Minggu, 02 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 12 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
[Episode 12 - Jika Impian Menghilang Saat Dewasa, Maka Aku...]
Dong Man menunggu ayahnya di halte dan langsung membawakan barang bawaan saat ayahnya turun. Tuan Ko mengeluh Dong Man yang harus menjemputnya dan apakah ia tidak bekerja. Dong Man mengaku sedang  istirahat.
“Apa Dengan berpakaian begitu?” ejek Tuan Ko. Dong Man membenarkan dan melihat ayahnya pergi lebih dulu, lalu memanggil ayahnya agar menunggunya karena bukan orang asing.
Dong Man mengeluarkan semua kotak makan yang dibawakan oleh ibunya, Ayahnya berkeliling rumah lalu mengeluh anaknya hanya tahu minum miras lalu menyuruh membuang barang –barang rongkos yang masih disimpan. Dong Man bertanya apakah tidak akan bekerja menurutnya Ini perjalanan bisnis. Tuan Ko mengejek anaknya yang tak berkerja. 

“Kenapa kau memakai celana olahraga seharian? Kau tidak bekerja, Kau di rumah saja, kan?” ejek Tuan Ko. Dong Man berusaha menyakinkan kalau bekerja.
“Apa pekerjaanmu hingga memakai celana olahraga? Kenapa kau ada di rumah saat tengah hari?” ejek Tuan Ko
“Aku datang untuk menjemput Ayah. Karena kau belum pernah datang jadi pasti tidak tahu lokasinya.” Jelas Dong Man
Tuan Ko bertanya apakah Dong Man tidak akan menikah. Dong Man mengeluh karena ayahnya kembali Mulai lagi. Tuan Ko pikir kalau Dong Man ingin menikah dan memberi makan keluarganya maka akan melakukan berbagai macam pekerjaan, sementar Usia Dong Man  semakin bertambah bahkan Berpikir atau berencana pun tidak.
“Ayah, aku tidak akan menikah. Jadi, jangan pikirkan yang tidak penting.” Tegas Dong Man. Tuan Ko heran kenapa Dong Man tidak menikah
“Aku tidak punya rumah atau pekerjaan. Siapa yang mau menikahi pria yang tidak bijak? Tidak ada orang yang memulai dengan rumah besar.” Tegas Dong Man menahan amarahnya
“Di zaman ayah dulu, saat pemalas sepertimu, mengeluhkan hidupnya, aku menjadi kuli bangunan dan menata batu bata.” Ejek Ayahnya.
“Ayah pasti begitu sungguh-sungguh dan tidak malas, tapi kau tidak pernah membayar biaya pendidikan atau sewa kamarku. Jangan suruh aku hidup seperti Ayah Tapi, tetap saja, ayah tidak punya uang dan masih membesarkan anak-anak dengan segenap tenaga. Haruskah aku hidup seperti itu dan punya anak sepertiku? Aku ragu.”.” Tegas Dong Man dengan nada tinggi.
 “Ternyata Anakku bisa membenciku karena miskin. Kata siapa kau miskin?.” Ucap Tuan Ko dengan nada tinggi pula. 


Joo Man pulang ke rumah dan melihat kotak bertuliskan  "Dari Baek Sul Hee" dan isinya Ekstrak akar bunga lonceng organik" Ia pun hanya bisa menangis sedih karena malah membuat Sul Hee kecewa. Lalu bel rumah berbunyi, Sul Hee sudah ada didepan rumah. Joo Man langsung memeluk Sul Hee.
“Sul Hee, maafkan aku.” Ucap Joo Man. Sul Hee dengan tatapan dingin meminta agar Joo Man mengemasi barang-barangnya.
“Sul Hee, aku membuat kesalahan tempo hari. Itu hanya kesalahan.” Kata Joo Man menyakinkan.
“Itu bukan kesalahan dan bukan hanya satu hari. Kau mengubah ponselmu ke mode getar setiap malam. Setiap dia mengirim SMS dan ponselmu menyala, dan  aku merasa sangat ketakutan. Aku tahu kau akan menemuinya, tapi aku masih membiarkanmu. Jadi Kamu pikir bagaimana perasaanku?” ucap Sul Hee.
“Dia kecelakaan dan setelah itu, dia mabuk.” Jelas Joo Man
“Kau memikirkannya dan tidak bisa mengabaikannya. Joo Man... Kau.. melepaskan tanganku.” Ucap Sul Hee. 

Joo Man memohon agar Sul Hee tak melakukana. Sul Hee merasa Joo Man berpikir dirinya akan selalu ada meskipun melepaskan tangannya sejenak, tapi sekarang enggan melakukan itu lagi. Ia megira kalau keadaan ini  akan berlalu bagaikan angin Tapi angin tetaplah angin.
“Ini tentang ya atau tidak, Bukan tentang sebesar apa masalahnya. Aku memang bodoh.” Ungkap Sul Hee.
“Kenapa kau melakukan ini? Tidak biasanya kau seperti ini. Kenapa kau sangat tegas? Kau seperti ini karena marah. ” ungkap Joo Man menahan tangisnya.
“Selama enam tahun berpacaran, aku tidak pernah meminta kita putus saat marah. Kuperlakukan dirimu sebaik mungkin, jadi, aku tidak punya penyesalan. Kau akan menyesalinya. Letakkan barang-barangku di luar.” Kata Sul Hee lalu berjalan pergi. Joo Man hanya  bisa menangis tersedu-sedu karena sikapnya membuat Sul Hee meninggalkanya. 

Sul Hee sedang mencuci piring, tiba-tiba lampu ruangan mati. Ae Ra datang dengan membawa sebuah kue dan lilin. Sul Hee binggung apa maksudnya. Ae Ra mengucapkan selamat karena Ini hari pertama kebebasan temanya dan menyuruh agar meniup lilin. Sul Hee hanya menatapnya.
“Tiuplah dan lupakan semuanya.” Kata Ae Ra. Sul Hee malah menangis tersedu-sedu.
“Jangan lakukan hal seperti ini. Aku.. tidak sanggup meniupnya. Seharusnya kau tidak melakukan ini.” Ucap Sul Hee.
“Sul Hee... Joo Man... Dia... Teganya dia melakukan ini padamu?
“ kata Ae Ra kesal sendiri. 
“Dia menangis....  Dia mulai menangis.” Ucap Sul Hee terbata-bata sambil menangis. 

Dong Man dan Joo Man minum bersama di kamar. Dong Man pun ingin tahu alasan Joo Man melakukan itu, padahal tahu kalau temanya itu tidak mudah goyah, bahkan begitu mencintai Sul Hee. Joo Man  ingin menuangkan Soju. Dong Man mengambil botol dan akan menuangkanya.
“Kenapa kau membuat Sul Hee menangis?” ucap Dong Man. Joo Man tak banyak bicara memilih untuk kembali minum menghilangkan rasa frustasinya.
“Memohonlah kepadanya.” Kata Dong Man pada temanya. 

Dong Man menerima telp ibunya di luar rumah, lalu kaget menyebut angka  1.200 dolar dan mengetahui Ayah menghabiskan 1.200 dolar di bar. Ibunya membenar bahkan suaminya juga tidak menjawab ponselnya dan membuatnya penasaran apa yang terjadi, karena tahu suaminya tidak pernah minum alkohol semahal itu.
“Apa ada yang mencuri dompetnya?” pikir Dong  Man
“Ibu, apa nama barnya di SMS? Bisa kirimkan kepadaku?” kata Dong Man pada ibunya. Ibu pun akan mengirimkan pada anaknya. 

Dong Man masuk ke dalam bar dan terlihat ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. Pria itu berkata pada Tuan Ko kalau harus sadar. Tuan Ko merasa atasanya itu terlalu mabuk jadi membayar dengan kartunya. Si atasan mengatakan agar memasukan pada ke pengeluaran. Dong Man terus mendengar perkataan ayahnya.
“Pak Ko. Tahukah kau kenapa aku memecat semua pemuda dan membawamu masuk? Kau sudah 30 tahun bekerja di bidang ini, Maka kau harus memanfaatkan koneksimu. Tapi Harga dirimu masih terlalu tinggi. Kau sangat terpisah dari segala-galanya.” Ucap Atasanya. Tuan Ko hanya diam saja.
“Pak Ko Hyung Shik. Apa Kau tidak menjawabku?” kata Atasanya. Tuan Ko mengangguk mengerti danAkan memperbaiki.
Dong Man seperti mengingat saat terpaksa berkerja yang tak disukainya, lalu ditekan oleh atasan menyuruh berhenti dan tak memaksanya untuk tetap bertahan. Dong Man pun menuruti perkataan manager berjanji tak akan mengulanginya.
“Katamu kau harus menikahkan putramu, jadi Sadar dirilah. Paham?” ucap Atasanya. Dong Man hanya bisa menahan tangis melihat ayahnya. 

Dong Man menatap ayahnya yang berjalan didepan dengan membawa kantung plastik, wajah sedihnya terlihat.
“Ayahku tidak pernah berjalan beriringan dengan keluarganya.” Gumam Dong Man
Flash Back
Tuan Ko bergegas berjalan lebih dulu, Ibu Dong Man membawa anaknya meminta agar menunggunya, terlihat berjalan dibelakang. Tuan Ko mengatakan kalau mereka harus bergegas agar dapat kursi, lalu saat naik bus buru-buru duduk disatu tempat duduk dan istrinya pun naik, Ia langsung memberikan tempat duduk pada Dong Man yang masih kecil karena mabuk darat.
Ayah Dong Man mengendong anaknya berlari sampai didepan Klinik, mengedor pintu agar membuka pintu karena Anakknya demam dan bisa meninggal.

Dong Man memanggil ayahnya, lalu memperlihatkan kantung belanja dan mengajak minum dengan putranya. Mereka sampai didepan rumah, Tuan Ko binggung kemana akan dibawa semua makanan itu. Dong Man meminta agar sang ayah mempercayakan dan ikut denganya.
Tuan Ko binggung dibawa ke lantai atas dan masuk ke dalam lemari pakaian, lalu terlihat sesuatu di jatuh. Dong Man pun mengajak ayahnya pergi ke Bar Namil.
Tuan Ko pikir mereka bukan anjing jadi Kenapa minum-minum di luar. Dong Man menyuruh ayahnya duduk saja karena  Tidak ada tempat lain yang seperti di atap rumahnya di Seoul. Tuan Ko tak percaya melihat anaknya yang bisa memasak telur goreng. Dong Man dengan bangga kalau pasti bisa dan  sudah tinggal sendiri selama 10 tahun lalu menyuapi ayahnya kuning telur.
“Apa kau baru saja minum-minum di tempat lain?” ejek Tuan Ko melihat sikap anaknya.
“Jangan merusak suasana, Coba saja.” Keluh Dong Man. Tuan Ko pun menerima suapan dari anaknya dan meminta Jangan menyuapinya karenajuga punya tangan.

“Ayah. Apa impianmu ?” tanya Dong Man, Tuan Ko merasa pertanyaan itu hanya omong kosong dan merasa tidak pernah mendengar itu.
“Aku yakin pasti Ayah sempat memiliki impian.” Pikir Dong Man, Tuan Ko merasa Tidak juga.
“Ayah punya, aku tahu. Jadi Apa itu? Katakan. Apa impian Ayah?” kata Dong Man
“Aku ingin jadi Pilot... Ada film berjudul "The Red Scarf". Seharusnya aku tidak menontonnya, aku sangat menderita karena itu. Dahulu ayah begitu ingin menjadi pilot.” Cerita Tuan Ko. Dong Man memuji kalau  itu Keren sekali.
“Seharusnya Ayah mencobanya. Kenapa tidak mengejarnya?” tanya Dong Man
“Kami tidak mampu membayar pendidikan di Akademi Angkatan Udara. Tapi kini, kalianlah impian ayah.” Kata Tuan Ko.
“Ayah... Kukira.. Kau hanya seorang ayah. Kini setelah aku tahu Ayah punya impian, rasanya agak aneh. Entah kenapa aku merasa bersalah.” Kata Dong Man. Tuan Ko tak suka anaknya tiba-tiba bicara omong kosong menyuruh agar mengisi gelasnya yang kosong saja.
“Aku membanting tulang untuk membesarkanmu, kini akhirnya kau menuangkan minuman untukku. Kau sama saja seperti ayah. Kau juga sangat kaku.” Ejek Tuan Ko
“Ayah... Tunggu saja... Aku tidak bisa membantu Ayah menjadi pilot, tapi akan kuajak Ayah naik pesawat kelas satu kelak. Kursinya paling dekat dengan kokpit.” Ucap Dong Man yakin. 



Tuan Ko mengejek anaknya gila,  saat itu Ae Ra datang menyapa Tuan Ko. Tuan Ko membalas dengan senyuman karena berpikir tidak bisa bertemu dengannya. Dong Man mengeluh pada ayahnya yang tak bisa tersenyum seperti itu padanya.
“Apa Ayah lebih suka Ae Ra daripada putra ayah?” keluh Dong Man kesal
“Dua pria membosankan minum bersama tidaklah seru. Aku harus bergabung untuk memeriahkan suasana.” Kata Ae Ra
“Sebenarnya, dia bahkan menyendokkan kuning telur untukku.” Bisik Tuan Ko. Ae Ra tak percaya mendengarnya.
“Omong-omong, Apa kalian berdua sudah melakukannya?” ucap Tuan Ko, Keduanya panik mendengarnya, Dong Man pun bertanya melakukan apa maksudnya.
“Aku menyuruh kalian berdua dan Sul Hee untuk mulai menabung. Siapa yang butuh bank? Itu cara terbaik untuk menabung.” Ucap Tuan Ko. Dong Man seperti bisa bernafas lega akan mulai Menabung...

"Gelanggang Hwang Jang Ho"
Tuan Ko bertanya apakah gedung ini, Dong Man mengaku melakukan sesuatu di sini. Tuan Ko membaca namanya dan itu adalah Jang Ho adalah pria itu. Pelatih Hwang datang menyapa Tuan Ko memberitahu kalau ia   yang membujuknya untuk melakukannya dan bukan salah Dong Man. Tuan Ko agak binggung.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan, foto Dong Man sudah dipajang pada dinding. Pelatih Hwang menawarkan cemilan, dan menawarkan kalau bisa menonton beberapa videonya serta pasti terkejut. Tuan Ko pikir akan segera pergi saja.
“ Jadi Kau selalu mengenakan baju olahraga karena selalu kemari.” Kata Tuan Ko keluar dari gedung.
“Ayah, mungkin kini aku belum menghasilkan uang, tapi jika Ayah yakin padaku...”ucap Dong Man.
“Dong Man... Aku tidak hidup seperti ini. Aku bekerja pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Aku bekerja dan tidur. Hanya itu yang aku lakukan.” Kata Tuan Ko
“Aku tahu selama ini Ayah bekerja keras. Ayah pasti tidak suka karena cara hidupku tidak sama dengan Ayah” kata Dong Man
“Tapi... Jangan hidup seperti ayah.” Kata Tuan Ko, Dong Man melonggo mendengarnya. 

Keduanya duduk ditaman. Tuan Ko mengaku kalau sudah memikirkannya, kalau Dong Man ingin hidup seperti dirinya maka tidak akan menyukainya. Ia mengaku kalau sudah terlambat untuk menjadi pilot, tapi Dong Man cukup muda untuk mencoba sesuatu satu kali.
“Jadi... Hiduplah sesuai keinginanmu.” Ungkap Tuan Ko, Dong Man tak percaya mendengar ucapan ayahnya.
“Benarkah aku bisa hidup sesuai keinginanku, Meski Ayah terus menghela napas? “ ucap Dong Man mendengar ayahnya menghela nafas.
“Itu karena aku ini menyedihkan. Kau tidak bisa melakukan hal yang selama ini ingin kau lakukan dan itu membuatku sedih” ungkap Tuan Ko.
“Kenapa Ayah bersedih? Aku selalu bersenang-senang Ayah tahu sifatku.” Ucap Dong Man

“Karena bisnis ayahmu gagal, maka kau menyia-nyiakan masa mudamu yang berharga. Kau mengurus Dong Hee. Ayah merasa kau menanggung semua beban dan merelakan hidupmu sendiri. Saat ayah melihatmu, perasaan ayah...” ucap Tuan Ko mencoba menahan tangisnya. Dong Man yang mendengarnya meminat ayahnya agar  Berhentilah bersikap konyol.
“Tapi melihatmu melakukan ini, aku seakan bisa bernapas lagi. Ayah begitu bersemangat hingga jantung ayah berdebar.” Ungkap Tuan Ko tak bisa menahan tangisnya.
“Aku tidak merelakan impianku karena Ayah. Jangan Ayah bahas lagi soal itu.” Tegas Dong Man
“Dong Man... Keluargamu tidak miskin... Ayahmu akan menghasilkan uang untuk 20 tahun ke depan. Ayahmu akan mendukungmu. Jadi, terbanglah yang tinggi.” Kata Tuan Ko yang mempercayai anaknya.
“Biarkan aku terbang dengan tiket kelas satu berkat putra ayah. Lagi pula, kau tidak bisa menyelamatkan masa mudamu. Bertarunglah. Terimalah tantangan. Meski kondisimu hancur, hiduplah sesuai keinginanmu, paham?” pesan Ayahnya. Dong Man mengangguk sambil menangis. 

Sul Hee kembali berbicara dengan pelanggan di telp, dalam hati bergumam “Pada Karakter dalam drama TV, perasan sakit setelah putus hubungan maka berbaring di kamar seharian. Kalau aku, kemarin aku putus, walaupun Di luar panas, Tetaplah di tempat sejuk. tapi hari ini aku tersenyum.”
“Semoga harimu luar biasa dan membahagiakan.” Ucap Sul Hee dengan ramah, si Pelanggan menyuruh Sul Hee juga.
“Aku berharap kau juga akan bahagia.” Ucap Si pelanggan. Sul Hee terdiam lalu air matanya mengalir dan saat itu Ye Jin sudah berdiri didekatnya.
Keduanya duduk dicafe dengan Sul Hee hanya meminum air putih,   Ye Jin mengatakan sungguh minta maaf dan mengaku kalau perasaannya tulus pad Dong Man serta sangat ingin berkencan dengannya. Ia merasa sangat menyesal dan merasa bersalah.

“Lakukan saja sesukamu...Aku dan Joo Man belum menikah. Dia bisa mengencanimu setelah putus denganku dan Kau Tidak perlu memberitahuku.” Ucap Sul Hee seolah tak peduli
“Tetap saja, aku sangat menyesal.” Kata Ye Jin merasa tak enak. Sul Hee lansung menyiram wajah Ye Jin dengan segelas air.
“Tapi Ye Jin... Aku boleh menyirammu dengan air, kan? Tidak masalah jika kau tidak tahu, tapi kali ini kau sudah tahu. Jadi, itu menjadikanmu jahat. Dan Tetap saja... Semoga suatu hari, kau akan berada di posisiku. Semoga air mata mengalir dari mata yang mengaku tidak tahu apa-apa dan polos.” Ucap Sul Hee.
“Meski kau marah, bagaimana bisa kau berkata begitu kejam?” keluh Ye Jin marah
“Apa Kau tahu, Joo Man sangat menyukaiku. Itu bukan kegembiraan samar yang kini dia rasakan kepadamu. Dia sangat menyukaiku dan tergila-gila kepadaku. Momen-momen saat aku belum dewasa dan manis sepertimu... Momen-momen penuh gairah itu... Joo Man mengingat semuanya. Jika kau benar-benar berkencan dengannya, aku sungguh berharap momen-momen itu akan selalu menghantuimu.” Ungkap Sul Hee yang mengingat semua kenangan saat pertama kali berciuman, dan di dalam ruang rapat dan mengodanya setelah menerima hadiah. Setelah itu Sul Hee pun meninggalkan cafe. 

Tuan Ko sudah menunggu di halte mengeluh Dong Man yang menyuruh agar menunggu tapi belum datang.  Dong Man berlari membawa kantung dan memberikan pada ayahnya meminta agar menelp saat tiba di rumah dan Sesekali bicara. Tuan Ko mengangguk dan buru-buru masuk lalu duduk. Dong Man ingin melambaikan tangan tapi Tuan Ko tak menatapnya, Ia pun hanya mengeluh Tuan Ko  yan tidak mau menoleh bahkan sekali pun.
Tuan Ko sempat melonggo melihat anaknya yang sudah pergi, lalu melihat isi bungkusan, ada sebuah amplop dan berisi uang.  seperti menahan rasa sedihnya, lalu melihat isi amplop lembaran uang 50ribu won. Lalu mengejak anaknya yang begitu payah dan bertanya-tanya Sifat siapa yang diwarisi.
Dong Man pulang kerumah dan melihat seperti ayahnya yang membersihkan rumah ini dan kapan melakukanya. Lalu melihat uang 50ribu won diatas baju yang sudah dilipat dan bertuliskan pesan “Belilah kursi baru.” Dong Man sambil menangis haru mengejek ayahnya yang begitu payah.
Ia mengingat kembali Pesan ayahnya “Bertarunglah. Terimalah tantangan. Meski kondisimu kacau, hiduplah sesuai keinginanmu, paham?”

Dong Man menemui Pelatih Hwang yang sedang berjualan, Pelatih Hwang heran melihat raut wajahnya membuatnya sangat takut.  Dong Man menegaskan kalau akan berhenti berpura-pura dewasa dan ingin melakukannya dengan caranya. Pelatih Hwang tak mengerti maksudnya.
“Apa Kau tahu, selama 10 tahun terakhir, setiap hari aku memikirkan soal insiden 3 November 2007. Saat melihat Tak Su si Berengsek itu berhasil, maka aku menyesalinya dan menahan kemarahan. Setiap hari aku menggila di sini. Jadi, jangan menyuruhku untuk menunggu lagi atau menempuh jalan panjang.” Kata Dong Man
“Hei, katamu kau tahu alasan dia melakukan itu.” Ucap Pelatih Hwang menyadarkanya.
“Pelatih. Mungkin aku tidak bisa memukul Doo Ho saat aku terluka, tapi akan kubunuh Tak Su meski pergelangan kakiku terkilir. Mungkin aku menyerah saat berlatih tanding melawanmu tapi aku akan bertarung sampai mati saat melawan Tak Su. Jadi, tolong biarkan aku terbebas dari insiden 10 tahun yang lalu. Tolong biarkan aku melakukannya.” Kata Dong Man yakin.
“Sebaiknya kau melakukannya dengan benar... Kalahkan Tak Su dengan benar.”pesan Pelatih Hwang. 

Dong Man berteriak memanggil Ae Ra yang menunggunya ditaman, Ae Ra binggung melihat Dong Man menurutnya wajahnya sangat menakutkan dan terlihat emosi lagi. Dong Man menegaskan akan melakukannya. Apa pun yang terjadi,  akan melawan Tak Su. Ae Ra pikir Dong Man akan kalah, karena Tak Suk pasti tahu.
“Lalu kenapa jika aku kalah? Tujuanku bukan mengalahkannya. Akhirnya aku melakukan hal yang selama ini ingin kulakukan. Aku hanya akan terbang. Orang yang bersenang-senang tidak bisa dikalahkan. Jika tumbuh dewasa berarti impian akan pudar, aku tidak mau tumbuh dewasa..” Ucap Dong Man menyakinkan.
“Tidak perlu berpura-pura menjadi dewasa untuk orang lain Kau tidak bisa selalu berhasil Karena itu, aku mendatangimu sambil berlari seperti ini..” Ungkap Dong Man  
Ae Ra bertanya apalagi sekarang, Dong Man mengatakan Agar  tidak basa-basi dan mengatakan keinginannya. Ae Ra ingin tahu mengatakan apa.  Dong Man mengutarakan perasaanya “Aku mencintaimu... Aku sungguh mencintaimu.”
“Seperti anak yang belum dewasa... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu, Ae Ra.” Ungkap Dong Man tak ingin menahan perasaanya lagi.
“Aku juga... Aku juga mencintaimu... Dasar berandal yang belum dewasa.” Ejek Ae Ra. Dong Man mendekat dan langsung memberikan ciuman. 


[Epilog]
Sebuah tutup botol jatuh saat tuan Ko aka masuk ke atap gedung, ternyata Bibi Ganako baru saja keluar dari rumahnya dan bersembunyi dibalik tirai lalu terlihat gemetar melihat wajah Tuan Ko dan memanggilnya seperti memiliki sebuah kenangan dengan ayah Dong Man,
Bersambung ke episode 13

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar