Minggu, 23 Juli 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 40

PS : All images credit and content copyright : SBS

Bong Hee menuruni tangga merasa terlalu pagi untuk sampai kantornya, sementara Ji Wook akan sedikit terlambat. Bong Hee pun menyuruh Ji Wook segera pergi dan berharap semoga semuanya lancar. Ji Wook akan pergi, tapi kembali masuk memberikan ciuman selamat pagi untuk Bong Hee.
“Kau ini Ciuman selamat pagi?” ucap Bong Hee agak kaget. Ji Wook pun keluar dari rumah dengan senyuman bahagia. 
Bong Hee dan Ji Wook saling menelp di tempat yang berbeda, keduanya saling membahas yang terjadi dalam satu hari. Ji Wook menceritakan ada banyak rapat di luar kantor lalu saat kembali ke kantor disambut oleh setumpuk besar dokumen.
“Omong-omong.., kantornya terasa kosong tanpamu.” Ungkap Bong Hee. Ji Wook piki memang seperti itu dan ingin tahu warna favorit Bong Hee. Bong Hee mengaku menyukai warna biru lalu merubahnya jadi warna merah.
“Wah, aku tidak tahu kau adalah perempuan.” Ejek Ji Wook
“Kami menghabiskan malam dengan telepon membicarakan hal tak berguna.” 
Bong Hee datang ke kantor saat Ji Wook menuruni tangga untuk pergi ke kantor kejaksaan, mereka pun memberikan ciuman selamat pagi. Ji Wook pun menawarkan agar Bong Hee tinggal di rumanya seperti sebelumnya. Bong Hee menolak karena menurutnya nanti tak ada ketegangan.
“Semoga harimu baik di kantor.” Ucap Bong Hee. Ji Wook pun kesal dengan alasan Bong Hee tentang ketegangan dalam hubungan mereka, lalu kembali memberikan ciuman di kening Bong Hee. 
“Rasanya sedih untuk mengatakan selamat tinggal saat kami bertemu.” 
Mereka duduk bersama dilantai atas, sambil mendengarkan musik dan mengenggam tangan. Keduanya lalu  menonton film hitam putih bersama dan tertawa bahagia. Esok paginya mereka kembali tertidur disofa sama seperti yang dilakukan sebelumnya.
“Aku adalah kau.., dan kau adalah aku. Setiap hari jadi sempurna bersamamu.”

Eun Hyuk berjalan di taman melihat Yoo Jung dari kejauhan dengan wajah sedih. Yoo Jung melihat Eun Hyuk berusaha untuk kabur, tapi akhirnya memutuskan untuk tetap berjalan dan berpura-pura sibuk, lalu terkejut saat melihat Eun Hyuk sudah ada di depanya.
“Cuaca hari ini bagus.” Ungkap Yoo Jung basi-basi. Eun Hyuk pikir hari ini panas dan lembab. Yoo Jung terlihat makin serba salah.
“Kurasa sudah mau musim panas.” Kata Yoo Jung kembali. Eun Hyuk pikir memang sudah musim panas.
“Aku sibuk,  jadi tidak tahu sekarang musim apa.” Ungkap Yoo Jung makin serba salah dan memilih untuk pamit pergi saja. Eun Hyuk langsung menahan Yoo Jung pergi.
“Yoo Jung... Mari kita bicarakan tentang kita.” Ucap Eun Hyuk. Yoo Jung menganguk setuju. 


Keduanya duduk di kantin, dengan Yoo Jung yang hanya bisa tertunduk dan Eun Hyuk menatapnya. Yoo Jung akhirnya meminta maaf atas kejadian hari itu dan meminta agar menganggap sebagai kesalahan, menurutanya Saat itu sedang berpikiran lemah.
“Jadi Itu adalah kesalahan bagimu ? Tapi bukan bagiku. Aku bersungguh-sungguh. Sebenarnya.., aku sudah punya perasaan sejak lama.” Akui Eun Hyuk 

Flash Back
Eun Hyuk membawa sebuket bunga dan sudah siap untuk menyatakan perasaan pada Yoo Jung dengan terus berlatih, lalu saat didepan rumah kaget melihat Yoo Jung yang menyatakan cintanya pada Ji Wook.
“Aku mencoba untuk berhenti punya perasaan padamu. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk melakukan itu. Tapi aku... selalu berakhir melihatmu seperti ini, Yoo Jung. Jadi, meski itu adalah kesalahan... dan kau berpikiran lemah, aku tak peduli. Tolong sukai aku, Yoo Jung.” Ungkap Eun Hyuk. Yoo Jung terlihat gugup.
“Aku masih tidak tahu... ...perasaanku kepadamu. Aku sungguh menyukaimu.., tapi aku bingung apakah aku menyukaimu sebagai teman atau sebagai pria. Apa itu akan tetap baik-baik saja bagimu?” kata Yoo Jung
“Itu saja sudah cukup bagiku.” Ucap Eun Hyuk. Yoo Jung mengeluh kalau Eun Hyuk itu memiliki kemauan yang sangat kecil.
Eun Hyuk pikir dirinya itu mendapat lebih dari yang layak didapatkan. Yoo Jung pun mulai tersenyum dan Eun Hyuk menyuruh Yoo Jung untuk segera makan. 

Bong Hee menemui klien yang memukul suaminya, dan ingin tahu alasanya.
Flash Back
Seorang pria sedan asik bermain ponselnya dengan tawa bahagia dalam kamar. Istrinya masuk memberitahu kalau makanan sudah siap. Suaminya mengerti tapi tetap saja tertawa bahagia dengan ponselnya. Sang istri yang kesal  akhirnya memukul kepala suaminya dengan pemukul baseball, dan membuatnya tak sadarkan diri. 

Ji Wook sebagai jaksa kaget melihat kasusnya, kalau sang istri memukul kepala bagian belakang suami dengan pemukul baseball. Sang istri membenarkannya,  Bong Hee membela kalau klienya itu hanya memukulnya sekali.
“Karena pemukul baseball itu termasuk dalam daftar benda berbahaya..,menurut Pasal 258 Ayat 2 Hukum Pidana.., ini bisa dianggap sebagai kejahatan besar. Dengan dakwaan ini, kau mungkin bisa dipenjara. minimum 1 tahun dan maksimal 10 tahun.” Ucap Ji Wook
“Kalau begitu, apa aku harus dipenjara?” kata Si bibi khawatir.
“Kau mungkin saja diberi masa percobaan” ucap Bong Hee. Dan Ji Wook pikir juga Mungkin tidak dan ingin tahu alasanya.
“Suamiku selingkuh. Aku memukul kepalanya secara impulsif.” Cerita istrinya.
“Tapi tetap saja, itu tidak memberikan alasan bagimu untuk melakukan tindakah itu.” Ungkap Ji Wook


Si bibi pun hanya bisa tertunduk meminta maaf, Bong Hee pikir Lukanya kecil dan klienya itu memberi alasan logis untuk tindakannya selain itu mereka juga memiliki surat pernyataan dari korban bahwa dia tidak ingin istrinya dihukum menurutnya itu sudah cukup untuk mendapatkan masa percobaannya, Ji Wook pikir kalau bukan ia yang memutuskanya.
“Jadi, kapan... perselingkuhan suamimu dimulai?” tanya Ji Wook. Si bibi menjawab kalau Itu dimulai Juli 1987. Ji Wook dan Bong Hee kaget mendengarnya.
“Apa Kau mengatakan dimulai Juli 1987?” ucap Ji Wook memastikan kalau tak salah dengar. Si bibi membenarkan.
“Itu terjadi 30 tahun lalu. Karena syok dan marah saat itu.., meninggalkan pemukul baseball tanpa menyadari apa yang sudah dia lakukan. Aku sudah lama bertahan hidup menderita dengannya.” Ungkap Sang istri.
Ji Wook berusah mengerti kalau  Perselingkuhannya terjadi 30 tahun yang lalu dan bertahan dengannya.

Ji Wook dan Bong Hee berjalan ditaman, Bong Hee bertanya apakah Ji Wook tidak bisa paham dengan klienya itu, menurutnya ia  sedikit memahaminya. Ji Wook pun tidak tahu dan merasa tidak bisa memahaminya.
“Dengarkan aku. Itu terjadi 30 tahun lalu. Jika perselingkuhannya membuat trauma dan meninggalkan rasa sakit yang dalam.., dia harusnya menyelesaikannya saat itu, entah dia cerai atau memukulnya.” Ungkap Ji Wook
“Dia pasti ingin melakukan itu, tapi mungkin dia tidak bisa. Mungkin dia bertahan dengannya demi kebaikan anak-anaknya. Atau secara finansial, dia masih belum bisa melakukan itu. .” Ucap Bong Hee.
“Meski itu benar, inilah keputusannya “ komentar Ji Wook. Bong Hee pikir Itu bukan keputusannya. Ji Wook pun ingin tahu apa keputusannya?
“Bagaimanapun, pikirkan betapa hancur dan sedihnya dia karena memukulnya setelah 30 tahun. Aku yakin dia merasa sedih.” Ungkap Bong Hee.

“Terlepas dari alasannya, ini adalah kekerasan. Ini tidak benar.” Komentar Ji Wook.
“Aku tidak bermaksud membenarkan tindakannya. Poin di sini adalah dia pasti sudah merasa menyedihkan.” Ungkap Bong Hee.
“Kenapa dia menahan dendam selama 30 tahun? Katakan bahwa dia tidak bisa menceraikannya karena alasan keuangan. Lalu, dia pasti sudah sangat marah kepadanya.” Jelas Ji Wook
Bong Hee pikir Ini tidak sesederhana seperti yang dikatakan Ji Wook,  menurutnya klienya itu sudah mencoba bertahan dengan suaminta tapi tidak bisa dan mengamuk. Ji Wook pikir Kenapa dia mengamuk, menurutnya.. Bong Hee langsung menghentikan perdebatan dengan mengatakan kalau sangat mengerti.

“Klienku membuat kesalahan. Dia sudah melakukan hal yang buruk.” Kata Bong Hee dengan nada sedikt tinggi.
“Maksudku adalah... itu bisa berkembang menjadi pembunuhan dalam keluarga. Kurasa kau langsung lompat ke kesimpulan.” Jelas Ji Wook
“Kau membuat klienku jadi pembunuh karena dia memukul dengan stick baseball sekali.” Kata Bong Hee. Ji Wook pikir bukan seperti itu maksudnya.
“Sangat sulit dimengerti bagiku kenapa kita harus bertengkar karena ini. Bong Hee, ini tak ada sangkut pautnya dengan kita. Selain itu, kita tidak menyimpan perasaan terluka. Kita tidak pernah berkelahi karena itu.” Ucap Ji Wook memegang tangan Bong Hee.

Bong Hee melepaskan tangan Ji Wook bertanya apa yang membuat berpikir seperti itu.  Ji Wook bertanya apakah Bong Hee punya perasaan yang terluka. Bong Hee mengaku Pada saat Ji Wook menghindari ciumannya. 
Flash Back
Bong Hee yang ingin memberikan ciuman setelah membawa jus, dan Ji Wook langsung menghindarinya karena kegalauan dirinya.
Bong Hee pikir Ji Wook itu tak tahu perasaanya saat itu, Ji Wook terlihat gugup berusaha menjelaskanya. Tapi Bong Hee mengaku merasa bisa mengerti dengan perasaannya kala itu tapi menurutnya kapan pun memikirkannya, masih membuatnya kecewa.
“Awasi kepalamu... Dendamku mungkin bisa meledak 30 tahun yang akan datang.” Pesan Bong Hee lalu beranjak pergi. Ji Wook mengejarnya meminta agar menunggunya. 

Ji Wook dkk berjalan bersama, Tuan Byun bertanya-tanya pada Ji Wook yang kelihatan murung hari ini. Eun Hyuk pikir Ji Wook sedang bertengkar Bong Hee. Tuan Bang meminta agar Eun Hyuk untuk diam saja. Tuan Byun bertanya kesalahan apa yang dibuat Ji Wook.
“Itu... Aku tahu yang kulakukan salah.., ...tapi pada saat yang sama, aku tidak bisa benar-benar paham apa yang kulakukan salah.” Ucap Ji Wook
“Karena itulah aku tidak bisa berkencan dengan siapapun. Sangat sulit mengerti kemauan wanita.” Ungkap Tuan Bang
“Hei, kalian. Berhenti... Saat jadi seperti ini.., kalian harusnya datang kepadaku meminta nasihat. Apa ada dari kalian... yang sudah hidup lama dengan wanita dibanding denganku? Tidak ada, kan? Pengalamanku dengan istriku... selama 30 tahun mengajariku... kalau tak ada jawaban yang tepat.” Jelas Tuan Byun
“Saat wanita kalian sedang dalam mood yang jelek, jadi budak saja. Dan mengatakan, "Maafkan aku." Kemudian kalian tidak perlu khawatir apapun lagi.” Saran Tuan Byun bangga
Tuan Bang bertanya apakah Dalam keadaan apapun. Tuan Byun mengangguk. Dengan menyuruh para pria membungkuk dan meminta "Maafkan aku."


Nyonya Hong membanting gelas terlihat kesal bertanya kesalahan apa yang dibuat. Tuan Byun pikir pasti bisa menjawabnya, dengan meminta Maaf atas segalanya. Nyonya Hong benar-benar tak bisa mengerti karena Nyonya Hong itu tidak tahu harus minta maaf karena apa. Tuan Byun mengaku.
“Oh, benar. Aku mabuk semalam...” kata Tuan Byun. Nyonya Hong makin tak bisa terima kalau Tuan Byun yang mabuk karena sebelumnya bilang  tidak mabuk.Tuan Byun mengaku kalau hanya sekali minum
“Kita bicarakan itu nanti. Aku bukan bicara tentang itu. Apa kesalahanmu yang lain?” kata Nyonya Hong, Tuan Byun hanya bisa diam sambil mengambil minumanya.
“Coba Lihatlah dirimu... Kau tak punya petunjuk. Apa Kau pikir meminta maaf akan menyelesaikan masalah? Apa Kau sudah lupa? Kau bahkan tidak mengatakan kalau anakku tertusuk perutnya.” Ucap Nyonya Hong
Tuan Byun mengerti maksudnya, menjelaskan kalau tidak mau membuat Nyonya Hong  khawatir saat sedang liburan. Nyonya Hong menyuruh Tuan Byun untuk diam, menurutnya Liburan itu bukan masalah besar dengan sikap Tuan Byun membuatnya makin membencinya.  Tuan Byun berbisik Luka Ji Wook tidak seserius itu.


Bong Hee masuk ke dalam rumah dengan penuh keringat. Ji Hae heran melihat Bong Hee yang berkeringat larut malah padahal sedang musim panas. Bong Hee menceritakan kalau dirinya hanya sangat marah. Yoo Jung ingin tahu alasan Bong Hee marah.
“Noh Ji Wook dan aku bertengkar untuk pertama kalinya.” Cerita Bong Hee. Ji Hae berkomentar kalau itu bagus. Yoo Jung juga mengaku kalau membuatnya senang. Bong Hee pun hanya bisa menatap sinis.
“Aku hanya tidak bisa paham. Kami sangat saling peduli meski melewati semua itu. Kenapa kami bertengkar karena hal kecil dan tak signifikan? Ini membuatku marah dan bingung.” Jelas Bong Hee.
“Itu karena...hal biasa bisa jadi menakutkan. Saat orang-orang di sekitarmu menentang hubunganmu.., mka cinta di antara kalian berdua semakin dalam.., dan kalian akan makin lengket. Lalu...” ucap Ji Hae. Bon Hee menunggu kelanjutanya.
“Katakan saja semua masalah dan rintangan hilang.., dan orang-orang seperti, "Baiklah. Lakukan apapun yang kalian mau." Saat itulah pasangan bertengkar dan putus. Saat itulah masalah muncul.” Jelas Ji Hae.
Bong Hee ingin tahu kenapa bisa seperti itu. Yoo Jung juga penasaran juga. Ji Hae menjelaskan Saat tak ada masalah dari luar masalah pasti membesar dari dalam, menurutnya mereka berdua akan mulai memperhatikan kekurangan masing-masing dan mencari alasan kenapa mereka tidak cocok Lalu akan saling bosan.
“Itulah... yang akan terjadi dalam waktu dekat.” Ungkap Ji Hae. Bong Hee tak percaya sambil melempar bantal pada temanya. Ji Hae mengatakan kalau itu adalah fakta. Yoo Jung menyuruh Bong Hee ikut memukulnya.
“Inilah yang menunggumu dalam waktu dekat. Itu akan terjadi segera.” Ejek Ji Hae sambil menari-nari. 


Bong Hee dan Ji Wook bertemu di depan pintu, keduanya pun dengan sedikit tak nyaman memberikan ciuman selamat pagi.  Ji Wook akhirnya mengungkapkan permintaan maafnya, Bong Hee bertanya alasan minta maaf. Ji Wook binggung menjelaskan dan mengaku kalau bukan seperti itu. Bong Hee makin tak mengerti dengan yang diucapkan Ji Wook. 
“Maafkan aku atas segalanya dan Aku tidak tahu.” Kata Ji Wook lalu bergegas pergi.
“Seperti prediksi.., hidup damai kita sehari-hari memberi kita hadiah. yang disebut konflik internal.” Gumam Bong Hee melihat sikap Ji Wook. 

Bong Hee masuk ke dalam rumah dengan membawa koper, Ji Wook terlihat bahagia karena Bong Hee akhirnya kembali, menurutnya itu karena Bong Hee pasti sangat rindu dan sadar mau tinggal dengannya. Jadi Karena itulah kembali ke rumah. Bong Hee mengaku kalau bukan itu.
“Aku ada wawancara dengan media hari ini. Semuanya membicarakan soal bagaimana ketidakbersalahanku terbuktikan. Aku harus mengambil foto, jadi aku membawa semua pakaianku.” Ucap Bong Hee. Ji Wook pun hanya bisa menghela nafas panjang. 

Bong Hee keluar dengan baju garis-garis dan Ji Wook berkomentar kalau itu bagus.  Bong Hee pikir itu tdak karena tidak terlalu suka dengan pakaian ini lalu menganti dengan pakaian yang lain. Ji Wook kembali berkomentar kalau kali ini cukup bagus bahkan terlihat keren. Bong Hee meminta Ji Wook agar jujur saja dengan wajah sedih kembali masuk kamar.
“Kau terlihat... Aku tidak tahu bagaimana dengan lengkungan yang ada di tengah. Garis-garis itu mungkin terlihat terlalu mengganggu juga.” Komentar Ji Wook melihat Bong Hee keluar dengan senyuman bahagia.
“Ini pakaian yang paling kusukai sejauh ini, “ ungkap Bong Hee lalu Ji Wook bergumam kalau mereka menemukan sisi yang tak diketahui datang sebagai kejutan.

[Satu tahun kemudian]
Tuan Bang membawakan tumpukan berkas diatas meja Ji Wook, sambil mengatakan kalau jangan menyalakanya tapi Salahkan jaksa utama yang terus menugaskan Ji Wook  ke semua kasus, serta salahkan Ji Wook  sendiri karena terpilih sebagai jaksa terburuk tiap tahun.
“Aku terlalu punya banyak pekerjaan.” Keluh Ji Wook lalu berteriak kesal sambil mengumpat lalu buru-buru mengirimkan pesan pada Bong Hee.  “Bong Hee, kurasa hari ini...Aku tidak bisa makan denganmu hari ini.Bagaimana ini?”
“Terserah. Dia mementingkan pekerjaan daripada aku.” Ucap Bong Hee kesal dan disadarkan oleh seorang klien yang duduk depanya sampai terlonjak kaget.
“Dan kami sedikit berkelahi karena masalah yang tidak signifikan.”
Bong Hee dan Ji Wook terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing sebagai pengacara dan juga Jaksa. Bong Hee terlihat banyak sekali klien yang datang memintanya sebagai pengacara. 
Ji Wook memeriksa ponselnya saat didepan mesin foto copy, lalu mengomel sendiri. Tuan Bang yang mendengarnya bertanya siapa yang dimaksud. Ji Wook mengatakan kalau Wanita ini sudah hilang 3 hari, bahkan tidak meneleponny sama sekali.
“Apa Kalian berdua berkelahi lagi?” tanya Tuan Bang, Ji Wook pikir  Bukan perkelahian.
“Aku adalah korban. Dia tidak memberitahu apa kesalahanku...” ucap Ji Wook lalu terdiam saat melihat Bong Hee yang datang.
Bong Hee pun menyapa Tuan Bang yang bertanya alasanya, ia mengaku kalau mau makan jjajangmyeon, Ji Wook yang kesal merasa Bong Hee menganggap kantornya itu restoran Cina. Bong Hee pikir sebaiknya pergi saja. Ji Wook yang tak bertemu Bong Hee langsung menahanya untuk tak pergi dan menyuruhnya duduk.
“Ini Golden Gate, kan? Kami ingin pesan jjajangmyeon ukuran dua porsi dengan seafood dan dua ukuran biasa. Kami juga ingin daging babi asam manis, ayam pedas, dan udang cabai. Kami akan memesan semua masakan yang terkenal dari sana. Pacarku yang sangat kucintai mengunjungiku. Pesan saja yang ada di menu.” Ucap Ji Wook. Bong Hee yang mendengarnya hanya bisa menahan senyuman bahagia.
“Tapi kehidupan sehari-hari kami yang damai... tetap berjalan seolah tak ada yang terjadi.”

Yoo Jung duduk di depan Eun Hyuk dengan tatapan sinis. Eun Hyuk melihatnya bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi.  Yoo Jung mengaku Tidak tapi akhirnya tak bisa menahan amarahnya,  karena semalam keluar minum, tapi tidak meneleponnya bahkan tidak menjawab teleponnya. Eun Hyuk pikir Yoo Jung tahu tahu perusahaan tempatnya berkerja sebagai pengacara.
“Mereka mengadakan makan malam tim.Aku pergi sampai larut, Kupikir kau sudah tidur.Dan aku minum sedikit jadi mabuk juga. Aku takkan melakukannya lagi. Kumohon?” ucap Eun Hyuk menjelaskan. Yoo Jung yang kesal terlihat masih cemberut.  
“Tunggu. Aku melihatmu tersenyum.” Ucap Eun Hyuk. Yoo Jung pun meminta agar Jangan pernah lakukan itu lagi. Eun Hyuk berjanji dan menyuruh Yoo Jung makan.
Di samping mereka terlihat Ji Hae duduk dengan wajah dongkol melihat kemesraaan keduanya. Eun Hyuk berjanji akan menelepon dan terus menelepon mulai sekarang. Ji Hae merasa kalau itu tak lucu dan Lebih baik seperti sekarang daripada keduanya yang hanya tertawa keras.

Ji Hae minum sendirian di ruang tengah, Bong Hee berbaring masih asyik dengan ponselnya. Ji Hae pun bertanya apakah Bong Hee  masih suka klepek-klepek dan jatuh cinta tiap kali melihat Ji Wook. Bong Hee tak mengerti maksud pertanyaan Ji Hae beerpikir sedang mabuk. Ji Hae pikir Bong Hee tak merasakan itu.
“Ini memang gila, aku masih klepek-klepek dan jatuh cinta kepadanya.” Kata Ji Hae
“Terkadang, aku masih jatuh cinta kepadanya.” Ungkap Bong Hee.
“Dia sangat menjengkelkan. Ada apa denganku?” ungkap Ji Hae seperti merasa salah bercerita pada Bong Hee. 

Ji Wook duduk sebagai jaksa dan Bong Hee duduk sebagai pengacara di ruang sidang. Akhirnya Ji Wook memberikan pernyataanya pada hakim, Kesaksian dan pernyataan dari korban yang menyaksikan tindakan tidak pantas Kang Jin Wook memang sesuai. Karena pernyataan dan kesaksian mirip dengan apa yang terjadi...
“Tidak ada bukti seperti rekaman CCTV dan rekaman kamera blackbox. Yang Mulia, tak ada saksi lain juga.” Ucap Bong Hee.
“Namun, terdakwa punya catatan ditangkap karena mengadakan pertunjukkan tidak pantas. Urutan bagaimana dia melepas bajunya sama persis. Jika aku harus memberitahu Anda urutan melepas bajunya... Dia melepas jaket baru celananya. Setelah itu dia melepas bajunya. Inilah urutannya.” Kata Ji Wook.
“Tidakkan Anda pikir terlalu kejam untuk menghukumnya karena dia melakukan kejahatan tersebut, karena dia mempunyai cacatan kriminal yang sama? Selain itu, urutan melepas pakaiannya tidak bisa dijadikan bagian dari klaim.” Kata Bong Hee membela diri.
“Terdakwa menerima terapi karena dia suka pamer. Yang Mulia, menurut catatan kriminalnya, seperti di sidang ini.., semakin banyak kerumunan dan makin banyak perhatian yang diberikan orang kepadanya.., keinginannya melakukan hal tidak pantas membesar.” Jelas Ji Wook
“Dia disiplin menjalani terapi. Karena dia melakukan yang terbaik..,” kata Bong Hee dan tiba-tiba panik melihat klienya yang tak bisa menahan hasratnya untuk membuka baju.
Semua langsung menutup mata, Bong Hee pun meminta hakim agar dipertimbangkan bahwa kondisinya sudah benar-benar sembuh. Ji Wook memberitahu kalau Tuan Kang ingin membuka celananya. Bong Hee mencoba menyadarkan klienya agar tak membuat kacau persidangan. 


Bong Hee keluar dari ruang sidang masih tak percaya klienya bisa membuka semua pakaian dalam ruang sidang. Ji Wook pikir sudah mengatakan untuk tidak melindunginya karena tahu kalau pria itu memang benar-benar mesum. Bong Hee menegaskan kalau dirinya itu hanya mencoba untuk hidup.
“Ada 20.000 pengacara. Aku tidak boleh pilih-pilih klien.” Tegas Bong Hee. Ji Wook meminta agar Bong Hee  bisa pilih-pilih.
“Omong-omong ayahmu, Ketua Byun yang menerima kasus ini.” Ucap Bong Hee. Ji Wook mulai mengumpat kesal pada ayah angkatnya.
“Oh, ya. Hari ini, terdakwanya mesum. Kenapa kau selalu mendatangiku dengan keras karena kau tidak mau kalah?” keluh Bong Hee kesal. Ji Wook pikir tak merasa seperti itu dan balik bertanya dengan sikap Bong Hee.

“Kau datang kepadaku dengan lebih keras daripada aku.” Kata Ji Wook. Bong Hee langsung meminta mereka putus saja.
“Bong Hee, kenapa kau selalu mengatakan itu sehabis sidang? Ini Kebiasaan.” Kata Ji Wook kesal 
Bong Hee pikir tidak mengatakan itu tiap kali. Ji Wook merasa Bong Hee yang selalu mengatakannya pada sidang sebelumnya dan sebelumnya lagi juga. Bong Hee merasa Ji Wook hanya melebih-lebihkan. Keduanya langsung tersenyum seperti keduanya saling bisa mengerti.
“Kuharap... Kuharap...” gumam Bong Hee. Ji Wook bertanya apa yang ingin dimakan Bong Hee, Bong Hee ingin makan nasi dan Ji Wook mengatakan ingin kakan mie sup kacang dingin
“Hari-hari kami yang normal dan biasa akan... berlanjut.”

Eun Hyuk duduk mengantikan Ji Wook dengan kaca mata yang sama berkata kalau mereka memiliki lebih banyak pemohon daripada yang mereka kira jadi lebih baik memilih permohonan untuk ronde pertama. Bong Hee mengangkat tangan ingin ambil peran untuk evaluasi ronde pertama.
“No, kau tidak boleh... Kau akan memilih pemohon dilihat dari tampangnya.” Kata Tuan Byun. Eun Hyuk tahu kalau Bong Hee memang bilang akan memilih pengacara muda dan tampan. Ji Wook langsung melirik sinis.
“Kenapa kalian menanggap leluconku serius ?” pikir Bong Hee. Yoo Jung mengangkat tangan ini memilih yang kedua.
“Tapi kenapa orang yang bukan dari firma ini ada di sini?” tanya Eun Hyuk heran. 

Semua saling menatap, Ji Wook pikir kalau rumahnya tempat mereka berkumpul. Eun Hyuk menegaskan kalau ini adalah kantor. Tuan Byun setuju kalau ia juga yang membayar uang sewa.  Ji Wook pikir akan menambah biaya sewa. Tuan Byun mulai mengumpat, Eun Hyuk tak bisa menahan amarah karena rapat mereka mulai keluar jalur.
“Pengacara Eun akan mengevaluasi pemohon. Apa agenda selanjutnya?” ucap Eun Hyuk.
“Kita menerima tawaran konsultasi hukum di acara radio. Kurasa...” kata Bong Hee lalu Tuan Byun mulai menyela ucapanya.
“Kata "radio" membuatku teringat akan sesuatu. Saat aku masih muda dulu... Aku melamar istriku melalui acara radio.” Cerita Tuan Byun yang mencoba mengingat siapa penyiarnya saat itu. Tuan Byun mengeluh Tuan Byun yang kembali memulai dengan ceritanya.
Ji Wook dan Bong Hee memberi kode untuk segera keluar, Begitu juga Yoo Jung dan Eun Hyuk. Tuan Byun langsung berteriak marah melihat semua yang keluar ruangan selain Tuan Bang. Tuan Bang mengaku dirinya sangat kesepian.
“Kenapa kau tidak ikut pergi besama mereka?” ucap Tuan Byun. Tuan Bang bertanya haruskan ia pergi juga.  Tuan Byun pun meminta agar menemaninya saja. 


Ji Wook dan Bong Hee berjalan di taman dengan cuaca yang sangat nyaman, lalu Ji Wook heran karena merasa tak ada seorangpun di dekat mereka. Keduanya melangkah bersama dengan saling bergenggaman tangan erat, Ji Wook berhenti melangkah dan menatap Bong Hee.
“Bong Hee... Aku mencintaimu.” Ungkap Ji Wook. Bong Hee membalas kalau mencintainya juga. Ji Wook langsung memasangkan sebuah cincin dijari manis Bong Hee.
“Aku... akan mencintaimu seumur hidupku.” Ucap Ji Wook
“Apa Kau sedang melamarku sekarang?” tanya Bong Hee yang terlihat gugup. Ji Wook membenarkan dengan senyuman sumringah.
“Dimana nyanyian? Apa Kau tidak punya nyanyian?” ucap Bong Hee. Ji Wook kebinggungan. Dan saat itu Bong Hee memberikan kecupan di bibir Ji Wook.
“Meski kau tidak bernyanyi untukku.., jawabanku adalah "ya".” Kata Bong Hee.
Ji Wook bahagia mendengarnya, Bong Hee berjanji mencintai Ji Wook seumur hidupnya, keduanya pun kembali berjalan dengan Ji Wook yang mulai menyanyi Ada banyak alasan Kenapa aku mencintaimu
Aku sangat bahagia... karena aku bertemu denganmu. Kau, cintaku.” Ucap Keduanya bersama-sama sambil bergandengan tangan.
THE END

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar: