Selasa, 18 Juli 2017

Sinopsis School 2017 Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

[Ujian Percobaan Ketiga di Bulan Mei]
Semua siswa duduk di bangku masing-masing, dan siap untuk melakukan ujian. Ra Eun Ho sudah siap duduk mengerjakan ujian.
“Ujian...Kami semua membayangkan hal  yang sama di situasi yang menyiksa ini. Semoga berharap agar dunia ini kiamat saja agar kami bisa berhenti dari ujian ini.”
Saat itu tak sengaja pensil Eun Ho yang jatuh ke lantai dan tiba-tiba keran dibagian atap kelas mengeluarkan air. Alarm kebakaran berbunyi dengan air yang membasah seluruh keras.
“Dan.. ada salah satu dari kami yang membuat imajinasi itu menjadi nyata. Kehidupanku sebagai gadis 18 tahun yang biasa saja.. tanpa terduga mulai menjadi memusingkan.”

-5 hari sebelumnya-
Eun Ho dan Oh Sa Rang berlari keluar dari kelas dan langsung berdiri didepan tangga. Guru Goo Young Goo sudah ada didepan pintu memberitahu kalau Yang selanjutnya, anak kelas 2, lalu memanggil Peringkat 1 hingga 10  termasuk Dae Hwi boleh masuk.
Dae Hwi dengan senyuman menaiki tangga dan masuk ke dalam ruangn, Eun Ho terlihat iri melihat Dae Hwi masuk lebih dulu. Mereka semua siap masuk kantin untuk makan.
“Jangan makan terlalu banyak” pesan Eun Ho yang sudah menunggu dibagian depan.
“Selanjutnya adalah peringkat 11 sampai 20. Silakan berbaris.” Ucap Guru Goo. Beberapa orang pun naik ke dengan sedikit menyengggol Eun Ho. Sa Rang mengeluh kapan mereka akan makan.
“Aku peringkat ke berapa? ini menyebalkan sekali. Sampai kapan kita akan makan siang.. berdasarkan urutan ranking seperti ini? Tidak peduli berapapun rankingnya, semua orang 'kan merasa lapar.” Keluh Eun Ho akhirnya menuruni tangga menunggu giliran masuk ke kantin.
“Hal ini baru akan berakhir kalau sekolah kita meledak.” Ucap Sa Rang. 

Akhirnya mereka masuk untuk mengantri dan melihat Hari ini menunya bulgogi, Eun Ho memikirkan kalau sebelum masuk kantin  dagingnya sudah habis, padahal mereka juga bayar, tapi malah tak bisa mendapatkanya.
Saat itu seorang pria bernama Kim Tae Woon masuk ke dalam kantin tanpa mengantri. Eun Ho mengeluh Si kunyuk itu lagi-lagi diistimewakan. So Rong mengingatkan Ayah Tae Woon adalah direktur sekolah mereka jadi lebih baik membiarkan makan semaunya.
Tae Woon seperti diberikan istimewa dengan banyak pelayan yang memberikan porsi banyak, bahkan salah satu pegawai memberikan bonus telur mata sapi diatas nasi. Eun Ho dan Sa Rang langsung mengumpat kesal melihatnya. 

Akhirnya Eun Ho dan Sa Rang bia mendapatkan makan siang, tiba-tiba Eun Ho menjerit memegang wajahnya dengan menatap ke ponselnya. Sa Rang bingung ada apa dengan temanya. Eun Ho binggung melihat wajahnya,jadi bulat. Sa Rang mengeluh kalau wajah temanya Sama sekali tidak bulat.
“Tapi Lebih mirip segi empat menurutku. Sebuah segi empat yang sempurna.” Ejek Sa Rang
“Padahal aku harusnya kelihatan lebih kurus. Sunbae Jong Geun menyukai gadis-gadis langsing.” Kata Eun Ho
“Hei Ra Eun Pal, Apa kau mau bolos lagi?” kata Sa Rang. Eun Ho menyuruh agar diam saja seperti tak ingin ada yang bisa mendengarnya. 

