PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 25 April 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Dokter Chae mengaku Adiknya pemilik arena golf jadi Wajar sering ke sana dan ingin tahu siapa yang melapor. Dokter Ju pikir Dokter Chae tak perlu tahu masalah itu dan mendengar kalau ia main dengan kartu kredit perusahaan XG&YU.
“Pegawai di sana salah menempatkan kartu. Dia agak bingung karena kami sering main bersama. Dia pun mengirim pesan maaf kepadaku lebih dari sepuluh kali hari ini.” Ucap Dokter Chae.
“Pak Kepala, kau membuatku tampak menyedihkan. Harga golf di sana tidak seberapa.” Ucap Dokter Chae santai
“kau bilang "Tidak seberapa"? Aku dengar harga keanggotaan golf itu 200 juta?” ucap Dokter Ju
“Pemilik arena golf itu adikku, dan aku anggota di sana. Sungguh aku tidak melakukannya.. Dokter Kim Jun-wan suka mengadu. Dia selalu berlebihan. Sekarang dia mengada-ada. Sulit dipercaya.” Keluh Dokter Chae. 


KANTOR MEDIS 3, BEDAH SARAF
Dokter Ahn terus menghela nafas. Dokter Yong masuk mengeluh agar Berhentilah mengeluh karena bisa melubangi lantai. Dokter Ahn mengaku sungguh malu.Dokter Yong memberitahu Saat Seon-bin kali pertama menjadi dokter utama
“Dia angkat tangan lebih dahulu dan bilang, "Aku tak sanggup. Aku bisa membunuh pasien ini." Ayo keluar! Kita minum bersama.” Ucap Dokter Yong
“Aku piket malam hari ini. Tidak bisa... Astaga. Aku juga sangat ingin minum, tetapi apa daya? Hari ini piket malam.” Ucap Dokter Ahn sedih. 

Jung Won masuk ruangan melihat Jun Wan Belum pulang. Jun Wan ingin tahu bayinya bagaimana. Jung Wan mengaku Sekarang baik-baik saj tapi Dini hari nanti akan kuperiksa lagi lalu bersiap-siap untuk tidur sambil memastikan sesuatu pada temanya.
“Kau tak ke arena golf bersama Dokter Cheon?” tanya Jung Won. Jun Wan mengaku pergi sekali. Jung Wo melonggo kaget mendengarnya.
“Lapangan golf di sana sangat bagus. Bola bisa masuk sendiri.” Kata Jun Wan santai
“Astaga. Urusan bisa jadi pelik.”keluh Jung Won. Jun Wan mengaku  Tidak akan pelik karena membayar sendiri.
“Bagaimana bisa? Kalian main dengan kartu kredit dan keanggotaan XG&YU, 'kan?” kata Jung Won.
“Saat main aku merasakan hal aneh. Konon Cheon Myeong-taek kaya. Jadi, kupikir kami memakai keanggotaannya. Namun, aku merasa ganjil ketika bayar usai bermain.” Cerita Jun Wan.
“Lalu aku kembali lagi, dan bertanya kepada petugas, apa kami pakai kartu kredit perusahaannya. Lalu Petugas mengiakan jadi Kubayar tagihanku dan pergi.” jelas Jun Wan. Jung Won ingin tahu Berapa
“Keanggotaan termahal di sana 200 juta won. Biasanya berlaku 20 tahun, 20 kali 365 jadi 7.300. Dua ratus juta dibagi 7.300, berarti sehari 27.397 won. Dibulatkan menjadi 28.000 won. Tambah biaya sewa lapangan 150.000 won.” Jelas Jun Wan
“Biaya mobil 20.000 won per orang. Lalu biaya kedi 30.000 won per orang. Total aku bayar 228.000 won.” Kata Jun Wan dengan cepat. Jung Won hanya bisa melonggo mendenagrnya.
“Kenapa? Meski begini, aku juara dua IPA di sekolah.” Kata Jun Wan pun bersyukur
“Aku khawatir kau tergila-gila golf dan bergaul dengan mereka tanpa pikir panjang.” Kata Jung Won
“Jung-won... Sekarang ini... aku tak peduli golf sama sekali. Aku pergi.” ucap Jun Wan tersenyum bahagia lalu keluar dari ruangan. 



Di luar, Dokter Do sudah menunggu. Jun Wan kaget melihatnya. Dokter Do langsung memastikankalau Jun Wan itu juga ke sana dan pekan lalu Jun Wan ikut golf. Jung Won kesal kalau Itu kehidupan pribadinya dan Dokter Do itu bawel sekali bertanya.
“Wah.. Menjengkelkan sekali... Hei! Belakangan ini, kau lancang sekali. Cukup. Urus urusanmu sendiri.” Ucap Jun Wan marah
“Maka dari itu, apa yang kau lakukan pekan lalu? Apa yang Kau lakukan pekan lalu?” tanya Dokter Do penasaran
“Aku makan jajangmyeon.” Akui Jun Wan. Dokter Do melongo mendengarnya.
“Aku makan buljajangmyeon.Apa itu sudah Cukup?” tegas Jun Wan. Dokter Do pikir itu Bagus.



Flash Back
Didepan pintu restoran tertulis [MENU TERBAIK: BULJAJANGMYEON - MENU BARU: BULJAJANGMYEON NUKLIR] Jun wan dan Ik Sun berdiri didepany melihat menu makanan restoran
“Nama kedai ini selalu tampak ambisius setiap kulihat.Apa Teman-temanmu tidak protes?” tanya Jun Wan.
“Komandan pun pelanggan setia kedai ini.” Kata Ik Sun. Keduanya pun masuk ke dalam restoran. 

Semanguk jajangmyung berwarna dibawakan pelayan. Ik Sun memberitahu kalau Pedasnya satu level di bawah pekan lalu. Jun Wan menatap mienya ebrtanya Ini level berapa. Ik Sun menjawab Empat dan  Pekan lalu level lima.
“Apa Kau baik-baik saja pekan lalu?” tanya Ik Sun. Jun Wan mengakunyaris masuk IGD.
“Aku kuat makan pedas, tetapi pekan lalu tidak mudah. Ini juga tampak pedas. Buljajangmyeon ini harus dijadikan senjata rahasia angkatan darat Korea.” Kata Jun Wan.
“Hati-hati bicara. Kita di depan markas.” Kata Ik Sun panik. Jun wan pikir tak khawatir karena Pacarnya seorang mayor.
“Orang di atasmu pasti tak banyak.” Kata Jun Wan yakin. Ik Sun mengaku Sangat banyak kalau Atasanya tersebar di mana-mana.
“Letnan Jenderal, Jenderal, semacam itu?” ucap Jun Wan. Ik Sun hanya bisa melonggo berpikir Jun Wan dapat dispensasi wajib militer
“Mana mungkin ada bintang tiga di markas kami? Pantas kau dapat gelar spesialis lebih dahulu daripada kakakku.” Kata Ik Sun
“Benar. Aku dapat dispensasi. Apa Kau mau dengar cerita masa laluku yang sangat panjang?” kata Jun Wan lalu memberikan mangkuk jajangmyun yang sudah aduk.
“Tidak perlu. Pasti kau punya alasan. Omong-omong, kau mengadukkan jajangmyeon untukku?” kata Ik Sun. Jun Wan menganguk.
“Aku sungguh terharu.” Ucap Ik Sun. Jun wan merasa kalau ini Hanya hal kecil.
“Apa Kau melakukannya untuk kakakku atau Jung-won juga?” kata Ik Sun. Jun Wan pikir Ik Sun sudah gila memikirkan hal itu.
“Aku sibuk makan. Tak ada gunanya mengadukkan untuk mereka. Kepada ibu saja tidak. Aku... hanya melakukannya untukmu.” Ucap Jung Wan langsung tertunduk malu. Ik Sun pun ikut tersipu malu, keduanya tertunduk sambil makan dan Ik Sun memberikan lobak pada pacarnya. 


PUSAT MEDIS YULJE
Dokter melihat Dokter Jang datang terburu-buru berpikir dapat panggilan darurat. Dokter Jang mengaku tidak tapi sudah terlambat. Dokter Lain pikir Masih banyak waktu sebelum menengok pasien.Dokter Jang mengaku Terlambat sarapan karena selalu sarapan di kantin.
“Dokter Jang Gyeo-ul.. Apa? Sudah musim gugur lagi? Luar biasa! Jadi ini sudah musim gugur?” ucap Dokter Do menyapa
“Ya, 'kan? Aku pun mengeluarkan mantel setelah lihat Dokter Jang Gyeo-ul.” Kata Dokter lainya. Dokter Jang tak mengerti maksud keduanya.
“Bila Dokter Jang Gyeo-ul pakai jaket jins, berarti musim gugur.Kalau kau Pakai kaus katun putih berarti musim panas. Seluruh karyawan rumah sakit tahu perjalanan waktu berkatmu.” Ucap si dokter
“Berarti aku kalender berjalan?” kata Dokter Jang. Dokter menganguk mengerti.
“Ayo, Dokter Jang Gyeo-ul! Aku traktir karena sudah memberi tahu datangnya musim gugur.” Ucap Dokter Do. Dokter Jang tak percaya dokter Dok akan mentraktirnya sarapan.
“Ya. Dokter Kim Jun-wan memberi kartu kreditnya kepadaku. Dia berikan kemarin, belum kukembalikan. Belakangan ini, dia selalu tampak begitu bahagia. Dia pasti tidak sadar kartu kreditnya hilang.” Kata Dokter Do. Dokter Jang bergegas mengajak mereka semua pergi. 


Dokter Ahn memberitahu Pasien pria, 29 tahun. Menurut hasil MRI, diduga mengalami astrositoma dengan Ukuran tumor sekitar tujuh cm di hemisfer dominan. Lalu Rencana sore ini akan pindai CT dan kateterisasi otak transfemoral.
“Dokter, operasinya tidak sulit, 'kan? Konon operasi dalam kondisi sadar adalah operasi sulit. Semua khawatir.” Ucap ibu Pasien.
“Operasi otak tidak ada yang mudah. Operasi dalam kondisi sadar memang sulit. Seperti dijelaskan sebelumnya, dalam kasus Kim Hyeon-su, tumor menyerap ke jaringan otak normal dan batasnya tampak tidak jelas. Operasi dalam kondisi sadar mungkin membantu.” Jelas Song Hwa.
“Menurut pengalaman, bagian-bagian otaknya yang memiliki fungsi penting, kemungkinan besar terkena dampak tumor. Kami akan membangunkan pasien untuk sesaat dan mengangkat tumor sembari memeriksa gejala neurologis.” Ucap Song Hwa
“Menurutku, hal terpenting adalah mengurangi efek samping neurologis karena pasien masih muda.” Jelas Song Hwa.
“Lalu durasi operasi berapa lama?” tanya ibu Pasien. Song Hwa pikir Durasi operasi berbeda setiap kasus, tetapi diperkirakan tujuh hingga delapan jam.
“Waktu pasien sadar pun bisa berbeda, tetapi biasanya 30 menit sampai satu jam. Kuupayakan cepat memahami fungsi otak sekitar tumor dan mengurangi waktu sadar pasien semaksimal mungkin karena adakalanya pasien mengalami trauma.” Jelas Song Hwa. Sang ibu menganguk mengerti. “Masih ada satu hari sebelum operasi. Beri tahu saja jika kau takut atau cemas. Kondisimu paling penting.” Ucap Song Hwa pada pasien.
“Aku tidak peduli... Aku akan ikuti perintahmu.” Kata Hyun Sun seperti pasrah menatap ke arah jendela.
“Hyun-su, kau pasti bisa bekerja lagi setelah operasi. Jangan lesu begitu.” Kata ibunya. 
“Mana mungkin aku bekerja lagi? Jangan mengomong kosong, Bu.” Kata Hyun Su seperti hilang harapan.
“Kenapa tidak? Kau pasti bisa mulai kembali. Kudengar kau polisi. Menjadi polisi tak mudah. Kau sudah berhasil lulus tes itu. Jangan lesu begini. Hyun-su, kau bisa mengatasinya.”kata Song Hwa. Dokter Ahn terdiam mendengarnya.
“Dokter, aku tidak peduli dia bisa menjadi polisi lagi atau tidak. Kumohon selamatkan saja putraku.” Kata Ibu Hyun Su. Song Hwa menganguk kalau akan berusaha maksimal.




Ik Jun melihat laporan pasien dan bertanya Kenapa hasil tes lever Sin Mi-jin? Dengan Nilai ALT lebih dari 300 bahkan Bilirubin pun lebih dari sepuluh dan Reaksi penolakannya rendah jadi ingin tahu Kenapa tiba-tiba melonjak.
“Tadi kami bertemu di lorong. Nanti kuceritakan.” Kata perawat gugup. Akhirnya seorang ibu datang dengan wajah lesu.
“Kondisiku... tidak terlalu buruk. Tidak apa.” Kata sang ibu terlihat wajah menguning
“Tidak mungkin. Dari hasil tes, kau harus dirawat dan mulai tes, serta pengobatan. Ini bahaya. Apa kau rajin minum obat? Menurutku, kau jarang mengonsumsinya. Tampaknya kau sudah lama tidak minum obat.” Ucap Ik Jun.
“Apa ada masalah? Jika tidak rajin minum obat, levermu bisa hancur dan harus transplantasi ulang. Levermu tidak berfungsi, jadi Kau harus dirawat.” Jelas Ik Jun.
“Tidak... Aku tak mau dirawat. Aku hanya mau mati, Dokter.” Kata Nyonya Sin.
“Jangan bilang begitu! Aku sudah susah payah mengoperasimu... Kau Jangan bicara begitu. Kau harus dirawat hari ini, pindai CT, dan tes biopsi sambil lihat sonografi, serta pengobatan reaksi penolakan.” Ucap Ik Jun 


Dokter Jang memberitahu Usianya sembilan tahun, mengeluhkan sakit perut kanan bawah lalu Menurut hasil CT, diduga apendisitis. Kini dia demam dan tingkat peradangan tinggi. Jung Won memeriksa Sejak kapan terasa sakit. Orang tua menjawab Kemarin malam.
“Astaga. Coba aku periksa sebentar.” Ucap Jung Won lalu si anak berteriak kesakitan
“Biar aku yang bicara kepada wali. Dokter Jang Gyeo-ul, tolong hubungi Anestesiologi.” Kata Jung Won setelah bicara didepan ruangan receptionist.
“Selamat siang, Dokter... Dokter Ahn... Lain kali traktir aku menonton film.” Ucap Dokter Bae. Perawat dan Dokter Jang kaget mendengarnya.
“Baik. Kita menonton jika ada waktu.” Kata Jung Won lalu pamit pergi. 

“Kau bilang "Lain kali"? Apa Kalian pernah bertemu berdua?” tanya perawat saat Dokter Bae mendekat.
“Ya. Kami makan malam bersama pekan lalu.” Ucap Dokter Bae bangga. Dokter Jang memasang kupingnya.
“Berdua saja? Di luar?” tanya Perawat. Dokter Bae membenarkan kalau Berdua saja di luar dan Pakai baju kasual, bukan dengan jas dokter.
“Apa Dokter Ahn Jung-won mengajak lebih dahulu?” tanya Perawat. Dokter Bae menjawab kalau ia yang mengajaknya.
“Aku minta traktir makan malam.” Ucap Dokter Bae. Perawat tahu  Dokter Ahn Jung-won memang sering mentraktir.
“Para perawat pun sering makan bersama dengannya. Kupikir berbeda.” Ucap perawat. Dokter Bae menegaskan kalau mereka hanya berdua.
“Entah berdua atau berdua puluh, dia pasti mentraktir kalau kita minta. Dokter Bae Jun-hui, aku bahkan pernah nonton film bersama Dokter Ahn Jung-won. Serius... Astaga. Aku nyaris salah paham!” ucap perawat. Dokter Jung hanya bisa terdiam mendengarnya. 


Di ruangan
Jun Wan dengan wajah bahagai mengirimkan pesan pada Ik Sun “Aku juga kangen.” Ik Sun mebalas “Aku punya fotomu. Tinggal lihat itu saja.” Jun Wan mengeluh kalau tidak punya jadi meminta agar mengirimkan satu yaiu Foto terbaiknya.
Ik Sun mengirimkan foto, Jun Wan melihatnya dan langsung tertawa bahagia, karena Ik Sun mengirimkan pesan yang wajahnya dicoreng moreng. Ik Sun tak terlihat cantik tapi Jung Won terihat bahagia. 

Saat itu lampu diruanganya mati, Jun Wan kaget dan lampunya tiba-tiba bergantian menyala dan mati. Ternyata Jung Won sedang memainkan saklar sambil mengeluh ingin tah Siapa sebenarnya, Siapa  wanita itu sampai Jun Wan tidak fokus.
“Ini ibuku... Ayo pulang! Aku lapar.” Kata Jun Wan langsung memasukan ponselnya.
“Aku ganti baju dahulu... Tunggu sebentar.” Kata Jung Won membuka jas dokternya.
“Jung-won, kau sudah suruh mereka turun ke basemen, 'kan? Kita pergi bersama dengan mobilku.” Kata Jun Wan
“Kau saja! Kenapa harus selalu aku?” keluh Jung Won kesal. Jun Wan pikr Karena sudah pasti Jung Won melakukan.
“Ayo! Katanya mereka sudah turun.” Kata Jun Wan.  Jung Won pun tak menolaknya. 


Song Hwa keluar menunggu diparkiran, tiba-tiba ada yang mencoleknya disampingnya. Ik Jung sudah berdiri disampingnya. Song Hwa mengeluh dengan tingkah temanya karena mengira sedang di drama <i>Reply 1988 menurutnya Guyonannya itu kuno sekali.
“Lantas kau? Apa Drama Seoul Claypot” ejek Ik Jun lalu melihat Song Hwa sibuk dengan earphonenya.
“Apa Mau kubelikan yang nirkabel?” tanya Ik Jun. Song Hwa mengaku Ini lebih nyaman.
“Lagu keluar begitu kucolok dan tak perlu koneksi bluetooth.” Ucap Song Hwa. Ik Jun tak percaya kalau Lagu langsung keluar begitu dicolok
“Hei, pinjam sebentar. Aku juga ingin coba.” Kata Ik Jun dan tiba-tiba da yang mencolek tapi tak ada orang dibelakangnya.
Suk Hyung datang sembunyi dengan berjongkok. Ik Jun ingin mengerjainya dengan mendudukinya. Tapi Suk Hyung tiba-tiba berdiri karena melihat Jun-wan ganti mobil, Ik Jun pun terjatuh dan Song Hwa tak percaya ingin melihat mobil Jun Wan yang baru. 

Ik Jun tak percaya dan bertanya-tanya kapan Jun Wan mengantinya. Jung Won duduk didepan mengajak mereka agar segera naik. Song Hwa mengejek Jun Wan itu pamer mobil sekarang. Jung Wo mengeluh kalau temanya itu terlalu tua untuk pamer.
“Song-hwa, duduk di depan.” Ucap Jung Won. Song Hwa pun mengucapkan  Terima kasih.
“Aku Lapar sekali! Kau sudah pesan, 'kan?” kata Ik Jun. Jung Won menganguk pindah dudk kebelakang.
“Tiga daging babi, tiga daging bebek?” kata Ik Jun. Jung Won membenarkan dengan wajah bahagia mengajak mereka pergi 

Song Hwa sibuk dengan ponselnya, Jun Wan bertanya apakah Song Hwa  mau dengar lagu. Song Hwa membenarkan kalau mereka  harus dengar lagu yang akan dimainkan pekan ini. Suk Hyung mengaku  mencium wangi enak di mobil ini jadi rasa parfum wanita.
“Kau tahu dia punya pacar. Aku yakin seratus persen itu parfumnya. Dia tak pernah lepas dari ponsel.” Kata Jung Won. Jun Wan menyangkal.
“Ini campuran wangi parfum dan wangi alam, sekitar 5,5 banding 4,5. Kurasa kali ini pacarnya tidak tinggal di kota. Dia bekerja di alam terbuka, atau pekerjaannya banyak berkeringat.” Kata Ik Jun menghirupnya. Jun Wan mulai panik. Song Hwa tak percaya mendengarnya.
“Ya, di Provinsi Gangwon, atau perdesaan.” Kata Ik Jun. Jun Wan mkain panik. Song Hwa pikir Ik Jun anjing pelacak
“Aku hanya asal bicara, tetapi Apa kalian lihat ekspresinya? Salah satu tebakanku pasti benar.” Ucap Ik Jun
“Song-hwa, bisa tolong nyalakan musik?” kata Jun Wan mencoba menutupi rasa panknya.
“Aku juga ingin begitu, tetapi koneksi bluetooth< selalu gagal. Apa Kau sudah coba?” kata SongHwa.
“Musik apanya? Hei! Kim Jun-wan! Siapa dia?” ucap Jung Won penasaran.
“Tentu. Aku sering telepon dan mendengarkan musik!” kata Jun Wan tak mengubrisnya.
“Apa Kau kencan buta?” tanya Suk Hyung. Jun Wan mengaku tidak kencan buta!
“Ini Gagal. Astaga! Sepertinya gagal karena terhubung dengan ponselmu.” Keluh Song Hwa kesal
“Kim Jun-wan, pa aku kenal dia? Hei! Aku tanya apa kami kenal dia?” tanya Ik Jun. Jun Wan hanya diam saja.
“Hei.. Kawan! Apa Dia karyawan rumah sakit atau teman seangkatan? Song-hwa, kecilkan volume.” Pinta Ik Jun.
“Tidak. Jangan kecilkan. Tolong kencangkan. Kumohon.” Kata Jun Wan. Sementara Song Hwa kesal karena  koneksi bluetooth selalu gagal
Saat itu terlihat nama [SAYANGKU BIDULGI] dilayar,  Song Hwa dengan santai memberitahu Jun-wan kalau Ada telepon dari Bidulgi. Jun Wan panik ingin menekanya, Tapi Song Hwa menyuruh Jun Wan agar menyetir karena bisa membunuhnya kalau bicara di telp.
“Sayang... Jung-won, tolong ambilkan ponselku di dalam tas..  Tidak. Ambil, lalu tolak. “ kata Jun Wan.
“Begitu? Ponselmu ada di sini?”kata Jung Won mengoda. Ik Jun meminta agar segera mengambil ponsel. Jun Wan makin panik meminta agar jangan mengambilnya.
Ik Jun sibuk mencoba berlatih agar suaranya sama seperti Jun Wan.   Suk Hyung melihat mereka sudah sampai dan Banyak parkir kosong hari ini. Sementara Jung Won sibuk mencari ponsel Jun Wan di tasnya. Suk Hyung pun mengangkat telp dari ibunya.
“Aku hendak makan malam bersama teman-teman, dan ternyata Jun-wan punya pacar. Namanya Bidulgi, seperti "burung merpati." Bi itu nama marga yang unik, 'kan?  Bi seperti "Hujan"?” cerita Suk Hyung yang sangat terbuka pada temanya. 

 Jung Won akhirnya berhasil menemukan telp Jun Won. Ik Jun langsung mengangkatnya. Jun Wan turun dari mobil mengendor pintu agar membuanya tapi Ik Jun sibuk berbicara di telp. Mengaku teman Kim Jun-wan, Lee Ik-jun dan Jun-wan sedang tidak bisa menerima telepon.
“Mohon maaf, tolong sebutkan namamu. Nanti akan kusampaikan kepada...Tadinya begitu, tetapi dia merebut ponsel.” Kata Ik Jun karena Jun Wan berhasil membuka pintu dan mengambil ponselnya. 



Jun Wan sibuk menelp Ik Sun didepan restoran, wajahnya terlihat panik. Song hwa masuk ke dalam restoran mengaku Lapar sekali lalu bertanya pada Jung waon apakah ada nurungji. Jung wan memberitahu kalau Kini mereka jual nurungji dan sujebi perilla.
“Jun-wan, kami masuk dahulu... Astaga, cuaca mulai dingin. Sekarang dingin setiap malam.” Ucap Suk Hyung berjalan masuk
“Sudah musim gugur. Cuaca mulai dingin. Kenapa aku jadi rindu adikku? Padahal seumur hidup tak pernah begitu.” Kata Ik Jun.
Di dalam restoran. Jun Wan berkomentar Menurutnya lebih baik bilang. Suk Hyung terlihat tak yakin mengaku sangat bingung. Jun Wan kesal Kenapa harus bingung karena Tentu harus bilang pada ibunya dan Jangan membohongi ibunya.
“Beri tahu apa yang orang tahu, dan biarkan dia bercerai, lalu hidup nyaman.” Kata Jun Wan 


 “Dia bingung karena ibunya sakit. Bagaimana kalau dia pingsan lagi karena kaget usai dengar cerita itu? Namun, tidak baik juga membohonginya.” Kata Ik Jun lalu melihat Song Hwa dan Jun Wan makan dengan cepat.
“Apa Kau dan Song-hwa kerasukan setan kelaparan sembilan tahun” tanya Ik Jun
“Ini karena tiga kakak lelakiku.” Ucap Song Hwa. Sementara Jun Wan mengaku memang dirasuki lalu meminta Jung Won mengambilkan air. Jung Won pun lansung mengambilnya.
“Aku ingin beri tahu dia, hilangkan perasaan yang tersisa, meski kurasa sudah tiada lagi rasa itu. Namun, wanita itu kini hamil. Kurasa lebih baik untuk memintanya cerai agar ibuku hidup tenang.” Jelas Suk Hyung bingung.
“Namun, di sisi lain, mereka sudah tiada hubungan. Bagaimana jika ibuku tambah sakit setelah aku bilang? Aku tak mau itu terjadi.” Kata Suk Hyung khawatir
“Meski begitu, lebih baik bilang.” Kata Ik Jun. Jung Won setuju dan ingin tahu pendapat Jun Wan. Jun Wan kesal kalau Tentu harus bilang.
“Jadi Aku harus bagaimana?” kata Suk Hyung bingung. Jun Wan makin kesal menyuruh agar Suk Hyung bilang pada ibunya.
“Song-hwa, menurutmu bagaimana?” tanya Jung Won. Song Hwa pikir juga lebih baik bilang. Suk Hyung seperti sedikit percaya
“Ya. Tidak baik membohonginya. Coba bicarakan dengan baik. Hibur dia juga sebelum dan sesudah.” Kata Song Hwa. Suk Hyung langsung setuju akan memberitahu.
“Dasar Berengsek! Kau tak dengar ucapan kami selama sepuluh menit. Kalau begini caranya, lebih baik kau tanya Song-hwa saja sambil minum teh bersama. Kita hanya umpan.” Ucap Jun Wan kesal
“Pemilik restoran ingin memberi bonus jus kudzu yang dia petik sendiri. Apa ada yang mau?” tanya Bibi. Semua langsung menunjuk tangan dengan serempak. Si bibi meminta menunggu karena akan mengambilnya. 


PUSAT MEDIS YULJE
Song Hwa memberikan teh memuji Suk Hyung sudah melakukan yang Bagus dan ingin tahu keadaan Ibu Suk Hyung  apakah baik-baik saja, Suk Hyung menceritakan Reaksi ibunya tidak seburuk dugaannya bahkan  Awalnya ibunya kaget dan terpaku selama sepuluh menit.
“Aku sempat cemas. Namun, kuhibur dia setelahnya. Ibu akan bercerai. Dia ingin pindah ke luar negeri karena malu.” Ucap Suk Hyung
“Tak apa. Kau sudah lewati bagian tersulit.” Kata Song Hwa mengelus bahu temanya.
“Sudah kuduga kau ada di sini... Hei. Setidaknya keringkan dahulu rambutmu. Astaga. Apa Kau tak sabar memberi tahu Song-hwa? Kau belum menemuinya, 'kan? Namun, kurasa dia sudah beri tahu.” Kata Jun Wan masuk ruangan.
“Apa maksudmu?  Suk-hyung sedang cerita pembicaraan dengan ibunya kemarin lancar. Kenapa? Ada masalah?” tanya Song Hwa.
“Ayah Suk-hyung dirawat semalam. Di Kamar VIP Tiga rumah sakit kita.” Ucap Jun Won. Song Hwa bertanya apakah ayah Suk Hyung itu sakit
“Tidak. Hanya pura-pura. Kurasa dia dirawat untuk menghindar dari pengadilan. Dia tidak menjadi pasienku. Tampaknya dia menghubungi Kepala Rumah Sakit langsung.” Kata Jun Wan. Suk Hyung menghela nafas panjang lalu berdiri.
“Hei. Nanti saja... Kita pergi bersama nanti.” kata Song Hwa menahan Suk Hyung pergi dan menahan emosinya.
“Sudah waktunya menemui pasien rawat jalan. Dan Jangan pernah kau tangani Presdir Yang... Paham?” kata Suk Hyung. Jun Wan menganguk mengerti. 



Ik Jun berjalan dengan perawat memberitahu kalau Dia sudah minum obat pagi setelah dibujuk Perawat Song Su-bin tapi Entah nanti malam dia mau, tidak tapi merasa dia takkan mengonsumsinya. Ik Jun pikir Sebenci apa pun pada suaminya, pasienya itu bisa rugi dua kali kalau kesehatannya menurun.
“Aku agak paham perasaannya Meski suami yang menyumbangkan lever. Dia tetap saja selingkuh. Dia pasti tidak ingin hidup dengan lever suaminya. Dia pasti benci suami, lever, semuanya.” Ucap perawat
“Meski begitu, dia harus tetap minum obat.” Kata Ik Jun lalu masuk ke ruangan.


Ik Jun menyapa salah satu pasienya,  bertanya apakah Tidurnya nyenyak. S pasien mengaku tidurnya nyenyak setelah sekian lama. Ik Jun senang memberitahu agar pasienya juga harus sering berolahraga bahkan setidaknya jalan-jalan di lorong.
“Ya. Kemarin aku sudah jalan sepuluh keliling. Aku bisa ikut Olimpiade... Tapi Dokter, kau sudah menikah?” tanya si pasien. Ik Jun kaget mendengarnya.
“Kenapa? Kau ingin menjodohkannya?” tanya Perawat Song. Si pasien membenarkan dengan adik perempuanya.
“Aku ingin menjodohkanmu dengan adikku.” Ucap Si pasien. Ik Jn mengaku sudah menikah dan punya putra.
“Tentu saja. Para wanita mustahil membiarkan pria baik sepertimu.”kata Si pasien.
“Tidak. Aku terlambat menikah.” Akui Ik Jun. Si wanita pikir  Beruntung sekali wanita yang menikahi Ik Jun dan sedih juga mendengarnya karena Ik Jun sudah menikah.
“Dokter, kau sungguh tipe idealku.” Kata si pasien. Ik Jun tersipu malu mengucapkan Terima kasih.
“Padahal suamimu ada di samping.” Kata Ik Jun. Si pasien memuji Ik Jun tampandan pasti sangat pandai.
“Kau juga ramah dan menyenangkan... Sungguh tipe idealku. Sayang sekali. Sedangkan suamiku seperti beruang.” Kata Si pasien.
“Namun, dia memiliki kesan baik. Tubuhnya pun kekar.” Kata Ik Jun melihat suami yang membelakanginya.
“Untuk hal itu, aku setuju. Dia pemilik toko emas di Ssangmun-dong bernama Toko Burung Foniks.”ucap Si pasien. Ik Jun tak percaya mendengarnya.
“Ini Kuambilkan saat kemari.” Ucap Si pria ternyata ayah Taek di reply 1988 memberikan emas berbentuk kura-kura pada Ik Jun.
“Tidak. Maaf, Pak. Aku harus pergi.” kata Ik Jun panik.  Ayah Taek mengaku Ini bukti ketulusannya.
“Aku sangat berterima kasih dan ingin memberi segala yang kupunya. Putraku mendapatkannya dari kompetisi.” Kata Ayah Taek
“Tak bisa kuterima. Aku bisa kena masalah. Sungguh mohon maaf.” Ucap Ik Jun panik mencoba kabur.
“Ini ketulusanku... Aku sangat berterima kasih telah menyelamatkan istriku. Mohon terima, Dokter.”kata Ayah Taek . Ik Jun bergegas pergi dan akan datang lagi nanti.
“Sepertinya dokter dilarang menerima itu.” Ucap ibu Taek. Ayah Taek pun tak bisa berbuat apa-apa.
Bersambung ke part 3

 Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar