Selasa, 04 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

Ae Ra dan da Dong Man berjalan bergandengan tangan, Ae Ra mengatakana kalau sangat mencintai Dong Man karena itu maka  tidak menyukainya. Dong Man pikir Tidak bisakah mendukungnya saja. Ae Ra mengetahui kalau  Tak Su bukan preman biasa tapi sangat hebat bahkan yang ia dengan kalau Tak Su petarung hebat.
“Memangnya kenapa kalau kalah? Lebih baik aku kalah daripada menghindarinya. Jika menghindarinya, aku akan menyesal selama 10 tahun. Meskipun dia mengalahkanku, aku ingin berusaha semampuku.” Tegas Dong Man
“Kau bukan hanya akan kalah tapi Kau akan mati. Semua orang bilang kau akan kalah. Aku melihat semua komentar itu, mereka bilang begitu. Kau akan dihabisi. Mereka akan menggotongmu keluar. Petarung baru bukanlah tandingan Tak Su.” Ucap Ae Ra khawatir
“Jadi, apakah kau setuju dengan mereka? Kau sendiri yang bilang. Orang lain tidak mengenalku tapi Kau sudah melihatku selama 20 tahun. Katamu, kau lebih mengenalku daripada orang lain. Apa Kau setuju dengan mereka? Apa aku akan kalah saat melawannya?” ucap Dong Man meminta Ae Ra memikirkanya.
“Apa kau tidak memikirkan orang yang mencemaskanmu? Memang bagus kau bisa bertanding lagi Tapi tidak harus melawan Tak Su.” Ucap Ae Ra
Dong Man memberitahu Ae Ra kalau Selama ini hidup dengan kepala tertunduk dan akhirnya Jantungnya berdebar lagi jadi Ia meminta agar Dong Man bisa mempercayainya. 


Ae Ra akan masuk rumah dengan wajah ditekuk, Dong Man langsung menariknya dan masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di meja makan, dengan sepiring Toppoki. Dong Man menegaskan Pekerjaan tetaplah pekerjaan dan ini masalah pribadi jadi harus makan tteokbokki bersama.
“Apa bedanya dibandingkan saat kita masih berteman? Kau masih tidak mendengarkanku. Kenapa berkencaan denganku jika kau tidak mau mendengarkanku? Kenapa menciumku? Kenapa kau bilang mencintaiku?” keluh Ae Ra kesal dengan memalingkan wajahnya
“Hei... Apa kau bicara sendiri?” ejek Dong Man lalu sengaja duduk didepan wajah Ae Ra tapi Ae Ra yang kesal memilih untuk memalingkan wajah ke sisi lainnya.
“Kau akan menyesal saat aku memutuskanmu dan akan pergi ke karaoke menyanyikan lagu sedih.” Ucap Ae Kesal.
“Apa Kau akan memutuskanku? Apa Kau sungguh akan memutuskanku?”kata Dong Man dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada Ae Ra dan menciumnya.

“Menjauhlah.” Tegas Ae Ra kesal karena tak ingin Dong Man semakin mendekat, tapi Dong Man malah memberikan ciuman pada Ae Ra agar bisa tenang.
“Sudah kubilang menjauh dariku... Kau anak buahku di sekolah dahulu. Jangan bertingkah manis sekarang. Walaupun kita berpacaran, akan kuajari kau sopan santun. Urutan kita, aku diatas dan kau ada dibawah, Mengerti?” tegas Ae Ra dan akan pergi.
Dong Man menarik Ae Ra langsung merangkul dengan kaki agar tak pergi. Keduanya saling bertatapan. Dong Man merasa Ae Ra sudah pandai makan Toppoki sekarang, lalu bertanya Apa perutnya tidak sakit lagi. Ae Ra hanya diam dengan wajah gugup, Dong Ma pikir tidak  dari wajah Ae Ra, lalu mencium Ae Ra lebih dalam lagi.
Ae Ra kesal Dong Man yang selalu menciumnya, Dong man langsung bertanya apakah ia sekarang masih ada dibawahnya. Ae Ra menatap Dong Man seperti tak percaya kalau dulu pacarnya itu hanya sebagai pesuruh


Joo Man akan menaruh boneka didepan rumah, lalu buru-buru disembunyikan ketika melihat Sul Hee yang baru datang. Ia lalu memberikan boneka mengaku baru saja memenangkan boneka dan Warnanya merah muda. Sul Hee pun menerimanya.  Joo Man lalu melihat koran yang dibawa oleh Sul Hee dan bertanya apa yang dilakukanya.
“Aku harus mencari rumah baru. Kita berpacaran selama enam tahun. Aneh rasanya jika mendadak bersikap seperti orang asing. Tapi tinggal berdekatan pun tidak masuk akal. Aku juga sedang mencari pekerjaan baru.” Ucap Sul Hee yang memutuskan untuk tinggal berjauhan.
“Sul Hee, kenapa terburu-buru?” ucap Joo Man
“Jika memang tetap harus dilakukan, maka aku tidak ingin menjadi pengecut dan menundanya. Mari kita melakukannya sekaligus.” Ungkap Sul Hee. Joo Man benar-benar tak percaya Sul Hee melakukan hal itu. 

Dong Man membiarkan Ae Ra berbaring diatas lenganya. Ae Ra mengejek Dong Man yang tak pernah mendengarkannya tapi lengannya keras, Seperti bantal kayu. Dong Man melihat Ae Ra yang sudah memejamkan mata lalu menyuruh agar Jangan tertidur karena akan memalukan jika Sul Hee tahu.
“Sebentar lagi aku pulang.”kata Ae Ra dengan mata terpenjam.
“Hei. Kalau begitu, bisa nyanyikan sebuah lagu? Penyanyi dari Daecheon itu.” Pinta Dong Man. Ae Ra bertanya apakah itu Kim Wan Sun. Dong Man membenarkan.
“Bagaimana kau bisa tahu lagu itu?” tanya Dong Man
“Ayah sering menyanyikannya sebagai pengantar tidurku.” Cerita Ae Ra
Dong Man pikir Ayah Ae Ra sebagai penggemarnya. Ae Ra pikir itu Tidak mungkin tapi Pasti Ibu menyanyikan itu untuk Ayah. Dong Man langsung memeluk Ae Ra menenangkanya, Ae Ra pikir tak masalah karena Ayahnya menyayangi dirinya dua kali lipat bahkan punya Dong Man dan Sul Hee, jadi tidak seburuk itu.
“Kalian selalu membiarkanku menjadi pemimpin. Kalian selalu menyisakan yang terbaik untukku.” Kata Ae Ra
“Kurasa kau tidak pernah membicarakan Ibumu.” Komentar Dong Man
“Aku tidak akan tahu cara merindukannya karena tidak pernah bertemu dengannya. Dia tidak pernah ada untukku.” Kata Ae Ra. Dong Man makin memeluk Ae Ra dengan erat. 


Ibu Joo Man melonggo melihat isi kulkas yang penuh lalu mengeluh karena harus repot-repot membawakannya makanan dan bertanya apakah Sul Hee yang membuat semua ini untuk anaknya. Joo Man sedang memakai dasinya mengangguk, lalu bertanya ada apa ibunya datang karena Ini terlalu pagi untuk berkunjung.
“Ibu datang karena cemas. Kenapa kau tidak menjawab telepon kami? Bahkan Sul Hee juga tidak menjawab.” Ungkap Ibu Joo Man
“Apa Ibu meneleponnya?” ucap Joo Man makin merasa bersalah.
“Dialah yang memohon untuk datang ke pesta rumah baru saudarimu.” Komentar Ibu Joo Man
“Untuk apa kalian mengundangnya? Apakah untuk Menyuruhnya cuci piring?” ejek Joo Man.
Ibu Joo Man erasa tak pernah menyuruhnya melakukan itu, Joo Mna tahu kalau ibunya itu tidak mengatakannya, tapi akan  membuat Sul Hee melakukan itu. Ibu Joo Man piki anaknya tidak boleh melindungi Sul Hee karena itu tak akan baik untuknya. 


Di rumah Sul Hee
Sul Hee pikir ibunya datang membawa makanan tapi malah membersihkan bak cuci. Ibunya pikir bisa melakukannya selagi datang ke rumah anaknya. Sul Hee mengeluh kalau itu yang membuatnya sang ibu berkunjung. Ibu Sul Hee lalu melhat boneka pink diatas lemari.
“Kenapa boneka itu mengangkat tangan?” ucap Ibu Sul Hee. Sul Hee pura-pura tak tahu dan mengatakan kalau boneka itu sedang dihukum.
“Apa itu dari Joo Man? Apa Kalian bertengkar?” tanya Ibu Sul Hee. Sul Hee hanya diam saja.
“Semua pria sama saja. Mungkin kau menganggap yang ini lebih baik daripada yang itu. Bersyukurlah dia tidak lebih buruk. Yang penting dia setia. Kecuali mereka selingkuh, maka semua pria sama saja. Setidaknya kita tahu Joo Man tidak akan pernah selingkuh. Dia sangat menyukaimu. Benarkan?” pesan Ibu Sul Hee. Sul Hee pun hanya bisa diam saja.

Ibu Joo Man keluar dari rumah, Joo Man meminta ibunya agar menelp lebih dulu sebelum datang.  Ibunya heran kenapa harus melakukanya dan berpikir itu karena akan membuat Sul Hee tidak nyaman dan bertanya apakah mereka yanga mengunjungi rumah satu sama lain.
Saat itu Ibu Sul Hee keluar dari rumah, sambil berbicara kalau Sul Hee yang rugi jadi Jangan mengunjungi rumah satu sama lain. Saat itu Keempatnya bertemu dan Sul Hee menyapa lebih dulu, mereka pun saling menyapa dengan suasana canggung.
“Aku tidak menduga akan menemui kalian di sini.” Ungkap Ibu Sul Hee. Ibu Joo Man pun menanyakan kabar ibu Sul Hee. Ibu Sul Hee mengaku baik-baik saja. 

Mereka pun berjalan keluar bersama, Ibu Joo Man berkomentar  Sul Hee pekerja keras dan  mempunyai pekerjaan tetap, tapi masih bisa mengisi kulkas Joo Man dengan makanan dan dengan bangga kalau Sul Hee Pasti sangat menyukai Joo Man.
“Dia juga sangat menyukai Sul Hee.” Balas Ibu Sul Hee tak mau kalah. Ibu Joo Man pun membenarkannya.
“Omong-omong, kita harus mengadakan pertemuan keluarga...” pikir Ibu Joo Man langsung disela oleh Ibu Sul Hee kalau Tidak perlu terburu-buru.
“Kita tetap harus mempertimbangkan usia Sul Hee, jadi...” kata Ibu Joo Man dan kembali disela oleh Ibu Sul Hee akalu Mereka sama-sama bertambah tua dan Usia keduanya itu sama.
“Sul Hee, kau tahu Joon Hee mengadakan pesta rumah baru di akhir bulan ini, bukan?” kata Ibu Joo Man. Sul Hee gugup mendengarnya.
Joo Man mengeluh untuk apa Sul Hee pergi kesana dan menegaskan  tidak akan hadir. Ibu Joo Man mengatakan kalau memang mengundangnya karena Sul Hee sudah seperti keluarga. Joo Man menegaskan kalau Sul Hee bukan keluarga, jadi memperingatkan agar jangan menyuruh-nyuruhnya.
“Kapan ibu melakukan itu? Kau Yang benar saja.” Ucap Ibu Joo Man merasa tak enak
“Kami sudah putus.” Ungkap Joo Man lalu meminta maaf pada Ibu Sul Hee. Kedua ibu hanya bisa melonggo dan Sul Hee pun memilih untuk diam dan tak banyak berkata-kata. 


Ibu Joo Man duduk diam di bangku taman, Joo Man dengan wajah tertunduk mengatakan kalau Semua adalah salahnya. Ibu Joo Man pikir kalau ini semua demi kebaikan dengan Joo Man menunda menikahin Sul Hee karena tidak begitu tertarik kepadanya.
“Ibu... Mana mungkin aku membuatnya tinggal di apartemen studio? Kenapa dia harus menderita seperti itu?” kata Joo Man
“Apakah Itukah alasanmu tidak bisa menikah? Apa dia bilang menginginkan rumah?” kata ibu Joo Man dengan nada tinggi.
“Mana mungkin dia seperti itu? Aku pernah bilang tidak akan menikah jika bukan dengannya. Setidaknya tidak ada yang perlu mendapatkan kakak ipar baru.” Kata Joo Man
“Apa Sul Hee sungguh mengatakan ingin putus denganmu? Itu baik untuknya.” Pikir Ibu Joo Man yang memang tak setuju hubungan dengan Joo Man.
“Aku tidak akan pernah bertemu wanita sepertinya lagi, tapi dia akan dicintai ke mana pun dia pergi.” Kata Joo Man merasa menyesal. Ibu Joo Man pun bisa mengetahuinya.
“Kenapa kalian putus?” tanya ibunya, Joo Man merasa itu Karena dirinya sampah dan Itulah alasannya. Ibu Joo Man tak percaya kalau anaknya bisa melakukan yang mengecewakanya. 

Sul Hee mengantar ibunya sampai ke mobil lalu ibunya bertanya apakah Sul Hee mau pulang kerumah. Sul Hee pikir Tidak perlu. Ibu Sul Hee memberitahu kalau Sekarang kamar Sul Hee sudah punya penyejuk ruangan. Sul Hee merasa baik-baik dan bukan anak-anak lagi.
“Aku tidak akan mati karena putus cinta.” Kata Sul Hee
“Pantas saja kau tidak membicarakan Joo Man. Kau tergila-gila padanya. Kau selalu berkata "Joo Man suka minum misugaru, Joo Man mudah kepanasan. Joo Man begini, Joo Man begitu."” Kata Ibu Sul Hee.
Sul Hee mengelak kalau dirinya tidak seperti itu. Ibu Sul Hee menasehati kalau Jangan selalu memikirkan Joo Man Tapi pikirkanlah dirinya sendiri, apa yang disukai, di inginkan dan hiduplah seperti itu.  Menurutnya Sul Hee adalah ratu dalam hidupnya.
Sul Hee menyuruh ibunya agar pergi saja, Ibu Sul Hee meminta anaknya  Jangan menangis dan Jangan lupa makan, setelah menelpnya.
Saat itu bibi Ganako baru saja datang, Sul Hee memberitahu ibunya kalau itu pemilih rumah mereka. Ibu Sul Hee melonggo melihat wajah Bibi Ganako, Ibu Ganako sengaja memakai kacamata menyapa Ibu Sul Hee seperti tak terjadi sesuatu. Ibu Sul Hee masih saja diam sampai akhirnya Sul Hee menyadarkan ibunya. Ibu Sul Hee menanyakan kabar Bibi Ganako yang sudah lama tak bertemu, lalu membalasnya sapaan bibi Ganako.


Ae Ra keluar dengan melirik ke kanan dan kiri seperti takut ketahuan keluar bersama dengan Dong Man. Dong Man mengeluh Ae Ra yang mengendap-endap padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Dan Kenapa bersikap seolah mereka melakukan sesuatu.
“Tetap saja, bagaimana jika ada yang melihat?” ucap Ae Ra. Dong ma pikir Melihat apa, karena mereka tidak melakukan apa-apa.
“Dan Katakan saja kita seperti teman di barak tentara.” Pikir Don Man.
“Aku harus bilang apa kepada Sul Hee? Seharusnya kamu membangunkanku.” Keluh Ae Ra memarahinya.
“Kau bilang ingin berbaring sebentar dan tidak bisa tidur kecuali di ranjang sendiri.” Balas Dong Man mengejak.
Ae Ra mengaku kalau memang tidak bisa tidur nyenyak. Dong Man kembali mengejek menyuruh Ae Ra agar mengelap air liurnya di bibirnya. Ae Ra buru-buru memegang bibirnya. Dong Man mengejek Ae Ra itu seperti anjing yang bisa tidur di mana saja. Ae Ra kembali mengelak kalau tidak tidur dan bukan air liur. 

Saat itu bibi Ganako baru saja menaiki tangga, Keduanya menayap bersama-sama. Bibi Ganako langsung menatap sinis dengan bertanya Kenapa si kaus jingga dan 102 sudah bersama-sama sepagi ini, lalu memastikan kalau keduanya tidak keluar dari kamar 102.
“Aku tidak memakai kaus jingga hari ini.” Ucap Ae Ra mengelak, Bibi Ganako menganguk mengerti.
“Jangan berduaan sepagi ini.” Tegas Bibi Ganako dan akan pergi menaiki tangga, tapi saat itu tiba-tiba hampir terjatuh. Keduanya pun langsung menahan Bibi Ganako sebelum terjatuh. 

Dong Man memapah Bibi Ganako sampai ke lantai atas,  Ae Ra mengelu Bibi Ganako yang pergi operasi mata sendirian dan bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Nam Il.
“Kenapa aku butuh orang lain? Aku hanya butuh diriku.” Ucap Bibi Ganako lalu membuka pintu dan Dong Man masih membantunya duduk di depan meja makan.
“Apa Barang-barang Nyonya belum diantar?” tanya Ae Ra binggung melihat didalam ruangan yang kosong seperti orang yang belum pindah.
“Aku tidak butuh banyak barang. Seperti inilah aku hidup.” Ucap Bibi Ganako.
“Nyonya berpakaian bagus, tapi rumah Nyonya begitu kosong. Setelah beberapa saat, rumahmu cenderung mengikuti kepribadianmu” kata Dong Man.
Ae Ra melihat ada banyak makanan instan didapur, lalu bertanya apakah Bibi Ganakobisa memasak Bibi Ganako mengaku akan baik-baik saja dan kata dokter kalau sakitnya hanya di awal. Ae Ra lalu melihat ke bagian foto diatas meja, Bibi Ganako mulai panik. 



Ibu Sul Hee sambil mengemudikan mobilnya menelp Ibu Dong Man memberitahu wanita dari Studio Foto Mawar kalau tinggal di lantai atas dari anak-anak mereka. Ibu Dong Man kaget mendengarnya.
“Apa Hwang Bok Hee dari Studio Foto Mawar? Apa Kamu yakin dia orangnya?” ucap Ibu Dong Man tak percaya
“Mana mungkin aku lupa wajahnya dan Mana mungkin aku salah orang? Aku yakin dia orangnya” kata Ibu Sul Hee. 

Ibu Dong Man terlihat marah mendekati suaminya  lalu memastikan ketika menginap dirumah anaknya apakah memang benar untuk menemui Dong Man. Tuan Ko seperti tak peduli, menyuruh istrinya agar membantu mengecat rambut bagian belakangnya.
“Benarkah kau pergi untuk menemui Dong Man? Kenapa kau tiba-tiba mengecat rambut?” ucap Ibu Dong Man penasaran. Tuan Ko heran istrinya tiba-tiba mengatakan hal itu dan meminta agar membantunya saja.
“Apa kau menemui orang lain?” tanya Ibu Dong Man, Tuan Ko malah balik bertanya siapa yang dimaksud. Ibu Dong Man hanya menatap seperti ingin mengetahui  kebebaran dari mata suaminya.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku?” kata Tuan Ko binggung. Ibu Dong Man menyebutkan nama “Hwang Bok Hee.” Tuan Ko seperti tak mendengarnya.
“Bok Hee dari Studio Foto Mawar. Kau menemuinya, bukan?” kata Ibu Dong Man. Ayah Dong Man kaget mendengar nama Hwang Bok Hee.
“Apa dia menelepon kita? Apa dia mencariku?” kata Ayah Dong Man 

Ae Ra melihat foto Bibi Ganako dengan bayi, Bibi Ganako terlihat sedikit panik. Ae Ra lalu berpikir kalau Nam Il tinggal di Seosan sewaktu kecil. Dong Man bertanya memangnya kenapa dengan mendekatinya. Ae Ra pikir  wajah si bayi terlihat familier.
“Semua bayi mirip karena tidak punya rambut.” Kata Dong Man
“Tapi dari sisi ini terlihat makin familier bagiku. Apa ini Nyonya saat masih muda?”kata Ae Ra
Bibi Ganako pun mengingat ketika memberikan perpisahan terakhir pada Dong Man. Keduanya menatap foto si bibi dengan anak kecil. 
“Dong Man...Seduhkan aku mi instan sebelum kalian pergi.” Ucap Bibi Ae Ra mengalihkan pembicaran dengan wajah gugup. Dong Man pun tak menolaknya. 
Di papan terlihat artikel dan informasi "Pencegahan Kanker Payudara" Dong Man membuat mie instant berbisi pada Ae Ra kaalu Bibi Ganako  terlihat necis dari luar, namun di dalam dirinya, ada wanita tua kesepian. Ae Ra hanya melihat kejauhan Bibi Ganako yang duduk tak jauh darinya.

Dong Man dan Ae Ra menuruni tangga bersama-sama,  Nam Il menaiki tangga bertanya kenapa keduanya dari atas. Ae Ra menatap sinis ingin bicara. Dong Man menahan agar Ae Ra tak mengatakanya. Ae Ra tak peduli meminta agar Nam Il bisa menjaga ibunya baik-baik.
“Di hari dia operasi mata, maka kau tidak boleh pergi makan ayam sendirian.” Ucap Ae Ra mencium bau ayam dari baju Nam Il.
“ Ya, kurasa kau perlu mengurusnya dengan lebih baik.” Kata Dong Man yang juga sangat kasihan pada bibi Ganako.
“Aku punya restoran ayam. Aku bekerja semalaman.”ucap Nam Il. Keduanya hanya bisa melonggo karena salah menduga ternyata Nam Il menjual ayam.
“Kenapa kalian peduli pada ibuku dan Kenapa kalian dari atas?” kata Nam Il dengan nada sinis.
“Kami mencegah kematiannya karena kecelakaan.” Kata Ae Ra
Nam Il memperingatkan Ae Ra agar Jangan berlebihan. Ae Ra meminta agar Nam Il Juga membuatkannya mi instan. Nam Il mengejekkeduanya itu  sangat baik, serta tukang ikut campur dan penuh perhatian. Ae Ra mengeluh kalau Itu cara yang buruk untuk berterima kasih. Dong Man mengajak Ae Ra agar segera turun saja. 


[Episode 13 – Nam Il tinggal di Vila Namil]
Dong Man kesal melihat Nam Il yang terus bicara pada Ae Ra dan bertanya apakah Nam Il terus melakukan dan apakah sudah bilang pacarnya petarung MMA. Ae Ra dengan memainkan rambutnya tahu kalau Nam Il memang menatapnya dengan tatapan tertentu. Dong Man seperti tak percaya mendengarnya.
“Sebelumnya juga, dia...” ucap Ae Ra dengan gaya mengoda. Dong Man terlihat tak percaya kalau Ae Ra yang menatapnya lalu memilih untuk segera menuruni tangga. 

Tuan Ko masuk kamar mandi sambil membawa ponselnya dan menelp Tuan Choi, Tuan Choi bertanya ada apa menelp karena sedang mengemudi. Tuan Ko memberitahu kalau seseorang yang melihat sesuatu. Tuan Choi tak mengerti maksud ucapan Tuan Ko
“Di kompleks apartemen anak-anak tinggal sekarang” kata Tuan Ko, Tuan Cho  meminta agar Langsung saja katakan intinya.
“Jangan telepon aku di jam kerja dan bertele-tele.” Keluh Tuan Choi sibuk mengemudikan mobilnya.
“Hwang Bok Hee.... Hwang Bok Hee dari Studio Foto Mawar.” Ucap Tuan Ko. Tuan Choi kaget mendengarnya. 

Nam Il masuk ke dalalam rumah dan bertanya apakah Ibunya operasi mata dan mengeluh Kenapa tidak memakai kacamata saja. Bibi Ganako kalau tidak cantik memakai kacamata dan ingin terlihat cantik sampai mati. Nam Il meminta ibunya agar Berhentilah makan mi instan dan berhenti memikirkan anak itu. Bibi Ganako terlihat gugup.
“Aku marah dan ingin mengamuk... Nam Il yang sebenarnya tinggal di Vila Namil. Benarkan?”ucap Nam Il menahan amarahnya. 

Direktur Choi kesal meminta Joo Man agar fokus tapi malah mengacaukan sesuatu yang sesederhana ini. Joo Man mengaku tidak bisa fokus dengan wajah tertunduk. Direktur Choi makin kesal mendengar, Joo Man pun hanya bisa diam saja karena memang pikiranya sedang kacau.
Di pantry, Seorang pegawai menegur Joo Man dengan kopinya. Joo Man yang melamun melihat air dalam gelas sudah luber, tatapan pun kosong seperti separuh jiwanya sudah hilang setelah putus dengan Sul Hee.
“Aku hanya kehilangan Sul Hee, tapi seluruh duniaku berantakan.” Gumam Joo Man terlihat benar-benar frustasi. 

Sul Hee pergi ke salon manipadi, pegawai pun bertanya apa warna yang dinginkan pada tanganya.  Sul Hee mengatakan ingin latar merah muda dan warna utamanya Hitam serta Permatanya. Si pegawai mengangguk mengerti.
“Bisakah dipakaikan banyak, Agar berkilau?” tanya Sul Hee. Si pegawai pun bertanya mana yang akan dipilihnya karena Harganya tidak sama.
“Pakai yang paling mahal.” Kata Sul Hee ingin membuat sesuatu yang disukainya, saat itu melirik ke bagian sisi lainya, terlihat si pria magang sedang melakukan perawatan. 

Byung Joo sedang berlatih memukul samsak, Tae Hee berbicara pada Tak Su kalau Ada pelatih yang akan mengasah teknik lantainya lalu Padukan itu dengan gerakan judo maka maka akan menang. Tak Su bertanya  mereka yakin hanya Jang Ho yang melatih Dong Man.
“Mereka berdua memakai taekwondo. Bagaimana mereka mengalahkanmu? Mereka tidak punya teknik lantai. Pasti mereka seharian mengobrol dan berlatih tanding.” Ungkap Tae Hee yakin. 

Dong Man dan Pelatih Hwang berlatih, lalu keduanya berbaring di dalam ring dengan kelelahan. Dong Man merasa ingin mati bahkan pelatihanya bisa mati karena mencoba melatihnya. Pelatih Hwang mengatakan kalau  akan mencarikan pelatih untuk mengajarinya teknik lantai, meskipun hanya paruh waktu.
“Pasti kau kaya dari menjual sundae.” Ejek Dong Man. Pelatih Hwang memberitahu kalau ini sedang musim sundae.
“Sundae tidak punya musim. Jangan carikan aku pelatih.” Kata Dong Man.
Pelatih Hwang yang sudah kelelahan tak ingin diajak bicara dan tetap  akan menanyakannya di komunitas jiu-jitsu dan gulat, jadi Dong Man jangan mengeluh dan lakukan saja perintahnya. Saat itu seseorang masuk ke dalam ruang pelatihan, Dong Man melihat pria yang datang dengan menawarkan  Pake tiga bulan ingin turun berat badan, karena ada diskonnya.

Tak Su memberikan kode kalau ada Byung Joo  dan menyuruh agar keluar. Tae Hee pun menyuruh Byung Joo berhentilah berlatih dan pulang saja. Byung Joo pun pamit dengan sinis mendengar Tak Su yang selalu membuat trik licik.
“Jadi, apa kau menghabiskan uang?” tanya Tak Su.
“Aku mencoba menyogok orang, tapi perwakilan baru RFC jauh lebih tegas. Dia besar di luar negeri dan aku tidak bisa mengontaknya.” Jelas Tae Hee.
“Kalau begitu... Pastikan dia menerima pesanmu. Buat dia ingin bicara denganku. Kalu perlu Pancing dia dengan uang yang lebih banyak.” Ungkpa Tak Su tak mau tahu.
“Kau benar-benar sudah menjadi bedebah.” Ucap Pelatih Choi. Tak Su seperti tak percaya kalau Pelatih Choi mengatakan hal itu.
“Menang atau kalah, lakukan salah satunya. Jangan bersikap seperti bedebah. Jika orang yang kulatih selama 15 tahun kalah sebagai bedebah, maka aku akan terlihat buruk.” Tegas Pelatih Choi.
“Pelatih... Kau harus menjaga ucapanmu. Kau pelatihku dan aku muridmu, tapi aku bosmu dan kau pegawaiku.” Balas Tak Su.
“Pecat saja aku kalau kamu mau.” Kata Pelatih Choi tak peduli lalu memilih pergi. 



Tae Hee pun setuju lebih baik pecat saja Pelatih Choi karena tidak pernah menyukainya. Tak Su pun menyuruh pergi saja. Tae Hee binggung berpikir kalau Tak Su menyuruhnya pergi. Tak Su menegaskan kalau Tae Hee bisa digantikan tapi Pelatih Choi tidak tergantikan.
“Jangan bilang begitu... Kita selalu bisa mencari pelatih lain.” Ungkap Tae Hee.
“ Apa Kau tahu kenapa Jang Ho memenangkan medali perak di Olimpiade? Karena orang itu yang memenangkan medali emasnya.” Tegas Tak Su. 


Dong Man dan Pelatih Choi masih melongggo tak percaya melihat pria yang datang adalah John Karellas. Dong Man binggung bertanya apakah Pelatih Choi itu mengenalnya. Pelatih Hwang mengingat kalau saat itu bicara pada Dong Man setelah bertanding dan KO.
Flash Back
“Tato ini adalah tanda mereka. Salah satu keluarga jiu-jitsu Brasil yang terbaik. Keluarga Karellas. Kau melawan putra kedua mereka. Keponakan yang dia ajari secara iseng adalah John Karellas, sang legenda UFC.” Ucap Pelatih Hwang
Ketiganya duduk bersama lalu membaca surat ditangan mereka, “Aku Karl. Ayahku menghabiskan seluruh uang keluarga kami untuk berjudi. Kami butuh uang untuk operasi istriku, jadi, kami melakukan pertarungan yang memalukan. Aku malu dan sedih. Aku akan mengorbankan tubuhku untuk membalasmu. Keponakanku lebih baik daripada aku. Semoga berhasil.”
Keduanya menatap Jhon, lalu Dong Man bertanya pada Pelatih Hwang seperti tak yakin apakah legenda UFC, John Karellas, mau mengajarikanya. Pelatih Hwang pikir seperti itu. Jhon pun membungkuk memberikan salam pada keduanya dengan hormat.
“Aku memakai visa kerja... Dua bulan.” Ucap Jhon.
“Apa Kau tahu, Pelatih Hwang ? Kurasa aku bisa menang.” Ungkap Dong Man yakin. Keduanya langsung mengucapkan terimakasih pada Jhon.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar