Selasa, 28 Februari 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hye Ran baru saja selesai mandi lalu membuka jubah mandinya terlihat pakaian dalamnya, seorang pria mengodanya dengan setangkai bunga di mulutnya. Keduanya menari mengikuti irama lagu yang sedang dipuart, lalu terdengar suara bel kamarnya. Si pria mengatakan kalau itu room service.
Saat membuka pintu betapa kagetnya melihat sang istrinya yang bertubuh tambun datang dengan membawa pemukul baseball lalu masuk kedalam lamar. Hye Ran melihat sang istri teringat saat di tempat pilates wanita yang menatap sinis padanya dan memangilnya sebagai customer.
“Kau merayu suamiku dan memanggilku customer?” ucap si istri marah, Hye Ran kaget karena si pria mengaku kalau sudah bercerai. Si pria mengatakan kalau belum bercerai secara hukum.
“Aku sungguh tidak tahu, Aku kira dia sudah bercerai. Kurasa ku salah...” kata Hye Ran mulai panik saat melihat semua teman istrinya datang siap membantu mengharja keduanya.

Hye Ran pun berusaha kabur dari kepngan para wanita tambun yang berusaha memukulnya sampai keluar dari hotel hanya mengunakan jubah mandinya. Hye Ran pun bersembunyi di bawah tangga dan beberapa ahjumma terus mengejarnya. Setelah itu mengintip memastikan kalau tak ada lagi para wanita yang mengejarnya, saat itu matanya melihat sepasang pria dan wanita yang sedang bermesraan.
Betapa kagetnya melihat ternyata pria itu adalah Jung Hee, yaitu suami temanya sedang berjalan sambil memeluk wanita muda. Na Mi pun dengan gaya manjanya akan membuatkan makan siang untuk Jung Hee esok. Hye Ran benar-benar tak percaya ternyata Jung Hee selingkuh, lalu tersadar saat melihat ada dua anjing didepanya.
Si anjing yang melihat mangsanya langsung mengejar Hye Ran, Hye Ran berlari kabur dan terpaksa melepaskan jubah mandinya karena sudah digigit anjing, berlari hanya mengunakan pakaian dalamnya. 


Jung Hee pulang kerumah diberikan tatapan sinis oleh sang istri, lalu akhirnya hanya bisa mengatakan permintaan maafnya. Jae Bok sedang melipat pakaian melihat suaminya itu kelihatan baik-baik saja dan tidak minum banyak. Jung Hee menyangkal kalau minum banyak.
Jae Bok mendekat dengan melihat bibirnya, Jung Hee nampak panik dengan mengigip bibirnya. Jae Bok menyuruh suamianya agar memakailah lip balm karena Bibirnya pecah-pecah. Jung Hee mengerti terlihat sedikit lega bisa menutup perselingkuhanya.
“Hei... Berhentilah menjilati bibirmu.” Ucap Jae Bok melihat suaminya membahasahi bibir dengan lidahnya. Jung Hee pun memilih untuk pergi mandi saja. Tiba-tiba Jae Bok menghentikanya dengan mencium seluruh tubuh suaminya.

“Bauku seperti alkohol dan asap, kan?” ucap Jung Hee menutupi kebohonganya.
“Bukan. Apa kau pergi ke bar dan minum dengan perempuan?” kata Jae Bok curiga mencium bau parfum wanita , Jung Hee menyangkalnya dengan mengaku duduk di sebelah wanita saat di subway yang memakai parfum
“Oh iya, kita bisa mengecek rumahnya besok kan? Aku yang akan pergi.” Kata Jung Hee mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Rumahanya sudah disewa, Aku harus mencari tempat baru besok Kita akan baik-baik saja jika kau tidak menandatangani untuk pinjaman temanmu..” Kata Jae Bok, Jung Hee seperti merasa bersalah.
“Maaf. Aku akan melihatnya besok bahkan jika harus kerja setengah hari.” Kata Jung Hee.
Jae Bok pikir tak perlu karena tidak berharap apapun dari suaminya lagi lagi dan akan membersihkan semuanya. Jung hee menatap istrinya, lalu berkata kalau merasa dirinya yang selalu mengecewakan Jae Bk dan tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar.
“Kenapa kau seperti itu lagi? Apa Tn. Cho memarahimu lagi? Abaikan saja brengsek seperti dia! Mandi dan tidurlah sana.” Ucap Jae Bok seperti tak sadar dengan perasaaan tertekan suaminya, Jung He pun menganguk mengerti.
“Jangan sampai airnya berceceran di lantai kamar mandi.” Perintah Jae Bok, Jung Hee pun menganguk mengerti. 



Jung Hee mandi dengan shower dipegang oleh tanganya agar tak membasahi lantai luar, teringat kembali saat Tuan Jo memarahinya karena tak menghasilkan apapu dari bulan kemarin sampai bulan ini, ia pun mengumpat kesal dengan meninggikan showernya, lalu teringat kalau tak boleh membasahi lantai. Jae Bok masuk ke dalam kamar mandi lalu melihat punggung suaminya yang mandi dengan menurunkan shower agar tak membasahi lantai. 

Jae Bok berbaring di samping anak bungsunya mengingat ucapan suaminya yang terdenga sedih “Kurasa sepertinya aku selalu mengecewkanmu. Aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar.”  Ia seperti merasa kasihan lalu  keluar dari kamar, Jung Hee yang berbaring disofa buru-buru memejamkan matanya dan memiringkan badanya. Jae Bok berpikir suaminya sudah tidur lalu mengecup pipinya,
“Jangan terlalu stres. Kau baru saja masuk ke Departemen Penjualan dan akan melakukannya dengan baik setelah kau terbiasa.” Ucap Jae Bok lalu mengelus rambut suaminya yang sudah panjang.
Jae Bok kembali mencium suaminya berkali-kali seperti ingin mengodanya, dan mengetahui kalau Jung Hee itu pura-pura tertidur. Ia berpikir suaminya sebenci itu padanya, Jung Hee mengaku kalau hanya terlalu lelah. Jae Bok kesal memilih untuk kembali ke kamar anaknya.  Jung Hee pun serba salah karena sebelumnya sudah bersama dengan Na Mi. 

Jae Bok duduk dikamar anaknya terlihat sangat sedih,  Pesan dari Won Jae masuk “Jae Bok, aku tadi belum selesai bicara..,tapi istrinya Kyung Woo punya blog. Asistenku jadi pengikutnya.Aku akan mengirimu link-nya. Kudengar blog itu cukup terkenal di kalangan wanita yang sudah menikah.”
Akhirnya Jae Bok membuka link blog yang dikirimkan Won Jae, yang berisi postingan foto-foto perabotan rumah tangga yang cukup mewah, terlihat salah satu figura memperlihatkan pria berjas.
Jae Bok pikir kalau Kyung Woo Oppa baik-baik saja dan Istrinya pasti cantik. Ia pun membayangkan dirinya saat ada didapur dengan perabotan yang lengkap, lalu Kyung Woo datang memberikan ciuman didahinya.
“Cinta pertamaku, Cha Kyung Woo... Jika aku jadi istrinya bukannya wanita ini, akankah aku jadi lebih bahagia daripada sekarang? Akankah begitu?” gumam Jae Bok seperti merasakan penyesalan menikah dengan Jung Hee. 

Bong Goo masuk lift lebih dulu lalu melihat Jae Bok berlari dari parkiran dan buru-buru menekan tombol lift. Jae Bok yang berteriak agar bisa menunggu bisa menahan pintu lift dengan tasnya. Wajah Bong Goo pun terkena hantaman tas milik Jae Bok.
Keduanya pun desak-desak dalam lift yang penuh, Bong Goo seperti sangat kesal dengan Jae Bok sempat ingin menyelengkanya saat akan masuk ruangan. Tapi Jae Bok yang sigap bisa melompat. Bong Goo semakin dongkol, sebelum masuk ponselnya berdering dan harus bertemu dengan seseorang.
Jae Bok masuk ruangan dengan penuh semangat beberapa pegawai lain  memandang heran. Ia pun masuk ke ruangan Bong Goo dengan beberapa berkas menaruhnya diatas meja, merasa kalau atasanya itu akan terkejut karena bisa menyelesaikan ini semua. Seorang pria berdasi masuk dan memanggil  Shim Jae Bok untuk bicara.

Bong Goo bertemu dengan seorang pria terlihat kaget karena aakn dikeluarkan dari perusahaan. Atasanya pikir kalau bukan dikeluarga tapi  kontrak dengan firma hukum berakhir bulan depan dan mengatak kalau ini demi kebaikan Bong Goo.
“Kau bilang banyak firma yang menginginkanmu. Dan tawaranyya bagus juga.  Firma hukum kita tidak bisa membayar sebanyak itu.., jadi kami memutuskan untuk tidak serakah kepadamu.” Ucap Atasan Bong Goo.
“Anda bisa serakah... Aku tidak mengatakan harus digaji dengan yang sama seperti sekarang. Mengingat ikatan kita sudah terbentuk dari waktu ke waktu.., Aku berkeinginan untuk mengakomodasi.” Jelas Bong Goo dengan nada sedikit panik. 

Jae Bok kaget mengetahui kalau tak menjadi pegawai tetap. Si pria meminta maaf,  mengetahui Jae Bok yang bekerja keras lebih dari siapapun selama masa percabaanmu dan kerja sanga bagus, tapi.. Jae Bok pikir Jika bekerja keras lebih dari siapapun seharusnya bisa mengangkatnya.
“Apa ini dikarenakan aku dikeluarkan dari universitas dan statusku menikah?” kata Jae Bok. Si Pria menyangkalnya.
“Tapi Sepertinya begitu... Anda pasti membayangkan pekerja yang lebih muda yang belum bekerja agar mudah disuruh. Selama masa percobaan.., aku mengesampingkan keluargaku dan bekerja keras seakan bergantung kepada pekerjaanku ini. Aku percaya para pengacara menghargai pekerjaanku. Bagaimana bisa Anda menilai seseorang dengan begitu konyol?” ucap Jae Bok
“Aku sangat kecewa. Aku hanyalah pekerja kontrak yang tidak memiliki jalan lain bahkan jika aku melepaskannya... bahkan setelah jabatanku naik. Aku ingin berpikir lebih tinggi dan tidak menyalahgunakan situasi. Tapi... Apa Tn. Kang Bong Goo tahu bahwa aku takkan berhasil?” kata Jae Bok,  si pria pikir kalau Bong Goo mengetahuinya.

Beberapa karyawan memberikan selamat pada Mi Hyun yang diangkat menjadi pegawai tetap. Jae Bok menatap sedih dengan membereskan semua barang-barangnya lalu mengucapakn selamat dan keluar dari ruangan.
Bong Goo keluar ruangan dengan kesla karena selama ini sudah menjilatanya dan memberikan semua yang dimilikinya, saat itu melihat Jae Bok keluar dari gedung, ia pun berpura-pura sedang memainkan ponselnya. Jae Bok mendekat dengan tatapan sinis.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak bekerja?” tanya Bong Goo sinis, Jae Bok kesal dengan pertanyaan Bong Goo karena tak mengetahui dirinya dipecat. 
“Apa-apaan ini? Apa Dia tidak tahu kalau aku dipecat? Ah.... Dia belum tahu.” Gumam Bong Goo.
“Dokumen Biaya konstruksi di mejamu.” Ucap Jae Bok, Bong Goo mengaku kalau sudah melihatnya.
“Apa Kau sudah melihatnya? Apa Kau punya mata jadi  bisa melihat?” guma Jae Bok
“ini sangat tidak mudah untuk ikut. Dokumen untuk tempat inspeksi juga. Foto-fotonya harus dikkuti dengan cetak biru. Lalu, kau harus mencatat kenaikan biaya dengan jelas. Dan Kudengar kau pra-hukum di universitas.” Ucap Bong Goo.
Jae Bok menegaskan kalau dirinya tak lulus, Bong Goo pikir menurutnya hanya karena Jae Bok berkecimpung di dunia hukum sebelumnya maka tidak seharusnya pamer lalu memperlihatkan Pin-nya kalau dirinya seorang pengacara.
“Apa kau terganggu jika aku memamerkannya? Apa karena itu kau memanfaatkanku dan membuatku kerja lembur? Aku pamer karena itu benar. Kau tidak lebih baik dari aku, tapi kau berkepala besar hanya karena kau pengacara!” ucap Jae Bok berteriak mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa Kau sakit?” kata Bong Goo heran melihat tingkah Jae Bok.
“Kau tahu aku tidak akan berhasil ‘kan? Kau membuatku lembur karena tahu aku akan dipecat, kan?” kata Jae Bok

Bong Goo kaget mengetahui Jae Bok juga dipecat, lalu berteriak kalau bawahanya itu berakting hanya karena ia dipecat. Jae Bok menegaskan bahwa diperbolehkan, mengingat semua sampah yang diberikan kepadanyad an iangi ingin membakar segalanya tapi dirinya masih baik. Bong Goo mengejak Jae Bok itu memang preman dengan cara bicaranya yang kasar.
“Kau lahir tahun 1987... 870411.” Ucap Jae Bok, Bong Goo kaget mengetahui Jae Bok yang mengingat nomor Idnya.
“Aku lahir tahun 1981, jadi Jangan main-main denganku. Dan Kau bahkan tidak bisa mengikat tali sepatumu.” Kata Jae Bok lalu berjalan pergi.
Bong Goo mengingat tali sepatunya dibuat binggung karena Jae Bok tak menjadi perkerja tetap padahalKerjanya bagus dan ia yang membuat kerjaanya jadi berhasil.
Jae Bok makan bimbimbap dengan ditemani  Hye Ran dengan muka masih memar.  Jae Bok mengaku kalau punya harapan tinggi kali ini. Hye Ran kasihan pada Hye Ran yang bekerja sangat keras. Jae Bok pikir harus melakukan yang terbaik.
“Aku selalu seperti ini, mau dalam masa percobaan atau temporer.” Keluh Jae Bok, Hye Ran mengelengkan kepala seperti makin kasihan.
“Khawatirkan dirimu sendiri, Hye Ran... Bagaimana bisa mereka memukulmu seperti itu?” kata Jae Bok merasa lebih kasihan pada temanya.
“Dia menerima penghakiman keadilan.” Ucap Won Jae masuk ke ruang makan, Jae Bok melihat temanya lalu berkomentar kalau datang untuk mengkonsultasi dirinya.
“Mereka bilang kesengsaraan datang bergandengan tangan.” Komentar Won Jae, Hye Ran meminta temanya agar tak banyak bicara.
“Jung Hee selingkuh.” Won Jae, Hye Ran meminta Won Jae tak mengatakanya. Won Jae pikir temanya itu harus tahu dan ingin memberitahu kejadian semalam.
Hye Ran langsung menutup mulut Won Jae berdalih salah lihat. Won Jae melepaskan tangan Hye Ran sambil berterik kalau Jung Hee selingkuh dan Gadis itu tinggal di dekat kantor, lalu buru-buru mengunci dikamar. Hye Ran mengejarnya tak bisa membuka pintu.
“Dasar pengkhianat.  Kau sudah berjanji untuk tidak memberitahunya!” teriak Hye Ran kesal
“Semalam, Hye Ran melihatnya sendiri dengan dua matanya!” teriak Won Jae dari dalam kamar. Jae Bok terdiam seperti merasakn sesuatu. 


Na Mi duduk disebuah cafe, Choi Duk Boon memberikan sebuah amplop tebal dengan nada dingin memberitahu kalau itu uang untuk bulan ini dan meninggatkan waktunya sudah hampir habis dan harus mengambil langkah.
Akhirnya Na Mi masuk ke dalam sebuah rumah sakit dengan tatapan kosong memegang amplop ditanganya, tiba-tiba Jung Hee datang dengan mengagetkan Na Mi sampai amplopnya terjatuh. Na Mi pun buru-buru memasukan ke dalam saku bajunya.  Seorang ibu memanggil Jung Hee memintanya agar mendekat, Jung Hee terlihat senang dekat dengan ibu itu dan Na Mi pun hanya menatapnya. 

Jae Bok mengingat dengan klien sebelumnya “Aku pergi ke rumah gadis itu dan ingin membunuhnya.” Ia pun masuk ke sebuah gang, tapi menyadarkan dirinya keluar dari gang. Seorang nenek tiba-tiba menyapanya, Jae Bok menrasa kalau salah rumah.
“Kau pasti kesini untuk melihat pengantin barunya. Apa kau kakaknya? Kau mirip seperti suaminya... Ayo ikut aku. Kakakmu tinggal disini.” Ucap si nenek, Jae Bok ingin menyangkal tapi si nenek sudah mengajak masuk lebih dulu.
Si nenek menunjuk sebuah kamar yang ada dilantai satu,  Jae Bok sudah ada di depan pintu dengan kebingugan. Si nenek pikir Jae Bok itu tak tahu tidak tahu kodenya, lalu menyuruh agar menelp kakaknya. Jae Bong mengaku tahu lalu menekan angkanya, dan dikagetkan saat pintu terbuka,  dalam hatinya bergumam kalau kodenya sama dengan rumah mereka.  Si nenek pun menyuruh agar Jae Bong segera masuk. 

Jae Bong masuk ke dalam rumah yang cukup rapih, lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat poster milik suaminya, dibuat kaget karena poster ibu dibawa ke rumah itu. Lalu dikagetkan dengan bingkai foto suaminya yang terlihat mesra dengan Na Mi layaknya sepasang kekasih.
“Jung Hee... Bagaimana bisa kau melakukan ini?” ucap Jae Bong benar-benar penuh amarah
Teringat kembali dengan nasehat pada klienya kalau  tidak boleh terbawa emosi, harus jadi rasional dan tenang. Ia mengumpatmarah kalau tak ada yang peduli dengan jadi rasional karena akan membunuh mereka berdua. Tiba-tiba terdengar suara dari luar, Jae Bok pun panik menuruh kembali bingkai fotonya.

Jung Hee mengangkat telp sebelum masuk rumah, memberitahu sedang keluar kantor sekarang dan akan menelpon saat kembali, lalu mengajak Na Mi masuk rumah.
Jae Bok sudah bersembunyi dalam lemari pakaian dan melihat saat Na Mi yang masuk kamar binggung karena membiarkan lampunya menyala.  Jung Hee pikir Na Mi itu lupa lalu memeluknya dari belakang kalau menyukai hanya berduaan saja. Na Mi pun mengaku menyukainya.
Jae Bong dalam lemari menutup mulutnya karena melihat sendiri suaminya yang berselingkuh di depan matanya. Jung Hee merasa bersyukur karena Ibu Na Mi sudah tidak kritis lagi. Na Mi memeluk Jung Hee kalau semua ini berkatnya dengan air maata haru. Jung Hee pun tak ingin elihat Na Mi menangis lagi dan memberikan ciumanya, Jae Bok benar-benar tak percaya melihatnya.
“Shim Jae Bok..,apa yang kau lakukan disini? Apa kau melakukan kesalahan? Kenapa kau bersembunyi? Keluar dari sini!!! Keluar dari sini dan bunuh mereka. Dengan begitu aku takkan bersembunyi di tempat pertama.  Tapi Jika aku keluar sekarang, akan terlalu memalukan.” Gumam Jae Bok

Jung Hee berhenti mencium Na Mi karena mendengar sesuatu, tapi Na Mi tidak dengar apa-apa. Jung Hee yakin mendengarnya dan berpikir Mungkin ada kucing liar masuk. Ponsel Jung Hee berdering dari Tuan Joo, Jung Hee pikir akan menjawabnya di luar. 
Na Mi meminta agar Jung Hee tak perlu mengangkatnya karena hanya akan memarahinya lagi. Jung Hee pikir kalau Lebih baik ini ditangani segera lalu bergegas keluar.
Akhirnya Na Mi membuka lemari pakaian dengan memilih pakainya, Jae Bok terdiam seperti Na Mi tak sadar kalau ada orang dalam lemarinya. Na Mi akhirnya memandang ke arah bawah lemari dan melihat ada sosok wanita dalam lemarinya. Keduanya pun langsung kaget dan berteriak sangat keras. Jung Hee yang ada diluar mendengar suara teriakan dari dalam kamar.
Bersambung ke episode 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar:

  1. Aga pusing bacanya, krn byk kesalahan typo dll. Jd kdng hrs balik ke sebelumnnya krn ga jls yg di ceritakan tokoh A atau tokoh yg lain? Tolong diperbaiki, biar enak dan bisa bayangin critanya tuh kyk gimna si..makasi :)

    BalasHapus