soo Joon pun mulai memilih merasa harus mengenakan koleksi terbaru.
Gun Sook mencari baju lainya merasa pasangan Ma Rin itu  terlalu bebas dalam segala hal Sampai saat ini bahkan tidak terlalu tahu satu sama lain.So Joon memilih pakaian musim dingin dengan melihat dirinya diatas cermin. 

Ketiganya pindah ke toko sepatu pria, Gun Sook tak percaya Ma Rin yang  tidak tahu ukuran sepatu suaminya. Ma Rin menyuruh Gun Sook saja yang membeli keperluanya. Gun Sook tak yakin kalau mereka dekat dan tidak saling tahu apapun. Ma Rin pikir kalau mereka hanya dianggap dekat kalau saling tahu ukuran masing-masing dan menegaskan kalau hubungan mereka itu bukan sebatas kontak fisik seperti Gun Sook.
“Kurasa, aku tahu orang seperti apa dirinya. Sekalipun dia tidak mengatakan apa-apa,  aku bisa mengerti maksudnya. Seolah kami adalah satu. Bukankah itu yang terpenting?” ucap Ma Rin dengan So Joon yang sibuk memilih majalah dan koran di masa depan. 

“Tetap saja, harus ada hal-hal yang kau ketahui. Latar belakangnya,  bagaimana dia dibesarkan. Belakangan ini, ada banyak sekali orang yang aneh.” Kata Gun Sook berjalan keluar dari mall.
“Kami tidak saling menyimpan rahasia,  dan juga Kami memang baru menikah, tapi aku sangat percaya padanya, itu sebabnya aku ingin bersama dia selamanya.” Ungkap Ma Rin yakin
“Apa Kau sering bertemu rekan kerja atau teman-teman suamimu?” tanya Gun Sook
Ma Rin pikir itu tak harus karena mereka punya kehidupan pribadi masing-masing. Ma Rin tak percaya mendengarnya karena dirinya juga menikah dalam waktu singkat dengan Yong Jin tapi  tidak seburuk pernikahan temanya itu.
“Kau bilang Kehidupan pribadi? Kehidupan pribadi haruslah tetap dibagi! Bagaimanapun juga, kehidupanmu tidak normal. Benar, kan?”ucap Gun Sook meminta persetujuan So Ri.
“Yah.. Memang agak sedikit aneh.” Ungkap So Ri, Ma Rin langsung cemberut mendengarnya dan berjalan pergi. 

Ma Rin pergi sendiri ke supemarket lalu melihat sepasang pria dan wanita saling bergandengan tangan berbelanja bersama, seperti pasangan yang baru menikah. Sang istri mengaku kalau tidak menyukai satupun temannya. Sang suamipun mengatakan kalau teman-temanya juga tak menyukai istrinya.  Sang istri malah bersyukur mendengarnya.
“Berapa banyak telur yang masih di rumah?” tanya sang istri, Suaminya mengatakan hanya dua saja.  Mereka pun bergegas membeli telur.
Ma Rin seperti iri melihat keduanya mencoba mengikutinya, tapi ketika keduanya menatap pura-pura menatap ke arah lain.  So Joon akhirnya kembali menelp Ma Rin berpikir terjadi sesuatu karena sudah menelpnya sebanyak 22 kali. Ma Rin menceritakan kalau tadi ingin membelikan paaian tapi tak tahu ukurannya.
“Kenapa membelikan aku pakaian?” ucap So Joon merasa tak biasa ada orang yang membelikan pakaianya. Ma Rin menghentikan pembicaraan sebentar.
“Tolong beri aku daging babi untuk sup rumput laut.” Kata Ma Rin pada pegawai daging. Si paman binggung karena  Seharusnya daging sapi kalau untuk sup rumput laut.
So Joon mendengarnya bertanya apakah Ma Rin sedang belanja. Ma Rin membenarkan dengan bangga kalau akan membuat makan malam. So Joon panik mengaku kalau ingin makan diluar hari ini jadi meminta agar cepat datang dan Jangan beli apa pun. Ma Rin berpikir kalau mereka akan berkencan lalu bergegas pergi tak jadi membeli daging. 


Gun Sook memberitahu suaminya saat pulang kalau Ma Rin tidak tahu banyak bahkan tidak tahu apa-apa soal suaminya. Yong Jin pikir itu tak masuk akal dengan membaringkan tubuhnya diatas kasur karena sangat lelah menurutnya Ma Rin itu tahu, tapi pura-pura tidak tahu.
“Apa Kau merasa dia bisa berpura-pura begitu? Dia suka omong besar” kata Gun Sook dengan nada sinis
“Lee Gun Sook, apa kau pikir semua orang sama sepertimu? Tidak semua dari mereka senaif itu.” Ungkap Yong Jin
Gun Sook tak percaya suaminya mengangggap dirinya naif, lalu perlahan bertanya apakah suaminya tetap akan memblokir kartunya. Yong Jin pikir mereka akan melihat nanti dan istrinya itu harus membuktikan bisa berguna dan memerintahkan agar Tetap berhubungan baik dengan Bap Soon serta Jangan bikin masalah. Yong Jin binggung keduanya itu seperti anjing dan kucing, Gun Sook mengaku kalau sulit menjelaskanya mengenai hal itu. 

Ma Rin sedang makan di restoran daging pangang menceritakan akalu Gun Sook melakukan kesalahan padanya jadi membalas dengan agak kejam lalu Gun Sook kembali menjahatinya dan Seperti itu terus sampai sekarang. Ia pikir So Joon daerah asalnya. So Joon mengelengkan kepala.
“Tetap saja, kau sudah berusaha memperbaikinya. Bagaimanapun juga, dia temanmu.” Kata So Joon
“Tapi, bertemu Gun Sook hari ini  membuatku kasihan padamu.” Ungkap Ma Rin, So Joon binggung menanyakan alasanya.
“Kau hanya seorang suami buatku,  tapi Presdir bagi orang lain. Aku bertanya-tanya apakah aku kurang dalam segala hal? Jujurlah padaku. Apa kau akan menyukaiku jika aku mirip seperti Gun Sook yang ambisius dan banyak tingkah?”ucap Ma Rin
“Aku Presdir yang hanya main-main sepanjang hari dan menghabiskan uang.  Apa yang aku butuhkan? Jangan seperti dia! Itu Menjengkelkan!” ungkap So Joon

“Apa Kau main-main sepanjang hari dan menghabiskan uang Apa Kau tidak bekerja keras dan berhemat Dalam segala hal?” kata Ma Rin tak percaya
“Ki Doong yang mengerjakan semuanya. Aku hanya main-main. Dalam segala hal.” Ucap So Joon
“Tidak mungkin... Pertarungan kekuasaan, konspirasi, pengkhianatan, ambisi, segala sesuatu semacam itu  Apa Tidak ada sama sekali?” ucap Ma Rin heran
So Joon mengatakan Tidak ada satupun.  Ma Rin pikir kalau So Joon itu hanya bergurau karena sebenarnya pasti bekerja keras. So Joon akhirnya mengakunya agar tak timbul kecurigaan dan mengucapkan terima kasih sudah menyadarinya.

Ma Rin pikir suatu hari nanti memperkenalkan pada temanya,  karena sebelumnya hanya Ki Doong dan Se Young tapi  ingin dikenalakan pada semua temanya. So Joon mengerti dan menyuruh Ma Rin agar makan dan harus tahu cara mengolah daging babi dengan benar. Ma Rin binggung mendengarnya. 
Saat itu seorang pelayan membawa bara api dan tak sengaja jatuh dan hampir mengenai Ma Rin, So Joon langsung berdiri memarahinya karena hampir membuat cedera orang dan meminta agar berhati-hati  membawa benda berbahaya.
Ma Rin terdiam melihat So Joon yang marah tapi wajahnya bisa tersenyum karena itu artinya suaminya sangat melindunginya. Si pelayan meminta maaf dan membawa bara api. So Joon duduk disamping Ma Rin menanyakan keadaanya, Ma Rin mengaku hanya sedikit menakutkan. So Joon mengaku kalau jantungnya bergedup kencang dengan memastikan Ma Rin tak terluka. 

Mereka berdua pergi ke kasir, Ma Rin mengeluarkan kartunya untuk membayarnya, So Joon pikir dirinya yang akan membayar. Ma Rin menolak karena harganya tak mahal. So Joon pun hanya bisa mengucapkan terimakasih tapi merasa kalau seharusnya mengunakan kartunya saja.
“Bukankah kau terlalu memisahkan milikmu dengan milikku?” kata So Joon keluar dari restoran
“ Rasanya aneh dan Aku akan mulai bekerja lagi. Jika aku mulai menganggap milikmu adalah milikku, maka aku takut akan hilang kendali. Sampai aku kembali bekerja, semua milik masing-masing saja, oke?” ucap Ma Rin dengan bangga kalau dirinya keren
“Kurasa bukan keren tapi Kau hanya keras kepala.” Kata So Joon dan Ma Rin berjalan sambil mengandeng lengan suaminya.
“Kau sangat terkejut di restoran tadi dan juga sangat marah” ucap Ma Rin dengan nada bahagia, So Joon mengelak, Ma Rin bisa mendengar So Joon yang meninggikan suaranya jadi itu tandanya marah.


“Itu Seolah kau pelindungku saja.” Ungkap Ma Rin tersipu malu, So Joon beralasan kalau tapi hanya reflek saja.
“Jadi Bukan instingmu yang ingin melindungiku? Aku rasa, pasti darah mendidih seorang pria sedang mengalir di dalam sana.” Komentar Ma Rin sambil mencuci bau tubuh So Joon seperti seorang pria dewasa.
“Kau selalu menyimpulkan sesuka hatimu. Song Ma Rin-ku.” Keluh So Joon, Ma Rin pikir merasa tahu kalau So Joon itu menyukainya.
“Apa kau mau beli buah di sana?” kata Ma Rin menunjuk penjual buah, So Joon mengatakan kalau mereka sudah punya di rumah.
“Ini Luar biasa. Aku mengajak beli buah, dan kau bilang kita punya di rumah.Kita terasa seperti benar-benar menikah, 'kan?” ungkap Ma Rin dan kembali mencium bau badan suaminya dari baju yang dipakai So Joon.  So Joon mengatakan kalau ini bau daging panggang dan berjalan untuk membeli buah. 

So Joon mengupas kulit apel, Ma Rin memberikan tantangan kalau sampai kulitnya terputus ditengah maka So Joon harus mengabulkan keinginannya.  So Joon bertanya apa keinginannya. Ma Rin ingin nama di ponsel So Joon menyimpan dengan nama "Bunga". So Joon menegaskan akan mengupas tanpa terputus.
“Aku ingin begitu... Suamiku...” ucap Ma Rin dengan membaringkan kepala di kursi. So Joon mengeluh Ma Rin yang mudah sekali memanggil seperti itu.
“Ibu dan ayahku menikah karena Ibu mengandung aku.” Cerita Ma Rin, So Joon sudah menduganya dan Ma Rin lahir saat ibunya berusia 20 tahun.
“Dua orang yang masih terlalu muda menikah karena aku. Ayahku kabur saat aku kelas 2 SD. Jadi, aku bahkan tidak ingat wajahnya. Bagaimanapun juga mereka tetaplah Ayah dan Ibu buatku.” Cerita Ma Rin, So Joon terdiam mendengar cerita Ma Rin dan bertanya apa maksud dari ceritanya.
“Dalam ingatanku...mereka pria dan wanita yang saling mencintai. Suami dan isteri yang berbahagia. Namun, sebenarnya tidak seperti itu, Mereka hidup bersama hanya karena aku. Aku menyadarinya meski masih sangat muda saat itu. Saat mereka bertengkar, aku bertanya-tanya apakah itu karena aku. Saat Ibuku menangis sendirian, apakah juga karena aku? Ketika makan bersama dalam situasi yang kaku,  apakah karena aku juga? Apakah semuanya karena aku?” cerita Ma Rin merasa bersalah.
“Kurasa, kau hanya berpikir terlalu jauh saat itu. Mereka pasti memiliki dan membesarkanmu karena cinta.” Kata  So Joon menenangkanya.
Ma Rin bertanya apakah menurut So Joon dirinya sebagai wanita. So Joon mengangguk. Ma Rin meminta agar So Joon Berjanjilah bahwa akan tetap  menganggapnya sebagai wanita selamanya. So Joon menganguk kembali. Ma Rin pikir So Joon harus tahu seberapa keras usahanya agar mereka bisa hidup bersama dengan rukun, 


“Sebelum kita menikah, aku bahkan ikut kelas pra-pernikahan.”cerita Ma Rin, So Joon yakin kalau Ma Rin hanya berbohong, Ma Rin menyakinkan dengan mengeluarkan buku dan membaca bagian yang  meninggalkan kesan mendalam.
“Jangan meributkan yang pasanganmu lakukan, namun tunjukkan perasaanmu. Daripada mengatakan, "Kenapa pulang telat?" Katakan, "Aku mencemaskanmu. Karena kau tidak memberitahu akan pulang terlambat".” Kata Ma Rin membacanya, So Joon mengeluh mendengar kalimat seperti itu.
“Itu tidak menarik dan Tidak bagus.” Ucap Soo Joon, Ma Rin melihat So Joon menaruh apelny dan memperingatakan kalau Meletakkan apelnya berarti melanggar aturan. So Joon kembali mengambilnya
“Ini yang kedua... Sebelum mengomentari, pahami dulu pasanganmu. Ini satu dari empat hal yang harus kau ingat  dalam berkomunikasi. Pasanganmu...” ucap Ma Rin dan So Joon tiba-tiba langsung mencium Ma Rin.
Ia mengajak Ma Rin agar segara masuk ke kamar, Ma Rin kaget karena So Joon tiba-tiba bersikap seperti mengodanya padahal sedang membaca. So Joon pikir sejak kapan Ma Rin mempelajari kehidupan dari membaca buku. Ma Rin pun meminta agar So Joon bisa mengodanya, So Joon mengigit bibir untuk mempersiapkan diri tapi akhirnya berpikir Sudah cukup dan bergegas masuk ke kamar,  Ma Rin pun mengikutinya. 

Keduanya sudah berbaring diatas ranjang dengan saling menatap. Ma Rin mendengar dari perkataan orang-orang bahwa  pernikahan itu membuat gila dan jalan menuju pemakaman. Ia merasa heran Kenapa mereka mengatakan hal mengerikan seperti itu.
“Kenapa tidak seorangpun yang mengatakan menyenangkan? Mereka ingin kesenangan itu untuk diri sendiri. Tapi.. Aku bahagia.” Ungkap Ma Rin, So Joon juga mengakuinya lalu merasa kalau tanganya mati rasa.
Akhirnya Ma Rin bergantian memberikan lenganya untuk suaminya, So Joon mengaku sangat nyaman sekali. Ma Rin pikir akan melakukan selamanya. Menjadi bantalan tangan. So Joon merayu kalau melihat Ma Rin dari dekat  seperti wanita paling cantik di dunia ini.
“Bagaimana kalau dari jauh?” tanya Ma Rin, So Joon mengodanya dengan menjawab Ma Rin seperti Bap Soon

Doo Sik duduk didepan komputernya seperti setengah mabuk membaca artikel Yong Jin[Metode Besar dalam "Investasi Real Estate Menguntungkan"]
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar