PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 16 Agustus 2018

Sinopsis Lets Eat 3 Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Dae Young memasukan dua sosis ke dalam microwave menurutnya Selagi makanan dihangatkan, mereka memilih bir dulu. Ji Woo tersenyum karena tahu Itu sebabnya Dae Young  traktir makanannya dulu, lalu bertanya-tanya apakah ia bahkan peduli dengan pesanan itu bahkan di toko swalayan.
“Dengan begitu kita bisa makan makanan hangat dan bir dingin.” Kata Dae Young bangga.
“Oh, memang, kau Tuan Penyuka makanan.” Komentar Ji Woo memuji
“Aku mempelajari keterampilan ini saat masih hidup sendiri... Lalu, bagaimana hasil pemeriksaan kolonoskopi Sun Woo Sun? Orang yang hidup sendiri biasa paling menyedihkan ketika mereka sakit.” Kata Dae Young
“Untungnya, tidak terlalu parah.” Ucap Ji Woo lalu mengambil satu kaleng lagi karena promo beli 4 bir impor, harganya 10,000 Won.

Keduanya duduk di luar mini market meminum bir, Dae Young mengingat saat masih kuliah untuk beli bir impor saja tak bisa. Ji Woo juga mengingat tapi sekarang  bisa beli empat kaleng cuma 10,000 Won saja. Keduanya mengingat kenangan saat masih kuliah 

Flash Back
Semua bersulang di cafe, Dae Young minum bir langsung dari botol. Ji Woo bertanya kenapa Dae Young selalu minum merek itu. Dae Young mengatakan kalau itu bir Jerman jadi kalau mau ke Jerman tahun depan, maka harus terbiasa minum bir seperti ini.
“Astaga.. Kenapa kau tidak mengubah jam tidurmu untuk menyesuaikan dengan zona waktumu juga?” ejek Seo Yeon. Dae Young pikir kalau itu ide bagus.
“Byung Sam, bisakah kita memesan lebih banyak makanan?” tanya Jin Seok. Byung Sam mempersilahkan mereka untuk memesan semaunya.
“Kau memang orang kaya, Kau begitu murah hati. Kalau bukan karena Byeong Sam, kita tidak bisa minum bir impor ini.” Ucap Sung Joo

“Seo Yeon, kau mau bir lagi?” tanya Jin Seok. Seo Yeon menolak dan sibuk selfie dengan botol bir impor yang paling dibanggakan. Byung Sam pun memangil Ji Woo
“Tak perlu... Aku jadi kenyang sampai-sampai tidak bisa makan lagi.” Kata Ji Woo
“Bukan itu... Bolehkah aku jadi pacarmu? Aku menyukaimu.” Ucap Byung Sam yang sudah setengah mabuk.
“Byung Sam, aku juga menyukaimu... Sebagai teman. Kuharap kita bisa tetap berteman baik.” Kata Ji Woo menolak. 


Jin Seok terlihat tak bisa menahan malu memilih untuk pergi karena ingin memesan bir Ceko saja. Dae Young pun ingin membeli yang bir yang lain juga. Seo Yon pun meminta agar mengambil untuknya karena masih ingin mengambil foto.
“Apa Ini yang keenam kalinya dia ditolak?” bisik Jin Seok menunggu pesanan
“Tidak, ini yang ketujuh kalinya.” Kata Dae Young.Jin Seok binggung dan mulai menghitung.
“Setelah Tahun Baru Imlek, Hari Valentine, dan White Day. Arbor Day, Day of the Star, dan hari ini. Ini sudah enam kali.” Kata Jin Seok
“Tujuh kali. Kau melupakan ultahnya Sung Joo.” Ucap Dae Young. 

Flash Back
Semua yang menyanyikan ulang tahun untuk Sung Joo, Tiba-tiba Byung Sam yang mabuk berteriak memanggil Ji Woo meminta agar bisa menjadi pacarnya, karena benar-benar menyukainya. Semua terlihat binggung tapi Ji Woo seperti santai.
“Byung Sam, aku juga menyukaimu... Sebagai teman... Kita tetap jadi teman baik saja.” Kata Ji Woo menolak
“Kalau itu maumu, tidak apa-apa.” Kata Byung Sam akhirnya menghela nafas dan lilin di atas kue pun mati karena nafasnya semua hanya bisa binggung. 

Ji Woo dan Seo Yeon menjemur pakaian diatap, Seo Yeon mengejek Ji Woo yang benar-benar sesuatu menurutnya Jika anak dari keluarga kaya mengejarnya seharusnya mencoba pacaran dengan orang itu. Ji Woo pikir tak perlu karena Byung Sam itu  menurutnya cuma teman baik.

“Ngomong-ngomong, sampai kapan aku harus menolak terus? Dia selalu begitu setiap kali dia minum. Aku merasa tercengang.” Keluh Ji Wo
“Kalau begitu temui dia saat sadar dan beri tahu dia secara jelas. Itu Karena kau bertingkah seolah-olah tidak ada hari esok, hubunganmu selalu itu-itu saja. Mulutmu saja yang pintar.” Komentar Seo Yeon. Ji Woo memikirkanya. 


Flash Back
Ji Woo baru saja keluar dari perpustakaan, bertemu dengan Byung Sam. Keduanya terlihat sedikit canggung, lalu Byung Sam menyapa Ji Woo lebih dulu, membahas kalau Cuacanya bagus hari ini, Ji Woo pikir kalau udaranya sangat panas.
“Nanti, di kampus...” kata Byung Sam, Ji Woo memberitahu kalau sudah di kampus.
“Kita ketemuan di rumahnya Dae Young.” ucap Byung Sam. Ji Woo menganguk 

Ji Woo binggung apa yang harus dilakukan karena tak suka pertemanan menjadi canggung. Seo Yeon pikir kalau ini semua karena Goo Dae Young, Ji Woo mengomel karena Seo Yeon yang membawa-bawa Dae Young.  Seo Yeon mengejek Ji Woo yang berpikir dirinya tak tahu perasaan kakaknya itu.
“Lalu kau mau bagaimana lagi? Byeong Sam terus bilang dia menyukaimu. Semakin sulit bagimu untuk mengakui perasaanmu pada Goo Dae Young. Itu akan merusak persahabatan Dae Young dengan Byung Sam.” Ucap Seo Yeon.
“Dasar, sudah kubilang bukan begitu. Bukan begitu!” kata Ji Woo kesal mengibaskan baju yang basah.
“Kau memercikku... Dasar Menjengkelkan.” Keluh Seo Yeon 

Sung Joo dkk bermain games di komputer. Jin Seok melihat Byung Sam yang akhirnya sadar. Byung Sam bertanya apakah Kemarin mengakui perasaannya lagi dan Ji Woo bilang apa. Jin Seok pikir sudah pasti mengatakan itu lagi.
Mereka berempat menonton TV “Seorang prajurit yang tidak puas selama kehidupannya menjadi tentara secara acak melemparkan granat hingga menyebabkan ledakan.  Penyelidikan menunjukkan bahwa Prajurit Kim dilecehkan oleh seniornya sendiri. Hingga ia pun melakukan kejahatan ini.”
“Kapan lagi tes fisik kita? Apa Dua pekan ke depan?”ucap Dae Young dengan wajah tegang.
“Bukankah berbahaya untuk pergi ke markas tentara? Haruskah kita tunda saja dan ikut junior kita?” ucap Byung Sam.
“Memangnya negara akan bersatu? Apa ada jaminan tidak ada psikopat dalam markas tentara?” keluh Dae Young
“Bagaimana kalau kita dikirim ke tempat sederhana namun menyakitkan di Afghanistan? Mereka bahkan membayar 2 juta Won sebulan.” Ucap Jin Seok
“Mereka tidak bisa menerima pelamar lagi. Jung Myung sudah pergi ke sana.” Kata Dae Young
“Byung Sam, tidak bisakah kau bicarakan hal ini dengan ayahmu?” keluh Sung Joo
“Tidak bisa, ayahku bertugas di marinir, dan mana mungkin dia bantu kita.” Kata Byung Sam, Jin Seok mengeluh karena harus terjadi sebelum kita mendaftar. Dae Young hanya bisa menghela nafas panjang. 



Ji Woo dan Seo Yeon berbelanja di supermarket, sambil berkeliling Ji Woo sibuk mencoba semua tester makanan dengan lahap. Seo Yeon mengeluh melihat tingkah Ji Woo agar jangan makan terus karena mereka sudah makan siang.
“Itu tak penting bagiku.” Kata Ji Woo terus makan, Seo Yeon tak tahan menarik Ji Woo agar berhenti makan.
Mereka mendorong trolly dan tertabrak trolly didepanya, ternyata Dae Young sedang berlanja didepanya. Seo Yeon berkomentar kalau Dae Young kemarin minum sebanyak itu, akan membeli banyak alkohol lagi setelah melihat trolly Dae Young.
“Kalau kau peduli dengan jantungmu, istirahatlah sehari.” Saran Seo Yeon
“Hari ini adalah hari untuk minum. Apa Kau tak dengar mendengar tentang insiden di markas tentara? Aku sampai gugup dengan hasil tes fisikku.” Ucap Dae Young
“Tes fisik? Apa Maksudmu yang sebelum gabung di wamil? Siapa yang pergi?” tanya Seo Yon
“Kami semua dan Kami kepikiran ingin bergabung dan ikut wamil bersama.” Ucap Dae Young. Ji Woo kaget kalau mereka semua akan pergi termasuk Dae Young.
“Kenapa kau terkejut begitu? Pria sehat di Korea gabung di wamil itu sudah wajar. Kebanyakan orang biasa pergi setelah masuk semester 3 kuliahnya.” Ucap Dae Young. 


Seo Yeon sibuk memasang masker timun diwajah lalu bertanya pada Ji Woo apakah sudah mau tidur tanpa makan dulu, karena Biasanya jam begini kau selalu mau makan dan ingin tahu kenapa Ji Woo malah berbaring di tempat tidur.
“Aku mengalami gangguan pencernaan.” Ucap Ji Woo
“Sudah kubilang jangan makan makanan sample di supermarket tadi. Kurasa kau sudah makan terlalu banyak.” Kata Seo Yeon
“Diamlah... Aku sampai merasa sesak... Hentikanlah.” Kata Ji Woo marah 

Ji Woo berjalan di kampus melihat bagian rumput didepanya, teringat kembali yang pernah di lakukan dengan Dae Young dkk. Saat itu mereka melakukan rounde ke dua dengan murah. Ia lalu berjalan ke lapangan bola, seperti melihat bayangan Dae Young yang memanggil Ji Woo, wajah Ji Woo langsung tersenyum.
Ji Woo pergi ke perpustakaan mengingat kenanganya saat mendengarkan lagu bersama. Ia berjalan melihat ke ruang kelas menari, teringat kembali saat berlatih bersama Dae Young diatap rumah. Ji Woo hanya bisa menghela nafas melihatnya.
Saat itu Ji Woo berjalan melihat jalan besar didepanya, kenangan dengan Dae Young saat mengendongnya agar bisa melihat Se7en. Ji Woo yang malu meminta agar Dae Young segera menurunkanya.
Wajah Ji Woo makin sedih lalu memasukan gelas ke dalam mesin kopi. Teringat kembali saat Dae Young mencoba membantunya dan ingin tahu berapa rasio emas kopi buatannya. Ji Woo berusaha untuk melupakan kenangan Dae Young memasukan bubuk kopi.
“Bukankah itu untuk kopi?” ucap Dae Young. Ji Woo kaget membalikan badan dan menumpahkan bubuk coklat ke baju Dae Young dan langsung panik. 


Keduanya pergi ke kantin, Ji Woo tak enak hati melihat Dae Young memastikan kalau baik-baik saja. Dae Young mengaku tak masalah karena Ji Woo yang mentraktirnya makanan sebagai gantinya lalu melihat Ji Woo yang makan Ji Woo yang sedikit.
“Aku mengalami gangguan pencernaan.” Ucap Ji Woo
“Sejauh ini kau baik-baik saja. Kenapa seperti itu lagi?” kata Dae Young menarik tangan Ji Woo untuk memijatnya.
“Tidak apa-apa... Aku saja yang melakukannya... Kurasa kemarin aku makan terlalu banyak.” Kata Ji Woo menarik tanganya.

“Lee Ji Woo... kau makan sesuatu yang enak tanpaku, 'kan? Sudah kubilang bawa aku bersamamu. Dasar. Setelah mereka semua masuk wamil, aku tak punya siapa-siapa untuk diajak makan selain kau. Haruskah kau seperti ini?” keluh Dae Young. Ji Woo terlihat binggung
“Bukannya kau masuk wamil juga?” kata Ji Woo. Dae Young mengaku kalau akan menunda.
“Kalau aku masuk wamil sekarang,maka aku tak bisa lagi pergi ke Jerman. Aku harus nonton Piala Dunia sebelum aku pergi.” Ucap Dae Young lau menyuruh Ji Woo segera makan karena akan dingin. Ji Woo terlihat sangat bahagia dan senyumanya kembali terlihat. 


“Sebenarnya, Apa kau mau pergi makan sesuatu yang lain? Akan kubelikan sesuatu yang lebih mahal lagi.” Ucap Ji Woo penuh semangat.
“Kau bilang susah mencerna. Apa Sekarang kau sudah baikan?” tanya Dae Young. Ji Woo menganguk.
“Aku baik-baik saja... Mungkin sudah tercerna dengan baik. Jadi, ayo kita makan yang lain.” Kata Ji Woo
“Aku tidak bisa. Aku harus memakan ini dan pergi bekerja.” Ucap Dae Young, Ji Woo pikir Dae Young sedang mengambil cuti.
“Aku ambil pekerjaan baru. Karena Aku harus menabung uang lebih banyak lagi biar bisa pergi ke Jerman. Tapi Aku harus lewatkan pekerjaanku karena pemeriksaan fisik. Aku minta mereka memberiku tiga jam kerja, tapi manajerku bilang tidak bisa. Jadi aku disuruh berhenti saja.” Kata Dae Young sedih
“Haruskah aku bekerja tiga jam itu untukmu? Ahh.. Tidak, aku akan kerja empat jam untukmu dan Lebih baik kau pemeriksaan fisik saja.” Ucap Ji Woo bersemangat menganti pekerjaan Dae Young

“Aku akan berterima kasih, tapi kau tak perlu melakukan itu.” Kata Dae Young
“Aku juga butuh uang... Apa aku tidak dibayar?” kata Ji Woo gugup tak ingin Dae Young perasaanya.
“Tentu saja dibayar... Terima kasih, Kacang. Aku berhutang budi padamu.” Ucap Dae Young. Ji Woo pun tersenyum.
Saat itu seorang mahasiswa makan sambil  membaca koran. Dae Young melihat highlight tentang Park Ji Sung. Dengan bangga merasa tak percaya kalau akhirnya ada pemain dari negara mereka bermain di Liga Premier. Ia pun menghampiri si mahasiswa untuk meminjam koran. Ji Woo menatap Dae Young seperti tak bisa menutupi rasa bahagianya. 


Ji Woo mengulingkan tabung gas dan meminta agar minggir pada pelangganya, dan sadar kalau Seo Yeon sadang mengantri. Ji Woo kaget melihat Seo Yeon,  lalu bertanya apakah ada direstoran datang untuk makan. Seo Yeon membenarkan dan balik bertanya pada Ji Woo.
“Apa Kau bekerja di sini?” tanya Seo Yeon melihat Ji Woo yang mengunakan seragam
“Aku menggantikan pekerjannya Dae Young.” akui Ji Woo. Seo Yeon kesal bertanya keberadaan Dae Young.
“Dia lagi ada pemeriksaan fisik... Aku sedang sibuk, jadi nikmati makananmu.” Ucap Ji Woo lalu bergegas masuk. Seo Yeon mengeluh Ji Woo memang bodoh.

Dae Young dkk sedang melakukan tes dengan calon yang akan wamil. Petugas meminta agar mereka menulis secara detail apabila memilih penyakit kronis, apakah sebelumnya pernah menjalani operasi, dan kapan operasinya.
“Apa Itu termasuk sunat juga?” tanya Jin Seok mengangkat tangan.
“Kau tidak perlu menulis itu. Kebanyakan pria menjalani hal seperti itu.” Ucap petugas
“Aku belum disunat. Apa tidak apa-apa?” kata Byung Sam. Dae Young dkk terlihat malu. Si petugas pun tak suka dengan lelucon Byung Sam. 

Mereka lalu melakukan CT Scan bagian dada, lalu memanggil Dae Young yang berbaring palin depan. Dae Young diminta agar bisa berdiri tegak, lalu sedikit memejamkan mata sambil mengerang.
“Dasar mesum. Apa Kau dihidupkan oleh mesin?” ejek Byung Sam.
“Tidak, aku merasa dingin saja.” Kata Dae Young.
Dae Young sudah melakukan pengambilan tes darah dan meminta agar menekan bagian lengan selama 5 menit. Jin Seok yang ada disampingnay, seperti ketakutan karena belum siap, tapi petugas langsung dengan cepat mengambil darah Jin Seok dengan suntikan.
Saat Byung Sam, Petugas membersihkan bagian lengan dan mengeluh karena lengannya terlihat kotor. Byung Sam hanya memalingkan wajah berpura-pura tak terjadi apapun.
“Pembuluh darahku susah untuk mengambil darah. Bukankah sulit bagi orang sepertiku untuk masuk wamil?” ucap Sung Joo, tapi saat itu juga darah sudah keluar dari lenganya.
“Anda menemukan pembuluh venaku, ternyata Anda sangat terampil.” Ungkap Sung Joo akhirnya pasrah. 

Mereka lalu melakukan tes psikologi, Ji Woo menceritakan karena suatu kejadian kalau melakukan hal buruk pada tes kepribadian ini, maka tidak akan menjadi tentara yang aktif. Byung Sam mendengarnya, menyimpulkan apabila bertingkah seperti orang gila maka bisa melewati ini
“Apa Menurutmu itu masuk akal? Bagaimana kita harus menjawab agar terlihat gila?” ucap Dae Young heran. Semua pun hanya bisa terdiam.
Dae Young membaca pertanyaan di lembaran soal "Aku sering melihat atau mendengar hal-hal yang orang lain tidak bisa lakukan."  Dan menjawab tidak dan hampir semua jawaban adalah tidak , sementara Jin Seok dkk lebih banyak menjawab Ya.
“Biasanya banyak yang menghindari tes ini dan mencoba berpura-pura tidak sehat secara mental. Jika ujian berikutnya menunjukkan hasil yang berbeda, atau kalian tidak bisa mengirimkan catatan medis, maka akan ditempatkan sebagai prajurit di garis depan.” Ucap Petugas. Semua terdiam dan panik
“Apa ada yang membutuhkan lembar jawaban baru?” tanya petugas. Jin Seok dan Byung Sam mengangkat tangan, Sung Joo pun ternyata ikut juga dengan saran dua temanya, dan ada beberapa pria lain mengangkat tanganya. 


Mereka berempat akhirnya pergi ke kamar mandi. Dae Young melihat Sung Joo terlihat senang setelah mengambil sample air kencing. Sung Joo mengaku kalau pernah mengalami kencing batu ketika masih SMP. Jadi merasa beruntung saja.
“Urinku akan menunjukkan kalau aku punya ginjal yang buruk jadi aku tidak akan aktif bertugas.” Kata Sung Joo bangga
“Apa? Harusnya beri tahu kalau kau ada masalah kesehatan. Berikan aku sedikit urinmu.” Ucap Jin Seuk
“Aku juga... Ahh... Tidak, akan kubeli urinmu. Aku akan membelinya dengan uang. Berapa? Berapa yang kau mau?” kata Byung Sam
“Bagaimana bisa aku berbagi urinku?” keluh Sung Joo, keduanya mencoba mengambil sedikit urine dari tangan Sung Joo.
Sung Joo mencoba menjauhkanya, tapi malah menumpahkan pada sepatu Dae Young. Dae Young menjerit karena jijik sambil mengeluh kalau petugas tak mungkin akan membebaskannya. Dan akhirnya mereka dinilai bisa bertugas menjadi tentara aktif.

Sung Joo menelp pacarnya dengan wajah sedih memberitahu kalau ditugaskan sebagai tentara aktif. Pacarnya ingin menjemput, tapi Sung Joo menolak karena akan bersama dengan teman-temannya dan akan meneleponnya  nanti.
“Apa ini yang dirasakan Romeo dan Juliet?” ucap Sung Joo sedih. Byung Sam kesal karena bukan hanya Sung Joo yang harus jadi tentara aktif. Seorang pria keluar dengan teriakan bahagia.
“Dia pasti dapat Tingkat Empat dan dapat pelayanan publik. “ ungkap Jin Seok
“Saat ini, aku iri padanya lebih dari Byung Sam.” Komentar Sung Joo, Jin Seok juga merasakan hal yang sama bahkan membuatnya menangis.
“Sudah cukup... Kita terima saja dan makan sesuatu yang enak.” Ucap Dae Young mengajak temanya untuk semangat 


Dae Young memesan  Dua bibim mandu, tempura udon, dua irisan daging babi kentang manis, .kimbap, dan udon tumis. Bibi pun pergi memasak pesanan. Dae Young menceritakan kalau Ji Woo bilang mereka  harus mencoba bibim mandu, udon, dan ubi jalar di restoran ii
“Benarkah? Kalau begitu aku mau SMS Ji Woo untuk bilang kalau kami makan apa yang dia rekomendasikan.” Ucap Byung Sam mencoba mengambil hati Ji Woo
“Aigoo, kupikir kalian hanya teman dan kau menerimanya.” Komentar Dae Young
“Aku mengirim SMS hanya sebagai teman.” Kata Byung Sam lalu bergegas mengirimkan pesan. 

Semua pesanan akhirnya menutupi semua meja, Mereka pun mulai makan dengan lahap dan saling berbagi untuk untuk mencoba. Byung Sam memuji Donkatsunya benar-benar enak. Dae Young mencoba bibim dengan mandu lalu kuah dari udon. Sung Joo melihat Byung Sam yang makand engan lahap. Byung Sam mengaku sangat lapar.
“Bagaimana bisa mandu itu terasa enak tanpa daging?” ucap Jin Seok.
“Hei, kenapa kau terus makan dua pangsit sekaligus? Hati nuranimu itu Tingkat Empat.” Keluh Byung Sam
“Jadi, apa kau tingkat satu karena murahan? Orang yang punya banyak adalah yang terburuk.” Ejek Jin Seok
“Kenapa kalian bertengkar? Kita bisa memesan yang lain.” Kata Dae Young lalu memesan satu porsi bibim mandu lagi
“Ji Woo bahkan menambahkan kimbap ke sini.” Ucap Dae Young mencoba kimbap dengan bimbim mandu dan memuji Ji Woo memang terbaik dalam hal makanan.
“Aku juga harus coba dengan caranya Ji Woo.” Kata Sung Joo dan kembali memuji  Lee Ji Woo benar-benar tahu banyak hal.
Saat itu Byung Sam dan Jin Seok sedang sibuk makan udon, tanpa sengaja mereka makan mie yang sama. Keduanya saling menatap seperti macam yang sedang marah, Dae Young akhirnya memutuskan mie keduanya. Byung Sam dan Jin Seok langsung mengeluh kesal.
“Oh, aku kenyang sekali. Tapi Mulutku terasa agak kering. Haruskah kita makan sesuatu yang dingin untuk dessert ?” kata Sung Joo
“Semua uang kita sudah digunakan.” Pikir Dae Young. Sung Joo merasa beruntung mereka  memiliki bank berjalan.
“Oh, ini juga buatan BS Industrials.” Kata Jin Seok memperlihatkan kotak tisseu. Byung Sam akhirnya setuju akan mentraktir mereka dan bertanya kemana mereka akan pergi.
“Sung Joo, kau sering sekali berkencan lebih dari kita. Apa ada tempat yang banyak orangnya?” kata Jin Seok. Sung Joo berusaha mengingatnya dan mengajak mereka bisa pergi ke sana.



Keempat pria duduk di kursi yang didesign seperti ayunan, dengan jendela didepan mereka. Semua kebingungan karena Sung Joo memilih tempat seperti hanya untuk tempta berkencan. Sung Joo menegaskan kalau restorani ini ramai dan memintaa agar bisa melihat kalau  semuanya adalah wanita.
“Dan juga, jika kau memesan sesuatu di sini, kau akan dapat gratis roti bakar tanpa batas.” Ucap Sung Joo
“Aku kenyang. Apa gunanya roti bakar gratis tanpa batas?” keluh Dae Young.
Tapi saat roti panggang datang, Dae Young dan Byung Sam makan dengan lahap. Sung Joo mengejek Dae Young yang tadi mengaku sangat kenyang. Dae Young mengaku kalau ini Seperti yang wanita katakan, selalu ada ruang untuk dessert.

“Roti panggang dan krim memang yang terbaik.” Komentar Byung Sam. Jin Seok akhirnya membawakan pesanan es Bingsu untuk mereka.
“Dia tergila-gila karena makanan gratis. Siapa yang akan mengira dia itu pewaris keluarga kaya?” ejek Jin Seok
“Dia belum banyak makan makanan seperti ini. Ini Enak sekali dilihat.” Komentar Sung Joo. Jin Seok kesal melihat sikat Sung Joo selalu menjilat.
Mereka akhirnya makan es Bingsu dengan lahap, dan rasanya enak merasa tak salah Sung Joo memilih tempat. Jin Seok lalu berbisik pada temanya agar mendekat dan meminta agar Jangan berbalik tapi dengarkan saja. Dae Young dan Byung Sam mendekat.
“Di belakangku, ada 4 wanita di arah jam 11. Kurasa mereka tertarik pada kita. Mereka terus menatap kita.” Kata Jin Seok.  Byung Sam langsung menolehkan kepala. Jin Seok memperingatkan agar jangan menengok. Semua seperti tak peduli.
“Apa Cuma itu saja? Kupikir kau ada rencana sebelum berangkat wamil. “ kata Jin Seok.
“Dia mungkin melihat kita karena aneh kita semua duduk seperti ini.” Ucap Dae Young
“Tidak, aku tahu itu karena selalu mengalami hal ini. Jadi bukan tampilan seperti itu. Kau harus minta mereka untuk bergabung.” Kata Jin Seok
Dae Young mengeluh kenapa harus dirinya, Jin Seok menegaskan mereka  harus berkencan sebelum masuk wamil dan bertanya apakah mereka akan pergi tanpa berpacaran. Dae Young pikir Bukan berarti  mau berkencan dengan sembarang orang. Jin Seok mengeluh mereka yang egois jadi memutuskan agar melakukan sendiri. 

 “Maaf, aku lihat kalian memperhatikan kami. Apa kalian mau bergabung dengan kami?” ucap Jin Seok berani mendekati para wanita.
“Apa?!! Kami hanya mau melihat kapan kursi ayunan itu akan kosong.” Ucap si wanita.
“Kalau begitu, bergabunglah dengan kami di kursi itu...” kata Jin Seok dan langsung ditolak dengan tegas. Jin Seok merengek agar mereka mau bergabung.
“Ayo pergi. Aku harus bekerja.” Kata Dae Young bersama dengan Sung Joo dan Byung Sam berdiri dari tempat duduk.
Beberapa wanita langsung menyerbu bangku kosong yang ditinggalkan Dae Young dkk.  Jin Seok tak percaya kalau tidak lebih baik dari kursi ayunan itu dan tetap bertekad untuk berkencan dengan seorang wanita sebelum pergi wamil.



Ji Woo sibuk di restoran membantu semua pekerjaan, bahkan bisa membawa semua piring sendiri. Saat itu Dae Young datang mengagetkan Ji Woo yang ada di meja kasir. Ji Woo kaget bertanya kapan Dae Young datang yang sudah berganti pakaian.
“Aku Baru saja datang . Pasti capek, 'kan? Istirahatlah, biar aku yang melakukanya.” Ucap Dae Young
“Tidak, aku tidak capek. Bagaimana denganmu? Apa pemeriksaan fisiknya agak susah? Bagaimana hasilnya? Apa Kau mengajukan permohonan penundaan?” kata Ji Woo bertanya tanpa bernafas.
“Hei, Kacang. Tanyakan satu-satu... Itu pasti tidak sulit... Kau penuh energi.” Ungkap Dae Young, saat itu manager datang melihat Dae Young yang baru datang.
“Aku akan mulai bekerja sekarang... Sampai jumpa di rumah.” Ucap Dae Young. Ji Woo pun mempersilahkan Dae Young mulai berkerja. 

“Sebentar. Lee Ji Woo .. Apa kau mau pergi? Tidak bisakah kau terus bekerja di sini? Kau pandai bekerja.” Ucap Manager. Ji Woo terlihat binggung.
“Aku akan membayarmu 3,500 Won per jam. Bagaimana kalau kau mulai bekerja di sini?” kata Manager
“Kau bilang 3,500 Won? Itu lebih banyak dari yang kudapatkan dan sudah setahun aku bekerja di sini.” Keluh Dae Young
“Kau memang sudah setahun bekerja di sini, tapi dia lebih baik darimu. Bagaimana? Apa Kau tertarik?” kata Manager. Ji Woo merasa tak enak hati menolak dan memilih untuk bergegas pergi saja. 

Seo Yeon pulang melihat Jin Seok sudah ada didepan rumahnya seperti baru saja minum. Jin Seok mengaku kalau butuh keberanian jadi memang minum sedikit. Ia memberitahu kalau akan masuk wamil dan begitu selesai Seo Yeon sudah lulus kuliah jadi mereka akan berpisah.
“Bisakah kita pacaran sampai aku berangkat wamil?” ucap  Jin Seok. Seo Yeon melonggo mendengarnya.
“Seo Yeon.... Aku menyukaimu... Aku mencintaimu.” Kata Jin Seok mencoba mendekat tapi Seo Yeon langsung mendorongnya sambil mengumpat Jin Seok itu gila.
“Aku tidak mau pacaran denganmu. Beraninya kau masih berada di dekatku?” ucap Seo Yeon ketus, saat itu Jin Seok sudah melihat dari kejauhan.

“Kau membuatku menjalankan semua tugasmu. Bagaimana bisa kau seperti ini padaku? Kau harus selesaikan masalah sebelum bicara.” Ucap JinS eok
“Kau sendiri yang mau melakukan tugas itu. Memangnya aku pernah memaksamu? Apa Aku pernah bilang akan pacaran denganmu begitu kau menjalankan tugasmu?” ucap Seo Yeon dengan nada tinggi
“Memang tidak. Tapi kau tahu, Aku melakukannya karena aku menyukaimu.” Ucap Jin Seok
“Sudah kubilang aku tidak menyukaimu.. Itu sebabnya aku tidak menyukaimu.” Tegas Seo Yeon
“Kau mementingkan perasaanmu dan kau bahkan tidak memikirkanku.” Keluh Jin Seok
“Ayo kita ke kantor polisi... Kamera CCTV ini mungkin sedang menyala. Akan kutuntut kau karena pelecehan seksual.” Kata Seo Yeon menarik Jin Seok
Jin Seok ketakutan meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Seo Yeon ingin menegaskan apakah Jin Seok menyukainya atau tidak. Jin Seok mengaku tidak menyukainya lalu bergegas pergi karena ketakutan. 



Ji Woo akhirnya datang memarahin Seo Yeon yang terlalu keras pada orang yang menyukainya, Seo Yeon menegaskan kalau Lee Young Ae mengatakan di film yang nonton tadi, "Uruslah dirimu sendiri." Ji Woo melonggo binggung.  Seo Yeon pikir kalau itu tak kasar.
“Yang kasar itu kau.” Ucap Seo Yeon. Ji Woo binggung kenapa ia dianggap kasar.
“Kau memmbuat Byeong Sam sebagai temanmu. Kau tidak akan menerimanya, jadi kenapa kau harus menyusahkan dia? Terkadang, kau lebih egois daripada aku.” Ucap Seo Yeon. Ji Woo hanya bisa terdiam. 


Dae Young melihat papan pengumuman dan melihat selembaran “Magang di BS Industrials, Pekerjaan Paruh Waktu Tersedia”  Ji Woo datang bertanya apa yang dilakukan temanya itu. Dae Young mengaku sedang mencari kerja paruh waktu
“Tidak ada yang lebih baik daripada kerja manual yang dibayar per hari.” Keluh Dae Young
“Apa Kau mau pekerjaan lain? Apa pekerjaanmu sekarang belum cukup?” kata Ji Woo
“Ya, tapi kurasa aku akan membutuhkanlebih banyak uang jika aku juga ingin ke Inggris.” Ucap Dae Young. Ji Woo heran Dae Young akan pergi ke Inggris.
“Ada Pemain Liga Premier pertama Korea ada di sana. Bagaimana aku bisa tidak melihatnya? Aku perlu menabung uang dan pergi menonton pertandingan itu di Inggris. Lalu pergi ke Piala Dunia, dan kemudian wamil. Aku juga kepikiran ingin ambil cuti semester depan.” Ucap Dae Young. Ji Woo kaget Dae Young akan mengambil cuti. 

Seo Yeon sibuk mencari baju birunya dalam lemari gantung. Ji Woo dengan wajah sedih memberitahu kalau bajunya itu sedang dicuci sambil memegan gantungan kunci pemberian dari Dae Young. Seo Yeon mengejek melihat wajah Ji Woo kalau orang-orang akan berpikir ia akan masuk wamil.
“Kau tidak akan bisa melihatnya setelah dia berangkat wamil. Jadi Gunakan kesempatan ini sekarang untuk melupakannya dan Keluar dari akal pikiran itu. Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi Dae Young...” ucap Seo Yeon dan langsung disela oleh Ji Woo
“Bukan seperti itu. Ini bukan tentang Dae Young! Aku hanya tidak ingin mengajar hari ini.” Kata Ji Woo kesal lalu keluar dari kamar.
“Tidak apanya... Dia pikir bisa bicara dengan kepintarannya.” Ejek Seo Yeon. 

Seo Yeon mengambil jemuran, Dae Young menanyakan kemana Ji Woo sambil mengangkat jemuran. Seo Yeon memberitahu Ji Woo sedang mengajar dan ingin tahu kenapa menanyakan tentang Ji Woo. Dae Young terlihat sedikit binggung.
“Oh, itu karena aku hanya melihatmu di sini.” Ucap Dae Young santai.
“Apa Kau tak mau pacaran dengan seseorang sebelum masuk wamil? Orang lain biasanya mati-matian mencari gadis untuk pacaran. Bahkan Jin Seok juga dan Byeong Sam juga.” Ucap Seo Yeon mencoba memancing
“Aku sedang tidak minat untuk pacaran.” Kata Dae Young. Seo Yeon kaget mendengarnya.
“Apa Kau tidak suka pada siapa pun? Kalau kau tidak tahu, maka perasaanmu hanya sebesar itu.” Ungkap Seo Yeon. Dae Young tak mengerti apa maksudnya.
“Kau tidak akan jadi striker yang baik saat bermain sepak bola. Mereka bilang menjadi striker perlu melihat semuanya dengan sangat baik. Ketika kau fokus pada satu hal,kau bahkan tidak bisa melihat di sampingmu.” Komentar Seo Yeon sinis.
“Hei, kenapa kau malah mengkritikku? Aku striker yang baik.” Komentar Dae Young membela diri. Seo Yeon terlihat masih kesal dengan sikap Dae Young.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar