Sabtu, 22 Juli 2017

Sinopsis School 2017 Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Eun Ho masuk ke dalam ruang guru melihat sosok pria yang mengunakan jaket menutup wajahnya. Si pria melemparkan lem ke dalam api dan membuat api sedikit membesar, lalu memecahkan jendela dengan kursi. Eun Ho hanya bisa ketakutan melihatnya.
Si pria misterius langsung melompat lewat jendala yang pecah, Eun Ho berlari ke jendela ingin melihat tapi saat itu lampu ruangan menyala dan Guru Ko datang dengan beberapa polisi. Eun Ho dan Guru Koo sama-sama kaget karena bertemu dalam ruangan. 

Beberapa murid langsung menatap sinis saat melihat Eun Ho berjalan dn dibelakangnya Sa Rang yang menemaninya. Guru Koo berjalan lebih dulu depan. Semua langsung berbisik sinis pada Eun Ho yang melakukan hal keji di sekolah mereka selama ini.
“Apa Dia pelakunya? Aku tak percaya... Ra Eun Ho sangat sesuatu.” Komentar Nam Joo dengan nada mengejek.
“Dia memang keren sejak awal.” Balsa Duk Soo. Saat itu Guru Koo bisa mendengar komentar anak murid dan langsung memperingatkan dengan kayunya agar jangan banyak bicara. Semuanya akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kelas.
Eun Ho berjalan melewati Dae Hwi dan Hee Chan yang berdiri didepan kelas dengan wajah tertunduk.  Hee Chan merasa Aneh sekali karena Eun Ho yang memecahkan jendela menggunakan kursi. Dae Hwi juga merasa kalau para guru itu  salah menangkap pelakunya.


Eun Ho keluar dari sekolah terus mengikuti Guru Ko, Byung Goo yang melihat Eun Ho bertanya-tanya apakah Eun Ho itu melakukannya sendiri layaknya seperti seorang Avenger atau yang lainnya. Tae Woon berkomentar kalau bukan Eun Ho pelakunya. Byung Goo heran mendengar komentar Tae Woon.
“Byung Goo... Tidak mungkin seorang wanita pelakunya... Pikiranmu sangat sederhana.” Kata Tae Woon.
“Kalau begitu, apa dia bekerja sama dengan orang lain?” ucap Byung Goo.
“Aku 'kan bilang bukan dia...” tegas Tae Woon seperti mengetahui sesuatu lalu mengeluh temanya yang sangat menyebalkan.

Eun Ho seperti di sidang oleh para guru di dalam ruangan olahraga, Kepsek Yang langsung mengomel menuduh Eun Ho itu seperti seorang gangster atau semacamnya dan menurutnya Hanya seorang komunis yang akan melakukan sesuatu seperti ini. Eun Ho dengan dan merengek kalau bukan ia pelakunya.
“Aku pergi kesana untuk mengambil buku gambarku. Malam itu dia kabur.” Jelas Eun Ho.
“Tidak ada seorangpun yang melihat dia kabur. Kau sendirian di tempat kejadian.” Ucap Guru Goo
“Seorang filsuf mengatakan dalam bukunya, mungkin kau dapat menangkap pencuri di luar, tapi kau tidak dapat menangkapnya di dalam. Tidak benar kita mencurigainya sebelum semuanya pasti.” Ucap Guru Shim membela
“Kita sudah memiliki buktinya. Dia tertangkap basah” tegas Kepsek Yang

“Jangan bersikeras. Kau membantah pun, pada akhirnya akan ketahuan juga. Kau melihat rapat pemerintah, 'kan? Mereka yang membantah dan bertingkah seolah tidak bersalah akhirnya dipenjara.” Jelas Guru Park
Eun Ho berusaha kembali menyakinkan kalau bukan dirinya. Kepsek Yang berteriak kalau sudah yakin Eun Ho adalah pelakunya. Guru Park pikir semua Ini seperti rumus matematika yaitu Siswa dengan ranking rendah biasanya anak nakal. Eun Ho merasa kalau semua itu tak benar.
“Orang dewasa yang dulunya sering bermasalah. sekarang menjadi orang-orang penting di sekolahnya.” Tegas Eun Ho membela diri
“Jadi... apa kau bangga menyelinap masuk ke ruang guru?” teriak Guru Yang.
“Jika kau tidak mau mengaku, jangan lakukan hal yang aneh-aneh, Sekarang kau bisa memilih antara harus DO atau mengaku.” Ucap Guru Park. Eun Ho berteriak kaget, Guru Shim pun dibuat kaget dengan keputusan pada guru. 


Eun Ho langsung memukul dinding penuh tananam setelah akan di putuskan untuk sekolah. Guru Shim seperti ikut binggung meminta Eun Ho tenang. Eun Ho merengek pada Guru Shim kalau bukan pelakunya. Guru Shim tahu dengan hal itu.
“Mereka ingin mengeluarkanku dari sekolah.” Ucap Eun Ho panik. Guru Shim meminta agar Eun Ho Jangan memikirkan itu.
“Tidak masuk akal jika kau pelakunya. Berada di TKP bukan berarti kaulah pelakunya. Apakah bau alkohol selalu menunjukan seseorang yang mabuk?” kata Guru Shim berusaha menyakinkan.
“Tapi Bukankah memang begitu?” kata Eun Ho. Guru Shim pikir benar juga lalu mulai berusaha menjelaskanya.
“Bagaimanapun, mereka tidak bisa melakukannya dengan bukti yang konyol. Kita ini hidup di negara Demokratis.” Ucap Guru Shim.
Eun Ho pun heran pada Guru Shim yang tidak mengatakannya saat disana. Guru Shim pun juga merasa kesal karena memang seharusnya melakukan itu, Eun Ho kesal Gurunya hanya selalu mengatakannya "Benar juga" lalu menangis di dinding.
“Eun Ho.. Tenanglah, bapak akan berusaha menyelesaikannya.” Ucap Guru Shim menyakinkannya. 


Guru Shim bertemu dengan Guru Koo yang menanyakan sebenarnya apa yang akan terjadi pada Eun Ho. Guru Shim yakin kalau Eun Ho bukanlah orang yang seperti itu bahkan tidak mungkin melakukannya sendirian menurutnya Ini tidak masuk akal. Guru Koo seperti masih tak begitu yakin.
“Menurutku dia tidak mungkin.... tapi Pasti dia memiliki komplotan. Mungkin... dia kabur duluan dan Eun Ho gagal melakukannya.” Ucap Guru Koo
“Itu belum pasti. Aku pikir terlalu kejam jika mengeluarkannya dari sekolah.” Ungkap Guru Shim
“Guru bukanlah seorang pelayan... Tidak seharusnya kau...melindungi dirinya apapun yang terjadi.” Kata Guru Koo
“Aku gurunya... Dan aku merasa tidak kompeten.” Balas Guru Shim.
“Bagaimana kau membukitan bahwa dia tidak bersalah? Kau tidak kompeten untuk membuktikannya.” Ucap Guru Koo. 


Eun Ho yang kesal mencoba untuk mencuci wajahnya, lalu Tae Woon mendekat sambil bertanya apakah Eun Ho akan dikeluarkan dengan nada mengejek. Eun Ho berterak kalau tak akan melakukan. Tae Woon yakin kalau Eun Hotidak mungkin melakukan hal semacam itu.
“Benar, 'kan? Apa Kau berpikir begitu?” ucap Eun Ho, Tae Woon yakin
“Pelakunya itu seseorang yang lebih pintar darimu.” Kata Tae Woon. Eun Ho berteriak kesal kalau Tae Woon juga tahu diri karena juga bodoh.
“Kau sedang kesal, 'kan? Bagaimana jika kita minum es limun?” ucap Tae Woon

“Aku tidak mau jika denganmu.” Balas Eun Ho sinis.
“Siapa yang bilang aku akan minum denganmu. Cobalah minum limun. Aku tahu kau sering meminumnya.” Ucap Tae Woon
“Aku minum atau tidak... “ kata Eun Ho terbata-bata akhirnya memilih untuk kembali tertunduk mencuci muka, saat bangun melihat sebotol limun yang ditinggalkan Tae Woon. 


Han Duk So melihat Eun Ho yang  menggagalkan ujian percobaan jadi sangat berterima kasih pada Eun Ho. Byung Goo juga merasa sangat senang dan mereka bisa melihat kemarahan kepala sekolah makin merasa sangat senang.
“Kau Berpikirlah hal yang masuk akal, oke?” tegur Nam Joo. Byung Joo pikir pendengaran Nam Joo itu buruk. Nam Joo makin heran dengan dengan Byung Joo seperti tak nyambung.
“Apa kau percaya dia pelakunya? Aku tidak menyangka di sangat berani.” Ucap Nam Joo
“Kau tidak akan tahu jika hanya melihat luarnya saja.” Ucap Dae Hwi.
“Apa Seperti dirimu? Bagiamana dengan mengetahuinya dengan perasaanmu?” kata Kyung Woo lalu berjalan pergi.  Nam Joo merasa Sangat sulit untuk memahami perkataan Kyung Woo. Dae Hwi hanya menatap curiga. 

Bit Na berjalan dengan teman-temanya berkomentar kalau ini akan bertambah buruk. Jung Il pikir kenapa bisa bertambah buruk, karena tidak akan melakukan ujian dan ini sangat menyenangkan. Hee Chan pikir kepala sekolah akan tak terus diam.
“Apa Maksudmu, dia akan menekan kita Dan kita akan segera melakukan ujian lagi?” kata Ko Hak Joong yang mengunakan kacamata. 

Di kelas
Sa Rang mendekat Eun Ho yang  terlihat masih sempat menggambar disaat seperti ini. Eun Ho pikir tentu saja bisa menggambar dengan baik. Diam-diam Tae Woon mendekat pembicaran keduanya. Eun Ho menyakinkan,  kalau akan menggambar dengan kerja keras, mendapatkan hadiah di kontes nanti dan diterima di Universitas Hanguk.
“Mereka bilang Berhenti sekolah? Tidak akan.” Tegas Eun Ho sengaja menekanya suaranya agar di dengan orang genk lain.
“Tentu saja, kau tidak boleh di DO. Kau tidak mungkin jadi pelakunya. Kau ada di tingkat bawah, jadi  tidak mungkin punya keberanian melakukannya. Maksudku, lihatlah peringkatmu.” Komentar Sa Rang
“Kau mencoba menghiburku, 'kan?” ucap Eun Ho polos. Sa Rang pikir itu tentu saja. 

Saat itu Guru Koo masuk dengan Guru Shim dan petugas Han. Guru Koo mengatakan kalau mereka akan mengecek barang-barang dalam tas murid. Semua langsung menjerit panik dan beberapa saat kemudian, Guru Koo sudah mengumpulkan barang-barang yang tak boleh dibawa ke sekolah.
Guru Koo mengangkat pembersih kutek, Young Gun sudah berdiri didepan kesal menghela nafas kesal. Guru Koo mengangkat maskara, Hyun Jung hanya bisa tertunduk sambil mengangkat tangan. Guru Koo mengangkat majalah 17 tahun keatas. Byung Goo tanpa malu mengangkat tangan mengaku miliknya.
“Mereka yang di depan akan... berkumpul dilapangan setelah kelas berakhir.” Tegas Guru Koo lalu keluar ruangan. Guru Shim dan Petugas Han membawa semua barang keruang guru. 

Bit Na langsung mendekati Eun Ho langsung mendorong bahu, sambil memarahi kalau ini Sangat menyebalkan. Hak Joong pikir Seharusnya Eun Ho tidak melibatkan mereka, karena yang dilakukanya itu  berdampak pada mereka. Eun Ho menegaskan kalau bukan dirinya, Young Gun datang dengan menendang meja. Sa Rang berteriak marah tapi tangan Young Gun bisa menahanya agar tetap duduk.
“Hei... Apa Kau mau mati?” ancam Young Gun. Eun Ho menegaskan kembali kalau itu bukan dirinya.
“Aku tidak peduli itu. Kenapa kau menyelinap masuk ke ruang guru. dan membuat rumit semuanya? Kenapa?” ucap Young Gun marah.
“Aku sudah katakan, bukan aku pelakunya.” Teriak Eun Ho. Young Gun ingin memukulnya tapi seseorang sudah menahan tanganya.


Tae Woon sudah berdiri dari tempat duduknya, sepert ingin menahan tapi Dae Hwi lebih dulu menahan tangan Young Gun. Eun Ho menutup wajahnya ketakutan. Young Gun kembali mengancam Dae Hwi agar melepaskanya.
“Hentikan... Dia bilang bukan dia pelakunya. Jika kau terus melakukannya maka aku akan membawa si "Malaikat Maut" lagi. Kau tahu kita semua tidak menyukainya. Jadi, hentikanlah, oke?” ucap Dae Hwi. Young Gun pun akhirnya menarik tanganya dan pergi.
Eun Ho membereskan semua barang-barangnya lalu keluar dari kelas. Sa Rang binggung melihat temanya yang menahan tangis pergi sambil bertanya mau kemana. 

Eun Ho berlari keluar kamar mengambil sepeda tapi rantai sepedanya malah lepas, akhirnya ia hanya bisa menangis sambil berjongkok karena selalu saja ada kejadian buruk ketika dibutuhkan. Tae Woon berjalan ke parkiran, Eun Ho berteriak memangilnya dengan menyalakan Tae Woon.
“Ini semua karena ulahmu... Sejak hari itu pedalnya jadi rusak.” Keluh Eun Ho. Tae Woon tak peduli berjalan mendekati motornya. Eun Ho kesal Tae Woon yang mengabaikannya.
“Jika begini, aku tidak bisa pulang. Perbaiki sepedaku.” Rengek Eun Ho. Tae Woon langsung memberikan helm untuk Tae Woon. 

Akhirnya Tae Woon membawa Eun Ho keluar dari sekolah, keduanya duduk di pinggir atap gedung. Tae Woon pikir Apa bagusnya buku itu sampai-sampai Eun Ho menyelinap masuk ke ruang guru. Eun Ho mengatakan kalau itu Karena ada impiannya di dalamnya. Tae Woon binggung impian apa yang dimaksud.
“Aku baru tahu masih ada orang yang memiliki impian. Dasar Norak.” Ejek Tae Woon.
“Mungkin terdengar norak, tapi itu segalanya bagiku. Tanpa itu, aku pasti akan mati lemas. Aku tahu alasan kau mengendarai motormu. Karena kau akan mati tanpanya.” Kata Eun Ho
“Aku beritahu padamu, kalau Aku mengendarainya karena membuat diriku terlihat lebih keren Apa yang harus aku lakukan sekarang?.” Tegas Tae Woon bangga.
“Terima kasih... Apapun masalahnya, sekarang Aku merasa baikkan.” Ungkap Eun Ho yang bisa keluar dari sekolah. Keduanya pun menikmati hembusan angin diatap gedung sambil memejakan mata. 

Eun Hoo turun di depan papan nama “Ayam, Ayam Goreng, Ayam rebus.” Sambil melepaskan helm memberitahu kalau itu rumah dan restoran ayam milik orang tuaknya. Tae Woon pun menganguk mengerti dan ingin pamit pergi. Eun Ho mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikan kupon,Gratis ayam goreng.
“Aku tahu kau tinggal disekitar sini, Ayam kami sangat enak. Cobalah kapan-kapan.” Kata Eun Ho bangga dan mengucapkan Terima kasih untuk hari ini.
“Apa ada jasa layan antar?” tanya Tae Woon dengan sedikit gugup.
“Wanita cantik ini akan mengantarkannya padamu jadi Tenang saja.” Ucap Eun Ho mengoda dengan percaya diri.
“Ahh.. begitu.. Tapi Lagian aku tidak suka ayam.” Ejek Tae Woon. Eun Ho mengumpat kesal saat Tae Woon pergi meninggalkanya.
Ibunya keluar dari rumah langsung memukul Eun Ho kalau sudah melarangnya naik motor, tapi malah baru saja turun dari motor.  Eun Ho berusaha menjelaskan kalau bukan seperti itu, tapi ibunya tetap saja tak peduli dan terus memukulnya. 

Tae Woon baru saja sampai rumah dan melihat sebuah mobil dengan stiker dibagian depanya “SMA Geumdo” lalu masuk rumah melihat Kepsek Yang duduk bersama ayahnya sedang mengobrol. Tuan Hyun memanggil Tae Woon yang hanya lewat menyuruh agar menyapa kepala sekolah lebih dulu.
“Hei.. Beraninya kau kepada kepala sekolahmu sendiri?” ucap ayahnya melihat sikap anaknya. Tae Woon dengan terpaksa menyapa Kepsek Yang.
“Tae Woon adalah siswa yang teladan...” ucap Kepsek Yang memuji dan langsung disela oleh Tae Woon.
“Tidak. Aku bukan siswa teladan. Kemarin-kemarin kau pergi ke kantor polisi karena ulahku.” Ucap Tae Woon.
“Keluarkan saja jika dia membuat masalah.” Kata Tuan Hyun. Kepsek Hyun terlihat binggung.
“Ah... Itu tidak perlu... Aku tidak akan berani. Kau bisa mengandalkanku untuk menjaganya. Aku tahu kau sangat sibuk dengan bisnismu.” Kata Kepsek Yang seperti menjilat.
Tuan Hyun meminta maaf karena  harus membereskan banyak masalah. Saat itu Tae Woon ingin pergi dan mendengar ucapan kepsek Yang semakin menjilat ayahnya. Kepsek Yang berkata kalau memang harus maka akan menjadi kambing hitam untuk menunjukkan kepada para siswa bahwa mereka tidak seharusnya menentang wewenang pada guru.
“Bahkan aku akan mengeluarkannya demi menyelesaikan masalah ini.” Ucap Kepsek Yang.
“Aku mengandalkanmu. Kau harus segera di promosikan menjadi inspektur.” Kata Tuan Hyun. Tae Woon memilih keluar dari rumah, dan langsung merusak kaca spion mobil Kepsek Yang. 


Keluarga Ra makan malam bersama, Ibu Eun Ho memarahi anaknya yang melawan dan memperingatakan kalau melihat naik motor lagi maka... Tuan Ra langsung memotong dengan bertanya apakah anaknya tidak melakukan pengiriman hari ini.
“Gunakan helm-mu... agar para pembeli tidak kaget.” Ejek Tae Sik. Eun Ho yang kesal ingin memukulnya.
“Wahh.. Makan malam ini sangat enak. Makanan ini cocok digabungkan dengan minum-minum, 'kan?” ucap Tuan Ra dan Tae Sik. Tae Sik mengajak mereka untuk minum soju.
Eun Ho pun kesal mendengar Tae Sik yang masih kecil. Nyonya Kim malah bertanya berapa harga soju. Tae Sik tak percaya kalau boleh ibunya akan memberikan uang. Eun Ho bertanya pada ayahnya karena sudah besar maka boleh minum. Tuan Ra pun memperbolehkanya.
“Aku harus membeli buku. Aku tidak mengatakan apa-apa tapi aku butuh uang yang banyak. Kau bilang tidak apa. Tapi kau tahu kalau aku butuh.” Ucap Tae Sik terus berbicara tapi tiba-tiba ibunya berkata pada Eun Ho.
“Tentang Les komik itu?” ucap Nyonya Kim, semua terlihat binggung. Eun Ho pun berpikir ibunya berbicara sendiri.
“Jika kau ikut les, apa kau yakin akan masuk kuliah?” tanya Nyonya Kim. Eun Ho pikir tentu saja, tapi ingin menjelaskan sesuatu, kalau disekolah ada masalah.
“Ibu harus pergi, 'kan? Kau masih kecil. Ibu harus bertemu dengan gurumu. Haruskah ibu memberikan ayam pada mereka dan membuatmu terlihat baik?” kata Nyonya Kim. Eun Ho langsung melarang ibunya melakukan itu.
“Kepala sekolah tidak akan menyukai kedatangan ibu.” Kata Eun Ho. Nyonya Kim seperti tak percaya tapi Eun Ho berusaha menyakinkan ibunya aga jangan datang ke sekolah.
“Kalau begitu, apa ayah harus pergi?” kata Tuan Ra. Eun Ho mengeluh kenapa ayahnya harus datang.
“Apa Kau sedang dalam masalah?” ucap Tae Sik. Eun Ho dengan nada tinggi berusaha mengelak dan berteriak menyuruh diam saja. Tae Sik pikir Eun Ho tak perlu berteriak.


Eun Ho gelisah dalam kamarnya, mondar mandir sampai merangkak, naik ke lantai atas lalu keluar masuk kamarnya. Sampai akhirnya Ia berdiri didepan meja belajarnya merasa si pelaku yang mencari masalah denganya. Ia berusaha mengingat dan melihat sepatu yang digunakan oleh pelaku dan mulai mengambar.
“Aku akan menemukanmu dan membunuhmu Dan membersihkan nama baikku.” Kata Eun Ho akan segera membalas dendamnya. 

Eun Ho dan Sa Rang menghentikan orang-orang yang berjalan didepanya, seorang pria mendekat dan Eun Ho menutup mata dan Sa Rang melihat dari gambar Eun Ho. Byung Goo juga ikut ingin diperiksa, tapi Eun Ho langsung menyuruh pergi saja.
 Dae Hwi baru datang dengan Nam Joo, Eun Ho ingin memeriksanya. Dae Hwi mengeluh kenapa eun Ho mencuriganya, menurutnya ini tak benar. Eun Ho tahu kalau ini kekanak-kanakkan, tapi dirinya juga putus asa serta bukan anak kecil.
“Baiklah. Ayo lakukan apa saja yang kita bisa.” Ucap Dae Hwi lalu mencoba menutup wajahnya.
Eun Ho mendekat dan melihat bibir Dae Hwi lebih dekat, Nam Joo langsung memperingatkan Eun Ho kalau Berhenti menatapnya karena seolah-olah akan menciumnya. Akhirnya Eun Ho memperbolehkan keduanya pergi. 
Tae Woon baru saja datang dari arah yang lain dan Eun Ho langsung menutup wajahnya dengan kertas, lalu berkomentar kalau itu sangat mirip dengan gambarnya. Sa Rang melihat dari kejauhan untuk memastikan. Eun Ho mendekat sama seperti Tae Woon.

Tiba-tiba Tae Woon malah mendekatkan wajahnya, Eun Ho gugup melihat wajah Tae Woon yang sangat dekat, Tae Woon yakin Eun Ho itu pasti takut jadi memperingatkan agar mereka minggir. Eun Ho akhirnya membiarkan Tae Woon pergi. 

Sa Rang menarik tangan temanya  membahas kalau sudut yang dibuat Eun Ho kalau seperti ingin berciuman. Eun Ho kesal karena tak peduli pada sudut pandanganya, lalu memuji Tae Woon itu sangat keren. Sa Rang berkomentar merasa tak yakin kalau mereka bisa menangkap pelakunya dengan cara ini.
“Tentu, aku akan mengingat bibirnya.” Kata Eun Ho. Sa Rang melonggo mendengarnya.
“Kau seperti habis ciuman atau semacamnya. Hei. Kau bahkan belum pernah ciuman” ejek Sa Rang. Eun Ho meminta temanya agar bisa diam saja.
“Daebak... Aku tidak percaya mendengarnya.” Ucap Byung Goo melonggo kepala di jendela mendengar keduanya.

Guru Shim berada didepan ruangan sambil berbicara sendiri “Menuduh orang yang tak bersalah... Tidak benar jika kita menuduh orang yang tak bersalah.”  Saat itu pintu terbuka,  Ia pun langsung berbicara kalai ini salah dan mereka tak boleh menghukum orang yang tak bersalah.
“Tidak ada bukti. Pihak sekolah tidak boleh melakukan ini pada siswanya.” Ucap Guru Shim berbicara dengan memejamkan matanya.
Ibu Sa Rang baru keluar membersihkan ruangan langsung membenarkan, Guru Shim langsung bisa lemas karena bukan kepala sekolah.  Ibu Sa Rang merasa kasihan dengan Eun Ho karena tahu Eun Ho bukan orang yang seperti itu.
“Jadi tolong, bersikaplah yang tegas.” Ucap Ibu Sa Rang lalu menunjuk Kepala sekolah dan guru yang baru saja datang menuruni tangga.


Guru Shim makin panik melihat kepala Sekolah yang datang, Ibu Sa Ran menyuruh Guru Shim agar bisa memberitahu kepala sekolah. Guru Shim malam makin panik. Kepsek pikir kenapa dirinya tidak bisa mengeluarkannya, karena ia sebagai kepala sekolah. Guru Park meminta kepsek agar jangan berteriak.
Ibu Sa Rang melihat Guru Shim yang ketakutan merasa tak bisa di andalkan. Guru Park pikir Hal itu tidak sesuai dengan wewenangnya jadi tidak bisa mengusirnya dan mengeluarkannya. Guru Shim pun memilih segera kabur. Sementara Ibu Sa Rang dan temanya membahas kalau DO itu sangat kejam.  Ibu Sa Rang pikir kalau Mungkin sebaiknya mereka protes. Guru Shim pun mendengarnya. 

Semua murid berkumpul di restoran burger, seperti Guru Shim mentraktirnya lalu membagiakan selembar kertas. Bit Na melihat isinya,"Petisi untuk Ra Eun Ho" lalu bertanya alasan mereka harus melakukannya.
“Anak-anak... Eun Ho dituduh... Jika kita membantunya. Aku yakin itu akan membuat dirinya lebih baik.” Ucap Guru Shim.
“Astaga... Apa Kau mengatakan Eun Ho bukan pelakunya?” ucap Byung Goo.
“Dasar Bodoh. Tidak ada yang bilang begitu. Ini hanya kemungkinan bukan dia pelakunya.” Kata Nam Joo sinis.

“Di waktu yang sama, bisa saja dia pelakunya.” Pikir Hee Chan.
Guru Shim memang tahu kalau belum ada yang terbukti jadi mereka harus membantu. Salah anak yang tak peduli meminta izin untuk pergi les. Bit Na juga melihat jam kalau guru privatnya akan datang. Semua pu memilih segera pergi. Guru Shim meminta mereka agar bisa mengisinya saat ada dirumah.
Dae Hwi duduk sendirian dalam restoran, lalu dengan sangat yakin mengatakan akan mengisinya. Guru Shim pun mengucapkan Terima kasih, walaupun wajahnya terlihat gelisah. 

Guru Jang melihat lembaran ditangan guru Shim yaitu “Petisi untuk Ra Eun Ho” Guru Shim mengaku tidak bisa memikirkan hal lainnya. Guru Jang pikir lebih baik Hukum saja Eun Ho agar semuanya berakhir menurutnya Anak seperti ini akan terus menimbulkan masalah dan membuatnya sakit kepala.
“Tapi... Tetap saja.” Kata Guru Shim merasa ingin membela Eun Ho.
“Anak-anak zaman sekarang tidak menghormati gurunya. Jangan terlalu berusaha, oke?” pesan Guru Jang. 

Genk Young Gun dkk mengepung Bo Ra dibelakang sekolah. Seung Eun melihat buku kalau mereka bisa mempostingnya secara online lalu memuji kerja keras Bo Ra.  Bo Ran mengaku tidak mau melakukannya dan tidak bisa melakukannya. Hyun Jung mulai mengejek.
“Jika membutuhkan uang, aku akan mencari kerja sampingan...” ucap Bo Ra. Young Gun langsung mendorong sambil mengumpat Bo Ra yang sudah kehilangan akal sehatnya.
“Kau bilang Kerja Sampingan? Berani-beraninya kau.” Ucap Young Gun langsung memukul Bo Ra bertubi-tubi. 

Tiba-tiba Petugas Han datang langsung mendorong Young Gun dengan satu kakinya, perkelahian pun terjadi antara Petugas Han dengan Young Gun, Seung Eun dan Hyun Jung. Tapi petugas Na bisa membuat semua jatuh tersungkur. Bo Ra kebinggungan, sampai akhirnya Guru Shim datang melihat semuanya.
“Apa yang kau lakukan kepada mereka? Katakan...” teriak Guru Shim. Young Gun dkk ingin kembali memukul tapi petugas Na lebih sigap melawanya. Guru Shim hanya bisa melonggo
“Apa yang kau lakukan? Kau seorang polisi.” Teriak Guru Shim lalu mencoba menanyakan keadaan anak muridnya yang terjatuh.
“Hei, anak-anak... Kalian seharusnya berkelahi 1 lawan 1. Bukankah sangat memalukan, 3 orang memukuli 1 orang?” kata Petugas Na.
“Apa yang kau katakan? Mereka kesakitan.” Kata Guru Shim membela
“Mereka akan baik-baik saja dalam beberapa hari. Aku tahu cara memukul orang.” Tegas Petugas Na
Guru Shim merasa tak terima dengan Petugas Han yang memukul anak-anak. Petugas Na memberitahu kalau sedang bekerja dan sedang mengajari mereka. Guru Shim tak terima kalau petugas Han Mengajar menggunakan kekerasan
“Kau berasal dari daerah mana? Aku akan melaporkanmu. Aku tidak bisa membiarkanmu.” Kata Guru Shim seperti ingin melaporkanya dengan ponselnya. Petugas Na dengan gaya Song Joong Ki menjatuhkan ponsel dari tangan di Drama Dots, mencegahnya.
“Anak-anak... Jika aku melihat kalian melakukan hal yang sama, maka aku akan membunuh kalian.” Ancam Petugas Na. Di atas rumput terlihat buku yang berjudul (Panduan Ujian Percobaan Yoo Bit Na)


Guru Shim akhirnya menemukan Panduan Ujian Percobaan Yoo Bit Na yang ternyata akan menjualnya. Bo Ra hanya bisa tertunduk. Guru Shim tak percaya kalau mereka mencurinya lalu ingin menjualnya, bukan digunakan untuk belajar.  Bo Ra hanya bisa meminta maaf.
“Belajar!!! Apakah mencuri diperbolehkan jika kami gunakan untuk belajar?” ucap Young Gun sinis.
“Tidak... Bukan begitu... Ngomong-ngomong... kembalikan ini dan minta maaf.” Kata Guru Shim. Young Gun yang berani malah berani mnegumpat Guru Shim yang sangat menyebalkan.
“Hei! Apa Kalian benar-benar ingin dihukum? Jika kau mendapat surat peringatan lagi, maka kau akan dikeluarkan.” Tegas Petugas Shim
Seung Eun langsung menganguk setuju,  agar mereka segera mengambalikan saja dan meminta maaf. Guru Shim pun mempercayainya dan yakin Bit Na akan memaafkan mereka. Seung Eun mengerti kalau  akan mengembalikannya dan meminta maaf jadi meminta izin untuk pergi sekarang. Guru Shim pun mempersilahkanya. 

Mereka berjalan menaiki tangga, Seung Eun memukul kepala Bo Ra dan langsung menyuruh agar mengurusnya. Bo Ra pun hanya bisa tertunduk diam lalu dikelas mengembalika buku milik Bit Na. Dan Bit Na langsung menampar Bo Ra sambil mengomel nada tinggi. Bo Ra hanya bisa meminta maaf.
“Kau bilang "Maaf"? Apa Kau pikir sudah beres? Apa Kau tahu berapa mahalnya ini? Sekarang Aku akan membunuhmu.” Ucap Bit Na langsung menarik rambut Bo Ra. Eun Ho mencoba untuk merelainya.
“Bit Na, bicarakan baik-baik. Dia sudah minta maaf.” Ucap Eun Ho membela
“Jangan jadi orang yang menyebalkan dan minggirlah” kata Bit Na sangat marah. Eun Ho menegaskan kalau Bo Ra yang sudah meminta maaf. Bit Na tak peduli tetap ingin melampiaskan amarahnya.
“Aku akan memanggil polisi untuk menangkapmu.” Teriak Bit Na dengan mendorong Eun Ho. Akhirnya Eun Ho tak bisa menahan amarahnay dengan berteriak agar Bit Na melepaskan tanganya.
Bit Na pun makin marah karena Eun Ho yang ikut campur, mereka pun saling menjabak. Bo Ra kebinggungan karena Eun Ho malah berkelahi dengan Bit Na. Guru Shim datang merelai keduanya dan berteriak agar Bit Na melepaskanya, lalu memarahi semua murid yang hanya diam saja ketika ada perkelahian.
Semua murid hanya bisa tertunduk diam, Eun Ho memegang kepalanya yang sakit. Bit Na marah berani menyenggol badan guru Shim mengambil ponselnya lalu menelp ibunya seperti mengadu kejadian disekolah. Semua hanya bisa diam saja. 


Guru Shim masuk ruangan, sudah ada 3 orang ibu bersama kepala sekolah.  Kepsek Yang langsung memarahi Guru Shim dengan memberikan petisi untuk Eun Ho padahal seorang guru. Guru Shim mencoba menjelaskan bukan seperti itu maksudnya. Wali murid merasa tak terima dengan yang dilakukan guru Shim.
“Nyonya... Biarkan aku menangani ini.” Ucap Kepsek
“Pecat dia Dan juga.. keluarkan Ra Eun Ho yang berkelahi dengan anakku. Aku dengar dia melakukan hal yang luar biasa. Bagaimana jika anak-anak kita diganggu oleh seorang pencuri dan seseorang yang selalu bermasalah?” kata Ibu Bit Na dengan mata melotot.
“Tidak. Mereka tidak seperti itu.” Kata Guru Shim mencoba membela tapi wali murid lain kembali bicara.
“Pak Shim... Apa ini? Apa Sebuah petisi? Mereka sudah cukup disibukkan dengan belajar. “ kata Wali sendiri. Kepsek Yang memarahi Guru Shim yang melakukan itu pada anak muridnya.
“Aku dengar Eun Ho mendapatkan nilai rendah, bermasalah, dan menurunkan kualitas kelas. Anda tidak boleh mengganggu anak-anak dengan semua ini. Ujian juga semakin dekat.” Kata seorang guru.
“Jika anda tidak menarik dua orang bermasalah itu, maka kami akan memanggil... semua panitia komite.” Ancam Ibu Bit Na.
Kepsek  Yang mencoba menenangkan para orang tua murid, lalu mengatakan kalau mereka tak perlu Jangan Khawatir karena akan mengeluarkan semua. Lalu berteriak menyuruh Guru Shim segera meminta maaf. Akhirnya Guru Shim dengan tertunduk meminta maaf dan memberanikan diri berbicara.
“Anak-anak itu...tidak nakal.” Kata Guru Shim. Orang tua murid main mengelu kalau anak B mereka tidak punya cukup waktu untuk belajar.
“Eun Ho bukan lah orang yang seperti itu. Itu ulah temannya.” Ucap Guru Shim
“Kau bilang Teman? Tidak ada yang namanya "teman" sekarang ini. Mereka semua adalah para pesaing. Kau harus mengeluarkan anak-anak yang nakal sehingga yang lainnya dapat fokus belajar. Didiklah anak-anak itu!
 tegas Ibu Sa Rang dengan sinis.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted



Tidak ada komentar:

Posting Komentar