PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 08 Februari 2018

Sinopsis Radio Romance Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
“Tapi sekarang, aku sangat khawatir. Haruskah aku berhenti saja?” ucap Soo Ho mengancam. Geu Rim panik mendengarnya dan saat itu juga Tuan Lee langsung tertawa bahagia.
“Lulus.” Kata Tuan Lee. Soo Ho melonggo binggung begitu juga Geu Rim. Akhirnya Tuan Lee meminta maaf.
“Aku takut jikalau kau orang bodoh yang tidak bisa marah, meski kau di tindas, jadi aku sedang mengujimu. Aku terkejut... Ternyata Kau tahu caranya marah, dan kau datang tanpa manajermu. Kau sangat berbeda dari apa yang aku bayangkan.” Ucap Tuan Lee. Soo Ho melirik sinis.
“Bukan maksudnya, aku tak suka... Tapi Maksudku, aku suka.” Tegas Tuan Lee.
“Kita semua sudah tahu kalau kau orang yang sinting.” Gumam Geu Rim melirik sinis pada Tuan Lee.
“Apa Kau tadi...mengujiku?” kata Soo Ho sinis. Geu Rim mengaku  bukannya sedang menguji.
“Aku hanya ingin melihat emosi apa yang kau punya. Wajahmu sama sekali tak menunjukkan emosi. Saat kita melakukan acara, akan ada banyak situasi tak terduga. Aku juga ingin tahu, seberapa pandai kau berbicara.”jelas Tuan Lee.
Soo Ho ingin tahu hasil seberapa pandai cara bicaranya, apakah  lulus di bidang itu. Geu Rim mulai ketegangan meminta agar menghentikan saja.  Tuan Lee mengaku kalau melihat kontrak yang ditulis Soo Ho dan  merasa kagum sekali.
“Kau memang seorang profesional. Tidak heran jika kau adalah bintang terkenal. Kau tertarik pada naskah dan para tamu. Kau orang yang sangat teliti. Aku bisa mengetahui keterlibatan dirimu dengan pekerjaan. Jadi Bagaimana? Apa aku menafsirkan dengan benar?” ucap Tuan Lee. Soo Ho ingin tahu kalau memang iya bagaimana.
“Aku tahu itu.. Kau seorang profesional.” Komentar Soo Ho lalu melihat Geu Rim yang ingin minum Soju.
“Hei.. Magnae.. Bukannya kau ingin belajar buat naskah? Bagaimana bisa kau minum?” tegur Tuan Lee. Geu Rim menganguk mengerti, lalu akhirnya Tuan Lee mengambil gelas dari tangan Geu Rim dan meminumnya.
Soo Ho menahan amarah karena tak suka melihat Tuan Lee menjadi kuda hitam untuk Geu Rim.  Tuan Lee akhirnya mengajak mereka adakan rapat perencanaan resmi sebagai seseorang yang profesional. Soo Ho setuju mereka melakukanya Sebagai seseorang yang profesional.
“Tamasya dua hari satu malam.” Kata Tuan Lee. Soo Ho kaget mendengarnya.
“Ya... Jika kau tidak mau pergi, maka yang pergi hanya Magnae dan aku. Jadi Tidak akan ada gunanya. Kita sudah saling menempel sepanjang hari.” Ucap Tuan Lee. Soo Ho seperti menahan amarah kembali saat tangan Tuan Lee bersadar di pundak Geu Rim. 

Ketiga keluar dari restoran,  Geu Rim memberitahu kalau Rumahnya ada di lantai dua. Tuan Lee juga memberitahu kalau rumahnya ada disebelah Galeri Seni.  Soo Ho menyindir, dengan bertanya apakah biasanya PD dan penulisnya tinggal saling dekat-dekatan, agar bisa bekerja.
“Lantai tiga nya masih kosong. Apa Kau ingin tinggal dekat dengan kami juga?” komentar Tuan Lee santai. Soo Ho pun hanya bisa terdiam.
“Ji Soo Ho, Aku berharap kita bisa benar-benar saling mengenal besok. Magnae dan aku harus bekerja bahkan begadang semalaman.” Kata Tuan Lee. Soo Ho kaget keduanya akan menghabiskan malam bersama.
“Tuntutanmu di kontrak itu sangat tinggi sekali. Kita harus bisa mencapai naskah yang akan kau setujui. Jadi Ayo, Magnae.” Ajak Tuan Lee.

Geu Rim menyuruh Tuan Lee pergi lebih dulu saja karena akan mengantar Soo Ho  pergi. Tuan Lee menyetujuinya. Soo Ho mengeluh Tuan Lee yang selalu memanggil
Geu Rim dengan panggilan Magnae, karena jabatanya sebagai penulis utama sekarang. Tuan Lee dengan nada mengoda merasa Geu Rim itu akan selalu menjadi Magnae baginya



Geu Rim membuka pintu mobil Soo Ho sebelum pergi untuk memastikan kalau bisa mengemudi. Soo Ho pikir tak ada alasan dirinya itu tak bisa mengemudi.  Geu Rim tahu kalau Soo Ho itu minum. Soo Ho melihat Geu Rim yang minum dua teguk.
“Tidak, PD-nim mengambil gelasmu. Saat kau minum satu setengah gelas, Tapi Aku tidak minum tadi.” Kata Soo Ho. Geu Rim seperti baru mengingatnya.
“Dan Juga, PD-nim mungkin terlihat aneh, tapi dia luar biasa. Tuan Lee orang yang berbakat. Jika kau mempercayainya dan ikuti...” ucap Geu Rim dan langsung disela oleh Geu Rim.
“Ikuti siapa?” kata Soo Ho sinis dan meminta Geu Rim agar menutup pintunya.  Geu Rim pun menganguk mengerti.
“Dan juga, aku akan datang menjemputmu besok. Aku benar-benar diperintahkan untuk mengantarmu dan Hati-hati di jalan.” Kata Geu Rim lalu membiarkan Soo Ho pergi.
“Kenapa dia selalu jengkel padaku?” ungkap Geu Rim binggung melihat sikap Soo Ho yang sinis. 


Jason menuruni tangga terlihat kaget mengetahui kalau Soo Ho akan  seperti acara "One Night Two days" dan akan bermain game, atau mereka harus nyebur ke lautan saat musim dingin. Soo Ho melonggo binggung mendengarnya.
“Kau bilang tim radiomu akan bertamasya. Aku harus mempersiapkan diri. Apa yang harus aku lakukan untuk pertunjukan bakat?” kata Jason bersemngat.
“Untuk apa juga kau ikut?” keluh Soo Ho. Jason mencoba mencari alasan untuk ikut.
“Dokter dan pasien nya harus saling dekat. Aku memutuskan untuk menemanimu. Aku berencana supaya bisa lebih dekat dengan Song Geu Rim juga.” Kata Jason. Soo Ho kaget mendengarnya.
“Apa kau percaya? Ji Soo Ho akan ikut tamasya dua hari satu malam. Setiap kali kau membuat keputusan besar, pasti ada kaitannya dengan Song Geu Rim.” Ucap Jason. Soo Ho tak peduli memilih untuk pergi. Jason berteriak ingin tahu Dress Code untuk besok, 


Soo Ho berbaring dikamarnya teringat kembali dengan tangan Tuan Lee yang bersandar di pundak Geu Rim sambil berkata “Kita sudah saling menempel sepanjang hari.” Lalu ketika keluar dari restoran, Geu Rim memberitahu kalau rumahnya ada di lantai dua dan Tuan Lee ada disebelahnya.
“Magnae dan aku harus bekerja dan begadang semalaman.” Ucap Tuan Lee penuh semangat.
“Apa Mereka menghabiskan malam bersama?” kata Soo Ho akhirnya duduk diatas tempat tidurnya. Ia lalu menyadarkan diri kalau tak boleh bersikap seperti itu dan mencoba untuk tidur kembali. 

Geu Rim hanya bisa melonggo saat sampai di rumah Soo Ho, Jason dan Soo Ho dengan pakaian tebal bergaya seperti artis dengan koper besar. Geu Rim heran melihat keduanya yang membawa kopernya banyak sekali padahal hanya untuk 1 malam, lalu mengajak segera masuk mobil.
“Aku akan membawa mobilku.”ucap Soo Ho. Jason pun memasukan koper ke dalam mobil. Geu Rim menghadang Soo Ho masuk mobil.
“Hei, kau bahkan tidak tahu jalannya. Bahkan Jalannya tidak akan muncul pada GPS.” Kata Geu Rim. Jason mengajak Soo Ho agar segera masuk saja. 

Geu Rim duduk didepan seperti supir sementara Jason dan Soo Ho duduk dibelakang seperti penumpang.  Dalam perjalanan Soo Ho ingin tahu kemana mereka akan pergi. Geu Rim menjawab kalau Soo Ho akan tahu kalau sudah sampai tujuan. 

Perjalanan masih terus berjalan, Jason akhirnya bertanya merkea akan kemana Untuk menghabiskan "Tamasya dua hari satu malam."  Geu Rim dengan senyuman memberitahu kalau hampir sampai dengan bahagia acara mereka adalah "Tamasya dua hari satu malam."!
Jason pun mengikutinya mengoda Soo Ho, tapi Soo Ho hanya melirik sinis, akhirnya Jason terdiam dan meminta maaf atas sikapnya.  Geu Rim melihat keduanya hanya bisa tersenyum karena perjalanan tamasya. 

Ketiganya sudah sampai dipelabuhan, Soo Ho tak percaya kalau mereka akan naik feri itu. Saat itu Tuan Lee dan timnya datang berteriak dengan membawakan karton dan berteriak bahagia "Tamasya dua hari satu malam."
Soo Ho menatap dingin lalu membaca tulisan di karton  Kami mencintaimu, Ji Soo Ho. "Tamasya dua hari satu malam." dengan Ji Soo Ho, Kami mencintaimu.” Tuan Lee mengajak mereka untuk segera pergi bersama. Jason pun ikut bahagia karena banyak yang menyambut Soo Ho. Soo  Ho tak peduli memilih untuk memakai kacamatanya.

Saat di kapan,  wanita yang ada di Tim Tuan Lee melakukan selfie dengan memperlihatkan Soo Ho yang ada dibelakangnya. Soo Ho seperti tak peduli dan membiarkanya. Geu Rim datang menemui Soo Ho,  bertanya apakah mabuk laut. Soo Ho mengelengkan kepala
“Kau mengerutkan keningmu, dan wajahmu pucat.” Ucap Geu Rim. SooHo mengaku baik-baik saja. Geu Rim akhirnya memberikan segelas teh untuk Soo Ho untuk menghilangkan mual.
Saat itu terdengar suara seseorang yang muntah, Geu Rim langsung melihat keadaaan Tuan Lee. Soo Ho menatap kesal melihat kedekatan keduanya. Semua orang menjauhi Tuan Lee yang muntah dan akhirnya Geu Rim dengan penuh perhatian memberikan tusukan pada jari Tuan Lee untuk mengurangi mual. 


Nyonya Nam dan suaminya sedang melakukan pembukaan toko baru dengan memperlihatkan kemersaraan mereka di depan wartawan. Da Seul juga ikut di sisi lainya, saat itu Nyonya Nam melihat Tae Ri dibelakang wartawan sedang berbicara dengan seorang pria lalu memberikan kode pada Manager Kim.
“Mengapa Ji Soo Ho melakukan acara radio? Apa mereka tahu kelemahannya?” tanya Si pria
“Mengapa bertanya padaku? Tanyakan pada Ny. Nam.” Ucap Tae Ri. Wartawan penasaran apakah Tae Ri itu tak tahu apapun tentang keluarga itu
“Kenapa bisa mengira aku tahu semua itu, Tn. Reporter?” kata Tae Ri seperti mencoba untuk menyangkal.
“Aku tahu, kau sudah berteman dengan Soo Ho selama 10 tahun. Sejak kau jadi artis cilik.” Ucap si reporter. 

Saat itu Manager Kim datang mengatakan sebagai manajer Soo Ho sejak kecil, jadi bisa langsung tanyakan padanya dan bertanya Apa yang ingin diketahui si reporter. Reporter ingin tahu keberadan Soo Ho sekaran dan ingin tahu kenapa tidak menghadiri acara hari ini.
“Mungkinkah ada masalah keluarga? Aku sudah dengar rumornya.” Ucap Reporter
“Dengar,  Jika kau menulis cerita menurut setiap rumor yang kau dengar, maka kau akan terjatuh dengan keras seperti dulu lagi. Apa kau ingin kami menghancurkan lagi sebelah sayapmu itu?” ucap Manager Kim mengancam
“Pasti ada sesuatu yang besar. Cukup besar untuk mematahkan sayapku.” Kata Reporter. Tae Ri yang ada di depanya hanya bisa menatap binggung. 



Tuan Ji, Nyonya Nam, Da Seul ada dalam satu lift. Da Seul panik karena bersama dengan Tuan Ji dan menjadi selingkuhanya. Nyonya Nam tiba-tiba memanggil Da Seul bertanya Bagaimana kelangsungan dramanya dengan Soo Ho. Apakah semuanya baik. Dae Seul mengaku baik-baik saja.
“Mari kita adakan makan malam nanti. Kita semua.” Ucap Nyonya Nam lalu keluar dari lift. Dae Seul panik tapi Tuan Ji memilih untu menutup lift dan pergi bersama. 

Nyonya Nam kembali berdiri didepan wartawan, saat itu Tae Ri datang mengambil dompet Nyonya Nam meminta izin memegangnya sebentar. Beberapa wartawan mengeluh pada Tae Ri yang tiba-tiba datang.  Tae Ri meminta agar segera mengambil fotonya.
“Kenapa kau terus mengikutiku?” keluh Nyonya Nam berisik
“Ny. Nam, Reporter An... terus bertanya kepadaku. Dia mengatakan bahwa keluarga Anda hanya pertunjukan belaka dan bertanya mengapa Soo Ho tidak datang ke acara ini.” Bisik Tae Ri. Nyonya Nam mengerti.
“Jika aku menceritakan semua yang aku tahu, maka, keadaan Anda akan sedikit lebih canggung, benarkan? Jadi kapan Anda akan mengatur pertemuanku dengan Soo Ho?” kata Tae Ri mengancam, Nyonya Nam pun hanya bisa diam saja. 

Semua duduk di halte bus dengan salju yang turun dan cukup tebal. Soo Ho hanya duduk mengeluh kalau sudah naik mobil, lalu naik feri dan sekarang menunggu dua jam untuk naik bus, Ia ingin tahu untuk apa mereka melakukan semua itu.
“Dalam sehari, hanya ada satu feri ke tempat ini dan Bus lewat setiap dua jam. Indahnya menunggu seperti ini adalah kunci filsafatnya radio. Saat ini, kita tengah mengalaminya.” Ucap Tuan Lee. Semua yang duduk pun menganguk setuju hanya Soo Ho yang cemburu. 

Setelah naik bus mereka pun berjalan beriringan, dengan jalan setapak dan berhenti dengan makan bakpau. Geu Rim memberikan pada Soo Ho tapi Soo Ho enggan menerimanya.
“Hati sebuah acara radio adalah suaranya. Apa Kau tahu itu, Soo Ho? Jika kita meninggalkan kota, seluruh suara di sekitar kita akan berubah total. Apa Kau pernah merasakannya?”
“Maksudku bukan suara mobil, alarm, dan keyboard. Ini adalah suara yang hanya bisa kau dengar di alam. Suara yang hanya bisa manusia ciptakan. Radio adalah tempat dimana suara itu didapatkan.”
Setelah itu mereka pergi ke atas kapal membantu nelayan memperbaiki jaring. Soo Ho hanya menatap dari kejauhan. Semua pergi ke pinggir pantai melakukan selfie, Tuan Lee mengajak Soo Ho tapi Soo Ho seperti enggan bergabung.
Mereka kembali berjalan, Geu Rim memberitahu Soo Ho kalau akan sampai dan meminta agar lebih cepat berjalan. Saat itu Tuan Lee dengan sengaja melempar bola salju pada Geu Rim, akhirnya semua bermain saling melempar bola salju.
Soo Ho memilih berjalan pergi, Tuan Lee dengan sengaja melempar salju. Soo Ho membalikan badan dan terlihat marah.  Jason meminta maaf pada temanya, tapi setelah itu dengan sengaja melempar bola salju pada Soo Ho. Soo Ho menariknya tapi saat itu juga Jason bisa kabur dan mengajak bermain bersama. 
Soo Ho sampai di tempat menginap dan hanya bisa menghela nafas harus tinggal di rumah tradisional.  Semua malah memuji kalau rumah itu bagus. Tuan Lee langsung bertanya Apa gerakan mematikan untuk Soo Ho. Mereka mencoba menebak kalau itu Wajah,  Senyuman, atau Akting.
“Di radio, kau tidak membutuhkan wajah, dan tidak perlu berakting. Apa Kau punya yang lain?” tanya Tuan Lee. Semua  hanya diam saja.
“Kita keluarkan barang-barang kita. Lalu Kita adakan meeting, karena itulah yang harus disukaikan. Laki-laki sebelah sini, perempuan sebelah sana.” Kata Tuan Lee,
Mereka pun masuk kamar masing-masing,  Soo Ho melihat kamar  laki-laki karena akan bermalam rumah itu bersama. Tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar sebelah. Geu Rim berteriak panik karena Tas laptopnya dan memanggil Tuan Lee.  Tuan Lee akhirnya datang ke kamar Geu Rim.
“PD-nim, sepertinya... Tas laptopku ketinggalan di kapal feri.” Ucap Geu Rim. Tuan Lee ingin tahu apa yang akan dilakukan Geu Rim sekarang
“Aku akan ke dermaga untuk mencarinya. Naskah dan bahan penelitian...” kata Geu Rim. Hoon Jung pikir akan pergi bersama
“Hun Jung, aku yang akan pergi dan...” kata Tuan Lee, diam-diam Soo Ho mendengar dari samping kamar.
“Tidak perlu... Kau bisa memulai meeting tanpa aku.” Ucap Geu Rim lalu bergegas pergi. 
Geu Rim mengumpat dirinya itu bodoh, lalu menelp Dermaga Chungwoon, bertanya Apakah ada yang menemukan tas laptop. Tapi pegawai yang ada disana mengaku tak tahu, lalu kebingungan sendiri karena tak ada taksi yang bisa mengantarnya ke dermaga.
Sebuah trotoar lewat, Geu Rim memanggilnya ingin tahu akan pergi kemana apakah ingin ke dermaga. Si paman hanya mengeleng. Geu Rim meminta tolong agar mengantarnya suatu tempat di dekat dermaga  Atau kemanapun.  Si paman hanya menatapnya, Geu Rim memohon akhirnya Si paman menyuruh Geu Rim naik saja lebih dulu.
Geu Rim pun mengucapkan Terima kasih dan saat akan naik ke belakang, Soo Ho tiba-tiba datang membantu. Soo Ho tahu kalau Geu Rim itu lupa tas  karena terlalu sibuk mengurus PD-nim. Geu Rim menahan paman untuk tak pergi lebih dulu dan menyuruh Soo Ho untuk turun.
 “Tas warna coklat. Ada boneka di atasnya.” Kata Soo Ho yang mengingat saat Geu Rim melepaskan tasnya saat mengurus Tuan Lee sedang mabuk laut.
“Aku melihat kau turun dari kapal tanpa tas.” Ucap Soo Ho. Geu Rim mengeluh kalau Soo Ho yang tidak memberitahunya.
“Tapi kenapa kau malah ikut bersamaku?” kata Geu Rim. Soo Ho menjawab kalau akan pulang.
“Hei, Soo Ho... Bagaimana kau bisa pulang? Bahkan Tidak ada feri... Dan Juga, jika kau datang untuk menginap, maka kau tidak boleh pulang. Ucap Geu Rim. Soo Ho seperti tak peduli. 



Di depan penginapan hanya duduk seperti kehilangan gairah, Si pegawai wanita memilih untuk masuk kamar. Jason melihat sekeliling lalu tersadar kalau Soo Ho tak ada dan masuk ke dalam, senyumanya terlihat senang dan bisa menebaknya. 

Nyonya Nam pulang dengan Manager Kim dan juga Sek Ah Ra dengan banyak tas belanja. Nyonya Nam ingin tahu apakahh manager Kim masih belum tahu dimana Soo Ho. Manager Kim mengaku belum
“Lanjutkan pertemuan dengansutradara Kim Sang Soo. Jadwalnya akan berubah jika Ji Soo Ho memulai acara radio.” Ucap Nyonya Nam
“Apa akan baik-baik saja?” kata Sek Ah panik. Nyonya Nam tak suka mendengarnya.
“Apa Kau hanya menanyakan hal itu? Aku memperlakukanmu dengan jauh lebih baik di banding perusahaan lain. Kenapa aku tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan?” keluh Nyonya Nam Sinis.
“Kalian berdua... Awasi Jin Tae Ri. Laporkan padaku jika kalian menemukan sesuatu. Kalian boleh pergi.” Kata Nyonya Nam, akhirnya Manager Kim pun memilih pergi.
“Jika kita tidak ingin Soo Ho melakukan acara radio, maka kita bisa membuat Song Geu Rim berhenti dari pekerjaannya. Apa Kau tahu bagaimana caranya?” ucap Nyonya Nam
“Dari apa yang aku lihat di surat pengajuan, ada tim yang bersaing melawan Soo Ho.” Kata Sek Ahn
“Apakah Nama penulisnya adalah La La Hee?” kata Nyonya Nam penuh rencana licik. 

Ra Hee mencari sesuatu dalam ruangan, seperti mencari informasi, tapi akhirnya mengeluh karena Tim Lee Kang pergi tamasya untuk membuat perencanaan dan tak tahu dengan nasib mereka, akan mengunakan  konsep apa.
“Kau sudah memikirkan siapa DJ nya, dan apa konsepnya?” ucap Ra Hee. Seung Goo pikir itu sudah pasti belum.
“Hei... Kau tidak memiliki kemampuan untuk merencanakan atau mengarahkan apapun?” ejek Ra Hee.
“Tolonglah, panggil aku dengan benar. Kebiasaan lamamu masih ada.” Balas Seung Goo.
“Kau bilang Kebiasaan lama? Haruskah aku membicarakan kebiasaan lama? “ keluh Ra Hee. Seung Goo hanya menatap sambil menghela nafas.
“Belakangan ini aku sering melihat warna-warna hijau untuk menenangkan kesabaranku. Jadi kita jangan berkelahi berbaik-baiklah, mengerti?” kata Ra Hee menatap cat kukunya yang berwarna hijau lalu mengangkat telp ternyata dari JH. 


Soo Ho pergi ke bagian loket Tiket, Geu Rim menemui seorang pegawai kalau meninggalkan tas laptopnya  di atas kapal yang ukuran sekitar 50cm x 30cm dan juga Ada boneka lucu yang menggantung di tas. Si pegawai seperti mengetahuinya lalu mengambil tasn dan berikan pada Geu Rim.  Geu Rim tersenyum bahagia dan mengucapkan Terima kasih.
“Apa kau yakin hanya ada satu perahu dalam sehari?” tanya Soo Ho didepan loket. Pegawai mengatakan tak ada.
“Bagaimana jika ada keadaan darurat, dan harus pergi dari pulau ini?” ucap Soo Ho. Si pegawai mengatakan Tidak bisa. Geu Rim akhirnya datang menemui Soo Ho.
“Syukurlah... Naskah yang akan kau baca ada disini.” Ucap Geu Rim penuh semangat. 

Keduanya duduk menunggu bus di halte. So Ho bertanya Apa itu sangat penting Geu Rim menjawab kalau itu sudah pasti, karena isi dalam laptopnya semua adalah naskah pertama yang ditulis
“ Dan aku tidak sempat membuat cadangan pada acara pertamamu. Jadi Kita selamat... Tapi... Kau tidak berencana untuk pulang, kan?” ucap Geu Rim. Soo Ho terlihat gugup.
“Kau bahkan tidak membawa barang-barangmu. Kau datang karena mengkhawatirkan aku kan?” ejek Geu Rim. Soo Ho mengelak.
“Aku tidak bisa pergi karena tidak ada perahu. Jangan berlebihan” kata Soo Ho. Geu Rim tak membahasnya karena melihat bus yang sudah datang.

Keduanya duduk terpisah, Soo Ho hanya menatap keluar jendela. Geu Rim yakin Pasti sudah lama sekali terakhir kali Soo Ho naik bus. Menurutnya Jika Soo Ho berada di dalam mobil, atau di van dengan jendela berwarna, maka tidak bisa melihat pemandangan seperti sekarang
“Mungkin butuh waktu lebih lama, tapi kapan lagi kau bisa menikmati pemandangan ini? Benar, kan?” komentar Geu Rim. Soo Ho menatap Geu Rim yang duduk jauh darinya.
Flash Back
Soo Ho mengingat dengan kejadian saat masih remaja, menatap Geu Rim duduk di dalam bus sambil menuliskan sesuatu pada embun yang ada dijendela. Senyuman terlihat sekali kalau Soo Ho bahagia hanya menatap Geu Rim.
Beberapa saat kemudian melihat Geu Rim yang tertidur pulas, Soo Ho merasa khawatir akhirnya duduk disampaing Geu Rim dan akhirnya Geu Rim menjatuhkan kepalanya di pundak Soo Hoo. Soo Ho sempat kaget lalu senang karena Geu Rim bersandar padanya. 


“Radio juga sangat lambat. Sama seperti bus yang lambat ini, sama seperti matahari terbenam yang mengikuti kita, sangat lambat. Itulah sebabnya aku suka radio.” Ucap Geu Rim dengan melihat kalau diluar semakin gelap.
Ia lalu bertanya pada sopir dimana mereka sekarang, Apa Donggong-ri masih jauh lagi. Sopir bus binggung Geu Rim yang menanyakan Donggong-ri, karena Itu arah yang berlawanan dan  Bus yang ke arah sana, sudah berhenti beroperasi hari ini. Keduanya hanya bisa melonggo kaget.

Keduanya turun dari bus, Soo Ho mengeluh dengan kekacauan yang terjadi bahkan selalu bersama..... memilih untuk tak melanjutkan. Geu Rim menyakinkan kalau tak perlu khawatir.
“Aku akan menghubungi PD-nim dan...” ucap Geu Rim, lalu tiba-tiba Soo Ho melihat Geu Rim kedingina memberikan syalnya. Geu Rim pun mengucapkan  Terima kasih.
“Aku akan menelponnya... Tapi... Kita ada dimana?” ucap Geu Rim dan melihat ada papan nama “Penginapan Sung Yi” 

Soo Ho berjalan masuk dan tiba-tiba dikagetkan dengan seorang kakek yang datang membawa senter. Geu Rim melihatnya langsung mendekat dan memastikan kalau baik-baik saja. Soo Ho mengaku baik-baik saja dan bertanya siapa kakek itu.
“Kau kembali... Kau akhirnya kembali.” Ucap si kakek melihat wajah Soo Ho. Geu Rim dan Soo Ho kebingungan.
“Terima kasih... Aku sudah... menunggu kedatanganmu setiap hari.” Kata si kakek seperti baru kembali melihat anaknya.
 Soo Ho masuk kamar melihat foto si kakek dengan anaknya, seperti mengetahui kalau itu alasanya. Sementara Geu Rim menelp Tuan Lee kalau sedang bersama Soo Ho sekarang, karena Ada sesuatu terjadi, jadi mampir ke suatu tempat.
“Dasar kau! Sekarang sudah jam berapa? Apa kau tahu betapa khawatirnya aku? Mengapa tidak menelepon?” ucap Tuan Lee marah
“Aku minta maaf. Setelah aku menemukan tasku, aku tidak sadar kalau malah salah naik bus.” Cerita Geu Rim
“Dimana? Apa alamatnya?” tanya Tuan Lee. Geu Rim seperti binggung menjelaskan keberadaanya. 

Soo Ho keluar dari kamarnya dan memakai sepatunya. Geu Rim menyudahi telpnya dengan Tuan Lee kalau akan menelp nanti.  Ia menahan Soo Ho pergi karena Setidaknya harus pamit padanya dulu. Si Kakek keluar rumah langsung melarangnya.
“Kau tidak boleh pergi!” ucap Si kakek berkali-kali melarang Soo Ho pergi.
“Dulu kau bilang kau akan kembali saat kau pergi, tapi kau tidak kembali lagi hingga sekarang. Jadi Kau tidak boleh pergi!” ucap Si kakek mengajak mereka masuk. Geu Rim pun tak bisa berkata-kata lagi.
 Tuan Lee menghela nafas setelah menerima telp Geu Rim. Jason keluar ruangan bertanya Apa Soo Ho sedang bersama dengan Penulis Song. Tuan Lee hanya diam saja. Jason ingin tahu apakah Soo Ho Sedang bersamanya atau tidak.  Tuan Lee memilih untuk pergi.


Kakek memberikan paha ayam untuk Soo Ho,  meminta agar mulai makan perlahan dan mencelupkan pada garam.  Geu Rim ingin ikut makan, tapi si kakek melarangnya, menyuruh agar  makan leher ayam saja karena Sangat lembut dan lezat.
“Omong-omong, apa Soo Ho sangat mirip seperti anakmu?” tanya Geu Rim
“Dia adalah anakku. Apa yang salah denganmu? Tapi Omong-omong, apa kau pacarnya anakku?” ucap si kakek
“Tidak, bukan... Aku bukan pacarnya.” Kata Geu Rim. Si kakek seperti senang lalu bertanya pada Soo Ho dengan ayamnya. Soo Ho mengaku kalau rasanya enak
“Kau akan menginap disini, kan?” ucap si paman. Geu Rim dan Soo Ho hanya saling berpandang.

Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar:

  1. Suka banget lihat tatapan matanya yoon dujun hehehe.....😍

    BalasHapus