PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 22 Agustus 2018

Sinopsis Lets Eat 3 Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Ji Woo dan Seo Yeon berjalan pulang dari belanja, tapi jarak mereka terlihat seperti tak saling mengenal. Seo Yeon mengingat kalau lupa membeli masker tidur. Ji Woo seperti tak peduli hanya diam saja.  Seo Yeon mengeluh karena Ji Woo membuka tirai tepat setelah bangun tidur.
“Sinar matahari membangunkanku hari ini. Tubuhku terasa kaku karena harus tidur di lantai. Apa Kau tak mau ikut perawatan pijat atau semacamnya?” tanya Seo Yeon seperti ingin mencairkan suasana.
“Jalanlah ke depan.” Kata Ji Woo, Seo Yeon terlihat binggung.

“Saat bersama seseorang yang kau benci, aku dikasih tahu agar melihat mereka dari belakang. Itu menurunkan kebencianmu sedikit.” Ucap Ji Woo
“Siapa yang bilang?” tanya Seo Yeon. Ji Woo menjawab kalau itu ibunya. Seo Yeon pun terdiam.
“Dia bilang kalau semua orang terlihat sedikit sedih ketika melihat dari belakang.” Kata Seo Yeon. 


Seo Yeon membersihkan rumah sambil berbicara kalau tidak pernah mengangkat jarinya kembali pada hari itu tapi menurutnya sedang dihukum untuk melakukan ini semua. Ia mengeluh karena ada noda yang di lantai yang tak hilang.
“Itu uang yang hilang... Kurasa tak masalah kalau aku mengambilnya.” Ucap Seo Yeon mencoba mengambil dengan gantungan baju.

Ia lalu menemukan foto Ji Woo dengan ibunya di “Rumah Sakit Panti Asuhan Dallae” Seo Yeon akhirnya menemui ibunya di rumah sakit, menatap Ibu Ji Woo yang mengunakan seragam rumah sakit, tapi Ibu Ji Woo seperti tak mengenalnya berjalan berlalu begitu saja.
“Ibu...” ucap Seo Yeon menahan tangan Ibu Ji Woo, tapi Ibu Ji Woo tak mengenalnya malah meminta maaf dan langsung masuk ke dalam ruangan.


Ji Woo keluar dengan anjingnya, Dae Young keluar dari mobil bertanya apakah Ji Woo akan keluar untuk jalan-jalan. Ji Woo menganguk  dan melihat senyuman di wajah Dae Young, mengartikan kalau temanya itu sudah menjadi manajer cabang sekarang.
“Selamat. Apa promosimu terasa nyata sekarang?” kata Ji Woo
“Tidak, aku berhenti.” Ungkap Dae Young, Ji Woo kaget mendengarnya.
“Aku pergi untuk melakukan apa yang membuatku bahagia.” Akui Dae Young
“Kenapa? Apa lagi sekarang? Bagaimana dengan promosi dan apa yang membuatmu bahagia?” tanya Ji Woo binggung.
“Aku yakin banyak yang mau kau tanyakan... Aku haus, jadi ayo kita mengobrol sambil minum.” Ajak Dae Young. 


Keduanya duduk di cafe, Ji Woo ingin tahu alasan Dae Young malah berhenti ketika ditawari promosi dan mendengar tim Sun dibubarkan. Ia bertanya apakah Dae Young tak menyesalinya. Dae Young mengaku belum puas menjadi konsultan asuransi untuk sementara waktu.
“Saat hari itu, itu bermanfaat untuk membantu klienku mengklaim asuransi mereka. Aku senang membantu mereka selama masa-masa sulit. Lalu aku mulai menyadari kebenaran. Kekosongan yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai tidak dapat diisi dengan semua uang di dunia ini.Dan juga, itu mengingatkanku pada masa kuliahku.” Kata Dae Young
“Aku pernah merindukan Piala Dunia 2006, kan? Itu sebabnya aku memutuskan untuk tidak menunda hal-hal yang ingin aku lakukan. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Apa yang ingin kulakukan sekarang adalah mengirim makanan kepada kepala rumah tangga.” Jelas Dae Young
“Kenapa? Apa Kau tahu kalau aku berhenti dari pekerjaanku yang menyedihkan?” tanya Dae Young melihat Ji Woo hanya terdiam.
“Tidak... Aku mengagumimu karena membuat keputusan itu pada usia kami. Kerja bagus.” Ucap Ji Woo memuji.
Seorang wanita menyapa “Kacang” yang sudah lama tak bertemu. Dae Young binggung sambil berbisik apakah ada Seseorang selain dirinya yang memanggil Ji Woo seperti itu. Si wanita langsung pamit pergi pada anjing Ji Woo yang dipakai kacang.
“Apa namanya juga Kacang?” tanya Dae Young kaget. Ji Woo membenarkan.
“Mungkinkah...” kata Dae Young mengingat sesuatu. 


Flash Back
Dae Young menatap anjing yang ada di etalase, Ji Woo diseberang jalan melihat Dae Young langsung berteriak melambaikan tangan, terlihat wajahnya sangat bersemangat. Dae Young menatap Ji Woo yang menyebrang jalan.
“Hai, Dae Young. Kapan kau sampai di sini? Kenapa kau tak menelepon? Apa Kau sedang dalam perjalanan pulang atau ke kampus?” tanya Ji Woo terus berbicara.
“Bernapaslah dulu... Aku kemari untuk mengambil barang-barangku. Kau juga dengar kalau pekan depan aku sudah masuk wamil.” Ucap Dae Young. Ji Woo menganguk.
“Kacang, ini hari terakhir kita hari ini.” Ungkap Dae Young sedih
“Kenapa kau bilang begitu seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi?” ucap Ji Woo sedih
“Apa? Maksudku dia.... Dia kecil, menggemaskan, dan makan banyak sepertimu. Itu sebabnya aku memanggilnya Kacang.” Kata Dae Young menunjuk ke arah etalase. Ji Woo seperti salah mengira.
“Bolehkah aku minta bantuanmu?” kata Dae Young. Ji Woo ingin tahu apa itu.
“Anak anjing lainnya semuanya sudah diadopsi, tapi dia masih di sini seperti ditelantarkan.” Cerita Dae Young sedih. Ji Woo baru melihat dan merasa kasihan.
“Bisakah kau perhatikan anak anjing itu dan menulis surat untukku ketika sudah diadopsi?”ucap Dae Young memohon
“Pasti aku akan melakukannya. Kapan kau akan ke rumah orang tuamu?” ucap Ji Woo
“Besok. Aku menuju ke pangkalan dari sana.” Kata Dae Young. Ji Woo terlihat sedih karena mendengar Besok Dae Young akan pergi.  Dae Young pun berpesan agar kacang berhati-hati, Ji Woo menatap sedih ke arah anjing. 


Dae Young dan Ji Woo pulang bersama, terdengar keributan didalam rumah. Jin Seok dan Byung Sam saling berteriak, Jin Seok tak ingin disentuh tapi Byung Sam pikir kalau ini bukannya terlarang. Jin Seok berteriak mengumpat.
“Kau brengsek. Jangan sentuh milikku!.. Kau harus pelan-pelan.” Teriak Jin Seok
“Menurutmu apa yang dia sentuh?” balas Byung Sam.  Dae Young menatap binggung di depan pintu ingin tahu apa yang mereka lakukan.
Ji Woo dan Dae Young akhirnya masuk ke dalam, Byung Sam dan Jin Seok saling bertumpukan dilantai. Jin Seok berteriak agar tak menyentuhnya, Ji Woo malu menatap keduanya masuk sambil menutup matanya. Dae Young akhirnya bertanya apa yang mereka lakukan, akhirnya Jin Seok bisa keluar dari cengkraman Byung Sam.
“Dia menginginkan konsol game. Dae Young, tidak bisakah aku mengambilnya?” ucap Jin Seok mendekap game dalam pelukna.
“Kami semua ingin membelinya.” Kata Byung Sam. mengeluh Jin Seok itu sedang bercanda.
“Kenapa kau malah mengambilnya ketika kami semua mau beli juga? Aku juga bayar banyak untuk ini.” Tegas Byung Sam.
“Kau itu punya banyak uang, jadi belilah yang baru. Aku ini miskin, jadi biarkan aku memilikinya.” Kata Jin Seok
“Aku tak pernah mengharapkanmu menjadi miskin, jadi kenapa malah aku? Serahkan.” Kata Byung Sam. 

 
“Inilah bagaimana rasanya mengawasi anak-anak memperebutkan aset.” Komentar Dae Young melihat dua temanya.
“Dasar bodoh! Apa Kalian sebut diri kalian teman? Kalian juga tahu situasi Dae Young. Dia bekerja untuk pergi ke Jerman, tapi dia harus membayar hutang ayahnya dengan itu. Dia mendaftar hanya karena tidak punya uang untuk biaya kuliah. Dan Yang kalian lakukan cuma bertengkar demi konsol game saat kalian harus mencoba menjualnya untuknya.” Kata Sung Joo marah
“Maafkan aku, Dae Young... Kami memang salah.” Ucap Jin Seok dan Byung Sam. Dae Young senang karena keduanya langsung menyadarinya.

“Dae Young, sepupuku membeli furniture untuk rumah barunya. Haruskah aku minta dia membeli lemari itu?” kata Sung Joo menunjuk ke arah lemari kayu. 

Dae Young mengucapkan terima kasih dan Sung Joo mengajak agar bersama-sama mengangkatnya. Jin Seok masih memegang game ditanganya, Byung sam mengeluh kalau mereka harus saling membantu sebagai teman. Jin Seok pun menaruh games di lantai.
“Wah... Apa itu? Ternyata ada yang sudah muntah.” Jerit Ji Woo sambil menutup hidungnya saat mereka mengeser lemari dari dindig.
“Siapa itu? Siapa yang melakukan ini? Kalau dilihat, itu sudah ada beberapa waktu yang lalu.” Kata Dae Young melihat muntahan pada dinding.
“Tidak heran aku tidak bisa mengeluarkan bau aneh itu. Aku berpikir itu bau Byeong Sam. Coba Lihat. Itu aromamu! Ketiga kalinya Ji Woo menolakmu, kau muntah setelah ditolak.” Kata Jin Seok menunduh.
“Saat kau ditolak dan dipukuli oleh Seo Yeon, kau juga muntah setelah merasa sia-sia. Coba Lihat mie itu?” balas Byung Sam dan Jin Seok juga ikut makan ramyeon.
“Bagaimana kita bisa tahu siapa yang melakukannya ketika banyak sekali orang muntah? Kurasa aku tak bisa menjual ini pada sepupuku. Aku juga yakin kau tidak akan bersikeras menjualnya.” kata Sung Joo menutup hidungnya.
“Ayo kita bersihkan.” Kata Dae Young kesal menendang bokong temanya dengan kesal. 



Ji Woo menopang dagu di kamarnya dengan wajah sedih, Seo Yeon berdiri di balkon melihat Dae Young yang Ternyata merokok. Ji Woo tak percaya lalu melihat dari balkon. Seo Yeon yakin kalau itu Dae Young sedang duduk sendirian sambil menghisap rokok.
“Sungguh menyedihkan. Maksudku, dia bukan satu-satunya yang bergabung dalam wamil.” Ejek Seo Yeon
“Jangan berani mengatakan hal seperti itu di depannya.” Tegas Ji Woo memperingati Seo Yeon
“Kudengar dia memberikan semua uangnya pada orang tuanya. Dia masuk wamil karena tidak punya uang untuk membayar biaya kuliahnya.” Ucap Ji Woo membela
“Lalu? Entah itu awal atau akhir, dia harus tetap menjalankan tugas militernya. Kuharap dia bisa menikmati sisa waktunya sebelum berangkat wamil.” Komentar Seo Yeon. Ji Woo menatap sedih melihat Dae Young yang sedih.

Di lapangan sudah banyak orang, Dae Young heran karena tak tahu Ji Woo  bisa mengumpulkan orang-orang dilapangan. Seo Yeon memberitahu kalau Ji Woo sudah menelepon di sana-sini sejak pagi.
“Dia membuat keributan,  mengatakan aku harus berpartisipasi sebagai maskot. Dia bilang kita harus melakukan ini sebelum kau pergi.” Kata Seo Yeon.
“Kita ambil foto saja... Kau bawa kameranya, 'kan?” ucap Ji Woo tak ingin Seo Yeon terus mengoceh.
Seo Yeon mempersiapkan kamera dan juga tripod, lalu mereka berenam foto bersama sebagai kenang-kenangan sebelum Dae Young berangkat wamil.

Pertandingan dimulai, Ji Woo bahagia melihat Dae Young bermain bola. Sung Joo tiba-tiba berteriak mengeluh kesakitan. Dae Young melihat kalau Sung Joo itu tersandung sendirian saat menendang  bola, lalu memanggil Ji Woo. Ji Woo pun bergegas membawa kotak P3K.
“Kurasa dia tidak bisa lari. Kami tidak bisa lanjut karena angkanya tidak cocok.” Ucap Byung Sam dan Jin Seok
“Aku pikir akan bermain sepak bola sebentar.” Kata Dae Young sedih
“Aku akan main.” Ucap Ji Woo, semua kaget mendengarnya. Ji Woo pikir itu karena ia juga anggota klub.
“Tidak ada aturan yang melarang wanita bermain.” Kata Ji Woo mengambil seragam yang dipakai Sung Joo
“Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Sung Joo, Ji Woo memberikan semportan karena Sung Joo hanya terkilir sedikit

Akhirnya permainan di mulai, Ji Woo terlihat pandai mengocek bola bermain bersama Dae Young dkk. Seo Yeon melihat dari bangku taman mengelu pada Ji Woo yang mungkin membuat gol dan menyoraki dirinya sendiri.
“Lee Ji Woo, kau keren!” teriak Sung Joo bahagia melihat pemain pengantinya.
“Dae Young... Jadilah seorang pria dan buatlah gol yang luar biasa!” teriak Sung Joo melihat Dae Young sedang mengiring bola.
“Benar, jangan lewatkan kesempatan ini.” Kata Byung Sam ikut mendukung.
“Bisnis ayahmu bangkrut, tetapi kau harus mencetak gol.” Ucap Ji Woo.
Akhirnya bola ditendang oleh Dae Young ke arah gawang, tapi melesat jauh ke atas gawang. Peluit tanda pertandingan berakhir, Dae Young terlihat sedih sementara Tim lawan yang menang akan minum untuk merayakannya.
“Ah, kenapa mereka malah mengatakan hal yang tidak berguna?” ucap Ji Woo marah
“Menyedihkan... Padahal sudah sangat dekat. Lagipula, ini tidak bisa lebih buruk daripada kehilangan kesempatan untuk menonton Piala Dunia.” Kata Jin Seok
“Benar, masalah sebesar ini tidak bisa dibandingkan dengan situasimu saat ini, jadi semangatlah.” Ucap Sung Joo
“Kau akan bisa bermain sepak bola sepuasnya setelah kau masuk wamil. Kau pandai bermain sepak bola, jadi kau akan dipuja. Jika sulit menunggu sampai saat itu,haruskah kita memainkan satu permainan lagi?”ucap Byung Sam
“Lupakan tentang sepak bola. Ayo kita makan...”ajak Ji Woo penuh semangat. 


Mereka pergi ke tempat seperti berada di atas gunung dengan mata air yang jernih. Jin Seok heran mereka datang jauh-jauh ke sini, Ji Woo memberitahu kalau mereka bisa sepenuhnya menikmati baeksuk ketika memakannya di tempat seperti ini.
“Kau mungkin akan pergi ke Pyongyang untuk makan Pyongyang naengmyeon.” Ejek Sung Jo
“Apa yang salah dengan itu?” komentar Byung Sam membela Ji Woo.
“Permisi, bisa pesan bebek baeksuk, ayam rebus pedas, dan salad acorn jelly.” Kata Ji Woo lalu bergegas untuk pergi ke toilet lebih dulu. 

Ji Woo baru keluar dari toilet, Seo Yeon sudah menunggu mengejek Ji Woo mau sampai kapan akan menjadi anak-anak. Ji Woo terlihat binggung. Seo Yeon tahu kalau Dae Young pergi ke rumah orang tuanya hari ini dan itu artinya akan bisa melihatnya lagi ketika sudah selesai dengan tugasnya.
“Bukankah seharusnya kau menghabiskan waktu sendirian bersamanya?” kata Seo Yeon kesal
“Kenapa aku harus menghabiskan waktu sendirian bersamanya? Aku bahkan bukan pacarnya.” Ucap Ji Woo merasa tak ada yang salah.
“Lalu kenapa kau menyebabkan kerepotan seperti itu ketika kau bahkan bukan pacarnya? Kau mengatur pertandingan sepak bola dan bermain sepak bola sendiri. Aku tahu kau membawa kami ke sini untuk memberinya udara segar.” Kata Seo Yeon melihat sikap Ji Woo
“Bukan itu... Aku ingin bermain sepak bola dan juga makan bebek baeksuk.” Tegas Ji Woo mengelak rasa sukanya.
“Dasar Kau bodoh... Apa Kau pikir ini yang dia inginkan?” ucap Seo Yeon.
“Lalu apa? Dia yang paling bahagia saat bersama teman-temannya.” Kata Ji Woo yakin. Seo Yeon mengeluh pada kakak tirinya itu yang benar-benar bodoh.


Tiga menu makanan ditaruh diatas meja, semua terlihat sangat nikmat. Dae Young sudah siap makan menu ayam pedas lebih dulu. Ji Woo menahanya menyuruh Dae Young agar Makan bebek baeksuk dulu.
“Ayam rebus punya rasa yang kuat, sehingga jika kalian makan bebek baeksuk, kalian tidak bisa menikmati rasanya.” Jelas Ji Woo
“Seperti inilah kau... Aku akan merindukan komentarmu setelah masuk wamil.” Kata Dae Young. Akhirnya mereka mulai makan bebek lebih dulu.
“Dada bebek punya rasa paling ringan, jadi lebih baik menikmatinya dulu. Aku akan memotong bagian ini dan celupkan ke dalam sup agar lembab.” Ucap Ji Woo memberikan potongan daging  untuk Dae Young.
Dae Young mulai mencobanya, lalu berkomentar Rasanya ringan dan enak. Ji Woo lalu memberikan paha ayam dengan berpesan agar Jangan ambil semua pahanya tapi Ambil dagingnya dan taruh ke piring, Dengan begitu, sup akan menjadi lebih dalam saat tulangnya mulai mendidih.
Byung Sam sudah siap meminta Ji Woo untuk memberikan daging padanya, tapi Ji Woo malah lebih melayani Dae Young dengan memberikan daging bebek.
“Saat kalian sudah bosan dengan daging bebek, ambil irisan lobak acar.” Ucap Ji Woo mulai membuat bungkusan dari lobak
“Kalian bisa Taruh daging bebek dan sayuran di atasnya. Lalu Bungkus dan celupkan ke saus mustard.” Jelas Ji Woo lalu memberikan pada Dae Young.
“Tidak perlu kita pesan makanan crepe bebek.” Kata Ji Woo dan Dae Young memuji buatan Ji Woo memang enak.
“Sekarang, kita beralih ke ayam rebus. Kaki kiri ayam ini lebih enak. Sebagian besar ayam punya kebiasaan berdiri dengan kaki kiri. Jadi kaki kiri mereka lebih besar dan lebih kencang.” Ucap Ji Woo kembali memberikan daging untuk Dae Young. 


Dae Young melihat daging yang besar lalu mengucapkan terimakasih, setelah itu berkomentar kalau terasa sangat alami tapi sedikit pedas. Ji Woo menahan Dae Young yang ingin minum air, karena menurutnya Kalau merasa pedas,maka lebih baik makan sup dari menu bebek.
“Rasa Pedasnya nanti akan perlahan mereda.” Ucap Ji Woo memberikan mangkuk berisi kuah. Dae Young pikir kalau dalam kuahnya ada terlalu banyak lemak.
“Ada pepatah dari nenek moyang kita. "Jangan makan daging sapi  meski itu gratis, makanlah daging babi hanya jika itu gratis, dan makanlah bebek meski kau harus membayarnya." Itu semua karena lemak itu... Lemak bebek baik untukmu.” Kata Ji Woo menjelaskan.. Dae Young berkomentar kalau rasanya memang enak juga.
“Ayo makan nasi... Aku akan letakkan daging yang tersisa ke satu sisi.” Kata Ji Woo lalu memsan dua deluxe nasi dan dua nasi putih.
“Kenapa pesan dua jenis nasi?” tanya Dae Young heran.
“Nasi deluxe terbaik dimasak dengan kaldu menjadi bubur. Sementara Saus ayam pedas lebih baik bersama nasi biasa.” Kata Ji Woo dengan sigap mengaduk nasi dengan dua tanganya.
“Sudah Selesai... Makan nasi goreng ini dulu... Maka kau bisa selesaikan dengan bubur sebagai makanan penutup.” Ucap Ji Woo
“Kau memang terbaik... Kebanyakan orang makan buah untuk pencuci mulut, tetapi kau lebih suka bubur.” Kata Dae Young memuji.
“Nasi goreng...” ucap Ji Woo dan langsung dihentikan oleh Seo Yeon meminta agar berhenti.
“Berapa banyak lagi tips makan yang mau kau bagikan? Aku sudah menulis semuanya.” Kata Seo Yeon menuliskan lembaran kertasnya.
“Telur rebus sebelum bebek pedas. Lalu daging Bebek dimakan dulu, Celupkan dada bebek ke dalam kaldu. Makan dagingnya dan tinggalkan tulangnya dalam kaldu. Bungkus dagingnya bersama lobak acar. Kaki kiri ayam rasanya lebih enak. Minumlah kaldu jika terlalu pedas. Buat bubur dengan nasi deluxe. Buat nasi goreng pedas dengan nasi biasa. Makan nasi goreng dulu. Buburnya adalah makanan penutup.” Kata Jin Seok terus mengoceh. Jin Woo hanya bisa terdiam. 

“Dae Young, kau boleh makan sisa dagingnya, Kau akan membutuhkan energi untuk berlatih. Kau tidak hanya masuk wamil, tapi Kau hanya dipaksa saja. Ketika hatimu sakit, yang terbaik adalah makan dengan baik.” Ucap Byung Sam

“Benar. Para orang tua tentara lainnya akan berkunjung dengan membawa banyak makanan. Tapi Orang tuamu tidak akan bisa berkunjung. Aku akan keluarkan tulangnya.” Ucap Jin Seok
“Hei, dia kehilangan uang yang dia tabung. Apakah kau harus menyebutkan tulang? Dae Young, aku akan minta maaf sebagai gantinya.” Kata Sung Joo.
Ji Woo melihat suasana jadi sedih akhirnya mengajak pergi untuk mencerna makanan yaitu karaoke. 


Mereka akhirnya masuk ke dalam karaoke, Sung Joo dan Jin Seok saling adu jawab. Jin Seok bertanya Nomor untuk lagu "Coward"? Sung Joo menjawab dengan cepat “45151.” Lalu Ji Seok bertanya "Sad Love"? Sung Joo dengan cepat “5830.” Jin Seok mengejak Sung Joo itu tak memakai otak itu untuk belajar
“Hei, matahari sudah terbenam. Apa Kau tak keberatan masih jalan-jalan seperti ini? Apa Kau tak akan menyesalinya? Dae Young akan segera berangkat.” Keluh Seo Yeok kesal dengan sikap Ji Woo.
“Diamlah. Kau ikut bernyanyi dan menari juga.... Secara energik.” Tegas Ji Woo. Seo Yeon bingung untuk apa melakukan itu.
“Aku capek mengikutimu terus.” Kata Seo Yeon. Ji Woo memberikan tawaran kalau Seo Yeon bebas dari tugas membersihkan kamar mandi.

Seo Yeon akhirnya mulai menyanyi lagi Girl Band dan semua pria terlihat bersemangat, Ji Woo bisa mengubah suasana menjadi senang, tapi setelah itu Sung Joo malah menyanyikan lagi sendu tentang perpisahan.
“Dae Young, ini dua tahun untuk kita... Hati-hatilah. Kami akan segera bergabung denganmu.” Ucap Sung Joo, Yang lainya pun memberikan semangat.
Sung Joo kembali menyanyi lagu sedih, Wajah Dae Young pun ikut sedih. Ji Woo tiba-tiba menekan remote lalu meminta maaf kalau tak sengaja menekan cancel, lalu menarik Seo Yeon agar bernyanyi.  Seo Yeon mulai menyanyi lagu Idol, mereka kembali bersemangat.
Dae Young juga akhirnya bisa tersenyum, Byung Sam ikut menyanyi tapi malah menyanyikan lagu perpisahan yang membuat Dae Young kembali sedih. Ia meminta agar Dae Young bisa menuliskan pesan untuknya saat pergi.
“Dae Young, aku akan menulis untukmu juga..” ucap Byung Sam,
“Kau bisa menonton Piala Dunia di TV.” Kata Sung Joo.  Byung Sam tetap menyanyi dengan nada sedih, akhirnya Ji Woo kembali menekan remote.
“Maaf. Aku tak bisa lihat apa yang kutekan... Tidak bisakah kita bernyanyi sesuatu yang bersemangat? Tolonglah jangan turunkan mood.” Ucap Ji Woo dengan tatapan sinis. 


“Dae Young, aku menyiapkan sesuatu.... Masuklah... Sapalah. Ini Dario.” Kata Jin Seok mengajak temanya masuk.
“Dia orang Jerman dan bernyanyi di ruang sebelah. Kau mungkin tidak bisa pergi ke Jerman untuk Piala Dunia, tapi kau setidaknya bisa bicara dengan orang Jerman.” Kata Jin Seok. Byung Sam pun mengajak Dario untuk duduk bersama.
“Dia sudah terdaftar wamil dan tidak nonton Piala Dunia.” Kata Byung Sam. Ji Woo makin kesal dengan Byung Sam
“Kenapa kau masuk wamil, bukan pergi ke Jerman?” tanya Dario.
“Dia menghabiskan uang yang ditabung.” Jawab Sung Joo.
“Benarkah? Kenapa kau tidak minta ke ayahmu?” tanya Dario.
“Dia tidak bisa, karena Bisnis ayahnya bangkrut.” Ucap Jin Seok. Dario ingin tahu kenapa itu bisa terjadi.
“Coba Lihat, ayahnya awalnya bukan seorang pengusaha. Seorang teman membawanya ke dalam masalah. Itu kisah sedihnya.” Cerita Byung Sam.
Dae Young tak bisa menahan rasa sedihnya memilih untuk minum. Ji Woo yang melihatnya jadi makin sedih dan memilih untuk keluar dari ruangan. 


“Mereka terus saja bikin suasana hati menurun. Seharusnya aku membuat mereka tak bersemangat dulu. Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan untuk membuat Dae Young bahagia? Dia suka bermain game, Berarti kita harus pergi ke warnet.” Ucap Ji Woo memikirkan tentang Dae Young lalu keluar dari ruangan.
Tapi Dae Young sudah menunggu didepan toilet, mengajak untuk mereka pergi mencari udara diluar. Ji Woo terlihat gugup menganguk setuju. Dae Young pun menarik tangan Ji Woo keluar dari ruang karaoke.   Saat itu Seo Yeon melihat Dae Young yang mengajak Ji Woo pergi.
“Dae Young pergi ke mana? Dario baru saja bicara banyak.” Tanya Jin Seok ikut keluar ruangan.
“Mungkin ke toiket... Ayo masuk ke dalam.” Kata Seo Yeon mengajak masuk.
“Kami kehabisan waktu. Dario mengundang kami untuk bergabung dengan teman-temannya.” Ucap Byung Sam.
Seo Yeon tak ingin meganggu berteriak meminta tambahan satu jam lagi untuk bersenang-senang dan mendorong semua untuk kembali ke dalam.


Keduanya sudah ada didepan tempa karaoke, Ji Woo pikir kalau Di dalam agak pengap, Dae Young menghentikan Taksi dan meminta agar diantar ke Cheonggyecheon. Ji Woo kaget kalau mereka akan pergi ke Cheonggyecheon.
“Apa Kita akan sejauh itu untuk cari udara?” tanya Ji Woo
“Ayo lakukan apa yang ingin aku lakukan sebelum masuk wamil.”kata Dae Young. Ji Woo bertanya apa yang ingin dilihat Dae Young
“Mereka membuka kembali aliran beberapa waktu yang lalu. Aku harus melihat barak tentara yang sama setiap hari. Aku ingin melihat sesuatu yang cantik sebelum aku pergi.” Jelas Dae Young. Ji Woo pun menganguk setuju.
“Aku juga ingin melihat Cheonggyecheon baru.” Kata Ji Woo penuh semangat. 


Keduanya berjalan di taman Cheonggyecheon yang terlihat indah di malam hari, sangat Bagus dan keren. Lalu saat berjalan tak sengaja punggung tangan mereka saling bersentuhan. Suasana terasa cangung, akhirnya Ji Woo hanya bisa tersenyum dan akhirnya memilih kembali berjalan.
Mereka menyeberangi sungai dengan menaiki batu-batu yang berjajar. Ji Woo berjalan dibelakang Dae Young, tiba-tiba Dae Young mengulurkan tangan agar mereka bisa berpegangan untuk menyeberang sungai. Ji Woo pun menyambutnya untuk berjalan memegang tangan Dae Young.

Mereka pergi ke sebuah pameran, lalu melihat sebuah tulisan “Nama yang Ingin Kau Panggil Secara Rahasia -Oleh Na Tae Joo”
[Memiliki nama yang ingin kau panggil secara rahasia itu sangat menyenangkan.]
Keduanya terdiam melihat puisi didepanya, seperti perasaan mereka sekarang. Akhirnya Dae Young mengajak Ji Woo untuk pergi.

Mereka kembali berjalan menyusuri sungai, Dae Young menatap Ji Woo  yang ada disampingnya terkenang kembali kebersamaan dengan teman kuliahnya.
Saat pergi ke Busan, Ji Woo sampai malam hari mencari gantungan kunci yang terjatuh di laut. Ji Woo bahkan meminta maaf karena menghilangkan hadiah pemberiannya.
Ketika bermain bola, Dae Young terjatuh. Ji Woo panik melihatnya dan langsung memarahi pemain lawan, padahal Dae Young mengaku tak terluka. Ji Woo terluka. Mereka juga menghabiskan tahun baru bersama walaupun hanya ada diatap rumah.
"Memiliki nama yang ingin kau panggil secara rahasia itu sangat menyenangkan. Memiliki seseorang yang ingin kau pikirkan adalah hal yang bahagia tapi menyedihkan." Gumam Dae Young 

Ji Woo mengingat kenangan Dae Young yang berjalan disampingnya. Saat Dae Young yang memegang tanganya karena mengalami gangguan pencernaa dengan memijatnya. Ji Woo panik langsung menarik tanganya. Dae Young bersikukuh kalau itu yang dulu biasa dilakukan ibunya.
Ketika di Busan, Dae Young memberikan gantungan kunci saat menang bermain.  Ji Woo tak percaya kalau Dae Young mau memberikan untuknya. Mereka pun menghabiskan permen kapas yang membuat canggung.
"Memiliki seseorang yang ingin kau pikirkan sebelum tidur dan memiliki seseorang yang kau inginkan terbangun setelah berpikir tentanghal yang bahagia tapi sepi." Gumam Ji Woo
Bersambung ke part 2

 PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar:

  1. Wah ceritanya sangat menarik nih. Terimakasih yaa. Jangan lupa kunjungi kami http://bit.ly/2wfsXyj :)

    BalasHapus