PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 08 April 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Hye Won duduk diayunan dengan sang ayah, keduanya terlihat bahagia bermain bersama layaknya keluarga yang sangat harmonis. Nyonya Sim baru saja pulang, Tuan Mok melihat istrinya baru belanja langsung memebawakan karena pasti berat.
“Ayo Berikan kepadaku... Sudah kubilang ajak aku bersamamu... Ayo pulang dan memasak sesuatu yang enak.” Ucap Tuan Mok.
Bibi Sim datang ke rumah kakaknya, Nyonya Sim duduk di bangku sambil membaca. Bibi Sim melihat kaki kakaknya yang membiru dan tahu itu pasti bekas dipukul oleh suaminya.
Hye Won berlari dengan wajah bahagia membawa balon, memanggil sang ayah. Tuan Mok pun mengendong anaknya. Saat itu Nyonya Sim membuat balon dari permen karet seperti ledakan amarah suaminya pun datang. 
Ayah Hye Won memukul habis-habisan ibu Hye Won karena tak bisa terima karena berani melakukan itu padanya. Saat itu Bibi Sim melihat sang kakak yang dipukul habis-habisan, Ibu Hye Won meminta suaminya agar berhenti dan mematung karena sang adik melihatnya.
Akhirnya Bibi Sim mencoba membela kakaknya, dengan membalas memukul ayah Hye Won. Tapi ayah Hye Won lebih kuat bisa mendorong bibi Sim. Ibu Hye Won pun mencoba melindungi adiknya dan akhirnya Ayah Hye Won pun turun.
 “Bercerailah... Bercerailah!.. Bercerailah... Kamu tidak pantas hidup dengan bedebah seperti itu! Kakak, bercerailah. Kamu tidak pantas...”terika Bibi Sim histeris.
Saat itu Ayah Hye Won kembali naik ke lantai atas, memukul Bibi Sim dan mendorong istrinya yang menghalanginya. Ia tak terima dengan ucapan bibi Sim dan akan memukulnya dengan sterikaan, Ibu Hye Won mencoba menyelamatkan adiknya dengan mendorong suaminya.
Tuan Mok pun tak sengaja terjatuh dari lantai dua, bibi Sim panik melihatnya. Keduanya pun bergegas keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri dengan membawa mobil.
Nyonya Sim membaca kunci tapi terjatuh dan akhirnya Bibi Sim yang mengambilnya. Keduanya pun bergegas masuk ke dalam mobil Tapi saat itu Tuan Mok keluar membawa stick golf.
Amarahnya makin memuncak, Ia memukuli jendela dengan stick golf sampai akhirnya mobil pun melaju dengan kencang didepan garasi. Bibi Sim akhirnya tersadar duduk dibelakang stir sudah membunuh ayah Hye Won. 


Nyonya Sim kelua dari rumah membawa sepatu sambil menelp Ambulanc memberitahu kalau ada kecelakaan dan terjadi baru saja. Bibi Sim masih diam di dalam mobil terlihat masih sangat shock. Nyonya Sim menarik melihat suaminya didepan mobil seperti tak percaya.
“Dengar baik-baik... Ju Hong sudah mati.” Ucap Nyonya Sim menarik adiknya keluar. Bibi Sim tak percaya mendengarnya.
“Dia sudah mati dan sudah kuperiksa.” Ucap Nyonya Sim. Bibi Sim tak percaya kalau sudah membunuhnya.
“Tidak!.. Kakak yang membunuhnya.” Kata Nyonya Sim. Bibi Sim bingung.
“Myeong Yeo... Apa Kau punya uang?” tanya Nyonya Sim. Bibi Sim mengaku tidak tapi mungkin ada beberapa.
“Kalau begitu, pergi dari sini dan naik bus. Kita di pinggir kota, jadi, tidak ada kamera pengawas. Tapi kakak yakin ada beberapa di daerahmu. Lingkungan rumahmu dekat dengan jalan utama. Jadi kau Pulanglah dan pastikan tidak tertangkap kamera. Mengerti?” ucap  Nyonya Sim.
Bibi Sim terlihat masih shock. Nyonya Sim meminta agar adiknya sadar. Bibi Sim masih saja merasa bersalah. Nyonya Sim akhirnya menganti sepatu adiknya. Bibi Sim enggan memakainya. Nyonya Sim berteriak pada adiknya agar memakai sepatunya.
“Tidak apa-apa, Myeong Yeo... Saat kamu pulang, mandilah... Tidak ada yang terjadi... Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Kau baik-baik saja.” Ucap Nyonya Sim menyuruh adiknya pergi.
“Kakak, dia...” kata Bibi Sim yang akan keluar rumah melihat badan Tuan Mok yang ada didalam mobil.
Nyonya Sim pun langsung mendorong Bibi Sim untuk segera pergi saja dan pulang. 


Sesampai dirumah, Bibi Sim hanya bisa menangis dibawah pancuan air sambil memegang kakinya seperti merasa bersalah. Ia mengingat pesan kakknya agar “Mandilah dan tidur siang. Saat kau bangun, kau akan ditelepon.”
“Halo.. Ini Penyidik Gu Hyeon Tae dari Kepolisian Paju. Apa ini Bu Sim Myeong Yeo?” tanya seorang polisi. Bibi Sim membenarkan.
“Begitu rupanya. Aku menelepon karena Bu Shim Myeong Ju adalah kakakmu, kan? Suaminya, Pak Mok Ju Hong, meninggal.” Ucap Polisi. Bibi Sim hanya bisa menahan tangisnya seolah baru petama kali mengetahuinya.
“Polisi akan menghubungimu dan mengatakan Ju Hong tewas dan mereka akan menyelidikiku sebagai tersangka. Masalahnya, kakakmu...” 

Di ruang sidang, Hakim memberitahu “Terdakwa Shim Myeong Ju dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.” Nyonya Sim pun berjalan dibawa petugs, sementara yang lainya mengeluh karena Hanya tujuh tahun padahal sudah membunuh suaminya.
Bibi Sim melihat kakaknya yang harus menanggung hukumannya, Nyonya Sim melihat ke arah adiknya yang menunggu di depan pintu.
Flash Back
Nyonya Sim bergegas mengambil sarung tangan menghapus semua sidik jari adiknya lalu sengaja menempelkan jari-jarinya agar polisi tahu kalau ia yang memegang kemudi.  Ia pun bisa bernafas lega saat suara sirine makin mendekat dan bisa menghilangkan bukti.

“Jika aku ditangkap, aku akan bilang hendak kabur dari suamiku yang kasar, agar aku bisa segera dibebaskan. Tapi dalam kasusmu, itu akan berbeda. Kau akan menghabiskan  sisa hidupmu di penjara. Jadi, kau harus pergi. Jaga Hae Won, yang akan ditinggalkan sendirian.”
"Episode 12, Pengakuan"


Eun Seob menatap Hye Won mengaku dalam masalah. Hye Won bingung kenapa berpikir seperti itu.  Eun Seob pikir Pemandangan yang ada didepanya tidak bisa melupakannya seumur hidupnya. Keduanya hanya saling menatap penuh cinta.
“Aku mengantuk.. Tapi aku ingin terus menatapmu.” Ucap Eun Seob akhirnya mulai menutup matanya.
“Hei, Eun Seop.” Kata Hye Won mengeluh wajah pacarnya. Eun Seob mengaku mengantuk.
“Kalau begitu, tidurlah.” Ucap Hye Won. Eun Seob ingin tahu Apa yang akan dikatakan. Hye Won mengaku Bukan apa-apa.
“Ayolah. Apa?” tanya Eun Seob dengan mata tertutup. Hye Won mengaku bukan apa-apa dan akan memberitahu lain kali lalu memeluk erat Eun Seob. Eun Seob pun membiarkan Hye Won tertidur dalam dekapanya. 

Di rumah duka
Anak dari Sun Yeong baru pulang sekolah langsung menangis histeris memanggil ibunya. Semua pelayan melihat dengan wajah yan kasihan termasuk Bibi Sim dan Bibi Choi.
“Kenapa kau baru datang? Ibumu terus menunggumu.”keluh sang nenek.
“Aku paling kasihan kepada putrinya.” Ucap Bibi Choi sambil menuangkan soju.Bibi Sim hanya bisa terdiam seperti pikiranya menerawang. 

Flash Back
Bibi Sim menatap Hye Won yang duduk dengan wajah tertunduk seperti sangat terpukul karena ibunya membunuh sang ayah. Akhirnya Bibi Sim pergi ke rumah orang tuanya.
Nenek Hye Won sedang mengambil bahan makanan dalam guci, bertanya apa yang dikatakan anaknya tadi. BibiSim mengatakan akan tinggal di sini mulai sekarang dan menjaga Hae Won. Ibunya hanya bisa menatap dingin pada sang anak.
“Ibu tahu,Aku menulis novel sangat payah... Aku tidak berbakat seperti dugaanku.” Ucap Bibi Sim
“Apa Kau tidak berbakat?” tanya Ibu Bibi Sim. Bibi Sim membenarkan.
“Aku sama sekali tidak berbakat. Jadi, kurasa aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini bersama Ibu dan Hae Won...” ucap Bibi Sim.
Nenek Hye Won tiba-tiba mengambil kayu dan langsung memecahkan guci yang berisi kecap. Bibi Sim kaget melihatnya. Sang ibu langsung menatap sinis lalu masuk ke dalam rumah. 


Bibi Sim menemui kakaknya sambil menangis. Nyonya Sim meminta adiknya agar bertahan karena sudah bilang itu bukan salahnya. Bibi Sim masih saja merasa bersalah. Nyonya Sim pikir Jika bukan karena dirinya semua ini tidak akan terjadi.
“Jangan menangis... Pulanglah sekarang... Mulailah menulis novel lagi... Pergilah berkencan juga. Selain itu... Hae Won. Habiskanlah banyak waktu dengan Hae Won. Dia pasti kesepian.” Ucap  Nyonya Sim. Bibi Sim masih saja terus menangis.
 Bibi Sim membaca surat dari kakaknya dengan penuh semangat, tapi hanya satu kalimat yan ditulis "Aku baik-baik saja" wajahnya terlihat sangat kecewa.  Saat di rumah duka, Bibi Sim yang mengingat kakaknya langsung menangis histeris. Semua orang melihatnya, Bibi Choi pun bingung berpikr bibi Sim menangis kehilangan teman mereka.


Eun Seob terbangun melihat wajah Hye Won yang masih tertidur. Dengan senyuman bahagia ia keluar kamar dan membuka laptopnya. Ia lalu menuliskan judul blognya  "Surat cinta pertamaku untukmu"


Hye Won berjalan keluar dari "Toko Buku Good Night" wajahnya panik karena takut ada yang melihatnya. Tiba-tiba bibinya sudah duduk di atas tumpukan pohon bertanya Kenapa keluar dari sana. Hye Won terlonjak kaget melihat bibinya.
“Sepagi ini?” ucap Bibi Sim. Hye Won kebingungan menjelaskanya. Tapi Bibi Sim hanya berkomentar kalau Hye Won yang sudah dewasa,
“Jadi, itu bukan urusan Bibi.” Ucap Bibi Sim bisa mengerti. Hye Won pun bertanya Bibi dari mana.
“Teman bibi meninggal.” Kata Bibi Sim. Hye Won mengerti. Bibi Sim mengaku sangat lelah.
“Bisakah kita lewatkan sarapan hari ini?” ucap Bibi Sim. Hye Won mengangguk setuju.
“Aku juga bisa membuatkan Bibi sesuatu.” Kata Hye Won. Bibi Sim pikir Jangan repot-repot.
“Hei, bibi dengar mereka menyukai penampilan selomu.” Kata bibi Sim. Hye Won kaget bertanya Siapa yang bilang?
“Su Jeong... Dia bilang itu fenomenal.” Ucap Bibi Sim. Hye Won pikir Dia melebih-lebihkan.
“Aku penasaran siapa yang mengambil semua duri landak kita.” Kata Bibi Sim. Hye Won bingung apa maksudnya landak.
“Itu ungkapan puitis... Kau Masuklah.” Ucap Bibi Sim. Hye Won pikir kalau ini Dingin jadi meminta bibinya agar Jangan terlalu lama.


Bo Yeong duduk sambil melihat buku "Bepergian Setelah Putus Cinta" yang dipinjamkan dari Eun Seob.
Flash Back
Bo Yeong memanggil Hye Won yang ada dikelas, Hye Won sedang melihat bangku Eun Seob akhirnya langsung berjalan mengampiri temanya. Saat itu Eun Seob masuk kelas dan berpapasan dengan Hye Won. Mata Bo Yeong langsung mengarah pada Eun Seob. 

Jang Woo duduk dibangku taman tertawa melihat foto di tanganya, saat itu seorang anak duduk menatap foto ditangan dan ikut tertawa. Keduanya sama-sama tertawa sampai akhirnya langsung menatapnya bingung. Jang Woo pun bertanya Kenapa senang sekali.
“Apa itu? Rumput laut kering?” tanya Jang Woo bingung karena terlihat hanya gambar hitam saja.
“Itu foto bintang.” ucap anak remaja. Jang Woo bingung karena mengunakan bahasa inggris. Akhirnya si anak langsung mengeja.
“Aku tahu itu. Kau tahu siapa aku?” kata Jang Woo kesal. Si anak mengaku sebagai PA. Jang Woo bingung.
“Apa Kau tidak tahu? Itu artinya "penggila astronomi". Aku suka astronomi.” Kata si anak. Jang Woo mengerti.
“Bintang-bintang membuatku sangat bersemangat. Ini luar biasa.” Kata Si anak penuh semangat. Jang Woo pikir sianak itu sudah gila.
“Bagaimana denganmu? Kenapa kau senang sekali?” tanya si anak PA. Jang Woo memperlihatkan foto ditanganya.
“Itu sangat berarti bagiku.” Ucap Jang Woo menunjuk fotonya. Si anak PA berkomentar kalau dia sangat berarti baginya. Jang Woo terlihat bingung.
“Dia cantik.” Ucap si anak menunjuk ke arah Hye Won. Jang Woo mengeluh bukan wanita itu yang dimaksud.
“Bukan dia yang kumaksud... Coba Lihatlah lagi... Kau harus lihat baik-baik.” Ucap Jang Woo menujuk ke arah Eun Sil dari samping. Si anak pun mengaku kalau Eun Sil memang cantik.
“Benar, kan? Tapi masalahnya dia terlihat lebih cantik saat makan.” Ucap Jang Woo bahagia.
“Aku suka poninya.” Kata si anak. Jang Woo membenarkan lalu memberitahu kalau Eun Sil punya selera yang bagus.
“Omong-omong, apa serunya dengan bintang? Aa Kamu juga tahu nama-namanya?” tanya Jang Woo. Si anak PA membenarkan.
“Apa Kau melihat ini seharian?” tanya Jang Woo tak percaya. Si anak PA membenarkan. 


Tuan Cha mencoba menelp dengan wajah panik. Anak buahnya datang membawakan berkas. Tuan Cha yang sedang kalut meminta agar menush dimeja saja dan mencoba terus menelp sambil menatap jendela dengan kertas Fax ditanganya "Hei. Menurutmu siapa yang membunuh kakak iparku?"
Di rumah Bibi Sim sedang tertidur pulas tak mendengar ponselnya, terlihat nama "Cengeng" di layar ponselnya ada"19 panggilan tidak terjawab dari Cengeng"

Hwi menuntun sepedanya melihat Young Soo yang sedang menunggunya, wajahnya terlihat bahagia. Akhirnya Ia menghampiri Young Soo. Young Soo melihat tatapan Hwi bertanya apa maksudnya. Hwi mengaku  Bukan apa-apa. Young Soo pun tak mempermasalahkanya.
“Omong-omong, kau tampak cukup tampan dengan pakaian biasa.” Komentar Hwi sambil menuntun sepedanya.
“Aku selalu memakai ini.” Ucap Young Soo. Hwi tetap merasa kalau  Young Sooo tampak tampan.
“Apa karena bahu lebarmu?” kata Hwi seperti berusaha memuji. Young Soo bingung karena belum pernah mendengarnya.
“Ya, bahumu lebar seperti Samudra Pasifik.” Goda Hwi. Young Soo mengeluh mendengarnya.
“Bukankah kau bilang tidak menyukaiku?” kata Young Soo. Hwi mengaku membenarkan dan Itu semua sudah berlalu.
“Tapi Apa kau bilang aku terlihat tampan?” keluh Young Soo merasa seperti Hwi yang mencoba mengodanya.
“Young Soo... Hanya karena aku tidak suka mawar, apa itu mengubah fakta bahwa mawar itu indah? Tidak. Mawar akan selalu indah. Entah aku suka atau tidak. Ini sama saja” jelas Hwi
“Kau punya bahu lebar dan terlihat tampan dengan pakaian biasa. Apa yang bisa kulakukan jika kau begitu memesona? Meski dahulu aku menyukaimu, kamu tetap terlihat tampan saat ini. Jadi Mau bagaimana lagi?” ucap Hwi santai lalu mengayuh sepedanya.
“Apa Toko buku itu jauh dari sini?” tanya Young Soo. Hwi membenarkan dan meminta Young Soo agar mengikutinya. 



Jang Woo pikir Pertemuan klub buku sore, Rasanya tidak biasa. Semuanya pun merasakan hal yang sama. Hye Won melihat bibi Choi berpikir sedang sakit karena Wajahnya tampak pucat. Bibi Choi mengkau baik-baik saja. Jang Woo pikir kalau semua sudah di sini jadi mereka bisa memulainya.
“Teman-teman, aku juga anggota.” Jerit Hwi akhirnya datang.  Jang Woo mengejek kalau  lupa tentang Hwi.
“Astaga. Hwi, ini luar biasa.... Apa Kau membawanya? Memburunya?” ucap Hyun Ji kaget melihat Young Soo yang datang
“Apa maksudmu? Kau anggap aku apa?”keluh Hwi dan langsung memanggil Young Soo untuk masuk.
“Kau datang ke sini dengan sukarela, bukan?” ucap Hwi memastikan. Jang Woo ingin tahu siapa pria itu.
“Dia anggota baru klub buku kita. Tepuk tangan!” ucap Hwi. Young Soo terlihat malu-malu. Eun Seob langsung menatap sinis melihat Young Soo.
“Sapalah Pak Jeong di belakangmu.” Ucap Hwi yang sedang memanggang. Hye Won pun menatap Eun Seob yang terlihat dingin.
“Apa Ada kursi yang bisa dia pakai?” kata Hwi. Hye Won meminta bantuan Eun Seob tapi seperti enggan membantu.
Akhirnya ia sendiri yang mengambilkan bangku untuk Young Soo. Hwi pun menunjuk teman agar Young Soo bisa menaruh tasnya. Jang Woo melihat Eun Seob lalu berkomentar kalau marah. Eun Seob mengelak kalau tidak marah.


Eun Seob dan Hye Won berjalan dengan salju disekitar mereka. Jang Woo pun membacakan bukunya. Keduanya seperti sangat bahagia berjalan layaknya pasangan yang saling mencinta.
"Saat kita duduk berhadapan tersenyum dan berbicara di depan pohon itu, napas kita, tawa kita, dan kisah kita terserap di pohon itu. Semuanya terserap begitu dalam.”
“Bahkan setelah kita lupa bahwa kita telah tersenyum dan berbicara di bawah pohon itu, tiap tahun pada musim semi, pohon itu akan mengingat tawa kita, napas kita, dan suara kita untuk menghasilkan daun hijau baru."
"Saat Kita Duduk Berhadapan"

Jang Woo akhirnya membaca buku "Saat Kita Duduk Berhadapan." Lalu Tuan Bae mengaku Puisi itu sungguh membuat jantungnya berdebar. Seung Hoo yang masih kecil pun merasa kalau Jantungnya juga seperti itu, semua tak percaya mendengarnya.
“Apa Aku tidak bisa merasa begitu juga? “ keluh Seung Ho. Akhirnya Hye Won memberikan makanan  pada Seung Ho.
“Apa yang membawamu kemari, Young Soo?” tanya Jang Woo penasaran. Young Soo ingin bicara tapi Hyun Ji yang lebih dulu bicara.
“Kudengar dia suka membaca buku. Dia murid terbaik di sekolah kami dan unikorn sekolah kami yang punya pacar. Dia mungkin datang ke sini karena suka membaca.” Kata Hyun Ji. Jang Woo mengerti ungkapan Unikorn.
“Selain itu, Hwi menyukai dia... Tapi dia tidak tertarik.” Kata Hyun Ji. Hwi mengeluh mendengarnya.
“Bisakah kamu bicara dengan kalimat lampau? Itu semua sudah berlalu bagiku.” Keluh Hwi. Eun Seob makin menatap sinis. Semua pun menyapa Young Soo yang terlihat gugup.
“Aku Unikorn Lee Jang Woo, lulusan angkatan 42, SMA Hyecheon. Kamu benar-benar terlihat pintar sepertiku. Apa karena itu Hwi menyukaimu?” ejek Jang Woo.
“Tidak, tunggu. Kubilang semua itu sudah berlalu. Apa Kau tidak tahu apa artinya?” keluh Hwi.
“Tapi apa menurutmu Hwi benar-benar menyukai Young Soo karena penampilannya?” bisik Bibi Choi Tuan Bae pikir seperti itu menurutnya mereka hidup di dunia yang tampak masuk hitungan.
Hye Won melihat tatapan Eun Seob terihat sangat marah. Hwi mencoba menjelaskan pada semua anggota kalau semua sudah berlalu dan itu Masa lalu da merasa mereka itu tidak tahu arti "masa lalu"
“Baik, jika Hwi bersikeras itu sudah berlalu...” kata Hye Won mencoba menyakinkan.
“Sepertinya Hwi masih menyukainya saat ini.” Komentar Jang Woo. Hwi menegaskan kalau itu sudah berlalu dan kalimat lampau.
-“Apa Maksudmu, kau menyukainya sekarang?”goda Jang Woo. Hwi menegaskan tidak.
“Atau kamu pernah menyukainya? Jadi, kamu menyukainya sekarang? Apa dia tipe idealmu?” ucap Jang Woo terus bertanya.
Hwi terlihat kesal mendengarnya menjawab tidak. Hye Won melihat tatapan Eun Seob yang sinis akhirnya mengalihkan dengan ingin meminjam buku yang ada diatas meja. Eun Seob pun menganguk.
“Kakak, ada apa dengan wajah Kakak?” tanya Hwi. Jang Woo pun pikir temanya sedang ada masalah karean terus menatap sinis pada Young Soo. Young Soo pun hanya diam saja. Hye Won pikir  Eun Seop demam bahkan berkeringat. –
Bersambung ke part 2


 Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar