Rabu, 24 Agustus 2016

Sinopsis Doctors Episode 18 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Tuan Kim menatap istrinya yang masih terbaring di ICU, lalu memegang dahinya seperti  merasakan perbedaan  dan memegang bagian tanganya juga. Dengan wajah panik memanggil dokter kalau suhu badan istrinya yang panas. Dokter Kang dan Seo Woo sedang ada di receptionist bergegas menemui pasienya.
Dokter Kang memeriksa dengan termometer di bagian telinga, suhunya sampai 39°C. Seo Woo melihat suhu badan Sangat tinggi, jadi Fatal sekali kalau sampai bayi yang terkena, menurutnya Dibanding obat penurun panas,  gunakan kompres saja. Tuan Kim terlihat sangat khawatir dengan keadaan istrinya yang sedang koma dalam keadaan mengandung.
Jangan terlalu khawatir. Kami bisa menurunkan suhu tubuhnya.” Kata Seo Woo, Tuan Kim meminta izin untuk bisa mengompres istrinya. Seo Woo pun memperbolehkanya. 

Hye Jung menerima telp dari Dokter Kang, Dokter Kang memberitahu kalau Suami Pasien Lee Hae Young ingin bicara dengannya. Hye Jung pun meminta Dokter Kang memberikan ponselnya pada Tuan Kim.
Halo, ini Dr Yoo. Maafkan aku tidak bisa ke sana karena ada masalah pribadi. Aku tidak bisa memenuhi tanggung jawabku.” Kata Hye Jung
Aku ingin melepaskan... alat bantu pernapasan Istriku.” Ucap Tuan Kim terdengar sudah pasrah. Hye Jung kaget mendengarnya. 

Hye Jung menemui tuan Kim di ruangan tunggu. Tuan Kim tertunduk sambil menangis, lalu mengatakan bahwa mencintai istrinyalebih dari siapa pun di dunia ini.Tapi justru memberinya rasa sakit yang paling besar. Menurutnya Hae Young  tidak setangguh yang terlihat dan membuatnya terlihat sangat egois.
Jika kau memang egois, maka kau tidak akan membawanya kemari.” Ucap Hye Jung menenangkan 
Aku ingin menyerah. Aku ingin menyerah dan... membuatnya beristirahat dalam damai.” Kata Tuan Kim
Jika kau menyerah sekarang, maka semua upayanya untuk mempertahankan si bayi akan menjadi sia-sia.” Tegas Hye Jung mencoba menyakinkan. Tuan Kim bertanya apakah istrinya itu akan setuju.
Dia bertahan sampai sejauh ini karena kalian berdua. Karena dia mencintaimu dan bayi kalian. Jadi Kau sebagai suaminya harus tetap kuat.” Kata Hye Jung. 

Tuan Kim mengompres badan istrinya agar bisa menurunkan suhu badanya, sambil menatapnya berkata kalau memang istrinya kuat maka ia juga akan kuat menghadapinya, lalu mengungkapkan rasa cintanya pada sang istri. 

Young Soo memberikan sesuatu pada sang kakak. Kang Soo bertanya apa yang diberikan adiknya. Young Soo memberikan buka tabungan untuk membaya semua biaya rumah sakit kakaknya. Kang Soo merasa adiknya itu ingin membuatnya marah.
“Memangnya kenapa? Aku bahkan tidak jajan agar bisa menabung. Apakah jumlahnya terlalu kecil?” kata Young Soo
Gunakan uang ini untuk keperluanmu sendiri, dasar idiot. Aku memberimu keleluasaan, dan kau justru melakukan hal yang bodoh begini.” Ucap Kang Soo marah
Kau ini kenapa ?Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk membantumu.” Ucap Young Soo
Young Soo.... Jika kau ingin melakukan sesuatu untuk membantuku, bisakah kau lebih produktif?” kata Kang Soo, Young Soo bingung.
Kang Soo menyuruh mengambil saja buku tabungan dan berbelaja, bahkan bisa makan yang dinginkanya, sehingga tak perlu terlihat menyedihkan. Ia memberitahu dirinya seorang dokter jadi bisa  mendapatkan diskon 50%  dan gaji tahunannya mencapai 50 juta won, dengan bangga kalau dirinya itu hebat. Young Soo tahu mengenai kakaknya yang hebat.
“Tapi Kau harus mencari tempat tinggal. Kau kan tidak bisa bekerja sementara waktu ini.” ucap Young Soo khawatir
Berhenti mencemaskan hal yang tidak penting dan berbelanja saja sana!” tegas Kang Soo dengan nada tinggi. Young Soo pun tak menolaknya, merasa senang karena tabungannya jadi utuh.
“Hyungnim... Jangan sampai sakit. Kau benar-benar membuatku takut.” Kata Young Soo menahan rasa sedihnya.
“Hei...  Apa yang kau takutkan? Memangnya kakakmu ini pecundang?” ucap Kang Soo memegang leher adiknya, Young Soo tahu sudah pasti bukan lalu memberikan hormat layaknya tentara, Kang Soo pun membalasnya hormat dengan senyumanya. Young Soo pamit pergi, Kang Soo pun mengantar adiknya sampai ke depan rumah sakit. 

Kang Soo akan kembali ke kamarnya melihat Dokter Kim yang baru keluar kamar. Dokter Kim mengatakan sengaja datang untuk menjenguk tapi ternyata Kang Soo sedang tak ada dikamar. Kang Soo memberitahu baru saja  mengantar adiknya pulang.
Apa yang akan kau lakukan saat sudah diperbolehkan pulang?” tanya Dokter Kim, Kang Soo mengatakan belum memiliki rencana apa pun.
“Apa Kau mau bekerja untuk Departemen Bedah Syaraf?” ucap Dokter Kim menawarkan. Kang Soo kaget mendengarnya lalu bertanya posisinya.
Sebagai sekretaris sementara, karena Posisinya sedang kosong sekarang. Kau belum bisa menyelesaikan masa residensi mu saat ini. Adi Kau bisa mengisi posisi itu selama enam bulan selama pemulihan. Setelah itu selesaikan residensi mu.” Jelas Dokter Kim
Kang Soo berkaca-kaca dan langsung mengucapkan terimakasih, Dokter Kim pikir tak perlu  dan berpesan agar Bekerjalah dengan baik. Kang Soo memeluk Dokter Kim sebelum pergi, Dokter Kim tertawa melihat tingkah juniornya dan berpesan agar menjaga kesehatannya. Kang Soo kembali bersemangat karena bisa mendapatkan pekerjaan selama masa pemulihan. 

Ji Hong sedang membaca berkas diruanganya, Dokter Kim datang mengatakan sudah dengar beritanya dan ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Ji Hong meminta maaf karena sudah  berhutang maaf pada seniornya. Dokter Kim ingin tahu alasanya.
Bagaimana bisa seseorang sepertimu menyerah atas karirmu sebagai ahli bedah  demi menjadi... seorang Kepala Pusat Penelitian?” kata Dokter Kim tak masuk akal.
Aku hanya menganggapnya sebagai masa istirahat.” Ucap Ji Hong santai
Apa kau sungguh berpikir bisa hidup tanpa para pasien?” kata Dokter Kim, Ji Hong menegaskan kalau  Hanya untuk sementara waktu saja.
Tentang gedung baru Rumah Sakit, apakah Direktur sudah menemukan sesuatu?” tanya Ji Hong
Dia mengumpulkan dana secara pribadi. Kalau mau, kita bisa menemukan banyak bukti.” Ucap Dokter Kim
Ji Hong pikir  Informasi soal aset dan properti milik Ketua Jin ada. Menurutnya Jika mereka memeriksa rinciannya, maka mereka bisa menemukan sumber uangnya. Dokter Kim melihat Sudah lebih dari satu dekade, jika Ketua Jin  menggelapkan uang RS, sudah pasti terdapat lubang dimana-mana dan mungkin Ketua Jin takut Tuan Hong  mengetahui hal tersebut. Ji Hong pikir kemungkinan lebih besar dan mengajak Dokter Kim untuk segera menyelidikinya.
“Baiklah....  Apakah kau tidak akan menghadiri rapat dewan direksi?” tanya Dokter Kim
Aku harus tetap hadir di sana, karena harus lihat proses pemungutan suaranya.” Ucap Ji Hong, Dokter Kim mengajak mereka segera pergi bersama. 



Didepan ruang rapat, Dokter Jin memastikan pada ayahnya kalau mereka  akan mendapatkan cukup suara, Tuan Jin menegaskan kalau dirinya itu Kepala Rumah Sakit.  Keduanya menyapa dewan direksi saat masuk ruangan. Dokter Kim dan Ji Hong datang bersamaan, Dokter Jin melirik dan Ji Hong hanya menyapa sebentar lalu segera masuk ke dalam ruangan.
Yoon Do pun ikut datang, Tuan Jin senang melihat Yoon Do akhirnya ikut dalam jajaran dewan direksi lalu mengajaknya untuk segera masuk ke dalam ruang rapat.  

Ruang rapat
Dokter Kim memulai rapat dengan memiliki dua hal dalam agenda rapat   Yang pertama soal pembangunan gedung baru RS dan Satu lagi tentang metode penghitungan biaya RS pasien. Yoon Do terlihat duduk disamping Dokter Jin didepan Ji Hong.
Kami menjelaskan kedua rencana tsb secara mendetail dalam rapat sebelumnya, jadi kami tidak akan menjelaskannya kembali. Tolong berikan pendapat pada kertas di hadapan kalian semua.” Jelas Dokter Kim, dibelakang Tuan Jin terlihat spanduk [RAPAT DIREKSI KE-59 RUMAH SAKIT GUKIL]
Mari mulai pengambilan suara saja” kata Dokter Jin tak ingin berlama-lama, Dokter Kim pun setuju agar mereka segera melakukanya.
Lembaran pun dibagian dengan pilihan [PENGEMBANGAN RS atau  METODE PEMBAYARAN TAGIHAN PASIEN] Ji Hong terlihat tegang ingin tahu hasil dari pemilihan suara dewan direksi. Yoon Do yang baru dalam jajaran direksi pun akan memberikan suara pertamanya. 

[TIGA MINGGU KEMUDIAN]
Pasien gawat darurat datang, Dokter Ahn pun mendekati mendorong meja dengan pasien yang tak sadarkan diri. Petugas ambulance memberitahu pasien pingsan sepulang dari gereja. Dokter Ahn pun mengerti akan  akan memeriksanya dan bertanya keadaaan pasienya lebih dulu, tapi pasien terlihat tak sadarkan diri
Apakah dia ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri?” tanya Dokter Ahn, Petugas membenarkan.
Hye Jung sudah kembali bertugas memeriksa pasien sambil bertanya apakah sudah melakukan CT Scan. Dokter Ahn memberitahu Kelihatannya subarachnoid haemorrhage. Hye Jung mulai memeriksa bagian mata dan reaksi tanganya, lalu bertanya apakah sudah mengubungi walinya. Dokter Ahn mengatakan sudah menghubungi dan akan segera kemari.
Hubungi Departemen Anastesi dan pesan ruang operasi.” Perintah Hye Jung, Dokter Ahn bertanya Profesor mana yang harus dihubungi
Prof. Hong tidak akan melakukan operasi lagi jadi Hubungi Dr. Jung.” Kata Hye Jung, Dokter Ahn pun mengerti lalu keluar dari ruangan. 

Dokter Jin berserta ayah dan Direktur Choi masuk ke dalam rumah sakit. Tuan Jin bertanya  Bagaimana dengan rencana pembangunan gedung baru RS. Dokter Jin memberitahu Tim perencana akan segera menyelesaikan rincian dananya.
Ji Hong tak sengaja berpapasan, Dokter Jin pun menyapanya. Direktur Choi terlihat tertunduk tak enak hati karena memberikan dukungan pada Dokter Jin bukan pada Ji Hong. Dokter Jin bertanya apakah penelitiannya berjalan lancar. Ji Hong mengangguk lalu pamit pergi lebih dulu.
Kita sudah mengumpulkan semua dana yang kita butuhkan, kan?” ucap Tuan Jin khawatir
Kita akan mendapat sponsor sesegera mungkin begitu kita memiliki desain bangunannya. Selain itu Jumlah pekerja sudah ditambahkan, jadi akan segera selesai.” Kata Dokter Jin menyakinkan.
Tuan Jin sedikit tak khawatir. Ji Hong melambaikan tangan pada Dokter Kim yang sudah menunggunya. Dokter Kim melihat ketiganya mengumpat kesal karena benar-benar menjengkelkan. Ji Hong pikir walaupun begitu Dokter Jin yang menang. Dokter Kim memberitahu sudah mengumpulkan bukti yang mereka butuhkan.

Dokter Kim memberikan USB, yaitu catatan pekerja kontrak dari proyek tapi dikeluarkan secara mendadak. Sementara Gaji mereka, tidak dibayarkan.  Ji Hong bertanya berapa total uangnya. Dokter Kim menyebut  500 juta won sampai tahun lalu. Ji Hong sempat melonggo mendengar nominal 500juta Won.
Jumlah itu belum cukup untuk menjegal Ketua Jin.”ucap Ji Hong
Dia pasti bisa lolos kalau sejumlah itu.” Kata Dokter Kim sudah mengenal seniornya. 

Ketua Jin menanyakan totalnya, Dokter Jin menyebut 10 milyar won. Ketua Jin merasa itu jumlah yang sangat banyak lalu bertanya Apakah DBS Sensor Ji Hong begitu inovatif. Dokter Jin melihat kalau project itu akan sangat membantu kalau nanti berhasil.
Omong-omong, kenapa kau tidak membiarkan dia melakukan operasi? Hapus saja dia dari daftar direksi.” Ucap Tuan Jin
Ayah tidak memahami cara berpikir ahli bedah, kan? Mereka lebih senang menangani pasien langsung, Bukan mengerjakan urusan manajemen. Jika dia terus mengoperasi pasien, maka kita tidak akan bisa melawan ketrampilannya.” Jelas Dokter Jin
Ya, kita bisa menggunakan sebagian investasi yang didapatkan Ji Hong, sebagai tambahan dana pembangunan RS, kan?” kata Tuan Jin licik, Dokter Jin terdiam memikirkanya. 

Dokter Kim merasa keduanya menggunakan keuntungan dari proyek semacam itu. Ji Hong  bertanya  Mulai kapan tepatnya. Dokter Kim yakin sudah sejak lama, karena Rumah tempat penyimpanan abu di RS dibuka dua dekade lalu oleh keduanya.
Aku masih ingat... Ayah memiliki rincian uang yang mereka gelapkan.” Ucap Ji Hong
Mari coba memikirkan kronologi kejadiannya. PresDir Jin menyerang Ayahmu duluan soal saham. Setelah itu, rumah sakit pun diaudit. Dan Ayahmu menyerang balik dengan menolak mundur dari direksi. Setelah itu, PresDir Jin mengundurkan diri dan Serangan Ayahmu pastilah efektif.” Jelas Dokter Kim mengurutkan kejadianya.
Sudah pasti seperti itu, Pasti senjata Ayah begitu kuat sampai PresDir Jin mengundurkan diri dengan sukarela.” Kata Ji Hong

Lalu apa yang mereka perdebatkan selama 20 menit di ruangan waktu itu? Apakah mereka mencuri data tentang penggelapan dana itu darinya? Dia membuat PresDir Jin mengundurkan diri, tapi PresDir Jin membuat serangan balik juga.” Ucap Dokter Kim
Ji Hong pikir  Kedengarannya masuk akal. Dokter Kim merasa keduanya itu  memahami Ayahnya dengan baik. Ji Hong juga tahu, lalu keduanya berpikir dan sama-sama menyebut “Pasti ada salinan lain.” Dokter Kim yakin ada salinan lain data tersebut menurutnya Tidak mungkin hanya ada satu salinan dan Ji Hong sendiri tidak akan seceroboh itu.
Ji Hong pun punya kebiasaan akan membuat beberapa salinan dan menyembunyikannya di tempat berbeda-beda. Dokter Kim meminta agar Ji Hong segera mencarinya karena yakin ada disekitarnya. Ji Hong pun meminta Direktur Kim untuk mencarinya jaga.  Dokter Kim yakin jika mereka menemukan rincian informasi penggelapan dana keluarga Jin maka, akan bisa mengakhiri perang membosankan ini.


Yoon Do memegang sebuah amplop, Dokter Jin datang menemuinya di lorong padahal sudah menyuruhnya ke ruangan tapi malah meminta agar bertemu di lorong. Yoon Do mendengar Dokter Jin yang sedang dengan ayahnya padahal ingin bicara berdua saja
Kenapa? Kau ingin minta maaf? Bagaimana bisa kau mendukung Prof. Hong saat meminta bantuanku bergabung dalam direksi?” sindir Dokter Jin
Aku memilih yang sesuai keyakinanku. Maaf karena mengecewakan Anda.” Kata Yoon Do
Tak masalah, hanya tiga anggota direksi yang memihaknya. Apa Kau suka di pihak yang kalah?Ayahmu tidak menyukainya.” Ucap Dokter Jin kembali menyindir

Aku menyukai kemenangan juga. Jadi aku mencari tahu soal ini.” kata Yoon Do lalu menyerahkan sebuah amplop. Dokter Jin bertanya apa isinya.
Detail agensi pekerja yang kita gunakan dan ada banyak keganjilan soal pembayaran pekerja.” Ucap Yoon Do, Dokter Jin terkejut.
Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tapi setidaknya aku bisa menekan Anda dengan ini.” tegas Yoon Do
Dokter Jin berteriak marah pada Yoon Do, Yoon Do memperingatakan Dokter Jin untuk tak mengusik Hye Jung lagi,  maka ia tidak akan mengusik hal ini. Dokter Jin terdiam menahan amarah karena bisa dikalahkan Yoon Do dengan catatan keburukanya. 


Seo Woo bertanya apakah Pasien Hong Sang Tae sudah dipindahkan ke ruang rawat, Dokter kang mengatakan akan memindahkannya segera mungkin.Seo Woo meminta juniornya untuk Sering-seringlah memeriksanya dan hubungi Departemen Rehabilitasi untuk latihan fisiknya. Dokter Kang mengerti.
“Hei...Dr Choi! Apa kau juga membelikan untuk kami?” tanya Perawat Hyun senang melihat kedatangan Kang Soo. Kang Soo pun memberikan sekotak kopi
Kau seharusnya membelikan kami camilan.” Keluh Dokter Kang, Kang Soo dengan senang hati membuka plastiknya, toppoki dan juga sondae.
kau  memang yang terbaik! Kau sungguh sekretaris yang hebat.” Puji Dokter kang tersenyum bahagia. Kang Soo pun menawarkan Seo Woo untuk memakanya juga.
Bagus sekali. Kau sangat multi talent.” Komentar Hye Jung datang melihat Kang Soo sekarang berkerja di bagian sekertaris.

Semua menjerit bahagia melihat Hye Jung akhirnya kembali berkerja di rumah sakit. Dokter Kang pun menyarankan untuk makan tahu. Hye Jung mengejek memangnya dirinya itu baru keluar dari penjara, Dokter Kang langsung meminta maaf. Hye Jung tersenyum lalu bertanya  Apakah pasien extradural haemorrhage baik-baik saja. Dokter Kang mengingat  Pasien Oh Chang Shik dan memberitahu keadaanya baik-baik saja.
Seo Woo hanya diam melihat keakraban Hye Jung dengan semua juniornya. Hye Jung lalu melihat Rambut Kang Soo yang  sudah tumbuh. Kang Soo membuka topinya menurutnya Sudah cukup panjang. Semua tertawa, Dokter Kang mengejek kalau kepala Kang Soo Kelihatan seperti biji kacang. Seo Woo tertunduk seperti menahan rasa sedihnya. 


Hye Jung masuk ruangan diikuti oleh Seo Woo dengan menanyakan keadaan Hye Jung yang kembali berkerja. Hye Jung mengatakan kalau baik-baik saja. Suasana terasa canggung dan Seo Woo memilih untuk duduk dimejanya. 
Di dalam ruangan terasa dingin, Seo Woo sibuk mengaris bawahi e-book dari ponselnya. Ayahnya tiba-tiba menelp memberitahu akan makan dengan Kakeknya jadi anaknya harus ikut. Hye Jung melirik mendengar Seo Woo sedang bicara dengan ayahnya. Seo Woo menolak mengatakan tak bisa ikut karena ada jadwal operasi. Hye Jung akan keluar dari ruangan dan Seo Woo mengajaknya bicara.
Hei, omong-omong... apakah terjadi sesuatu antara kau dan Ayahku?” tanya Seo Woo, Hye Jung balik bertanya kenapa Seo Woo menanyakan hal itu.

Aku hanya merasa aneh. Dia sebelumnya menyukaimu. Tapi tiba-tiba sikapnya padamu berubah, dan dia jadi begitu keras terhadapmu.” Kata Seo Woo, Hye Jung pikir tanyakan saja sendiri pada ayahnya.
Aku sudah melakukannya, tapi dia tidak mau menjawab. Jadi kenapa?” ucap Seo Woo makin penasaran
Jika aku melukaimu, apakah kau berpikir itu akan menyakiti ayahmu juga?” tanya Hye Jung
Seo Woo pikir Hye Jung ingin menyakiti ayahnya, Hye Jung pun akhirnya meminta maafkan menurutnya masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Seo Woo. Seo Woo pikir  Hye Jung bisa menyakiti kedua orang tuanya dengan cara menyakitinya, jadi meminta agar memberitahu yang terjadi antara Hye Jung dan Ayahnya. Hye Jung mengaku setiap kali melihat Seo Woo maka  teringat saat-saat kita menghabiskan waktu bersama ketika SMU karena dulu tidak berpikir untuk menjadi seorang dokter lalu keluar ruangan.


Flash Back
Mereka pergi foto box  bersama dan karaoke setelah ujian, lalu makan es krim dengan main ke taman bunga. Soon Hee terlihat senang melihat mawar yang sangat cantik, Seo Woo meminta Soo Hee berhati-hati ketika ingin memegangnya.
“Apa Kau mengerjakan ujian dengan baik?” tanya Seo Woo, Hye Jung tak tahu karena belum pernah melakukan selama ini.
Aku sangat baik dan  Sangat baik dalam menyerah soal matematika. Ah.... Bagaimana bisa kau begitu pintar dalam matematika?” ucap Soon Hee gemas pada Seo Woo
Aku belajar dengan keras, sementara kau tak melaukanya. Tak ada yang bisa mengalahkanmu jika kau sampai bekerja keras.” Ucap Seo Woo
Itulah yang dikatakan ayahku. Aku tidak sabar lulus SMU dan menikah. Aku hanya ingin satu anak. Aku tidak akan pernah mau memiliki anak di usia tua. Diantara kita bertiga, kurasa Seo Woo akan jadi yang paling dulu menikah.” Kata Soon Hee
Itu tidak benar. Aku harus menjadi dokter seperti Ayahku dan aku harus lulus sekolah kedokteran sebelum menikah. Apa kalian tahu, Masa pendidikannya saja enam tahun.  Dan Kau ingin jadi apa, Hye Jung?” ucap Seo Woo
“Aku akan membantu Nenek menjalankan restorannya dan akan membuka cabang restoran itu, menghasilkan banyak uang dan memberikan apa pun yang diinginkan Nenek.” Kata Hye Jung bahagia.
Soon Hee pun meminta untuk  bisa membuka cabang ketiga dan akan membayarnya. Seo Woo ikut akan membuka cabang keempat lalu setelah jadi dokter menambah akan membuka cabang ke lima. Semua terlihat tertawa bahagia dengan impian mereka. Seo Woo berkaca-kaca mengingat cita-cita Hye Jung yang sangat sederhana akhirnya malah menjadi seorang dokter seperti dirinya. 

Seo Woo dan Young Guk baru selesai operasi. Seo Woo bertanya Apakah orang-orang membenci ayahnya. Young Gun yakin tidak semua orang bisa menyukainya tapi menurutnya sebagian orang seperti itu. Seo Woo mengeluh tidak ingin mendengar tentang hal itu dan akan mengakhiri semuanya di sini. Young Guk bingung melinat tatapan Seo Woo dan mengikutinya dari belakang. 

Hye Jung sedang melihat komputernya, ketukan pintu terdengar. Yoon Do datang mengunjungi Hye Jung diruanganya bertanya apakah tidak makan siang. Hye Jung pikir akan makan siang. Yoon Do pun mengajak untuk makan siang bersama.
“Coba Pikirkan yang telah kulakukan untukmu. Aku bergabung dengan dewan direksi. Tidak bisakah teman makan siang bersama? Kita teman sekarang.” Ucap Yoon Do,  Hye Jung setuju mereka untuk makan malam bersama.
“Lalu bagaimana balas dendamnya?” tanya Yoon Do, Hye Jung mengaku sudah pergi entah kemana.
Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah bekerja setiap hari.” Kata Hye Jung, Yoon Do memujinya lalu mengajak mereka untuk segera makan bersama. 

Yoon Do dan Hye Jung berjalan pergi ke kantin, saat di lobby Tuan Jin memanggil Yoon Do bertanya mau kemana. Yoon Do mengatakan akan makan siang dan bertanya balik. Ketua Jin mengatakan akan makan juga. Dokter Jin dan Hye Jung saling menatap sinis.
“Apa Kalian saling kenal?” tanya Ketua Jin
Kami berdua di Departemen Bedah Syaraf.” Ucap Yoon Do lalu pamit pergi, Hye Jung pun dengan sopan pamit pergi
Ketua Jin melihat  Dokter yang diskorsing itu sudah kembali dan mengungkapan sangat menyukainya karena Hye Jung yang energik. Dokter Jin mengaku Yoon Do mulai membuatnya terganggu dan akan menendangnya keluar entah bagaimana caranya, dengan penuh amarah pasti sudah menyingkirkan Yoon Do jika bukan karena Ayahnya.
“Hei... Kau pasti sangat stres. Kenapa kau marah pada semua orang? Apa yang membuatmu ketakutan?” tanya Ketua Jin,
Siapa bilang aku ketakutan?” ucap Tuan Jin menyangkal.
Aku bisa melihatnya dari tingkahmu. Seolah ada yang sedang memburumu.” Kata Ketua Jin, Tuan Jin tak merasa seperti itu, Ayahnya berkata kalau bisa melihatnya.
“Kau Tidak perlu begitu, karena Kau berada di puncak dunia sekarang.” Ucap ayahnya menenangkan lalu mengajak untuk pergi. 
Ji Hong membawa kotak kardus peninggalan ayahnya yang ada diruangan, mengeluarkan foto bahkan mengecek kotak mungkin bisa menemukan sesuatu. Dan mulai melihat buku dan juga dompet.

“ternyata Tidak ada di sini. Aku seharusnya tidak menganggapnya terlalu mudah.” Kata Ji Hong melihat kotak kardusnya. 

Dokter Jin melihat keluar jendela mengingat perkataan Hye Jung sebelumnya “ Aku akan... membunuhmu Aku akan kembali bekerja setelah skorsingku selesai. Aku akan tetap di rumah sakit ini sampai akhir dan akan tetap di sini sampai melihatmu jatuh.
Ketukan pintu terdengar Dokter Jin pun menyuruh masuk, Hye Jung masuk ke dalam ruangan. Keduanya saling menatap dingin. Dokter Jin pun menyuruh Hye Jung untuk duduk di ruanganya. 

Seo Woo keluar dari ruang operasi terlihat penasaran, lalu menelp Soon Hee. Soon Hee dengan rambut terurai tidak mengira Seo Woo akan menelepon dan ingin tahu kenapa menelpnya. Seo Woo mengatakan memiliki pertanyaan. Soon Hee pun ingin tahu apa pertanyaan.
Jika kau pernah menganggapku sebagai teman, mak aku harap kau memberitahu kebenarannya.” Ucap Seo Woo ingin tahu hubungan Hye Jung dengan ayahnya. 

Dokter Jin menyuguhkan teh untuk Hye Jung tak percaya ternyata Hye Jung benar-benar kembali bekerja dan tidak berpikir kalauakan melakukannya. Hye Jung menegaskan selalu menepati kata-katanya. Dokter Jin menyindir bagaimana bisa seseorang menepati semua perkataannya, menurutnya  Kata-kata sebatas kata-kata.
Kita memiliki pandangan berbeda.” Kata Hye Jung
“Apa Kau bekerja untuk seseorang dengan pandangan berbeda semacam itu?” ucap Dokter Jin
Aku pernah dipenjara sekali. PresDir pasti mengetahuinya karena melakukan pemeriksaan latar belakang. Lalu Nenek mengunjungiku dengan membawa makanan. Aku bilang tidak bisa makan karena tak punya selera. Tapi Nenek bilang aku bicara omong kosong. Dia mengatakan bahwa semua orang yang bernapas butuh makan. Jadi Aku bekerja keras untuk sukses dan Tidak seorang pun membantuku. Selama itu aku membangun prinsip dan pandanganku sendiri. Pandangan PresDir tidak berarti apa-apa bagiku.” Ucap Hye Jung dingin 

Kau sungguh luar biasa maka Tidak heran kau sampai sejauh ini . Apa Kau pikir kau lebih baik dari orang lain? Apa Kau pikir aku membiarkanmu begitu saja? Tolong tunjukkan sedikit sopan santun. Jika tidak, kita mungkin tak akan bisa menyelesaikan percakapan ini.” kata Dokter Jin
“Apa Kau tahu kenapa Prof. Hong memilih pergi ke Pusat Penelitian? Itu semua Karenamu. Tentang Masa lalumu dan Masa sekarang  Mereka semua penghalang untuk Prof. Hong. Apa Kau tahu siapa yang mengambil tanggung jawab... atas tindakan kurang ajarmu? Prof. Hong.” Ucap Dokter Jin membuka semuanya.
Hye Jung berkaca-kaca mendengarnya, Dokter Jin pun menyuruh Hye Jung untuk pergi  dan Berhenti bersikap kasar pada orang lain. Hye Jung bertanya apakah Dokter Jin ingin dirinya pergi tapi karena itulah tidak mau dan sudah memberitahu bahwa ia selalu memegang kata-katanya. Dokter Jin terdiam melihat Hye Jung yang berani menatapnya. Hye Jung pun keluar ruangan tanpa pamit. 


Hye Jung terlihat menahan tangisnya didepan ruangan Dokter Jin. Ji Hong didalam rumah terus mencari sesuatu yang ditinggalkan oleh ayahnya. Satu persatu semua kardus dikeluarkan dari isinya. Tanpa pantang menyerah mencari semuanya sampai ke tempat peralatan mancing ayahnya, tapi tetap tak menemukanya. Hye Jung sudah berjalan ke parkiran dan meninggalkan rumah sakit.
Ji Hong seperti sudah pasrah akhirnya membaringkan tubuhya di lantai, semua barang-barang ayahnya pun berserakan. Tanganya melihat pancingan yang biasa di pakain ayahnya, tiba-tiba matanya tertuju pada ujung tongkah seperti ada sebuah gantungan. Ji Hong menjerit tak percaya pada ayahnya ternyata memang menyimpanya. Hye Jung terlihat menyetir mobilnya dengan menahan rasa sedihnya. 

Ji Hong langsung membuka isi USB dalam laptopnya, folder bertuliskan  [DANA RAHASIA TERUNGKAP] lalu melihat laporan [DANA PINJAMAN DARI RS GUKIL] sementara dibagian bawah TOTAL DEPOSIT JJ MEDICOM PADA 2015] dengan tanda merah sebesa 5 Milliar seperti sengaja di gelapkan, wajahnya terlihat geram.
Terdengar bunyi bel rumahnya, Ji Hong bertanya siapa yang datang. Hye Jung memberitahu yang datang. Ji Hong membuka pintu lalu mengajak Hye Jung untuk masuk, merasa pacarnya itu bisa membaca pikiran karena ia juga sangat ingin bertemu dengannya.
Ini tidak adil.” Ucap Hye Jung, Ji Hong bertanya apa maksudnya. Hye Jung mengatakan Segalanya. Ji Hong bertanya ada apa sebenarnya.

Kenapa aku tidak bisa membantumu? Kenapa aku selalu membuatmu kesulitan? Apa yang PresDir Jin katakan sampai kau ke Pusat Penelitian? Kenapa kau tidak memberitahuku?” ucap Hye Jung menahan tangisnya.
Berapa banyak pertanyaan itu? Apa Aku harus menjawab semuanya?” kata Ji Hong dengan senyumanya.
Aku merasa malu. Aku bener-benar merasa malu padamu. Aku ingin menjadi percaya diri di depanmu.”kata Hye Jung sedih
Kau mengajariku untuk melakukan ini di saat begini. Lebarkan kedua lenganmu dan lingkarkan di pinggangku.” Ucap Ji Hong dengan menaruh tangan Hye Jung di pingangnya.
Keduanya saling menatap, Hye Jung terlihat masih menahan air matanya. Ji Hong mengelus rambut Hye Jung dengan senyumanya. Hye Jung tetap menatanya dengan sedih. Ji Hong akhirnya menciumnya, Hye Jung pun menerima ciuman Ji Hong seperti menerima pengorbanannya.
Keadilan berjalan seperti riak sungai di tempat yang tak dapat kita lihat. Tidak akan tampak oleh mata kita. Gumam Ji Hong 
bersambung ke episode 19

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted 

3 komentar:

  1. suka...semangat mba di tunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  2. Fighting unnie ^^
    Di tunggu kelanjutannya, makin penasaran xD

    BalasHapus
  3. Keren . Jd gk sabar pengen lanjutin .. next episode selanjutnya

    BalasHapus