Jumat, 11 Maret 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 6 Part 1

Shi Jin meminta izin untuk mengajukan pertanyaan karena mungkin ini kesempatan terakhir mereka untuk bertemu dan membahas tentang ciuman kemarin. Mo Yun langsung menyela tak perlu membahasnya.
Lalu, aku harus bagaiamana? Haruskah aku meminta maaf Atau mengakui perasaanku padamu?” tanya Shi Jin binggung, Keduanya saling menatap cukup lama.
Kau... memang sangat menarik. Pria yang menarik tapi juga berbahaya Dan aku tak suka berbahaya. Setiap kali aku menatapmu, aku merasa terpesona.”akui Mo Yun 

Teringat saat pertama kali pertemu dirumah sakit tatapan Mo Yun yang benar-benar berbeda lalu saling menatap ketika menjahit bagian pinggangnya terluka kena sayatan pisau.
Setelah itu Shi Jin harus pergi disaat mereka pertama kali mengajaknya untuk menonton dengan menaiki helikopter di atap gedung rumah sakit. Di pertemuan kedua mereka, di dalam bioskop Mo Yun bertanya apakah Shi Jin akan pergi sekarang. Shi Jin meminta maaf karena harus pergi sekarang. Akhirnya Mo Yun duduk sendirian didalam bioskop.
Di pertemuan terakhir mereka di Korea, Shi Jin menceritakan tak bisa memberitahu tentang tugasnya. Di lapangan terbang, Mo Yun melihat Shi Jin menatap sedih peti mayat yang akan dibawa kembali ke negeranya. Ketika sampai di basecamp, Mo Yun bertanya apakah yang tadi teman Shi Jin yang mengaku kalau itu adalah rekannya.
Mo Yun mengartikan bisa saja Shi Jin seperti itu akhirnya.  Shi Jin mengingat kenangannya dengan pakaian tentara gabungan lengkap, lalu meminta Mo Yun tak perlu membahas tentang itu lagi.  

Aku berharap kita bisa memiliki lebih banyak waktu. Jadi, aku bisa meluruskan pikiranku ini, Menyingkirkan ketakutanku. Dan meluangkan waktu untuk berpikir... apakah aku bisa menjadi Seorang pacar dari pria yang berbahaya, tapi ini juga menarik.” Ungkap Mo Yun
“Sayangnya kau... terus saja meninggalkanku begini. Aku tak mungkin marah karena sikapmu ini Ataupun melarangmu untuk pergi. Aku merasa seperti orang bodoh dengan pikiran yang kacau ini. Sekarang... aku sungguh tak menyukaimu. Jadi, minta maaflah. Aku akan mendengarnya.” Kata Mo Yun, Shi Jin menatap Mo Yun tanpa berkedip.
Shi Jin pun akhirnya meminta maaf atas sikapnya yang mencium Mo Yun,  dan berharap bisa menjaga dirinya, lalu memberikan hormat dan pergi. 

Didalam kamar
Mo Yun menyalakan lilin untuk mendoakan orang-orang yang ada disekelilingnya, lalu melamun dengan keputusan tak membiarkan Shi Jin menyatakan perasaanya karena rasa takutnya dikecewakan kembali.
Shi Jin berbaring dengan menatap kalung militer dilehernya, pikirannya melayang karena di tolak oleh Mo Yun, disampingnya ada lingkaran obat nyamuk yang hampir habis, obat nyamuk dari Mo Yun, seperti mengartikan hubunganya dengan Mo Yun juga akan habis karena akan kembali ke Korea. 

Pagi hari
Semua tentara mulai olahraga lari pagi dengan bertelanjang dada. Mo Yun keluar dari tempat tinggalnya sementara melihat hanya ada Woo Geum yang menjadi komando dibagian depan. Ki Bum lewat untuk mengambil air menyapa Mo Yun yang terlihat binggung.
“Dimana Kapten Yoo? Dia tak ada di kantornya.” Kata Mo yun
Dia sudah pergi semalam, karena harus mengejar pesawat sipil. Dia mungkin sudah berangkat sekarang.” Ucap Ki Bum lalu memberikan hormat dan pergi.
“Wah... Dia tak pernah berpikir dua kali.” Ucap Mo Yun dengan mata berkaca-kaca seperti merasa kecewa.

Shi Jin tersenyum bahagia melihat foto keluarganya masih tertempel di dinding, lalu memanggil ayahnya menunjukan foto keluarga mereka. Tuan Yoo sedang merapihkan baju tentaranya, merasa seharusnya Shi Jin itu mengikuti saran ibunya untuk mejadi dokter atau hakim karena Tentara jarang dihargai sekarang.
Bisa saja jika otakku pintar. Tapi, yang pintar hanya ototku ini. Dan otot tak begitu berguna dalam dunia hakim atau dokter.” Kata Shi Jin sambil merapihkan kancing baju ayahnya.
Semoga ayah bisa sehat selalu dan panjang umur. Aku akan naik jabatan agar ayah bangga berfoto denganku.” Kata Shi Jin merapihkan dasi yang dipakai oleh ayahnya.
Aigoo.... Memangnya atasan apa yang akan menaikkan jabatanmu begitu saja? Kau bahkan menyia-nyiakan promosimu itu.” Keluh Tuan Yoo, Shi Jin hanya tersenyum mendengarnya.
Tuan Yoo bertanya apakah pakaian sudah rapih sekarang, Shi Jin mengatakn sudah memasangnya seperti yang diajarkan ayahnya dan meminta sang ayah menegapkan bahunya.
Dalam dunia tentara, terkadang kau lebih bangga menjalankan tugasmu dari pada mendapat promosi. Kau adalah anak ayah.” Kata Tuan Yoo merapihkan baju anaknya dengan melihat lambang jabatan di bagian kerah baju anaknya.
Seseorang memberitahu semuanya sudah siap jadi mereka bisa masuk sekarang. Shi Jin menyuruh ayahnya masuk lebih dulu karena ingin mengambil foto ibunya lebih dulu.
Didalam ruangan studio foto, Shi Jin dengan bangga memegang foto ibunya yang sudah meninggal dan foto bersama dengan ayahnya. Tuan Yoo terlihat sedikit tegang tapi Shi Jin bisa memperlihatkan senyumanya pada kamera. 

Dae Young meniup peluit, Tentara Junior berteriak “Trainee no. 17. Aku akan meluncur.” Saat meluncur di tali flying fox, jerit ketakutan terdengar, dan ternyata Dae Young berada diatas pundak anak buahnya melihat latihan flying fox untuk calon tentara baru.
Tentara Junior terus berteriak meminta tolong, sampai diujung harus bertabrakan dengan matras dan buru-buru memanjat dinding untuk menyelamatkan diri. Akhirnya semua mendapatkan hukuman dengan berjongkok berdiri beberapa kali lalu push up. Si pria yang mengendong Dae Young di pundaknya pun menahan diri untuk tak terjatuh.
Sepertinya ada yang salah dengan tubuh kalian, mungkin kepala kalian, benarkan?” ucap Dae Young, salah satu tentara menjawab “tidak”. Dae Young pun memerintahkan untuk menganti posisi.
Tentara yang satu menurunkan Dae Young dan yang lainnya bergantian mengendong Dae Young di pundaknya. Dae Young bertanya apakah meraka mau membunuhnya, tentara disampingnya menjawab “Iya.. Pak!!” dengan lantang.
Kau tak bisa membunuhku dengan stamina lemah itu. Aku akan memberikanmu waktu 30 detik untuk kembali ke gerbang.” Perintah Dae Young menyuruh tentara Juniornya untuk hadap kiri.
Jika aku masih melihat wajahmuvnanti, aku akan menjadi lawanmu. Kita harus tingkatkan stamina kalian.” Tegas Dae Young lalu menyuruh berlari, tentara satu pun berlari sekuat tenaga dan Dae Young mulai memakai peluitnya kembali. 


Trainee yang ganteng.... Siap untuk meluncur.” Jerit Shi Jin dari ujung flying fox tanpa mengunakan pakain tentara langsung meluncur dengan gagah berani.
Dae Young meminta untuk diturunkan dari gendongan, semua tentara junior melonggo melihat cara Shi Jin meluncur tanpa ada rasa ketakutan sedikitpun bahkan nyaris sempurna, bahkan memberikan dua jarinya ketika sampai diujung lainya. Dae Young mengejek Shi Jin Si "Trainee", tak usah sombong dan menyuruhnya untuk cepat turun. Shi Jin pun melemparkan tali kebawah. Dae Young memberitahu tentara juniornya untuk memperhatikan baik-baik karena itu adalah gerakan sempurna untuk posisi Rappel.

Shi Jin turun seperti sedang buggi jumping dari tembok, semua langsung melonggo takjub melihatnya. Dae Young bertanya apakah Shi Jin sedang dibebas tugaskan dan kenapa ia bisa ada ditempatnya melatih. Shi Jin mengaku sangat merindukan dan bertanya kapan Dae Young selesai berkerja karena ingin mengajak minum bir yang banyak. 

Dae Young menuangkan bir sambil bertanya Apa acara penyambutan untuk ayah Shi Jin berjalan lancar. Shi Jin menceritakan  Acaranya sangat mengharukan, bahkan ia  hamper menangis saat ayahnya dapat buket bunga. Dae Young mengaku senang Shi Jin bisa kembali dengan selamat dan mereka cheers dengan mengatakan “hormat”
Tiga orang tentara datang berbicara dengan suara keras kalau mereka sudah lama sekali tak bertemu, jadi mereka harus minum soju dan mulai permainna. Dae Young langsung memalingkan wajah melihat tentara yang datang. Shi Jin melihat sikap temannya bertanya apakah mengenal tentara itu.
Dae Young mengaku dulunya pernah menjadi  "Instruktur jahat" mereka. Shi Jin mengeluh dengan sikap temanya, Dae Young pikir tak akan masalah  karena pasti tak terlihat seperti tentara sekarang dengan menaikan kerah bajunya. Shi Jin yakin dengan pakaian itu semua orang pasti tahu Dae Young itu tentara dan pasti akan langsung mengenalinya.

Tentara itu pun akhirnya mengenali Sersan Mayor Seo Dae Young sambil berjalan mendekat untuk menyakinkanya. Dae Young merasa sekarang sudah ketahuan dan berusaha menutupi wajahnya dengan rompi. Shi Jin bertanya dimana rute memutar balik. Dae Young memberitahu Arah jam 5 dari tempat duduk Shi Jin.
Shi Jin pun menaruh uang diatas meja, tentara pun mendekati keduanya merasa sangat yakin didepannya adalah Sersan Mayor Seo Dae Young lalu bertanya apakah masih mengingat mereka. Dae Young dan Shi Jin pun menatap ketiganya.
Dulu, kau pernah berjanji sesuatu pada kami saat menjadi instruktur kami. Kau berjanji, bahwa kau akan melawan kami berdasarkan level.” Kata si tentara
Bukan, tapi saat kita ketemu di luar. Dan sekarang, kita tak sedang di luar, tapi di dalam.” Ucap Dae Young menyangkal, Shi Jin pun mengangguk setuju.
Dan untuk apa aku berkelahi denganmu?” kata Dae Young dengan mata melotot, Shi Jin pun tertawa untuk mencairkan suasana yang tegang, menurutnya semua ini sangat lucu.
Kau harusnya menyimpan kenangan berharga itu di dalam hatimu saja.” Kata Shi Jin menepuk pundak si tentara

Tentara itu tak terima kalau harus menyimpan sebagai kenangan yang berharga. Shi Jin berbisik Dalam hitungan ketiga, berdirilah dan mulai menghitung dari satu, Dae Young langsung loncat kehitungan ketiga dan berlari dengan cepat. Shi Jin sempat binggung melihat Dae Young sangat cepat.
Dae Young pun mendarat diatas meja lantai bawah, lalu Shi Jin pun ikut turun disampinganya. Keduanya tersadar seluruh meja di penuhi oleh tentara, Shi Jin binggung berpikir hari ini adalah Hari Angkatan Bersenjata karena memenuhi restoran. Atasan mereka berteriak menyuruh anaknya buahnya menangkap keduanya.
Semua tentara mulai berdiri dari mejanya, Dae Young memberitahu Arah jam 2 dan langsung menghitung ke angkat tiga. Shi Jin yan belum siap berteriak kalau dirinya bisa mati apabila harus melawan semua tentara itu. Dae Young dan Shi Jin berusaha melawan dengan teknik tanpa melukai lalu meloncat dari balkon dan berlari menyusuri jalan pertokoan.
Tentara yang lain dengan jumlah puluan sudah siap mengejar keduanya, Shi Jin dan Dae Young sempat terjebak di antara dua jalan tapi bisa kabur dengan menaiki tangga dan masuk ke dalam toko alat-alat musik. Keduanya sudah keluar dari toko dan masuk ke perumahan tentara yang lain menyuruh mereka berhenti. 

Shi Jin dan Dae Young akhirnya bisa bersembunyi dibalik dinding dengan wajah ketakutan mendengar bunyi langkah kaki tentara berada didekat mereka. Setelah semuanya pergi, keduanya seperti baru bisa bernafas lega. Dae Young pun mengintip untuk melihat apakah tentara benar-benar sudah pergi jauh.
Kau tak bisa menghitung, Kan? Apa setelah angka "1" itu angka "3"?” keluh Shi Jin
Aku memang tak pintar matematika. Kenapa bukan kau yang menghitung tadi?” balas Dae Young lalu mengeluh sangat lelah setelah berlari sekian jauh.
Sepertinya instruktur kita ini semakin kaku saja. Ahh.... , sudah waktunya aku menghajarmu sekarang. Saat aku masih calon perwira di Akademi Militer, Kau juga jadi, "Instruktur jahat"untuk ku. Kau ingat?” teriak Shi Jin tak terima
Aku ingat. Jadi, kau mau berkelahi sekarang?” ucap Dae Young menantang
Aku tidak jadi mengingatnya, karena Aku hanya mau mengingat masa-masa yang indah saja.” Kata Shi Jin dan mengeluh rasa mabuknya jadi hilang setelah berlari
Keduanya pun bersandar di dinding bersamaan, Dae Young bertanya apakah Shi Jin sudah meminum wine itu. Shi Jin mengaku hanya "mencicipinya". Dae Young pikir Shi Jin minum sendirian. Shi Jin menceritakan meminumnya bersama dengan Dr. Kang Mo Yun. Dae Young bertanya lagi apakah hubungan keduanya berjalan lancar.

Shi Jin merasa tidak sama sekali dan merasa sepertinya ia dicampakan pacarnya setiap kali mendapatkan libur dari tugas tentaranya. Ia pun tak menyangkal masih merindukannya, tapi merasa yakin pasti akan baik-baik saja nanti. Dae Young pikir Shi Jin itu bahkan belum melakukan usaha lainnya. Shi Jin membenarkan lalu mengejek temanya itu sendiri juga sama kali tidak pernah berusaha jadi tak pantas jadi Penyemangat dalam hal ini
Aku bukannya tidak mau berusaha. Masalahnya adalah, aku sama sekali tak diberikan kesempatan.” Kata Dae Young membela diri.
Kita memang pria yang bodoh.” Pikir Shi Jin dengan nada masih terengah-engah.
Ya, kita baru merasa bodoh jika kita sedang bersama.” Balas Dae Young
Keduanya sama-sama tertunduk untuk mengatur nafasnya, Dae Young pun pamit pergi. Shi Jin bertanya kemana Dae Young akan pergi, Dae Young memberitahu mau pulang dan rumah ada didekat lingkungan itu. Shi Jin kesal karena Dae Young sengaja berlari kearah sini agar bisa menghemat tarif taxi, Dae Young tak membahasnya langsung mengucapkan selamat berlibur dan memberikan hormat lalu pergi. Shi Jin makin kesal karena Dae Young tak memintanya untuk mampi makan ramen, Dae Young tetap berjalan sambil melambaikan tanganya. 

Dae Young berjalan ke arah rumahnya, ponselnya berdering dan melihat Myung Joo yang menelp dengan memberanikan diri mengangat telpnya. Myung Joo sedang berada di Urk kaget karena telpnya diangkat sambil berteriak “hallo” tapi tak ada sahutan. Lalu bertanya apakah Dae Young tak mau berbicara dengannya, Dae Young yang mendengarnya hanya diam.
Kau akhirnya mengangkat teleponku!” jerit Myung Joo bahaia.
Kenapa kau mengangkatnya? Apa kau baik-baik saja? Bicaralah, aku tahu kau mendengarku.” Ucap Myung Joo tapi Dae Young tetap saja diam mendengar suara Myung Joo.
Ya, sudahlah.... Kau hanya perlu mendengarku saja. Jangan tutup teleponnya, mengerti? Aku baik-baik saja di sini. Aku selalu memakai seragamku Jadi, nyamuk tak bisa menggigitku Dan juga, kesehatanku stabil. Aku sangat merindukanmu, Seo Dae Young.” Cerita Myung Joo, Dae Young hanya diam dengan mata berkaca-kaca mendengarnya.
“Apa Kau sudah bertemu Si Jin? Dia selalu mengejekku di sini. Dia mengejekku bahwa aku dating ke sini untuk bisa melihatmu. Dia bilang aku cantik, tapi aku jadi jelek saat kebanggaanku hilang. Walaupun begitu, aku tak peduli dengan kebanggaanku itu. Karena aku tahu Seo Dae Young sangat mencintaiku.” Ungkap Myung Joo dengan mata berkaca-kaca 

Dae Young mengingat saat tangan mereka saling bergandengan dengan memasuka ke sela-sela jari tangan dan saling mengusap. Ketika Myung Joo dengan sengaj menaruh krim dimulutnya agar bisa dicium, Dae Young langsung menghapusnya dengan tanganya.
Myung Joo berada diluar cafe sengaja seperti sedang mengecup Dae Young yang berada di dalam cafe dan mereka selfie bersama. Myung Joo langsung berlari dari rumahnya ketika melihat Dae Young yang datang malam hari dirumahnya, Dae Young tersenyum bahagia mendapat pelukan hangat dari Myung Joo.
“Apa Kau masih mendengarku?” tanya Myung Joo yang menelp bersandar dengan kontainer rumah sakit. Dae Young tertunduk diam
Tapi, apa kau tak bisa mendengarkan hembusan napasmu?” ucap Myung Joo, Dae Young pun memperdengarkan hembusan nafasnya. 

Disisi lain
Mo Yun menerima pesan dari Ji Soo Kau sudah mau kembali ke Korea, 'kan? Aku sudah siapkan wine untukmu. Mo Yun membalas dengan nada bercanda Aku tak suka minum dengan wanita.  Kau harus menyiapkanku pria, pria yang baik.
Bagaimana dengan pria yang kau temui di sana? Apa kau tak menyukainya lagi? tanya Ji Soo
Tidak, dia adalah pria yang terbaik. Ketik Mo Yun
Shi Jin membuka jaketnya dan pergi ke halte bus terdekat, lalu naik ke bus dengan perasaan sedih karena tak ada teman ketika sedang berlibur. Ia pun mengeluarkan kepala ke jendela tanpa sada ada iklan rumah sakit Mo Yun tertempel dibagian bus.
Aku seharusnya tak menerima permintaan maafnya, Seharusnya aku memeluknya Dan mengakui perasaanku. Akulah orang yang melepas kesempatan itu. Dia pasti tidak menyukaiku, 'kan?” Mo Yun melihat balasan tulisan pesannya tapi akhirnya memilih untuk menghapusnya 

Shi Jin main billard sendirian, ketika sedang mengunyah es batu dalam minumanya. Dae Young datang dengan mengunakan baju garis-garis yang sama. Dengan cepat Shi Jin mengambil gambar Dae Young dengan ponselnya, Dae Young berteriak dengan menutupi wajahnya dengan baju kemejanya.
Myung Joo tersenyum sumringah melihat foto-foto Dae Young yang dikirimkan oleh Shi Jin. Chul Ho melirik ingin tahu apa yang membuat Myung Joo tersenyum dan tanpa sadar Myung Joo memberikan bettadine sampai ke bagian lengan padahal yang terluka dibagian tangan. 

Chi Hoon memompa air dengan sekuat tenaga, Mo Yun mencuci semua wajah anak-anak yang sangat kotor satu persatu begitu juga Min Ji membantu Mo Yun mencuci semua wajah dari anak-anak. Pasien yang dulu sempat dirawat karena keracunan timah datang dengan memberikan Mo Yun sebuah gambar. Mo Yun melihat ada dua orang berdiri dibawah pohon. 

Flash Back
Mo Yun yakin Shi Jin itu bisa menerjemahkannya, lalu dengan bahasa korea dan memperagakan kalau mereka akan sakit apabila menjilat-jilat barang-barang yang mengandung timah.
Kalian harus berjanji untuk tak menjilati benda ini. Mengerti?” ucap Mo Yun dengan Shi Jin yang terus menatapnya.
Jika kalian menjilati benda ini lagi, akan kutembak kalian!” kata Shi Jin dengan bahasa Urk, semua anak tertawa mendengarnya.
Sebelum kalian makan, kalian harus cuci tangan dulu.” Ucap Mo Yun dengan memperagakan cara cuci tangan yang benar.
Kalian juga akan kutembak jika kalian tak mencuci tangan sebelum makan.”kata Shi Jin dengan bahasa Urk
Anak-anak kembali tertawa, Mo Yun heran melihat anak-anak itu malah tertawa dan berpikir Shi Jin itu mengatakan sesuatu yang konyol lagi. Shi Jin berdalih kalau anak-anak memang sering tertawa. Dan Mo Yun pun hanya bisa diam saja. 

Shi Jin terdiam seperti mengingat juga kenangan dengan Mo Yun, ia duduk sendirian ditepi danau dengan memasang tenda. Akhirnya ia menelp Dae Young bertanya dimana posisinya sekarang. Da Young dengan gaya militer memberitahu sedang ada di Pangkalan militer.
Aku sedang memancing di Yangpyeong. Udara segar dan airnya sangat segar, Di sini seperti sedang melakukan terapi dengan damai” ucap Shi Jin ingin membuat iri.
Lalu, kenapa kau meneleponku?” balas Dae Young, Shi Jin pun mengaku kalau ia bosan dan meminta agar Dae Young mau menemaninya.
Dae Young terlihat sangat serius menatap layar komputernya, Shi Jin mengaku sangat ketakutan mendengar ada suara burung hantu. Dae Young tak peduli dan langsung menutup telpnya. Shi Jin kembali menelp Dae Young, dengan nada panik memberitahu ada harimau yang datang, tapi triknya tak berhasil karena telpnya ditutup kembali.
Shi Jin dengan helaan nafas menyenderkan tubuhnya, dan mengeluarkan sebuah batu dari saku bajunya dan menatapnya dalam-dalam. 

Flash Back
Didalam bangkai perahu
Mo Yun meceritakan tak melakukan operasi lagi karena  Kemampuannya tak diakui lagi di ruang operasi, jadi saat ia kembali ke Korea nanti  akan merebut kembali posisi itu dan pasti  akan sangat sibuk. Shi Jin seperti bisa mengerti dan melihat tangan Mo Yun mengenggam sesuatu. Akhirnya Mo Yun memberikan sebuah batu pada Shi Jin.
Mungkin kau memiliki kesempatan yang lebih besar. Kita lihat saja... apakah kau masih bisa kembali ke sini?” kata Mo Yun
Shi Jin terus menatap batu yang diberikan Mo Yun di pulau tak berpenghuni.
Mo Yun berdiri di pinggir tebing, melihat kebawah ada pulau tempat bangkai kapal dan pernah didatanginya oleh Shi Jin. Diatas kapal mereka pernah mengobrol tanpa mengunakan pakaian tentara hanya Mo Yun dan Shi Jin saja. 

Daniel datang dengan mobil jeep yang pernah terjun ke laut dan bisa hidup kembali seperti awalnya. Mo Yun tak percaya kalau itu mobil yang pernah dipakainya. Daniel turun dari mobil membenarkan kalau itu mobil yang sebelumnya rusak berat.
Kemampuan bengkelmu terlalu hebat untuk menjadi dokter.” Komentar Mo Yun
Ya, mungkin karena itulah penghasilanku lebih banyak di bengkel.” Balas Daniel
Mo Yun tersenyum, Daniel mendengar Mo Yun yang akan pulang hari ini, Mo Yun membenarkan dan mengucapkan terimakasih karena sudah membantunya lalu memberikan sebuah amplop dan merasa uang itu tidaklah seberapa, tapi memohon agar Daniel mau menerimanya.
Daniel menolak lalu mengeluarkan selembar brosur untuk membayarnya dengan memberikan sumbangan $10/bulannya. Mo Yun setuju akan membayarnya secara angsuran. Daniel juga mengucapkan  Terima kasih dan berpesan agar menghubunginya jika ingin melakukan petualangan penderitaan lagi.
Mo Yun merasa kegiatan yang dilakukan sekarang  sudah lebih dari cukup jadi ia akan kembali ke dunianya yang sebenarnya dan bertanya apakah Daniel akan tetap tinggal di Urk. Daniel pikir masih tetap tinggal di Urk karena sekarang masih masa cutinya tapi juga tak akan tahu, mungkin rencananya bsia berubah besok. Keduanya pun saling berjabat tangan untuk saling bisa menjaga diri dan kesehatan. Mo Yun juga meminta untuk menitipkan salam pada Ye Hwa. 

Ye Hwa berjalan di bukit untuk mengambil bunga liar, lalu melihat ada kupu-kupu yang terbang sangat dekat denganya. Tiba-tiba ribuan burung hitam datang ke arah Urk dan bersuara sangat nyaring.
Mo Yun mencatat semua barang medis yang ada dirak, Myung Joo masuk menanyakan sedang apa Mo Yun disana padahal semua orang sudah menunggunya. Mo Yun memberitahu akan selesai jam 5 nanti. Myung Joo menyuruh Mo Yun untuk lebih cepat lagi berkerjanya. Mo Yun melirik sinis dan kembali melihat obat yang ada dirak mulai Hepatamine, Freamine.
Karena ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Apa aku bisa bertanya?” kata Myung Joo sinis, Mo Yun mengatakan tidak sambil menghitung kembali obat dirak
Apa kau menyukai Shi Jin-sunbae?” tanya Myung Joo blak-blakan, Mo Yun terdiam dan menatap Myung Joo
Ekspresimu sudah memberitahuku jawabanmu. Terima kasih.” Komentar Myung Joo, Mo Yun heran untuk apa mengucapkan terimakasih karena ia  tidak menjawabnya.
Tapi, seluruh bagian tubuhmu menjawab semuanya.” Balas Myung Joo lalu merasakan ponselnya bergetar. 

Myung Joo tak percaya karena kebetulan sekali Shi Jin itu menelpnya, Mo Yun kaget karena Shi Jin menelp Myung Joo ketika ada didepanya. Myung Joo mengaku sangat senang Shi Jin menelpnya, dengan menyebut panggilan Mo Yun, mulai dari  Dr. Kang, Nn. Kang atau Mo Yun karena tak tahu harus memanggil dengan panggilan apa.
tapi, apakah dia menyukaimu?” tanya Myung Joo, Mo Yun berteriak karena menanyakan hal itu pada Shi Jin dan ingin mengambil ponselnya, didalam cafe, Shi Jin terkejut dan langsung berdeham mendengarnya.
Hei.... Kenapa kau tak mengatakan "Hormat" padaku?” tegur Shi Jin menutupi rasa paniknya mendengar pertanyaan Myung Joo
Memangnya kau pikir aku ini siapa? Teman atau perwira senior?” tanya Myung Joo, Shi Jin mengaku sebagai kakak dari tetangganya.
Aku sedang minum kopi dengan Dae Young. Aku pesan latte, dan dia pesan espresso. Tapi, sepertinya dia tak tahu bagaimana meminumnya.” Cerita Shi Jin melihat cara Dae Young minum sambil melamun
Dia sudah tahu, karena Aku sudah mengajarinya.” Kata Myung Joo
Shi Jin pun bertanya apa maksud pertanyaan Myung Joo tadi, Myung Joo mengaku hanya ingin membuatnya bingung dan menceritakan  sedang berdebat dengan Mo Yun sekarang. Mo Yun menahan rasa kesalnya. Shi Jin menegur Myung Joo tak boleh mengganggu warga sipil.

Myung Joo merasa Shi Jin itu suka mengubah topik sekarang, lalu bertanya apakah Shi Jin ingin tau bagaimana reaksi Mo Yun sekarang. Mo Yun mengumpat Myung Joo sudah gila dan menyuruh untuk menutup telpnya. Shi Jin menebak Mo Yun pasti marah. Myung Joo memberitahu Mo Yun sangat marah tapi masih terlihat sangat cantik. Shi Jin tersenyum mendengarnya memberikan semangat pada Myung Joo untuk berkerja dan menutup telpnya.
Padahal aku berharap, dia mau bicara denganmu, Sepertinya dia kaget tadi.” Ucap Myung Joo setelah menutup telpnya.
Tentu saja.... Dia pasti tak menyangka pembicaraan yang tadi.” Balas Mo Yun ketus
Apa karena sikapmu ini dia bisa menyukaimu?” ejek Myung Joo, terdengar teriakan Sang Hyun untuk tim medis untuk melakukan foto lebih dulu.
Myung Joo menyuruh Mo Yun segera keluar karena itu tujuan mereka datang ke daerah konflik. Mo Yun menegaskan memang itu tujuannya tapi bukan hanya itu saja, dan memberikan berkas ditangan Myung Joo, karena tak bisa menyelesaikan pekerjaan akibat gangguan darinya maka menyuruh Myung Joo menghitung persedian obat dan serahka pada PBB, dengan sinis berharap Myung Joo bisa selamat kembali ke Korea. 


Semua tim medis berkumpul dengan wajah gembira karena mereka akan segera kembali ke korea sebuah spanduk pun dipegan sebagai tanda kalau rumah sakit mereka mengirimkan relawan. Hanya Mo Yun yang tertunduk sedih harus meninggalkan Urk. Ki Bum pun memberikan aba-aba untuk mengambil gambar.
Terima kasih atas kerja keras kalian. Berkat kerja keras kalian, Komandan meminta kami mengantar kalian dengan helikopter.” Kata Woo Geum, semua menjerit bahagia.
Jadi, kami tak perlu naik bus selama 4 jam lagi?” tanya Min Ji
Kalian akan tiba di bandara dalam waktu 30 menit saja. Karena ada limit beratnya, maka kalian akan dibagi dalam 2 tim.” Jelas Woo Geum
Tim Sang Hyun dan Tim Jae Ae mulai melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan pergi lebih dulu. Mo Yun tetap diam seperti tak peduli siapa yang akan duluan harus naik helikopter.
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar