Sabtu, 25 Februari 2017

Sinopsis Missing Nine Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Jaksa Yoon mengatakan harus mengungkap kebenaran di balik kematian So Hee dengan cara. membunuh orang yang menangkap Shin Jae Hyun. Serta tuduhan palsu  terhadap diri Joon Oh bisa dicabut. Mereka tahu kalau ponsel Soo Hee sudah sampai di Korea.
Joon Oh pikir mereka harus mengambil dan mendapatkan ponselnya. Bong Hee tersenyum begitu juga Jaksa Yoon karena Joon Oh mengusulkan mereka untuk mengambilnya. Sementara kardus bertuliskan  [Benda-benda dari kecelakaan pesawat Legend Entertainment] sudah siap dibakar. 

Hee Kyung memberikan pidato kampanya pada  warga Seowon, anggota dari Partai Tangpyeong  kalau mereka sudah waktunya mengubah... suaranya seperti hilang. Penyidik Oh ingin memberikan minum tapi Hee Kyung mencoba berdeham.
Semua pendukungnya berteriak mengelu-elukan nama Hee Kyung. Hee Kyung pun kembali memberikan pidato agar orang – orang bisa memilihnya. Setelah itu jalan menyusuri pasar, Seorang nenek menjabat tangan Hee Kyung, tapi setelah itu meminta penyemprot antiseptik pada tangan. Seorang bibi juga memeluk Hee Kyung,  Hee Kyung pun sebagai calon anggota parlemen harus mau menerimanya.

Semua pendukung terus mengelu-ngelukan nama Hee Kyung, sampai di bibi penjual Hee Kyung melihat pedagang sayuran mengaku kalau suka bellflower. Si Bibi mengaku kalau itu adalah kaki ayam, Hee Kyung seperti tak percaya kalau kaki ayam dimakan sebagai lauk.
Bibi ingin memberikan karena rasanya sangat enak, Hee Kyung menolaknya seperti tak menyukainya. Tiba-tiba bibi penjual ikan tak sengaja menjatuhkan batu es, mengenai kaki Hee Kyung. Dengan handuk yang dimilikinya memberikanya, Hee Kyung melihat handuk yang kotor lebih baik menolaknya.
Bibi penjual lain melihat Hee Kyung menariknya agar bisa foto bersama dengan barang daganganya, Hee Kyung terpaksa melayani walaupun wajahnya akhirnya kena saus toppoki. 


Hee Kyung kembali ke hotel dengan mengeluh sangat lelah, setelah berkampanye. Jaksa Yoon menelp menyapa seniornya, Hee Kyung pun balik menyapa sang Junior yang menelpnya. Jaksa Yoon tahu kalau Hee Kyung  pasti sangat sibuk.. menjalankan kampanye untuk pemilihan, Hee Kyung membenarkan kalau memang sangat sibuk.
“Tapi...,aku ragu kau meneleponku  untuk mendukung kampanyeku. Kenapa kau meneleponku?”tanya Hee Kyung
“Ada barang  yang dikirim ke Komisi Investigasi Khusus. Apa kau sudah menerimanya?” ucap Jaksa Yoon, Hee Kyung binggung barang apa yang dimaksud.
“Paket Kiriman yang isinya benda-benda yang tertinggal di pulau. Aku yakin kirimannya sudah sampai sekarang.” Kata Jaksa Yoon, saat itu Penyidik Oh masuk ruangan. Hee Kyung langsung meminta pulpen agar bisa menuliskan.
“Kau bilang, Benda yang tertinggal? Entahlah... Aku belum menerimanya.” Kata Hee Kyung terlihat binggung. Penyidik Oh memberikan kode kalau sudah membakarnya sesuatu dengan perintah Hee Kyung.

“Kau sebentar lagi akan menerimanya. Aku sudah memastikannya bahwa paket itu dikirim ke Komisi Investigasi Khusus.” Jelas Jaksa Yoon.
“Jaksa Yoon.. Kasus itu sudah lama ditutup dan Komisi saja sudah dibubarkan. Mungkin mereka tidak dikirim ke komisi.” Kata Hee Kyung
“Komisi memang sudah dibubarkan..., tapi kasus ini belum selesai.” Komentar Jaksa Yoon
“Jadi, apa menurutmu kau akan menemukan  barang-barang So Hee disana? Kau bertingkah seolah-olah aku yang bertanggung jawab atas barang miliknya.Bukannya sikapmu itucukup kasar padaku?” keluh Hee Kyung
Jaksa Yoon berpesan agar Hee Kyung memeriksa benda-benda itu maka  akan menemukan ponsel berwarna putih dan hanya perlu memeriksa ponselnya, karena Ponsel itu milik So Hee. Hee Kyung kaget memilih untuk menyudahi ponselnya dengan beralasan  banyak kerjaan untuk kampanyenya dan akan menghubunginya nanti. 


Hee Kyung mencoba menelp seseorang tapi tak aktif, dengan nada kesal  mengeluh kalau Komisi sudah bubar..., tapi masih saja ada yang mengganggunya.  Penyidik Oh berjalan di lobby menelp anak buahnya bertanya apa yang terjadi dengan barang yang sebelumnya, apakah mereka sudah membuangnya dan membakarnya.
Salah satu anak buah Penyidik Oh datang memberikan sebuah kardus. Penyidik Oh mengoleh kalau seharusnya tidak bisa melaksanakan perintah begitu saja dengan langsung membakarnya karena mengatakan hal itu.
 Penyidik Oh membawa kotak kardus ke kamar Hee Kyung, dengan mengatakan kalau sebelumnya tak ingin berhubungan lagi dengan komisi. Hee Kyung membuka kardus dan melihat sebuah ponsel seperti tak yakin. Penyidik Oh mengataka kalau ini ponselnya So Hee.

“Sepertinya dia suka barang-barang merek lama,” komentar Penyidik Oh, Hee Kyung tak mengerti maksudnya.
“Model ponsel ini sudah cukup lama.” Jelas Penyidik Oh, Hee Kyung mencoba menyalakan tapi tidak menyala.
“Dia akan segera datang.Kita harus mencari tahu apa isi ponsel ini sebelum dia datang.” Perintah Hee Kyung, penyidik Oh melihatnya.
“Kecuali kalau ponsel ini habis baterai,  karena modelnya sudah lama..., mungkin mustahil bisa memperbaikinya.” Kata Penyidik Oh
“Siapa yang bisa memperbaikinya?” tanya Hee Kyung 

Jaksa Yoon menelp Bong Hee memberitahu kalau  sedang dalam  perjalanan untuk bertemu Jo Hee Kyung menurutnya lebih baik untuk bertemu denganya lebih dulu dan menanyakan keberdaan keduanya. Joon On menjawab kalau mereka ada urusan.
“Apa Bong Hee sibuk? Kenapa kau yang mengangkat teleponnya Bong Hee?” tanya Jaksa Yoon
“Dia lagi mengemudi sekarang.” Ucap Joon Oh dengan menunjuk agar Bong Hee belok kanan.
“Seperti yang kau ketahui, SIM-ku masih ditahan.” Kata Joon Oh, Bong Hee berbicara pada Jaksa Yoo kalau dalam perjalanan  untuk bertemu Byeong Joo dan meminta agar datang setelh  mendapatkan ponselnya. Jaksa Yoon pun memberikan semangat pada keduanya agar berhasil. 
Joon Oh melihat Bong Hee yang menyetir dengan mengeluh karena tadi tak belok kanan, Bong Hee pikir itu jalanya memang benar. Joon Oh menyuruh Bong Hee agar Putar balik. Bong Hee kebingungan, Joon Oh kembali mengomel karena Bong Hee yang terus mengikuti mobil didepanya. Bong Hee seperti tak biasa mengemudikan mobilnya. 

CEO Jang melihat foto-foto saat Penyidik Oh membawa sebuah kardus dan memastikan bahwa label diatasnya adalah [Benda-benda tertinggal] lalu menelp anak buahnya agar menyiapkan mobl dan  semua orang berkumpul karena akan berangkat ke Seowon.
Tiba-tiba ia melihat seseorang yang ada dibelakang kaca, Byung Joo keluar dari persembunyianya mengaku kalau ingin bertemu atasanya. CEO Jang ingin tahu berapa lama sudah berdiri di sana. Byung Joo mengalihkan dengan membersihkan kaca karena mengidap penyakit mysophobia
“Orang tidak melihatku karena aku dianggap kecil (ungkapan remeh). Sepertinya CEO tahu itu. Tapi perbuatan baikku sudah ketahuan.” Kata Byung Joo ingin segera pergi. CEO Jang memanggilnya, Byung Joo terlihat tegang.
“Byung Joo... Kalau Tae Ho sudah selesai kerja malam ini..., maka temanilah dia bersenang-senang. Minumlah dengan dia atau  main game-lah. Lakukan saja apapun keinginannya.” Kata CEO Jang, Byung Joo binggung tiba-tiba CEO Jang meminta seperti ini.
“Ya kenapa lagi? Lakukan saja seperti yang diperintahkan.” Tegas CEO Jang
“Jika aku menyarankan Tae Oh Hyung berbuat ini itu..., takutnya, Tae Ho Hyung akan mengeluh. Dia biasanya selalu menyumpahiku.” Kata Byung Joo
“Dia sudah bekerja keras sejauh ini. Katakan saja padanya kalau aku bilang tak masalah untuk bersenang-senang malam ini” jelas CEO Jang, Byung Joo pikir itu Ide yang bagus juga.
“Sampai dia pulang nanti dan teruslah temani dia. Serta Awasi dia. Jangan beritahu dia soal percakapan kita ini. Kalau ada apa-apa kau bisa langsung hubungi aku.” Ucap CEO Jang, Byung Joo mengangguk mengerti.
CEO Jang kembali berhenti sebelum pergi memperingatkan Byung Joo kalau hidupnya itu ada di tangannya dan janga melupakan itu. Byung Joo mengangguk mengerti.

Byung Joo sudah duduk didalam mobil sambil makan burger, Bong Hee ingin tahu kenapa CEO Jang berangkat ke Seowon. Byung Joo juga tak tahu  alasannya dengan menceritakan Tiba-tiba CEO Jang menyuruh semua orang berkumpul dan langsung pergi.
“Kau Ingat apa yang dikatakan Jaksa Yoon? Pemilihan Bupati, Jo Hee Kyung itu untuk Kabupaten Seowon. Apa mungkin itu alasan Jang Do Pal pergi ke sana?” cerita Bong Hee
“Ya mungkin saja , tapi inilah anehnya. Jang Do Pal menyuruhku jangan  memberitahu Tae Ho.” Kata Byung Joo aneh
“Mungkin dia tidak ingin  Choi Tae Ho khawatir.” Pikir Joon Oh
“Tapi kekhawatiran itu bukannya kekhawatiran yang dimiliki pasangan  yang sudah menikah?” pikir Byung Joo, Joon Oh pikir itu  tidak penting dibahwa karena ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan managernya itu.
“Beritahu padaku semua percakapan antara Jang Do Pal dan Tae Ho. Dan Ingat apa yang kukatakan ini. Orang tidak melihatmu karena kau  dianggap remeh. Itulah kekuatan terbesarmu.” Tegas Joon Oh

“Tapi menurutku... Aku tidak sekecil yang kau pikir. Barusan dia melihatku 'kan.... Jang Do Pal dan Aku bingung sekali.” Ungkap Byung Joo
Joon Oh pikir managernya itu membuat kesalahan lalu menyuruhnya untuk belajar membungkuk. Byung Joo terlihat kesusahan untuk membungkuk karena tubuhnya yang tambun. Joon Oh dan Bong Hee berpura-pura tak melihatnya, dan kaget saat melihat Byung Joo duduk dikursi belakang.
“Aku akan melakukan apa pun  agar kau bisa kembali aman kesini. Aku akan membungkuk sependek mungkin.” Ucap Byung Joo lalu melihat ponselnya berbunyi dan itu alarm kalau waktunya menjemput Tae Ho.
Joon Oh pun menyuruh Byung Joo agar segera keluar, dan berpesan agar membungkuklah sependek mungkin, serta Jangan pernah beli Burger isi daging lagi. Bong Hee yang baik hati sempat menyuapi Byung Joo kentang goreng sebelum pergi. 


Joon Oh menatap sedang Byung Joo yang pergi meninggalkanya, Bong Hee melihat seperti Joon Oh khawatir dengan Managernya. Joon Oh melihat Byung Joo itu terlihat lebih kurus, dan sedang diet.
“Dia memang tak kelihatan saat membungkuk dan Dia pasti akan baik-baik saja.” Kata Bong Hee menyakinkan. Joon Oh seperti tak begitu yakin, Tapi Bong Hee dengan senyumanya menyakinkan Joon Oh. 

Tae Ho dan Ji Ah sedang melakuan pemotretan seperti pasangan, Ki Joon dibalik layar terlihat gelisah mondar mandir. Tae Ho yang melihatnya dengan sengaja malah mendekap Ji Ah agar lebih dekat membuat Ki Joon cemburu.
Pemotretan berhenti sejenak, Ki Joon pun memberikan minuman dan masih terlihat gelisah. Tae Ho dan Ji Ah duduk bersama dengan orang-orang yang memperbaiki make up mereka. Ki Joon terus mondar mandir tanpa benar-benar gelisah seperti menahan amarah dan memilih untuk pergi meninggalkan studio.

“JiAh Sepertinya Ki Joon Hyung tak mengerti, tapi dia harus... bisa membedakan mana urusan bisnis dan mana urusan pribadi. Aku akan bicara dengan CEO Jang  dan membujuknya mengganti manajermu. Aku berkata begini demi kebaikan dirimu.” Ucap Tae Ho, Ji Ah lalu meminta agar meninggalkan mereka berdua.
“Apa Kau akan mengganti manajerku?” kata Ji Ah, Tae Ho membenarkan. Ji Ah langsung mengumpatnya dengan sengaja berbisik.
“Apa kau tahu aku sudah berapa kali operasi kulit karena bekas luka yang kau sebabkan! Dasar brengsek?Kau itu pembunuh. Jangan banyak bicara kau, dasar sampah dan Tutup mulutmu.” Tegas Ji Ah, Tae Ho pun hanya bisa diam. 


Ki Joon masih terliha gelisah teringat kembali saat keluar dari ruangan CEO Jang yang menerima telp membahas tentang benda yang hilang dalam pulau yaitu ponsel.  Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Joon Oh
[Aku tak bisa memihakmu tapi menurutku kau harus tahu Jang Do Pal sedang...] Saat itu Ji Ah datang mengeluh karena Ki Joon keluar studio, Ki Joon langsung memasukan ponselnya bertanya apakah sudah selesai pemotretannya.
“Kenapa kau membiarkanku melakukan  kontrak model jika kau seperti ini? Kalau ini sulit bagimu, bagaimana  bisa kau akan menanganinya ketika kita nanti mulai syuting film?” ucap Ji Ah, Ki Joon binggung dengan perkataan  Ji Ah.
“Kau keluar kesini karena kesal melihat kami bersama.” Kata Ji Ah, Ki Joon mengaku kalau bukan itu masalahnya, Ji Ah ingin tahu apa alasanya, Ki Joon terdiam seperti tak bisa memberitahukanya.
“Kau pasti memikirkan sesuatu. Apa itu?” tanya Ji Ah penasaran
“Aku tidak bisa memberitahu seseorang  tentang situasi orang lain karena aku ingin melindungi  orang itu... ahh..Bicara apa aku ini.” Kata Ki Joon kebinggungan lalu menyuruh Ji Ah masuk saja.
“Oppa... Sepertinya ada banyak yangKau rahasiakan dariku.” Komentar Ji Ah lalu masuk dengan wajah kesal
“Aku tidak punya rahasia.  Aku cuma merasa frustrasi. Itu saja.” Keluh Ki Joon binggung dengan keadaanya sekarang. 


Ho Hang ingin menganti air pengatur ruangan, tiba-tiba beberapa dokter dan perawat berlari masuk ke dalam ruangan. Istri CEO Hwang pun keluar. Ho Hang ingin masuk tapi dilarang oleh perawat untuk menunggu diluar. Ho Hang panik bertanya apa yang terjadi dan ingin masuk.
“Saya tak bisa membiarkan Anda masuk” kata Perawat, Ho Hang ingin tahu kedaaan CEO Hwang.
“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja, dia...” kata istri CEO Hwang sambil menangis.
Beberapa saat kemudian, Dokter memberitahu kalau kondisi CEO Hwang stabil lagi lalu meminta walinya agar ikut denganya. Perawat dan istri CEO Hwang keluar ruangan dengan meningggalkan Ho Hang sendiri 

Ho Hang menatap CEO Hwang yang tak sadarkan diri, mengajaknya bicara kalau  dalam keadaan kritis sebelumnya tapi berhasil melewatinya dan meminta agar bisa terus berjuang serta Jangan pernah menyerah.
“Jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Untuk menyelamatkan hidupmu, aku pun mengkhianati Joon Oh. Dia sudah berjanji padaku, tidak akan menyakitimu lagi. Aku ternyata sudah menjual jiwaku pada setan. CEO Hwang. Jika kau mati seperti ini, kau akan membuatku seperti orang jahat. Jangan menyerah.  Kau pasti sembuh, 'kan? Kau harus sadarkan diri... Kau harus bangun.” Kata Ho Hang sambil menangis.
Istri CEO Hwang datang menepuk pundak Ho Hang memberitahu  kalau kata dokter suaminya itu baik-baik saja jadi Jangan khawatir. Ho Hang menghapus air matanya mengetahui kalau istri CEO Hwang pasti panik sebelumnya, tiba-tiba matanya melihat di jendela pintu sosok Joon Oh yang mondar mandir, lalu pamit sebentar. 

Bong Hee menarik Joon Oh dari depan ruangan menyuruhnya agar lebih baik diam karenaNanti ada orang yang melihatnya memakai topi dan juga masker sampai ke atas. Joon Oh sengaja menaik masker sampai menutup matanya agar Bong Hee puas.
“Apa memang CEO Hwang ada di sini?” ucap Joon Oh tak yakin, Bong Hee yakin karena sebelumnya pernah datang menjenguk.
“Coba kalu Lihat. Sekretaris Tae sudah keluar.” Bisik Bong Hee mengintip.
Ho Hang keluar kamar mencari keberadaan Joon Oh yang baru dilihatnya, Joon Oh ingin mendekatinya dan Bong Hee tak menahanya. Joon Oh malah mengeluh karena Bong Hee tidak menghentikannya. Ho Hang merasa yakin kalau tadi yang dilihatnya memang Joon Oh, Joon Oh kembali ingin pergi untuk menampar wajahnya dan Bong Hee membiarkanya.
“Kenapa kau tidak menghentikanku?” keluh Joon Oh, Bong Hee mengaku kalau tidak  tahu Joon Oh  akan melakukannya sekarang.
“Apa itu Hantu? Apa aku melihat hantu?” ucap Ho Hang mulai panik ketakutan lalu dikagetkan dengan saat istri CEO Hwang akan keluar kamar. 

Joon Oh masuk menemui CEO Hwang yang terbaring saat istrinya keluar untuk menerima telp. Bong Hee berjaga-jaga didepan pintu takut ada yang melihat. Joon Oh membuka bagian selimut dan melihat tangan CEO Hwang yang makin kurus saja.
“Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Aku akan mengalahkan mereka dan mengungkap kebenarannya.” Ucap Joon Oh, Bong Hee melonggokan kepalanya memberitahu Istri CEO Hwang sudah datang.
Keduanya pun bergegas keluar sebelum istri CEO Hwang datang, Saat itu  Ho Hang seperti sengaja bersembunyi dan terlihat shock mengetahui Joon Oh memang masih hidup menemui CEO Hwang. 

Tae Ho duduk dalam mobil dengan ponselnya. Byung Joo pun bertanya Apa ada yang ingin dilakukan hari ini. Tae Ho malah balik bertanya kenapa Byung Joo menanyakan hal itu. Byung Joo sudah tahu kalau pasti Tae Ho bertanya jadi  meminta CEO Jang.
“Dia bilang kau bekerja  begitu keras hari ini jadi dia menyuruhku  menemanimu minum-minum atau bermain video game denganmu. Dia bilang aku harus...” ucap Byung Joo langsung disela oleh Tae Ho.
“Kenapa aku harus minum denganmu? Apa Kau mau main game denganku? Apa menurutmu aku tak  punya teman main atau teman minum? Antar saja aku pulang.” Kata Tae  Ho, Byung Joo pun tak bisa menolak. 

Tae Ho turun dari mobil akan masuk apartementnya. Seorang mengamatinya lalu mengirimkan pesan [Aku melihat Choi Tae Ho pulang ke rumah.] lalu masuk ke dalam mobil.  Seseorang masuk ke dalam mobil, betapa kagetnya melihat Tae Ho sudah duduk disebelahnya. Tae Ho bertanya kenapa anak buah CEO Jang itu ada di apartementnya.
“Apa kau sedang berjaga untuk menangkap maling?” kata Tae Ho, Si pria mengelengkan kepala. Tae Ho pun ingin tahu alasanya.
“Apa kau memantauku? Apa CEO Jang yang menyuruhmu?” kata Tae Ho, pria itu mengelengkan kepala dengan wajah gugup. 

Tae Ho sudah ada didalam mobil dengan memejamkan matanya, si pria binggung mengunakan tangan kirinya untuk mengirimkan pesan  [CEO Jang, gawat. Kita dalam masalah.] Tae Ho yang mengetahuinya, langsung melarang untuk mengunakan ponsel dengan satu tangan tapi  Fokus saja menyetir. Byung Joo terlihat mengikuti mobil Tae Ho dari belakang
“Aku harus memihak pada siapa... agar bisa bertahan dari pertempuran mata-mata ini?Ahh... Firasatku tidak enak sekali. Jadi Choi Tae Ho atau Jang Do Pal?” ucap Byung Joo kebinggungan. 

Jaksa Yoon sudah menunggu di gedung kampanye, Hee Kyung menyapanya dengan meminta agar dibawakan teh. Jaksa Yoon menolak karena hanya ingin bicara dengan Hee Kyung. Penyidik Oh pun keluar ruangan tapi sengaja untuk mendengar pembicaraan keduanya.
“Apa Kau sudah menerima benda itu?” tanya Jaksa Yoon
“Aku sudah  dapat laporan tentang hal itu dan sudah memeriksanya...,tapi sepertinya ponsel itu bisa dijadikan barang bukti yang  harus dikirim ke kantor pengadilan secara langsung. Aku tak bisa seenaknya menyerahkannya padamu dan Kau harusnya tahu itu.” Ucap Hee Kyung
“Jadi maksudmu barang kepunyaan milik korban tidak boleh dilihat oleh keluarganya sendiri? Kita tahu betul soal ini.  Apa kau akan bersikap seperti ini?” kata Jaksa Yoon
“Aku akan menunjukkan kepadamu jika aku  bisa menanganinya dengan caraku sendiri.” Tegas Hee Kyung

“Dengar, mantan  Ketua Komisi Investigasi Khusus. Kau padahal tidak tertarik memeriksanya sampai aku memberitahukan soal itu. Entah itu ponselnya So Hee atau itu ternyata bukan barang penting..., kau bahkan tidak punya petunjuk. Tapi Apa barang itu langsung berubah menjadi barang bukti hanya karena aku ingin memeriksanya?” sindir Jaksa Yoon dengan membungkukan badanya.
“ Kau harusnya tahu betul soal itu daripada memaksaku seperti ini. Maaf..., tapi aku tak bisa membantumu. Seperti yang kau lihat..., pembicaraan ini sangat membingungkan.  Jadi kita sudahi saja pembicaraan ini.” Kata Hee Kyung ingin segera pergi.
“Kau tidak pernah kehilangan orang yang kau sayangi,kan? Ponsel itu... satu-satunya barang milik  mendiang adikku. Dia mungkin telah  menulis surat wasiat disana. Mungkin saja itu isinya  kebenaran tentang kematiannya. Orang yang akan menggali  kebenarannya it udan harus menemukan buktinya bukanlah orang pengadilan..., melainkan kakaknya yang sangat  ingin menangkap pelakunya. Akulah orang itu, Yoon Tae Young.” Tegas Jaksa Yoon menatap tajam
Hee Kyung melihat Jaksa Yoon yang berani  bersikap seperti itu, memberitahu kalau tempat ini  bukan Komisi Investigasi Khusus. Tapi ada di kantor kampanyenya sekarang, menurutnya tak ada akewajiban  mendengarkan setiap kata yang diucapkannya. Jaksa Yoon pikir  Ada cara lain meskipun Hee Kyung menolak menyerahkan ponsel itu.
“Biar kuperjelas padamu... Kau sudah buat kesalahan hari ini.” Tegas Jaksa Yoon lalu keluar dan terlihat penyidik Oh yang menguping pembicaraan keduanya.


Penyidik Oh binggung dengan sikap Hee Kyung karena berpikir akan menyerahkan ponselnya. Hee Kyung terdiam mengingat sebelumnya pegawainya memberitahu kalau Ada seseorang yang mengaku sebagai CEO Legend Entertainment yang menyebabkan masalah di kantor bea  cukai dan menanyakan dimana benda-benda itu.
“Biarkan saja, Lebih baik Tunggu dan lihat saja bagaimana semua ini akan terungkap.” Kata Hee Kyung 

Joon Oh yang mendengarnya mengumpat Hee Kyung memang  wanita aneh. Karena barang itu penting bagi mereka lagipula Hee Kyung juga tidak membutuhkannya dan merasa Hee Kyung berpikir mereka tak bisa cari cara jika tidak menyerahkannya.
“Banyak orang keluar masuk dari kantor kampanyenya. Aku yakin sekali ponselnya tidak ada disana. Kita ke hotel saja Kabarnya ada hotel yang biasa dia datangi kalau dia sedang istirahat.” Ucap Jaksa Yoon, Joon Oh setuju mereka akan pergi ke hotel.
“Apa kau punya ide bagus?” tanya Bong Hee yang serius menyetir.
“Bong Hee, menurutku mengemudi lebih  cepat adalah ide yang bagus.” Kata Joon Oh
Bong Hee merasa kalau sudah mengemudi dengan cepat, Joon Oh pikir lebih baik naik taksi saja kalau cara menyetirnya seperti ini dan meminta uang  10 ribu won.

CEO Jang nampak kaget melihat Tae Ho datang ke ruangan sedang mendengar sesuatu dari alat penyadapnya. Byung Joo menatap CEO Jang seperti memberikan kode.
Flash Back
Byung Joo akhirnya menelp CEO Jang, memberitahu bahwa Tae Ho sedang dalam  perjalanan ke sana sekarang. Ia seperti sudah memberikan pilihan kalau memilih CEO Jang.
CEO Jang pura-pura kaget menanyakan kenapa Tae Ho datang. Tae Ho malah sengaja menyindir seperti tak boleh datang. CEO Jang bersikap ramah kalau menyarankan beristirahat  karena khawatir tapi malah datang ke tempatnya.
“Apa karena itu kau  menyuruh orang membuntutiku?” ucap Tae Ho curiga, CEO Jang mengelak kalau itu tidak masuk akal.
“Kenapa Apa ada hal yang tak  boleh kuketahui disini?” kata Tae Ho, CEO Jang akhirnya menyuruh semua anak buahnya agar keluar ruangan lebih dulu.

“Tae Ho. Benda-benda yang tertinggal dari kecelakaan sudah sampai ke Korea. Salah satu barang itu adalah ponselnya So Hee. Jo Hee Kyung yang memilikinya sekarang.” Cerita CEO Jang
“Tapi...kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” ucap Tae Ho dengan nad marah
“Aku tidak memberitahumu karena aku tidak yakin apa semua benda itu bisa jadi bukti atau tidak. Karena ponsel itu ada di tangan Jo Hee Kyung..., aku juga khawatir kalau hal itu akan diberitahu ke media. Karena itu aku ingin  memastikannya lebih dulu” jelas CEO Jang
Tae Ho pikir karena dirinya sudah mengetahuinya sekarang jadi  mereka harus memastikannya bersama. Entah itu bukti kuat atau tidak tetap perlu mengetahuinya. CEO Jang setuju  mengaku malah merasa jauh lebih baik  Tae Ho bergabung dengannya, walaupun diwajahnya seperti merasa terpaksa.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar