Selasa, 30 Agustus 2016

Sinopsis Scarlet Heart Ryeo Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Malam hari, Wang Soo berdiri sendirian di istana dengan topeng yang masih menutupi wajahnya.
Flash Back
Terdengar suara dari kamar, Ratu yang berteriak tak terima karena Raja ingin memilki istri. Raja langsung keluar dari kamar. Putra Mahkota Wang Moo dan Wang So masih kecil melihat dan mendengar pertengkara kedua orang tuanya.
Yang Mulia!... Aku akan mati. Anak sulung kita telah meninggal. Mana bisa kau menikah lagi? Mana bisa kau menikah pada saat seperti ini?” ucap Ratu Yoo
Goryeo Selatan berada dalam bahaya. Pernikahan inilah solusi  untuk menangkis bahaya itu.” Ucap Raja Wang Gun
Sebelum kau jadi raja, kau adalah ayah dari anak-anakku. Apa kau tidak sedih? Apa hatimu tidak sakit? Apa kau tak ingin berharap kau bisa  mati dan menghidupkan anakmu?” kata Ratu Yoo marah
Banyak nyawa yang dipertaruhkan disini.”tegas Raja Wang Gun lalu beranjak pergi.
Ratu Yoo memanggil suaminya lalu menarik Wang So yang masih balita, sambil berlutut berkata apabila  hanya itu yang di pedulikan maka untuk apa mereka harus  bersusah payah hidup lagi. Wang So memanggil ibunya dengan wajah sedih. Saat itu juga Ratu Yoo mengeluarkan pisau kecil dan langsung mengalungkan di leher anaknya sebagai ancaman.
Kau pilih menikah atau pilih anakmu?” kata Ratu Yoo, Raja tak percaya istrinya bisa berbuat nekat, Ratu meminta Raja untuk memilih.
“Kau pilih Goryeo atau nyawa anakmu?” kata Ratu tetap menaruh pisau dileher anaknya.
Letakkan pisau itu. Kau tidak bisa menghentikan pernikahanku dengan berbuat begitu.” Tegas Raja Wang Gun
Ratu Yoo melihat suaminya itu memang berbeda menurutnya jika dirinya tidak memiliki seluruh hati Raja maka ia pikir tidak membutuhkan anaknya. Raja langsung menghentikan tangan Ratu Yoo yang ingin menusuk Wang So. Ratu Yoo tetap bersikukuh ingin membunuh anaknya, Wang So hanya bisa menangis
Akhirnya Raja bisa membuat tangan Ratu melepaskan pisaunya, tapi ternyata wajah Wang Soo terkena goresan pisau yang dipegang oleh ibunya, jeritan tangan Wang Soo terdengar sangat keras. Wang Moo melihat adiknya yang tergeletak langsung panik dan meminta pertolongan. 


Wang So tetap diam menatap keluar istana, alasan dirinya mengunakan topeng karena memiliki bekas luka sayatan pisau diwajahnya. Raja Wang sedang berjalan bersama dengan Ji Wong dan juga Shik Ryum, melihat Wang So yang sedang berdiri sendirian.
Apakah kau mengundangku ke sini untuk menjadi salah satu pelindung Putra Mahkota?” kata Wang So
Aku tidak tahu apakah kau akan menjadi perisai untuk Putra Mahkota... atau pedang untuk mengincarnya.” Ucap Raja Wang 

[Kediaman Pangeran ke-8,  Pangeran Wang Wook]
Chae Ryung mengajak Hae Soo berkeliling rumah dengan banyak pelayan yang sedang kerja membersihkan halaman, lalu membawa barang-barang dengan berjalan sangat rapih. Hae Soo melonggo melihat semuanya yang tak pernah dilihatnya.
Kau selalu suka main anak panah, dan akan taruhan dengan anak-anak lain. Dan Apa kau pohon itu yang disana? Kita yang menanamnya. Kau juga pandai main bulu tangkis” Ucap Chae Ryung menunjuk pohon dekat papan panah.
Baiklah, jadi aku suka main anak panah dan bulu tangkis. Aku ada di sini untuk merawat dan menjaga sepupu keenam. Namaku Hae Soo dan Kau pelayanku, Chae Ryung. Benarkan?” Kata Ha Jin mengingat semua yang sudah dijelaskan Chae Ryung.
Sepertinya aku mulai ingat sekarang.” Ucap Ha Jin berusaha untuk tak terlihat mencurigakan, Chae Ryung mengerutkan dahinya karena Ha Jin mengunakan bahasa banmal padanya.

Sebenarnya kau ini kenapa, Agasshi?” ucap Chae Ryung binggung, Ha Jin beralasan lupa lalu mengunakan bahasa formal meminta pelayanya itu tak perlu khawatir. Chae Ryung tersenyum bahagia berpikir kalau Hae Soo sudah ingat kembali.
Sepertinya antara aku ingat dan tidak, tapi Kau tak perlu khawatir. Aku tipe orang yang belajar dari satu hal dan belajar 10 hal lainnya. Jadi Akan kuusahakan” ucap Ha Jin meyakinkan.
Apa benar kau sungguh tidak ingat apa-apa? Sekarang cuma kita berdua saja disini, jadi Kau bisa beritahu aku. Kau bohong, 'kan? Pangeran dan istrinya tidak tahu. Aku selalu bersamamu setiap hari. Sebenarnya ada apa? Apa kau bertemu dengan  pria-pria dari keluarga lain itu Atau kau punya banyak utang?” kata Chae Ryung
Apa Hae Soo adalah  perempuan seperti itu? Jadi, apakah dia pura-pura  jadi gadis yang baik tapi dia pergi keluar malam-malam untuk bertemu pria?” komentar Ha Jin mendengar ucapan Chae Ryung
Chae Ryung berkomentar Hae Soo tidak seburuk juga, lalu berpikir kenapa Ha Jin seperti sedang membicarakan orang lain, menurutnya putrinya itu pasti sudah terluka parah. Ha Jin bergumam kalau dirinya lebih baik tutup mulut saja karena semua orang akan menganggapnya gila kalau berkata dirinya itu bukan Hae Soo.
Chae Ryung.... Sebenarnya... Ada gadis lain dalam diriku.” Ucap Ha Jin memegang tangan pelayan agak menyetuh bagian dadanya. Chae Ryung terlihat binggung.
Sudahlah..... Aku tidak perlu mati dua kali lagi. Gumam Ha Jin lalu mengaku kalau hanya bercanda saja pada pelayanya.
Chae Ryung.... Di sekitar mulutku tidak ada keriput, 'kan?” kata Ha Jin memegang wajahnya, Chae Ryung kembali dibuat binggung. Ha Jin memegang wajahnya merasa Kulitnya sangat bagus dan kencang dan merasa Sudah lama tubuhnya tak seperti ini.
Dia sangat merawat tubuhnya di zaman Goryeo meskipun cuma makan sayuran saja.” Komentar Ha Jin melihat bagian tangan dan memegang wajahnya, Chae Ryung makin khawatir melihat putrinya memang benar-benar terluka parah karena tak mengingat apapun.  Ha Jin melemaskan otot-otot ditubuhnya, menurutnya ada gunanya dirinya  bisa hidup kembali. 

[Istana Cheomseongdae]
Ji Mong terlihat sedang berdiri dilantai atas membuat teropong yang terbuat dari bambu. Wang bersaudara masuk ruangan, Wang Eun menjerit melihat bentuk pesawat yang tergantung, bertanya apa itu lalu berteriak memanggil Ji Mong. Ji Mong berteriak memanggil Pangeran ke 10 dengan tanganya membentang seperti pesawat.
Itu adalah pesawat.” Kata Ji Mong, Wang Eun binggung apa itu pesawat.
Itu benda yang bisa terbang di langit seperti layaknya burung. Suatu hari, anak-anakmu akan punya anak. Lalu Anak-anak itu akan punya anak-anak mereka sendiri. Dan Orang akan menggunakan ini untuk pergi ke negeri asing dan berwisata.” Cerita Ji Mong, semua tersenyum bahagia mendengarnya.
Wow! Ji Mong selalu membuat benda yang menakjubkan.” Komentar Wang Eun

Kau selalu menatap langit dan sering bicara aneh. Apa yang kau katakan tentang ramalan bintang Putra Mahkota...apakah itu benar?” kata Wang Yo melirik sinis
Itulah yang ingin kukatakan juga. Orang yang tahu kehendak langit tunduk pada Putra Mahkota.” Ucap Wang Won
Semua orang di Goryeo tahu itu. Pekerjaanku adalah membaca langit. Apa Kau pikir aku akan berbohong?” kata Ji Mong membela diri.
Kalau begitu, Ji Mong... Apa peruntunganku hari ini? Jika ramalanmu benar, aku akan menganggapmu ramalan tentang Putra Mahkota juga benar.” Kata Baek Ah menantang.
Hari kelahiran Pangeran ke-13... adalah saat dimana Merkurius, Venus, Mars, dan Jupiter berada dalam satu garis, benar 'kan? Begitulah orang hebat dulu di masa lalu. Kau cukup mujur dalam urusan perempuan.” Jelas Ji Mong, Wang Eun merasa bisa juga menebaknya.
Siapa yang tidak tahu kalau semua perempuan berkerumun di Songak cuma untuk melihat Baek Ah?” ucap Wang Eun
Kalau cuma itu saja yang kau lakukan, saudara ketiga kami punya keberuntungan besar dalam urusan kekuasaan. Saudara ke-9 kita punya keberuntungan dalam urusan kekayaan. Saudara ke-8 kita dikaruniai kecerdasan yang tinggi.” Kata Wang Jung berpindah-pindah pada saudaranya. 

Wang Jung berdiri didepan Wang Eun melihat saudara ke 10nya, lalu mengejek tak ada kelebihan.  Wang Eun mengatakan beruntung karena sudah dikaruniai adik seperti Wang Jung sambil memukul kepalanya. Wang Jung kesal langsung berdiri dengan mata melotot, Wang Eun tak mau kalah ikut berdiri tapi tinggi badanya kalah dibanding dengan sang adik. Akhirnya Wang Eun menarik adiknya untuk beradu dada.
Ji Mong mengeluh merasa tersinggung gara-gara mereka semua karena biasanya selalu  menikmati ceritanya, lalu bertanya apakah sekarang mereka tidak percaya padanya. Baek Ah mengatakan kalau itu waktu mereka masih kecil tapi sekarang mereka semua sudah dewasa jadi takkan tertipu lagi. Ji Mong hanya bisa tertawa karemn semua sudah dewasa sekarang jadi takkan bisa menarik perhatian hanya dengan perkataannya.
“Wang Eun, katanya kita sudah dewasa.” Ucap Wang Jung pada sang kakak
Aku belum tumbuh besar.” Keluh Wang Eun karena tubuhnya paling pendek dibanding saudara lainya
Tidak seperti itu, Kau tumbuh besar di area yang lain.” Komentar Wang Won, semua saudaranya menatap seperti berpikiran yang aneh.
Maksudku, perasaan dan kepeduliannya terhadap orang lain.” Jelas Wang Won agar semua berpikiran lurus. Semua pun tertawa, Ji Mong diam-diam menatap semua Wang bersaudara terlihat sedih.
Soal saudara keempat kami... Katanya dia ada di istana. Kenapa dia tidak datang menyapaku?” ucap Wang Won heran

Wang Jung menceritakan kalau Pangeran ke-4 itu  membunuh dinaiki dan pengawal yang melihat kejadian itu langsung  mengalami mimpi buruk bahkan semuannya mengambil cuti, lalu bertanya-tanya kenapa kakaknya melakukan hal seperti itu. Wang Yo merasa kalau tingkah adiknya seperti itu maka  ia juga tak mau disapa olehnya.
Wang Wook yakin Wang So itu mungkin menderita lebih dari mereka semua, jadi meminta semuanya untuk tak bersikap seperti itu karena Wang So juga saudara mereka juga. Wang So tiba-tiba lewat didepan mereka, semua terkejut dan kelihatan ketakutan. Wang So melirik dingin pada semua Wang bersaudara.
Wang Yo terlihat sinis, Wang Wook menyapa kakaknya yang sudah lama tak bertemu dengan senyuman. Wang So hanya menyapa dengan nada dingin lalu pergi. Semua terlihat langsung bisa bernafas kembali. Wang Eun  hampir pingsan dan bertanya apa mereka semua merasa baik-baik saja, lalu berpikir hanya dirinya yang merasa tak bisa bernafas. Wang Jung tak yakin dengan hal itu dengan memainkan bulu di lehernya. 


Ha Jin berjalan dengan Chae Ryung lalu melihat Wang Wook sedang berjalan dengan Nyonya Hae, lalu bertanya Seperti apa Pangeran ke-8 karena tak tidak ingat. Chae Ryung menceritakan Wang Wook itu orang terbaik di seluruh Goryeo, bahkan berpendidikan sama seperti para cendekiawan di luar sana.
Dia yang Paling baik, dan yang terbaik di antara semua 25 pangeran. Banyak yang meyakini bahwa Putra Mahkota sekarang ini seharusnya tidak harus menjadi Pangeran pertama. Mereka percaya seharusnya itu adalah pangeran kita.” Kata Chae Ryung ikut mengangguminya juga.
Apa dia Gwangjong? gumam Ha Jin melihat Wang Wook yang membantu memakaikan sepatu pada Nyonya Hae.

Sepertinya mereka punya hubungan yang bagus.” Kata Ha Jin melihat Wang Wook yang berjalan bersama dengan Nyonya Hae.
Tentu saja. Dia sangat peduli dan perhatian pada istrinya yang sakit. Selain itu Nyonya Hae juga percaya pada pangeran dan akan mengikutinya ke mana saja. Semua orang sangat iri padanya.” Jelas Chae Ryung
Ha Jin mengingat saat Wang Wook mengulurkan tangan dan ia meraihnya  disaat ketakutan. Lalu membantunya untuk bangun tapi tak kuat, Wang Wook pun membantunya untuk memakaikan sepatu. Ha Jin menatap Wang Wook seperti baru pertama kali melihat pria yang sangat perhatian. 
Sepertinya aku juga bisa percaya padanya. Gumam Ha Jin menatap dalam Wang Wook sedang minum teh dengan istrinya. Wang Wook melihat Ha Jin yang menatapnya dari kejauhan, Ha Jin langsung memalingkan wajahnya berpura-pura tak melihatnya. 

Seorang wanita datang dengan banyak pelayan melihat tatapan Ha Jin pada Wang Wook, lalu menegurnya dengan sinis kalau itu tak sopan. Ha Jin menatap binggung karena tak mengenalnya, Chae Ryung langsung membungkuk untuk menyapa Tuan Putri, lalu meminta Hae Soo untuk menyapa Putri Yeon Hwa dan mendorongnya agar membungkuk.
“Jadi Wanita ini tuan putri? Yah... Tentu saja, kalau ada pangeran, maka ada seorang putri. Gumam Ha Jin melihat Yeon Hwa
Biarkan saja... Kudengar dia kehilangan ingatannya. Namun, sepertinya dia juga kehilangan sopan santun. Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya tidak ada salahnya kalau kau belajar lagi dari awal.”sindir Yeon Hwa
Dia suka merendahkan orang dengan cara yang aneh. Gumam Ha Jin sinis

Kau seharusnya tak boleh melihat kegiatan yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Aku akan menghadapinya dengan cara kasar jika itu terjadi lagi... meski kau itu sepupunya. Apa Kau mengerti?” kata Yeon Hwa sinis
Mata dan mulut yang berliku, coba lihatlah tangannya yang kaku itu. Aku sudah banyak mengalami kesialan sebelum ini... gumam Ha Jin melihat tubuh Yeon Hwa.
Kalau kau tidak menyukaiku, bilang saja!! Aku bisa tahu hanya dengan melihatmu. Kau berusaha cari alasan untuk memarahiku. Itu tak mempan padaku, Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini.” kata Ha Jin menatangnya.
Yeon Hwa marah melihat Ha Jin yang berani bicara kasar dan melotot padanya. Chae Young membungkuk meminta maaf karen Hae Soo belum sadar sepenuhnya. Ha Jin tak terima dianggap kalau dirinya itu gila. Chae Young pikir bukan itu tapi sepertinya seperti serba salah. Yeon Hwa memarahi Ha Jin yang berani bertingkah dirumah Pangeran, tiba-tiba terdengar suara seorang pria karena mendengar keributan. Wang Wook sudah berdiri dengan tatapan marah pada keduanya yang adu mulut. 


Ha Jin melonggo melihat sebuah perpustakan yang cukup besar di dalam rumah, Wang Wook sengaja mengajak Hae Soo pergi ke perpustakaan, lalu menyindir pasti lupa cara menyapa orang semenjak kecelakaan itu. Ha Jin membungkuk untuk menyapanya dan dengan cepat membiasakan diri dengan mengunakan bahasa formal pada pangeran.
Mereka bilang kau tidak ingat apa-apa. Kalau begitu, kau juga tidak ingat aku.” Kata Wang Wook
Katanya kau itu Pangeran ke-8.” Ucap Ha Jin, Wang Wook pikir Ha Jin mengetahui hal itu
Kalau begitu, apa kau memata-matai pangeran saat mandi sebelum atau sesudah ingatanmu menghilang?” tanya Wang Woo sambil melihat buku dirak, Ha Jin mengaku tidak begitu ingat.
Baiklah, lalu apa yang  akan kau rencanakan sekarang? Aku akan mengizinkanmu jadi kau ingin berbuat apa?” ucap Wang Wook, Ha Jin binggung.

Saat istriku membawamu kesini, maka aku berencana mengawasimu. Kau bisa menerima pengobatan lagi atau kembali ke kampung halamanmu. Mungkin sulit hidup di sini karena kau tidak ingat apapun. Aku akan membantu cari tempat tinggal.” Ucap Wang Wook, Ha Jin binggung kenapa harus seperti itu, Wang Wook heran dengan ucapan Hae So.
Aku orang yang terluka. Kenapa kau mau merawatku? Ah... karena aku sepupu istrimu. Tapi tetap saja... itu bukan kepribadianku menerima belas kasih dari orang lain. Aku bisa mengurusi  diriku sendiri.” Ucap Ha Jin
“Kau bilang Belas kasih? Apa Aku sulit memahami maksud perkataanmu? Sebenarnya Apa maksudmu?” kata Wang Wook binggung.

Ha Jin terlihat bingung juga menjelaskanya, sampai akhirnya mengatakan kalau ia akan menghadapi ini semua dan tinggal di rumah ini. Wang Woo memilih pergi mengambil bukunya, Ha Jin menyakinkan karena tidak ingat apa-apa jadi tidak bisa pergi ke tempat lain selain itu ada Nyonya Hae, Chae Ryung dan juga Wang Wook dirumah itu, menurutnya  semua sangat baik dan bisa menghadapinya. Saat mengejar Wang Wook tak meliha disudut ruangan dan  tiba-tiba berjalan didepanya, Ha Jin ikut berjalan mengejarnya ingin meyakinkan.
Tidak ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan. Aku sangat cerdas. Jadi, aku juga cepat belajar. Kau akan tahu setelah melihatku. Aku akan menjadi seseorang yang kau butuhkan dalam rumah ini. Aku akan berusaha yang terbaik untuk mempelajari semuanya. Aku takkan menjadi beban bagimu, Pangeran.” Kata Ha Jin sambil melonggo melihat kemana perginya Wang Wook. Ketika berbalik Wang Wook sudah ada didepan matanya.

Kau... ...seperti orang yang berbeda. Kita tak pernah dekat seperti ini. Caramu berbicara dan  perilakumu. Aku melihat Kau orang yang berbeda.... Tapi Itu tidak masalah bagiku.” Ucap Wang Wook
Ha Jin sempet panik takut ketahuan lalu dibuat bingung dengan ucapan Wang Wook, Wang Wook mengatakan takkan memaksa Ha Jin mengingatnya, atau memata-matai para pangeran, tap tidak boleh membuat Nyonya Hae khawatir. Ha Jin langsung mengangguk mengerti. Wang Wook pun menyuruh Hae Soo segera pergi. Ha Jin berjanji  akan bekerja keras menghadapinya lalu bergegas pergi. Wang Wook dibuat binggung lagi dengan kata-kata yang tak terbiasa didengarnya. 

Wang So pergi ke bagian perpustakaan dan melihat salah satu buku isinya tentang gaya bercinta lalu menaruhna kembali dan melihat buku yang lain tapi isinya juga sama. Ji Wong datang berbisik dari belakang kalau itu  buku terbaru dan bertanya apaah mau pinjamnya.
Kenapa kau mau menemuiku?” tanya Wang So melempar bukunya pada Ji Wong
Pelayan yang menyajikan sarapan Putra Mahkota dihukum gantung. Pembunuhan itu disamarkan sebagai tindak bunuh diri. Bukankah itu berarti pelakunya pasti dari anggota keluarga kerajaan? Terutama, pelakunya adalah salah satu dari para pangeran. Jadi Temukan pelakunya.” Kata Ji Mong
“Kau bilang Temukan pelakunya?  Memangnya aku anjing? Orang selalu memanggilku anjing serigala. Jadi Sekarang kau sungguh menganggapku anjing sungguhan.” Keluh Wang So marah

Apa kau senang membunuh kuda itu? Kau ingin berhenti hidup sebagai sandera dan tinggal di Songak, 'kan? Ini bisa jadi kesempatanmu, Pangeran. Ambillah kesempatan saat kesempatan itu ada di depan mata. Coba Lihatlah aku.... Kubilang raja akan mewujudkan mimpinya menyatukan Tiga Negara Han besar. Sekarang lihatlah aku dimana.” Kata Ji Mong yang bisa tinggal di istana.
Jangan main-main denganku. Aku bukan anak kecil lagi yang dulu sangat suka dihibur olehmu. Jangan pikir kau  bisa macam-macam denganku.” Tegas Wang Soo meunjuk dada Ji Mong

Ji Mong menegaskan kalau Inilah yang diinginkan Putra Mahkota. Wang Mo datang menemui adiknya, Ji Mong memberitahu mereka menerima saran bahwa ada rencana untuk membunuh Putra Mahkota selama acara ritual. Wang So mengerti kalau kakaknya ingin dirinya berpura-pura  menjadi Putra mahkota, lalu menanyakan imbalanya.
Bagaimana kalau kau menangkap pelakunya? Lalu aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kata Wang Mo
Aku akan tinggal di Songak.” Ucap Wang So mengajukan permintaanya. 

Ha Jin berusaha menempelkan kertas lampion agar berbentuk bunga tapi terlihat kesusahan, Yeon Hwa menceritakan kalau   Setiap tahun, rumah mereka punya lentera teratai yang paling indah berkat Hae Soo,  tapi menurutnya seperti tahun ini akan sulit. Ha Jin beralasan kalau itu karena lukanya belum sembuh jadi tanganya belum bisa cepat bergerak.
“Yah... Mau bagaimana lagi? Kau tidak melakukannya dengan sengaja. Kau harus istirahat jadi Keluarlah.” Ucap Yeon Hwa
Tidak, aku tidak harus  istirahat saja. Aku akan melakukan apapun jadi Berikan aku tugas.” Kata Ha Jin penuh semangat.
Kau lapang dada sekali... Kalau begitu, Chae Ryung. Tunjukkan padanya tempat untuk mencampur adonan lem. Kau bisa melakukannya 'kan?”ucap Yeon Hwa, Chae Ryung panik tapi Ha Jin merasa kalau itu bukan masalah besar. Nyonya Hae yang mendengarnya terlihat khawatir. 

Ha Jin mengaduk adonan lem dalam tempat yang cukup besar da mengadunya dengan kayu panjang, wajahnya terkena asap yang menghitam. Ia bicara sendiri kalau Putri Yeon Hwa terlihat sangat peduli padanya tapi ternyata jahat, lalu memukul lenganya karena harus sampai kapan mengaduknya.
Aku tahu bagaimana  caranya merawat kulit dengan Pijat dan makeup. Aku punya banyak surat izin melakukan itu semua. Tapi lihatlah aku di sini.  Aku sudah seperti makanan anjing saja.” Kata Ha Jin mengaduk adonan lem
Akhirnya Ha Jin turun dari pijakan lalu mengerakan tubuhnnya, untuk melemaskan semua otot-otot yang terasa kaku. Wang Wook sedang lewat melonggo melihat Ha Jin membungkuk lalu mengerakan tubuhnya ke kanan dan kiri, seperti tak bisa seorang wanita melakukan itu.
Ha Jin teringat dengan adonanya lalu kembali naik pijakan dan kembali mengaduknya, lalu terbatuk-batuk karena banyak mengeluarkan asap. Wang Wook terus melihatnya, Ha Jin sadar ada Wang Wook mencoba untuk tertawa memberitahu Putri Yeon Hwa memberikan tugas penting pembuatan lem. Wang Wook pikir sebelumnya Hae Soo berkata  akan mempelajari semuanya dan menghadapinya, jadi itu kerjaan yang bagus, sambil menahan tawa berkomentar Hae Soo memang  orang yang cukup hebat lalu berjalan pergi. 

Baek Ah dan saudara lainya belajar memainkan pedang, Wang Wo datang ikut bergabung dengan adik-adiknya, semua terlihat melakukan gerakan yang sama kecuali Wang Eun dengan arah pedang yang berbeda. Wang Jung memperbaiki arah pedang kakaknya.
Wang Eun merajuk melempar pedangnya karena tak ingin berlatih lagi, Wang Won memarahi adiknya yang pemalas, Baek Ah kembali akan beradu mulut dengan Wang Eun. Akhirnya Ji Wong mengajak semuanya untuk beristirahat saja. 

Wang Wook menanyakan keberadan pangeran ke 4 dan kapan datang,  karena Ini pertama kalinya datan jadi mereka harus berlatih bersama. Ji Mong mengatakan Pangeran ke-4 akan segera tiba.
Katanya setelah ritual selesai... ada rumor bahwa raja akan.. menyerahkan takhta-nya ke Putra Mahkota.” Ucap Wang Won, Ji Mong terkejut mendengarnya dan terlihat gugup.
“Apa memang benar ada rumor seperti itu? Astaga! Aku belum pernah  dengar hal seperti itu. Kalaupun itu benar, raja takkan pernah mau memberitahuku. Aku hanyalah  ahli perbintangan. Sekarang Aku harus menemui Putra Mahkota dan menerangkan tugasnya dalam ritual nanti.” Kata Ji Mong lalu menyuruh mereka kembali berlatih pedang dan segera pergi. 

Wang Wook memarahi Wang Won karena seharusnya tak boleh berkata seperti itu, karena bisa gawat kalau sampai nanti Raja mengetahuinya, mengeluh kalau saudaranya itu ceroboh sekali.
Bukan cuma dia saja yang penasaran. Jangan terlalu menyalahkan dia. Choi Ji Mong tidak menyangkal kalau itu tidak benar.” Kata Wang Yo membela adiknya, Wang Wook pun tak bisa bicara apa-apa lagi. 

Ha Jin tertidur lelap didepan tungku terlihat sangat lelah setelah mengaku adonan lem, lalu merapihkan bajunya yang dilipat. Saat akan kembali ke rumah melihat sosok Ji Mong berjalan didepanya, teringat kembali dengan gembel yang menginginkan soju saat ada di pinggir danau.
Akhirnya Ha Jin berlari mengejar perginya Ji Mong sampai keluar dari istana, melewati pasar yang cukup ramai. Ji Mong terlihat berjalan sangat cepat dan menyebarangi sungai. Ha Jin kehilangan jejak Ji Mong saat sampai di pinggir sungai. Tiba-tiba seseorang berteriak “Itu si anjing! Anjing serigala!

Wang So menudangi kuda dengan setengah topengnya, dan semua orang langsung menyingkir ketakutan dengan datangnya Wang So. Ha Jin membalikan badanya terkejut melihat Wang So dengan kuda berjalan ke arahnya, seorang mendorong dengan barang bawanya di punggungnya. Ia hampir saja terjatuh kembali ke dalam sungai, tangan Wang So dengan cepat meraih pinggangnya, lalu menariknya ke atas kuda. Ha Jin melonggo kaget melihat Wang So yang menyelamatkanya dengan wajah setengah bertopeng dan memeluk pinggangnya. 
bersambung ke episode 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


6 komentar:

  1. Gamsahamida eonni...atas sinopsis nya..aku udh g sbar bca episode 2 nya..😊 fighting y eonni bwt sinopsis nya...😊

    BalasHapus
  2. Gamsahamida eonni...atas sinopsis nya..aku udh g sbar bca episode 2 nya..😊 fighting y eonni bwt sinopsis nya...😊

    BalasHapus
  3. Semangat ya mimin baik hati 😊 ditunggu episode selanjutnya πŸ‘

    BalasHapus
  4. Lee jong ki klo pake baju2 gini panteees bgt ..
    Dtunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  5. di korea ratingnya rendah😞😞😞sedih dengernya😞
    lee jun ki mah juaranya kalo main drama saeguk😘😘
    semoga episode2 selanjutnya ratingnya naikπŸ™
    gomawo unni dee,, FIGHTING yaaπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

    BalasHapus
  6. Eonni nur mau taya.sinopsis docter eps20 bkn eoni y tulis y?
    Klo bener bkn eonni yg tlis knpa bkn eonni yg tulis?
    Sinopsis y jdi ga enak di baca tauuu..

    BalasHapus