Eun Ho pun berjalan keluar dari ruang kelas, lalu memanggil Sa Rang yang ada di lantai atas.  Sa Rang membuka jendela kelas memastikan kalau Eun Ho ingin dilempar tasnya dari atas. Eun Ho mengangguk dan siap menangkapnya. Sa Rang pun melemparnya, tapi karena tasnya tak di tutup lebih dulu.
Akhirnya semua lembaran brosur pun jatuh melayang dari lantai dua. Sa Rang yang melihat dari lantai atas pun hanya bisa meminta maaf dari lantai atas. Eun Ho pun mengambil brosur sambil mengumpat kesal pada Sa Rang.
“Harusnya aku tidak usah mempercayaimu.” Umpat Eun Ho. Sa Rang hanya bisa meminta maaf dan menunjuk ke sebelah sana.
“Apa Kau mau pergi kerja paruh waktu?” ucap seorang pria membantu Eun Ho yang mengambil brosur.
Eun Ho melihat Song Dae Hwi sebagai Ketua Osis,  Dae Hwi bertanya apakah Eun Ho bolos karena mau pergi kerja paruh waktu, Eun Ho mengaku Ada sesuatu yang sangat penting yang harus dlakukan hari ini.
“Jangan cemas. Aku akan melindungimu kalau kau tertangkap.” Kata Dae Hwi membantu mengambil brosur.
“Benarkah? Kalau begitu aku bisa tenang.” Kata Eun Ho lalu bergegas pergi mengambil brosur dari tangan Dae Hwi. 


Dae Hwi bertemu dengan guru Shim Kang Myung di ruang guru, menanyakan lembaran kertas itu  adalah pertanyaannya essai, Guru Shim termasuk dalam ujian masuk Universitas Hanguk dan menyakinkan kalau pasti akan dapat nilai tambahan jika menjawabnya dengan baik.
“Tapi sekali lagi, targetmu adalah Universitas Seoul.” Ucap Guru Shim. Dae Hwi mengangguk mengerti dan mengatakan akan berusaha keras.
“Kau pasti merasa gugup... Kalau kau merasa gugup, sandarkan kepalamu ke belakang.. dan rilekskan tubuhmu. Lalu Tarik napas dalam-dalam.” Ucap Guru Shim malah yang terlihat lebih gugup. Didepanya Guru Jung Joon Soo mendengar mencoba melakukan sesuai guru Shim.
Dae Hwi mengaku kalau tidak gugup, dan memastikan untuk melakukan semuanya dengan baik. Guru Shim terlihat agak binggung karena Dae Hwi yang tak gugup dan ingin akan mengajarkan bagaimana caranya memacu kerja otak tidak merasa gugup. Dae Hwi pun memilih untuk pamit pergi pada gurunya.
“Dae Hwi... Kau naik taksi saja.” Ucap Guru Shim memberikan uang. Dae Hwi menerimanya lalu segera pergi. 


Eun Ho sedang berdandan didepan penyimpanan sepeda. Tae Woon mengejek Eun Ho agar Berhenti mengoleskannya, nanti garis di atas bibirmu bisa hilang. Eun Ho melihat Tae Woon yang bolos juga. Tae Woon dengan sinis kalau dirinya ke parkiran membawa motor bukan ingin bertemu dengan Eun Ho.
“Kalau kita berdua di sini, maka kita bisa ketahuan.” Ucap Eun Ho panik
“Kau tidak sebegitu menarik perhatian, jadi Tenang saja.” Ejek Tae Woon.
“Kau benar-benar memancing amarahku lagi. Aku tidak bisa terlambat ke sekolah. Terlambat semenit saja, mereka pasti akan mempermasalahkannya. Aku ini benar-benar menarik perhatian, kau harus  tahu.” Ucap Eun Ho tak mau direndahkan. Tae Woon membenarkan saja dengan nada mengejek.
“Baiklah. Sepertinya kau ini cuma sedang tidak waras.” Ejek Tae Woon lalu meninggalkan sekolah dengan sepeda motornya.
“He.. Kau mau mati!! Kalau begini kita bisa ketahuan! Suaranya akan membuat berisik. Nyalakan mesinnya kalau aku sudah pergi.” Teriak Eun Ho dan buru-buru pergi. 

Eun Ho mengayuh sepeda dengan wajah bahagia melalui sebuah jalan, tapi dua buah motor seperti sengaja mendekati lalu membuatya terjatuh dan buru dalam keranjanya jatuh. Tae Woon melihat dari kejauhan, menghentikan mobil lalu mendekati Eun Ho.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Tae Woon dari balik helmnya.
“Astaga, apa yang harus kulakukan? Aku sedang terburu-buru.” Keluh Eun Ho yang masih duduk terjatuh. Tae Woon melihat dua motor seperti sengaja ingin mengajaknya adu balap.
“Cepat Naiklah... Kau bilang harus buru-buru. Jadi Naik sajalah. Apa Kau tidak mau?” ucap Tae Woon yang sudah memutar motornya kembali. Eun Ho masih saja terdia. Tae Woon mulai menghitung untuk meninggalkanya.

Eun Ho akhirnya naik ke atas motor Tae Woon dengan helm untuk sepeda, saat melalui dua motor yang menghadang mereka, Tae Woon menaikan motor dan dua motor yang ingin menyerangnya pun terjatuh. Eun Ho yang duduk dibelakangnya seperti sedikit takut. 


Tae Woon menghentikan motor dan dibuat binggung dengan Eun Ho yang masih duduk dibelakang dan sibuk memakai lipgloss dibibirnya. Eun Ho pun menanyakan pendapat Tae Woon apakah dirinya terlihat aneh.  Tae Woon hanya menatapnya.
“Kenapa? Apa aku ini menggemaskan?”ucap Eun Ho yang sudah turun mendekatkan wajahnya.
“Saking menggemaskannya, maka aku rasanya ingin meninjumu. Kau mengoleskan terlalu banyak foundation, wajahmu pucat sekali.” Ejek Tae Woon. Eun Ho hanya bisa berteriak marah lalu mengangkat ponselnya yang berdering.
“Ya, umurku memang 18 tahun. Tapi bisa tidak kalau tidak usah pakai seragam? Kalau pakai seragam aku akan merasa malu dan tidak akan bisa melakukannya. Selain itu Rasanya juga tidak nyaman.” Ucap Eun Ho, Tae Woon yang mendengarnya seperti Eun Ho melakukan perkerjan sesuatu.
“Bayarannya sesuai dengan yang kau janjikan 'kan?” kat Eun Ho lalu menyetujui dengan penuh semangat.
Tae Woon menatap Eun Ho dengan tatapan aneh. Eun Ho bertanya Kenapa menatapnya. Tae Woon memikirkan Eun Ho yang Seragam sekolah dan  tidak bisa melakukannya, seperti tak percaya
“Berapa banyak bayaranmu sampai mereka menyuruhmu pakai seragam sekolah?” ucap Tae Woon.
“Bayarannya lumayan. Mereka biasanya memang suka dengan yang memakai seragam.” Ucap Eun Ho santai
“Wah, Ra Eun Ho. Kau santai sekali mengatakannya. Apa Kau tidak malu” ejek Tae Woon tak percaya
Eun Ho ingin bicara tapi ponselnya kembal berdering dan berkata kalau  sudah sampai dan akan segera pergi ke depan perpustakaan, setelah itu beranjak pergi. Tae Woon hanya bisa melonggo melihat Eun Ho yang terlihat santai tapi dirinya seperti gelisah, dan mencoba agar bisa menyadarkan dirinya untuk tak peduli. 

Eun Ho duduk disamping seorang pria yang terlihat sangat tampan dari bibirnya. Jong Geun, melihat gambar Eun Ho lalu memuji kalau  jago menggambar. Eun Ho yang terpana mengaku kalau  Sejak masih kelas satu, sangat suka, lalu Jong Geun menatap dalam-dalam Eun Ho.
“Apa Kau tidak kepanasan? Kau lupa melepas helmmu.” Ucap Jong Geun. Eun Ho sangat malu dan mencoba membuka helm sambl merapihkan rambutnya, tapi membuat kibasan rambutnya mengenai wajah Jong Geun. Lalu membalikan badan sambil mengibaskan rambut.
“Tadi kau bilang sejak kelas satu kau apa?” kata Jong Geun.
“Sejak aku kelas satu, Aku suka” ucap Eun Ho seperti mengutarkan perasaan pada Jong Geun.
“Bukannya sekarang kau harusnya belajar dengan keras? Kalau kau belajar keras, maka kau juga bisa masuk kampus ini. Kuliah itu rasanya menyenangkan. Impianku sejak dulu adalah.. pacaran begitu menjadi mahasiswa.” Ungkap Jong Geun.
Eun Ho makin terlihat bahagia mendengarnya, dengan  percaya diri kalau dirinya juga seperti ingin pacaran dengan seniornya juga itu. Jong Geun terlihat binggung,lalu menasehati Eun Ho harus belajar keras..agar bisa diterima di kampusnya, dan ingin tahu peringat Eun Ho.Eun Ho menatap langit meningat peringatnya. 

 Flash Back
Semua melihat pengumuman peringat satu angkatan. Sa Rang berterika bahagia memanggil Eun Ho kalau dirinya naik peringat 10 angka sekaran berada di nomor 270. Semua murid hanya bisa melonggo melihat tingkah Sa Rang masih ada diperingat bawah tapi bangg.
Akhirnya Eun Ho mengaku pada Jong Geun kalau Belakangan lumayan naik. Jong Geun pun memujinya dan mneceritakan kalau bukan maksud Pamer tapi menurutnya kampusnya ini memang lumayan keren jadi Eun Ho harus masuk ke kampusnya. 
Saat itu Tae Won tiba-tiba datang langsung menarik Eun Ho, Jong Geun menahanya bertanya Siapa pria yang tiba-tiba membawa Eun Ho. Eun Ho juga binggung melihat tingkah Tae Woon. Tae Woon dengan nada tinggi memberitahu namanya Hyun Tae Woon dan langsung memberikan pukulan pada Jong Geun.

“Hei... Apa kau sudah gila? Dia masih remaja dan  ini masih siang. Bagaimana bisa kau mengencani anak di bawah umur?” teriak Tae Woon. Eun Ho melonggo binggung mendengarnya.
“Sepertinya kau salah paham.” Ucap Jong Geun dengan memegang waja terkena pukulan.
“Salah paham apa maksudmu, DasarMesum. Kau suka berfantasi dengan seragam, Benarkan? Apa Kau suka tonjokanku?!!”teriak Tae Woon ingin memberikan pukulan pada Jong Geun, tapi Eun Ho langsung menghalangi dan membuat Tae Woon tak jadi memukul Jong Geun. 

Akhirnya Eun Ho dan Tae Woon berjalan keluar kampus. Eun Ho mengomel dengan kata-kata Tae Woon yang merasa Jong Geun mengencani anak di bawah umur menurutnya itu Benar-benar tidak masuk akal. Tae Woon merasa sudah minta maaf.
“Kalau minta maaf memangnyasemua beres?!! Dia pasti sangat kaget. Kalau wajahnya tergores,  Kau akan kubuat mati” tegas Eun Ho membela
“Kalaupun tergores pasti tidak akan kelihatan. Si kunyuk itu sama sekali tidak kelihatan tampan.” Ejek Tae Woon. Eun Ho tak terima pria kebangganya di ejek kunyuk.
“Jangan melucu.. Kau juga tidak ganteng.” Balas Eun Ho kesal. Tae Woon malah memberikan tatapan melasnya.
Eun Ho jari merasa bersalah akhirnya meminta maaf. Tae Woon lalu bertanya apakah Eun Ho tidak mau mengambil sepedanya. Eun Ho mengingatnya, dan Tae Woon sudah lebih dulu meninggalkanya. 

Eun Ho membawa sepeda dengan rantai yang lepas, pesan masuk kedalam ponselnya. Jong Geun mengirimkan pesan “Aku tidak apa-apa. Pulanglah dengan selamat, Eun Ho.”
Eun Ho tersipu malu membacanya, lalu seperti mulai mengingat yang dikatakan Jong Geun sebelumnya “Saat aku kuliah nanti, maka aku mau berkencan denganmu”. Eun Ho pun dengan senang hati akan menerimnya, lalu pesan dari Sa Rang masuk “Hasil ujian percobaannya akan keluar besok.”  Eun Ho seperti terkena petir membacanya.

[SMA Geumdo]
Semua anak murid berdiri dipapan pengumuman, Sa Rang mencoba masuk ke bagian kerumunan paling depan. Ia pikir harusnya ada di peringkat pertama Kalau peringkatnya rendah, maka tidak akan bisa makan siang duluan, bakan tidak akan bisa masuk ke perpustakaan.
“Ini menyebalkan. Kebahagiaan 'kan tidak Cuma tentang ranking.” Keluh salah satu pelajar. Wanita dibelakang mengetahui  Dae Hwi peringkat satu lagi. Eun Ho hanya melhat dari lantai atas.
“Apa kau senang, Tuan Peringkat Satu?” tanya Sa Rang seperti seorang reporter yang sedang mewawancarai.
“Meraih peringkat satu di sekolah tidak akan membuatku senang. Aku harus meraih juara satu tingkat nasional.” Kata Dae Hwi, semua langsung bersorak mengejek. Dae Hwi tertawa mengaku kalau hanya bercanda. Eun Ho seperti tak peduli karena sudah tahu ada diperingkat paling bawah. 


 Guru Shim menuliskan di papan, “H-3 sebelum ujian percobaan yang ketiga di bulan Mei” semua murid mulai mengeluh membacanya.  Salah satu mengeluh menurutnya tak boleh seperti ini karena  mereka mengikuti ujian percobaan sebanyak 3 kali dalam sebulan bahkan Peringkat mereka  baru saja keluar. Semua pun setuju mendengarnya.
“Jadi ini.. Yah.. memang Benar apa yang kalian bilang, tapi jangan merasa tertekan. Lakukan saja seperti yang biasanya kalian lakukan.” Kata Guru Shim menenangkan.
“Bagaimana bisa kami tidak merasa tertekan, kalau hasilnya diumumkan begitu? Semua orang bisa tahu hasilnya. Ini tidak masuk akal.” Kata Eun Ho. Semua pun juga setuju. Sa Rang duduk didepanya memberikan jempol
“Bapak akan mencoba bicara dengan guru-guru yang lain. Jadi Itu saja dulu.” Kata Guru Shim lalu keluar dari kelas, Semua berteriak memanggil gurunya. Sementara Tae Hwon yang duduk di dekat jendela seperti tak peduli.
“Dia akan membuat kita ujian empat kali mulai bulan depan.” Ucap pria yang duduk dibelakang Eun Ho. 

Salah seorang murid mencari sesuatu di bawah mejanya, seperti kehilangan sesuatu dan berteriak pada Kyung Woo untuk tak memainkan gitarnya karena berisik, lalu dengan nada tinggi bertanya Siapa yang mengambil catatannya.
Ia langsung mengobrak gambrik semua loker untuk memeriksa, semua langsung berteriak memperingatinya. Si wanita terus bertanya siapa yang mengambil den menyuruh agar segera mengembalikanya.
“Diamlah kau. Menyebalkan sekali.”ucap seorang wanita tanpa mengancin seragamnya lalu keluar dari ruangan dengan genkny.
“Jawabanku jadi salah semua karena suasananya membuatku terganggu!” ucap pelajar pria kesal.
“Memang kapan kau pernah menjawab dengan benar?” teriak si wanita dengan wajah kesal. Pria lain merasa Si wanita itu lebih berisik yang terus mencari dalam loker.
“Memangnya cuma dia satu-satunya yang belajar.” Ucap teman yang duduk dibelakanya. Si wanita tak terima dan yakin kalau temanya itu yang mengambilnya dan mereka siap untuk berkelahi. Semua anak pun mencoba merelai termasuk Eun Ho. 

Rapat Guru
Guru Shim memberitahu kalau Anak-anak ini tidak bisa dianggap remeh. Kepala Sekolah Yang Dong Ji pikir mereka hanya perlu melemparkan air ke wajah mereka dan membuat mereka sadar dengan memberikan 4 ujian percobaan mulai sekarang.
“Kenapa tidak beri saja mereka 4 ujian mid dan ujian akhir? Dan Juga ujian akhir pekan dan  ujian di waktu liburan.” Kata Guru Park Myung Deok.
“Anak-anak merasa kesal karena banyak sekali ujian.” Kata guru Shim
“Itu bagus! "Lihat seberapa keras kita menyuruh anak-anak untuk belajar.Peringkat mereka akan terus naik." Kita harus menunjukkan pada Pak Direktur..” kata Kepsek Yang.
“Siapa yang akan peduli soal  grafik nilainya?” komentar Guru Jung. Semua guru hanya bisa melonggo, saat itu bel berbunyi dan akhirnya mereka pu bubar.
Guru Park  memanggil Guru Shim agar menempelkan grafiknya di papan buletin utama, karena Direktur akan datang dalam waktu dekat. Guru Shim pun tak bisa menolak atas perintah dari seniornya. 
 Guru Shim memasang sendiri dan mengomel dengan pihak sekolah   yang mengadakan 4 kali ujian percobaan, menurutanya Anak-anak bisa gila dan Lupakan soal direktur, tapi dirinya tak bisa mengatakan hal itu. Saat itu Direktur datang dengan kepala sekolah, Guru Shim pun buru-buru menuruni tangga. Direktur Hyun melihat “Rata-rata nilai: Nasional, Seoul, Geumdo”
“Ini akan menjadi motivasi yang bagus untuk anak-anak. Nilai rata-rata mereka naik sejak kita menempelkannya.” Jelas Kepsek Yangmerasa sedikit bangga.
Direktur Hyun pun bersyukur mendengarnya, tapi wajahnya terlihat kecewa melihat di peringkat 288 Hyun Tae Woon, lalu pergi dengan wajah cemberut. Guru Park memarahi Guru Shim yang seharusnya tidak memasukkan nama Tae Woon.

(H-2 sebelum ujian percobaan)
Sa Rang duduk di depan Eun Ho merasa Sekolah ini makin gila saja. Eun Hoo juga mau gila. Sa Rang pikir Eun Ho itu  tak pernah mencemaskan soal ujian jadi pasti tak peduli. Sa Rang menjelaskan kalau dirinya harus masuk Universitas Hanguk. Sa Rang seperti salah mendengarnya.
“Universitas Hanguk. Aku harus masuk ke sana.” Kata Eun Ho, Sa Rang pikir Eun Ho sudah gila menurutnya tak mungkin temanya bisa masuk ke univesitas unggulan.
“Dia akan berkencan denganku kalau aku masuk ke kampus yang sama dengannya.” Kata Eun Ho. Sa Rang tak percaya kalau Jong Geun Sunbae benar-benar mengatakan itu. Eun Ho membenarkan.
“Dia mengatakan sesuatu yang miriplah.” Kata Eun Ho.
“Bukannya dia mau berkencan saja? Bukan karena dia ingin berkencan denganmu?” kata Sa Rang. 

Eun Ho mengingat ucapan Jong Geun sebelumnya “Kuliah itu menyenangkan sekali. Impianku adalah menjadikanku sebagai pasangan kampusku. Impianku adalah punya pacar satu kampus.”
“Ah.. Pokoknya, aku benar-benar ingin masuk Universitas Hanguk bersama Jong Geun Sunbae.” Ungkap Eun Ho penuh keyakinan.
“Terserahlah.. Kau tidak akan berhasil. Bahkan setelah sejuta tahun sekalipun.” Ucap Sa Rang sudan mengenal temanya.
“Kenapa tidak? Aku ingin masuk Universitas Hanguk pokoknya” tegas Eun Ho.
“Kalau aku jadi kau, aku akan mengatakannya dalam hati saja..” bisik Sa Rang.
 Saat itu pundak Eun Ho ditepuk, Guru Goo menegurnya kalau untuk anak SMA di Korea, pertanyaan ini menggambarkan siapa dirinya dan menanyakan pada Eun Ho Ada di barisan berapa sekarang. Eun Ho mengaku ada di barisan keenam.
“Biar Bapak beritahu kau... Kalau kau diibaratkan daging sapi, maka kualitasmu bahkan tidak cukup bagus untuk dijadikan makanan anjing. Dan, orang yang ada di level 6 di sekolah, bahkan seharusnya tidak diperlakukan sebagai manusia. Jadi berani sekali kau bicara di dalam kelas?” ucap Guru Goo. 

Sa Rang terlihat sangat marah karena Manusia itu  bukan daging, bahkan dianggap sebagai Makanan anjing, lalu berpikir membuat Gurunya mencicipi rasa kematian, bakan menurutanya berada di level 6 itu tindakan kriminal. Eun Ho hanya diam dan berdiri depanya.
“Eun Ho. Jangan biarkan dia membuatmu putus asa. Apa yang salah dengan barisan 6 memangnya?” kata Sa Rang sambil memeluknya.
“Tidak masalah... Aku tidak putus asa,  Tapi aku malu, jadi  bicaralah dengan suara pelan, Mari bersikap tenang, mengerti?” kata Eun Ho sambil mencekik leher temanya. Sa Rang melihat ibunya sebagai pembersih sekolah, Eun Ho pun melepaskan tanganya tapi setelah Ibu Sa Rang pergi kembali mencekiknya. 

Saat itu Dae Hwi datang dengan pacarnya menyapa keduanya, lalu berkata pada Eun Ho kalau akan lulus masuk ke Hanguk. Eun Ho melonggo mendengarnya. Sa Rang merasa kalau salah menilai Dae Hwi. Dan memperingatakan agar Jangan menggoda temanya.
“Ada apa sih dengan pacarmu ini?” kata Sa Rang pada pacara Dae Hwi, Hong Nam Joo hanya mengelengkan kepala tak peduli lalu berjalan pergi.
“Mereka baru saja membuat jurusan Webtoon Media. Kalau menang kompetisinya, maka kau bisa masuk. Kau 'kan jago menggambar. Aku dengar itu saat aku berkunjung ke sana.” Kata Dae Hwi
“Hei! Dia ini level 6! Deretan keenam!” teriak Sa Rang tak ingin Dae Hwi memberikan temanya angan-angan belaka.
Eun Ho menarik Sa Rang agar tak banyak bicara lalu ingin tahu tentang kompetisi. Dae Hwi mengeluarkan ponselnya, Akan mengkirimkan link dan berharap Semoga berhasil.
Eun Ho melihat poster (Kompetisi Membuat Komik Universitas Hanguk) lalu kepalnya langsung di penuhi tentang Webtoon, Penerimaan, Kompetisi! Dan seperti ada kembang api dikepalanya karena sudah bahagia membayangkanya.  Ia pun menyakinkan diri kalau punya kesempatan.


Eun Ho duduk ditaman sambil mengambar, saat itu pundaknya ditepuk. Jong Geun berkomentar kalau Eun Ho yang berhasil juga dan sudah tahu kalau akan berhasil, lalu tiba-tiba mengungkapkan perasaan kalau menyukai Eun Ho. Eun Ho melonggo mendengarnya dan mengetahui Jong Geun yang sduah punya pacar.
“Soal cinta, ada yang namanya orang baik dan orang-orang jahat. Aku ingin mencoba menjadi seorang pria jahat (bad boy)” kata Jong Geun. Eun Ho tak percaya dan bertanya sudah berapa lama, saat itu Jong Geun seperti ingin mendekat wajah Eun Ho tapi ternyata hanya mengambil spidol
“Sudah lama aku menyukaimu.” Akui Jong Geun sambil membuat sebuah tahi lalat di pipi Eun Ho, seperti drama perselingkuhan.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang “Hal menjijikkan macam apa itu?” Eun Ho tersadar dari khayalanya dan melihat Tae Woon sudah mengambil buku gambarnya. Tae Woon melihat gambar Eun Ho sambil mengejek apa yang dalam pikirkan sampai membuat cerita yang menjijikan. Eun Ho mengancam akan menghajarnya jadi menyuruh agar mengembalikanya.

“Cerita ini harusnya  jadi novel saja. Lihat hidung ceweknya, kenapa mancung sekali.” Ejek Tae Woon. Eun Ho menyuruh agar Tae Woon agar jangan melihatnya.
“Namanya Eun Hwa? Ini maksudnya kau 'kan? Tentu. Ceritanya tentu saja harus mirip dengan novel.” Kata Tae Woon yang percaya kalau bukan Eun Ho.
“Ini "Ho". Namaku "Eun Ho".” Kata Eun Ho. Tae Woon sambil berjalan percaya kalau namanya Eun Hwa.
“Memangnya apa yang salah dengan ini? Ini adalah novel.” Kata Eun Ho melihat gambarnya. 


(H-1 sebelum ujian percobaan yang ketiga)
Ibu Sa Rang sambil membersihkan toilet menurutnya Novel sekali dan Ini benar-benar baru. Sa Rang mengeluh ibunya yang berkomentar,  Eun Ho memikirkan Sebuah kisah yang mirip novel, menurutnya Kalau cerita cinta sudah terlalu banyak tapi Action terlalu sulit digambar.
“Dan cerita medis.... Aku tidak mau mempelajarinya. Bagaimana kalau aku menulis cerita erotis saja?” kata Eun Ho mengoda
“Hei.. Ciuman saja kau tidak pernah.”ejek Sa Rang. Ibu Sa Rang memberitahu kalau anaknya sudah pernah ciuman waktu masih SMP. Sa Rang malu meminta ibunya agar tak membuka rahasinya.
“Sebuah kisah seperti dalam novel.” Kata Eun Ho memikirkanya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar