PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 12 Agustus 2019

Sinopsis Hotel Del Luna Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Chan Sung masuk ke dalam gedung hotel del luna tapi semua kosong dan tak ada meja receptionis. Ia hanya bisa terdiam seperti merasakan apa yang dikatkan Man Wool sebelumnya
Flash Back
“Disiksa bersama, tidaklah menyenangkan. Apa yang kubawa hanyalah siksaan. Selamat tinggal... Koo Chan Sung.”ucap Man Wool
Chan Sung terlihat sedih karena Man Wool sudah pergi lalu keluar dari gedung. Tiba-tiba seorang anak masuk ke dalam gedung, Chan Sung kaget karena sebelumnya hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat bangunan.
“Apa Kau bisa lihat itu?” tanya Chan Sung. Si anak mengangguk, kedua orang tuanya datang meminta maaf karena anaknya menganggu.
“Aku tak tahu tempat seperti ini ada di Myeong-dong.” Komentar Si ayah, Istrinya pun baru menyadarinya. Chan Sung hanya bisa terdiam karena semua orang bisa melihat bangunan Hotel. 


Man Wool melihat dari teropongnya, Chan Sung terlihat kebingungan karena kehilangan Man Wool dan hotel. Tuan Kim ikut melihat berkomentar kalau Chan Sung  pasti sangat bingung, karena sudah bekerja bersama mereka.
“Bukankah setidaknya kau tinggalkan pesan?” ucap Tuan Kim., Man Wool pikir Alih-alih meninggalkannya pesan, tapi beri sesuatu yang lain.
“Kuberi dia uang pesangon dan pemberitahuan pemecatan.” Kata Man Wool teringat saat terakhir kali menatap Chan Sung yang tak sadarkan diri.
“Sepertinya kau hanya menganggapnya sebagai manusia ke-99 yang bekerja untukmu.” Ucap Tuan Kim
“Tidak, Koo Chan Sung istimewa. Aku benci menjadi lemah hati. Aku berusaha menjadi lebih kuat.” Ucap Man Wool
“Aku belum pernah mendengar kata-kata sentimental darimu... Ini kali pertama dalam 500 tahun.” Ucap Tuan Kim
“500 tahun? Apa sudah selama itu kau meninggal? Apa yang kau lakukan di sini selama 500 tahun?” ejek Man Wool
“Aku seharusnya tak mendengar itu dari hantu yang sudah di sini dua kali lebih lama.” Ejek Tuan Kim
“Aku tak bisa pergi karena terikat dengan Pohon Bulan.” Balas Man Wool
“Aku tak bisa pergi karena masih punya rasa malu untuk dibersihkan di dunia ini. Aku tak bisa menghadapi leluhurku di Alam Baka seperti ini.” Ucap Tuan Kim
“Bahkan jika kau pergi ke Alam Baka, kau tak akan bertemu leluhurmu. Mereka pasti sudah bereinkarnasi beberapa kali. Kau tak perlu khawatir.” Kata Man Wool
“Aku bisa tetap di hotel dan terus khawatir.Tapi apa kau akan baik-baik saja seperti ini? Apa kau akan baik-baik saja melepaskan kesempatanmu pergi ke Alam Baka melalui Manager?” ucap Tuan Kim
“Aku tak akan menyerah begitu saja. Kedepannya, cobalah untuk mempercepat dan menjaga rasa malumu yang tersisa dalam hidup ini. Tak ada banyak waktu. Jika tak bisa kau selesaikan, naiklah bus ke Alam Baka tanpa penyesalan.”ucap Man Wool
Ia bertanya tentang keadaan tamu sekarang apakah sudah mengirimnya dengan baik. Tuan Kim menjawab mereka memindahkan emau dengan bantuan dari pemandu kematian.



Flash Back
Tuan Kim berbicara pada arwah yang sudah berbaris rapih memberitahu  Meskipun ada beberapa kebingungan karena mendadak jadi menyuruh para arwah yang tak memiliki penyesalan bisa pergi sekarang dan naik bus lewat yang ada disamping mereka.
“Kalian yang tak bisa pergi karena penyesalan. Harap bersiap di sini.” Ucap Tuan Kim
“Kalian Tak boleh bingung. Sesudah naik bus, kau tak bisa kembali.”tegas Malaikat Maut.
“Apa kau pergi ke Alam Baka?” tanya Tuan Kim pada hantu wanita. Si hantu mengatakan  Anak tertuanya kuliah dan baik-baik saja sekarang jadi akan pergi sekarang.
“Kau pergi untuk membangunkan putramu dalam mimpinya setiap pagi. Syukurlah dia akhirnya kuliah. Semoga perjalananmu menyenangkan.” Ucap Tuan Kim
Si hantu pun naik ke bus untuk pergi ke alam baka,  didepan terlihat papan pilihan alam baka atau alam dunia. Si pria dengan laptopnya sedikit menyelak, Nyonya Choi meminta agar harus mengantri. Si hantu pria mengaku tak bisa memutuskan apa akan pergi ke alam baka atau tinggal di sini.
“Apa kau menyelesaikan novel yang sedang kau kerjakan?” tanya Nyonya Choi
“Tidak, tak bisa kuselesaikan saat masih hidup. Sepertinya tak bisa kuselesaikan saat meninggal. Aku lebih baik pergi.” ucap Si hantu lalu naik bus.
“Tapi Haruskah aku tinggal dan menulisnya?” kata Si hantu tiba-tiba berubah pikiran.
“Tamu ini tak bisa mengambil keputusan.” Bisik Tuan Kim. Nyonya Choi yakin pria itu tak akan bisa pergi.
“Ini Bukannya tak bisa selesaikan novelnya. Dia hanya bisa pergi saat menyerah atas apa yang tak bisa dia lakukan.” Kata Nyonya Choi
“Bus ini menuju Alam Baka. Kalian harus tepat memilih keputusan. Kalian tak bisa kembali.” jelas Tuan Kim mengingatkan. 



Tuan Kim memberitahu Man Wool  Beberapa staf naik bus ke Alam Baka. Jadi akan rehat untuk sementara waktu. Man Wool menyuruh agar para staf untuk pergi ke Alam Baka juga.
“Kenapa kau bersikap seolah-olah akan menutup hotel? Kita sudah pindah ke tempat baru sehingga perlu menemukan manajer manusia baru.” Ucap Tuan Kim
“Tak diperlukan... Kita punya Yoo Na. Apa mereka memindahkan semua barangku?” kata Man Wool
“Pintarnya, si Pilihan Ke-4 memanggil Jasa Pindahan dan mengurus semua barangmu.”ucap Tuan Kim bangga dan akan naik mobil
“Kau Mau apa? Kau harus mengemudi.” Ucap Man Wool menahanya, Tuan Kim mengaku pernah menunggang kuda, tapi belum pernah mengendarai mobil.
“Apa Kau belum belajar mengendarai mobil selama 500 tahun?” ucap Man Wool heran.
“Kaulah hantu aneh yang mengendarai mobil.” Komentar Tuan Kim lalu masuk mobil memakai sabuk pengaman.
Man Wool melihat Tuan Kim memakain sabuk pengaman teringat kembali dengan Chan Sung. Saat naik mobil, Chan Sung tak bisa menahan tawa, Man Wool bertanya Kenapa tertawa dengan tatapan sinis.  Chan Sung mengaku sangat Lucu melihat hantu mengenakan sabuk pengaman.
“Aku suka ini mobil terbuka... Ini adalah kali pertama kunaiki Pony 2-mu. “ ucap Tuan Kim
“Sepertinya kau menyukai hal mewah.” Ejek Man Wool, Tuan Kim menyuruh Man Wool agar cepat naik dan berangkat lalu seperti berteriak akan menunggang kuda. Man Wool hanya bisa mengumpat kesal. 




Yoo Na naik mobil bak terbuka tak percaya kalau Tempat baru di pinggiran, dengan senyuman sumringah kalau ini kesempatan yang bagus karena seperti pergi piknik. Si sopir binggung dengan Yoo Na yang berbicar sendiri.
“Aku sedang berbicara di telepon. Kau Ikuti saja navigasinya.” Ucap Yoo Na menunjuk ke arah earphonenya. Si sopir menganguk mengerti.
Saat itu terlihat Hyun Joong yang duduk di tengah sambil memegang sesuatu. Yoo Na pikir lebih baik mendapatkan SIM untuk mulai bekerja. Tapi Hyun Joong menyuruh agar Yoo Na Fokus bersekolah saja. Yoo Na memberitahu Liburan musim panas sudah dimulai.
“Aku juga akan segera lulus. Orangtuanya bilang, mereka akan membelikanku mobil jika kuliah. Bahkan Aku memiliki apartemen atas namaku juga. Aku akan punya rumah sendiri segera setelah lulus.” Ucap Yoo Na
“Sulit untuk tinggal bersama orang tuanya, 'kan?” ucap Hyun Yoong ikut sedih. Yoo Na mengaku hanya membalas untuk si super sialan itu lalu mulai minum
“Apa Kau ingin minum?” ucap Yoo Na menawarkan minum pada Hyun Joong, tapi si sopir pikir itu Yoo Na menawarkan untuk dirinya hanya bisa melonggo. 
Yoo Na terlihat binggung, Si sopir menolaknya. Hyun Joong hanya bisa menahan tawa karena Yoo Na pasti dianggap aneh. Saat itu sebuah mobil lewat disamping mobil box, lalu Yoo Na melihat hantu yang duduk dibangku belakang. Hyun Joong bertanya ada apa.
“Ada seorang wanita di mobil depan kita.” Ucap Yoo Na panik, Hyun Joong langsun menutup mata Yoo Na.
“Jangan lihat.. Dia bisa berbahaya bagimu.” Kata Hyun Joong, saat itu terdengar suara di radio “Bantu aku... Bantu aku... Bantu aku.” 
Sopir binggung langsung mencoba menekan radio karena terlihat binggung., Hyun Joong memberitahu Ada banyak arwah dalam hidup ini dan meminta agar Jangan terlalu khawatirkan mereka.
“Aku seharusnya menjadi manajer Hotel Del Luna. Ayo kita ambil arwah itu sebagai tamu kita.” Ucap Yoo Na pada Hyun Joong.
“Ahjussi... Mobil abu-abu yang baru saja melewati. Bisakah kau mengejarnya?” ucap Yoo Na pada sopir. Sopir terlihat binggung.
“Aku akan bayar 2x lipat... Bisakah lebih cepat?” kata Yoo Na. Sopir menganguk setuju.
“Kau akan mendapat masalah dengan ketua. Kau bahkan bukan manajer hotel.” Kata Hyun Joong, Yoo Na tak peduli menyuruh agar cepat mengejar mobil yang ada didepanya. 



Di Toko Obat, Chan Sung masuk ke dalam bertemu dengan Ma Go, Ma Go bertanya Apa Chan Sung mencari Hotel Del Luna. Chan Sung kaget Ma Go sudah tahu kalau Hotel itu pindah dan pasti tahu ke mana pindahnya. Ma Go malah bertanya lagi jika memang tahu apa Chan Sung akan mencarinya lagi.
“Kau hampir meninggal karena Jang Man Wool. Aku dengar, kau mendekap kutukan kuat itu. Jika kau tak melepasnya, jiwamu akan terluka. Koo Chan Sung, lepaskan.” Ucap Ma Go
“Jang Man Wool melindungiku... Aku baik-baik saja.” Kata Chan Sung yakin
“Berkatmu Jang Man Wool baik-baik saja. Kaulah yang melindunginya. Kakakku memilih orang yang tepat. Jadi, terus lakukan pekerjaan baikmu.” Ucap Ma Go
“Apa aku dikirim ke hotel untuk tujuan itu? Ketika nasib buruk datang padanya dari masa lalu, apa aku harus menghalanginya?” tanya Chan Sung marah
“Kau berhasil menjalankan misimu. Kenapa kau marah? Apa kau merasa kasihan pada Man Wool yang kau lihat dalam mimpimu?” ucap Ma Go
“Benar. Aku merasa marah kau memujiku karena tak memihak. Dia menelantarkanku karena menghalangi jalannya. Apa kau menyuruhku untuk terus menghalangi jalannya?” kata Chan Sung
“Bagus untuk memihak tapi Menghambat tak bagus. Semua orang ingin berperan sebagai pendekap dan menghiburnya. Peran lusuh penghalang, bertahan, dan memohon hanya bisa dilakukan oleh orang yang baik.”ucap Ma Go
“Jangan melebih-lebihkan. Aku tak ingin mengambil peran yang tak diinginkan siapa pun. Aku bukan orang baik.” Kata Chan Sung
“Begitukah? Maka, kau bisa berhenti dan Makan saja ini.” Kata Ma Go memberikan sebuah obat. 


Chan Sung bertanya apa itu, Ma Go memberitahu kalau itu Obat itu akan menghilangkan kemampuan Chan Sung melihat hantu, jadi tak akan melihat arwah dan Hotel Del Luna lagi. Chan Sung mengartkan kalau tak akan bisa melihat mereka semua.
“Dia menelantarkanmu juga. Aku harus memberimu kesempatan untuk menelantarkannya juga. Terkadang, kita bisa sangat adil.” Ucap Ma Go.
“Aku datang ke sini untuk menemukan dia. Tapi kau memberi cara untuk tak pernah kembali.” kata Chan Sung
“Hasilnya tak diberikan oleh para dewa. Hasil dibuat oleh manusia. Hasil selalu sama.” Ucap Ma Go
“Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini.” Kata Chan Sung, Ma Go menahan Chan Sung agar makan obat itu sekarang Tanpa membayangkannya.
“Apa kau pikir aku tak akan memakannya sesudah membayangkannya? Apa Karena aku adalah orang yang baik? Sudah kubilang. Aku tak cukup baik menjadi sukarelawan hanya untuk mengambil peran yang buruk. Aku masih ragu hanya karena dia orang yang kusukai.” Akui Chan Sung
“Memeluk dan menghiburnya tak cukup baginya. Dia wanita yang buruk. Dia menelantarkanku karena aku menghalangi jalannya. Bahkan jika kembali, dia tak akan menyambutku. Dan tak pernah tahu kapan dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya lagi.” Jelas Chan Sung
“Tapi aku akan pikirkan jika aku sangat menyukainya, aku bisa berlari kembali dan memohon padanya untuk menerimaku.” Ucap Chan Sung lalu berjalan pergi. Ma Go hanya terdiam menatap Chan Sung. 



Di depan hotel baru, Man Wool berkomentar  Jika sudah tua, setidaknya harus terlihat antik. Jika masih kecil, setidaknya harus terlihat menggemaskan, Tapi menurutnya tak peduli seberapa banyak melihat  tempat baru tetap saja terlihat sangat mengerikan.
“Ini adalah satu-satunya lahan yang bisa kita beli dengan dana sekecil itu. Tapi ada pemakaman di atas bukit sana. Tanahnya gelap dan lembab, jadi sangat bagus.” Jelas Nyonya Choi
“Dan tempat ini airnya yang luar biasa, sehingga terkenal dengan anggur beras juga. Mengingat ketika kau miskin dan kelaparan saat kau menjalankan Sanggarloka Man Wool, kau selalu minum anggur beras dengan kimchi lobak, apa kau ingat? Anggur beras itu dibuat di sini.” ucap Tuan Kim
“Jadi Berhentilah bicarakan waktu itu. Bangunannya terlihat sangat jelek. Aku mulai merasa miskin seperti dulu.” Ucap Man Wool kesal
“Bagaimanapun, udaranya benar-benar segar, bahkan Tak ada debu halus di sini.” Ucap Tuan Kim
“Debu halus? Jika ada, kau bisa menghirupnya? Aku tak percaya hantu bicarakan air dan udara segar.” Keluh Man Wool akhirnya masuk ke hotel.
Man Wool akhirnya mensugesti dirinya kalau bisa mengabaikan bagian luar karena semuanya sama begitu masuk ke dalam, lalu mengajak mereka segera bergegas masuk ke dalam hotel yang baru. 


Saat masuk Man Wool mencoba mengukur dengan fokus ditanganya, lalu berkomentar kalau Lobi terlihat sedikit lebih kecil. Nyonya Choi pikir Terlihat sama dan itu hanya imajinasi Man Wool saja. Tuan Kim memberitahu Orang-orang yang dikirim dengan cepat ke Alam Baka mengeluh.
“Kita tak bisa memekarkan cukup bunga di kebun, tentu saja, kita menjadi lebih miskin.” Kata Tuan Kim
“Sebentar lagi pertengahan bulan, jadi kita akan kedatangan lebih banyak tamu. Kita memiliki lokasi yang bagus.” Ucap Nyonya Choi menenangkan.
“Aku haus. Aku akan berada di kebun sambil memandangi Pohon Bulan. Jadi Bawakan sampanye.” Kata Man Wool
“Tak ada sampanye karena barang-barangmu belum tiba.” Ucap Nyonya Choi. Man Wool berteriak kaget.
“Kenapa mereka belum tiba? Apa mereka bermalasan di tempat lain?” teriak Man Wool marah
“Kenapa kita tak minum anggur beras sekali saja? Ayo kita mengingat masa lalu kita.” Ucap Tuan Kim. Nyonya Choi menahan tawanya.
“Barusan kubilang, jangan bicarakan masa itu. Kau lupa apa yang baru saja kukatakan. Tuan Kim.. Mungkin itu karena kau lupa dendammu selama 500 tahun? Seperti ikan mas.” Ejek Man Wool dengan wajah mendekat
“Ikan mas? Aku seorang sarjana yang lulus ujian negara. Aku bisa menjadi bangau yang anggun, bukan ikan mas.” Kata Chan Sung 
“Bangau? Baik bangau dan ikan mas sama-sama bodoh.” Ucap Man Wool lalu berjalan pergi. 


Tuan Kim tak bisa terima kalau dianggap bodoh, lalu mengeluh kalau tak percaya wanita tak berperasaan dan jahat itu. Nyonya Choi meminta agar menahan diri, menurutnya memang  Bagian luar hotel ini terlihat jelek, jadi Man Wool pasti sedikit lelah.
“Jang Man Wool hanya terlihat cantik dari luar. Tapi yang ada Dalamannya benar-benar buruk. Dia memecat Manager Koo,  dan bahkan memanggil manusia untuk melakukan sesuatu yang mencurigakan.” Komentar Tuan Kim
“Bukankah dia memecat Manager atas apa yang terjadi saat itu?” kata Nyonya Choi
“Dia bilang, dia memecatnya karena takut dia lelah.” Ucap Tuan Kim. Nyonya Choi pikir khawatir Man Wool akan melakukan sesuatu yang berbahaya lagi.
“Tak ada manusia yang menghentikannya lagi. Jadi, Manager Koo tak bisa melihat arwah lagi?” kata Manager Choi. Tuan Kim mendengar kalau Man Wool yang bilang begitu.
“Sepertinya, dia memberikan pakaian besar-besaran ke Ma Go.” Ucap Tuan Kim kesal lalu masih tak terima kalau dianggap Ikan mas. 

Man Wool berdiri dengan Ma Goo di depan pohon, Ma Go berkomentar kalau mengira mereka semua akan berguguran sesudah pindahan tapi mereka masih ada. Man Wool bertanya apakah Ma Go  memastikan bahwa Ku Chan Sung tak bisa melihat arwah lagi.
“Aku memberinya obat. Jika dia memakannya, maka dia tak akan melihat arwah lagi.” Ucap Ma Go. Man Wol pikir itu Bagus.
“Kuikuti caramu karena kau meminta dengan baik untuk kali pertama. Tapi yang putuskan akan minum obat atau tidak adalah dia. Apa yang akan dia lakukan?”Kata Ma Go dengan nada mengejek.
“Apa menyenangkan? Selagi aku baik, biarkan aku meminta bantuan lain. Bisakah kau gugurkan bunga-bunga ini?” ucap Ma Go
“Aku tak bisa melakukan apa-apa. Itu yang kau rasakan. Bunga ini bermekaran karena kau. Tunasnya terlihat sangat cantik. Aku akan merasa sangat bersalah jika bunga mereka tak bermekaran.” Kata Ma Go
“Jangan berharap. Kau tak akan melihat bunga. Jangan bermimpi melihat bunga di sini. Tak ada yang berubah bahkan di malam hari.” Tegas Man Wool lalu berjalan pergi. 


Chan Sung pergi ke hotel menatap kotak ditanganya teringat yang dikatakan Ma Go padanya. “Minumlah obatnya. Maka kau tak akan melihat hantu atau Hotel Del Luna lagi.” Ia menginga terakhir kali bertemu dengan Ma Go di taman hiburan.
“Apa ini mengerikan? Lalu, kaburlah, Koo Chan Sung.” Ucap Man Wool. Chan Sung hanya bisa diam saja.
Saat itu terlihat seperti kunang-kunang lalu membentuk bayangan didepan jendela. Chan Sung pikir hantu itu mencari hotel lalu memberitahu kalau Hotel Del Luna sudah tak ada lagi. Ia mengaku  ingin membawa ke sana, tapi tak bisa pergi ke sana lagi. Tiba-tiba pintu terbuka.
“Maaf... Apa kau manusia?” ucap Chan Sung panik melihat pria masuk ke dalam hotel.
“Apa aku terlihat seperti hantu?” keluh si pria dan Chan Sung pun bertanya siapa pria itu.
“Aku dari kantor real estat. Aku datang mengambil foto untuk dijual di situs web kami.” Ucap Si pria. Chan Sung kaget mendengar hotel akan Dijual.
“Apa Mereka akan menjual tempat ini?” tanya Chan Sung. Si pria membenarkan dan memastikan apakah ada masalah.
“Ya, ada banyak masalah di tempat ini.” Ucap Chan Sung dengan wajah serius. 


Di dalam kamar, Man Wool memilih-milih baju lalu mengeluh karena tak memiliki apapun untuk dipakai. Sementara Nyonya Choi menerima telp dengan wajah tegang memberitahu Man Wool  kalau baru saja. mendapat telepon dari agen real estate.
“Dia bertanya apa kau membayar pajak warisan.” Ucap Nyonya Choi, Man Wool kaget apa maksud pajak itu.
“Jika kau tak membayar itu, mungkin ada masalah dengan pajak perpindahan.” Kata Nyonya Choi
“Aku tak begitu yakin apa yang dia katakan. Bagaimana aku tahu?” keluh Man Wool. Nyonya Choi mengusulkan untuk menelp Chan Sung.
“Sudahlah. Bagaimana bisa kita mengubungi dia. Lalu Apa ada hantu yang mengerti soal ini?” tanya Man Wool. 

Di sebuah ruang kerja, seorang hantu memeriksa semua berkas. Nyonya Choi memberitahu kalau pria itudulu bekerja di firma hukum terbesar di Korea, Jang & Young Kemudian meninggal karena kelelahan bekerja dan dulunya dia pengacara yang sangat kompeten.
“Jang & Young... Jadi, apa masalahnya? Apa masalahnya dengan pajak warisan?” tanya Man Wool
“Mendiang No Jun Seok meninggalkan gedung untukmu, Jang Man Weol. Dan dia menyiapkan semua dokumenmu untuk membayar pajak warisan. Kau bisa mengubahnya.” Ucap Si pria.
“Dengan apa?” tanya Man Wool bingung. Si pria bertanya apakah Man Wool tak menyiapkan sesuatu. Man Wool mengaku tak tahu.
“Orang yang menyiapkan itu tak ada. Aku tak tahu bagaimana dan apa yang dipersiapkan orang itu.” Ucap Man Wool
“Kau berencana menjual tanahmu untuk membayar pajak-pajak itu Dan kau harus membayar pajak warisan, pinjaman keamanandan pajak perpindahan. Ayo kita lihat, Tak akan tersisa banyak sesudah menjual tempat itu.” Ucap Si pria.
“Kenapa? Itu tanahku. Katanya tempat itu sangat mahal. Jika kujual, kenapa tak ada sisanya?” kata Man Wool marah
“Begitulah cara kerja pajak. Kau harus membayar pajak warisan dan menanggungnya” jelas Si pria lalu tiba-tiba tak sadarkan dir.
“Jang & Young. Apa yang kau lakukan? Kau harus mengurus ini.” Teriak Man Wool mencoba menyadarkan dengan terus berteriak.
“Dia meninggal karena kelelahan bekerja. Dia pingsan jika membaca apa pun selama lebih dari lima menit.” Jelas Nyonya Choi
“Situasi konyol macam apa ini? Dasar Sial.” Kata Man Wool kesal sendiri. 



Si  pria akhirnya meminta agar Nyonya Choi untuk bisa menelpnya lagi. Nyonya Choi ingin tau bagaimana tahu soal pajak warisan. Si pria mengaku datang untuk melihat bangunan dan bertemu seseorang dengan nama Koo Chan Sung.
“Dia di sini bersamaku sekarang.” Ucap si pria. Nyonya Choi kaget mendengarnya.
“Bisakah aku berbicara dengannya?” kata Nyonya Choi, Sementara Man Wool membaca semua surat sambil mengeluh kalau itu orang korea yang menuliskanya.
“Ketua , kenapa kau tak berbicara dengannya secara langsung? Aku tak tahu apa yang dia bicarakan.” Ucap Nyonya Choi
“Dan apa kau pikir aku akan tahu?” kata Man Wool kesal lalu mengambil  ponsel dari tangan Nyonya Choi. 

Man Wool berbicara pada penjual realestate meminta agar menelaskan secara ringkas dan sederhana dan ingin tahu Berapa banyak yang akan didapatkan lalu memperingatkan agar Jangan mencoba menipunya, karena  memiliki karyawan berbakat yang mendapat gelar MBA dari Harvard.
“Tapi kau memecatku.” Ucap Chan Sung. Man Wool kaget kalau sedang berbicara dengan Chan Sung.
“Kau tak tahu apa-apa soal pajak warisan atau pajak perpindahan, kan? Kenapa kau memecat karyawan berbakatmu?” ucap Chan Sung.
“Kenapa kau di sana? Apa kau direkrut oleh si Pria real estate?” keluh Man Wool
“Aku datang ke sini karena bingung sesudah dipecat tiba-tiba. Kau pasti menyesal memecatku. Jika kau memintaku untuk kembali, maka aku bisa segera ke sana.” Ucap Chan Sung
“Katakan ini pada si Pria real estate,  Dia harus mengusir siapa pun yang tak terkait, dan kunci tempat itu dengan baik.” Kata Man Wool. Chan Sung mengerti.
Nyonya Choi berpura-pura tak tahu bertanya apakah Chan Sung ada di sana, lalu merasa pasti mencari mereka sepanjang malam. Man Wool hanya mengembalikan ponsel pada Nyonya Choi dengan dudukk didepan papan nama Koo Chan Sung.
“Bahkan jika dia menelepon balik, katakan padanya untuk menelepon saat dia sudah meninggal.” Ucap Man Wool
“Dasar Hyun Joong dan Yo Na sialan! Periksa apa mereka sedang dalam perjalanan.” Teriak Man Wool kesal. Nyonya Choi menganguk mengerti.


Man Wool menatap sepatu didalam ruangan, teringat sata pertama kali memberikan sepatu hitam putih. Chan Sung menolaknya karena itu bukan seleranya. Man Wool akhirnya menyuru Chan Sung agar mengenakan sepatu cokelat noraknya dan pergi bekerja di hotel biasa
“Koo Chan Sung... Aku harus mengunci, jadi silakan pergi.” ucap si pria real estate. Chan Sung pun dengan wajah sedih meninggalkan bekas hotelnya. 

Yoo Na memasuk ke dalam hutan dengan wajah binggung menanyakan keberadaan mereka sekarang.  Paman pikir mereka tersesat saat mengejar mobil lain Bahkan GPS tak dapat mendeteksi jalan ini.  Yoo Na pun bertanya-tanya keberadaan mereka sekarang.
Tiba-tiba sopir melihat seorang pria didepan mobil mobil dengan wajah menyeramkan dan langsung menginjak rem. Yoo Na  kaget bertanya kenapa berhenti. Paman mengaku melihat seseorang di tengah jalan tapi tak ada, Hyun Joong lalu menunjuk hantu yang bersembunyi dibalik pohon.
“Maaf... Mobil tak mau bekerja sama.” Ucap Sopir mencoba menyalakan mobilnya yang mati.
“Sepertinya kau datang ke tempat yang tepat.” Komentar Yoo Na karena bisa melihat ada hantu disekitarnya. 

Si paman memberitahu  akan pergi ke jalan raya untuk bertemu dengan perusahaan asuransi. Yoo Na memastikan kalau Baru saja seorang laki-laki dan Orang di mobil sebelumnya adalah seorang wanita lalu mengajak Hyun Joong agar melihatnya.
“Yoo Na... Sepertinya akan terlalu berbahaya.” Ucap Hyun Joong menahanya. Yoo Na pikir Hyun Joong itu hantu dan ia juga mantan hantu.
“Bukan itu. Apa kau melihat pengemudi mobil itu? Dia adalah seorang pria muda yang mengenakan kacamata hitam. Ada arwah meninggal di mobil pria itu, dan saat kita mengejarnya, lalu kita menemukan arwah lain. Rasanya sedikit...” ucap Hyun Joong.
“Apa kau pikir mereka dibunuh oleh orang itu?” kata Yoo Na. Hyun Joong pikir Manusia bisa lebih berbahaya daripada hantu.
“Jika mereka meninggal tak wajar, maka aku tak bisa membiarkannya. Aku pun meninggal tak wajar. Jadi Aku akan berhati-hati.” Ucap Yoo Na menenangkan.
“Maka kau harus berjanji untuk lari ke mobil jika melihat manusia. Mengerti?” ucap Hyun Joong, Yoo Na menganguk mengerti.
“Biasanya, manusia yang takut hantu. Tapi kita, hantu yang takut pada manusia.” ucap Yoo Na dan berkomentar Hyun Joong itu terlihat seperti orang biasa.




Si pria dengan mobil terlihat santai, lalu seorang pria membersihkan mobil lalu binggung dibagian belakang ada cetakan tangan yang tak bisa dibersihkan. Si petugas mencoba membersihkan tapi tetap tak bisa hilang dan terlihat hantu yang ada dibangku belakang. 


Man Wool duduk dengan wajah lesu di bar, Tuan kim membuat koktail khas yang paling disukai para tamu yaitu "Tears". Man Wool memastikan kalau itu yang dibuat oleh Tuan Kim, Tuan Kim membenarkan dengan wajah bangga.
“Mereka bermimpi hidup di sini sambil mabuk. Ini mungkin tetes air mata terakhir sementara mereka memimpikan hidup mereka.” Ucap Tuan Kim
“Kenapa kau menyebutkannya dalam bahasa Inggris padahal kau seorang sarjana Konfusianisme? Kau berusaha terlalu keras untuk terlihat keren.” Ejek Man Wool
“Aku tak berpikir seseorang yang menamai hotel ini dengan nama megah seperti "Hotel Del Luna" dapat mengkritik.” Balas Tuan Kim
“Koktail yang dibuat oleh hantu tak enak. Aku dengar anggur beras terkenal di desa ini. Apa tak ada anggur beras?” keluh Man Wool tak suka dengan koktail buatan Tuan Kim.
“Kaulah yang bilang untuk jangan pernah membawanya. Apa kau lupa?”kelu Tuan Kim
“Sejak kapan kau begitu patuh pada perintahku? Aku kehilangan nafsu makan karena koktail ini.” Ucap Man Wool kesal lalu berjalan pergi.
“Dia tak bisa berbelanja saat bosan, jadi dia bersikap temperamental padaku.” Komentar Tuan Kim lalu mencicipi minumnya yang rasanya enak. 



Di sebuah pabrik arak berasa, berjejer botol “Anggur Beras Boram” yang sudah diisi penuh. Si kakek mencoba salah satu anggur yang baru saja dikemas dan memastikan kalau rasanya sangat lezat. Tiba-tiba terdengar kegaduhan diluar pabrik.
Seorang dengan sepatu heels berjalan keluar dari pabrik, Si kakek melihat anggur beras yang berantakan dengan banyak yang sudah kosong, lalu bertanya-tanya kenapa bisa seperti ini. Ia lalu melihat ada uang 50ribu won yang diselipkan diatas kotak.
Man Wool terlihat setengah sadar berjalan membawa dua botol anggur sambil berkomentar kalau Tempat ini membuat anggur beras yang luar biasa dan membuatnya penasaran apa ada sesuatu untuk cemilan. Ia pikir akan menemukan lobak didekatnya. 

“Ini akan terasa enak dengan lobak... Ayo lihat. Di mana lahan lobak? Tak heran anggur beras terasa begitu enak.” Ucap Man Wool lalu berhenti melihat seseorang yang duduk didepanya.
“Apa kau pohon besar di balik bukit itu?” tanya si pria berambut panjang. Man Wool sempat memberikan hormat membenarkan.
“Aku lihat, kau sudah membangun rumah yang sangat bagus. Tempat itu pasti Sanggarloka Bulan, tempat arwah datang untuk tinggal sebelum mereka pergi.” ucap si pria. Man Wool membenarkan.
“Aku pemilik tempat itu.” Ucap Man Wool. Si pria mengaku kalau ia adalah Penunggu Sumur desa ini [Dewa yang melindungi desa dengan baik]
“Desa ini memiliki dewa yang melindungi sumurnya. Tak heran air di desa ini terasa begitu enak. Aku bisa mendapatkan anggur yang enak berkatmu.” Ucap Man Wool memuji. 

Sementara dirumah, Mi Ra minum dengan Sanchez dan Chan Sung lalu kaget karean Chan Sung dipecat gara-gara dirinya. Sanchez ingin tau Apa yang Mi Ra perbuat sampaimenyebabkan banyak masalah di hotel. Mi Ra mengaku tak ingat.
“Aku ingat merasa sangat gembira karena hotel itu sangat bagus. Tapi aku tak dapat mengingat hal lain sesudah itu. Dan saat terbangun, aku mabuk di taksi. Mungkinkah karena alkohol?” ucap Mi Ra. Sanchez pikir seperti itu.
“Kau 'kan suka alkohol. Kau mungkin mabuk dan menyebabkan masalah. Kau cenderung melakukan itu. Aku sudah sering melihat.” Keluh Sanchez
“Bukan gara-gara Mi Ra. Aku dipecat hanya karena dia pikir aku mengganggu. Aku harus menemukan cara untuk kembali.” ucap Chan Sung yang sudah menghabiskan birnya lalu masuk ke dalam rumah. 

Sanchez pikir kalau Man Wool mencampakkan Chan Sung. Mi Ra berkomentar kalau mereka tak berkencan. Sanchez yakin kalau Chan Sung menyukainya dan Man Wool meninggalkannya dengan lukisan yang sangat mahal.
“Aku sudah melihat beberapa anggota dari klub kapal pesiarku melakukan hal yang sama. Tapi aku tak pernah berpikir Man Wool akan melakukan itu juga. Dia sangat jahat.” Keluh Sanchez
“Apa kau bilang lukisan harganya mahal?” tanya Mi Ra tak percaya
“Apa dia benar-benar harus memberinya lukisan Gunung Baekdu? Dia akan merasa sedih setiap kali mendengarkan lagu kebangsaan.” Ucap Sanchez dan mulai menyanyi.
**
Bersambung ke Part 2

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar