PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 10 April 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Jung Won  hanya bisa melonggo menu makan diatas meja semua sayuran dan juga cukup banyak. Nyonya Jung mengeluh panas dengan membawa daun yang lebar bisa dijadikan kipas. Ia pun yakin anaknya bangga kalau ibunya itu hebat.
“Ibu menanam dan merawat semua ini sendiri seperti merawatmu.” Ucap Nyonya Jung.
“Pinggang Ibu sakit. Kenapa bercocok tanam? Lagi pula, tidak baik hanya makan sayur-sayuran, Bu.” Keluh Jung Won
“Semua ini organik. Tanpa pestisida. Makanan sehat.” Kata  Nyonya Jung bangga
“Bukan tanpanya, tetapi tidak bisa pakai karena pinggang Ibu sakit. Selain itu, di umur ibu lebih baik makan makanan seimbang.” Kata Jung Won.
“Baiklah. Cepat makan. Nanti dingin.” Kata Nyonya Jung tak ingin anaknya mengomel
“Protein, zat besi, omega tiga, dan kalsium. Anemia dan pusing disebabkan oleh kekurangan nutrisi.” Kata Jung Won.
“Ibu makan dengan sehat... Cemaskan dirimu!” ucap Nyonya Jung kesal. Jung Won mengeluh mendengar ibunya yang merasa sehat.
“Ibu kekurangan nutrisi kalau makan seperti ini.” Kata Jung Won. Nyonya Jung menunjuk kotak obat miliknya dan menegaskan sudah makan dengan sehat.
“Ibu bisa kecanduan obatkalau makan semua itu.” Kata Jung Won mengeluh ibunya makan banyak vitamin.
“Ibu ingin hidup sekadarnya saja dan mati. Diam dan makan!” kata Nyonya Jung akhirnya menyuapi anaknya makan.
“Ini chwinamul. Ibu yang membumbuinya dan enak sekali.” kata Nyonya Jung. Jung Won pun memuji kalau ini Enak juga.
“Omong-omong, Bu, yang kubilang waktu itu...” kata Jung Won dan Nyony Jung langsung menghindarinya, bergegas pergi untuk mengambil gochujang.


Jung Won mulai memuji masakan ibunya yang sangat enak. Nyonya Jung pun meminta anaknya agar mencoba geotjeor juga.Jung Won kembali mencaritakan kalau sudah konsultasi dan bertanya kepada kakak-kakaknya. dan Keuskupan Agung Seoul.
“Katanya di Korea mungkin sulit karena ada batas umur, tetapi aku bisa belajar menjadi pastor di Italia. Aku sudah mengirim surat rekomendasi, dan akan segera dapat balasan. Aku takut menyesal bila semakin terlambat.” Ucap Jung Won.
Nyonya Jung membungkus makananya. Jung Won langsung merayu ibunya. Nyonya Jung langsung memasukan makan ke dalam mulut anaknya.
“Tidak! Untuk apa belajar menjadi pastor? Belajar jadi suami saja di Korea! Wajahmu tampan, tetapi tak punya pacar? Kakak-kakakmu boleh, tetapi kau tidak! Ibu akan kesepian.” Tegas Nyonya Jung
“ Jong-su dan Ibu Seok-hyeong segera tiba. Cepat makan! Astaga Panasnya!” keluh Nyonya Jung. Jung Won tak banyak bicara langsung mengipas ibunya dengan daun yang lebar. Nyonya Jun meminta agar lebih kencang lagi. 

Tuan Jeon membuang kepala ikan dan juga kotoranya. Tuan Ju pun memuji kalau Tuan Jeon itu mahir juga dan berpikir itu karena dokter bedah. Tuan Jeon pikir Detail adalah kunci dokter bedah lalu meminta agar Tuan Ju Jangan hanya buang kepalanya tapi harus buang kotoran di perut.
“Astaga... Bagaimana membuangnya satu demi satu? Kau tahu laparoskopi, 'kan? Anggap saja laparoskopi.” Ucap Tuan Ju yan langsung memotong kepalanya ikan teri sekaligu.
“Berhenti. Angkat tangan! Bukankah sudah kubilang kepalanya akan dipakai?” kata Nyonya Jung akhirnya masuk ke ruangan. Tuan Ju mengerti langsung mengangkat tangan.
“Namun, kau buang kepalanya,bahkan tak buang kotorannya.” Kata Nyonya Jung. Tuan Ju mengaku sudah membuangnya.
“Astaga... Hanya beberapa... Tidak sampai 20... Mari kita lihat!” ucap kata Nyonya Jung marah
“Aku akan membuangnya... Aku bisa cari semua.” Ucap Tuan Ju. Nyonya Jung memperingatkan agar mencari semua ikan yang belum bersih.
“Kau akan kubunuh jika ada satu kotoran yang muncul saat aku buat kaldu.” Tegas Nyonya Jung. Tuan Ju menganguk mengerti.
“Pak, berikan yang sudah selesai dahulu.” Kata Nyonya Jung. Tuan Jeon pun menganguk mengerti.
“Cepat. Kau juga harus memotong daun bawang.” Ucap Nyonya Jung.  Tuan Ju membahas Nyonya Jung bilang akan membuatkan janchiguksu.<
“Apa Ternyata kau panggil kami untuk ini? Lagi pula, bagaimana melakukannya hanya berdua? Kau memang tidak punya hati nurani. Kenapa teri selalu punya kotoran?” ucap Tuan Ju kesal
“Lakukan saja bertiga.” Kata Nyonya Jung yang sudah bergegas ke dapur. 


Tuan Ju duduk berdekatan denga Tuan Jeon  berkomentar kalau ini wanita yang berpakaian seperti Audrey Hepburn dari ujung kepala sampai ujung kaki adalah ibu kandung Dokter Yang Suk Hyung. Tuan Jeon membenarkan ibu kandung sekaligus istri Presdir Yang Tae-yang dari Taegeon Apparel.
“Seharusnya aku membantu, tetapi aku kurang enak badan. Maaf.” Kata Nyonya Yang duduk diatas kursi.
“Tidak apa. Sudah hampir selesai.” Kata Tuan Ju. Jung Won datang menawakan kopi mau dingin atau panas.
“Omong-omong, kenapa kau juga tidak menikah?” ucap Nyonya Yang. Jung Won pikir ibu Suk Hyung ingin kopi dingin dan langsung kembali ke dapur.
“Kalian boleh berhenti.” Ucap Nyonya Jung. Tuan Ju pun mulai mengeluh kalau pinggangnya sakit dan keluar dari ruangan karena harus menerima telp.
“Halo.. Ya ampun, Cucuku! Apa Kau menelepon karena rindu Kakek? Permainan apa?” ucap Tuan Ju bahagia.
“Anaknya dokter di Amerika dan pengacara di Korea. Ayahnya bahkan tak bisa makan teratur.” Ucap Nyonya Jun melihat Tuan Ju keluar dari ruangan.
“Sudah kubilang pakai baju santai.. Mereka orang-orang yang santai.” Kata Nyonya Jung melihat Nyonya Yan dengan setelan pakaian layaknya chaebol.
“Ini pakaian santaiku.” Ucap Nyonya Yang. Keduanya hanya bisa melonggo. 


Akhirnya mereka makan bihun dengan kaldu ikan, Nyonya Jung bertanya cucu Tuan Ju ingin main apa. Tuan Ju menjawab Mafia. Dan Akhir pekan depan cucunya datang dan mengajak bermain Mafia dan tak tahu haru Bagaimana
“Main saja. Anak zaman sekarang sering memainkannya. Itu seru.” Ucap Jung Won.
“The Godfather juga menarik, 'kan? Pasti menyenangkan.” Kata Nyonya Yang
“Benar. Secara sederhana, di antara kalian berempat ada satu mafia. Sisanya adalah warga tak bersalah. Agar tidak ditangkap oleh warga, mafia pura-pura jadi warga. Jadi, kalian hanya perlu mencari siapa mafianya.” Jelas Jung Won. Ibunya pikir itu Mudah juga.
“Kita tinggal cari orang yang bohong, 'kan?” ucap Nyonya Jung. Jung Won membenarkan kalau akan jadi pemimpin gim.
“Kalian hanya berempat. Jadi, jika warga mati, permainan selesai dan mafia dianggap menang. Setuju? Kalian sudah paham aturannya, 'kan?” ucap Jung Won.
“Mencari pembohong adalah keahlianku. Aku yakin bisa.”ucap Nyonya Yang Tuan Jeon pun setuu.
“Kita harus mempertaruhkan sesuatu. Apa Hanya main saja? Tidak ada hadiah?” tanya Nyonya Jung
“Baiklah. Sebentar... Ini Dari rumah sakit.” Kata Jung Won mengeluarka sesuatu dari dompetnya. Tuan Ju tahu kalau itu hadiah darinya.
“Ya. Tiket resital dari rumah sakit.” Kata Jung Won bangga. Tuan Jeon mengeluh kalau tak dapat.
“Aku juga tidak.. Mereka hanya memberi sepuluh. Jadi, kuberikan kepada tim VIP yang sudah bekerja keras. Lagi pula, kau tidak paham musik klasik, 'kan?” kata Tuan Ju.
“Seharusnya berikan pada ibu. Kenapa dibagi di sini?” keluh Nyonya Jung
“Ibu tinggal memenangkan permainan ini. Lagi pula Ibu tidak suka musik klasik, 'kan?”kata Jung Won.
“Pergilah dengan pacarmu.” Kata Nyonya Jung. Jung Won mengaku tidak punya pacar.
“Kenapa tidak punya? Kau dokter tampan rumah sakit universitas. Kenapa bisa tidak punya pacar?” kata Nyonya Jung kesal
“Dia tidak punya karena hanya main band bersama teman-temannya. Suk-hyung tak punya pacar karena pernah cerai. Sedangkan kau, kenapa tidak punya? Apa Tidak ada orang yang kau suka?”tanya Nyonya Yang
Jung Won mengaku ada. Nyonya Jung ingin tahu siapa. Jung Won langsung menjawab “Tuhan.” Nyoonya Jung langsung memukul anaknya. Jung Won mengeluh pada ibunya dan berpikir untuk pergi saja sambil berlindung pada pamanya.
“Dokter Ahn, duduklah... Kau harus ajarkan permainan Mafia sebelum pergi. Biarkan dia makan dengan tenang. Apa salahnya dia suka Tuhan? Kau juga cinta Tuhan, 'kan?” ucap Tuan Ju membela. Jung Won pun membenarkan.
“Kau memang sungguh egois.” Keluh Tuan Ju. Nyonya Jung melihat sesuatu di mangkuk Tuan Ju. Tuan Ju menutupi kalau itu hanya rumput laut bukan kotoran ikan dan langsung menghabiskanya. 


“Kalau begitu, kita mulai... Saat kubilang, "Hari sudah malam," aku akan memilih satu mafia, dan saat kubilang, "Hari sudah pagi," kalian tinggal mencari siapa mafianya.” Ucap Jung Won memberitahu.
“Kita main sampai pagi?” kata Nyonya Jung tak percaya. Nyonya Yang pikirKarena itu biasa dimainkan anak muda.
“Aku ada janji sore ini.” Ucap Tuan Jeon. Tuan Ju pun menyuruh bisa pergi lebih dahulu.
“Kita harus coba minimal satu kali. Yang lain tidak ada janji sore ini, 'kan? Jung-won, kau ada janji?” kata Tuan Ju. Jung Won hanya bisa melonggo para orang tua yang sangat polos. 

“Baik. Hari sudah malam... Semua pejamkan mata dan menunduk. Sekarang aku akan memilih satu mafia. Sekarang mafia....” Ucap Jung Won lalu menyentuh pundak ibunya.
“Aku! Aku mafia.” Ucap Nyonya Jung mengaku. Jung Won hanya bisa melonggo.
“Benar dia... Aku merasa ada yang lewat di depanku.” Kata Nyonya Yang. Tuan Ju langsung memberikan Selamat. Jung Won menghela nafas melihat para orang tua yang tak mengerti permainan. 

Jung Won akhirnya memulai lagi memberitahu Hari sudah pagi. Sekarang mereka  harus mencari siapa mafianya. Nyonya Jung langsung mengaku bukan dia orangnya. Tuan Ju mengeluh kalau  merkea tidak bilang apa pun. Nyonya Yang mengaku ia juga bukan yakuza.
“Bukan "yakuza", tetapi "mafia".”kata Tuan Ju. Tuan Jeon ingin tahu Tuan Ju itu apa.
“Dasar bodoh! Kita tidak boleh bilang.” Ucap Tuan Ju. Tuan Jeon menegaskan Apa pun perannya seharusnya mengaku warga.
“Oh,. Begitu? Kita boleh bilang? Aku warga. Citizen.” Akui Tuan Ju. Tuan Jeon mengeluh kalau itu sengaja
“Jangan-jangan kau mafia?” kata Tuan Jeon. Tuan Ju menyangkalnya lalu memikirkan sesuatu.
“Karena kau mencurigaiku sebagai mafia, berarti aku harus bilang kalau aku mafia. Aku mafia, bukan warga.” Ucap Tuan Ju
“Bagaimana kau urus yayasan dengan otakmu? Cepat pensiun! Jangan buat rumah sakit bangkrut.” Kata Nyonya Jung kesal
“Apa maksudmu? Keuntungan Yulje naik drastis sejak kuambil alih. Bahkan belakangan sering masuk berita berkat suaminya... Sangat sukses!” ucap Tuan Ju bangga
“Omong-omong, kenapa wajahmu merah sekali sejak tadi, Pak? Apa Kau mafia?” ucap Nyonya Jung pada Tuan Jeon.
“Wajahmu lebih merah. Kau mafia, 'kan? Dari tadi kau banyak bicara.” Kata Nyonya Yang mulai menuduk Nyonya Jung
“Bukan. Mana mungkin aku mafia?” ucap Nyonya Jung. Tuan Jeon menegaskan Mafia tidak mungkin mengaku dirinya mafia.
“Bukan aku. Sungguh! Jong-su, katakan sesuatu.” Kata Nyonya Jung. Tuan Ju akhirnya memberitahu kalau  Rosa bukan mafia.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Nyonya Yang. Tuan Ju mengaku kalau ia adalah mafianya.
“Ada apa denganmu? Jung-won menyentuh pundakmu tidak?” tanya Tuan Jeon. Tuan Ju menjawab tidak.
“Jong-su, kau diam saja... Kau mencurigaiku sejak tadi. Menurutku kaulah mafianya.  Kita pilih sekarang?” ucap Nyonya Jung.
Tuan Jeon pun mengajak mereka segera memilih dan memilih Nyonya Jung, Nyonya Yang pun juga setuju. Nyonya Jung kesal kalau dirinya bukan mafia dan meminta Tuan Ju membelanya. Tuan Ju membenarkan kalau bukan Nyonya Jung yang jadi mafia.
“Semua, akulah mafianya.” Kata Tuan Ju dengan nada santai. Nyonya Jung meminta segara pilih saja.
“Dokter Ahn, laksanakan! Silakan pilih. Pasti dua lawan dua.” Kata Nyonya Jung
“Ibu tak bisa ikut jika dianggap mafia.” Kata Jung Won. Nyonya Jung mengeluh kaena banyak sekali larangan
“Ini rumahku. Lakukan saja. Ketuk palu!” ucap Nyonya Jung. Mereka pun akan memilih siapa mafianya.
“Kalau kau menganggap Ibu Jeong Rosa adalah mafia, angkat ibu jarimu ke atas!” ucap Jung Won. Semua pun mengangkat tangannya.
Nyonya Jung marah melihat Tuan Ju yang ikut menaikan jarinya. Tuan Ju meminta maaf. Nyonya Jung tak terima Tuan Ju yang mengkhianatinya. Jung Won pun memberitahu  Hasil pemilihannya Warga tak bersalah, Jung Rosa, telah mati. Nyonya Jung pun marah.
“Mafia sesungguhnya adalah... Ju Jong-su!” kata Jung Won. Nyonya Ju dan yang lainya mengumpat kesal
“Ju Jong-su memang licik sejak dahulu. Wajahmu juga licik seperti musang. Dasar penipu! Aku sudah tahu sejak kau bohong memberi makan sapi saat SD, padahal minum makgeolli di gunung belakang sekolah.” Ucap Nyonya Jung mara
“Ini hanya permainan... Cara bermainnya memang begini. Dokter Ahn, Apa aku benar?” ucap Tuan Ju.  Jung Won memuji kalau itu Luar biasa
“Entah permainan atau judi, sifat dasarmu terlihat di dalamnya. Jika memang harus berkhianat, bagaimana bisa khianati sahabatmu sejak 65 tahun lalu? Tega sekali.” keluh Nyonya Jung terus mengomel.
“Aku hanya serius bermain! Astaga.” Ucap Tuan Ju. Nyonya Jung pun langsung memberikan pelajaran dengan mengusap wajah temanya dengan sangat deras


Nyonya Yang keluar dari rumah Nyonya Jung. Suk Hyun menelp ibunya. Nyonya Yang bertanya apakah Persalinannya lancar. Suk Hyung mengaku lancar dan ingin tahu tentang ibunya karena pasti canggung bersama orang tak dikenal jadi mengajak ke pemandian air panas pekan depan.
“Aku menemukan pemandian air panas di Gangwon-do.” Kata Suk Hyung.
“Ibu ingin ke sini lagi pekan depan.” Kata Nyonya Yang. Suk Hyung kaget mendengarnya.
“Ini pertama kalinya ibu banyak tertawa setelah tua. Seumur hidup ibu baru melihat orang-orang selucu mereka. Terima kasih, Putraku. Tolong ucapkan terima kasih juga kepada Jung-won. Sudah lama ibu tidak tertawa.” Akui Nyonya Yang masuk ke dalam mobil. Suk Hyung menganguk mengerti. 


Dokter Chu melihat Dokter Jang berjalan dilorong lalu menyapanya. Dokter Jang pun melihat Dokter Chu yang baru datang. Dokter Chu un melihat Dokter Jang yang beli roti banyak sekali. Dokter Jang pikir Katanya ada satu perawat lagi
“Ya, jadi tiga orang... Semua ini tak mungkin habis.” Kata Dokter Jang. Saat diruangan Dokter Jang makan roti tanpa henti.
“Dia makan sebanyak itu, tetapi kenapa tetap ramping?” keluh Dokter Chu. Perawat lain pun merasa ini sangat menyebalkan!
“Apa Kau akan menonton teater musikal dengan pacarmu akhir pekan lalu?Apa itu bagus?” tanya perawat.
“Kami sudah putus.” Akui Dokter Chu. Perawat kaget dan ingin tahu alasanya.
“Mendadak dia menanyakan pendapatan tahunanku. Lalu kuberi tahu karena kupikir dia akan memberi tips investasi. Selanjutnya dia menanyakan pekerjaan ayahku. Kupikir pertanyaannya agak kekanak-kanakan.” Cerita Dokter Chu.
“Aku agak kesal dan heran dengan pertanyaannya. Aku bilang ayahku mengelola penginapan di Gangwon-do.” Akui Dokter Chu. Dokter Jang ingin tahu apa kelanjutanya.
“Aku takut dia pikir penginapan besar. Jadi, kubilang itu penginapan kecil di kaki Seoraksan. Tiba-tiba ekspresinya berubah gelap.”cerita Dokter Chu kesal.
“Apa Kau punya penginapan? Senangnya. Pemandangan pasti indah.” Ucap Dokter Jang
“Pemandangannya saja yang indah. Sepertinya dia pikir keluargaku kaya dan terhormat karena aku seorang dokter. Dasar materialistis!” ucap Dokter Chu kesal
“Astaga. Chu Min-ha malang sekali... Kau dalam masalah. Dia punya cita-cita memakai cincin pasangan dan ciuman pertama saat Natal.” Ucap Perawat.
“Ciuman pertama? Aku juga belum pernah.” Kata Dokter Jang. Dokter Chu pikir Dokter Jang sudah gila.
“Maksudku, ciuman pertama tahun ini.” Jelas Dokter Chu. Perawat pikir Dokter Chu masih punya banyak waktu jadi Cepat lakukan kencan buta.
“Sebenarnya... aku akan berhenti ikut kencan buta. Aku ingin menyatakan cinta.” Ucap Dokter Chu
“Kau suka seseorang?” ucap Perawat. Dokter Chu mengaku seperti itu lalu mengangkat telp dan bergegas pergi.
“Katanya Kim Jae-yeong mengalami ketuban pecah dini dan dibawa ke Ruang Persalinan.” Ucap Dokter Chu.
“Kim Jae-yeong yang mana?” tanya Perawat. Dokter Chu pikr sudah pernah bilang yaitu Pasangan romantis.
“Si suami dipukul istrinya karena ingin bernyanyi.”kata Dokter Chu dan langsung bergegas pergi dengan perawat. 




Suk Hyung pun memulai persalinan normal,meminta agar Dorong lebih keras. Suaminya pun memuji istrinya. Jung Wan berlari dilorong karena panggil dan ri pengeras suara agar Bedah Torakoplastik, IGD. Seorang pri sudah tak sadarkan diri dengan alat bantu nafas.
“Terjadi henti jantung karena bradikardia, lalu diberi CPR tiga menit. Sekarang detak jantung sudah kembali. “ ucap Dokter  Do
“Kita lihat sonografi... Jantungnya seburuk ini. Kenapa tidak ke rumah sakit lebih dini?” ucap Jun Wan
“Pasti karena tidak punya uang. Kata rekannya, dia bekerja di perusahaan ekspedisi saat siang dan di pasar ikan saat malam.” Kata Perawat
“Apa Walinya sudah datang?” tanya Jun Wan. Perawat mengaku sudah menelepon ayahnya dan  sedang kemari dari desa.
“Aku lihat ayahnya juga sedang kemoterapi di sini.” Ucap Dokter Do. Jun Wan bingung Kenapa di desa jika sedang kemoterapi di sini?
“Dia bekerja di situs konstruksi. Mereka hidup dari pendapatan harian. Rekannya sudah khawatirkan biaya rumah sakit.” Bisik Dokter Do. Jun Wan pikir mereka bisa pikirkan itu nanti.
“Kau Siapkan operasi saja dahulu. Hubungi Anestesiologi. Minta ruangan. Perawat Hui-su, tolong segera hubungi aku saat ayahnya sudah tiba.” Ucap Jun Wan. Perawat Hui mengerti. 


UNIT PERAWATAN INTENSIF
Bin sudah mondar mandir didepan ruangan,  Ik Jun datang, Bin dengan sinis merasa kalau Ik Jun n ingin menemuinya. Ik Jun mengeluh Bin itu Percaya diri sekali lalu menyapa Ibu Bin bertanya apakah sudah makan dan ingin bertemu ibunya.
“Wali Oh Jae-il, silakan masuk!” ucap Perawat. Keduanya pun bergegas masuk ingin melihat Tuan Oh.
Di ruangan bersalin, Suk Hyung meminta Nyonya Kim aar Tarik napas dalam perlahan lalu Angkat kepala dan lihat ke arah perut. Akhirnya sang anak pun keluar, Suk Hyung memuji kalau sangat manis dan mengucapkan selamat. Perawat memberitahu jamnya Pukul 13:51.


Di ruangan Song Hwa terlihat lelah masuk ruangan dan tersadar melihat ada bung yang ada dalam vas bunganya dan itu masih segar. Di ruangan persalinan. 
“Terima kasih sudah datang kepada kami, Nak. Ibu mencintaimu.” Ucap Nyonya Kim. Sang suami pun memuji istrinya.
“Kau sudah melihat jari tangan dan kakinya. Bayi akan dibawa ke ruangan anak demi menjaga suhu tubuh.” Kata Perawat.
“Pak, mohon kemari untuk memeluk bayimu.” Pinta perawat lain, tiba-tiba Sang ayah langsung menyanyi. Semua orang bingung.
“Dokter.. Tolong hentikan dia! Aku mohon!” pinta Nyonya Kim. Suaminya masih terus menyanyi dan Suk Hyung tak bisa menghentikanya hanya bisa tersenyum. 



Nyonya Oh melihat suaminya didalam ruang ICU yang sedang tertidur lalu memanggil kalau Bin sudah datang. Tuan Oh seperti baru sadar melihat sekeliling lalu menatap anaknya. Bin pun menyapa ayahnya kalau putrinya datang.
“Apakah sakit? Putriku... Apa Kau kesakitan?” tanya Tuan Oh masih merasa kasihan.
“Tidak. Aku tidak kesakitan sama sekali.” kata Bin. Tuan Oh tahu kalau Sakit sekali dan meminta maaf
“Kenapa Ayah minta maaf? Jangan merasa bersalah, Ayah.” Ucap Bin sambil menangis.
Satu keluarga pun menangis dalam ruangan ICU, saat itu Ik Jun melihatnya dan tak bisa menahan tangisnya lalu menutup matanya dengan masker.

Perawat datang memberitahu Jun Wan kalau ayah Kim Tae-jin sudah datang. Tuan Kim memohon bantu putranya dan selamatkan anaknya. Jun Wan memberitahu kalau anaknya baru diberi anestesi 20 menit lalu. Dan memiliki endokarditis.
“Endokardiumnya rusak karena pertumbuhan bakteri. Karena sudah parah, endokardiumnya tak bisa diperbaiki. Aku akan pasang katup buatan.” Ucap Jun Wan. Tuan Kim tak percaya mendengarnya.
“Operasi butuh waktu sekitar empat jam. Mungkin butuh waktu lebih, mungkin juga tidak. Aku akan berusaha maksimal.” Jelas Jun Wan. Tuan Kim menahan tangan Jun Wan.
“Dokter...Aku mohon...pasang katup termahaldi dunia untuk putraku. Aku mohon berikan yang termahal untuk putraku.” Kata Tuan Kim sambil menangis.
“Baik. Jangan khawatir... Aku akan operasi putramu dengan katup termahal dan terbagus.” Ucap Jun Wan merasa kasihan. Tuan Kim pun mengucapkan Terima kasih.

Papan nama “NAMA: HONG GEON-HUI, BEDAH SARAF” Seorang anak menangis dengan kepala yang sudah diperban. Sang suami memeluk istrinya yang menangis, keduanya seperti bahagia melihat anak mereka bisa menangis kembali.
Dokter Do yang melihatnya juga bangga karena operasinya berhasil dengan Jun Wan. 

Song Hwa sibuk mengetik didalam ruangan, Ik Jun datang bertanya apakah Song Wha tak pulang. Song Hwa mengakuharus menyerahkan ini besok. Ik Jun ingin tahu apa itu. Song Hwa menjawab Tugas dari KIHASA. Ik Jun menyuruh bawahanya saja.
“Kutulis soal meningkatkan lingkungan kerja mereka. Bagaimana mungkin aku suruh mereka? Ini bisa selesai jika bergadang.” Ucap Song Hwa.
“Jangan terlalu rajin.” Komentar Ik Jun. Song Hwa mengeluh agar  Jangan ajak bicara. Ik Jun pun langsung mematikan lampu. Song Hwa mengumpat kesal.

Dokter Ahn datang memberikan minuman Tanpa kafeina karena merasa Song Hwa  hari ini sudah banyak minum kopi. Song Hwa pun hanya bisa menatapnya. Dokter Ahn pun meminta izin menunggu di sini. Song Hwa pun mempersilahkan.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Song Hwa. Dokter Ahn menawarkan bantua karena mahir kerjakan hal kecil.
“Kau... Apa suka padaku?” tanya Song Hwa. Dokter Ahn pun membenarkan. Song Hwa kaget mendengarnya.
“Ya, aku suka padamu.. Aku ingin menyatakan perasaan, tetapi tak temukan waktu yang tepat... Maaf... Maafkan aku.. Namun, aku sungguh menyukaimu...Sudah cukup lama...” Akui Dokter Ahn
“Hei... Jangan... Hei, jangan lakukan itu... Ada apa denganmu?” ucap Song Hwa.
“Aku akan berusaha agar kau tidak canggung.” Ucap Dokter Ahn. Song Hwa mengeluh dan meminta agar jangan melakukanya.
“Itu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan. Aku tidak bisa memerintah hatiku untuk suka atau berhenti menyukaimu. Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa.” Kata Dokter Ahn lalu keluar dari ruangan. 


Jun Wan mengemudikan mobilnya, Ik Jun pun membahas kalau Jung Won  yang bergadang lagi. Jun Wan membenarkan dan bertanya apa yang dikatakan Ik Jun tadi. Ik Jun menjawab Ik-sun yang ke Seoul karena temannya menikah hari ini.
“Dia akan menginap dan pulang besok pagi. Aku bisa tidur di ruang tamu.” Kata Ik Jun.
“Aku saja. Aku tamunya...Omong-omong, Ik-sun tingkat berapa di taekwondo?” ucap Jun Wan. Ik Jun menjawab satu.
“Kalau judo?” tanya Jun Wan. Ik Jun menjawab satu. Jun Wan mengeluh apakah Ik Jun tentara sungguhan.
Saat itu Ik Jun menerima telp, Dokter Jang memberitahu drainase Yun Jeong-hui meningkat dan berubah warna jadi curiga ada pendarahan. Ik Jun meminta agar mengcek tanda vital dan hitung darah lengkap lalu segera ke sana.
Jun Wan yang mendengarnya merasa kalau akan mengantarnya. Ik Jun pikir Tidak perlu meminta agar menepi karena menurutnya naik bus lebih cepat.


Ik Sun dirumah memasak ramyun didapur, Jun Wan melihat Ik Sun ingin mengagetkanya. Ik Sun merasakan ada orang yang mendekat langsung memberikan tendanganya. Jun Wan shock menerima tendangan, dan langsung jatuh lemas.
Ik Sun ikut kaget dan langsung mendekati Jun Wan merasa bersalah. Jun Wan hanya bisa diam dengan kepala yang bisa membuka pintu kulkas. 

**
Ik Jun menekan tombol lift, Dokter Jang mendekatinya meminta maaf karena Pasien terlihat membaik sesaat setelah meneleponnya. Ik Jun merasa Tidak masalah karena Lagi pula ak sibuk di rumah. Ia lalu memberitahu kalau Jung Won sekarang tinggal di rumahnya.
“Serius? Tolong undang aku ke rumahmu.” Ucap  Doktr Jang penuh semangat.
“Ya, tentukan hari. Hari ini? Tunggu. Hari ini tidak bisa karena ada adikku... Akan kuatur di hari lain. Astaga.” Ucap Ik Jun
“Omong-omong, adikmu tentara, 'kan? Kalau begitu, Apa dia mahir bela diri?” kata Dokter Jang
“Total 15 tingkat.” Kata Ik Jun. Dirumah kacamata Jun Wan  patah dan wajah Jun Won pun dipasang kapas agar darahnya berhenti mengalir. Ia hanya bisa diam saja dan Ik Sun merasa bersalah.
 Tingkat enam di Muay Thai dan tim nasional. Tingkat empat di hapkido , tingkat tiga di kendo, tingkat satu di taekwondo dan judo. Belakangan ini, dia juga belajar yuyitsu.” Ucap Ik Jun. Dokter Jan pikir Ik Sun memang Luar biasa.
“Keahlian utama Ik-sun adalah tendangan. Tendangannya sangat keren! Ini Benar-benar luar biasa. Tebak dia bisa berapa kali menendang dalam satu detik. Biar aku lebih-lebihkan. Seribu kali! Aku serius.” Ucap Ik Jun bangga. 


Jun Wan mencoba makan ramyun dengan mulut yang luka lalu membahas kaki Ik Sun yaitu Kaki kanannya sungguh mematikan. Ik Sun mengaku kalau berpikir perampok. Jun Wan mengeluh karean Mana ada perampok masuk dengan nomor sandi pint
“Perampok jenis baru? Apa Mau kimchi lagi?” ucap Ik Sun mencoba untuk meminta maaf sambil melayani Jun Wan. 

Ik Jun tertawa melihat wajah Jun Wan yang terkena tendangan adiknya. Jun Wan ingin memaki salep tapi Ik Sun mengodanya dengan menurunakn tanganya. Jung Wan yang kesal akhirnya mengambil cermin sendiri. Ik Jun pun membahas Ik Jun yang pulang besok pagi
“Ya, naik bus pertama. Aku harus tiba di markas pukul 08.00. Tapi Apa Kau pernah kencan buta dengan selebritas?” tanya Ik Sun.
“Kenapa tiba-tiba bertanya?” tanya Ik Jun heran. Ik Sun menceritakan  Suami temannya yang menikah hari ini ternyata direktur manajemen artis.
“Aktris di sana hanya satu orang. Dia datang ke pesta pernikahan dan bertanya apakah aku adik Lee Ik-jun. Dia datang ke pesta pernikahan dan bertanya apakah aku adik Lee Ik-jun.” kata Ik Sun
Jun Wan memperlihatkan foto memastikan wanita itu. Ik Sun membenarkan dan berkomentar kalau Aslinya sangat cantik. Ik Jun mengaku Dia juga baik. Ik Sun tak percaya kakaknya sungguh pernah kencan buta dengan artis.
“Apa Mau aku ceritakan?” kata Jun Wan. Ik Jun mengaku kalau Dia mantan pacarnya.
“Luar biasa! Apa Kau tidak bohong?” ucap Ik Sun tak percaya. Jun waon pikri itu saat Ik Jun masih jadi dokter umum.
“Saat residen tahun keempat. Usai melihatku di Good Doctors< selama lima detik dia menghubungiku lebih dahulu.” Ucap Ik Jun. Adiknya tak percaya. “Dahulu aku memang digilai wanita.” Akui Ik Jun. Ik Sun pun ingin tahu alasan kakaknya putus.
“Jika menikah dengannya, kau akan bahagia. Tak perlu bertemu mantanmu itu.” Kata Ik Sun
.
“Kalau begitu, U-ju tidak ada.”  Ucap Ik Jun. Ik Sun mengeluh mendengar adiknya.
“Namun, kenapa kalian putus waktu itu? Dia bahkan mengunjungimu di Changwon saat jadi dokter umum.” tanya Jun Wan juga penasaran.
“Dia tidak makan.” Kata Ik Jun, Mereka tak mengerti apa maksudnya.
“Dia jarang makan setiap kami bertemu. Dan aku rasa dia minum obat tidur setiap hari. Saat aku bangun pagi dan pergi bekerja, maka dia akan pergi tidur. Dia seperti orang yang berbeda dunia denganku. Meski akhirnya dia yang memutuskanku.”cerita Ik Jun
“Apa? Kalian sungguh pacaran?” kata Ik Sun masih tak percaya. Ik Jun membenarkan.
“Kau tak pernah percaya ucapanku. Padahal itu sudah terlihat jelas.” Keluh Ik Jun kesal
“Makanya tanamkan rasa percaya kepada adikmu ini. Lalu Aku tidur di mana hari ini? Beri aku kamarmu.” Ucap Ik Sun. Ik Jun langsung menolaknya.
“Tidur di kamar Jun-wan.” kata Ik Jun. Ik Sun tak percaya kalau mereka akan tidur Bersamanya
“Apa Kau gila? Jun-wan tidur di sofa.” Kata Ik Jun. Ik Sun tak percaya membuatnya terharu.
“Adakalanya kau bermuka dua.” Kata Ik Jun sinis. Jun Wan pikir Ik Jun itu tahu saja. 



Pagi hari, Jun Wan tertidur disofa terbangun karena bunyi telp yang terus berdering. Ia melihat bukan ponselnya yang berdering, lalu menemukan telp yang ada di diata meja lalu saling bertanya siapa ini. Ik Sun pun tahu kalau Jun Wan yang mengangkatnya. Jun Wan pun baru tahu kalau itu ponsel Ik Sun.
“Ponselku tertinggal di rumah? Aku pikir di taksi. Syukurlah” ucap Ik Sun. Jun Wan bertanya dimana Ik Sun sekarang.
“Terminal... Aku lebih awal, takut macet. Malah tiba terlalu awal. Jun-wan, aku minta maaf. Bisa kau kirimkan ponselku ke markas? Pakai kurir hanya butuh sehari.” Kata Ik Sun.
“Biar kubawakan. Tunggu saja.” Ucap  Jun Wan. Ik Sun memberitahu aklau di Dekat pintu keluar, Tempat roti bakar. Jun Wan mengerti dan langsung bergegas pergi. 

Ik Sun makan roti dengan lahap. Jun Wan datang heran melihat Ik Sun yang makan sebanyak itu lalu membawa ponsel pada adiknya Ik Jun.  Ik Sun pun mengucapkan Terima kasih lalu mengaku punya hadiah untuknya dan memberikan burung dengan tanganya.
“Aku bercanda... Aku sungguh punya hadiah.Aku dengar kau suka cokelat.. Ini, 'kan? Ayo Tanganmu.” Ucap Ik Sun ingin memberikan coklat.
Tapi coklatnya terlalu banyak. Ik Sun pun mengambil kembali dan ingin memasukan kembali. Jun Wan membuka tanganya dan Ik Sun kembali menuangkan banyak tugas dan menurtnya terlalu banyak. Jun Wan hanya bisa tersenyum.
“Kau yang ini saja dan Sisanya milikku.” Kata Ik Sun memberikan beberapa butir coklat. Jun Wan mengambil dari tangan Ik Sun lalu langsung mengenggam tanganya.
“Apa Aku sudah bilang aku menyukaimu? Jadilah pacarku.” Ucap Jun Wan dengan wajah serius. Ik Sun melonggo mendengarnya. 


Seorang pria duduk didalam ruangan yang terlihat sangat senang dengan tempat tidurnya yang Nyaman sekali. Ik Jun datang menyapa Pak Go Yeong-min lalu bertanya Bagaimana kondisinya. Tuan Go mengaku baik dan menurutnya Uang memang bisa beli kebahagiaan.
“Aku santai di ruang VIP berkat putriku.” Ucap Tuan Go bangga. Ik Jun terlihat bingung bertanya pada perawat Siapa putrinya
“Apa Kau tak tahu?” keluh perawat. Ik Jun mengaku tak memeriksa keluarga pasien.
Saat itu seorang wanita masuk ke ruangan, Ik Jun terdiam melihat wanita cantik yang datang. Perawat pikir ia bisa bisa minta tolong perawat lalu memberitahu kalau ia adalah putrinya, Nona Go A-ra. Ik Ju menatap sang mantan tak percaya.
Ah Ra pun menyapa Ik Jun yang sudah lama tak bertemu.Ik Jun seperti tak percaya melihatnya. 


Di dalam ruangan, Suk Hyung menerima telp dan langsung bertanya Siap. Seorang wanita mengaku Orang yang tinggal bersama Presdir Yang Tae-yang yaitu Si Pelacur. Suk Hyung hanya diam saja. Si wanita pikr Orang menyebuny begitu. Si Pelacur.
“Kenapa kau menelepon?” tanya Suk Hyung. Si wanita mengaku Ada yang ingin dibicarakan dengannya.
“Aku tahu kau merasa tak nyaman, tetapi bisa kita bicara sebentar? Kulihat ada taman bagus di belakang rumah sakit. Kita bertemu di sana.” Kata si wanita. 

Suk Hyung keluar dari ruangan, Dokter Chu sedang ditelp melihat Suk Hyung keluar bergegas membeli kopi dengan mata menatap ke arah Suk Hyung yang ke arah taman.
“Hal itu sudah pasti terjadi... Aku tahu yang ibumu pikirkan, "Rasakan itu! Aku tidak sudi melihat kalian bahagia!" Aku paham perasaan dia. Namun, dia tak harusnya menolak bercerai. Apa Boleh kuminta kau bujuk ibumu? Dia pasti menuruti perkataan putranya.” Ucap Si pelacur.
Dokter Chu membawa dua gelas kopi seperti ingin lebih dekat dengan Suk Hyung. Tapi Ia melihat Suk Hyung duduk dengan wanita dan berpikir kalau itu pacarnya. Ia pun langsung membuang kopi lalu berjalan pergi.
“Aku tidak mau.” Kata Suk Hyung. Si wanita mengaku hamil dan sudah tiga bulan.
“Jangan pilih jalan yang menyulitkan semua. Aku tahu dia sangat membenciku. Tapi Sampai kapan dia begini? Jangan keras kepala. Aku dengar ibumu sakit. Untuk apa dia terus membenci orang sepertiku?” kata sipelacur.
“Layaknya orang dewasa, terima apa yang harus diterima dan beri apa yang harus diberi, lantas selesaikan masalah ini. Sisa hidup kita masih panjang. Aku percaya kau akan membujuk ibumu karena kau pintar.”kata si wanita. Suk Hyung hanya diam saja. 



Song Hwa bertemu dengan dokter, sang dokter memberitahu  Jika sebelumnya tak merasa ada benjolan dan tiba-tiba terasa benjolan besar itu Biasanya itu pertanda kurang baik. Song Hwa hanya diam saja.
“Selain itu, saat disentuh benjolannya terasa keras. Bila dilihat bentuknya pun agak menonjol dan memanjang,serta agak gelap di belakang. Bentuknya tidak bagus. Dalam kasus seperti ini, lebih baik jika tes biopsi. Kita langsung tes hari ini, ya?” kata dokter
“Ada hal yang harus kulakukan. Kira-kira butuh berapa lama?” ucap Song Hwa.
“Sekitar 20 menit.” Ucap Dokter. Song Hwa pun setuju akan lakukan sekarang. Akhirnya Song Hwa pun berbaring dengan tatapan kosong
Bersambung ke episode 6

 Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar