Jumat, 18 Maret 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 8 Part 1

Shi Jin mengaku sangat merindukan Mo Yun, apapun yang dilakukanya selalu saja memikirkan Mo Yun. Bahkan memaksakan diri dan berusaha keras, sampai mabuk-mabukan dan mencoba semuanya, tapi semuanya percuma saja karena ia masih merindukannya. Mo Yun terdiam mendengar pengakuan Shi Jin.
Apa kau tak menyangka aku akan mengatakan ini?” ucap Shi Jin, Mo Yun tetap diam seperti seluruh tubuhnya kaku.
Kalau begitu, dengarkan aku. Karena aku sedang tidak bercanda sekarang.” Kata Shi Jin kalau yang dikatakan serius. 

Shi Jin berdiri membawa bajunya, lalu menatap Mo Yun menyuruhnya untuk segera beristirahat. Mo Yun menatap Shi Jin dengan berkaca-kaca. Shi Jin sebenarnya ingin mengantarnya tapi ia harus kembali kerja untuk mengejar waktu dan harus menuju markas untuk mengadakan briefing penyelamatan.
Markasmu bisa melakukan panggilan telp, 'kan? Karena aku ingin menelepon seseorang.” Kata Mo Yun, Shi Jin hanya diam menatap Mo Yun. 


Di dalam markas
Tentara lain meminta pada Tim Jacquito, agar memberikan laporan kondisi korban saat ini. Suara dari walkie talkie memberitahu ada 3 orang yang hilang 20 orang tewas, 42 orang luka-luka dan Tak ada korban tambahan.
Mo Yun duduk didepan telp tapi terdiam menatapnya, Shi Jin melihat dari kejauhan seperti Mo Yun terlihat ragu untuk menelp seseorang. Tentara lain datang melapor pada Shi Jin Jaringan komunikasi Mohuru juga putus. Shi Jin mengerti dan bertanya  berapa lama proses perbaikannya.
Kami sedang mengusahakannya, jaringannya bisa tersambung dalam 2 sampai 3 hari. Briefing akan berlangsung 5 menit lagi.” Kata Si tentara, Shi Jin mengerti lalu menatap Mo Yun yang mulai menelp.
Aku bersamanya pada saat-saat terakhirnya. Dia memintaku untuk mengatakan sesuatu padamu, jadi aku meneleponmu.” Kata Mo Yun

Flash Back
Manager Go dengan tertimpa bangunan, merasa tenang karena bisa berbaring santai dan melihat langit biru dari lubang kecil diatasnya. Mo Yun ada disampingnya seperti tak percaya walaupun dalam keadaan terjepit Manager Go masih saja tersenyum.
Aku mencari uang begini, dan bisa menguliahkan anak-anakku. Mereka bisa mencari pekerjaan dengan pendidikan mereka. Istriku... kami berdua suka melihat foto masing-masing bersama-sama, padahal kita sedang berhadapan” cerita Manager Go sambil tertawa bahagia, Mo Yun tak bisa menahan tangisnya dan buru-buru dihapusnya.
Ok Nam...sekarang dia pasti hanya bisa menatap fotoku saja.” Ucap Manager Go mengingat semua tentang istrinya.
Mo Yun berbicara pada Istri Manager Go, Selain dana pensiun yang dterima dari perusahaan, Mendiang suaminya juga berpesan bahwa keponakannya akan menjaga mereka
Dia juga bilang, jangan selalu menyendiri.” Kata Mo Yun dengan mulut bergetar menyampaikan pesan Manager Go sebelum meninggal. Shi Jin terus menatap Mo Yun seperti tahu mantan pacarnya itu berusaha untuk tetap tegar menelp istri mendiang Manager Go yang tak bisa diselamatkan. 

Ja Ae mendinginkan badanya dengan menaruh minuman kaleng dilehernya dan meliat Sang Hyun duduk sendirian diluar. Ia pun duduk disamping Sang Hyun mengetahui Semua operasi darurat sudah selesai dan memuji Sang Hyun sudah berkerja kerja sebagai dokter dengan memberikan minuman kalengnya.
Sang Hyun memperlihatkan sebuah cincin ditanganya, menurutnya itu cincin kawin. Ja Ae membenarkanya dan menuduh Sang Hyun sudah mencurinya, Sang Hyun menceritakan dengan wajah sedih kalau itu cincin milik pasien terakhir yang di operasinya tapi tak bisa mengembalikanya.

Ja Ae langsung pergi menjauh setelah melihat pasien yang harus diamputasi bagian tangan kanannya. Sang Hyun melihat Jae Ae mengambil benang dari tempat penyimpanan. Jae Ae menjadikan cincin sebagai kalung pada pasien dengan tangan teramputasi.
Sampai lengan kirimu sembuh, kau harus tetap berbaring seperti ini.” kata Ja Ae. Pasien itu pun mengucapkan terimakasih, Ja Ae menatap Sang Hyun yang berdiri disampingnya. Sang Hyun mengangguk dengan senyuman karena Ja Ae bisa memasangkan kembali cincin yang dipakai pada tangan yang hilang menjadi sebuah kalung. 


Ye Hwa mengomel karena tingkah Daniel yang menolak diwawancara sambil menyenter bagian mobil yang sedang di perbaiki, padahal ia sudah berjanji untuk mengusahkan wawancara jika para wartawan itu memberikan donor darah. Daniel seperti tak peduli menyuruh Ye Hwan menyenter bagian kanan.
Kau harus membantuku.” Ucap Ye Hwa memindahkan senter ke tangan kiri
“Apa Kau tak lapar? Cepat selesaikan ini dan makan.” Kata Daniel meminta menyenter bagian kiri juga
Jangan egois dan manfaatkan tampangmu itu. Lalu, apa gunanya wajah tampanmu itu?” keluh Ye Hwa kesal dengan menyenter ke wajah Daniel
Ya, aku akan menggunakan wajahku ini hanya menarik istri, yaitu untukmu.” Ucap Daniel mengombal dengan menutup sinar senter ke wajahnya.
Kau selalu saja memanggilku istrimu.” Kata Ye Hwa tak suka, Daniel pikir Ye Hwa yang mengizinkanya dan meminta untuk menyenter sebelah kiri.

Ye Hwa memilih untuk turun dari kap mobil, karena sangat lapar jadi ingin melihat persediaan bahan makanan lebih dulu lalu masuk ke dalam dapur. Daniel melonggo melihat Ye Hwa masuk kedalam tanpa terlihat marah.
Min Ji, Ji Hoon dan dokter lainnya berjalan melalui Daniel yang sedang memperbaiki mobil. Di dalam ruangan medis, Min Ji membahas pria yang memperbaiki mobil tadi dan bertanya apakah dua pria itu mengenalknya, karena saat bencana pria itu membantu operasi mereka.
Dia hanyalah dokter bantuan atau hanya peacemaker apalah itu namanya.” Ejek Si teman dokter. Min Ji seperti tak percaya karena dengan wajah seperti itu terlalu tampan untuk menjadi dokter.
Bukannya dia Dr. Daniel?” ucap Ji Hon menebaknya, pria lain membenakan  dan bertanya bagaimana Ji Hoon bisa mengetahuinya.
“Ahhh...Ternyata memang benar. Aku langsung tahu siapa dia. Seharusnya aku bicara dengannya tadi...” keluh Ji Hoon merasa menyesal 


Sang Hyuk datang menengar ucapan Ji Hoon berpikir juniornya itu seorang stalker. Ji Hoon memberitahu kalau ia adalah fans dari Daniel yang ternyata bukanlah Schweitzer biasa tapi Schweitzer dengan latar belakang Bill Gates karena putra dari pemilik perusahaan besar di Kanada. Semua melonggo terkejut mendengarnya.
Ya! Karena itu, dia sangat terkenal dalam komunitas LSM. Ibunya adalah orang Korea, jadi dia juga terkenal di Korea.” Cerita Ji Hoon y
Jika dia sekaya itu, kenapa dia mau jadi relawan?” ucap Min Ji
Karena dia adalah bocah kaya raya yang tak punya kerjaan Jadi Dia tak mengkhawatirkan apapun.” Kata Sang Hyuk lalu menanyakan keberadaan Mo Yun apakah masih ada dimarkas militer 

Mo Yun berjalan keluar tenda sambil menangis, Shi Jin mengikutinya dari belakang. Mo Yun menyadarinya meminta agar Shi Jin tak melihatnya. Shi Jin tetap berjalan didepan Mo Yun yang tertunduk sehabis menangis. Mo Yun bertanya apakah tak ada tempat gelap didekat markas. Shi Jin tersenyum karena seharusnya pria yang bertanya seperti itu.
Kalau begitu, apa kau mau aku menjadi "tempat gelap"mu itu?” kata Shi Jin, Mo Yun sedikit memberikan senyuman
Kau sudah memberikan keputusan yang baik hari ini. Hapus air matamu itu, dan jawab pertanyaanku.” Kata Shi Jin tapi Mo Yun tetap saja tertunduk sambil menangis.
Shi Jin meminta agar Mo Yun menatapnya, Mo Yun menghapus air matanya dan menatap Shi Jin yang berdiri didepanya. Shi Jin menunjuk dengan jari telunjuknya kearah atas. Mo Yun melihat langit yang gelap bertaburan bintang sangat indah.
Wow, bintang-bintang itu sungguh kejam. Mereka begitu bersinar ditengah kekacauan bumi...” kata Mo Yun sedih melihat bintang dengan keadaan tempatnya sekarang. Shi Jin pikir dirinya bisa terhibur melihat bintang
Kau telah berhasil menghiburku, Kapten.... Terima kasih karena sudah kembali. Kau sudah berhasil menghiburku, Kapten. Jika kau tak ada di sini, aku mungkin akan lari saja.” Ucap Mo Yun dengan saling menatap
Jika kau mau lari, larilah bersamaku. Lari akan menjadi menyenangkan jika kita melakukannya bersama.” Kata Shi Jin, Mo Yun mengangguk dengan senyuman dan kembali melihat taburan bintang di langit 


Manager Jin dilempar ke dinding, dengan wajah ketakutan memberitau berlian disimpan di tempat yang aman, tapi menurutnya Argus bisa tahu kondisi sekarang jadi meminta waktu lagi. Argus langsung menekan bagian pundak Manager Jin dengan kakinya.
Bukan seperti itu yang kau janjikan.” Kata Argus, Managar Jin memukul kaki Argus karena merasa kesakitan memberitahu kalau ada bencana alam.
Bencana alam adalah salah satu waktu tersibuk bagi kau dan aku Atau perang. Kau harus memberikan berlian itu padaku besok.” Ucap Argus tak peduli
Tapi, begitu banyak pasang mata yang melihatku.” Kata Manager Jin, Argus semakin menekan kakinya, Manager Jin berteriak kesakitan. Argus tak ingin mendengar alasan lagi karena hanya ingin mendapatkan barang secepatnya.
Besok, sebelum matahari terbenam. Mengerti?” perintah Argus dengan sengaja menekan bagian pundak yang baru diinjaknya , Manager Jin pun dengan wajah kakitan mengerti dengan perinta Argus. 

Dibagian rentuhan bangunan masih tersimpan tas yang berisi berlian milik Manager Jin dan seperti sambungan gas mulai masuk ke dalam reruntuhan. Pria nakal terbaring didekatnya sambil terbatuk-batuk lalu membuka mulutnya karena merasakan tetasan air yang jatuh dari atasnya.
Apa tak ada orang di sini? Tolong aku.” Ucap si pria muda  dengan berteriak lemah tapi setelah itu merasa pasrah untuk mati saja.
Ia teringat kembali dengan Manager Go yang memarahinya karena tak mengunakan hel sebagai alat pengaman saat berkerja. “Jika ada yang menjatuhi kepalamu kau bisa langsung mati.” Ucap Manager Go berpesan sebelum gempa terjadi.
Aku sudah memakai helm pengamanku, jadi, cepat dating dan selamatkan aku.” Kata Si pria muda menahan tangisnya. 

Alat berat mulai bisa digunakan untuk membuka jalan yang masuk. Manager Jin bertepuk tangan bahagia merasa seperti  merasa sangat segar sekarang karena harusnya melakukannya sejak kemarin dengan begitu mereka bisa masuk ke kantornya lewat jalan yang akan dibuka.
Dae Young memberhentikan alat berat forklift dan memerintahkan Tim Alpha, melanjutkan pencarian korban sekarang serta tim medis mulai bersiap-siap. Ji Hoon dan dokter lainnya mulai bersiap dengan tasnya.
Kenapa?! Pencarian apa lagi?” teriak Manager Jin, Dae Young memberitahu Masih ada tiga orang yang hilang.
Kau bicara apa, hah? Dalam situasi seperti ini, mereka pasti sudah meninggal!!!” teriak Manager Jin yang ingin segera masuk sendirian.
Dokterlah yang bertugas untuk mengatakan status kematian pasien.” Tegas Dae Young 
Manage Jin mulai mengumpat Dae Young sersan yang bodoh karena bukan tanggung jawabnya. Dae Young memilih untuk menyingkir dan dua tentara lain menarik Manager Jin untuk menjauh saja. 

Dae Young membawa tali, Woo Geum dan Chul Ho datang menghadapi. Dae Young memberitahu Korban yang menghilang masih hidup jadi mereka tak akan menyerah sampai bisa mengeluarkan mereka.
Mulai sekarang, kita akan mulai gerakan pencarian korban. Apa kalian bisa?” kata Dae Young, keduanya mengatakan sanggup melakukanya.
Tim medis mulai masuk bersama, diluar Manager Jin mengumpat kesal karena tak bisa masuk mengambil berlian yang disimpannya. Dengan jalan yang cukup sempit Dae Young berteriak kalau mereka adalah tim penyelamat dari Taebaek dan meminta agar mengetukan suara 3 kali apabila masih ada orang didalam.
Ji Hoon mencari kearah lainnya, dengan sangat yakin tak ada yang tak mungkin baginya, karena pasti akan menemukan korban didalam reruntuhan. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percikan listrik didepanya, lalu kembali berjalan mencari korban yang masih selamat. 

Ia mendengar suara orang terbatuk-batuk dan membersihkan tanah dari kaca dibawahnya, terlihat korban yang masih sadarkan diri melihat kearah senter yang dibawa Ji Hoon. Pria itu berteriak memanggil tim penyelamat yang datang. Ji Hoon binggung caranya bisa mengeluarkan korban itu. Pria itu minta segera diselamatkan. Ji Hoon berteriak kalau ia seorang dokter
Tiba-tiba kaca didepannya retak dan terjadi guncangan, Ki Bum dan Myung Joo melihat alat pendeteksi guncangan. Dae Young berteriak kalau ada gempa susulan jadi meminta agar semua tim keluar dari bangunan. Akhirnya gempa membuat lubang, Ji Hoon memeriksa korban yang ada dilantai bawah.
Si pria mengatakan kalau ia baik-baik saja dan meminta diselamatkan dengan mengulurkan tanganya. Ji Hoon pun menarik tangan korban tapi sebuah batu besar jatuh mengenai tangan dan wajah korban. Pria muda itu berteriak meminta agar Ji Hoon menyelamatkanya karena bangunan akan runtuh. Ji Hoon melihat ada percikan listik meminta maaf dan langsung berlari keluar dari bangunan. Si pria muda berteriak memanggilnya dan reruntuhan mulai menimbunnya. 

Ji Hoon berjongkok ketakutan didepan alat berat, Chul Hoon mendekatinya menanyakan keadaanya. Ji Hoon seperti hanya mendengar suara bergema dikupingnya dan memberitahu ada seseorang didalam dan meminta agar segera mengeluarkan karena bangunan akan segera runtuh.
Ada seseorang di dalam, warga negera Korea.” Ucap Ji Hoon bisa tahu karena sebelumnya mengajak bicara dengan bahasa korea
Dae Young meminta Ki Bum untuk berdiri tak jauh dari jalan masuk lalu memerintahkan untuk meniup peluit  Jika bangunannya bergoyang sejauh 10 derajat, Ki Bum mengerti. Setelah itu Dae Young meminta Myung Joo  teruslah bersiaga di ruang radio.
Myung Joo bertanya apakah Dae Young baik-baik saja. Dae Young mengatakan baik-baik saja dan memberitahu Jika skala Richter menunjukkan angka 5,0 akan terdengar suara peluit. Myung joo mengatakan sudah tahu dan meminta Dae Young mengulurkan tanganya.
Dae Young mengulurkan tanganya, Myung Joo langsung mencoba meremas dan Dae Young merasakan kesakitan. Myung Joo memarahi karena Dae Young mengatakan baik-baik saja, jadi ia akan memakaikan perban ditanganya yang kesakitan. Dae Young pun pasrah dengan Myung Joo yang memasang perban ditanganya. 

Si pria muda kembali sadarkan diri dan melihat kakinya sedikit tertimpa besi sambil melihat dimana keberadaanya sekarang. Terlihat dinding berada di lantai 3 basement lalu kembali berteriak meminta tolong.
Apa kau bisa mendengarku? Yang di bawah sana! Apa kau bisa mendengarku?” teriak Dae Young
Ya, aku bisa mendengarmu, Tolong aku!” jerit Si pria muda
Shi Jin menanyakan lokasi korban. Myung Joon memberitahu ada di Lantai 3 basement, sisi barat dan Tim Alpha amankan pintu masuk sekarang. Shi Jin pun meminta Myung Joo memberikan alat walkie talkienya. Mo Yun mendekati Shi Jin yang sedang mempersiapkan alat-alat meminta agar bisa ikut.
Berikan aku kotan P3K, dan Dr. Kang, kau tunggu saja di sini.” Kata Shi Jin. Mo Yun mengatakan  harus memeriksa status pasien.
Aturan pertama dalam penyelamatan adalah tidak membuat korban yang baru lagi. Perawatan medis darurat pasien akan dilakukan oleh tim penyelamat yang bertugas.” Tegas Shi Jin lalu mendengar dari radionya

Wolf melapor. Kau bisa mendengarku? Dalam waktu 5 menit, korban akan diamankan. Tolong siapkan pengobatan.” Kata Dae Young, Shi Jin menerima laporan memberitahu akan segera turun. Dae Young pun mulai membelah bangunan dengan mesin pemotong.
Shi Jin sudah membawa tali melihat yang dilakukan Mo Yun pada obat yang akan dibawanya, menurutnya Mantan pacarnya itu berpikir kalau ia tak bisa membaca. Mo Yun mengatakan kalau menuliskan dengan bahasa korea hanya untuk memastikan saja.
Perlu kau tahu, aku adalah siswa terpintar di Akademi Militer dan juga di West Point. Jadi, kau  harus  tahu, bahwa Bahasa Inggris sangat...” ucap Shi Jin dan disela oleh Mo Yun
Jika kau sudah memeriksa bagian vitalnya, beritahu aku.” Kata Mo Yun memberikan tas obatnya.
Aku akan kembali dan berbicara dengan bahasa Inggris. Jadi Tunggu aku” ucap Shi Jin dengan senyuman, Mo Yun terlihat sangat khawatir melihat Shi Jin akan masuk ke reruntuhan bangunan. 


Dae Young mencoba menyelamatkan si pria muda dan Shi Jin sudah bisa masuk ke tempat korban. Pria muda itu memanggil Shi Jin “ahjussi” meminta makan sambil mengeluh karena Dae Young hanya membawakan minuman saja tapi melihat Shi Jin datang hanya dengan tangan kosong.
Tubuh dan mulutnya baik-baik saja. Tapi, masalahnya ada di sana. Kita harus memperluas ruang agat bisa menggunakan pompa hidrolik, Tapi, mungkin akan membutuhkan waktu karena ruangan ini sempit.” Jelas Dae Young
kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau pekerja dari bangunan timur?” ucap Shi Jin seperti bisa mengenalinya.
Si pria muda itu kaget kalau ia adalah dibangunan sebelah barat, karena ia hanya melihat lubang dan terus merangkak, dengan menyesal seharusnya merangkak keatas bukan kesamping, tapi menurutnya sekarang sudah tak perlu memikirkan hal itu karena ia hanya ingin mereka cepat mengeluarkanya karena merasa sangat lapar dan kesakitan.
Shi Jin bertanya dibagian mana sakitnya, lalu memberitahu Mo Yun lewat radio pemancar bahkan korban dengan Tekanan darah 130/100. Denyut nadi 85, dengan Pergelangan kaki kiri dan bahu kanan terluka. Moo Yun melihta Sepertinya bagian vitalnya baik-baik saja jadi meminta Shi Jin  meberikan glukosa dan obat penghilang rasa sakit, dengan wajah khawatir bertanya apakah Shi Jin tahu cara menemukan IV line. Shi Jin dengan sangat yakin pasti bisa menemukanya.
Apa kau pernah melakukannya?”tanya Mo Yun, Shi Jin mengatakan kalau mereka itu sudah dilatih
“Apa Kau sungguh pernah melakukannya?” kata si pria muda menarik tanganya ketika Shi Jin ingin menusuk jarum infus.
Kenapa semua orang meragukanku? Jika bukan di lengan, mungkin di dahi. Apa tidak masalah bagimu? Suntikan dahi itu lebih menyakitkan.” Ucap Shi Jin, akhirnya pria muda itu pasrah menyerahkan lenganya.
Aku akan memberinya cairan IV dan 30mg dari NSAID .” kata Shi Jin sudah berhasil menempelkan jarum infus dan memasukan obat kedalamnya
Dae Young melapor merasa memerlukan satu lagi pompa hidrolik. Shi Jin melihat memang mereka memerlukanya. Dae Young mengatakan harus ada seseorang yang keluar mengambilnya. Shi Jin mengerti dan menyuruh Dae Young yang keluar untuk mengambilnya, karena lorongnya sangat sempitjadi ingin tetap tinggal disana. Dae Young hanya bisa pasrah sebagai bawahan keluar dari lorong sempit dan kembali lagi. 

Shi Jin mengubungi Dae Young yang sudah ada diatas. Dae Young pun segera pergi ke tenda Mo Yun untuk membawa obat. Mo Yun pun mengambil obat didalam tasnya, Myung Joo memberika air minum sambil bertanya kondisi didalam. Dae Young memberitahu keadaannya tak baik dan Bangunannya bisa runtuh kapan saja. Mo Yun memberikan Epinephine
Tiba-tiba terasa bangunan didepan mereka berguncang, Myung Joo melihat kearah monitor memberitahu kalau itu bukan gempa susulan. Dae Young berteriak agar anak buahnya mencaritahu dan memeriksa bagian pembangkit listrik lainnya.

Ki Bum memberikan tiupan pluit yang sangat kencang, ternyata Manager Jin dengan egoisnya membuat lubang jalan dengan alat berat. Dibagian bawah, Shi Jin dan pria muda merasakan tanah  yang mulai berjatuhan, Shi Jin bertanya apakah terjadi gempa susulan. Si pria muda terlihat sedih dengan keadaanya karena ia hampir saja bisa selamat. Shi Jin kembali menyelematkan si pemuda karena banyak material tanah yang berjatuhan.
Myung Joo berusaha menghubungi Shi Jin sedang dalam reruntuhan tapi tak ada jawaban, Mo Yun ikut tegang ingin tahu keadaan Shi Jin didalam sana. Myung Joo memberitahu kalau sambungan radio terputus. Mo Yun makin khawatir.
Dae Young kembali memanggil “Big Boss” tapi tak ada sahutan, Chul Ho melapor kalau Manager Jin menggali dengan excavator. Dae Young mengumpat menyuruh Manager Jin segera diseret ke depanya. Manager Ji tetap melakukan pengalian. Woo Geum langsung memberikan tendangan karena didalam reruntuhan masih ada orang.
Manager Ji pun jatuh keluar dari alat berat karena ditarik oleh Woo Geum, Kwang Nam melaporkan sudah berhasil menangkap Manager Jin. Dae Young memperingatkan agar menahanya supaya tak bisa lari, dan apabila terjadi sesuatu yang buruk maka akan memastikan untuk mematahkan rahangnya.
Jika tanahnya goyah dan terjadi guncangan lagi... Ini Percuma saja memberitahumu bahwa di sana berbahaya, 'kan?” ucap Myung Joo sangat  khawatir melihat Dae Young akan turun kebawah. Dae Young memberikan hormat seperti meminta izin untuk bertugas.
Myung Joo menatap sedih Dae Young akan mengambil resiko didalam reruntuhan, Mo Yoo terlihat sangat khawatir dengan keadaan Shi Jin ada didalam. 

Si pria muda kembali memanggil Shi Jin dengan panggilan Ahjussi, tapi terlihat Shi Jin tak sadarkan diri diatas badan pria muda. Si pria muda panik berpikir Shi Jin mati diatas badanya karena berusaha menyelamatkanya.
Apa ada orang di luar sana? Ada yang meninggal di sini!!!” jerit si pemuda ketakutan
Aku bukan "Ahjussi" (Paman).” Kata Shi Jin berusaha untuk bangun, si pria muda pun mulai senang karena berpikir kalau Shi Jin itu sudah meninggal. Shi Jin menegaskan dirinya itu bukan Ahjussi.
Pria itu merasa bukan yang penting untuk dibahas. Shi Jin pikir itu sangat penting lalu kembali berusaha menganggung botol infus sambil bertanya apakah pria muda itu terluka. Pria itu merasa bukan saatnya Shi Jin mengkhawartirkan orang lain dan melihat pergelangan tangan Shi Jin berdarah sangat banyak.
Shi Jin baru menyadarnya tapi terlihat bahagia karena kaki korban sekarang sudah tak terjebak lagi. Pria muda itu merasa tak ada gunanya lagi karena pintu keluar mereka sudah tertutup oleh batu dan mereka sudah terperangkap didalamnya.
Big Boss memanggil.... Siapapun, jawab aku.” Ucap Shi Jin pada radio tapi tak ada sahutan
Aku jadi merasa tidak beruntung sekarang. Aku anggap saja  sudah mati sekarang.” Kata si pemuda pasrah, Shi Jin yakin pria itu tak akan mati jadi tak perlu khawatir.
“Sudahlah.... Radiomu bahkan tak berfungsi.” Kata pria itu pasrah
Aku janji kita akan keluar dari sini hidup-hidup. Hei, bocah.. Bukannya pacarmu sedang menunggumu?” kata Shi Jin
Pria muda itu mengatakan tak punya pacar dan bertanya balik apakah Shi Jin memiliki pacar. Shi Jin memberitahu tentang Panggilan radio yang tadi dan mendengar suara dokter wanita, sambil memperban tanganya yang berdarah.
Aku sangat menyukainya, tapi aku ditolak mungkin sebanyak 3 kali. Apa aku mau mati saja?” kata Shi Jin
Astaga!!! kau masih hidup? Jika itu aku, aku pasti mati karena malu.” Kata si pria muda
Tapi, aku tidak mau menyerah.”kata Shi Jin dengan senyuman 

bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



2 komentar: