Senin, 29 Agustus 2016

Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC

Do Hyun sudah naik ke atas motor dengan mengikat tubuh Ri Jin yang pingsan di belakanganya tak lupa ia juga memakaikan helm untuk Ri Jin, lalu mengendarai motornya dengan kencang.
Di belakang mereka seperti saling bergantian ledakan yang saling menyambar, Do Hyun terus melajukan motornya dengan kencang bersama Ri Jin. Sesampai di jalan raya, ia melirik Ri Jin yang terikat dibelakangnya.
Sepertinya Ri Jin sedikit tersadar memeluk erat pinggang Do Hyun saat berada diatas motor, tapi matanya terlihat masih tertutup.
“Kau... siapa namamu? Jangan pergi. Tetaplah seperti ini.” gumam Ri Jin dalam hati sambil  terus mengeratkan pelukannya pada Do Hyun. 


Ri Jin sudah terbaring di rumah sakit, matanya terbuka terlihat samar-sama Do Hyun dengan penuh luka di wajah dan tangannya. Wajahnya yang terlihat khawatir meminta maaf karena sudah membuat Rin Jin berada dalam bahaya.
“Maafkan aku tak bisa menceritakan mengapa kau bisa berada dalam situasi ini.” ucap Do Hyun dengan mata menahan tangis, Ri Jin kembali menutup matanya.
“Yang terpenting, aku sangat minta maaf telah bertemu denganku. Aku harap... Nasib buruk lainnya karena bertemu denganku takkan lagi terjadi. Aku sungguh menyesal.” ungkap Do Hyun yang merasa bersalah dengan menundukan kepalanya. 


Ri Jin kembali sedikit membuka matanya yang masih samar-samar lalu ia melihat jelas Ri On yang sudah ada di depannya.
“Ri Jin. Apa kau sudah sadar? Apa kau tahu dimana kau sekarang?” teriak Ri On terlihat sangat khawatir.
Ri Jin melirik melihat sekitarnya lalu terbangun dari tempat tidur dan sadar kalau sedang ada di rumah sakit.
“Ri On, apa kau tidak terluka?” tanya Ri Jin dengan wajah khawatir.
“Siapa yang kau khawatirkan sih? Aku menemukan dimana mereka menyanderamu lalu lari ke sana. Tapi kau tidak ada dan pabriknya terbakar. Apa kau tahu betapa terkejutnya aku?” teriak Ri On kesal
“Tetap saja kau mengerti kode dariku.” ucap Ri Jin tersenyum bahagia.
“Kasus pembunuhan Omega 3, bab 3! Sebuah episode dimana seorang bocah laut membawa narkoba menculik seseorang karena narkobanya dicuri! Kesimpulannya narkobanya tidak ada di MRI, malah ditemukan di baju korban!” teriak Ri On yang sangat ingat dengan tulisan yang ia buat.
“Bingo! Seperti diharapkan, kita cocok!” ungkap Ri Jin dengan mengangkat tangannya untuk berhigh five.
“Kau pasti senang.” ejek Ri On, lalu keduanya melakukan high five yang diakhiri dengan tembakan pistol dari tangan mereka.
Ri On memuji adiknya yang membakar pabrik dengan baik, Ri Jin binggung teringat dengan wajah Do Hyun yang meminta maaf padanya.
“Aku tidak  bisa menjelaskan mengapa kau bisa berada dalam situasi seperti ini. Aku sungguh menyesal”
Ia mengingat semua ucapan Do Hyun dan bertanya dimana pria yang ia berbicara padanya. 


Do Hyun sudah terbaring  di mobil dengan tangan dan kepalanya yang berdarah. Ketua Ahn yang menyertir terlihat khawatir dengan Do Hyun.
“Jika Anda mengalami masa sulit, saya akan membawa Anda ke rumah sakit.” saran Ketua Ahn
Tapi Do Hyun seperti menahan sakit dengan menarik risleting jaketnya lebih rapat dan berteriak menahan sakit. 


Di dalam ruang rapat Nyonya Seo terlihat tegang sementara Young Pyo sedang berbicara di depan ruang direksi tenang Do Hyun yang terlambat datang saat rapat.
“Jika dia berada dalam kondisi yang buruk untuk menghadiri rapat seperti yang Anda rencanakan, keadaan ia pasti sangat parah. Tapi Saat saya bertemu dengannya di pagi hari, dia terlihat baik-baik saja.” ucap Young Pyo sengaja mencari-cari kesalahan Do Hyun
“Baiklah, Anda tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam kecelakaan mobil hanya dengan melihatnya dari luar. Bahkan jika terlihat baik-baik saja, tak ada yang tahu betapa dia terluka di dalamnya.” sindir Young Pyo, Nyonya Seo hanya bisa tertunduk diam.
“Sekarang, kita tidak bisa membuat orang-orang sibuk terus menunggu, jadi kita harus mengakhiri rapat ini.” jelas Young Pyo
Saat itu juga, Ketua Ahn masuk ke dalam ruangan rapat, Nyonya Seo mengangkat wajahnya melihat Do Hyun akhirnya datang saat rapat direksi. Do Hyun sudah berganti pakaian dengan jas lalu berjalan dan berdiri tepat di samping Ki Joon, wajah Nyonya Seo masih saja terlihat sangat dingin. Do Hyun memberikan hormatnya pada Nyonya Seo.
“Setelah mengumpulkan orang-orang sibuk di sini, maaf karena terlambat. Saya mengalami kecelakaan saat di perjalanan. Itu sesuatu yang tidak saya harapkan dan berada di luar kendali.” jelas Do Hyun, Young Pyo terlihat tersenyum mengejek.
“Saya mengatakan ini bukan sebuah alasan, tapi sebagai seorang yang akan memimpin ID Entertainment mulai sekarang, Saya akan ditempatkan dalam berbagai situasi yang tidak bisa dikendalikan seperti yang terjadi hari ini.” ucap Do Hyun, Nyonya Seo terlihat menarik nafas panjang.
“Sebagai cucu presiden juga bukan kendali saya. Dan Juga, saya, menjadi wakil presiden ID Entertainment tanpa susah, adalah hal yang kalian tidak pernah pikirkan. Aku akan menghadapi dunia yang selalu berubah dengan sesuatu dalam diri saya yang tidak berubah.”
“Mulai sekarang, aku akan melawan kondisi yang tak terkendali dengan sesuatu yang tidak berubah. Yaitu adalah tekad, semangat, usaha, dan identitas.” 


Ki Joon tersenyum dengan wajah mengejek sepertinya ia merasa Do Hyun terlalu membual. Saat melirik, ia melihat ada darah yang mengalir dari tangan Do Hyun dan jatuh diatas karpet.
Ia memandang Do Hyun yang masih bisa berbicara didepan para direksi walaupun ia menahan sakit. Do Hyun seperti berusaha menahan sakitnya dengan mengepalkan jarinya diatas meja lalu menekannya perlahan dan kembali fokus berbicara.
“Mulai sekarang, Saya akan mencoba membujuk orang-orang dengan kemampuan saya dan menjadi visi baru bagi Seung Jin Group.Saya secara resmi memperkenalkan diri. Saya Wakil Presiden ID Entertainment, Cha Do Hyun.”
Do Hyun memberikan penghormatan pada semua dewan direksi lalu semuanya memberikan tepuk tangan setelah mendengar pidato singkat Do Hyun. 


Do Hyun berjalan mengikuti Nyonya Seo di depan foto kakeknya, ia mendapatkan tamparan keras dari sang nenek. Do Hyun kaget sambil memegang pipinya, Nyonya Seo marah besar karean Do Hyun terlambat di hari pertama melangkah ke dalam perusahaan.
“Di depan semua orang licik yang lama menunggumu dan memperhatikanmu? Beraninya kau terlambat di depan pamanmu, yang pertama akan melompat untuk merebut posisimu!” ucap Nyonya Seo menunjuk Young Pyo yang sangat licik
“Maafkan aku.” ucap Do Hyun yang terlihat sangat binggung
Nyonya Seo terlihat tak mau menerima maaf Do Hyun begitu saja, lalu membahas tentang kesalahan yang sudah Do Hyun lakukan dan siapa orang yang seharusnya pantas untuk menerima maaf itu. Do Hyun ingin berjanji mulai sekarang tapi neneknya lebih dulu berteriak
“ Ayahmu! Alasan mengapa kau ada di sini karena, ayahmu mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkanmu. Alasan mengapa ayahmu tidak disini karena kau!” teriak Nyonya Seo Histeris
Do Hyun hanya bisa menatap neneknya dengan tatapan binggung.
“Jika kau hanya tahu apa yang dia lakukan padamu, apa yang dia lakukan untukmu adalah menjadikanmu keluarga Seung Jin. Kau tidak akan berani membuat kesalahan seperti hari ini. Jika kau manusia. Jika kau manusia setidaknya, tidak peduli apa yang terjadi, kau harus melindungi Seung Jin Group.” perintah Nyonya Seo dengan mata memerah sangat marah.
Do Hyun yang tadinya tertunduk menatap neneknya.
“Sampai anakku, Cha Joon Pyo, bisa duduk di kursi itu! Tidak peduli metode apa yang kau gunakan, kau harus melindungi Seung Jin Group! APA KAU MENGERTI?!” teriak Nyonya Seo histeris sambil menguncang-guncangkan tubuh cucunya.
Do Hyun terdiam menatap neneknya, ia terlihat masih kebinggungan. 


Terlihat nama “Cha Joon Pyo” didepan sebuah kamar VVIP.
Nyonya Shin Hwa Ran melihat nama Cha Joon Pyo ternyata anak buahnya bisa menemukannya, dengan wajah tersenyum ia memberikan amplop pada si pria karena sudah berkerja keras.
Ia masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu terang dan duduk dikursi dekat tempat tidur, seseorang terbaring di depannya.
“Sekarang aku sudah menemukanmu. Apa kau baik-baik saja selama ini?” sapa Nyonya Shin
Terlihat Pria yang terbaring di depannya dengan bantuan alat pernafasan, sepertinya keadaannya masih koma. 


Nyonya Ji sedang membuat bubur di dapur sambil menelp, ia memberitahu dirinya sangat terkejut ketika ponselnya anaknya mati dan ia menelp ke rumah sakit.
“Mereka bilang kau dibawa ruang gawat darurat. Jantungku hampir copot, yang kutahan agar tidak jatuh.” ungkap ibunya sangat khawatir.
“ Kau berlebihan. Aku berbaring karena aku ingin mengambil kesempatan dan beristirahat. Kemarin Aku tidak bisa tidur berhari-hari karena banyak pasien gawat darurat” cerita Ri Jin yang duduk diatas tempat tidur seperti tak ingin ibunya khawatir.
“Aku akan mengirimmu makanan melalui Ri On, jadi makanlah masakanku daripada makanan rumah sakit.” pesan ibunya.
Sepertiny Ri Jin meminta ibunya tak perlu masak banyak, ibunya pun berkata kalau dirinya hanya membuat sedikit bahkan membandingnya makananya itu hanya seukuran kotoran mata. 


Tapi yang sebenarnya, ayah Ri Jin sudah menyediakan beberapa kotak makanan dan juga makanan yang sangat banyak diatas meja. Ibunya memberitahu kalau Ri On akan datang.
Ri On datang keruangan makan memutuskan  ia yang akan pergi karena apabila ayahnya mengemudi di malam hari akan berbahaya, lalu ia menjerit melihat makanan yang disediakan untuk Ri Jin.
“Kalian  tidak berpikir memberi makan Ri Jin semua ini, kan?” usik Ri On yang melonggo melihat banyak makanan diatas meja.
“Kalau begitu kau pikir semua makanan ini untuksiapa? Anjing tetangga?”sindir ayahnya.
“Kenapa kau mengirim satu truk makan? Dia hanya dirawat selama dua hari. Kau seharusnya memberikan ini ke tetangga, aku tak bisa membawakannya ini karena sangat memalukan.” ucap Ri Jin menolak membawa semua makanan untuk adiknya.
Ibunya yang kesal akhirnya menyuruh suaminya saja yang pergi, Suaminya pun setuju kalau ia yang akan pergi lalu membuka jaketnya dan meminta Ri On membawakan jaket kulitnya. Ri On terlihat bingung karena ayahnya tiba-tiba meminta jaket. Ayahnya terlihat kesal karena sudah pasti ia akan memakai jaket itu.
“Kau sudah memberikannya padaku.” ucap Ri On berusaha supaya ayahnya tak meminta lagi.

“Hei, itu hadiah yang Ri Jin berikan padaku. Meskipun sempit, Aku tidak bisa menyerahkannya. Jadi aku akan menurunkan berat badan dan memakainya dengan baik.” jelas ayahnya tertawa bahagia.
"Ah, berhentilah! Pembicaraan ini sudah berakhir! Sampai kapan kau akan terobsesi dengan barang itu?” rengek Ri On 
Saat itu juga, ibunya melempar sendok nasi kayu pada anaknya dan Ri On terlihat terkena kepalanya, ayahnya terlihat binggung. Ri On kembali mengangkat wajahnya terlihat sendoknya sudah menutupi salah satu wajahnya.
“Tidak kena.....” ucap Ri On mengoda ibunya
Ayahnya tersenyum memuji anaknya yang sudah tumbuh besar, ibunya berteriak pada Ri On yang berani berbicara tidak sopan pada ayahnya. Ri On hanya bisa terdiam menurunkan sendok nasi dari matanya. 


Terlihat jahitan yang ada ditangan Do Hyun, lalu ia mengompresnya dengan kapas dan alkohol lalu membalutnya dengan perban. Ketua Ahn yang menemaninya terlihat khawatir karena Do Hyun tak pergi kerumah sakit. Do Hyun merasa baik-baik saja karena ia selau merawat lukanya yang banyak sendirian lebih dari sekarang.
“bagaimana kondisi Oh Ri Jin?” tanya Do Hyun khawatir.
“Ya, untungnya, kondisinya stabil dan mereka bilang mereka memindahkannya ke bangsal umum.” jawab ketua Ahn, Do Hyun merasa lega mendengarnya.
“Bukankah seharusnya kita mengkhawatirkan kejadian itu? Bagaiaman Jika dia mengancam Anda karena kejadian ini” ucap Ketua Ahn
“ Dia tidak terlihat orang yang seperti itu. Bagaimanapun, dia sakit mental, sama sepertiku. Bayar perawatannya dan sampai dia dibebaskan, tolong jaga dia. Dan jika Se Gi bersika kasar padanya tolong minta maaf atas namaku sehingga tidak menjadi luka lainnya.” perintah Do Hyun. 


Ri Jin yang masih dipasang infus, membeli minumam di mesin, ia merasakan rasa hausnya hilang setelah meminumnya.  Ia berjalan masuk sambil minum tapi minumannya itu langsung muncrat melihat sesuatu yang mengagetkan didepannya.
Ia juga terbatuk batuk dan melihat ada banyak hadiah yang dengan bentuk hati dalam ruang rawatnya. Ada beberapa rangkaian bunga, ia berjongkok melihat ada surat yang tertempel di bunga lalu membuka dan membacanya.
“Aku tulus berharap untuk kesembuhanmu.” tulis didalam kartu tanpa ada nama pergirimnya.
Ri Jin teringat dengan pria yang membuka tali di dalam gudang, lalu menduga-duga kalau hadiah itu dari si pria ramah yang menolongnya. 


“Apa mungkin, kau sedang pacaran sekarang?” ucap Ri On yang tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu.
Ri Jin kaget membalikan badanya, Ri On memincingkan matanya lalu dengan dua jarinya ia menunjuk dua mata adiknya seperti seorang macan yang sedang mengaum. 


Dua gelas bir bersulang diatas jejeran kotak makan, Ri On terlihat tak nyaman mereka meminum bir di dalam rumah sakit. Ri Jin seperti berkhayal ada orang disampingnya meminta minta maaf dan mengatakan dirinya baik-baik saja lalu meminum gelas birnya. Ri Oh tertawa lalu ikut meminum gelas birnya.
“Seperti diharapkan, minuman ayah adalah yang terbaik.” puji Ri Jin lalu mulai memakan masakan ibunya.
“Hei, tapi kau tahu, pria itu... Dia benar-benar aneh. Apakah masuk akal jika dia terus berubah tiap kali kau bertemu dengannya?” ungkap Ri On seperti sudah tahu cerita pria yang ditemui adiknya.
“Masuk akal. Kau juga begitu. Kau kan Oh Ri On dan Omega. Hidup dengan identitas yang berbeda adalah sebuah mekanisme pertahanan diri dari kerasnya dunia.” jelas Ri Jin mengikuti penjelasan kakaknya.
“Hei, tidak semua orang melakukan itu! Orang yang seperti aku, dengan kecerdasan dan individualitas dan berada di kota yang sama itu sangat jarang!” ucap Ri On bangga
Ri Jin yang mendengar penjelasan kalau dirinya itu tak termaksud dalam kategori itu. Ri On berbicara serius pada adiknya untuk berhati-hati karena ia pikir si pria aneh itu adalah seorang playboy. Ri Jin sedikit terbatuk menghentikan makananya.
“Tapi bagaimana... jika ini bukan taktiknya dia? Bagaimana jika ini adalah sesuatu yang bukan keinginannya, tapi di luar kendali? Bukanlah mekanisme pertahanan diri, tapi jebakan? Bagaimana rasanya?” ucap Ri Jin seperti menduga-duga tentang perubahan Do Hyun

“Bukankah itu tidak menguntungkan? Bukankah itu berbahaya? Bukankah itu sulit tertahankan? Bukankah itu kesepian?” ungkap Ri Jin dengan wajah sedih memikirkan tentang Do Hyun. 
Ri On hanya menatap adiknya, Ri Jin bertanya kenapa kakaknya menatap seperti itu. Ri On merasakan ada yang aneh.
“Apa kau barangkali... menyukainya?” tanya Ri On bertanya melihat dari sikap adiknya.
“Aku? Siapa yang kau maksud?” ucap Ri Jin yang tak percaya dengan pertanyaan kakaknya.
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu orang yang prihatinkan adalah seorang manusia serigala. atau seorang yang ramah, atau seorang pelaut.” jelas Ri On
Ri Jin pikir itu tak mungkin, lalu ia teringat saat Se Gi menariknya lalu menatapnya, berganti dengan tatapan Do Hyun yang menyelamatkanya. Dia merasa tak mengerti dan tak tahu, karena ia rasa tak akan mungkin lagi bertemu dengan pria itu lagi.  Untuk mengalihkan pembicaraan ia mengajak kakaknya untuk bersulang. 


Do Hyun tertidur sendirian dalam kamarnya, terlihat ia sedang bermimpi buruk. Terlihat gambar mimpinya sebuah robot dengan satu tangan berjalan lalu menabrak sebuah kepala boneka.
Seorang anak kecil terlihat terlempar lalu perlahah ia berjalan mundur dengan wajah ketakuan dan berkata kalau dirinya bersalah dan ada bayangan seseorang yang akan memukulnya.
Saat itu juga Do Hyun terbangun dalam tidurnya. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya berkeringat lalu memegang kepalanya seperti merasakan sakit. 


Pagi hari terlihat gedung yang menjulang tinggi di kota Seoul.
Terdengar bunyi ketukan dalam sebuah ruangan dan Direktur Choi masuk menemui Ki Joon.
“Apa kau memanggilku, Presiden?” ucap Direktur Choi setelah membungkukan badannya.
“Di hari rapat, temukan apakah seorang bernama Cha Do Hyun berada di rumah sakit di Seoul.” perintah Ki Joon
Direktur Choi mengerti tapi ia tersadar karena harus memeriksa rumah sakit satu kota Seoul.  Ki Joon mengangkat wajahnya lalu mengejek  Direktur Choi yang tak punya punggung untuk melakukannya.
“Saya perlu memiliki beberapa pedoman.” jelas Direktur Choi
“Mulailah dari rumah sakit yang dekat perusahaan. Jika kau menggunakan otakmu, lengan dan kakimu tidak akan menderita.” sindir Ki Joon.
Direktur Choi mengerti, lalu Ki Joon bertanya apakah wakil Presiden itu berkerja hari ini


Do Hyun sudah dengan salah satu staff di tempat pembuatan furniture. Staff yang berjalan dengannya menjelaskan tentang semua produk pada Do Hyun, lalu tiba-tiba Do Hyun berhenti melangkah melihat Chae Yeon yang berdiri tak jauh darinya sedang berbicara dengan staff lainnya.
Ia hanya menatap sejenak lalu berpikir, staff kembali berbicara kembali pada Do Hyun.
“Aku mendapatkan satu truk makanan hingga para staf merasa lebih baik. Ayo makan bersama.” ajak Do Hyun seperti mengalihkan rencana
Chae Yeon tersadar melihat Do Hyun yang berdiri tak jauh darinya, ia memanggil saat Do Hyun akan pergi. Do Hyun sempat berhenti tapi setelah itu ia seperti mengambaikan dan terus berjalan. Chae Yeon bingung lalu menghembuskan nafas panjang. 


“Kenapa kau seperti ini?” tanya Cha Yeon yang sudah duduk di depan Do Hyun yang sedang makan siang.
“Aku sudah bilang padamu. Jika aku mengejutkanmu dengan kata-kata aksi yang seakan bukan diriku...” ucap Do Hyun lalu di lanjutkan oleh Chae Yeon
“Mengabaikanmu?” ucap Chae Yeon 
Do Hyun merasa Chae Yeon bisa mengabaikannya sekarang. Chae Yeon bertanya tentang status mereka sekarang berbeda. Do Hyun pikir tak seperti itu tapi Chae Yeon berbicara seperti yang ia katakan sebelumnya.
“Jika kau memperlakukanku dengan buruk mencariku di larut malam, atau menelepon untuk bertemu denganku, atau melewati batas, itu bukan dirimu, jadi kau bilang aku harus memukulmu” ucap Chae Yeon yang mengulang semua kata-kata Do Hyun di malam itu.
Do Hyun mengangkat wajahnya terlihat terdiam karena Chae Yeon mengingat semuanya. Lalu ia menundukkan kepalanya lagi dan membenarkan semuanya.
“Pernahkan kau melakukan itu sebelumnya?” tanya Chae Yeon dengan tangan terlihat didada, Do Hyun agak kaget mendengar pertanyaan Chae Yeon.
“Pernahkah kau melewati batas? Kau sadar dan hati-hati akan diriku, Ki Joon, ibuku dan Ketua. Kau menyadari segala sesuatu di dunia ini.” ungkap Chae Yeon
“Apa yang ingin kau katakan?”tanya Do Hyun sambil menaruh pisau dan garpunya diatas piring

“Melewati batas”jawab Chae Yeon sambil mencondongkan badannya. 
“Garis yang seharusnya tidak pernah dilewati. Lewatilah. Aku penasaran apakah aku akan memukulmu atau apakah aku akan melewati garis itu bersamamu.” ungkap Chae Yeon seperti menantangnya.
Do Hyun terlihat melotot tak percaya dan berusaha untuk menjelaskan tapi Chae Yeon kembali berbicara meminta Do Hyun untuk menceritakan saja yang sebenarnya. Do Hyun sempat terdiam menatap Chae Yeon
“Aku bukan seseorang yang bisa kau tangani”ungap Do Hyun
Chae Yeon terlihat binggung, Do Hyun dengan wajah tertunduk mengatakan akan berpura-pura tak mendengar apa yang dikatakan Chae Yeon lalu ia memilih meninggalkan Chae Yeon.
Setelah berjalan beberapa langkah ia sempat terdiam sambl menghela nafas, Chae Yeon terlihat masih kebingungan melihat sikap Do Hyun yang cuek padanya. 



Kanghan hospital, ruangan Dokter Seo
“Ini bukan sesuatu yang akan selesai karena kau sembunyikan! Kita harus mengulang pengobatan secepat mungkin.” komentar Dokter Seo
“Kau tahu kondisi Wakil Presiden.” ucap Ketua Ahn dengan wajah khawatir
“Bukan waktunya untuk mengatakan hal seperti itu. Kejadian itu terselesaikan, tapi itu menyebabkan kriminalitas! Itu sebuah bom! Bom....” jelas Dokter Seo seperti ketakutan.
Ketua Ahn akhirnya mengutarakan maksudnya untuk bertanya apakah ada orang yang bisa menjadi psikaiater rahasia. Terdengar bunyi ketukan pintu, Dokter Seo akhirnya menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu. 


Ri Jin terlihat berdiri belakang pintu dan masuk memberikan hormat, Ketua Ahn terlihat gugup melihat Ri Jin yang datang sementara Ri Jin merasa tak mengenal Ketua Ahn.
Ketua Ahn teringat saat Ri Jin terluka, Do Hyun yang meminta pertolongan untuk membantunya.
“Kau seharusnya berada di rumah sakit, apa yang kau lakukan di sini?” komentar Dokter Seo melihat Ri Jin yang datang.
Ri Jin melihat Dokter Seo sedang ada tamu,, Ketua Ahn merasa Dokter Seo ada pasien jadi ia memilih untuk pergi saja.
“Ah, dokter Oh bukanlah pasien tapi dia seorang dokter. Dia seorang psikiter di rumah sakit ini.” jelas Dokter Seo, lalu ia bertanya sudah berapa lama ia berkerja dirumah sakit.
“Sudah satu tahun.” jawab Ri Jin
Ketua Ahn yang mendengar penjelasan Dokter Seo melonggo karena ternyata Ri Jin yang dianggap punya penyakit jiwa ternyata seorang psikiater. 


Dokter Seo menaruh secangkir gelas di meja, lalu bertanya apakah Ri Jin ingin mulai kerja lagi. Ri Jin membenarkan, Dokter Seo memincingkan matanya lalu bertanya apakah rekan kerja Ri Jin itu suka menganggunya.
“Bagaimanapun, setiap kali Dokter Shin menerima panggilan darurat untuk mengantikanmu, aku dengar dia mengeluh di ruanganmu dan Aku mendengar, dia sedang marah.” cerita Dokter Seo
“Apa aku harus lebih banyak istirahat?” tanya Ri Jin dengan wajah tersenyum
“Bukan PTSD, kan? (PTSD-Post Traumatic Stress Disorder)” ucap Dokter Seo seperti sedang memeriksa pasiennya.
“Ya, aku tipe yang memiliki pemikiran dan hati yang kuat.” jawab Ri Jin dengan serius
Dokter Seo akhirnya memperbolehkan Ri Jin kembali berkerja, Ri Jin tersenyum mengucapkan terimakasih. Lalu tiba-tiba ia terhenti berjalan, Dokter Seo menduga hati dan pikiran Seo itu sedang menolak perintahnnya tadi. Ri Jin kembali mendekatkan diri pada Dokter Seo.
“Dokter, kau bilang kau sudah merawati pasien D.I.D saat di Amerika, kan?” ucap Ri Jin


Ketua Ahn yang kembali menemui Do Hyun di kantor membahas tentang Ri Jin. Do Hyun menatap Ketua Ahn yang terlihat gugup lalu bertanya apakah ada masalah.
“Ya. Dia bukan pasien tapi dia psikiater. Selain itu, dia muridnya Dokter Seok Ho Pil.” jelas Ketua Ahn
Terlihat Do Hyun yang kaget setelah itu ia seperti berpikir tentang Ri Jin yang ternyata seorang psikiater. 


Kembali keruangan Dokter Seo.
“Pada awalnya saya curiga kalau itu gangguan ketidakstabilan, gangguan histrionik, atau skizofrenia, tapi Aku menemukan setiap kali kepribadiannya berubah, kesadarannya hilang. Dia tidak ingat yang dia sudah lakukan.” cerita Ri Jin
“ini Aneh. Berapa banyak kepribadian yang sudah kau temukan?” tanya Dokter Seo
“ Tiga orang. Kepribadian pertama yang aku temui sangat lembut dan baik hati. Kepribadian kedua yang aku temui sangat kasar, agresif, seperti manusia serigala. Dia sering memakai kekerasan dan Dia bilang namanya Shin Se Gi.” jelas Ri Jin sambil mengingat tentang Do Hyun dengan kepribadian yang berbeda
Dokter Seo terlihat terkejut mendengar Ri Jin menyebut nama Se Gi, lalu berusaha menanyakan sekali lagi nama yang disebut Ri Jin tadi. Ri Jin pun menyebut dengan jelas namanya  Shin Se Gi. Dokter Seo melotot dan tak percaya Se Gi sudah menemui Ri Jin


Dalam ruangannya, Do Hyun terdiam mengingat cerita Dokter Seo tentang Se Gi saat sempat mencekiknya sampi mati.
“Dia meminta untuk membuatmu tertidur, jadi kau tak bisa bangun selamanya.”  cerita Dokter Seo
“Mungkinkah, dalam rangka membuatku tertidur, dia menggunakan Oh Ri Jin yang bukannya Dokter?” gumam Ri Jin memikirkan tentang tujuan Se Gi
Ketua Ahn yang melihat Do Hyun tertunduk bertanya ada apa karena ia melihat Do Hyun yang lelah.  Do Hyun mengelengkan kepala, dia merasa tak tahu tapi ia tahu kalau orang iu sudah melihatnya berubah lalu mengambi jaketnya yang ada di balik kursi.
“Anda mau pergi ke mana?” tanya Ketua Ahn.
“Aku perlu bertemu Oh Ri Jin terlebih dahulu.” jawab Do Hyun 


Dalam mobil terlihat Do Hyun yang gelisah karena ternyata Ri Jin seorang psikiater bukan pasien seperti yang ia duga dan juga Ri Jin salah seorang yang melihat dirinya berbuah kepribadiannya.
“Pertama aku bertemu dengannya sebelas tahun yang lalu Saat ia berusia 17 tahun” cerita Dokter Seo yang beringan dengan Do Hyun yang mengendarai mobilnya.
***
Dokter Seo menceritakan tentang  Do Hyun sambi menuangkan teh dalam gelasnya.
“Dia memukul ayah tiri temannya sampai hampir mati tapi dia bilang dia tidak ingat apa-apa. Aku curiga saat itu juga.Ah, ternyata ada juga kehidupan yang seperti itu Dan aku bersamanya selama 11 tahun. Dia terlihat sangat baik, sangat bertanggungjawab dan bijaksana. Ditambah lagi, IQ nya sangat tinggi.”
 “Saat aku merawatnya, aku bertemu dengan semua kepribadian yang bersembunyi dalam dirinya. Aku juga berbincang dengan mereka. Pada akhirnya aku percaya Orang ini memiliki kepribadian ganda.”
Ri Jin terlihat sangat serius dan tak menyangka dengan dugaan Do Hyun memiliki banyak kepribadian lalu bertanya apa penyebab dari penyakit yang di derita pasien seperti itu. Ia yakin pasti ada alasan dari pasien memiliki kepribadian yang berbeda.
“Yang tersembunyi di ingatan masa lalunya. Dia kehilangan ingatan dari usianya sekitar tujuh hingga delapan tahun.” jelas Dokter Seo
“Lalu, kau tidak menemukan alasannya?” tanya Ri Ji penasaran
“Selama pemeriksaan, Aku berusaha memulihkan ingatannya, tapi gagal.” cerita Dokte Seo
“Itu artinya dia menutupi ingatannya sendiri. Dia menciptakan kepribadian ganda sebagai pertahanan diri untuk melindungi dirinya.” pikir Ri Jin

Dokter Seo menyimpulkan kalau Do Hyun belum siap menghadapi kenangan yang menyakitkan. Ri Jin bertanya bagaimana dengan keluarganya, menurutnya apabila ia tak ingat maka Do Hyun bisa bertanya pada keluarganya untuk membantunya.
“itu yang Sangat disayangkan. Orang-orang yang harus dia rahasia tentang  penyakitnya adalah anggota keluarganya.” cerita Dokter Seo terlihat bersedih, Ri Jin sempat terdiam matanya terlihat memenah menahan air matanya
“Lalu dia menanggung ini sendirian?” tanya Ri Jin terlihat tak percaya
“Dia bekerja keras selama 11 tahun, mengurus hal-hal yang dibuat sisi lain dari dirinya. Seakan dia sedang bertarung dalam peperangan, yang tidak pernah berakhir.” jelas Dokter Seo
Ri Jin yang mendengar cerita Dokter Seo menghela nafas dan tak percaya Do Hyun menangung penyakitnya itu sendirian. 



Ri Jin berganti pakaian lalu mengunakan jas dokternya ia teringat dengan cerita Dokter Seo tentang Do Hyun.
“Terkadang, aku memikirkannya Betapa marahnya dia? Berapa banyak ia memiliki masa sulit? Betapa kesepiannya dia?”
Ri Jin menghela nafas lalu berjalan akan keluar ruangan, ia bersandar di dekat pintu melihat foto ia dengan Ri On dan keluarganya, ia tersenyum seperti merasakan kebahagian karena memiliki keluarga.
“ Pada akhirnya, pertanyaan terakhir selalu membuatku berhenti sejenak.”
Ia kembali teringat saat Do Hyun diikat lalu berteriak seperti ada yang baru keluar dari tubuhnya. Ia seperti merasakan saat Do Hyun mengendongnya menyelamatkan dari ledakan di gudang. Lalu saat di club, ia melihat sendiri Do Hyun yang merasakan kesakitan di kepalanya lalu berlari pergi.

“Maafkan aku. Karena aku, kau berada dalam situasi bahaya ini. Aku sungguh menyesal tidak bisa menceritakan mengapa kau berada dalam situasi ini dan kau bertemu denganku”
Ri Jin sudah berjalan di lorong rumah sakit sambil  melamun memikirkan tentang Do Hyun dan kepribadianya.
“Kuharap nasib buruk bertemu denganku takkan lagi terjadi” pesan Do Hyun dengan wajah penuh luka.
Nona Husky berjalan jongkok disamping tempat handuk yang didorong oleh perawat saat di depan lobby ia melihat Ri Jin lalu melambaikan tangannya, Ri Jin pun ikut melambaikan tangannya. Setelah itu Nona Husky lalu berlari meninggalkan Ri Jin
“Nona Heo Sook Hee! Nona Heo Sook Hee! Kau mau pergi kemana?!” teriak Ri Jin mengejarnya seperti ia tersadar pasiennya itu kabur lagi. 


Nona Husky terus berlari dan berputar-putar di pintu rumah sakit sambil mengoda Ri Jin untuk mengejarnya. Ri Jin melihat ada mobil yang melaju di depan pintu rumah sakit, ia pun berusaha menyelamatkan Nona Husky dengan mendorongnya.
Saat mobil berhenti, terlihat Do Hyun yang mengendarai mobil lalu turun melihat keduanya. Ri Jin bertanya keadaan Nona Husky yang terjatuh bersamanya. Saat akan berdiri, Do Hyun dan Ri Jin saling bertatapan karena mereka kembali bertemu tanpa disengaja.
“Oh Tuhan, Pangeran dari Klub Paradise...” ungkap Nona Husky yang terpesona dengan ketampanan Do Hyun.
Lalu Do Hyun ingat dengan Nona Husky si dokter, tiba-tiba dia perawat langsung membawa Nona Husky ke dalam rumah sakit.
“Aku ingat! Wajah itu yang sedih dan kesepian. Kau merasa seakan sendirian di dunia ini, kan? Kau merasa seakan dirimu bukan lagi dirimu, kan? Karena aku tahu perasaan itu! Aku pikir kita bisa jadi teman baik! Pangeran Klub Paradise, sampai jumpa lagi!” teriak Nona Husky yang dibawa masuk ke dalam.
Do Hyun melihat Nona Husky masuk dibawa oleh perawat merasa ia salah menduga kalau Nona Husky adalah pasien sakit jiwa. Ia menatap Ri Jin yang berdiri didepannya, terlihat keadaannya sedikit gugup karena pertemuan mereka untuk kesekian kalinya.


 “Kau sungguhan seorang dokter.” ungkap Do Hyun yang melihat Ri Jin dengan jas dokternya.
“Kau bukan Shin Se Gi.” ucap Ri Jin seperti sudah mengenal perubahan Do Hyun
“Apa kau sudah melihatnya?” tanya Do Hyun dengan memincingkan matanya.
Ri Jin bertanya melihat apa, Do Hyun berkata terus terang tentang perubahan dirinya. Ri Jin sempat terdiam sejenak lalu mengangguk. Do Hyun bertanya apakah Ri Jin tak takut padanya.
“Karena aku masih tidak tahu kau siapa. Aku tahu ini tidak sopan, tapi kau siapa?” tanya Ri Jin, Do Hyun hanya menatap tanpa menjawab


“Apa mungkin, kau punya bom?” tanya Ri Jin. Do Hyun dengan tatapan mengelengkan kepalanya.
“Atau mungkin, kau punya jaket kulit?” tanya Ri Jin, Do Hyun pun sedikit tersenyum lalu mengelengkan kepalanya.
“Lalu... siapa namamu?” tanya Ri Jin kembali. Do Hyun masih terus menatap Ri Jin tanpa berkedip.
“Aku, yang memiliki wajah ini dan sinar di mataku, Namaku Cha Do Hyun.” ucap Do Hyun terlihat sorot matanya berbeda dengan Se Gi.
Ri Jin terlihat berkaca-kaca mendengar nama sebenarnya Do Hyun lalu memberikan senyuman manisnya, Do Hyun pun juga memberikan senyumannya pada Ri Jin.
Bersambung ke Episode 4 
Komentar 
Suka banget diakhir karena akhirnya Do Hyun tahu kalau Ri Jin itu seorang psikiater bukan pasien yang selama ini dia kira. Senyumannya seperti dari hati banget, tulus... Chemistry ga usah ditanya tapi ini Ji Sung aktingnya bagus banget cuma dari mata bisa keliatan apalagi pas jadi Ferry Park. Lucu banget..... 
Tapi kasihan juga ternyata Do Hyun beusaha untuk menyembuhkannya, apa yang sebenarnya latar belakang Do Hyun bisa berubah kepribadian. Rating drama ini perlahan-lahan naek mudah-mudah bisa nyamain kaya pinokio yah.. 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar:

  1. Bkn nya dulu drama ini udah pernah di buat ya mba sunopsisnua??

    BalasHapus