Selasa, 04 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 13 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Sul Hee mengambil gambar Selfie jarinya setelah melakukan manipadi. Pegawai Choi melihat langsung berkomentar kalau Ponsel merah muda, kuku merah muda, dan wajah merah muda Sul Hee tampak serasi. Sul Hee pun tersipu malu mendengarnya.
“Dahulu ada jamur di kuku tanganku. Kini semuanya sudah hilang.” Jelas Pegawai Choi. Sul Hee mengangguk mengerti.
“Kukuku menjadi sedikit miring dan aku terlalu malu untuk berjabat tangan dengan para pembeli. Aku sebenarnya jarang melakukannya, hanya sesekali. Jadi Bisakah kau merahasiakannya?” kata Pegawai Choi mengarahkan jari kelingking untuk berjanji.
“Tidak perlu janji jari kelingking. Aku tidak akan membocorkannya.” Kata Sul Hee.
“Begitu rupanya, tapi aku telanjur menunggu.” Ucap Pegawai Choi. Akhirnya Sul Hee pun mengulurkan jari kelingkingnya.

Saat itu Joo Man berjalan melihat keduanya saling bersentuhan jari kelingking. Sul Hee berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun kalau kukunya sedang di obati karena jamur kuku dan Akan dirahasiakan. Pegawai Choi memberitahu kalau Sekarang kukunya sudah tidak berjamur dan hanya. 
Sul Hee menyela kalau sudah mengerti, Joo Man terus melihat keduanya yang terlihat akrab berbicara dengan mendekatkan jari kelingking. Sul Hee merasa kalau Kukunya pendek dan jelek. Pegawai Choi pikir kalau kuku Sul Hee cantik bahkan jarinya juga. Sul Hee tersipu malu mendengarnya. Pegawai Choi bahkan berani memuji kalau Seluruh diri Sul Hee cantik. bahkan mengingat namanya. Joo Man melihat dari kejauhan tak bisa menahan rasa sedihnya memilih untuk masuk. 

Joo Man masuk ke dalam lift,  teringat kembali saat bersama Sul Hee diam-diam merek saling bergandengan tangan dan buru-buru melepaskan tangan ketika ada pegawai lain yang datang. Saat pintu terbuka, Ye Jin masuk lift dan langsung meminta maaf pada Joo Man karena itu salahnya kemarin.
“Ye Jin... Maukah keluar untuk minum-minum?” ucap Joo Man. Ye Jin sedikit kaget mendengarnya. 

Dong Man mulai berlatih dengan John, seperti tak kuat melawat tehnik si pria brazil. Jhon menyuruh Dong Man agar berdiri dan memperlihatkan kemampuanya. Dong Man pun mencoba melawan tapi malah kena pitingan dibagian tangan dan meminta agar melepaskan karena sudah menyerah.
Tapi Jhon tetap memitingnya menyuruh Dong Man agar Jangan menyerah, Dong Man terus berkata kalau sudah menyerah. John menegaksan kalau Jangan menyerah jika bertarung dengannya. Dong Man tetap mengaku sudah menyerah. Akhirnya John melepaskan tanganya. Dong Man pun memegang tangan yang kesakitan.
“Coba Lihat dia, Pelatih... Dia terus menyerangku meski aku sudah menyerah. Dia bisa membunuhku dan tidak segan-segan.” Keluh Dong Man
“Jika memang sakit, coba ucapkan dalam bahasa Inggris... Kamu tidak bisa bahasa Inggris jadi Hadapilah. Aku tidak bisa membantumu.” Kata Pelatih Hwang berdiri diluar ring.
“Kenapa atlet tidak disuruh untuk belajar saat sekolah? Dia seharusnya disokong oleh negaranya.” Keluh Dong Man
“Dong Man, kamu akan menguasai tiga teknik kuncian dalam dua bulan.” Kata John dengan bahasa ingrisnya. Dong Man hanya mengerti tiga lalu mengangguk setuju. 

Joo Man dan Ye Jin duduk bersama di restoran ayam, Ye Jin mengaku  bersalah atas perpisahan keduanya  dan juga bimbang karena dirinya, bahkan  Mungkin sulit bagi Joo Man sekarang, tapi tetap akan menunggunya.
“Ye Jin... Setelah sekian lama, mungkin aku akan bertemu wanita selain Sul Hee. Meskipun begitu, bukan kau orangnya.” Kata Joo Man. Ye Jin kaget mendengarnya dan ingin tahu alasanya.
“Kau akan terus mengingatkanku padanya, jadi, mana bisa kita berhubungan?” ucap Joo Man. Ye Jin tak mengerti maksud Joo Man
“Bukannya kita tidak bisa berhubungan karena dia.” Kata Ye Jin
“Aku bimbang karena Sul Hee, Kau mengingatkanku kepada Sul Hee dahulu. Saat kau merusak mesin fotokopi, terlibat kecelakaan, dan rokmu sobek saat kau mabuk, aku tidak bisa mengabaikanmu.” Cerita Joo Man. 


Flash Back
Sul Hee dengan sedih mengatakan kalau sudah merusakanya lagi dan menangis karena selalu menyebabkan masalah. Ye Jin pun melakukan hal yang sama saat didepan mesin foto kopi.  Disaat menyatakan perasaanya, Sul Hee blak-blakan mengatakan pada Joo Man dan saat itu mereka berciuman.  Ye Jin juga mengatakan hal yang sama dilakukan Sul Hee dengan blak-blakan mengakui perasaanya.
“Jadi, bukan karena kau menyukaiku? Apa itu alasannya?” ucap Ye Jin tak percaya
“Itu kesalahanku. Aku putus dengan Sul Hee, tapi aku tidak berniat berhubungan denganmu. Karena inilah aku ingin bicara denganmu.” Jelas Joo Man. 

Dong Man dan Ae Ra duduk bersama, terlihat saling memberikan perhatian. Pelatih Hwang membawakan makanan berbisik pada Dong Man kalau Jangan berkencan di truk makanan. Akhirnya Dong Man memberitahu kalau  Tanggalnya sudah ditetapkan. Di depan keduanya Jhon asik menikmati Sundae.
“Tahun depan, aku akan berumur 30 tahun. Aku harus menutup usia 20-an dengan menjalani ambisiku. Itulah yang kupikirkan. Tidak ada jaminan aku akan makin hebat tahun depan. Aku akan mencoba sesuatu.” Kata Dong Man menyakinkanya. Ae Ra hanya menatap Dong Man lalu mulai memperlihatkan gaya Aegyonya.
“Ae Ra tidak menyukainya... Aku tidak mau kau melakukannya. Jangan mengungkit ambisi. Itu omong kosong. “ ungkap Ae Ra dengan gaya Aegyonya. Ketiga pria yang mendengarnya hanya bisa melonggo mendengar tingkan Ae Ra.
“Dong Man sedih... Ae Ra terus melarang Dong Man untuk bertarung. Itu membuatku sedih. Aku kesal sekali.” Ungkap Dong Man tak mau kalah memperlihatkan Aegyonya.
Kali ini Pelatih Hwang dan Jhon melonggo karena Dong Man memperlihatkan Aegyonya. Dengan penjelasan "Dong Man marah karena Ae Ra melarangnya bertarung”. Pelatih Hwang yang kesal memberitahu Dong Man kalau sedang memegang pisau. Saat itu Joo Man baru saja pulang, Ae Ra buru-buru pamit pergi seperti tak ingin bertemu dengan Dong Man. 


Ae Ra pulang melihat pesan masu ke dalam ponselnya "Hasil wawancara pembaca berita Cheongju KBC Anda lulus wawancara kedua" Ae Ra malah binggung Kenapa mereka meluluskannya padahal sebelumnya  sudah mengacaukannya, Kyung Joo tiba-tiba datang mengagetkan Ae Ra. Ae ra langsung bertanya ada apa. Kyung Joo terlihat gugup.
“Ada apa?” tanya Ae Ra ingin tahu. Kyung Joo mengaku kalau Alamat ini ada di GPS.
“Dong Man mengisi acara itu, tapi aku tidak memberinya kupon hadiah. Aku mendapatkan alamatnya untuk mengirimnya lewat pos. Jadi, aku ingin berbicara dengannya.” Jelas Kyung Joo. Ae Ra ingin tahu mengenai apa.
“Dia tidak akan mengisi acaramu.” Tegas Ae Ra. Kyung Joo memberikan keranjang buah agar Ae Ra menerimanya.
“Ini buah-buahan. Ada stroberi juga dan Kau menyukai stroberi.” Kata Kyung Joo.
Ae Ra mengingat saat Kyung Joo menunggunya dengan hujan yang turun membawa sekotak buah. Lalu menegaskan kalau Sejak hari itu, tidak makan stroberi lagi. Kyung Joo mengaku kalau tidak sama seperti dahulu lagi dan sangat ingin bertemu dengan Ae Ra dan Dong Man.
“Aku tidak percaya manusia bisa berubah. Jangan pernah kembali lagi.” Tegas Ae Ra lalu memilih untuk pergi. Kyung Joo melihat sikap Ae Ra benar-benar membuatnya kesal.
Akhirnya Ia menelp seseorang mengatakan  tayangkan saja siarannya dan akan mengurusnya jadi Lakukan saja.


Dong Man melihat Joo Man yang duduk disampingnya, lalu meminta agar  Jangan menangis karena akan mengejek sampai cucu ketiga dewasa. Joo Man hanya diam saja.  Dong Man ingin tahu ada apa dan Kenapa, apakah Joo Man merasa ingin mati dan Apa seluruh dunianya terasa hancur.
“Orang bilang manusia punya diafragma, tapi manusia tidak merasakan atau punya masalah dengan itu. Jadi, kita tidak tahu diafragma itu ada. Kini seolah diafragmaku menghilang. Aku tidak bisa bernapas...” ungkap Joo Man
“Kenapa kau menyinggung diafragmamu? Memang kamu kuliah kedokteran?” keluh Dong Man 
“Manusia mati tanpa diafragma. Itu menakutkan.” Jelas Joo Man. Pelatih Hwang memeluk Joo Man merasa sangat mengerti, Dong Man mengejek pelatih Hwang agar Jangan berlagak tahu.
“Diafragma. Aku paham rasanya.” Ungkap pelatih Hwang. Dong Man mengejek kalau Pelatih Hwang tidak paham dan tidak pernah punya pacar.
Pelatih Hwang kesal mendengarnya dengan menegaskan bahwa juga bisa melakukannya dan menyukainya. Dong Man malah semakin yakin kalau Pelatih Hwang tidak mengerti dan selalu sendiri. Pelatih Hwang tak ingin bertengkar mengajak mereka semua minum termasuk Jhon.


Ae Ra duduk di pinggir tempat tidur, Dong Man duduk dimeja makan. Lalu Ae Ra mengeluh yang dilakukan Dong Man dan mengaku  lapar. Dong Man meminta agar Ae Ra itu  bernyali seperti biasanya dan bersikapTenanglah dan dukungnya.
“Aku tidak pernah tenang. Saat membayangkan kau dipukuli oleh Tak Su, maka aku merasa mual. Aku berharap kamu tidak melakukannya. Kau sudah memulai hidup baru dan melupakan Tak Su. Jangan melawan Tak Su lagi.” Pinta Ae Ra
“Aku tidak pernah melupakannya satu hari pun. Aku berpura-pura lupa dengan melakukan banyak pekerjaan aneh. Meskipun aku sangat lelah, tapi aku terus memimpikan kejadian tanggal 3 November 2007. Aku selalu berada di pertandingan itu. Aku selalu kalah. Aku terjatuh dan tidak bangkit lagi.” Ungkap Dong Man. Ae Ra kesal mendengarnya.
“Saat kubuka mataku, aku bersikap seolah aku baik-baik saja, lalu aku bekerja. Aku hanya terus berputar-putar di dalam akuarium. Aku bersikap seolah tidak berpikir. Aku hanya keluar untuk mencari makan.” Cerita Dong Man.
Ae Ra merasa Dong Man adalah orang bodoh terbaik yang dikenal dan kesal Dong Man yang tak memberitahu kalau menderita selama ini.  Dong man menegaskan kalau butuh waktu sepuluh tahun untuk kembali ke ring jadi meminta Ae Ra agar membiarkan melakukanya. Ae Ra mengeluh Dong Man memang sungguh menyebalkan.
“Kenapa aku harus pindah ke Seosan? Seharusnya kita pindah ke Dangjin.” Keluh  Ae Ra. 


Ae Ra berkomentar kalau Sul Hee memang jika ingin berhenti, keluar saja dan tinggal menelp lalu keluar dari kantor, serta akan  bertemu dalam waktu satu jam menemuinya.
“Seandainya kamu pria” ungkap Sul Hee menyangkanya. Ae Ra meminta agar Sul Hee bisa cepat.
“Omong-omong, Ae Ra... Sebaiknya kalian berdua tidak berpacaran... Pria dan wanita berubah. Aku tidak ingin kalian berdua menjadi seperti kami. Bagiku, kalian tampak sangat manis.” Kata Sul Hee selesai memilih roti dan Ae Ra pun hanya bisa diam saja. 

Ae Ra mengoleskan selai pada Roti, lalu memberikan Dong Man yang sedang tertidur. Dong Man mengunyah roti lalu membentangkan tanganya, Ae Ra melihat Dong Man ingin mendekat memperingatakan agar Jangan macam-macam. Dong Man merengek agar Ae Ra segera mendekat.  Ae Ra akhirnya mendekat Dong Man dengan saling berpelukan diatas tempat tidur.
“Bagaimana kabar Sul Hee?” tanya Dong Man. Ae Ra berkata kalau Sul Hee pergi ke kantor. Dong Man ingin tahu keadaanya. Ae Ra mengatakan sudah pasti tak baik-baik saja.
“Aku kasihan padanya dan tidak bisa menceritakan soal kita kepadanya.”ucap Ae Ra. Dong Man juga mengaku tidak bisa memberi tahu Joo Man.
“Apa rencanamu soal Jang Kyung Koo?” tanya Ae Ra. Dong Man mengatakan  akan bicara langsung kepadanya dan menolaknya.
“Bagaimana dengan Tak Su?” tanya Ae Ra. Dong Man hanya menjawab dengan ciuman. Ae Ra mengeluh kalau tidak minta dicium. Dong Man bertanya apakah Ae Ra hari ini ada wawancara dan sungguh ingin melakukannya. Ae Ra memperingatkan Dong man Jangan mengalihkan pembicaraan.
“Jika kau benar-benar melawannya, aku tidak akan menemuimu lagi dan Tidak ada lagi ciuman. Hubungan kita akan berakhir.” Tegas Ae Ra
“Kau tidak perlu melakukan apa pun untukku.” Kata Dong Man lalu membanjiri ciuman pada Ae Ra. 


Ae Ra sudah siap pergi, Nam Il tiba-tiba sudah ada didepan mobil menyuruh Ae Ra untuk Naik karena akan mengantarnya. Ae Ra pikir Nam Il yang tidak tahu tujuannya. Nam Il pun tak peduli karena akan tetap mengantarnya. Ae Ra binggung ingin tahu alasanya.
“Aku tertarik padamu.” Tegas Ae Ra sudah menolaknya.
“Ini menggangguku, tapi juga menarik.” Ungkap Nam Il blak-blakan.
“Kau harus tahu bahwa kekasihku seorang petarung. Selain itu, aku orang gila. Dan juga aku tidak suka pria yang tampan dan kasar.” Tegas Ae Ra.
“Apa Aku ini tampan?” kata Nam Il mengoda. Ae Ra hanya menatapnya karena memang sempat terkesima.
“Pokoknya, aku tidak tertarik padamu” tegas Ae Ra.
“Kau tidak pernah tahu. Kau mungkin akhirnya akan menyukaiku selamanya.” Balas Nam Il seperti sangat yakin. Ae Ra merasa kalau Nam Il sedang mabuk lalu berjalan pergi. 


Ae Ra menjalani tes dengan memandu acara turnamen MMA Korea mengunakan bahasa inggris, semua juri didepanya melihat Ae Ra yang lancar membawakan acara.  Lalu ia melakukan tes wawancara.
“Pewarta ring yang harus mengucapkan kata-kata pertama harus bersemangat, tidak seperti yang lain.” ucap Ae Ra dengan penuh keyakinan. 

Joo Man berbaring dengan tangan menutupi matanya, pesan masuk ke dalam pesan dari Sul Hee “Aku butuh barang-barangku...” Lalu akhirnya Joo Man membereskan barang-barang milik Sul Hee dalam kardus.
Flash Back
Joo Man mengingat saat berbaring di paha Sul Hee akan menyemprotnyagaram bambu yang bagus untuk rinitis. Lalu Joo Man menjerit kesakitan saat Sul Hee menyemportkan pada hidungnya.
“Aku hanya ingin menikmati hal-hal kecil bersamamu. Pasti akan menyenangkan...” ungkap Sul Hee
“Kau bilang Hal-hal kecil? Hal-hal kecil... Kenapa kebahagiaan harus begitu kecil?” ucap Dong Man tak Suka mendengarnya.
“Sul Hee bilang, hal-hal kecil membuatnya bahagia. Pengorbanannya baik dan itu tidak sepele.” Ungkap Joo Man menangis tersedu-sedu. 

Joo Man menekan bel rumah lalu Sul Hee keluar dari rumah dan memberikan kotak barang milik Sul Hee dan meminta agar menjelaskan karena hanya itu saja yang mengisi seluruh ruangan. Sul Hee dibuat binggung.
“Bisa dibilang kau tinggal bersamaku. Kenapa hanya ini yang kamu punya? Kau hanya mengenakan kaus usangku, tapi kenapa kamu hanya memakai sampel gratis? Aku benci kamu melakukan ini! Melihatmu melakukan ini membuatku ingin dipromosikan, bekerja lebih keras, dan menambah jam kerja agar kau tidak akan bersikap seolah begitu miskin.” Kata Joo Man kesal
“Apa aku pernah memintanya? Apa aku bilang itu penting?” tegas Sul Hee.
“Itu tidak penting bagimu, tapi penting bagiku!” tegas Joo Man. Sul Hee tahu kalau itu Pasti itu penting dan akan masuk ke dalam rumah.
“.Teman-teman penulis blogmu tinggal di rumah yang bagus, punya bak cuci yang bagus dan memanggang kue di oven yang bagus. Kau juga menuliskan komentar bahwa rumah mereka bagus.” Ungkap Joo Man sebelum Sul Hee masuk rumah.
“Pernahkah aku bilang bahwa aku iri pada mereka?” tegas Sul Hee.
“Aku hanya membencinya Karena itulah aku membangun semua bisnis dengan barang populer itu dan bekerja keras agar naik jabatan.” Balsa Joo Man
“Sepertinya aku hanya beban bagimu. Karena itukah kau menunda pernikahan kita selama enam tahun?” ucap Sul Hee. 

Joo Man menegaskan mana mungkin bisa membuat harus tinggal di apartemen studio bahkan taka tahu dan tidak sanggup memberimu yang terbaik, tapi setidaknya ingin memberi pada Sul Hee yang cukup layak. Menurutnya Harga dirinya sangat terluka untuk mengatakan hal menyedihkan seperti ini, tapi Ia ingin punya minimal sewa tahunan.
“Aku sudah membanting tulang selama enam tahun, tapi "cukup layak" itu terlalu sulit diraih.” Tegas Joo Man lalu pergi menaiki tangga. Sul Hee hanya berdiri didepan rumahnya. 

Bibi Ganako melihat foto kenangaan, Saat Ae Ra, Dong Man dan Sul HEe masih kecil. Lalu terdengar suara bel, Bibi Ganako berpikir kalau Nam Il yang datang.
Ae Ra dan Dong Man keluar rumah mengambil pesanan jajangmyung dan babi asam manis. Ae Ra melihat didepan pintu melihat bekas mangkuk dan bertanya kenapa kurir tidak pernah mengambil mangkuk dari lantai atas. Si kurir mengaku selalu mengambilnya dan memesan setiap hari. Dong Man heran Ae Ra yang menanyakan hal itu
“Jika kalian saling kenal, maukah kalian memesan bersama? Dia selalu memesan hanya satu mangkuk.” Keluh si kurir. Ae Ra bertanya apakah si kuris pernah melihatnya.
“Dia membayar di aplikasi dan menyuruh untuk menaruhnya dan Beberapa hari ini dia belum memesan.”ucap si kurir. Dong Man seperti tak peduli mengajak Ae Ra aga segera masuk saja.


Bibi Ganako membuka pintu kaget melihat Ayah Ae Ra yang datang ke rumahnya. Keduanya minum teh bersama di dalam rumah, Tuan Choi sangat marah dengan yang dilakukan bibi Ganako  karena sebelumnya bilang tidak akan pernah kembali.
“Aku tidak pernah berencana untuk kembali. Tapi Bayangkan betapa buruknya perbuatanku.” Ungkap Bibi Ganako dan saat itu terdengar suara bel rumah. 

Ae Ra membawa mangku ke atas meja memberitahu mendapat pesan dari KBC Cheongjuuntuk tahap akhir wawancara dan  RFC juga menelepon kalau masuk tahap akhir. Dong Man pikir Mungkin sebaiknya mereka merayakannya malam ini. Ae Ra memberitahu kalau keduanya di hari Jumat. Dong Man pun ingin tahu rencana Ae Ra.
“Entahlah... Aku harus memikirkannya.” Ucap Ae Ra lalu memisahkan beberapa potong daging pada piring.
“Apa itu untuk Sul Hee?” tanya Dong Man kaget. Ae Ra memberitahu kalau Sul Hee sedang tidak enak badan.
Dong Man pun menanyakan nasib Joo Man. Ae Ra kesal untuk apa membawakan makanan lalu memisahkan mangkuk lain.  Dong Man memikirkan sesuatu, lalu Ae Ra membenarkan kalau makanan ini untuk wanita di lantai atas.

Bibi Ganako kaget saat melihat Ayah Dong Man yang datang ke rumahnya. Tuan Ko mengeluh dengan yang dilakukan Bibi Ganako karena harus tinggal di dekat rumah anaknya, Saat itu Tuan Choi keluar dari persembunyianya. Bibi Ganako dibuat binggung kedatangan keduanya.
Saat itu terdengar suara bunyi bel, Tuan Choi makin kesal bertanya Sekarang siapa lagi. Saat itu terdengar suara Dong Man dan Ae Ra yang memanggil dari depan pintu. Ketiganya hanya diam saja, Dong Man pikir Bibi Ganako sedang keluar. Tuan Choi pikir mereka harus berpura-pura tidak ada orang di rumah lalu mematikan lampu.
Bibi Ganako terlambat melarang Tuan Choi tak melakukanya. Dong Man dan Ae Ra pun melihat lampu mati kalau ada di rumah dan baru saja mematikan lampu lalu berpikir kalau belnya rusak.
“Bibi... Ada kiriman.” Teriak Dong Man. Saat itu Bibi Ganako membuka pintu langsung bertanya ada apa datang.
“Izinkan aku membawa ini ke dalam.” Kata Dong Man lalu segera masuk tanpa bisa Bibi Ganako melarangnya.
“Memesan satu hidangan saja sangatlah aneh.” Ucap Ae Ra. Bibi Ganako pikir tidak pernah meminta ini.
“Apa Kau suka menuang atau mencelupkannya?” tanya Dong Man. Bibi Ganako menjawab kalau suka Menuang.
Dong Man mengangguk mengerti lalu terdengar suara Bibi Ganako panik. Lalu Dong Man berpikir kalau ada orang lainya. Bibi Ganako berpikir tak mungkin ada yang lain. Ae Ra bertanya apakah Nam Il tidak di rumah. Bibi Ganako ingin membenarkan tapi Nam Il tiba-tiba masuk kamar. Nam Il heran melihat Dong Man dan Ae Ra ada didalam rumahnya lalu melihat ada banyak sepatu didepan rumah.
Dong Man akhirnya menyuruh mereka semua diam, karena yakin ada seseorang dalam rumah. Bibi Ganako panik. Dalam persembunyianya, Tuan Ko berkomentar tak mengerti dan harus bersembunyi bersama Tuan Choi membuat Harga dirinya terluka.Tuan Choi mengaku juga seperti itu.
Bibi Ganako yang panik menyuruh mereka pergi saja karena sudah mengantarkannya, Dong Man mengambil stick Golf memberitahu kalau Belakangan ini terjadi perampokan di sekitar lingkungan dan sudah siap untuk memukulnya. Bibi Ganako makin pamit. 




Epilog
Dong Man melihat Ae Ra yang sudah tidur pulas lalu sengaja memencet hidung agar tak bisa bernafas tapi Ae ra masih saja tertidur pulas. Ia mengeluh Naluri bertahan hidupnya luar biasa dan kenapa tidak pulang saja untuk tidur bahkan membuatnya tersiksa. Ae Ra terbangun dan langsung memeluk Dong Man semakn tertidur pulas. 

Dong Man menjauhkan nyamuk dari wajah Ae Ra yang tertidur dan mengeluh karena tertidur di mana pun dengan mudahnya,lalu sengaja menutup hidungnya tapi Ae Ra tetap saja tertidur pulas. Dong Man bertanya apakah Ae ra tidak mau pulang dan berteriak agar bangun.
“Kamu akan digigit nyamuk!” teriak Dong Man lalu menepuk kepala Ae Ra yang terkena nyamuk. Dan Ae Ra tetap tertidur pulas tanpa terganggu.
Bersambung ke episode 14

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

1 komentar:

  1. Lagu yg wkt dong man mengira ada maling itu judulny apa??

    BalasHapus