PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 23 Agustus 2019

Sinopsis I Wanna Hear Your Song Episode 11

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

“Foto apa ini?” ucap Yi Young melihat foto dirinya dengan Kim Ian. Jang Yoon mengeluh  Ini sebabnya  tidak suka orang lain menyentuh barangnya.
“Tunggu... Jangan bilang bahwa aku pacarnya atau semacamnya. Itu Tidak benar, kan?” ucap Yi Young
“Kenapa kau menanyakan itu? Aku tidak tahu.” Kata Jang Yoon santai. Yi Young heran Jang Yoon yang sangat tenang.
“Itu foto Ian dan aku... Seolah-olah...” ucap Yi Young binggung. Jang Yoon ingin tahu Seolah-olah apa maksudnya.
“Apa kau tahu siapa aku sejak awal? Kau memiliki foto ini karena kau tahu Ian dan aku saling mengenal dan akrab. Benar, kan?” kata Yi Young curiga
“Ini kali pertamaku melihat foto ini...Kau harus mempercayai ucapanku.” Ucap Jang Yoon. Yi Young tak percaya begitu saja. 


“Buku yang berisi foto itu milik adikku. Aku tidak tahu cara menjelaskan ini. Tapi situasi ini telah terjadi berulang kali dalam setahun terakhir.” Kata Jang Yoon lalu memberikan sebuah kotak yang disimpan dalam lemari.
“Ian suka memotret, dan dia sangat ramah. Sejak kematiannya, foto-fotonya muncul sesekali. Dari buku dan tas... Seperti hari ini... Aku mengumpulkan semuanya karena tidak bisa membuangnya.” Jelas Jang Yoon
Yi Young sedikit percaya lalu melihat banyak foto Ian dengan pemain orkestra lainya.  Ia merasa mereka terlihat sangat akrab Tapi tidak mengingatnya dan membuatnya penasaran orang seperti apa Kim Ian baginya.
“Kuharap ingatanku tentang dia indah. Dengan begitu, aku bisa mengurangi rasa bersalahku di hadapanmu dan dia.” Ungkap Yi Young
“Tidak, kamu tidak perlu merasa bersalah di depanku.” Kata Jang Yoon akan menaruh foto dalam kotak.
“Tunggu... Boleh kusimpan foto ini?” kata Yi Young. Jang Yoon pun mempersilahkan. 

Jang Yoon membelikan sandwich dan minum, lalu mengejek Yi Youngselalu lapar. Yi Young teringat kalau tidak makan siang dan makan malam lalu dengan bahasa banmal meminta izin agar mengajukan satu pertanyaan untuk Jang Yoon.
“Aku selalu penasaran soal itu.” Ungkap Yi Young, Jang Yoon pun ingin tahu apa itu.
“Ian adalah adik kandungmu. Jadi, kenapa nama keluargamu berbeda?” tanya Yi Young penasaran.
“Saat usiaku 10 tahun, ibuku membawanya dan pergi dari rumah. Sejak itu, nama keluarganya ikut dengan nama keluarga ibunya.” Cerita Yi Young
“Saat usiamu 10 tahun? Kenapa kau tidak ikut ibumu?” tanya Yi Young, Jang Yon menjawab Karena ibunya tidak mau dirinya ikut.
“Apa kau Ingat saat kau bilang tidak punya keluarga? Aku juga tidak punya. Ayahku selalu sibuk, jadi, aku jarang bertemu dengannya. Aku sendirian saat upacara masuk SMP dan kelulusan SMA-ku.” Cerita Jang Yoon.
“Lalu Ibuku pergi dan Adikku meninggal. Aku memutuskan hubungan dengan ayahku. Setelah itu, aku menjalani hidupku dengan setengah hati. Suatu hari saat hujan, aku bertemu denganmu di depan toserba ini.” Ungkap Jang Yoon dengan wajah tersenyum. 
“Yoon... Kenapa kau tersenyum sambil bercerita hal yang menyedihkan?” kata Yi Young menunjuk ke arah wajah Jang Yoon yang tersenyum.
“Aku punya kerabat. Tapi kau tidak punya siapa pun. Kau hanya bocah berusia 10 tahun. Sungguh Malangnya.” Ungkap Yi Young mengelus bahu Jang Yoon. 



Yi Young menatap foto Yi Young dengan Kim Ian dan mengingat yang dikatakan Jang Yoon “Ini kali pertamaku melihat foto ini. Kau harus memercayai ucapanku.”
“Yang pasti, dalam ingatanku yang hilang selama tiga bulan, Kim Ian ada di dalamnya, dan entah bagaimana kami memiliki hubungan.” Gumam Yi Young
Yi Young mengingat saat pertama kali melihat foto Kim Ian yang membuatnya shock lalu bertanya  Siapa yang membunuhnya. Jang Yoon menjawab seseorang yang dicintai adiknya.
“Siapa yang dia cintai? Kenapa aku berfoto dengannya? Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia.” Gumam Yi Young. 

Jang Yoon melihat CD lagu Kim Su In lalu teringat dengan yang dikatakan Yi Young “Kenapa kau tidak ikut ibumu?” lalu Ia menjawab  Karena ibunya tidak mau dirinya ikut. Yi Young pun heran Jang Yoon tersenyum sambil bercerita hal yang menyedihkan.
“Aku punya kerabat... Tapi kau tidak punya siapa pun. Kau hanya bocah berusia 10 tahun.” Ucap Yi Young

Yi Young datang ke ruang latihan memberitahu anggota okrestra kalau Maestro Nam sudah selesai mengatur bagian mereka jadi  akan membagikannya sekarang dan meminta agar mereka periksa sebelum latihan. Beberapa orang mengeluh dengan apa yang akan dilakukan Joo Wan sekarang.
“Astaga, apa masalahnya? Aku kesal sekali... "Stakato lambat"? Apa Dia akan memutuskan teknik menggesek mana yang harus kita pakai? Ini konyol.” Komentar Semua anggota.
“Semoga berhasil, semuanya.” Ucap Yi Young hanya bisa memberikan semangat, sementara yang lain mengeluh karena mereka semua kesulitan.

Yi Young memberikan beberapa CD Kim Su In pada Nyonya Wang  Mi Hyang, Nona Wang tak percaya kalau Yi Young menemukan CD lagi. Yi Young mengaku  akan mendengarkannya lagi dan biasa mendengarnya berulang kali saat masih SMP.
“Melihat wajahnya membuatku bernostalgia. Kami pernah bekerja bersama.” Akui Nyonya Wang Yi Young tak percaya mendengarnya kalau mereka tampil bersama.
“Tidak juga. Tapi saat aku bergabung dengan orkestra, dia adalah pemain latar. Interpretasi Chopin-nya sangat indah. Tapi dia pensiun setelah menikah. Kami semua sedih.” Ungkap Nyonya Wang.
“Bagaimana sosoknya?” tanya Yi Young penasaran. Nyonya Wang menceritakan Nyonya Kim cantik, berbakat, dan agak pemilih.
“Dia seorang bintang saat itu. Tapi setelah menikah, dia tidak beruntung. Dia bercerai dan kehilangan putranya dalam kecelakaan. Kau mungkin tahu namanya. Namanya Kim Ian. Dia tampil bersama Asia Philharmonic tahun lalu.”unkap Nyonya Wang.
Yi Young kaget mengetahuinya. Nyonya Wang pikir Yi Young  tidak tahu Tapi menurutnya semua orang memang berhati-hati tentang itu dan Ada satu rumor menakutkan. Yi Young binggung apa maksud "Rumor yang menakutkan"
“Ya... Tentang bagaimana Ian dibunuh oleh ayahnya.” Kata Nyonya Wang berbisik. Yi Young kaget melihatnya. 
Yi Young melihat Jang Yoon sedang memainkan piano lalu melihat CD Kim Su In yaitu foto Ibu Kim Ian juga. Ia teringat kembali yang diceritakan Nyonya Wang sebelumnya.
Flash Back
“Sebelum insiden itu, ada rumor tentang Ian lahir di luar nikah. Saat dia meninggal tahun lalu, ayahnya menolak menerima belasungkawa, dan tidak ada banyak artikel tentang kematiannya. Setelah itu, ada rumor tentang dia menyamarkan pembunuhan itu sebagai kecelakaan untuk membalas dendam kepada istrinya. Dia salah satu pianis favoritku saat aku masih kecil.”
“Aku tidak percaya wanita itu adalah ibunya Yoon. Apa dia juga mengetahui rumor menakutkan ini?” gumam Yi Young menatap Jang Yoon dengan wajah sedih. Jang Yoon merasakan Yi Young yang menatapnya, dan Yi Young buru-buru mengalihkan pandanganya. 




Soo Young sudah menunggu didepan gedung latihan, Jang Yoon sedikit kaget melihat Soo Young tiba-tiba datang. Soo Young mengaku tak tahu nomor Jang Yoon jadi sengaja datang langsung dan meminta agar mengajak bicara dengan wajah sinis.
“Apa adikmu tahu kamu di sini?” ucap Jang Yoon. Soo Young malah bertanya balik apakah Jang Yoon ingin tahu adiknya tahu. 

Keduanya duduk dicafe, Soo Young menegaskan tidak akan bertele-tele jad ingin tahu kenapa berteman dengan Yi Young. Jang Yoon pikir apakah ia  harus punya alasan untuk ingin berteman dengan seseorang, karena mereka tinggal di lingkungan yang sama, jadi tidak sengaja bertemu beberapa kali dan akhirnya mereka menjadi teman.
“Hentikan omong kosong itu. Aku tahu kau sengaja mendekatinya. Kudengar kamu bilang padanya bahwa kau kakak Kim Ian. Apa Kau masih akan menyebut itu kebetulan?” ucap Soo Young sinis.
“Kenapa itu menjadi masalah? Sebenarnya aku penasaran tentang alasanmu jauh-jauh kemari untuk menanyakan ini padaku.Boleh aku bertanya padamu lebih dahulu? Kamu tahu adikku meninggal setahun lalu dalam kecelakaan mobil, kan?” ucap Jang Yoon.
“Yi Young bersamanya di mobil yang sama. Kamu tahu dia bersama Ian hari itu, kan?”kata Jang Yoon. Yi Young tak mengerti apa maksud ucapan Jang Yoon.
“Yi Young ditemukan pada tanggal, waktu, dan lokasi yang berbeda. Polisi bahkan bilang mereka tidak yakin jika dia bersamanya.” Tegas Soo Young membela
“Hanya berbeda satu hari. Mereka menemukan tas Yi Young di mobil Ian, dan kudengar kamu mengambil tasnya dari polisi.” Ucap Jan Yoon. Soo Young mengaku tidak mengerti apa yang dibicarakan.
“Ian mengalami luka tusukan. Apa kau tahu itu?” kata Jang Yoon. Soo Young pikir tak mungkin bisa mengetahuinya.
“Lalu kenapa kau menemuiku? Kenapa kau sangat terganggu karena aku berteman dengan Yi Young? Kenapa itu mengganggumu? Apa yang kau takutkan? Adikku meninggal. Dan Yi Young kehilangan ingatannya, tapi berhasil bertahan hidup.” Ucap Jang Yoon dengan nada tinggi.
“Yi Young satu-satunya saksi yang melihat semuanya hari itu. Kau seorang psikiater. Jadi, kau mungkin bicara dengannya tepat setelah kecelakaan itu. Apa menurutmu dia bisa saja membunuh adikku? Apa kamu takut dia ingat kejadian hari itu? Apa kamu khawatir sepupu tercintamu ternyata pembunuh?” ucap Jang Yoon
Soo Young tak bisa menahan emosi langsung menyiram wajah Jang Yoon dengan air minum. Ia mengaku menegaskan tak tahu alasan Jang Yoon melakukan ini jadi meminta agar menjaga jarak dari Yi Young dan Jika Jang Yoon dekat dengannya, makatidak akan tinggal diam.
“Kau harus camkan itu. Aku tidak seperti Yi Young.” tegas Soo Young keluar dari cafe, saat itu seseorang sengaja merekam dengan ponselnya. 




Yi Young masuk ruangan melihat Joo Wan sedang tertidur lalu mencoba membangunkan. Joo Wan tiba-tiba terbangun memegang tangan Yi Young, Yi Young kaget karena Joo Wan ternyata tersadar. Joo Wan tertawa melihat Yi Young tampak sangat terkejut.
“Ayo cari udara segar.” Ucap Joo Wan sambil merengangkan badanya. Yi Young binggung apakah sekarang harus pergi
“Partitur musik sialan ini membuatku pusing.” Keluh Joo Wan

Joo Wan menonton video latihan sambil berbaring diatas panggung lalu bertanya alasan Yi Young merekam sesi latihan itu. Yi Young mengaku tidak mau hanya diam saja di sana dan para penggemar akan suka jika sengaja  mengunggahnya di media sosial.
“Maestro Nam... Kau pernah bilang pernah tampil bersama Kim Ian saat menjadi anggota Asia Philharmonic? Apa kalian dekat?” ucap Yi Young. Joo Wan malah bertanya balik kenapa Yi Young menanyakan hal itu.
“Aku hanya ingin tahu pria seperti apa dia.” Kata Yi Young. Joo Wan ingn tahu alasan Yi Young tiba-tiba penasaran
“Itu bukan masalah besar. Kau ingat aku bertanya apa kamu mengenal Kim Ian saat kita mengunjungi rumah Konduktor Song beberapa hari lalu?” kata Yi Young

Flash Back
“Maestro Nam, omong-omong, apa kamu kenal Kim Ian?” tanya Yi Young saat melihat poster Kim Ian. Jang Yoon seperti sudah lama tak mengenalnya.
Joo Wan pun ingin tahu alasan Yi Young yang bertanya karena sungguh tidak mengenalinya. Yi Young mengaku sejujurnya, bertanya karena  sungguh tidak mengenalinya dan Joo Wan pasti  tahu mengalami kecelakaan mobil tahun lalu saat ada ditaksi.
“Itu terjadi saat kamu dalam perjalanan ke rumah Konduktor Song, kan?” ucap Joo Wan. Yi Young membenarkan.
“Aku tahu belum mengatakan ini, tapi sejujurnya, aku tidak ingat apa pun tentang kecelakaan itu. Tapi masalahnya, aku kebetulan juga tidak ingat apa pun tentang Kim Ian.” Cerita Yi Young.
“kau bilang "Kebetulan"? Bagaimana caranya?” kata Jang Yoon penasaran dengan wajah tegang.
“Itu... Masalahnya... Begini... Aku kebetulan menemukan fotoku dan Kim Ian. Kami terlihat sangat akrab. Tapi aku tidak ingat apa pun tentang dia. Ini memang bukan hal penting. Jadi Lupakan saja.” Ucap Yi Young tak ingin membebani.
“Ian adalah pria yang sangat baik. Dia ramah dengan semua orang. Dia selalu tersenyum Dan dia genius.”ungkap Joo Wan. Yi Young mengangguk mengerti.
“Jadi, kita kehilangan pria seperti itu.” Kata Yi Young, Joo Wan hanya diam saja. 



Jang Yoon masuk cafe, seorang pria menyuruh Jang Yoon duduk. Jang Yoon menatap sinis pada pria yang duduk dengan Choi Ki Sang. Tuan Jang Suk Hyun menyuruh Ki Sang agar membawakan menu yang sama. Ki Sang mengerti.
“Aku pekerja paruh waktu di sini. Jadi Aku tidak bisa duduk.” Ucap Jang Yoon.
“Ki Sang pemilik restoran ini Dan ayah bosnya. Jadi Duduklah.” Kata Tuan Jang. Ki Sang pun meminta izin agar mengambilkan  sebotol anggur lagi. Akhirnya Jang Yoon pun duduk.
“Ayah akan langsung ke intinya. Berhenti dari Shinyoung Philharmonic dan kembalilah ke Amerika. Kembali dan lanjutkanlah studimu.” Ucap Tuan Jang
“Untuk apa aku harus belajar lagi? Kurasa Ayah tidak tahu, tapi aku berhenti sekolah. Dan aku tidak bisa berhenti bekerja meskipun ingin. Ini caraku mencari nafkah.” Tegas Jang Yoon
“Apa menurutmu ayah kemari karena tidak punya pilihan lain? Berhentilah meributkan kematian Ian Dan berhentilah mengganggu Hong Yi Young. Berhentilah menggali masa lalunya.” Perintah Tuan Jang
“Kenapa? Apa Ayah merasa bersalah?” sindir Jang Yoon. Tuan Jang mengaku mengatakan ini demi kebaikan anaknya.
“Demi kebaikanku? Bisakah Ayah berhenti berbohong? Ayah hanya memperdulikan dirinya sendiri. Orang-orang akan tertawa jika mendengar perkataan Ayah. Organ-organ putra Ayah hancur dan tewas.” Kata Jang Yoon.
“Tapi Ayah bahkan tidak meminta autopsi. Ayah mengkremasinya tanpa mengadakan pemakaman yang layak. Ayah juga menghentikan polisi menyelidiki kecelakaan itu. Apa alasan Ayah?” sindir Jang Yoon.
Tuan Jang mengumpat Jang Yoon sudah gila,  dan menegaskan Jangan membuat untuk mengulangi perkataanya lalu mengancam  bisa dengan mudah menyingkirkan Shinyoung Philharmonic jika menginginkanya lalu akan berjalan pergi.
“Apa rumor itu benar? Rumornya Ayah yang membunuh Ian. Bagaimana jika aku tahu kebenaran di balik kematian Ian dan mengetahui kenapa dia tewas dan siapa yang membunuhnya? Apa Ayah juga akan membunuhku?” ucap Jang Yoon.
“Jika ayah bilang akan membunuhmu, apa kau akan berhenti? Jika memang begitu, akan ayah lakukan.” Kata Tuan Jang lalu berjalan pergi. 




Soo Young melihat video setelah Yi Young mengalami kecelakan dan kejadian buruk.
Flash Back
Soo Young mengajak Mereka membicarakan mimpi yang berulang kali Soo Young alami. Ia mengaku khawatir karena Yi Young  kesulitan tidur jadi meminta agar lebih santai saja dan beri tahu apa yang diingat. Yi Young seperti sedang di hipnosis.
“Apa saja boleh. Lagi pula itu hanya mimpi. Apa Kau memimpikan hal yang sama semalam?” tanya Soo Young. Yi Young mengaku membenarkan.
“Aku melarikan diri ke suatu tempat. Jalan yang gelap. Tidak ada banyak mobil Dan hujannya deras sekali, jadi, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Ada pisau di tanganku.” Ucap Yi Young
"Pisau"? Pisau apa?” tanya Soo Young penasaran. Yi Young mengatakan  Pisau yang sering mereka lihat di film.
“Yang bisa dilipat menjadi dua. Tapi... Tapi ada darah di tanganku. Ada darah di tanganku.” Ucap Yi Young.
Soo Young panik mendengar ungkapan Yi Young langsung menyalin video dalam USB tak ingin ada yang mengetahuinya lalu menghapus video dalam komputernya. 


Yi Young kaget mengetahui kalau Nyonya Hong akan melakukan Kencan buta untuknya bukan untuk Soo Young . Nyonya Hong tak ingin Yi Young membahas tentang Soo Young karena tidak percaya anaknya jatuh saat kencan butanya.
“Hei, Yi Young... Apa kau mau melihat fotonya?” ucap Nyonya Hong bergegas duduk disamping keponakanya memuji si pria yang tampan.
“Astaga, kau sangat tidak sabar... Biarkan dia bertemu langsung dengannya.” Kata Tuan Hong, Nyonya Hong pun menyetujuinya.
“Bibi, apa aku perlu berkencan buta? Aku belum menjadi anggota resmi orkestra itu.” Kata Yi Young
“Jangan membantah bibi. Luangkan akhir pekanmu. Jika tidak, bibi juga akan memutuskan hubungan denganmu.” Ucap Nyonya Yong mengancam. Yi Young pun tak bisa membantahnya.
*** 


Soo Young akhirnya pulang, Yi Young pun menyambutnya, Nyonya Hong berkomentar kalau anaknya pulang sudah cukup larut. Soo Young mengaku konsultasinya agak lama. Nyonya Hong pun mengeluh anaknya dokter. Tapi tidak mandi lebih dahulu.
“Ibu, aku lelah. Beri aku waktu sebentar.” Ucap Soo Young lalu mengambil buah dari tangan ibunya. Nyonya Hong mengeluh mendengarnya.
“Ibu harus mengambil lisensimu.” Keluh Nyonya Hong. Soo Young hanya bisa tersenyum bahagia
“Kak Soo Young, Apa Ingat di mana kecelakaan mobil itu terjadi tahun lalu? Apa Kau tahu lokasi kecelakaan itu?”tanya Yi Young. Soo Young panik ingin tahu alasan Yi Young menanyakan itu.
“Kukira kau bilang itu di suatu tempat di rute menuju Yongin. Aku ingin tahu apa kau mungkin salah. Aku ke tempat ini dengan Jang Yoon tempo hari. Tempat itu tampak sangat familier.” Cerita Yi Young
“Kalian pergi ke mana?” tanya Soo Young panik. Yi Young menjawab Di dekat Gapyeong.
“Di dekat Gapyeong? Di mana tepatnya? Apa kau sebodoh itu? Kenapa kau terus membiarkan pria menginjak-injakmu?” kata Soo Young marah
“Tentu saja tidak. Kubilang aku yang mau ikut.” Ucap Yi Young. Soo Young ingin tahu untuk apa Yi Young kesana.
“Sebaik apa kau mengenal pria itu? Bagaimana jika dia orang jahat?” teriak Soo Young marah. Yi Young bingung melihat Soo Young yang tiba-tiba marah.
“Dia bukan orang jahat.” Ucap Yi Young yakin. Soo Young pikir Yi Young tak akan tahu dengan nada tinggi.
“Kenapa kau membentak dia? Jangan berteriak di rumah ayah.” Ucap Tuan Hong membela Yi Young
“Berhati-hatilah di dekat pria. Mengerti?” tegas Soo Young. Yi Young pun menganguk mengerti.
Nyonya Hong binggung melihat sikap anaknya lalu bertanya pada Yi Young apakah sudah punya pacar. Yi Young kebingungan menjawabnya. Tuan Hong pikir istrinya memang tidak peka. Nyonya Hong mengeluh kalau ia juga tak boleh mengatakan itu. 


Eun Joo baru saja keluar dari tempatnya berkerja melihat Joo Wan sedang menunggu sambil membawa sebuket bunga.  Ia pun mnedekat bertanya Bagaimana Joo Wan tahu kalau sedang mengajar di sini dan tidak pernah bertanya.
“Aku mendapatinya saat ingin tahu.” Ungkap Joo Wan. Eun Joo mengaku  membenci bunga. Joo Wan mengaku juga tak suka tapi tetap memberikan buket bunganya. 

Akhirnya keduanya pulang ke rumah, Joo Wan menuangkan wine. Eun Joo memberitahu kalau sudah ke rumah sakit. Yang direkomendasikan untukknya. Joo Wan memujinya.  Eun Joo pikir bisa menghadiri sesi latihan.
“Tidak apa-apa meski aku bukan violinis pertama. Aku akan senang berada di orkestra, jadi, biarkan aku bermain.” Ucap Eun Joo
“Aku tidak bisa membiarkanmu. Ini bukan pertunjukan terakhirmu. Kenapa kau sangat keras kepala?” keluh Joo Wan
“Ini akan menjadi konser pertamamu sebagai konduktor orkestra. Aku sangat ingin bermain.” Komentar Eun Joo. Joo Wan mengejek apakah hanya itu saja.
“Jangan mentertawakanku. Itu penting bagiku.” Keluh Eun Joo kesal dan sedih
“ Jika kau berjanji akan menjalani pengobatan sampai kau sembuh. “ ucap Joo Wan. Eun Joo berjanji dan mereka pun minum bersama
“Aku sangat khawatir. Kukira kau marah kepadaku. Kau pikir aku memperlakukanmu seperti pembunuh pada hari itu.” Ucap Eun Joo.
“Aku tidak marah. Aku hanya sedih. Itu artinya selama ini kamu mencurigaiku. Kau melihatku pergi ke suatu tempat bukannya ke pesta. Tapi kau tidak pernah menanyakanku ke mana aku pergi. Aku tidak menyalahkanmu. Jangan terlihat terlalu gelisah.” Ucap Joo Wan
“Ada pertanyaan lagi? Jika ada, tanyakan sekarang. Aku akan menjawab semuanya.” Ucap Joo Wan. Eun Joo mengaku tidak punya pertanyaan. Lagi pula, hanya itu yang diketahuinya.
“Sebenarnya, akhirnya aku menemukan sesuatu yang aneh.” Akui Eun Joo, Joo Wan ingin tahu "Sesuatu yang aneh" seperti apa.
“Maestro Nam, omong-omong, apakah kau tahu bahwa Kim Ian punya seorang adik?” tanya Eun Joo penasaran. Wajah Joo Wan terlihat tegang. 



Yi Young melihat Jang Yoon duduk didepan rumah. Jang Yoon mengeluh kalau Ini sudah larut jadi sudah menunggu cukup lama. Yi Young tak percaya kalau Jang Yoon menunggunya. Jang Yoon mengaku tak ada masalah apapun tapi hanya merasa sedih.
“Kukira kita bisa menghabiskan waktu.” Ucap Jang Yoon. Yi Young pun setuju.
Mereka pergi ke bermain tembak-tembakan, melampiaska masalah setelah itu memecahkan semua barang dengan pemukul baseball. Seperti keduanya bisa terlihat lega karena melampiaskan emosi dengan membanting barang. Setelah itu mereka minum bersama.
“Ini Nikmat.” Ungkap Jang Yoon, Yi Young mengikuti ucapan Jang Yoon seperti beo.
“Kenapa kau meniruku?” keluh Jang Yoon, Yi Young tetap menirukanya.
Yi Young pulang ke rumah melihat kembali foto bersama dengan Kim Ian.
“Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepadanya hari ini. Tapi aku tidak bisa menanyakan apa pun kepadanya karena aku sangat menikmati malam musim panas kami bersama.”gumam Yi Young

Ia melihat kembali "Nomor Pribadi" di ponselnya,  akhirnya berani mengangkatnya dan bertanya Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kau terus menelepon...” saat itu hanya terdengar suara lagu di telp lalu ditutup. Pria yang sebelumnya pergi ke sebuah bar dengan piringan hitam.
“Harganya tujuh dolar. Aku sering melihatmu belakangan ini. Apa kau baru pindah ke area ini?” ucap Pemilik bar
“Masih kupertimbangkan.” Kata si pria dan terlihat ada luka dibagian tangan, seperti supir truk yang menabrak Kim Ian.
Bersambung ke "Episode 12"

 Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar