PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 22 Juli 2017

Sinopsis School 2017 Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Eun Ho dan Bo Ra akhirnya duduk bersama, terpaksa harus menuliskan surat permohonan maaf dan mengaku bersalah. Eun Ho mengumpat kesal dengan semua yang terjadi padanya. Bo Ra  pun meminta maaf, karena semua adalah kesalahanya.
“Bukan, ini tak masalah. Pada dasarnya mereka memang membenciku. Tapi... apa yang terjadi padamu?” kata Eun Ho. Bo Ra pikir kalau itu
“Aku tidak percaya kau yang melakukannya.  Aku yakin kau punya alasan.” Ucap Eun Ho. Bo Ra mengaku kalau seperti tak memiliki alasan.
“Kau tahu... Kita mungkin akan dikeluarkan, 'kan?” ucap Bo Ra sedikit ketakutan.
“ Itu konyol. Kita tidak membunuh orang-orang. Tapi mereka terus berusaha mengusir kita.” jelas Eun Ho yakin.
Bo Ra pikir Itu lebih baik untuk sekolah yang tak memiliki anak murid seperti mereka, karena mereka mendapat nilah rendah dan  kita miskin. Eun Ho tak setuju menurutnya kalau mereka yang memiliki nilai rendah dan miskin bkan berarti anak yang nakal, lalu mengumpat kesal dengan membuang lembaran kertasnya. Bo Ra hanya bisa tersenyum melihatnya. 


Dae Hwi menemui guru Shim, memberikan lembaran surat petisi yang sudah diisi. Guru Shim pun mengucapkan terimakasih. Lalu Dae Hwi menenyakan apakah Eun Ho dan Bo Ra akan baik-baik saja, Guru Shim pun sangat berharap seperti itu.
**
Guru Shim dan Petugas Han melihat rekaman CCTV, melihat dari layar seseorang dengan jaket yang ditutup wajahnya Petugas Han yakin kalau Anak ini tahu persis dimana posisi kamera dan Cukup pintar. Guru Shim pikir si pelaku bukan seorang amatir.
“Jika bukan amatir...mungkin saja pelakunya bukan siswa, 'kan? Betul 'kan. Eun Ho tidak mungkin...” kata Guru Shim berusaha untuk menyakinkan.
“Justru siswa lah yang tahu persis posisi kamera. Khususnya siswa yang sering pergi ke ruang guru.” Ucap Petugas Han tiba-tiba merasa sangat lapar.
“Apa ada Ramyeon?” tanya Petugas Han santai. Guru Shim malah panik mendengar Petugas Na yang ingin Ramyeon, karen diartikan sebagai kiasan utk mengajak tidur
“Kenapa juga jam segini aku ingin ramyeon dengan seorang wanita. Aku tidak seperti itu... Kau hanya rekan kerjaku...” ucap Guru Shim.
“Maksudku, kita makan ramyeon di jalanan. Memangnya apa yang kau pikirkan?”kata Petugas Han heran dan tiba-tiba sengaja mendekat sampai membuat Guru Shim mundur dan sedikit panik.
Petugas Han dengan posisi mendekati Guru Shim mengatakan kalau  Pelakunya ada di dalam sekolah. Guru Shim pun terlihat bisa bernafas lega saat Petugas Han jauh darinya. 


Dalam sebuah kelas, bertuliskan “Tempat Les Moonjun” beberapa anak memegang ponselnya dengan menonton video CCTV si pelaku. Seseorang mengirimkan pesan dalam grup harus cepat melakukan sesuatu. Murid lainya memastikan kalau Itu tidak akan menyakiti mereka. Si pelaku meminta agar mereka Jangan melakukan hal mencurigakan.

Eun Ho sedang berjalan di taman sekolah, lalu Petugas Han memanggilnya dan menunjuk sebuah bukti kalau Mungkin ini pelakunya. Eun Ho dibuat binggung. Petugas Han memberitahu kalau Seseorang yang memiliki darah yang menempel pada kaca jendela. Eun Ho mengingat saat si pelaku melompat dan terkena sedikit pecehan kaca saat akan pergi. 

Seorang pelajar pria terlihat membuang tissue dengan noda darah di toilet. Dae Hwi dan Tae Woon bermain basket di lapangan, Byung Goo tiba-tiba dikagetkan dengan sosok seseorang yang duduk ditangga seperti hantu.  Tae Woon merasa kalau Byung Goo lebih menakutkan.
Eu Ho melihat semua pria dengan berusaha melihat ke bagian pinggang yang terluka. Akhirnya ia berusaha masuk dalam kerumunan dengan memuji permaian seperti hanya untuk berbasa basi sambil memegang bagian perut. Hee Chan mengeluh apa yang dilakukan Eun Ho sebenarnya. Eun Ho pun pergi karena Hee Chan tak mengeluh sakit.
“Hei, Dae Hwi! Permainan basketmu sangat hebat dan Gerakanmu sangat bagus.” Kata Eun Ho. Dae Hwi pun ingin memberikan contoh sementara Eun Ho ingin melihat bagian pinggan dengan menarik bagian kaosnya.
Nam Joo langsung berteriak marah sebagai pacaranya. Eun Ho berusaha menjelaskan tidak bermaksud melihatnya atau semacamnya menurutnya tidak ada yang perlu dilihat sambil berjalan dan memukul perut Byung Goo.
Byung Goo langsung berteriak kesakitan, Eun Ho panik melihat Byung Goo yang kesakitan dan ingin memeriksanya. Byung Goo mengaku kalau perutnya kram. Eun Ho kesal lalu melihat Tae Woon yang akan pergi meninggalka lapangan. 


Eun Ho kembali berbasa basi melihat Tae Woon yang berkeringat dan ingin membantu untuk mengelapnya jadi meminta agar melepaskan bajunya.  Tae Woon heran dengan yang dilakukan Eun Ho. Akhirnya Eun Ho mencoba cara yang lain kalau Tae Woon bau sampai tidak bisa bernafas. Tae Woon pun bertanya aapa yang dicarinya.
“Memangnya aku terlihat sedang mencari sesuatu? Tapi Biarkan aku melihat... pinggangmu.” Ucap Eun Ho. Tae Woon langsung menolak.
“Jangan berani-berani mengintip badanku. Apa Kau memikirkan sesuatu yang mesum?” ucap Tae Woon marah lalu pergi ke tempat cuci tangan. Eun Ho benar-benar tak percaya di anggap mesum dan mendekatinya. 

Tae Woon menyuruh Eun Ho agar Pergi, tapi Eun Ho tetap diam. Tae Woo akhirnya ingin menyiram dengan air dan berhasil membuat Eun Ho pun berlari pergi. Saat itu juga keran yang dipakai Tae Woon malah bocor membuat semua jadi basah.
Eun Ho mendengar suara air yang mengalir deras lalu berbalik dan melihat Tae Woon dengan bertelanjang datang membasahi tubuhnya dengan selang air. Matanya pun berusaha melihat apakah ada luka dibagian tubuh Tae Woon, setelah selesai Tae Woon sadar Eun Ho menatapnya dari kejauhan dan buru-buru menutupi badanya.
“Oke.. Baiklah. Kau lihat saja.. Apa Kau senang?” ucap Tae Woon sengaja memperlihatkan badanya. Eun Ho pun terus menatapnya. Tae Woon kesal sendiri karena Eun Ho malah membuatnya takut. Eun Ho duduk dengan wajah kesal tak bisa menemukan pelakunya. 

Eun Ho duduk di kelas sambil mengambar, Guru Goo memanggilnya dari depan pintu kelas agar ikut denganya. Akhirnya Ra Eun keluar dari ruang guru, Guru Goo memberitahu kalau sudah memanggil Orang tuanya, bahwa komite disiplin sedang rapat.
Eun Ho melihat nama ibunya yang terlihat layar ponsel menelpnya, ibu Eun Ho dengan motornya membawa banyak kotak makan berisi ayam dibawa ke sekolah Eun Ho. 

Nyonya Kim menemui Guru Goo langsung meminta maaf untuk anaknya yang belum dewasa Bahkan mungkin tidak tahu apa yang dilakukan. Ia mengaku kalau Eun Ho tahu hanya menggambar komik jadi tidak tahu apa-apa tentang kenyataan, bahkan dengan sangat marah berpikir akan mematahkan kakinya serta berjanji tidak akan terjadi lagi.
“Ada masa tunggu selama 3 bulan. Lebih baik baginya mundur secara sukarela daripada dikeluarkan.” Kata Guru Goo
“Aku mohon.. Jangan lakukan itu. Dia tidak boleh dikeluarkan. Dia tidak bisa bertahan hidup tanpa ijazah SMA. Kumohon, Aku mohon padamu.” Ucap Ibu Eun Ho sambil menahan Guru Goo dan berlutut agar Eun Ho bisa lulus. Guru Shim seperti tak enak hati juga.
“Bangunlah.” Kata Eun Ho. Nyonya Kim dan Guru Shim kaget mendengarnya. Eun Ho menyuruh ibunya agar bisa Bangun.
“Aku tidak melakukan kesalahan. Bukan aku yang melakukannya. Kenapa kau memohon padahal aku tidak salah apa-apa? Aku akan pergi dari sekolah bodoh ini.” Ucap Eun Ho melawan
Ibunya langsung menyuruh Eun Ho agar diam dan Jangan bicara. Eun Ho terus berteriak kalau bukan dirinya yang melakukannya. Akhirnya Nyonya Kim berjalan lebih dulu tangga sambil menangis, Eun Ho tak tega memanggil ibunya. Nyonya Kim membalikan badanya menyuruh anaknya agar masuk saja ke dalam kelas. Eun Ho pun hanya bisa menangis. 


Kepsek Yang langsung membung kotak ayam merasa kalau itu diangap sebagai sogokan, dan Guru Goo berkata kalau harus menunggu keputusan akhir untuk menentukan hukuman Ra Eun Ho. Menurutnya Eun Ho mungkin terlihat berada di TKP, tapi satu-satunya bukti mereka tak menemukan  secara langsung dari kamera CCTV.
“Masalahnya adalah kita tidak memiliki bukti yang kuat.” Kata Guru Koo.
“Apakah ada bukti yang menunjukkan dia tak bersalah? Kau mendengar tembakan, lalu lari, dan kau melihat seseorang memegang senjata. Wajar jika mencurigai orang bersenjata itu. Direktur sudah memerintahkannya. Keluarkan dia atau usir dia.” Tegas Kepsek Yang. 

“Si pelaku atau pahlawan, atau siapapun itu harus dihentikan. Seseorang yang tidak bersalah akan di keluarkan.” Ucap Sa Rang berbaring diatas meja lalu memanggil Dae Hwi yang duduk didepanya.
“Bukankah kita harus melakukan sesuatu?” kata Sa Rang, Dae Hwi membenarkan tapi menurutnya Kepala sekolah sangat keras kepala, jadi Semuanya akan sia-sia.
Sa Rang merengek memohon pada Dae Hwi, tapi Dae Hwi tetap tak bisa melakukanya. Sa Rang hanya bisa mengumpat kesal memikirkan kalau bisa gila dengan Pahlawan yang hanya seorang pengecut yang kekanak-kanakan.

Saat itu Tae Woon keluar dari ruang kelas, Sa Rang langsung mendekat Tae Woon dengan senyuman meminta agar temanya itu berbicara dengan ayahnya karena yakin bukan Eun Ho pelakunya dan menurutnya Ini tidak adil.
“Kenapa dia begitu bodoh?” keluh Tae Woon sinis kluar dari kelas. Sa Rang hanya bisa mengumpat Tae Woon adalah manusia tak berperasaan.

Nyonya Kim memotong ayam dengan pisau seperti melampiaskan amarahnya, Eun Ho meminta maaf pada ibunya dan mengaku kalau  benar-benar ingin berhenti sekolah. Nyonya Kim pun ingin tahu apa yang akan kau lakukan dan Bagaimana dengan kuliah.
“Aku akan menggambar webtoons dan menjadi terkenal. Aku akan bekerja keras.” Ucap Eun Ho menyakinkan ibunya.
“Mari laporkan sekolahnya. Mereka menjebaknya, ini penghinaan. Mari kita tuntut mereka. Kita bisa menang. Aku akan melakukannya.” Ungkap Tae Sik, Nyonya Kim menyuruh Tae Sik jangan ikut campur.
“Mereka membeda-bedakan siswanya. Aku benci. Semua ini karena aku siswa yang nakal. Karena itulah mereka merendahkanku.” Ucap Eun Ho.
Nyonya Kim pikir itu tak masalah dan menyuruh anaknya bisa belajar lebih giat saja, menurutnya Eun Ho tahu kalau perlu nilai yang bagus agar dapat dihargai orang-orang. Eun Ho hanya bisa menghela nafas dan pergi ke taman dengan mengantungkan kakinya pada tiang olahraga. 


Beberapa mobil berjejer masuk sekolah, ibu Sa Rang dan yang lainya masuk kedalam sekolah. Eun Ho berdiri diruang guru dengan mendengar komentar sinis kalau dirinya sangat memalukan dengan mengharuskan pergi. Ia pun hanya bisa menahan amarah sambil meremas tanganya.
Akhirnya Ia duduk dikelas dengan “Surat Permintaan Pengunduran Diri” didepanya. Terdengar temanya yang menyanyi  di taman, dengan lirik “ Apa kau ingat, Hari pertama kita bertemu. Apa kau ingat, Saat kita duduk bersama.”
Ia menatap kolom “Alasan mengundurkan diri” lalu berkata kalau lebih memilih menggambar daripada menulis dan Kenapa sekolah bodohnya ini terus menerus menyuruh menulis. 

Akhirnya Ia datang menemui Guru Goo diruang guru, memberikan suratnya dan pamit pergi. Guru Goo pun memanggil Guru Shim untuk membaca surat Eun Ho. Guru Shim hanya bisa menatap Eun Ho yang berjalan pergi di depan ruang guru. Eun Ho pun hanya menangis keluar dari sekolah.
“Mendapat peringkat rendah... itu berarti kau tidak berhak bersekolah.”
Bo Ra hanya bisa menatap sedih saat Young Gun dkk mengambil semua barang-barang dalam minimarket tanpa membayar.
“Hal yang paling menyebalkan ditengah diskriminasi tersebut tidak ada orang dewasa yang mengatakan bahwa sekolah tidak boleh melakukan diskriminasi dan diskrimnasi itu salah. Tidak ada seorang pun.”
Guru Shim hanya bisa duduk diam dalam ruanganya, ada sebuah surat petis dan juga surat pengunduran diri dari Eun Ho. Saat itu seorang ibu seperti ibu Young Gun hanya bisa menatapnya, setelah itu bergegas pergi seperti tak ingin mengenalinya.
“Dunia luar... jauh lebih kejam.” Ucap Guru Goo pada Guru Shim sebelum pergi.
“Tepat sekali. Kita malah mendorong mereka ke dunia yang kejam itu. Sekolah apa ini. Ini salah... Pihak sekolah... terlalu mudah mengeluarkan siswanya dari sekolah. Anak-anak tidak punya tempat lain untuk dikunjungi.” Ucap Guru Shim lalu keluar dari ruang guru. 
Guru Shim pergi menemui ayah Eun Ho sambil meminum dan meminta maaf.  Tuan Ra pikir Jangan meminta maaf karena tahu kalau Guru Shim itu sudah mencoba yang terbaik bahkan menggunakan uangnya untuk memberikan kertas petisi kepada anak-anak jadi mengucapkan terimakasih.

“Aku senang orang seperti anda menjadi gurunya.” Ungkap Tuan Ra
“Tidak... Aku bukanlah seorang guru... Seharusnya aku mati saja.” Ungkap Guru Shim merasa bersalah.
“Tidak. Berhentilah bicara bahwa kau ingin mati. Orang yang tidak kompeten itu sepertiku... Aku bukanlah seorang ayah. Aku akan mati duluan.” Kata Tuan Ra.
Guru Shim kali ini yang meminta agar Tuan Ra bisa menghentikanya, menurutnya ia yang lebih baik mati saja. Tuan Ra menyuruh Guru Shim sekolah bahkan memarahinya karena berlutut meminta maaf.

“Apa Kau menyebut tempat ini sekolah? Etika murid sekolah ini sudah mencapai titik paling rendah. Kami sudah mengatakan bahwa tidak akan membiarkan tindakan yang tidak semestinya ini. Ra Eun Ho adalah pelaku. dibalik semua tindakan tidak terpuji ini.” Ucap Kepsek Yang marah-marah diatas podium.
Eun Ho pun seperti disidang di depan satu sekolah dalam auditorim, saat tu sebuah drone masuk ke dalam seseorang seperti sedang mengendalikanya. Kepsek Yang kaget melihat wajahnya ada di atas drone. Guru Park pun bertanya-tanya siapa yang berani memasak wajah kepala sekolah. Semua anak-anak tertawa melihatnya.
“Petugas Han.... Kenapa kau diam saja?” teriak Kepsek Yang. Byung Joo melihat kalau semua itu Hebat dan luar biasa.
“Itu artinya bukan Eun Ho pelakunya, 'kan?” ucap Byung Joo. Sa Rang dan Eun Ho berteriak bahagia kalau itu bisa membuktikan semuanya.
“Aku sudah tahu bukan Eun Ho pelakunya. Hal ini terus menerus bertambah rumit. Tanda apa itu tanda X?” ucap Duk Soo
“Pelakunya akhirnya ingin mengungkapkan identitasnya.” Ungkap Nam Joo. Semua anak langsung memberikan tepuk tangan pada drone yang memberikan bukti. Kepsek Yang berteriak menyuruh agar menurunkanya. Dan drone pun pergi keluar dari ruangan, semua langsung berlari mengikutinya.

Eun Ho ikut mengikuti Guru Shim dan Petugas Han keluar dari ruangan. Sementara Guru Goo melihat sosok orang yang mengendalikan drone dilantai atas. Mereka semua melihat drone naik ke atas, Petugas Han tahu kalau  Sebuah Drone tidak bisa terbang lebih dari 15 menit jadi tidak boleh kehilangan jejaknya.
Guru Shim memutuskan untuk mengejar pergi ke arah lain. Eun Ho melihat gurunya pergi ke arah yang berbeda, lalu memilih untuk berjalan mundur. Guru Shim mengejarnya sampai lapangan dan membiarkan pergi dengan senyuman, Eun Ho melihat seseorang yang berlari ke atap gedung.

Seseorang keluar dari balik kursi, Eun Ho tak percaya kalau Yoon Kyung Woo adalah pelakunya. Kyung Woo memberitahu kalau untuk mengambil gitarnya. Eun Ho masih tak percaya kalau melakuknya, Kyung Woo menyakinkan kalau ia bukan  pelakunya lalu pamit pergi. Eun Ho pun ikut berlari meninggalkan atap dan saat itu pelaku yang bersembunyi pun keluar.

Petugas Han, Guru Shim dan Eun Ho melihat dari CCTV saa Drone keluar dari auditorium. Eun Ho pun bisa melihat Kyung Woo di auditorium jadi bisa memastikan kalau memang bukan pelakunya lalu keluar dari ruangan. Petugas Han lalu melihat rekaman CCTV Guru Shim dan  bertanya alasan tiba-tiba berhenti.
“Aku mungkin tidak bisa melakukan segalanya tapi aku bisa "tidak melakukan" apa-apa.” Kata Guru Shim 

Eun Ho kembali ke kelas memeriksa tasnya, lalu membuka loker menemukan sesuatu dan langsung melihat sekeliling. Tae Woon datang dari arah pintu depan memanggil Eun Ho dan Dae Hwi juga datang dari pintu belakang. Eun Ho seperti ketakutan melihat keduanya makin mendekat, ditangan sebuah note bertuliskan (Dae Hwi and Tae Woon tidak ada di lorong.)
Bersambung episode 3

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar