Senin, 29 Agustus 2016

Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 3 Part 1

PS : karena Muzi sedang terkena kendala untuk menulis jadi aku yang mengantikan untuk minggu ini yah.-happy read- 


PS : All images credit and content copyright :MBC
“ Wakil Presiden! Apa kau tidak apa-apa?” tanya Ketua Ahn
Do Hyun masih saja tertunduk, jarinya lalu mengepal, ia mengangkat wajahnya terlihat ada kilatan dia wajahnya sebagai tanda ia sudah berubah, matanya kali ini berubah menjadi warna kuning. Ketua Ahn memanggil Do Hyun dengan panggilan Shin Seu Gi, Do Hyun menaikan satu alisnya.
“Apa kau baru saja memukulku? Kau bajingan kasar. Kau baru saja memukulku?” ucap Do Hyun dengan nada bicara seperti pria genit dan membela rambutnya jadi belah tengah.
“Ferry Park?” ucap Ketua Ahn seperti mengetahui perubahan Do Hyun ke pribadi yang berbeda.
Dengan wajah tersenyum, Do Hyun membenarkan kalau dirinya adalah ferry Park, 


Di dalam gudang
Ferry Park mulai membuka kardus dan mengeluarkan isi pakain yang ada didalamnya, sambil bernyanyi  “Ini semua juga bukan pakaianku” lalu membuka kardus yang lainnya mencari pakaian yang menurutnya cocok untuknya. Ketua Ahn seperti masih binggung karena Do Hyun berubah jadi Ferry Park bukan Se Gi yang dinginkan.
“ Mari kita  bicara. Apa kau yakin ada di sini? Kita tidak punya waktu.” ucap Ketua Ahn mencoba membujuk
Ferry Park tetap mencari pakaiannya, sampai ia membuka lakban dan menemukan pakaian motif bunga-bunga dan sepatu putih, wajahnya langsung sangat gembir dan berteriak kalau temannya Michael itu sangat setia. 
“Aku menyuruhnya untuk menyembunyikan pakaianku dan mengirimnya ke Korea. Lihat bagaimana dia mengemasnya!” ucap Ferry Park dengan nada seriosa.
“Ferry Park!” teriak Ketua Ahn seperti tak tahan melihat Do Hyun yang mengabaikannya
Ferry park tetap saja santai menganti bajunya dengan pakaian ala-ala pantai, Ketua Ahn melihat jamnya lalu memindahkan pakaian yang berserakan di dalam kardus. Ferry Park terus bernyanyi “Itu semua adalah pakaian, ini pakaianku”, Ketua Ahn mendekat lalu menepuk bahunya sedang mengancing pakaian bunga-bunganya.
“Bukan begini yang harusnya kau pakai, tapi mulai sekarang, pakailah jas dan pergilah ke perusahaan. Aku akan menuliskan apa yang harus kau katakan, semua yang perlu kau katakan adalah apa yang kutulis.” jelas Ketua Ahn panik
“ Ah. Untuk apa aku kesana kalau aku tidak tahu kapan aku akan keluar lagi? Ini sudah sejak lama aku keluar. Jika jadi aku, maukah kau pergi?” balas Ferry Park
Ketua Ahn memegang lengan Ferry Park wajahnya serius dan tahu dengan hal itu, Lalu ia berjanji kalau Ferry Park mau mendengarkan permintaanya maka ia akan melakukan semua yang dinginkannya.
Ferry Park merasa tak percaya dan pasti sudah gila dengan mendengar ucapan itu, ia melepaskan tangan Ketua Ahn memberitahu satu-satunya yang dia inginkan adalah kebebasan, lalu kembali membagi dua belahan rambutany dan sibuk mencari-cari dalam kardus, Ketua Ahn seperti berpikir untuk membujuk Ferry Park. 


“Aku akan membelikanmu sebuah kapal laut, lalu Aku akan meletakkan namamu di atas kapal itu. Bukankah itu keinginanmu sejak lama?”teriak Ketua Ahn
Ferry Park yang tadinya sibuk, langsung terdiam dan melonggo lalu tersenyum mendengar tawaran yang diberikan Ketua Ahn.
“Di kapalmu, dengan namamu yang tertulis -Park Ferry! Di depan sebuah rumah dimana kau bisa melihat birunya laut dan  kau bisa memancing.” ucap Ketua Ahn
Ferry Park berteriak sambil memukul kardusnya kalau ia setuju dan berjabat tangan dengan Ketua Ahn. Dan ketua Ahn membalas “pilhan bagus”. Ferry Park yang terbiasa dengan mengunakan bahasa inggris tak mengerti dengan ucapan Ketua Ahn.
“Pilihan bagus!” ucap Ketua Ahn mengulanginya
“ahhh... yahhh.. Pilihan yang bagus!” balas Ferry Park lalu memeluk Ketua Ahn dengan senyum bahagia. 


Terdengar bunyi ponsel, Ferry Park mencoba mencari-cari asal dari suara ponsel, lalu melihat jas yang tergeletak dan diatas kardus, ia terus mencari suara ponsel dan akhinya menemukan di saku jasnya.
Ia melihat nama Oh Ri Jin dalam ponselnya, Ketua Ahn panik mencoba mengambil ponsel dari tangan Ferry Park tapi bosnya itu menghalanginya dan mengangkat sendiri ponselnya .
“Kau punya 1 jam tersisa.” ucap si pria yang menyandar Ri Jin
“Siapa ini? Astaga. Siapa kau?” tanya Ferry Park dengan bahasa inggrisnya
“Kupikir kau tidak mengenali suaraku, jadi aku meneleponmu lagi.Bawa jaketku ke gudang jam 1 siang. Jika tidak...” ucap si pria dengan nada mengancam
 Terdengar Ri Jin yang berteriak mencoba memberitahu dengan mulutnya yang di lakban, terlihat arti dari tulisannya di layar.  “Kau tidak perlu memanggil orang itu, jaketnya ada padaku...” lalu Ri Jin menendang kembali tulisan yang ada di layar.
Pria itu malah memarahi Ri Jin untuk diam lalu kembali berbicara pada Do Hyun di telp.
“Jika kau datang bersama polisi...” ucap si pria, tapi belum selesai ia berbicara, Ri Jin kembali berteriak dengan mulut dilakban memberitahu tentang jaket yang di inginkan si pria.
“Kenapa kau melakukan hal-hal semacam ini? Ah~Kenapa kau membuat semuanya makin rumit? Berapa kali kukatakan padamu orang itu tidak memegang jaketnya, tapi aku!” teriak Ri Jin yang tertulis arti ucapanya.
Si Pria yang tak mengerti merasa kesal dengan teriakan Ri Jin malah menambahkan lakban lagi di mulut Ri Jin supaya tak banyak bersuara.
“Jadi, kau bilang untuk membawakan jaketnya kurang dari 1 jam? Jadi, kau bilang tidak apa-apa bila aku terlambat atau tidak memanggil polisi?” ucap Ferry Park
“Betul sekali”jawab si pria
“ Kalau gitu, aku tidak perlu pergi. Aku sangat sibuk lagipula, jadi jangan harap. Oke” tegas Ferry Park yang ingin segera menutup telpnya. 
“T-t-tunggu! Aku belum mengatakan satu hal. Jika kau tidak datang, kekasihmu akan mati.” ancam si pria
“Apa? Jadi kau menggunakan wanita untuk mengancamku? Ah~ bajingan ini. Dimana kau? Aku akan membunuhmu.” teriak Ferry Park yang mulai kesal.
“Sadarlah! Kau bilang kau akan pergi ke rapat!” teriak Ketua Ahn mencoba menyadarkan Ferry Park dengan janjinya diawal
Ferry Park menjauhkan sedikit ponselnya, ia mengeluh semuanya ini membuatnya menjadi gila.
“Diriku hanya ada satu. Berhenti menyuruhku ini  dan itu. Ah, astaga. Sialan. Karena omong kosongmu aku jadi gila.”  teriak Ferry Park lalu kembali berteriak pada si pria menanyakan keberadaannya. 


Nyonya Seo sudah duduk di kursi tepat di tengah ruangan rapat. Semua dewan direksi duduk setelah melihat Nyonya Seo duduk, kursi di samping Ki Joon masih kosong, Do Hyun belum datang saat rapat akan dimulai.
Nyonya Seo melihat jam yang ada diruangan, jam satu kurang 20 menit, terlihat tepat dibawah jam Ayah Ki Joon, Tuan Cha Young Pyo menatap Nyonya Seo dengan senyumannya, Nyonya Seo terlihat agak tegang karena Do Hyun belum datang. 


Ri Jin yang sedang di sandera berusaha untuk melepaskan tali yang mengingat tubuhnya. Si pria yang terlihat bengis itu tiba-tiba berbicara sendirian di dalam gudang, Ri Jin pun panik berpikir Se Gi sudah datang.
“Bajingan itu bernama Shin Se Gi, kalian semua pasti sudah tahu betapa mengerikannya dia. Mulai sekarang, untuk bersiap-siap dari serangannya. Aku akan melakukan simulasi. Pikirkan bahwa orang itu adalah aku” ucap Si pria
Dengan posisi kuda-kuda dan tangan siap memukul, ia menyuruh orang-orang mendekatinya perlahan. Saat itu juga keluar banyak orang dari persembunyian dan siap memukulnya dengan kayu, tapi si pria terlihat ketakutan dan meminta anak buahnya untuk sabar sebentar.
“Pelan, pelan. Kenapa kalian terburu-buru? Apa kalian ada janji?” ungkap Si Pria menyindir anak buahnya.
Ia kembali bersiap-siap untuk melawan dengan posisi kuda-kuda dan tangan yang siap memukul. Terjadilah simulasinya dan perlawanan, ada juga pria yang masuk dengan motornya yang sengaja di naikan untuk menakuti Se Gi nantinya. Ri Jin terlihat binggung dan mencoba menghindar saat motor berjalan tepat di depannya. 


Jam di ruang rapat hanya tinggal beberapa menit lagi di jam satu siang. Young Pyo terlihat tersenyum manis karena Do Hyun belum datang, Nyonya Seo mulai tegang dan mencoba menguranginya dengan meminum segelas air putih yang ada di depannya.
Young Pyo melirik, dengan senyuman liciknya sudah terlihat kalau ia berharap Do Hyun tak datang maka ia akan di percaya memegang Seung Jin Grup. Terdengar bunyi pintu terbuka, Nyonya Seo menengok terlihat wajah tegang melihat siapa yang datang. 


Saat sedang melakukan latihan, anak buah si pria terlihat ketakutan dan langsung menjatuhkan kayu yang ada ditangan mereka. Si pria juga terlihat kaget meliat orang yang datang, Ri Jin melihat siapa yang datang.  Ferry Park datang dengan membawa seperti mainan ke dalam gudang.
“Siapa yang tadi memanggilku di telepon?” teriaknya dengan wajah tersenyum 


Sementara Di ruang rapat bukan Do Hyun yang datang tapi ketua Ahn datang dengan nafas terengah-engah lalu meminta maaf.
“Ada panggilan mendesak untuk wakil presiden.” ucapnya
Nyonya Seo, Young Pyo dan Ki Joon menatap ketua Ahn yang baru datang. Ketua Ahn memberikan selembar kertas kecil pada Nyonya Seo
“Sesuatu terjadi pada wakil presiden, Kupikir akan sulit baginya untuk hadir ke rapat” tulisnya. Ia hanya bisa tertunduk ketika Nyonya Seo menatapnya.
“Tampaknya wakil presiden yang baru mengalami kecelakaan. Dia bilang dia mampir terlebih dulu di rumah sakit. Jadikan pidatonya di akhir. dan kita mulai rapat sekarang.” ucap Nyonya Seo memberitahu pada dewan direksi.
Young Pyo dan Ki Joon menatap Nyonya Seo seperti sedang menyimpan sesuatu. Dengan wajah dinginnya Nyonya Seo mengembalikan kertas yang diberikan pada Ketua Ahn. 


Ferry Park masih memegang mainannya di tangannya dengan wajah imutnya, suasana tegang terasa sekali di dalam gudang, terlihat Ri Jin yang berusaha untuk melepaskan talinya.
“Ah, ya ampun! Kau, yang meneleponku, apa yang kau lakukan? Majulah! Sementara aku menghitung sampai 4, Ayo Maju!” ucap Ferry Park sambil menyodorkan bola yang ada ditangannya.
Ia mulai menghitung mulai dari 1, 2.... si pria ingin mengambil kayu yang ada dibawah, Ferry Park dengan cepat menyebut angka 3 dan 4 saat itu juga anak buah si pria malah berlari mundur menjauhi ketua mereka. Si Pria hanya bisa membungkuk sendirian di depan.
“Oh... kalian tampak ketakutan... Sepertinya kalian pikir ini cuma mainan” ejek Ferry Park terlihat dengan wajah jahilnya.
“Dengarkan dulu, Shin Se Gi. Ayo kita bicara setelah meletakkan benda itu.” ucap si pria dengan terbata-bata berdiri dengan tegak
“Jangan bergerak! Beraninya kalian bergerak!” teriak Ferry Park menakut-nakutinya dengan gaya bercanda, anak buahnya semakin mundur dan si pria bersiap-siap untuk mengambil kayu yang ada dibawah.
“ Ini jangan dianggap lelucon. Jika kau tidak tahu, jangan berkelahi denganku. Bukan hanya demi aku, tapi juga demi kalian. Aku terkenal dalam membuat bom. Dan besar dan birunya lautan” jelas Ferry Park 


Mata si pria melihat sesuatu dibelakang, ada anak buah yang lain mencoba menyerang Ferry Park dari belakang. Ri Jin berteriak dengan lakbannya ingin memberitahu tapi Ferry Park yang konyol tetap saja berbicara.
“Aku ingin menikmatinya sambil tertidur. Tapi kalian mencabut bulu hidungku saat aku tertidur! Kalian memetiknya. Kalian seharusnya tidak hidup seperti ini. Dan jika ingin jaket kulit tersebut, kalian harus punya uang dan membelinya. Mengapa malah mempertaruhkan seluruh hidup kalian?” ucap Ferry Park
Ri Jin berusaha memberitahu dengan kakinya, tapi Ferry Park tetap tak sadar. Si anak buah sudah berdiri sangat dekat dengan Ferry Park tapi ia terlihat ragu dengan untuk mengayunkan kayunya.
“Kalian seharusnya tidak begitu! Wanita itu! Apa yang kau lakukan sekarang?!” teriak Ferry Park
Si Pria memberikan kode pada anak buahnya untuk segera memukul Ferry Park dari belakang.  Anak buah berteriak sangat ingi memukul dan Ferry Park berhasil menghindarinya, tapi bom yang ada ditanganya terlepas dan bergerlinding.
Waktu Bom itu akan meledak berjalan, Si pria berteriak histeris, anak buahnya pun panik berlari mencari tempat persembunyian, Ferry Park merayap mundur sementara si pria masuk ke dalam gerobak besi, mata Ri Jin melotot ketakutan.
Tinggal 6 detik lagi, Bom itu akan meledak, Ferry Park berteriak karena bom akan meledak di depannya saat sudah sampai waktunya, tidak terjadi ledakan bom, Ferry Park dan Ri Jin mengangkat wajahnya.


 “Nasinya sudah matang.” terdengar suara wanita dalam bom.
Ferry Park binggung, si pria mengintip dari dalam gerobak, anak buahnya juga mengintip dari tempat persembunyian. Ferry Park merayap seperti seorang tentara mendekati si bom yang ia buah.
“Oh tidak, kenapa ini mati? Apa karena aku menggunakan timer dari rice cooker? Seharusnya sudah meledak sekarang. Ah, aku jadi gila.” ungkapnya kesal
Saat itu juga anak buah dan pria sudah mengepungnya, lalu memberikan tendangan yang keras pada Ferry Park. Ri Jin berteriak ketakutan melihat Ferry Park yang di tendang oleh banyak orang. Terlihat ada benda kecil yang terlepas dari badan Ferry Park. 


Terlihat gambar dari layar dengan kedipan merah dan terdengar teriakan Ri Jin. Dalam mobil Ketua Ahn bisa melihat dilayar keberadaan dan mendengar suara di tempat Do Hyun berada.
Flash Back saat Do Hyun sudah mempersiapkan semuanya.
“Kau bisa mengetahui lokasiku dan mendengar apa yang terjadi. Saat kepribadian lainku muncul, tolong tempelkan ini pada tubuhku Alat ini agar kau tahu aku berada dalam situasi seperti apapun”ucap Do Hyun memperlihatkan alat pada Ketua Ahn
“Seperti yang kau tahu, jika ketahuan polisi maka aku dan Seung Jin Group akan mengalami kesulitan Kita harus mencegah masalah sebelum jadi besar. Dan mengakhirinya antara kita berdua” pesan Do Hyun pada Ketua Ahn.
Ketua Ahn serius menyetir mobil menuju tempat keberadaan Do Hyun segera, GPS masih berfungsi. Tapi tiba-tiba terdengar anak buah yang ada didalam gudang melihat alat kecil yang tergeletak.
“Apa ini? Ini sepertinya sejenis perangkat. Ini adalah GPS! Hei! Dia memanggil polisi! Bomnya bohongan!” teriak pria yang ada didalam gudang.
Ketua Ahn terlihat ketakutan dan tak ingin apa yang ia pikirkan terjadi, terdengar suara pria yang mengumpat dan saat itu juga sinyal GPSnya hilang dari layar. Ia terlihat panik lalu memukul stirnya karena kesal, kakinya pun menginjak gas yang dalam untuk menyelamatkan Do Hyun.
Akhirnya ia sampai di tempat terakhir GPS Do Hyun terlacak, saat membuka pintu tak ada satupun orang yang ada didalam. Wajahnya binggung kemana perginya Do Hyun sekarang. 


Do Hyun sudah di pindah ke dalam gudang yang sempit dan cukup gelap, ia seperti tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang di ikat. Ri Jin menatap penuh khawatir karena Do Hyun yang tak sadarkan diri.
“Oh... bajingan licik seperti rubah ini... Tidak heran, dia menggunakan logat satoori yang dia tidak gunakan sebelumnya, mengubah konsepnya dan membuat sebuah acara besar! Itu semua untuk menghabiskan waktu!” umpat si pria pada Do Hyun yang tak sadarkan diri
“Hei, tapi, apa orang ini mengambil beberapa narkoba?” tanya si pria yang tadinya akan memukul Do Hyun.
Si Pria menjelaskan tentang mata Do Hyun yang berbeda saat terakhir mereka bertemu, ia pikir kalau yang ia temui itu orang lain. Ia yakin kalau Do Hyun itu sudah memakan semua obat yang ada dijaket mereka dan memanggil polisi karena barangnya sudah habis.
“Apa ini? Ada narkoba disembunyikan dalam jaket itu?” gumam Ri Jin mendengar pembicaran keduanya.
Teringat kembali saat ayahnya mengunakan jaket dan menunjukan ke bagian perutnya. Ayahnya itu memuji jaket buatan italia dengan kualitas yang sangat tinggi dan sangat menyukainya.
“Hei, biarkan saja. Bilang saja pada bos kalau kita menjual jaketnya dan kita tinggal menghasilkan uang yang cukup untuk narkobanya!” ucap Si pria yang memukul Do Hyun dengan suara ketakutan.
Ri Jin terlihat meangguk-anggukan kepala dengan cepat, seperti mengungkapkan kalau ia setuju dengan usul si pria.
“Apa kau gila? Bos kita tetap akan membunuh kita kalau kita tidak menemukan jaketnya.” teriak Si Pria
“Maksudku, kenapa? Apakah jaket itu sangat berharga?” gumam Ri Jin dengan berusaha melepaskan tali dari badannya.
“Jaket itu adalah barang mewah yang tidak bisa dibeli dengan uang! Jika ingin membelinya, kita harus menyebrang ke Italia dan bertemu dengan master guru kulit, Salvatore Bocchetti tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu.” jelasnya si pria perlahan
“Kenapa?” teriak Ri Jin dengan mulutnya yang masih di lakban
“Karena serangan jantung, selesai!” jawab Si pria
Si Pria pemukul pun mengumpat kalau temannya itu memang bajingan yang membuat keributan dengan mencurinya tanpa izin. Si Pria merasa kalau sebelum bosnya itu tahu makan mereka harus bisa menemukannya. Si Pria pemukul terlihat mengeluh karena dimana mereka bisa menemukan jaket kulit itu.  


Ri Jin berusaha untuk mengajak bicara, lalu pesan teks terdengar dari ponsel Ri Jin. Si Pria yang membaca pesan Ri Jin langsung menyodorkan ponselnya pada Ri Jin.
“Siapa orang ini?” teriak Si Pria penuh amarah.
Mata Ri Jin melotot kaget melihat foto kakaknya dengan jaket kulit memberitahu ia sudah berhasil mendapatkan jaket itu dari ayahnya. Si Pria kesal karena Ri Jin tak menjawab pertanyaanya.
“Aku bilang jawab aku! Kenapa kau tidak menjawabku? Kenapa?!” teriak Si Pria
Pria pemukul pun melepaska tangan teman pria itu lalu mencoba melepaskan lakban dari mulut Ri Jin.
“Dia oppaku! Oppaku!” teriak Ri Jin karena lakbannya sudah bisa di buka
“Berapa kali sudah kubilang?! Orang itu tidak punya jaketnya! Aku yang punya! Jika kau membebaskanku, aku akan membawakan jeketnya jadi jangan buat semuanya makin rumit dan tolong urus ini diam-diam!” ucap Ri Jin dengan cepat dan terburu-buru
Si Pria mencoba untuk menyela untuk berbicara tapi Ri Jin terus berbicara.
“Jika sekali saja kau tanya padaku, jika kau tidak tidak menutup mulutku maka semua urusannya bisa cepat selesai. kenapa kau membuat semuanya jadi rumit?! Untukku...” keluh Ri Ji berteriak
Tapi ia terhenti setelah melihat si pria yang menodongkan pisau di depannya, dengan terbata-bata ia mengatakan kalau dirinya pergi sekarang maka ia akan membawakan jaket itu. Si Pria itu langsun menolaknya dan tak mungkin ia bisa percaya
Ri Jin meminta si pria untuk percaya padanya sekali saja. Si Pria meminta Ri Jin diam saja dan mereka akan pergi sendiri untuk menemukannya, ia meminta Ri Jin untuk menemukan dimana tempat jaket itu berada.


Si Pria pemukul langsung menghubungi Ri On dari ponsel Ri Jin dan berlutut di depannya.
“Ya, Oh Ri Jin. Apa kau melihat fotoku? Cocok, kan?” ucap Ri On dengan penuh semangat mengangkat telp dari adiknya.
“Ya, Ri On. Dimana kau sekarang?” tanya Ri Jin dengan nada ketakutan
“Apa maksudmu "Dimana kau"? Aku di Ssang Li.” jawab Ri On dengan membawa sepiring salad dan mengapit ponselnya dengan pundaknya.
Ri On merasa kemarin ia sudah memberitahu Ri Jin kemarin kalau ia ada pesat setelah kerja dengan seniornya yang sudah ia kenal. Ri Jin terlihat binggung, Ri On membicarakan tentang orang-orang yang membantunya saat menuliskan novel. Ri Jin berteriak ia tahu dengan cerita itu.
“Tapi, tapi Ri On, karena sedang bicara tentang novelmu, sudah kubilang kan kalau di novelmu, bab 3 sangat-sangat berkesan?” ucap Ri Jin sedikit berteriak dengan nada tinggi
“Hei, kau- kau- kau, apa yang salah denganmu tiba-tiba? Kenapa kau memujiku padahal biasanya kau tidak seperti ini. Kau Membuatku takut. Apa Ada yang salah? Apa mungkin kau?” ucap Ri On terlihat berpikir sejenak
Dua pria yang ada digudang terlihat tegang takut ketahuan kalau ia sedang menyandera, Ri On melotot berharap kakaknya itu mengerti dengan petunjuknya.
“Apa karena kau tidak mau membayar hutangmu padaku 200$ kemarin? Wow, kau tidak bisa begitu. bahkan orang tua dan anaknya harus punya hubungan yang jelas masalah uang. Aku sangat kecewa padamu sekarang!” ungkap Ri On
Si Pria memberikan tulisan di atas koran “Tanya sampai kapan dia ada di sana!” dan Ri Jin mengikuti perintah dari si pria.
“Sampai kapan? Sampai kapan? Sepanjang malam, dasar. Sepanjang malam. Sampai matahari terbit. Kenapa? Karena malam kami lebih indah daripada harimu.” jawab Ri On dengan gaya selengeannya.
Ri On tersadar kalau adiknya sudah menutup telpnya, ia mengumpat adiknya itu memang penuh aneh lalu berteriak memanggil seniornya karena makanannya sudah siap. 


Si Pria dan anak buahnya keluar dari tempat Do Hyun dan Ri Jin disandera. Anak buah yang lainnya sudah menunggu diluar.
“Kau tetap di sini, jaga pria dan wanita itu. Dan sisanya, ikut aku.” perintah si pria
Anak buahnya pun ikut si pria keluar dari gudang, sementara si pria pemukul pergi ke depan pintu dan langsung mengembok pintu tempat Do Hyun dan Ri Jin disandera.
***
Sementara di dalam Do Hyun masih belum tak sadarkan diri. Ri Jin masih berusaha untuk membuka tali dengan mengoyangkan tangan dan kakinya lalu berteriak kesal sendiri. Tiba-tiba-tiba Do Hyun terbatuk.
Ri Jin yang mendengar Do Hyun terbatuk-batuk bertanya keadaannya baik-baik saja lalu bertanya apakah ia sudah sadar. Do Hyun masih terbatuk, Ri Jin mengingat saat bertemu dengan Do Hyun beberapa kali sebelumnya.
“Ingatlah. 7 Januari 2015 tepat jam 10 malam.Waktu aku jatuh cinta padamu” ucap Se Gi dengan wajah Do Hyun
“Permisi. Permisi, tapi kau siapa?” tanya Do Hyun saat bertemu pertama kali di depan lobby
“Kenapa kau tidak keluar? Menjauh sebelum aku hitung sampai empat, oke” teriak Ferry Park dengan rambut belah tengahnya.
“Semuanya berbeda. Sinar matanya, suaranya, dan kepribadiannya.” gumam Ri Jin mengingat semuanya.
Tubuh Do Hyun bergetar, Ri Jin melihat dengan jelas. Dengan mengangkat wajahnya, terlihat kornea matanya yang mengecil lalu membesar setelah itu ia berteriak seperti terjadi sesuatu dalam dirinya, Ri Jin melotot melihat Do Hyun yang berteriak dengan tangan di ikat dengan tali. 


Sementara Si pria pemukul terlihat baru saja dari toilet,  saat akan berjalan masuk terlihat bom buatan Ferry Park masih ada diatas drum. Dengan wajah sumringah merasa apa yang dibawa Se Gi itu sangat sulit di percaya.
Ia melihat dengan meremehkan lalu ia melemparkan begitu saja bom buatan Ferry Park. Tanpa disadari Bom itu malah aktif dengan waktu 30 menit sebelum meledak dan si pria pergi begitu saja. 


Terlihat kilatan sinar dari mata Do Hyun, ia kembali tersadar dan bingung melihat tempatnya berada sekarang. Ia melihat kaki dan tangannya yang sudah di ikat dan berusaha melepaskannya.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Bukan Se Gi yang keluar? Lalu siapa? Ferry Park” gumamnya
Do Hyun terlihat kesusahan dan berteriak kesal karena talinya belum bisa dibuka. Setelah itu ia tersadar di depannya ada Ri Jin yang menatapnya, dengan wajah senyuman ia menyapa Ri Jin.
“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka, kan? Ah, bagaimana dengan jaketnya? Apa yang terjadi?.” ucap Do Hyun, Ri Jin tetap terdiam dengan mata berkaca-kaca
“Maafkan aku. Saat aku marah atau mabuk, aku hilang kesadaran.” jelas Do Hyun yang menyadari kalau dirinya itu berubah, Ri Jin masih menatapnya lalu menghela nafas
“ Seperti yang kau lihat, aku tidak apa-apa dan jangan khawatir. Tentang jaketnya, mereka sedang mencarinya.” jelas Ri Jin 


Di jalan Raya
Terlihat banyak motor yang berjalan dengan beriringan dan sengaja berjalan dengan berbelok-belok di jalan raya dengan ugal-ugalan. Salah seorang pengendara membuka helmnya, si pria dengan wajah kasarnya siap untuk mendapatkan jaket itu kembali.
Sementara di tempat Ri On sedang melakukan pesta setelah kerja dengan para seniornya, mereka bersulang bersama dan saling tertawa dan memakan semuanya. Ri On masih mengunakan dengan jaket kulitny sambil berbincang-bincang dengan temannya. 


“Bagaimana mungkin dengan mudahnya kau beri tahu dimana kakakmu? Kau harusnya memberi dia peringatan terlebih dahulu.” ucap Do Hyun memarahi Ri Jin
“ Tidak apa-apa. Di sana ada pesta.” jelas Ri Jin sambil berusaha untuk melepaskan tali di tangan dan kakinya.
“Aku tidak bercanda. Keluargamu bisa dalam bahaya.” ucap Do Hyun dengan nada tinggi
“Tidak apa-apa! Hari ini pesta setelah kerja.” ungkap Ri Jin terus berusaha membuka tangan dan kaki.
Do Hyun mengumpat Ri Jin itu sudah gila, lalu ia teringat saat bertemu dengan Nyonya Husky di Club Paradise yang memberitahu kalau Ri Jin adalah pasien yang sangat bahagia dan seorang maniak.
 “Maafkan aku.” ucap Do Hyun seperti merasa bersalah.
Ri Jin pikir untuk apa minta maaf. Do Hyun mengakui kalau Ri Jin itu orang yang sakit. Ri Jin menendang kesal karena Do Hyun terus menganggap dirinya itu sedang sakit.
“Minta maaf nanti saja dan pikirkan agar bisa keluar dari sini. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang!” teriak Ri Ji kesal 


Saat itu Do Hyun melepaskan tali di baju dan kakinya dengan tangannya, Ri Jin kaget melihat Do Hyun bisa membebaskan dirinya, Do Hyun membantu Ri Jin untuk melepaskan tali di tubuhnya. Ri Jin menduga Do Hyun sedang mempelajari trik kabur atau semacamnya
Do Hyun mengakuinya karena ia merasa terbiasa dengan hal seperti sekarang dan ia sudah berlajar sepanjang tahun lalu ia membantu Ri Ji melepaskan tali yang mengikat kakinya. Ri Jin menatap Do Hyun lalu meminta untuk mengingatnya. Do Hyun bertanya mengingat tentang apa.
“7 Januari 2015, tepat jam 10 malam.” ucap Ri Jin, Do Hyun kembali bertanya hari apa yang dikatakan Ri Jin 
“Hari aku jatuh cinta padamu.” jawab Ri Jin dengan Do Hyun yang menatapnya.
“Oh Ri Jin, kau tidak bisa mengatakannya di sini.” ungkap Do Hyun yang terlihat gugup.
“Tapi itu kau yang bilang. Kau tidak ingat?” tanya Ri Jin, Do Hyun terlihat gugup. 


Ri Jin akhirnya bisa membuka semua tali di tubuhnya lalu ikut berjongkok di depan Do Hyun yang terlihat binggung.
“Kau bilang bahwa orang dengan wajah sepertimu adalah palsu. Aku mengingat wajah Shin Se Gi....” ucap Ri Jin pada Do Hyun yang menatapnya.
Terlihat Se Gi saat mengatakan kalimat yang sama saat ada dirumah sakit dengan tatapan dinginnya.  “Akulah satu-satunya, jadi kau.... Jangan pernah melupakan sinar mataku.” ucap Se Gi
Do Hyun menatap Ri Jin dan masih kebingungan, Ri Jin juga menatap dengan mata memerah lalu bertanya siapa namanya, Do Hyun hanya menatapnya. Ri Jin meminta untuk Do Hyun menyebutkan namanya, Do Hyun malah memegang lengannya dengan keras.
“Oh Ri Jin, di sini... Kau ingin kabur, kan?” ucap Do Hyun dengan wajah serius, Ri Jin menatapnya penuh arti. 


Terdengar teriakan histeris dari dalam gudang, Si Pria yang menunggu di luar dengan tertidur terbangun lalu panik membuka gembok yang ada di depan pintu. Setelah membukanya, terlihat Ri Jin yang sudah terkapar  tak berdaya diatas kardus.
Dia melihat sudah tidak ada Do Hyun yang terikat di kursi dan talinya sudah ada dilantai, ia mencoba mencari kemana Do Hyun pergi. Do Hyun sudah berdiri di belakang lalu memberikan pukulan untuknya dan berhasil melumpuhkan hanya dengan memukul bagian punggungnya.
Ri Jin mengintip apakah si pria itu sudah pingsan, setelah keadaan aman ia pun membuka matanya lebar-lebar. Do Hyun mengajak Ri Jin kabur dari tempat itu.
“Kau jangan lupakan janjimu untuk sebutkan namamu kalau kita keluar hidup-hidup, kan?” ucap Ri Jin dengan nafas teregah-engah
“Maaf tapi, kupikir akan sulit untuk membawamu ke rumah sakit. Aku juga mendesak harus ke suatu tempat. Jika kita keluar, aku akan memanggil taksi. Pergilah sendiri...” balas Do Hyun mengintip keluar takut ada anak buah yang lainnya. 


Saat membalikan badan, Ri Jin sudah disandera kembali oleh si pria yang mereka kira sudah pingsan. Si pria menyuruh keduanya masuk kembali selama ini masih bersikap baik, Ri Jin terlihat melotot ketakutan.
Do Hyun meminta Si pria untuk melepaskan Ri Jin, Si pria mengancam dengan menghitungnya sampai tiga.
“Orang itu... adalah seorang maniak! Jangan merangsang pasien, akan jadi berbahaya.” pesan Do Hyun memperingati si pri
“Siapa yang memanggilmu dokter? Kelihatannya kau lebih berbahaya. Aku tidak apa-apa, jadi jangan gelisah. Bernapaslah.” perintah Ri Jin mengeluh kesal.
Si pria menghitung sampai dua, tiba-tiba keduanya saling berteriak kencang. Si pria mengumpat lalu menghitung sampai ketiga. Terdengar bunyi dari bom yang dibuat Ferry Park.
“Hitung mundur dimulai.!!!” terdengar suara dari dalam bom dan waktunya di mulai dari hitungan ke 50 detik.
Ketiganya melirik ke arah bom yang aktif, Do Hyun dengan cepat mengambil kembali Do Hyun lalu mengancamnya dengan waktu mereka tinggal 41 detik lagi. Dia memerintahkan untuk melepaskan Ri Jin sekarang.
“Bajingan ini bercanda denganku lagi. Kau membuat adegan dengan benda tak berguna.” umpat si pria yang masih mengalungkan pisau di leher Ri Jin.
“ Saat itu, aku belum membatalkan mode aman. tapi kali  ini, apa yang akan kau lakukan jika ini sungguhan? Tentu saja, kesempatanya 50:50. Pilihan ada padamu Apapun pilihan yang kau buat, tentunya setelah 5 detik aku akan melempar ini padamu.” ucap Do Hyun dengan waktu tinggal 15 detik lagi.
Si Pria akhirnya mendorong Ri Jin dan kabur. Sementara Do Hyun dan Ri Jin terdorong lalu terjatuh pada jejeran drum sementara bom yang ditangan Do Hyun pun terlempar. Ri Jin berteriak kesakitan, Do Hyun melihat bom itu akan meledak 10 detik lagi.
Waktu tinggal 5 detik lagi, Ri Jin terlihat kesakitan dan Do Hyun pun menarik Ri Jin keluar dari gudang, tepat saat mereka melangkah keluar bom itu meledak dan mereka pun terlempar. Ri Jin terlihat tak sadarkan diri saat terjatuh. 


Sementara di tempat pesta Ri On masih riuh dengan orang-orang yang bersulang. Pria dengan anak buahnya sudah sampai dan mengepung meja tempat Ri On dan teman-temannya duduk bersama.
“Siapa Oh Ri On?” ucap Si Pria dengan wajah sangarnya berdiri di depan meraka. Terlihat teman-teman Ri On tak peduli malah melanjutkan minum-minum
“Apakah Oh Ri On tidak akan keluar?!” teriak si pria kesal.
“Apa kau mencari ini?” ucap Ri On dengan membawa jaket kulit yang sudah dilepaskan.
“Berikan padaku. Jika kau tidak ingin melihat darah.” ancam si pria meminta jaket itu dikembalikan padanya.
“Bagaimana mungkin kuberikan begitu saja? Aku harus menyingkirkan isinya dulu agar bisa kau bawa dengan nyaman.
Ri On membuka bagian perut jaket bagian dalam dan butiran ekstesi berjatuhan, si pria itu pun kaget melihat obat-obatan yang ia sembunyikan jatuh begitu saja. Teman-teman Ri On langsung berdiri dari tempat duduknya,
“Saya penyelidik untuk Divisi Obat-obatan terlarang, Kepolisian Myungdong!” teriak orang yang duduk di depan memperlihatkan ID cardnya.
“Saya dari tim penyelidikan umum.” teriak pria yang duduk disampingnya dengan memperlihatkan ID cardnya.
“Saya dari divisi lalu lintas!” teriak si pria yang duduk di belakangnya.
Dan teman Ri On yang lain juga polisi yang bertugas menyelidiki orang hilang. Pria yang tadinya sangat tiba-tiba panik karena ternyata di depan mereka adalah polisi. Ri On tersenyum karena ia bisa menjebak si pria yang akhirnya di borgol oleh polisi berserta anak buahnya.
“Dimana adikku? Dimana adikku sekarang?!” teriak Ri Jin menarik pundak si pria dengan mata melotot marah. 

Do Hyun dan Ri Jin masih terbaring di depan gudang yang sudah terbakar, Do Hyun yang ada disampingnya masih tersadar setelah terlempar karena ledakan. Ia melihat  Ri Jin yang terdiam mencoba menyadarkan Ri Jin.
Terjadi ledakan kembali lalu Do Hyun mencoba melindungi Ri Jin denga memelukanya, beberapa drum pun jatuh berpetalan di dalam gudang. Do Hyun berusaha menyelamatkan Ri Jin dengan mengendongnya.
Ledakan kembali terdengar dan  punggung Do Hyun sempat  terkena jatuhan balok kayu, ia bersadar di balik rak dan terlihat pecahan kaya yang hamburan di depan mata Do Hyun. Ia berusaha berjalan tapi ledakan terjadi didepannya akhirnya ia pun mundur kembali.
Ia sempat berhenti dan berlutut di depan rak, Ri Jin sedikit tersadar sambil membuka matanya.
“Selamatkan aku. Aku bersalah...... Aku tidak tahu..... Maafkan aku......” pinta Ri Jin yang terlihat lemah.
Do Hyun mencoba mencari cara, terlihat ada motor yang terparkir didepan gudang. Lalu ia berlari membawa Ri Jin dan terdengar ledakan yang membuat rak jatuh.
Bersambung ke Part 2  


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar