Rabu, 12 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 15 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dong Man bertanya apakah Kyung Koo bersikap seperti itu karena ingin membalas dendam atau masih menginginkan Ae Ra. Kyung Koo pikir Dong Man Lihat saja acaranya karena ebentar lagi akan disiarkan. Dong Man yakin Kyung Koo mengarang cerita agar dirinya tampak bodoh.
“Tanpa sebuah kisah, apa ada yang peduli dengan petarung tidak dikenal?” kata Kyung Koo, Dong Man melonggo bingung.
“Cerita dan penyuntingannya saling berhubungan. Aku merekam tandukan yang disengaja. Aku membuatmu terlihat bagus jadi Lihat saja sendiri.” Kata Kyung Koo. Dong Man terlihat tak percaya.

Dong Man menonton dari ponselnya seorang pria memberikan pendapat “Dari sudut pandangku,ini tindakan yang disengaja. Sepertinya dia sengaja membuat pertarungan dianulir.” Tak Su masih ada dirumah sakit mengumpat kesal merasa kalau Video ini diedit untuk membuatnya tampak buruk.
“Sutradaranya bertekad menciptakan fiksi dengan fakta. Dia memutar tandukan itu dalam gerak lambat dan memasukkan wawancara. Ini sungguh kacau.” Ucap Tak Su marah
“Orang-orang kita tidak dapat menghadapi reaksi media.” Kata Tae Hee.
“Tidakkah kau tahu mereka sedang merekam Dong Man?” ucap Tak Su. Tae Hee meminta Tak Su agar jangan panik.
“Sekalipun itu gegar otak ringan, kau perlu santai dan tetap tenang.” Kata Jae Hee.
“Biarkan aku menjelaskannya. Aku tidak akan pernah melawan monster itu lagi. Mintalah media untuk berhenti bicara. Pastikan pembicaraan tentang pertandingan ulang tidak dimulai.” Ungkap Tak Su 


Dong Man melihat dibagian akhir "Kami mendukung Dong Man, bintang yang sedang naik daun" merasa tak percaya. Kyung Koo mengejek kalau itu memang bagus dan membuatnya terharu bahkan ingin menangis. Dong Man mengelak.
“Apa wajahku... Apa kau mengedit wajahku? Apa yang kau lakukan?” ucap Dong Man merasa wajahnya berbeda. Kyung Koo hanya bisa mengeluh. 

Tuan Ko menonton acara di rumah, Ibu Dong Man memukulnya, Tuan Ko heran karena ibu Dong Man memukul suaminya dengan sangat keras.  Ibu Dong Man mengeluh menurutnya Jika Tuan Ko tahu anak mereka akan terluka seperti itu, maka seharusnya menghentikannya tapi malah mendukungnya.
“Ini olahraga... Dia berada di dalam kandang.” Kata ayah Dong Man
“Bagaimana bisa aku melihatnya berdarah?” ungkap Ibu Dong Man terdengar suara Dong Hee dari kamar memanggil ayahnya.
“Dong Hee, apa kau ingin sesuatu?” tanya Ayah Dong Man masuk kamar melihat anaknya duduk di meja belajar.
“Aku ingin bertemu Dong Man. Aku punya sesuatu untuk diberikan kepadanya.” Kata Dong Hee. 


Nam Il memberikan menu baru dalam restoran dan Kyung Koo memilih satu menu ayah, Dong Man sedang melihat ponsel dengan foto seorang wanita dan juga anak yang lucu.  Kyung Koo menceritakan kalau Istrinya dahulu adalah seorang peserta pelatihan idola dan sangat cantik.
“Putri kami sangat lucu karena dia mewarisi wajah ibunya. Orang memanggilnya peri. Coba kau Lihat?!! Kau salah mengerti.” Kata Kyung Koo.
“Kenapa kau harus menemui Ae Ra dan mengejarnya?” Dong Man binggung.
“Putriku sangat menggemaskan,kan? Belum lama ini, dia diganggu di sekolah. Seorang anak bernama Choi Ji Ho memulainya. Ternyata dia berpikir bahwa jika tidak ada yang menyukai putriku, maka putriku hanya akan bermain dengannya.” Cerita Kyung Koo 

Kyung Koo mengingat dengan perkataan pada Ae Ra “Jika tidak ada yang menyukaimu maka kamu mungkin akan menjadi pacarku” dan Itu menyadarkannya kalau sepenuhnya adalah karma.
“Apa yang kulakukan berbalik kepada putriku. Itu sebabnya aku datang mencarimu. Aku ingin menyingkirkan karma ini.” Ucap Kyung Koo
“Apa akhir-akhir ini kau pergi ke gereja?” komentar Dong Man tak percaya mendengarnya. 

Ae Ra membawa panci makanan didepan rumah Dong Man, Bibi Ganako baru saja pulang berkomentar kalau Ae Ra seharusnya tidak memasak dan mengantarnya kepada para pria. Ae Ra menyapa ramah bibi pemilik rumha.
“Kau tidak terlihat seperti ibu rumah tangga.” Komentar Bibi Ganako. Ae Ra mengeluh Bibi Ganako yang sangat usil.
“Apa kau makan mi instan lagi?” ejek Ae Ra. Bibi Ganako mengejek Ae Ra sangat usil. Ae Ra ikut naik tangga, Bibi Ganako binggung kenapa Ae ra ikut naik denganya.
“Makanlah bersamaku.” Kata Ae Ra. Bibi Ganako bertanya kenapa mereka harus makan bersama.
“Kita sama-sama tidak punya teman makan sekarang.” Kata Ae Ra lalu menaiki tangga. 

Ibu Joo Man melihat isi lemari anaknya dengan obat, lalu berkomentar kalau Butuh waktu 20 tahun dan tidak bisa mengobatinya, tapi Sul Hee mengobati rinitis anaknya. Sul Hee baru saja pulang melihat Ibu Joo Man dan menyapa dengan ramah. Ibu Joo Man bertanya kenapa  Sul Hee tidak bekerja.
“Aku bekerja setengah hari karena ada paket yang harus kukirim.” Kata Sul Hee
“Omong-omong, kenapa kalian berdua putus? Apa karena aku Atau... Apa karena saudarinya?” tanya Ibu Joo Man penasaran
“Tidak, bukan seperti itu.” Ucap Sul Hee. Ibu Joo Man ingin tahu alasanya. Sul Hee mengaku kalau Semua terjadi begitu saja.
“Sul Hee... Jangan bohong kepadaku, katakan yang sebenarnya. Apa Joo Man berselingkuh darimu?” kata Ibu Joo Man. Sul Hee hanya diam saja. Ibu Joo Man mengumpat marah dengan tingkah anaknya. 

Keduanya akhirnya duduk di halte bus bersama. Sul Hee mencoba menenangkan kalau Joo Man sebenarnya tidak benar-benar berselingkuh. Ibu Joo Man menceritakan kalau Sebenarnya, saat ayah Joo Man masih hidup,memiliki dua kekasih selain dirinya. Sul Hee sempat kaget mendengarnya.
“Aku jatuh sakit dua kali karena hal itu. Kau tidak boleh hidup seperti itu dan tidak pantas menderita seperti itu.” Ucap Ibu Joo Man. Sul Hee mengaku tidak tahu itu.
“Terkadang seorang ibu bisa menjadi licik. Jika anakmu berharga, maka kau harus tahu bahwa anak-anak lain juga berharga. Namun aku terus mengasihani putraku. Dia selalu sangat melindungimu. Kurasa aku cemburu dan merasa kesepian.” Ungkap Ibu Joo Man
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang.” Kata Sul Hee. Ibu Joo Man merasa bersalah juga.
“Jika kalian kembali bersama, maka aku tidak akan pernah mengunjungi rumahmu. Kau tidak perlu menghadiri acara keluarga.Aku tidak akan membiarkan kakaknya  Joo Man meneleponmu lagi. Aku bersumpah.” Ucap Ibu Joo Man
Ae Ra meminta maaf pada Ibu Joo Man, Ibu Joo Man merasa dirinya bodoh karena tidak ingin kehilangan diri Sul Hee maka bersikap konyol. Sul Hee mengaku sangat menyesal hubungan mereka yang  tidak berhasil. Ibu Joo Man berpesan walaupun Meskipun tidak melihatnya lagi maka tolong jaga dirinya lalu bergegas masuk ke dalam bus. 


Dong Man pun berpisah dengan Kyung Koo mengaku akan mengunjungi tempatmu kapan-kapan untuk melihat perinya itu. Kyung Koo lalu bertanya apakah Dong Man mengenal Hwang Bok Hee. Dong Man binggung siapa yan dimaksud.
Bibi Ganako duduk di meja makan dan Ae Ra membuka hasil makanan dalam panci. Bibi Ganako mengeluh itu sup apa atau rebusan. Ae Ra mengatakan kalau Ini rebusan ikan makerel dengan menceritakan kalau Orang tuanya memiliki restoran rebusan ikan.
“Kenapa ada orang yang membuat rebusan makerel?” keluh Bibi Ganako mengejek.
“Ayahku payah dalam memancing. Dahulu dia seorang nelayan dan tidak pernah bisa menangkap ikan mahal. Dia selalu mendapatkan ikan sauri Pasifik atau makerel. Kami memiliki keluarga besar karena tinggal dengan kakek dan nenekku, tapi hanya ada satu ikan makerel. Ibuku pun marah, dia menaruhnya ke dalam air, lalu merebusnya. Tapi ayahku menyukainya, Karena itulah kami membuka restoran, tapi usaha itu tidak sukses.” Cerita Ae Ra yang terus mengoceh.
“Hei.. Apa Kau biasa banyak bicara saat makan? Kepalaku mulai terasa sakit.” Ucap bibi Ganako sinis.
“Bagaimana dengan Bibi? Apa Bibi hanya makan? Bibi seharusnya mengobrol... “ kata Ae Ra
“Pencernaanku terganggu jika ada yang bicara. Jadi, ambil makananmu dan pergilah ke kamarmu.” Ucap Bibi Ganako
“Kalau begitu, Bibi makan saja sendiri. Aku kembali nanti untuk mengambil pancinya. Jadi Makanlah dan Pantas saja tidak ada yang menemanimu makan.” Kata Ae Ra sinis lalu memilih untuk segera meninggalkan rumah. Bibi ganako hanya bisa menangis sendirian. 


Flash Back
PD sedang melihat video Dong Man dkk, Bibi Ganako masuk dengan wajah marah menyebut si PD bukan manusia. Si PD merasa Bibi Ganako tak perlu datang. Ibu Ganko merasa PD merasa Teganya melakukan ini kepada anak-anak.
Sebuah koran bertuliskan judul berita "Aktris Film Dewasa, Hwang Bok Hee Ternyata Seorang Ibu Tunggal" Bibi Ganako merasa si PD salah sebuh menganggapnya sebagai aktris film dewasa, menurutnya  denga kalimatnya itu bisa menghancurkan karier aktingnya.
“Kau sudah membuatku mustahil untuk menjadi seorang ibu.” Ucap bibi Ganako dan si PD seperti tak peduli dan memilih pergi. Bibi Ganako menahanya dan memohon.
“Pratinjaunya sudah ditayangkan. Kita tidak bisa membatalkan suatu acara. Ayolah, kamu pasti tahu itu. Jangan membuatku kesulitan.” Ucap PD
“Tolong bantu aku... Acara ini tidak boleh ditayangkan di TV. Kini anakku mengerti segalanya. Apa salah anakku? Anakku, Ae Ra... Tolong jangan ganggu Ae Ra. Kau tidak boleh memberi tahu seorang anak bahwa ibunya adalah bintang film dewasa. Itu terlalu kejam. ” Kata bibi Ganako berlutut. 

Bibi Ganako menemani Ae Ra yang sedang tertidur. Tuan Choi mengatakan kalau sampai orang tuanya tahu bahwa bibi ganako ada dirumahnya mereka akan mengamuk lagi. Bibi Ganako memanggil Tuan Choi.
“Aku bahkan tidak bisa merawat anakku dan diusir karena menanggalkan bajuku di sebuah film. Besok aku akan pergi ke Jepang. Apa aku tidak boleh bernyanyi untuk anakku sekali saja?” ucap Bibi Ganako dengan menyanyikan lagi lirik "Memakai topi merah"

Dong Man mencari keywor nama bibi Hwang Bok Hee dan terlihat artikel "Bintang Film Dewasa, Hwang Bok Hee, adalah Seorang Ibu Tunggal?" dan binggung dengan film "Dwarf Flower" lalu seperti mengingatkan sesuatu.
Flash Back
Bibi Ganako menemui Dong Man dengan penuh kasih sayang memberikan sebuah permen karamel. Dong Man langsung memakanya. Bibi Ganako berpesan agar Dong Man Lindungilah Ae Ra seperti yang biasa dilakukan untuk mengantikan dirinya.
Dong Man mengingat Bibi Ganako adalah si Bibi Karamel itu.

Ae Ra menuruni tangga. Nam Il yang baru pulang mengeluh Ae Ra yang terus datang kerumahnya. Ae Ra mengaku kalau ingin makan bersama Bibi Ganako. Nam Il ingin tahu alasanya dengan nada sinis.
“Kenapa kau sangat mempedulikan ibuku? Kenapa kau berpura-pura baik?” ucap Nam Il
“Apa makan bersamanya adalah berpura-pura baik?” komentar Ae Ra
“Aku cenderung percaya bahwa pada dasarnya semua orang itu jahat. Setiap aku melihatmu, maka aku ingin mengujimu untuk melihat apa kau benar-benar baik dan memang sepolos itu.” Ucap Nam Il dingin
“Dengar... Semua orang sama saja dalam hal itu. Semua orang lemah dan tidak percaya diri. Kau sangat sensitifm Sepertinya kau mengalami pubertas.” Ejek Ae Ra lalu memilih pergi. Nam Il terdiam seperti mengingatkan sesuatu. 

Bibi Ganako memarahinya sambil memukulnya kalau seperti  mengalami pubertas dengan menato lengannya dan menyuruh agar menghapusnya.  Nam Il kesal menurutnya tak ada masalahnya untuk bibi Ganako dan kenapa harus memukulnya.
“Jika kau anak nakal, tapi tidak ada yang memukulmu, maka itu akan menjadi hal paling menyedihkan dalam hidupmu. Tidak akan kubiarkan Kim Nam Il menjadi begitu menyedihkan. Sekarang, Kim Nam Il adalah putra Hwang Bok Hee yang baik. Jika tamparan adalah obat, aku akan memukulmu. Paham?” kata Bibi Ganako. Nam Il hanya diam saja. 

Ae Ra yang menuruni tangga berkomentar kalau Nam Il bahwa Tamparan adalah obat bagi berandal sepertinya. Nam Il hanya diam saja, lalu masuk ke rumah melihat bibi Ganako duduk sambil tertunduk. Ia pun bertanya  kenapa "Nam Il"
“Dia seorang gadis. Apa Ibu begitu sedih karena dia? Apa Ibu pernah sesedih itu karena aku?” kata Nam Il. Bibi Ganako ingin masuk kamar karena sedang lelah.
“Saat bisnis Ibu bangkrut, Ibu menangis sendirian, dan terkena kanker, siapa yang mendampingi Ibu? Apa Ae Ra ada di sana?” kata Nam Il. Bibi Ganako seperti tak ingin Nam Il membahasnya.
“Mari kita kembali ke Jepang, Bu.” Ucap Nam Il. 

"Sasana Hwang Jang Ho"
Dong Man panik mondar mandir di depan gedung bertanya-tanya Kenapa Dong Hee tiba-tiba datang, lalu sebuah mobil datang. Tuan Ko memnta maaf karena terlambat. Dong Man melihat adiknya di dalam mobil lalu mengangkatnya duduk di kursi roda dan melihat sepatu yang dipakai adiknya. Ia mengingat saat itu mengirimkan hadiah sepatu untuk adiknya langsung dari toko sepatu.
“Kau memakai sepatu kets baru.” Ucap Dong Man senang. Dong Hee hanya tertunduk saja.
“Bukankah kamu kemari untuk menemui kakak? Kenapa kau tidak mau menatap kakak? Apa Kau masih tidak mau bicara kepada kakak?” kata Dong Hee. Dong Hee tetap diam saja. Dong Man pun mengajak ayahnya untuk masuk saja.
Dong Hee menarik tangan kakaknya, lalu meminta agar kakaknya  Jangan kalah lagi. Dong Man tak percaya kalau adiknya mau bicara denganya. Dong Hee kesal karena Dong Man membuatnya merasa bersalah selama 10 tahun dan itu sangat kejam.
“Sudah kakak bilang, itu bukan karena kau.” Kata Dong Man. Dong Hee memberikan sebuah kliping Dong Man
“Aku penggemar Kakak. Aku butuh waktu 10 tahun untuk membuat buku kliping ini. Jadi, jangan kalah lagi. Aku lebih tidak suka melihat Kakak tidak sanggup berdiri daripada aku tidak bisa berdiri. Jadi, jangan pernah kalah lagi.” Kata Dong Hee. 


Beberapa wartawan dibawa masuk ke dalam gedung, salah seorang menjelaskan kalau Dong Man berlatih. Dong Man yang ada diatas merasa tidak paham dengan yang terjadi. Pelatih Hwang terlihat sibuk memberitahu kalau Dong Man ada empat wawancara, pemotretan majalah,pemotretan poster untuk taman bermain air...
“Kau bilang Taman bermain air?” ucap Dong Man heran
“Ya, tapi kau harus melepas kausmu. Dan Kau juga mendapat penawaran untuk iklan TV. Efek tampil di TV benar-benar besar. Dan kau harus Dengar... Orang yang ada disana, Dia asisten direktur di RFC. Presdir mereka menyuruhnya untuk mendapatkan persetujuanmu untuk bertanding ulang melawan Tak Su.” Kata Pelatih Hwang. Dong Man binggung ingin tahu alassanya.
“Mereka ingin pertarungan yang adil.” Kata Pelatih Hwang
“Tapi mungkin aku tidak bisa melanjutkan menjadi petarung.” Kata Dong Hee. Pelatih Hwang tahu kalau Rasanya menakutkan setelah cedera seperti itu.
“Mereka bilang retakan tengkorak bisa sembuh dengan sendirinya. Itu cedera yang wajar bagi petarung. Begitu pemain bisbol terkena bola di wajahnya, sulit baginya untuk kembali bermain. Trauma sangatlah sulit.” Kata Pelatih Hwang
“Ini bukan karena trauma. Jika terus melakukan ini, maka aku harus merelakan hal yang besar.” Ucap Dong Man 


Dong Man mendatangi Bibi Ganako dirumah. Bibi Ganako binggung bertanya Ada perlu apa datang selarut ini. Dong Man seperti sangat serius bertemu dengan bibi Ganako. Ae Ra sudah menunggu di atap mengatakan sudah melihat artikel itu dan sudah memutuskan.
Flash Back
Dong Man berbicara didepan wartawan mengaku takut, karena Itu kali pertamanya tidak bisa mendengar, bahkan sungguh ketakutan. Ia mengaku kalau Trauma cedera itu dan  Hal yang paling ditakutkan saat tidak bisa mendengar adalah mungkin dirinya tidak pernah bisa berdiri di dalam ring lagi.
“Kalau begitu, kamu akan bertarung lagi?” tanya wartawan. Dong Man menjawab “ya”
“Aku meminta pertarungan ulang melawan Kim Tak Su.” Kata Dong Man. 

Ae Ra duduk dengan mata berkaca-kaca kalau mereka Kputus dengan cara yang aneh. Dong Man bertanya apakah mereka harus melakukan hal ini karena dirinya benar-benartidak bisa melepasnya. Ae Ra mengatakan Saat Dong Man tidak bisa mendengar, maka melakukan semua cara yang egois.
“Aku tidak pernah pergi ke Sekolah Minggu, tapi aku pergi ke ibadah doa pagi. Aku memohon dan meminta, "Jika Tuhan mengabulkan permintaan ini, mulai saat ini aku akan bersikap baik." Aku sungguh-sungguh berdoa.” Cerita Ae Ra
“Apa Agar kondisiku membaik?” tanya Dong Man. Ae Ra mengaku Bukan.
“Aku memohon agar kau berhenti menjadi petarung. Setiap kali ayahku melaut, nenekku akan berdoa dengan rosarionya sepanjang hari. Lalu nenekku mengidap demensia dan melupakan nama ayahku, tapi setiap cuacanya berangin, maka nenekku meminta rosarionya. Nenek terjebak di sana seumur hidupnya.” Cerita Ae Ra saat itu menangis melihat Dong Man yang berbaring disampingnya. 
“Katanya, "Setiap kali ayahmu melaut, nenek sangat gelisah hingga tidak bisa bernapas." Sepertinya aku tidak mampu hidup seperti itu. Bahkan meskipun hanya bertahan selama sepekan.” Ungkap Ae Ra
“Aku juga takut... Aku takut akan kehilangan pendengaranku lagi. Aku takut kena pukul dan cedera. Tapi hal yang lebih membuatku takut adalah kembali. Jika aku diberi tahu bahwa semua ini hanya mimpi dan aku harus kembali untuk membasmi kutu, maka aku... Aku tidak akan bertahan sehari pun. Aku tidak ingin menjadi seperti dahulu lagi. Aku tidak ingin hidup tanpa impian.” Ungkap Dong Man
Ae Ra mengaku sejujurnya sudah tahu bahwa Dong Man tidak akan berhenti. Dong Man mengaku kalau semua ini bukan sekadar impiannya tapi juga impian ayahnya, Dong Hee, dan Pelatih lalu memohon agar e Ra percaya.
“Sepertinya ini artinya, kita bahkan tidak bisa berteman, kan?”ucap Ae Ra.
“Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bersembunyi, bertele-tele, atau berniat untuk putus denganmu. Aku tidak bisa hanya menjadi temanmu lagi.” Kata Dong Man
Ae Ra mengerti lalu mengucapakan selamat tinggal, Dong Man menahanya seperti tak ingin Ae Ra melakuka ini dan bisa mendampinginya. Ae Ra mengaku tidak sanggup melihatnya dan Itu terlalu sulit, bahkan Sangat sulit.
“Andai saja... kita tidak pernah memulai semua ini.” Ucap Ae Ra lalu berjalan pergi melepaskan tangan Dong Man. Dong Man pun hanya bisa menangis melihat kepergian Ae Ra. 

[Epilog]
Dong Man datang ke rumah bibi Ganako. Bibi Ganako binggung ada perlu apa Dong Man datang malam hari.  Dong Man mengatakan pada Bibi Ganako kalau Mulai saat ini, tolong lindungi Ae Ra karena Sepertinya ia tidak bisa melindunginya lagi. Bibi Ganako tak percaya mendengarnya.
“Aku tidak pernah mengatakannya, tapi aku sangat berterima kasih kepadamu.” Ucap bibi Ganako karena Dong Man bisa mengenalinya.
“Tidak perlu berterima kasih. Jika dipikir-pikir, semuanya bukan karena karamel yang Bibi berikan kepadaku. Sepertinya sudah sejak awal Ae Ra begitu berarti bagiku.” Ucap Dong Man
Bersambung ke episode 16
                                                                   
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                  

1 komentar: