Minggu, 09 Juli 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 36

PS : All images credit and content copyright : SBS
Bong Hee yang melihat Ji Wook kesakitan langsung naik ke lantai atas membawa nampan. Ji Wook heran melihat yang dilakukan Bong Hee padanya. Bong Hee menegaskan bahwa Ji Wook tidak boleh bekerja sampai sepenuhnya pulih. Ji Wook mengaku sungguh baik-baik saja dan mereka harus rapat sekarang.
“Dokter bilang kau tidak boleh bekerja sekarang. Kau dikeluarkan dengan syarat itu.” Ucap Bong HEe.
“Aku sungguh baik-baik saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri...” ucap Ji Wook. Bong Hee mengatakan akan mengurusnya sebagai rekan kerja.Ji Wook menolak dan Bong Hee juga tak akan menerima penolakan Ji Wook.
“Aku akan merasa bersalah jika aku tidak boleh mengurusmu. Aku akan terus memukuli diriku sendiri karena berpikir kau yang terluka bukannya aku. Haruskah aku melakukan itu?” ucap Bong Hee.
Ji Wook akhirnya kembali duduk, Bong Hee menyuruh Ji Wook agar Makan buburnya dulu, lalu minum obatnya dengan air putih. Ji Wook menolak karena tidak suka bubur. Bong Hee dengan gugup akan menyuapinya, Bong Hee menyuruh Ji Wook segera makan. Ji Wook pun menurutinya. 


Ji Wook ingin menganti perban di lukanya, Bong Hee akan menolongnya, Ji Wook kembali menolak Bong Hee tahu kalau pasti sangat sulit baginya. Ji Wook tetap menolak karena bisa melakukannya sendiri.
Bong Hee memberikan obat lalu menempelkan plester pada luka Ji Wook. Hari berikutnya, Bong Hee juga membantu Ji Wook menganti perban Ji Wook mengaku geli dan benar-benar berjuang untuk menahan diri. Setelah selesai Tuan Bang naik ke lantai atas dan Bong Hee pun menuruni tangga. 

Tuan Bang berbicara serius pada Ji Wook kalau Tak ada yang pasti karena itu terjadi sangat lama. Namun ada kemungkinan itu kebakaran yang tak disengaja, bukan karena dibakar seseorang dan Hanya itu kesimpulan terbaik saat ini.
“Bagaimana seharusnya... aku menjelaskan ini ke Bong Hee?” ucap Ji Wook merasa gugup. Tuan Bang hanya bisa menatapnya. 

Ji Wook menemui Bong Hee mengaku Ada sesuatu yang ingin dikatakan jadi meminta agar meluangkan waktunya setelah bekerja. Bong Hee pun mengaku bisa meluangkan waktunya. Keduanya pun duduk di meja makan dengan saling menatap.
“Alasan kebakarannya masih tidak diketahui. Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa ayahmu...bukan pelaku pembakaran...yang membunuh... orang tuaku. Sebenarnya, itu kebalikan dari yang diperkirakan. Dia menyelamatkan nyawaku dan meninggal... saat menyelamatkan orang tuaku.” Ucap Ji Wook. Bong Hee berkaca-kaca mendengarnya.
“Lalu... Kenapa...ayahku... dituduh membunuh mereka? Apa sebenarnya yang terjadi?” ucap Bong Hee binggung.
“Itu karenaku... Aku... membuat kesalahan saat bersaksi. Aku bilang kalau ayahmu adalah pelakunya. Aku memberi informasi yang salah saat bersaksi.” Kata Ji Wook memberanikan diri mengatakanya
Bong Hee benar-benar tak percaya dan ingin tahu alasanya Ji Wook melakukan hal itu. Ji Wook sempat terdiam menahan air matanya. Bong Hee meminta Ji Wook segera menjawabnya pertanyaan
“Apapun yang kukatakan akan jadi alasan.” Kata Ji Wook. Bong Hee pun ingin tahu alasan Ji Wook yang sebenarnya.
“Tolong katakan sesuatu.. Lakukan apapun yang bisa membuatku paham.” Kata Bong Hee penasaran. 


Flash Back
Ji Wook yang masih kecil duduk didepan Jaksa Jang, lalu Jaksa Jang memberikan sebuah foto Tuan Eun dengan memastikan agar  bisa mengenalinya yaitu ia adalah pria yang membunuh ayah dan ibunya.
“Kurasa...Aku kehilangan ingatan sementara... karena shock oleh insiden saat itu. Pengacara Distrik, Jang Moo Young,yang menyalahtuduh ayahmu...harus menyembunyikan kesalahannya. Oleh karenanya.., dia mungkin menyalahkan ayahmu atas kebakarannya karena dia ditemukan di TKP.”jelas Ji Wook
“Tentang Penuntutan... Saat itu, penuntutan lebih tak kenal ampun terhadap kesalahan dibanding sekarang ini...Tidak, tapi... Itulah orangnya. Dialah pelakunya. Apapun alasan yang kuberikan, ini semua benar-benar...kesalahanku.” ucap Ji Wook
Bong Hee berjalan keluar sambil menangis seperti tak menyanka kenyataan yang terjadi bahwa ayahnya dituduh sebagai pembunuh atas penyataan saksi Ji Wook saat masih kecil. Dan Ji Wook seperti merasa bersalah dengan penyataan sebagai saksi membuat ayah Bong Hee ditetapkan menjadi seorang pembunuh.

Ji Hae duduk sambil meminum bir dengan wajah sedih merasa pasti sudah melakukannya terlalu cepat ambil menatap ponselnya dan Eun Hyuk bahkan tidak menelepon lalu mengumpat kesal.  Saat itu Bong Hee baru saja pulang, dan tak percaya melihat Ji Hae yang menangis.
“Setidaknya, pura-puralah kau tidak melihatnya. Kenapa kau mau menangis juga?” keluh Ji Hae mengaku baik-baik saja dengan melihat Bong Hee menangis.
“Kau tidak harus menangis karenaku. Aku tidak sesedih itu.” Ungkap Ji  Hae. Bong Hee tetap saja menangis tap akhirnya memeluk Ji Hae dan keduanya sama-sama menangis dengan alasan yang berbeda. 

Eun Hyuk membawakan kotak berkas dan berjalan pulang dengan Yoo Jung. Yoo Jung pun merasa kalau Eun Hyuk  jadi bersikap baik kepadany sejak tadi. Eun Hyuk mengaku Ini karena kebetulan bertemu dengannya dan tak ada yang tahu  harus membawa file ini.
“Omong-omong, apa kau mau membaca file ini lagi di rumah? Tidakkah kau pikir kau bekerja terlalu keras?” kata Eun Hyuk khawatir.
“Eun Hyuk... Apa ini sungguh kebetulan? Kau selalu membantuku tiap kali aku memiliki waktu yang susah. Apa Ini benar-benar kebetulan?” kata Yoo Jung. Eun Hyuk membenarkan kalau semua hanya kebetulan.
“Aku mengerti kalau begitu dan pasti sudah salah paham. Kita ini hanya teman dan hanya teman yang baik.., kan?” ucap Yoo Jung. Eun Hyuk membenarkan.
Akhirnya Yoo Jung masuk ke dalam rumah lalu dengan sedikit kecewa merasa kalau sudah melakukan hal yang benar. Sementara Eun Hyuk menoleh ke arah rumah Yoo Jung seperti sudah membuat keputusan yang benar. 


[Kantor Kejaksaan Daerah Sunho]
Jaksa Jang dengan sinis langsung menanyakan alasan Tuan Byun datang ke kantornya. Tuan Byun pikir jaksa Jang tidak perlu jelas-jelas membencinya tapi datang bukan karena menyukainya. Jaksa Jang pikir sebaiknya Tuan Byun segera pergi saja.
“Haruskah aku pergi tanpa memberi tahu tujuanku datang? Setidaknya aku harus beritahu alasanku.” Ucap Tuan Byun. Jaksa Jang pun menyruh Tuan Byun memberitahu saja.
“Aku...akan memberitahumu sesuatu yang tidak ingin kau dengar dan akan melukai perasaanmu. Anakmu, Hee Jun...” kata Tuan Byun langsung disela oleh Jaksa Jang.
“Pergilah jika kau hanya mau bicara omong kosong.” Tegas Jaksa Jang marah
“Kau benar-benar salah... Bong Hee bukan pelakunya. Apa Kau tahu pria yang kehilangan ingatan itu? Namanya Jung Hyun Soo. Dialah orangnya.” Kata Tuan Byun.
Jaksa Jang tak mengerti maksud ucapan rekan kerjanya itu. Tuan Byun tahu sifa Jaksa Jang yang tidak peduli, berpikiranselalu benar dan tak pernah mendengarkan orang lain, tapi menurutnya Jaksa Jang itu tidak bodoh jadi Pikirkan baik-baik.
“Jika kau melihat semua bukti tidak langsung maka kau akan sadar kalau Jung Hyun Soo adalah pelakunya. Jadi, lihatlah kasusnya dengan seksama dan berhentilah mengusik Ji Wook dan Eun Bong Hee. Ji Wook terlahir untuk jadi jaksa, Kembalikan dia lagi.” Ucap Tuan Byun. 


Jaksa Jang yang sedari tadi hanya diam saja melihat kembali berkas Laporan Insiden yaitu Kasus Pembunuhan Jang Hee Jun di Apartemen Supa, melihat bukti dan membuka kembali berkas Kasus Pembunuhan Tanki Air di Apartemen Supa. Saat itu seperti memang melihat ada sebuah kesamaan tertuju pada Hyun Soo dan langsung keluar dari ruangan.
Saat itu Bong Hee dan Jaksa Jang kembali berpapasan. Bong Hee mengaku baru saja mau mengunjunginya dan Ternyata malah bertemu di lorong. Jaksa Jang pun merasa tak percaya kalau Bong Hee sengaja datang ingin menemuinya.
“Aku mau memberi tahu kalau Anda harus memimpin hidup yang lebih baik.” Ucap Bong Hee. Jaksa Jang binggung mendengarnya.
“Ayahku adalah Eun Man Soo.” Ucap Bong Hee. Jaksa Jang kaget kalau Bong Hee adalah anak dari Eun Man Soo.
“Dia adalah kambing hitam yang Anda gunakan untuk menutupi kesalahan Anda. Akulah anaknya.” Tegas Bong Hee. Jaksa Jang ingin bicara tapi Bong Hee meminta agar Jaksa Jang mendengarkan saja.
“Ayahku...tidak pernah jadi pelaku pembakaran. Aku juga bukan pembunuh anak Anda. Tapi Anda pikir, Anda selalu benar dan tidak pernah salah. Yang lebih Parahnya, Anda bahkan memalsukan bukti dan menganiayanya.” Ucap Bong He benar-benar marah
“Apa Anda pernah berpikir bagaimana hidup dari keluarga yang sudah Anda hancurkan Atau bagaimana ibuku hidup? Apa Anda pernah berpikir betapa sulitnya hidupku karena yang sudah Anda lakukan kepadaku? Anda tidak tahu, kan? Dan ternyata anda juga Tidak tertarik.” Kata Bong Hee. Jaksa Jang hanya diam saja.
“Aku akan memberitahu lagi. Ayahku...tidak bersalah dan tidak melakukan kesalahan. Andalah...yang membuat kesalahan.” Tegas Bong Hee. 


Ji Wook naik ke lantai atas membawa buku, Bong Hee datang membawakan alat untuk menganti perban. Ji Wook langsung menolak karena merasa baik-baik saja. Bong Hee akhirnya menaruh di meja dan meminta agar Ji Wook duduk dan memohon agar bisa mendengarkanya.
“Bukankah kau merasa...bersalah kepadaku?” ucap Bong Hee. Ji Wook membenarkan.
“Aku tidak tahu harus bagaimanajika ada di sekitarmu. Aku tahu kalau kesalahan Pengacara Distrik lebih besar dari kesalahanmu. Bagaimanapun..,memang benar kalau kau sudah membuat kesaksian yang salah soal ayahku.” Ucap Bong Hee. Ji Wook pikir benar.
“Jadi, tunggulah keputusanku... Entah aku harus memaafkanmu atau aku harus membiarkannya saja.” Kata Bong Hee menyuruh Ji Wook duduk kembali.
“Bong Hee.. Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir soal ini.” Ucap Ji Wook. Bong Hee pun membiarkan dan akan pergi.
Ji Wook menarik tanganya seperti tak ingin Bong Hee pergi, ia pun mengucapakn Terima kasih pada Bong Hee yang telah kembali. Bong Hee mengaku kalau tidak kembali selamanya tapi hanya mencoba untuk memisahkan pekerjaan dan perasaan dan memberi dirinya waktu untuk memilah-milah pikirannya. Ji Wook merasa kalau ini lebih dari cukup baginya, keduanya hanya bisa saling menatap. 


Tuan Byun kembali bicara dalam rapat meminta mereka agar mengatakanya, kalau mereka bisa segera menetap. Eun Hyuk mengela kalau bukan begitu cara kerjanya dan meremehkan Tuan Byun yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Tuan Byun merasa kala itu cara penyelesaiannya pada saat itu.
“Bisakah kita mulai rapatnya?” kata Tuan Bang, Bong Hee mengaku kalau itu yang ingin dikatakan juga. Tuan Byun menyuruh si Nona Kurang Bukti, diam.
“Astaga!!!! Fokuslah ke rapat, tolong! Kalian berisik sekali.” Teriak Ji Wook lalu memarahi Jae Hong malah merekam semua yang ada dalam rapat.
“Hei, harusnya kau bilang sedang direkam... Aku harus kelihatan cukup bagus.” Ungkap Tuan Byun yang genit mengarahkan pada wajahnya pada kamera. 


Bong Hee melihat kembali rekaman yang dibuat oleh Jae Hong, lalu sengaja mengedit hanya dibagian Ji Wook yang sedang marah, ada sedikits senyuman tapi terlihat sedih.
Ji Wook bertemu dengan Hyun Soo bertanya lebih dulu apakah mengenalinya dan merasa kalau Ingatan Hyun Soo pasti sudah kembali. Hyun Soo mengaku kalau itu berkat Ji Wook juga. Ji Wook pikir Hyun Soo harus tahu juga yang akan dikatakanya.
“Tak ada lagi lubang untuk kau lewati untuk menyelamatkan diri.Kau dituduh atas dua percobaan pembunuhan..,termasuk yang kau lakukan kepadaku.Dan akan kupastikan untuk membuktikan kau membunuh orang-orang itu. Jadi...lebih baik kau mengaku, Bajingan.” Ungkap Ji Wook.
“Sistem (hukum) di negara kita ini penuh ampunan kepada orang yang mengaku dan mengakui perbuatan salahnya. Tapi secara pribadi, kurasa bajingan sepertimu tidak layak menerima ampunanku. Kenapa? Apa Kau masih tidak tahu? Apa Kau tidak paham apa yang terjadi?” ungkap Ji Wook
“Bukan.. Bukan begitu... Ini hanya spekulasi tapi seseorang mungkin saja masih ada di pihakku. Jadi karena itulah...” ungkap Hyun Soo. Ji Wook terlihat keluar dari ruangan dengan tatapan penuh arti. 


[Kantor Kejaksaan Daerah Sunho]
Yoo Jung kembali bertemu dengan Hyun Soo yang akhirnya memutuskanuntuk bicara. Hyun Soo lalu mengaku yang Pertama adalah kalau ia memang yang membunuh mereka semua, lalu mulai bertanya-tanya sendiri Siapa dulu yang harus memulai di bicarakan.
“Kita pertama bertemu saat kasus Yang Jin Woo..,jadi haruskah kita mulai dengan itu?” kata Yoo Jung. Hyun Soo pikir bukan.
“Apartemen Supa. Aku harus mulai dengan Apartemen Supa. Kau hanya bisa mengkonfirmasi satu jasad yang ditemukan di sana, kan? Haruskah aku beritahu siapa satunya lagi?” kata Hyun Soo.
“Tak ada alasan bagiku untuk berkata tidak.” Ucap Yoo Jung, Hyun Soo pun menganguk mengerti.
“Namanya Sung Jae Hyun... Dia dan Jin Woo satu sekolah dan Silakan periksa.” Kata Hyun Soo. Yoo Jung seperti tak begitu yakin.
“Aku masih belum selesai...Beraninya kau memotong pembicaraan?.. Ada satu lagi... Apa namanya Jang Hee Jun? Aku cukup yakin dia Jang Hee Jun. itulah namanya.” Ucap Hyun Soo, saat itu jaksa Jang sedang mendengarnya dari ruang kontrol penyataan dari Hyun Soo.
“Mulanya..,aku tidak bertujuan membunuhnya. Aku sedang melakukan hal membunuhdi atap dan seseorang menyaksikannya. Itulah Eun Bong Hee. Jadi aku mencoba membunuhnya tapi aku bukannya bertemu dengannya, malah bertemu pria mabuk. Aku akhirnya menusuknya dengan pisau dan dia pingsan sambil menangis.” Cerita Hyun Soo.
Hyun Soo ingat kalau Hee Jun berkata "Ayah, selamatkan aku...Ayah, tolong aku.... Aku takut." Dan terus menangis. Lalu mengejek Hee Jun itu pria itu cengeng sekali dan merasa tidak tahan jadi menusuk lagi dan membunuhnya.


Tuan Jang mendengar penyataan Hyun Soo langsung masuk ruangan dan menantap foto anaknya, lalu menangis sambil memeluk foto Hee Jun. Bong Hee berbicara di telp dengan Jaksa Na kalau sedang di jalan menuju kantornya sekarang. Saat itu tak sengaja bertemu dengan Jaksa Jang.
“Maafkan aku.” Ucap Jaksa Jang merasa bersalah
“Aku takkan menerima permintaan maafmu.” Tegas Bong Hee yang sangat sakit hati dengan Jaksa jang. Jaksa Jang pun bisa menerimanya. 

Hyun Soo baru keluar dari ruangan interogasi, Seorang pria berbisik lalu menarik Hyun Soo untuk pergi. Hyun Soo bertanya mau kemana dibawanya dengan tangan terborgol. Di parkiran, Mobil Jaksa Jang sudah menunggu dan menurunkan jendela mobil dengan tatapan sinis. Hyun Soo akhirnya masih mobil dan pergi dengan Jaksa Jang, tatapan seperti mengejek pada Jaksa Jang yang melakukan pada dirinya karena jabatan. 

Ji Wook masuk ke dalam kamar lalu membuka kembali lemari pakaian dan mengeluarkan jubah jaksa yang disimpan selama ini sambil mengingat seseorang yang menelp sebelumnya.
“Saya menelepon dari Departemen HR di Kementrian Kehakiman.Saya ingin memberitahumu kalau Anda...lulus ujian perekrutan jaksa berpengalaman.”
Bersambung ke episode 37

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar