Senin, 29 Agustus 2016

Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC


Rumah Sakit Kangsan
“Aku akan menjaga rahasiamu sampai aku mati, jadi ceritakanlah. Bagaimana kau bisa kabur?” ucap Ri Jin dengan sedikit berteriak
Pasien yang diajak bicara hanya menutup wajahnya dengan selimut, Ri Jin memberitahu pada Nyonya Husky, apabila ia menolak untuk perawatan dan tak mau minum obat maka ia akan tinggal lebi lama lagi dirumah sakit.
Nyonya Husky menjawab kalau menurutnya di rumah dan dirumah sakit menurutnya seperti ada dalam penjara. Dia hanya bisa melihat dokter di dalam rumah ataupun di dalam rumah sakit.
“Semua dokter di rumahku gila karena mereka tak bisa membuatku jadi dokter. dan dokter di rumah sakit jadi gila karena mereka menjadikanku pasien. Dokter, bukankah kau harus mengatakan sesuatu?” ucap Nyonya Husky yang tak mendengar tanggapan dari dokter
Ri Jin melotot karena pasiennya ini terlihat begitu pintar mengelabuhi, Nyonya Husky tahu dirinya itu tak akan bisa pergi padahal ia hanya ingin hidup dengan berdansa dan menurutnya itu bukan gila. Ri Jin tersenyum, lalu mengajak Nyonya Husky untuk pergi bersama.
“Jika kau minum obatmu dengan baik, dan menerima perawatan. Aku akan pergi denganmu.” ucap Ri Jin berjanji
Nyonya Husky tak percaya begitu saja, Ri Jin meyakinkan kalau yang ia katakan itu benar. Nyonya Husky bertanya kapan, Ri Jin berpikir mereka akan pergi saat dirinya libur.
“Kalau begitu kita bisa pergi sekarang, kau libur hari ini!” teriak Nyonya Husky langsung duduk sambil menari-nari kegirangan
Ri Jin kaget melihat Nyonya Husky yang tiba-tiba bangun, Nyonya Husky binggung karerna Ri Jin kaget. Ri Jin menunjuk mata Nyonya Husky.
“Ya, orang-orang terus bilang kalau aku terlihat seperti Siberian Husky. Jadi aku mengubah mataku. Ini warna senja twilight. Sedang populer di klub belakangan ini.” cerita Nyonya Husky memperlihatkan eyeshadow berwarna merah dan tangannya diatas dagunya.
Ri Jin seperti sedikit tak percaya, Nyonya Husky menyakinkan kalau make ini digunakan oleh Baek Hyun EXO. Ri Jin terlihat tersenyum karena tak tahu menahu tentang hal itu.
“Kau tidak tahu yang seperti ini, itu sangat Aneh. Tapi kau punya bakat mem-booking pria.” ujar Nyonya Husky melipat tangannya di dada.
“Booking? Siapa? Aku?” ucap Ri Jin binggung dengan tuduhan Nyonya Husky 


Ri Jin berjalan keluar ruangan sambil mengingat semua cerita tentang dirinya dari Nyonya Husky.
“Berhenti membantah, Dokter Oh Ri Jin. Kabar itu sudah menyebar ke seluruh rumah sakit. Mereka bilang kau bertemu seorang pria saat mencari seorang pasien tapi kau dicampakkan dua jam kemudian.” cerita Nyonya Husky tertawa bahagia.
Semua suster dan juga dokter melihat Ri Jin yang berjalan langsung saling berbisik mengossipkan dirinya yang membooking seorang pria.
Tiga orang dokter sedang makan pizza bersama, Salah satu dokter tertawa membayangkan seekor belatung yang bisa berguling.
“Tapi aku tidak tahu bahwa Dokter Oh punya bakat mencari pria, lalu langsung dicampakkan dua jam kemudian!” ucap Dokter dengan penuh bahagia.
“Dokter Oh kami, itu  harus pergi sepanjang jalan sampai akhir. Dia sangat sengit, seperti pada umumnya!” komentar Dokter lainnya.
“Seperti yang kulihat, dia gagal dalam teknik tarik-ulur. Saat si pria mencoba melepaskan celananya”
Semuanya langsung tertawa, dokter yang satunya merasa kasihan dengan Ri Jin lalu berpikir apakah Ri Jin itu pernah kencan sebelumnya.  Dokter yang lain berkomentar kalu mereka harus menjaganya takut Ri Jin itu sedang putus asa. Ri Jin berdiri sambil bersandar di tembok mendengar dirinya yang di bicarakan oleh tiga dokter lainnya.
“Hei, apa disana sebuah jendela terbuka? Mengapa tiba-tiba jadi dingin?” ucap dokter yang duduk di tengah merapatkan jaketnya.
“Itu bukan booking!” teriak Ri Jin menghampiri ketiganya.
“Doctor Oh. Bukankah kau libur hari ini?” ucap Dokter mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Dialah orang yang mengikutiku karena menyukaiku lalu dia yang menghilang karena dia sibuk, dan saat dia bermain-main, aku tak pernah pergi bersamanya. Jadi ini bukan mem-booking!” teriak Ri Jin penuh amarah.
Dokter wanita datag membawakan jaket kulit yang dipakai Seu Gi, ia memberitahu pihak laundry mengatakan untuk memberikan padanya.
“Ini bukan mem-booking pria !” teriak Ri Jin histeris, lalu mengambil jaket kulit lalu pergi.
Ketiga dokter mencoba menahan tawa karena Ri Jin yang sudah tak bisa mengelak lagi. 


Ri Jin langsung membuang jaket kulit itu ke dalam tempat sampah daur ulang, tapi beberapa saat kemudian ia mencoba mengambilnya, sambil menoleh kanan dan kiri takut ada orang yang melihatnya, karena kesuahan ia membuka pintu tempat sampah daur ulang.
Ia memeriksa Jaket dan ada label kalau jaket itu adalah buatan Italia, ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menelp Seu Gi.
Do Hyun sedang melakukan meditasi dengan memberikan sugesti yang positif dalam dirinya.
“Hanya karena kau tidak diadili, jangan coba-coba menyakiti orang lain. Jika kau tetap bilang bahwa kau tidak diadili. Kau hanya akan semakin membenci orang itu.”
Setelah itu ia membuka matanya, sepertinya ia tak mendengar bunyi ponselnya.
Ri Jin masih terus mencoba menelp Seu Gi, terdengar bunyi suara operator wanita kalau telpnya itu tidak diangkat. Akhirnya Ri Jin mengakui dirinya itu memang dicampakan oleh si pria lalu ia membuang kembali jaket di tempat sampah. 


Di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Ri Jin memberhentikan mobilnya sambil menghela nafas panjang, matanya melirik ke sampingnya ada jaket kulit di dalam tas, lalu mengangguk-angguk sendirian.
“ Ya, ini bukan perasaan atau harapan, aku hanya tak tega membuangnya karena itu terbuat dari kulit sungguhan dan buatan italia” ucap Ri Jin berusaha untuk menyakinkan dirinya.
Ia mengambil tas dan akan keluar dari mobil, lalu berteriak kaget karena ayahnya sudah berdiri tepat disamping mobilnya. Ayahnya langsung membuka pintu mobil anaknya dan mengambil tas karena ia pikir itu hadiah untuknya.
“Ah! Ayah Ini bukan untukmu! Ini bukan milikmu!” ucap Ri Jin berusaha mengejar ayahnya

Beberapa saat kemudian, Ri Jin terdiam. Ayahnya sudah mengunakan jaket kulit yang dipakai oleh Seu Gi. Ayahnya bergaya layaknya seperti seorang model, ia merasa dirinya kerean mengunakan jaket kulit.
“Apa maksudmu kau terlihat keren? Itu kelihatan murahan!” ejek Ri Jin
“Kau kelihatannya sangat puas, memberikan ini untukku” ucap Ayahnya bahagia.
Ri Jin berusaha mengiyakan dan meminta ayahnya untuk melepaskan jaket itu. Ayahnya malah merasa bangga, karena Ri Jin yang sudah dewasa  membawakan hadian untuknya. Ia tahu jaket kulit itu model jadul tapi tetap saja ia sangat menyukainya.
“Dan lihat ini, bukankah kelihatan seperti darah sungguhan? Mereka bahkan membuat detail seperti ini.” ucap Ayahnya menunjuk ada noda darah dibagian dadanya.
“Ayah , aku mempertaruhkan hidupku untuk mengatakan ini. Tapi ini terlalu kecil buatmu.” rengek Ri Jin yang berusaha supaya ayahnya mau membuka jaket kulit itu.
Ayahnya merasa kalau itu terlalu kecil, seorang wanita keluar berteriak apakah suaminya itu sudah memotong kayu bakar lalu ia berteriak memanggil Ri Jin begitu juga sebaliknya Ri Jin memanggil wanita itu ibu.
Keduanya saling berpelukan dengan wajah gembira, ibunya bertanya dengan nada manja, kapan anaknya itu datang, Ri Jin membalas dengan nada manja pula, ia baru saja datang. Ibunya sangat senang karena kedatangan anaknya.
“Ayahmu menangkap seekor babi liar jadi dia bisa membuat barbeque untukmu.” ucap ibunya bahagia, Ri Jin juga sangat senang
“Sayang, apa kau sudah memotong semua kayu bakar?” teriak Ibu Ri Jin
Ayahnya masih saja bergaya dengan jaketnya, menyuruh keduanya untuk masuk saja. Saat masuk ia memanggil keduanya memperlihatkan dirinya yang mengunakan kapak dengan jaket kulit yang menurutnya sangat keren.
“ Jaket Itu terlalu kecil!” teriak keduanya kesal. 


Ri Jin dan ibunya duduk sambil menusuk paprika,  Ri Jin melihat ayahnya itu masih sama. Ibunya merasa suminya itu semakin membaik setiap harinya dan banyak disukai orang karena sering menolong sesama.
“Aku pikir Karena ayah kekuatan dan karisma terbesar ayah. Jika semua orang di dunia seperti ayah, departemenku tidak akan ada pasien di rumah sakit.” komentar Ri Jin
“Orang yang menjaga masyarakat seperti ayahmu akan membuat departemen psikologi tidak berakhir, jadi jangan khawatir.” ujar ibunya.
Ri Jin tak mendengar suara Ri On dari dapur dan bertanya kemana kakaknya. Ibunya juga tak tahu, lalu menceritakan Ri On menghabiskan waktunya untuk menulis sebuah novel baru dan ia tak tahu apakah Ri On masih tidur atau sudah bangun.
“Tapi... Bisakah kau menghentikan kakakmu dari menulis novel misteri? Dia cuma bicara tentang orang-orang sekarat, lalu menulis bukunya sendiri dan tidak tidur malam hari karena mimpi buruk.” cerita ibunya tentang Ri On
Ri Jin sedikit tak percaya, ibunya memperagakan saat Ri On sedang mengingau dengan orang ketakutan. Ri Jin berteriak dan merasa kakakanya itu sedikit bodoh. 


Ri Jin masuk ke dalam kamar Ri On, ia tak melihat ada orang di dalam. Lalu melangkahkan kakinya melihat ada buku yang berserakan dan mengambilnya. Ia menilai kalau kakaknya itu adalah pria kesepian dengan bertemannya hanya buku saja.
Ia tersenyum melihat banyak tumpukan buku diatas meja kakaknya, saat akan pergi langkahnya terhenti. Ada sebuah papan yang mentutupi foto yang ad dibaliknya, Ri Jin berjalan perlahan tangannya ingin mengeser papan itu, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Ri Jin berteriak karena kaget, terlihat sekilas foto Do Hyun saat sedang bermain baseball tapi sepertinya Ri Jin tak menyadarinya. Ri On yang mengalungkan handuknya langsung berusaha menutupi semua yang ada dibalik papan. 


“Ahhh.... Jantungku hampir copot rasanya, karenamu!”umpat Ri Jin denga menghela nafas
“Apa kau seorang pencuri? Siapa yang mengirimmu? Apa ini penerbit selanjutnya? Apa ini Eiru Media?” tuduh Ri On
Dengan nada ketus, Ri Jin mengatakan kalau ibunya menyuruhnya datang karena sudah saatnya mereka makan, setelah itu pergi keluar dari kamar Ri On.
Melihat adiknya sudah pergi, Ia mengeser sedikit papan dan melihat foto Do Hyun yang belum ketahuan, ia bernafas lega seperti tidak terbongkar semua rahasinya. 


Ri Jin berteriak memangil Rin On untuk turun dan makan bersama lalu berjalan masuk ke meja makan, Ri On juga masuk meyapa ibunya.
“Lihatlah lingkaran hitammu. Kau seperti seekor panda, bukan manusia!” komentar ibunya melihat lingkar mata anaknya.
Ri On berusaha melihat lingkar matanya sendiri, Ibunya bertanya berapa banyak orang yang sudah dibunuh anaknya. Dengan bangga Ri On mengatakan ia sudah membunuh dua orang. Ibunya merasa kalau dua anaknya yang ia miliki terus menyakiti orang tuanya..
“Aku takut, anakku satunya akan disakiti oleh pasien-pasiennya. dan sementara yang satu lagi aku takut bahwa pikirannya akan dirusak dengan melakukan itu.” ucap ibunya khawatir.
“Ri Jin, selagi kamu libur, ajaklah kakakmu konsultasi.” teriak ibunya yang merasa sangat khawatir pada psikis Ri On
“Keluarga kita sudah jadi psikiater yang andal. Awal dan akhir kesehatan pikiran adalah kebahagiaan keluarga.” ucap Ri Jin bangga.
“Wow, wow. Apa kita akan melakukan iklan komedi layanan masyarakat sekarang?” ejek Ri On pada kakaknya.
Ri On lalu bertepuk tangan sambil tertawa dan mendorong adiknya, Ri Jin akhirnya ikut bertepuk tangan sambil tertawa, Ibunya terlihat binggung dengan dua tingkah anaknya seperti orang gila. Akhirnya ibunya ikut tertawa sambil membentangkan tangannya.
“Keluarlah dan bantu aku menyalakan api. Aku sudah mengumpulkan kayu bakar dan diluar Terlalu dingin.” ucap ayahnya melongokan kepalanya dari pintu.
“Ayah...Tapi dari mana kau dapatkan jaket itu? Benar-benar menakjubkan!” komentar Ri On melihat ayahnya tampil beda


Daging sapi sudah mulai dipanggang, Ibu Ri Jin sudah berteman dengan asap. Ri Jin juga memasukan udang di dekat daging sapi.
Ri On memangang paprika dengan daging babi dengan panggangan yang berbeda. Ayah Ri Jin mengisi gelas besar dengan bir di dalam rumah, ia melihat semua anggota keluarganya sedang membakar semua bahan makanan dengan gembira.
Ayah langsung keluar membawa empat gelas bir untuk semunya, Ri Jin terlihat sangat bahagia, semunya langsung memegang masing-masing gelas bir ukuran besar. Dengan bahagia mereka berteriak lalu bersulang bersama. 


Malam hari di rumah keluarga Oh
Ri Jin duduk sendirian sambil menikmati minuman hangat dan Ri On datang mengatakan kalau diluar sangat dingin lalu duduk disamping adiknya.
“Jika kau sudah selesai makan, seharusnya kau masuk dan tidur.” komentar Ri On
 “Kenapa kau minum kopi di larut malam? Apa kau berencana bekerja sepanjang malam?” tanya Ri Jin menyandarkan badannya.
“Ya. Aku bisa tidur setelah membunuh setidaknya dua orang lagi.” jawab Ri On dengan mimik seperti seorang pembunuh
“Aku dengar kau tak bisa tidur karena sering mimpi buruk. Tidakkah kau terlalu mendalaminya penulisan novelmu itu?” tanya Ri Jin dengan nada mengeram.
Ri On merasa kalau konsultasi dengan adiknya itu sudah dimulai. Ri Jin tersenyum, ia memang tak mengerti tentang pekerjaan seorang penulis.
“Tapi kau harus membedakan antara dunia nyata dan imajinasi. Jika kau terlalu mendalaminya, ke dalam dunia yang kau buat maka kau bisa tersakiti.” saran  Ri Jin pada kakaknya.
“Aigoo, aigoo, aigoo... dengarkan, Oppa mu ini akan melakukan dengan baik.” ucap Ri On sambil memegang kepala adiknya dengan gemas.
Ri Oh ingin membahas alasan tentang dirinya yang memutuskan menjadi penulis misterius dengan nama Omega. Ri Jin merasa itu tak mengerti tapi ia pikir dirinya tak perlu tahu. Ri On memeluk adiknya meminta untuk memikiran pembicaraan sebagai seorang dokter. 


“Sebagai Omega, aku seorang penulis yang menulis novel misteri. tapi sebagai Oh Ri On yang menjadi kakakmu” jelas Ri Jin
Lalu ia menunjuk satu bintang di langit kalau ia juga punya satu yaitu Oh Whee dengan jiwa yang bebas. Ri Jin binggung karena kakaknya punya 3 kepribadian bukan dua, Ri On mengaku kalau Oh Whee dijadikan sebagai sosok pria perayu.
“Nama Oh Ri On terlalu biasa jadi para wanita memanggilku Oh Whee.” jelas Ri On
Ri Jin merasa percakapan mereka selesai karena kakaknya itu punya dua kepribadian.  Ri On menarik adiknya mengatakan kalau dirinya itu hidup aman dan nyaman karena bisa mendefinisakan dirinya menjadi tiga orang. Ri Jin setuju dengan hal itu, Ri On mengganggap dirinya itu seperti Jekyll dan Hyde, Ri Jin meminum kembali tehnya. 


Ia teringat saat bertemu dengan Seu Gi yang mengatakan hanya satu dengan wajah seperti itu, lalu menariknya dengan sangat dekat dan menatapnya sangat dalam. Lalu ia teringat saat bertemu Do Hyun di depan lobby, ia tak melihat sorot mata seperti sebelumnya.
Ri On mengoyangkan tangannya di depan wajah Ri Jin yang benggong, Ri Jin akhirnya tersadar dari lamunannya dan mengatakan ia baik-baik saja.
“Tapi... Jika kau hidup dengan membagi dirimu menjadi orang yang berbeda. apa itu menyenangkan?” tanya Ri Jin penasaran
“ Daripada mengatakan kalau itu menyenangkan, lebih baik itu bisa dikatakan  adalah cara untuk menyelamatkan diri dari dunia yang kejam.” jelas Ri On.
Ri Jin terlihat benggong, Rin On binggung melihat adiknya yang benggong.
“Apa?” ucap Ri On
“Apa?” balas Ri Jin
“Apa? Apa? Apa?” jawab Ri On kembali
“Apa? Apa? Apa?” ucap Ri Jin tak mau kalah. 


Ri Jin mencoba untuk tidur dan melupakan semua pikirannya, saat matanya terpejam ia mengingat kata-kata Seu Gi kalau hanya satu dirinya yang bernama Seu Gi dengan wajah seperti itu.
“Jadi, kau... Jangan melupakan tatapan mataku.” ucap Seu Gi dengan tatapan mata dinginnya.
Setelah itu ia bertemu dengan Do Hyun yang hanya mengatakan “Kuatkanlah dirimu” dengan mata yang berbeda.
“Kuatkanlah dirimu. Tapi aku sungguh harus pergi. Maaf. Maafkan aku. Maaf.” ucap Do Hyun yang bersikap sopan sambil membungkukan badannya.
Ri Jin seperti tersadar kalau keduanya itu sangat berbeda dari sorot matanya, lalu mencoba untuk tertidur. 


Pagi hari di rumah Do Hyun
Ketua Ahn datang sambil melihat jam tangannya, Do Hyun yang baru selesai berolah raga tak menyangka Ketua Ahn datang lebih awal dari yang ia perkirakan. Ketua Ahn menatap wajah Do Hyun penuh curiga.
“Apakah sesuatu terjadi semalam?” tanya Ketua Ahn khawatir.
“Dia menghilang beberapa hari. Berdasarkan laporanku, aku tidak pernah hilang kesadaran atau waktu.” ucap Do Hyun melihat jam tanganya yang melihat semuanya dari situ.
Lalu ia bertanya apakah ada yang penting harus dilakukan sekarang. Ketua Ahn bertanya apakah mereka bisa rapat seperti yang sudah direncanakan. Do Hyun mengangguk dengan tersenyum. 


Terlihat gedung menjulang tinggi yang ada di Seoul
Seo Tae Im, nenek Do Hyun berjalan bersama ketua Ahn dan Do Hyun ke dalam gedung. Semua pegawai langsung membungkukan badan memberikan hormat saat mereka berjalan. Nyonya Seo sempat terdiam melihat dua orang yang ada di depan lift.
Ki Joon bersama ayahnya berdiri di depan lift, Young Pyo menyapa Nyonya Seo dengan panggilan presdir. Do Hyun menyapa juga Young Pyo dan merasa tak enak hati harusnya menyambutnya di depan tapi malah bertemu di depan lift.
“Ahh itu biasa, Untuk seorang anak yang bahkan tidak bisa menyesuaikan perbedaan waktu setelah mengakhiri urusan di Amerika, anda menyuruhnya berkerja sekarang bukankah ini terlalu kejam?” komentar Young Pyo
“ Untuk perusahaan dan untuk dirinya, lebih baik memulai bekerja sesegera mungkin.” jelas Nyonya Seo
“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, tapi bukankah posisi ini memberatkan untuk seorang anak baru?” ucap Young Pyo seperti merendahkan Do Hyun.
Nyonya Seo merasa ia tak merasa seperti  itu karena Do Hyun bisa belajar dari Young Pyo dan menurutnya Do Hyun itu tidak merasa terbebani dengan posisinya yang penting di perusahaan tapi ia merasa Do Hyun akan lebih bertanggung jawab.

Young Pyo mengangguk-angguk mengerti, terdengar bunyi lift datang, Nyonya Seo masuk ke dalam di ikuti oleh Do Hyun, Ketua Ahn menahan pintu lift.
“Kau bisa naik duluan. Kita akan menggunakan lift yang berbeda.” ucap Young Pyo, Ki Joon memberikan hormat
“memang Itulah seharusnya.” ucap Nyonya Seo sinis. Young Pyo memberikan senyuman lebarnya, setelah itu pintu lift tertutup. 
“Jangan terbuai dengan senyumnya. Itu semua palsu dan termasuk strateginya. Semakin seseorang punya ambisi gelap, dia menyembunyikan diri yang sesungguhnya.” pesan Nyonya Seo pada cucunya.

Do Hyun menatap lurus seperti mengerti dan mengingat semua pesan dari neneknya. 


Yoon Ja Kyung sedang bermain golf, semua bertepuk tangan setelah melihat permainannya teman-teman memuji pukulan itu sangat bagus dan ingin mengetahui strateginya. Ja Kyung tersenyum, merasa pemaianannya hari ini tidak buruk.
Shin Hwa Ran, ibu Do Hyun  turun dari mobil golf, ia berbicara di telp tentang Seung Jin Grup.
“Bukan, dia belum jadi Presiden tapi ID Enter Presiden” ucapnya di telp
Sepertinya temannya tidak mengerti dengan pembicarannya, lalu ia mengulagi kembali kalau anaknya itu menjadi ID center. Ja Kyung seperti tak suka dengan kedatangan Hwa Ran mengajak temannya untuk masuk ke dalam saja.
“Sayang! Bahkan jika anakku adalah penerus Seung Jin Group” ucap Hwa Ran berteriak, sepertinya ia sedang berbicara dengan pacarnya.
Ja Kyung memilih untuk pergi, Hwa Ran yang melihat Ja Kyung pergi mencoba memanggilnya dan menghampirinya. Tapi Ja Kyung bersama teman-temannya sudah keburu pergi dengan mobil golf. Hwa Ran terlihat kesal dengan sikap Ja Kyung yang mengacuhkan dirinya. 


Ja Kyung menelp dengan berkeluh kesah menceritakan sesuatu yang memalukan karena bertemu dengan orang kelas rendah yang tak tahu malu. Terdengar suara Hwa Ran dan merasa kalau orang yang dibicarakan Ja Kyung itu adalah dirinya.
Hwa Ran berjalan mendekat Ja Kyung buru-buru ingin pergi tapi ditahan dan didorong duduk kembali.
“Duduklah. Ayo bicara, saudari ipar.” ucap Hwa Ran menyapa Ja Kyung 
“Dengarkan, Bisakah kau tidak memanggilku saudari ipar?” balas Ja Kyung seperti tak suka dengan panggian itu.
Hwa Ran merasa ia lebih baik memanggil saudara ipar dibanding harus memanggil namanya, Ja Kyung pikir untuk apa Hwa Ra menganggapnya sebagai saudara ipar karena namanya itu tak ada dalam daftar keluarganya.
“Itu kan hanya sehelai kertas. Hanya karena tidak ada kertas itu, apa ada orang yang tidak tahu bahwa aku istrinya Cha Joon Pyo?” ungkap Hwa Ran.
“Berhenti bermimpi. Tidak ada seorangpun di Seung Jin berpikir kau bagian dari keluarga.”ucap Ja Kyung sinis lalu berjalan pergi.
Hwa Ran menjambak rambut Ja Kyung dengan kasar, meluapkan rasa kesalnya dengan mengatakan dirinya tak perlu berhenti bermimpi karena suaminya masih hidup dan ia memiliki anak Cha Do Hyun sebagai satu-satunya penerus Seung Jin Grup.
Ja Kyung meminta untuk melepaskan tangan lalu bicara, Hwa Ran tetap menariknya, Ja Kyung merasa Hwa Ran sudah bertindak sangat kasar. Hwa Ran berteriak kalau Ja Kyung itu berani padanya dan ingin di permalukan olehnya. 


Papan nama bertuliskan “Wakil Presiden Cha Do Hyun” Ki Joon datang menanyakan apakah Do Hyun suka dengan ruangannya lalu berjalan mendekat. Do Hyun menyapa Ki Joon dengan pengilan Presdir.
“Apa ini? Kau sudah membuat jarak antara kita setelah memanggil peperangan?” komentar Ki Joon
Do Hyun tak mengerti dan masih memberikan senyumannya, Ki Joon menyuruh Do Hyun unuk berakting seakan-aka tak merasa bersalah. Menurutnya pertarungan antara penerus Seung Ji Grup dimulai dan orang-orang diluar sangat tertarik dengan itu, Do Hyun seperti merasa biasa saja.
Ki Joon pikir lebih baik mereka membuat semuanya  lebih mudah, Do Hyun seperti kurang setuju dengan Ki Joon yang membahas tentang pertumpahan darah antara keluarga. Ki Joon mengerti lalu pamit pergi tapi ia kembali lagi berbicara pada Do Hyun.

“Hari itu aku melihatmu meninggalkan klub dan Kau berpakaian seperti orang yang jauh berbeda.” ungkap Ki Joon,
Mata Do Hyun melotot kaget karena takut ketahuan ia berubah menjadi Seu Gi, tangannya saling meremas menghilangkan rasa gugupnya.
“Oh, hari itu? Teman yang sering belajar bersamaku,tiba-tiba menghubungiku” jelas Do Hyun terbata-bata.
“Kau pasti banyak banyak berpesta di Amerika. Apa kau memakai narkoba?” ucap Ki Joon dengan nada menuduh.
Do Hyun kaget dan binggung, Ki Joon mendekat dan berisik supaya Do Hyun berhati-hati, kalau di Korea banyak orang yang melihat mereka berdua, mata Do Hyun memerah mendengar bisikan Ki Joon. Dengan wajah liciknya, Ki Joon pergi meninggalkan Do Hyun. 



Ri Jin menyetir sambil berbicara pada ibunya, ia berbicara pada ibunya yang merasa dirinya itu tidak mengalami masa sulit, karena anak perempuannya itu adalah wanita yang kuat.
“Kau tidak harus begitu. Pilihlah seseorang dari rumah sakit dan nikahi dia. Dan kau bisa membawanya ke rumah. Tapi kau harus memilih satu dari para dokter, bukan pasien.” pesan ibunya di telp yang sedang sibuk menyemprot tanaman.
Ri Jin memberitahu ibunya akan menutup telp dulu karena ia akan parkir, setelah itu ia melepaskan hands free dan konsetrasi memarkir mobilnya. Setelah selesai parkir  ia turun dari mobil lalu menguncinya, ponselnya berbunyi.
“Putriku, terimakasih untuk hadiahnya. Memang sedikit kecil, tapi aku akan memakainya dengan baik.” tulis ayahnya dalam pesan sambil memberikan foto Selfienya, Ri Jin tersenyum melihat foto ayahnya.
“Oh Ri Jin....” terdengar suara berat yang memangilnya, Ri Jin terlihat kaget dan ketakutan meihat orang yang datang memanggilya. 


Do Hyun duduk didalam ruanganya sambil memeriksa berkas dengan tabnya, ponselnya berbunyi, tertera nama Oh Ri Jin. Awalnya ia akan mengabaikanya, tapi setelah itu ia memutusakan untuk mengangkatnya.
“Apa ini Shin Seu Gi??” ucap si pria dengan suara berat, mata Do Hyun melotot karena orang itu tahu kepribadian yang lainnya lalu bertanya siapa orang itu.
“Aku? Aku orang yang dipermalukan olehmu di Klub Paradise. Dimana jaketku?” teriak si pria yang dirampas jaketnya oleh Seu Gi di toilet
Do Hyun tak mengerti maksud dari ucapan si pria tentang jaketnya, pria itu terus berteriak menyuruh Do Hyun untuk tidak perlu berpura-pura lupa.
“Jangan menyentuh satupun barang dalam jaket kulit yang kau curi itu dan bawa itu padaku. Jika tidak, kekasihmu akan mati di tanganku.” ancam pria itu
“Kekasihku?” tanya Do Hyun semakin binggung
“Kau pengecut! Kau berpura-pura tidak tahu apapun? Tidakkah kau tahu pemilik ponsel ini? Oh Ri Jin dari Rumah Sakit Kang Han.” ucap si pria
Terlihat Ri Jin yang sudah di ikat duduk diatas kursi dengan mulut di lakban hijau. Si pria meminta Do Hyun untuk membawa jaketnya ke gudang Taesang tepat jam 1
“Wanita ini akan mati jika kau tidak membawa jaketnya atau jika kau telat. Jika kau melapor polisi dan membawa orang bersamamu, dia akan mati.”ancam si pria lalu menutup telpnya.

Do Hyun berusaha berbicara lagi, tapi ponselnya sudah benar-benar di tutup. Wajahnya kebinggungan menaruh ponselnya di meja. Ia mengambil berkas mencoba konsentrasi tapi ia melihat jam tangannya pukul 11 siang.
Akhirnya ia memutuskan membawa jaketnya dan keluar ruangan, Ketua Ahn yang kebetulan masuk bertanya Do Hyun mau kemana. Do Hyun mengatakan ia akan pergi sebentar dan akan segera kembali. 
Dua buah jaket terlempar ke tembok, Do Hyun sudah ada di dalam ruangan pakaian mencari-cari jaket yang di inginka si pria itu, ketua Ahn mengikutinya dari belakang.
“Kau tidak bisa melakukan ini sekarang. Rapat dimulai sebentar lagi.” ucap Ketua Ahn khawatir.
“Aku harus menemukannya.” tegas Do Hyun.
Ia berjalan keluar ruangan lalu mencari-cari dari tumpukan sampah barang bekas, Ketua Ahn terlihat mondar mandir dengan wajah binggung. Ketua Ahn meminta Do Hyun kembali ke kantor dan mengikuti rapat tak peduli apapun alasannya, ia juga akan pergi melaporkan pada polisi tentang masalah ini.
“Saat aku pergi, seorang wanita dalam bahaya.!” ucap Do Hyun berusaha untuk bertanggung jawab.

“Itu sesuatu yang Seu Gi lakukan Kau tak tahu apapun, kau tidak bisa membereskannya!” tegas Ketua Ahn berusaha menyadarkannya. 


“Ini berkaitan dengan hidup seseorang, setidaknya aku harus pergi mengembalikan jaket” teriak Do Hyun.
Lalu ia seperti memiliki sebuah rencana, meminta Ketua Ahn untuk memukulnya. Ketua Ahn binggung. Do Hyun mengatakan kalau ia harus memanggil Seu Gi keluar dari dalam dirinya, Ketua Ahn kembali mencoba menyadarkan Do Hyun dengan rencannya.
“Satu-satunya orang yang tahu kejadian semalam dan dimana jaketnya adalah dia. Satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan ini adalah Seu Gi.” jelas Do Hyun.
“Bahkan jika aku melakukannya, itu tak menjamin dia akan keluar.” teriak Ketua Ahn ragu.
“Dia sensitif ketika aku marah atau tersakiti. Ini satu-satunya cara. Jadi pukul aku.” perintah Do Hyun
Ketua Ahn mengatakan ia tak bisa melakukannya, Do Hyun mengataka kalau itu adalah perintah dari atasannya dan ia juga akan bertanggung jawab sepenuhnya apa yang terjadi, ia memohon supaya Ketua Ahn untuk memukulnya.
“Cepat! Aku tak punya banyak waktu!” teriak Do Hyun menunggu ketua Ahn untuk memukulnya.
Ketua Ahn akhirnya setuju, ia meminta maaf sebelum melakukannya lalu menampar Do Hyun perlahan. Do Hyun mengatakan itu sangat pelan dan berteriak menyuruh Ketua Ahn untuk lebih kerasa lagi memukulnya. Ketua Ahn memberikan pukulan pada bahu.
Do Hyun sempat berteriak tapi menurutnya itu belum cukup. Ia berteriak meminta tolong supaya Ketua Ahn memukulnya lebih keras lagi. Ketua Ahn membuka kaca matanya lalu memberikan pukulan keras pada perut Do Hyun.
Ketua Ahn terlihat khawatir melihat Do Hyun seperti berlutut dengan jari tangan yang mulai memerah, wajahnya tertunduk. Lalu Do Hyun melihat kelangit-langit dengan mata yang berubah lalu tertunduk kembali. Ketua Ahn makin panik melihat keadaan Do Hyun. 

“ Wakil Presiden! Apa kau tidak apa-apa?” tanya Ketua Ahn
Do Hyun masih saja tertunduk, jarinya lalu mengepal, ia mengangkat wajahnya terlihat ada kilatan dia wajahnya sebagai tanda ia sudah berubah, matanya kali ini berubah menjadi warna kuning. Ketua Ahn memanggil Do Hyun dengan panggilan Shin Seu Gi, Do Hyun menaikan satu alisnya.
“Apa kau baru saja memukulku? Kau bajingan kasar. Kau baru saja memukulku?” ucap Do Hyun dengan nada bicara seperti pria genit dan membela rambutnya jadi belah tengah.
“Ferry Park?” ucap Ketua Ahn seperti mengetahui perubahan Do Hyun ke pribadi yang berbeda.

Dengan wajah tersenyum, Do Hyun membenarkan kalau dirinya adalah ferry Park, setelah itu terlihat dirinya yang memperlihat bulatan di tangannya dan menaruhnya di tempat Ri Jin di tawan oleh si pria.

Sepertinya Do Hyun berubah menjadi pria lainnya sambil membuka dasinya sambil bernyanyi-nyanyi, terlihat ketua Ahn yang kebingungan. 
Terjadi ledakan di gudang, Do Hyun menyelamatkan Ri Jin keluar dari gudang, setelah itu Do Hyun berjabatan tangan dengan ketua Ahn di dalam gudang, pakaian Do Hyun berubah menjadi bunga-bunga. 

Bersambung ke episode  3 

Komentar 

Sekali lagi Ji Sung emang top banget aktingnya, bisa langsung berubah dari tatapan matanya. Btw gue lebih suka nulis nama Seu Gi pas kepribadiannya datang, dan balik lagi ke Do Hyun kalau ilang. Sebenernya ini drama agak ngejelimet dari silsilah keluarga, tapi gue lebih tertarik sama karakter Do Hyun dengan beberapa kepribadian. 

Nonton drama ini berasa jadi lupa segalanya, akhirnya mungkin Do Hyun bisa jadi pewaris Seung Gi Grup. Tapi gue penasaran gimana Do Hyun bisa berubah dari satu kepribadian ke Kepribadian yang satunya. Menurut gue ini kepribadiannya tergantung dari warna matanya, kalo ungu jadi Seu Gi, terus pas terakhir warna kuning jadi ferry Park. 

Apa mungkin 7 karakter itu diambil dari warna pelangi, Mejikuhibiniu. Ahhh... ga sabar nunggu selanjutnya. Drama ini termasuk bisa nyaingin pinokio, cuma sayang banget subtitlenya kurang lengkap, jadi musti agak sedikit bersabar nunggu yang sedikit lebih lengkap. Jadi bersabar yah, karena aku nulis ga ada satu scene pun yang di potong. biar nyeritainnya enak. ^_^ 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar