Jumat, 11 Maret 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 6 Part 2

Tim Mo Yun, Sang Hyun dan yang lainnya naik helikopter lebih dulu, semua terkesima melihat pemandangan dari atas yang sangat indah.
Sang Hyun pun melihat warna air laut yang sangat biru menurutnya ini adalah pemandangan yang tak boleh dilewatkan, karena yang selama ini mereka lihat hanya usus besar kecil, duodenums dan itu semua bukan pemandangan. Semua tertawa mendengarnya.
Kapten Yoo selalu mengatakan bahwa pemandangan ini membuat dia ingin melindungi negara ini.” cerita Woo Geum yang mengantar tim medis sampai bandara. Mo Yun terdiam mendengar ucapan Woo Geum tentang Shi Jin dan melihat bangkai perahu tempat yang pernah didatanginya bersama Shi Jin. 

Si anak yang terkena keracunan timah masih mengemut paku dimulutnya dan masuk kedalam mobil tank, lalu melonggo melihat ada banyak kupu-kupu datang ke arahnya.
Ketua Young Soo Jin pembangunan pembangkit tenaga surya mengeluarkan berlian dari kantung persembunyianya dibawah lantai. Lalu memasukan kembali untuk memastikan masih ada didalam kantung. Setelah itu menutup kembali lantainya dengan papan kayu dan keluar dari ruangan.
Diam-diam anak buah Wakil Manager melihat yang disembunyikan Manager Jin tapi seperti tak perduli dan memilih untuk kembali tidur dengan menutupi seluruh kepalanya dengan selimut, saat itu barang-barang diatas meja mulai bergoyang. 

Sementara diluar terdengar bunyi mesin las potong dan keadaan sangat bising karena proses pembangunan tenaga surya. Si anak buah wakil manager baru selesai tidur siang, merapihkan dulu rambutnya sambil menganggumi dirinya yang sangat tampan.
Tiba-tiba kepalanya kena pukul Manager Go, sambil mengumpat menyuruhnya agar memakai helm karena sedang ada didalam lingkungan pekerjaan. Si anak muda merapihkan rambutnya karena nanti ketampannya akan hilang.
Manager Go pun melepaskan helm sambil memukul Si anak buah untuk memakainya karena apabila sesuatu jatuh tepat dikepalanya maka akan mati. Manager Go ingin mengambil helm lainnya tapi jejeran helm malah jatuh dan kaca yang tergantung di dinding pun tiba-tiba retak. 

Ki Bum pergi ke dapur ingin mengambil piring untuk makan siang, tak menyadari lampu tempel mulai bergoyang sampai akhirnya sadar semua perabotan diatas counter mulai berjatuhan. Ia pun terjatuh dan berteriak karena semua perabotan pecah dan berserakan dilantai.
Salah seorang tentara keluar dari ruangan memberitahu ada gempa bumi dan menyuruh semua keluar dari ruangan. Semua mulai bergerak dan berjatuhnya, Ki Bum yang panik tak bisa berdiri dan tertimpa kulkas yang ada disampingnya.
Myung Joo ada digudang penyimpanan obat berteriak histeris melihat semua obat berjatuhan dari rak lalu berlari keluar. Tim Jae  Ae berlindung dibawah  kasur dan tak bisa berjalan, Myung Joo pun membantu tim medis untuk segara keluar dari ruang medis untuk menyelamatkan diri.
Semua berjatuhan, jalan-jalan dipenuhi oleh buah-buahan yang sedang dijual. Anak-anak berlari ketakutan. Pekerja tenaga surya berusaha keluar dari bawah tanah. Mobil truk berguling karena pergerakan tanah yang begitu cepat, pipa besar pun membuat beberapa pekerja jatuh. Listrik pun mulai konselting.
Manager Go masih sibuk memasangkan helm pada anak buahnya, lalu berlari bersama. Kepala Manager Jin merayap keluar dengan wajah yang penuh dengan tumpahan tanah, dan ingin berpegangan pada alat berat tapi tanahnya malah amblas dan membuat alat pun jatuh masuk. Beberapa pekerja yang lari ketakutan pun terjebak dalam tanah yang amblas.
Tiang tinggi untuk pembangkit pun jatuh berantakan, Manager Go dan anak buahnya masih ada didalam gedung dan berusaha keluar. Saat itu si anak buah sempat terjatuh dan melihat Manager Jo jatuh karena tanah yang amblas. Di luar tak kalah paniknya, terdengar bunyi suara yang memekakan telinga. Kepala Manager Jin bersembunyi dibalik papan tenaga surga melihat keadaan sekitar.

Didalam helikopter
Terlihat ada banyak burung yang tiba-tiba terbang kearah mereka, Woo Geum melihat sekitar yang tiba-tiba runtuh. Mo Yun bisa melihat jembatan yang runtuh dan mobil berjatuhan dari atas terlihat banyak asap debu bertebarangan.
Seoul
Shi Jin  sedang menyetir dibawah rintikan hujan melihat berita di layar besar [Urk, gempa kuat berkekuatan 6,7.] ia dengan walkie talkie menghubungi saluran tim keamanan,
“Aku.... Kapten Yoo Si Jin dari Tim Alpha. Meminta informasi siapa saja yang mengetahui kondisi Mohuru. Jangan menutupnya dan lakukan sekarang juga.” Ucap Shi Jin lalu memutar balik mobilnya.
Hee Jeu sudah hamil besar melihat berita dengan Ji Soo dirumah sakit
Kemarin sore waktu setempat...Gempa bumi melanda Mohuru, hingga mencapai 200 km... Dari Minami, sampai di ibukota Urk. Laporan berita lokal mengatakan getarannya juga terasa di Minami.
Hee Jeu mulai panik memikirkan yang terjadi dengan Chi Hoon calon dari ayah bayinya, Ji Soo menyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Suk Won menelp sambil berjalan mengatakan tak tahu apa-apa dan mengetahuinya dari berita saja jadi ia akan rapat dulu, dan akan menghubunginya kembali setelah mendapat informasinya.

Anak buah Letnan Yoon memberitahu  sudah menghubungi markas dan Myung Joo tak ada diMohuru, Letnan Yoon bertanya tentang pesawat  angkutnya. Anak buahnya memberitahu sudah disiapkan dan  akan berangkat dalam waktu 10 menit.
Kami akan berfokus untuk menemukan Letnan Yoon...” kata anak buahnya
Jangan berfokus pada satu letnan saja. Dia ke sana juga untuk bertugas.” Ucap Letnan Yoon dan melihat dalam berkas Dae Young tak ada dalam daftar dan menyuruh untuk memasukan dalam daftar.
Dia sudah menawarkan diri dan sedang bersiap-siap.” Kata anak buahnya, Letnan Yoon bertanya apakah mobilnya sudah siap sekarang. Anak buahnya mengatakan sudah siap, Letnan Yoon pun keluar ruang dan masih terlihat foto dengan anaknya ada diatas meja. 

Semua penumpang berlari masuk kedalam pesawat ketika tangga pesawat mulai turun. Di depanya Woo Geum adu mulut dengan Mo Yun mengatakan tak bisa melakukanya karena diperintahkan menaikkan sampai ke peseawat jadi menyuruh untuk menurut saja dan jangan membangkang.
Kenapa kau tak mengerti juga? Apa kau mau buang-buang waktu terus di sini?” Tegas Mo yun memaksa
Kami yang akan bertanggung jawab, jadi Bawa kami kembali ke sana.” Ucap Sang Hyun ingin kembali ke Urk
Tidak bisa... Naiklah ke pesawat. Aku sudah diperintahkan-“ kata Woo Geum
Aku yang bertanggung jawab dalam timku Jika terjadi bencana alam maka tim medis pasti akan dibutuhkan. Setengah dari timku juga ada di sana. Kami tak akan pulang tanpa mereka.” Tegas Mo Yun
Kenapa kau selalu saja egois!!!!  Aku sangat tak menyukaimu. Kau tahu itu?” teriak Woo Geum, Mo Yun sudah tahu dan mereka bisa membahasnya nanti saja dan kembali naik ke helikopter. 

Presiden bertanya Apakah pemerintah bias mengirim tim penyelamat. Salah satu petinggi memberitahu  Wilayah Urk masih dalam status sengketa Jadi, mereka tak bisa begitu saja mengirim tim dari Korea
Mengatakan sesuatu yang tak bias dilakukan, itu tak akan menyelesaikan masalah. Kami sendiri sudah mengirim tim medis kami, tapi kami tak mendengar kabar apapun dari mereka.” Ucap Suk Won dengan nada kesal
Aku, Yoon Gil Joon, Komandan Pasukan Khusus. Kami berjanji... akan mengirim pasukan terbaik untuk menyelamatkan mereka semua.” Tegas Letnan Yoon
Lalu, bagaimana kau bisa mengirim mereka? Jika sesuatu terjadi pada stafku...” jerit Suk Won tak bisa mengucapkan lagi kalimatnya karena tak ingin terjadi sesuatu.
Dengan nada perlahan mengajukan bantuan uang apabila  mereka membutuhkan berapapun jumlahnya jadi mereka harus melakukan sesuatu. Letnan Yoon memberitahu Pesawat nomor A C-17adalah pesawat angkut tercepat mereka akan berangkat 30 menit lagi, tepat pada pukul 01:00 pagi, berangkat dari Suwon.

Dan juga... Dalam Pasukan Khusus ini, kami mengirim anggota terhebat kami.” Tegas Letnan Yoon
Didalam pesawat sudah ada Shi Jin, Dae Young dan beberapa tentara lainya sudah siap dengan mengunakan helm dan pakaian tentara. Dae Young bertanya apakah Shi Jin sudah selesai berlibur. Shi Jin  mengatakan harus melakukan kewajibannya dan merasa kalau Dae Young itu pasti akan kagum padanya. Keduanya tersenyum padahal mereka kirim untuk ke tempat bencana. 

Sang Hyun berteriak panik memanggil Ja Ae dalam ruang medis, Ja Ae keluar dari ruangan obat menyuruh Sang Hyun diam saja daripada berteriak-teriak lalu bertanya kenapa meraka ada di tempat itu bukan pulang ke korea. Sang Hyun melihat dari atas kebawah dan mengucap syukur karena keadaan Ja Ae baik-baik saja.
“Apa Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Mo Yun yang ingin tahu anggotanya sebagai ketua tim medis.
Mereka mungkin masih shock, tapi kami baik-baik saja.” Jelas Ja Ae
Saluran udara terputus, kami tak bisa menghubungi siapapun. Aku pikir akan mati tadi.” Cerita Min Ji sambil menangis
Semuanya sudah baik-baik saja, jadi Jangan khawatir. Aku berSyukur, semuanya baik-baik saja. Sekarang Tak usah ke mana-mana, dan tunggu di sini. Aku akan mencoba menghubungi pihak Seoul.” Jelas Mo Yun. 

Mo Yun menemui Chi Hoon yang sedang mengobati Ki Bum, menanyakan keadaan. Chi Hoon memberitahu Bahu Ki Bumterkilir Tapi, dokter militer sudah mengobatinya melirik ke arah Myung Joo yang sedang mengobati tentara lainnya.
Ki Bum memberitahu keadaan baik-baik saja, Myung Joo memberitahu semua tentara di basecamp itu tak terluka terlalu parah, lalu bertanya alasan Mo Yun kembali dan berpikir bandara juga hancur. Petugas medis lain panik berpikir penerbangan mereka dibatalkan. 
Sang Hyun menjelaskan bukan seperti itu memberitahu Bandaranya baik-baik saja, tapi mereka tak bisa pergi sebelum memastikan kondisi tim medis semua jadi mereka kembali. Myung Joo tak percaya Mo Yun kembali datang hanya untuk memastikan semua baik-baik saja. Min Ji mengucap syukur sambil menangis berpikir tak akan bisa pulang.
Medicube. Medicube.... Apakah dokter militer ada di sana?” ucap seseorang dari walkie talkie
Ini aku, Letnan Yoon. Apa terjadi sesuatu?” tanya Myung Joo
Kami ada di bangunan pembangkit listrik. Bangunannya runtuh.” Kata tentara lain dengan suara tak jelas
Myung Joo tak mendengar meminta agar berbicara lebih jelas lagi,  tentara memberitahu bahwa Bangunan pembangkit listriknya runtuh. Semua yang ada di ruangan melotot kaget, Min Jin kembali menangis dengan wajah binggung. 

Mobil ambulance datang ke tempat Pembangkit listrik dan juga truk tentara, pada wanita ada turun dari mobil ambulance dan para tim medis pria dan tentara naik truk dengan membawa alat medis. Semua sudah hancur berantakan dan terdengar jeritan kesakita karena tertimpa bangunan.
Semua terlihat tak karuan, beberapa tentara mencoba membantu seadanya dan beberpa pegawai lain yang masih sehat membantu orang-orang yang merasa kesakitan. Tim medis binggung melihat bangunan yang sebelumnya terlihat kokoh hancur berantakan akibat gempa. Semua pasien tergeletak dengan wajah penuh debu dan juga bercampur dengan darah. Chi Joon terdiam seperti baru pertama kali melihat korban gempa yang selama ini selalu menangani pasien rumah sakit mewah.
Tolong kenakan rompi kalian agar mereka bisa mengenali kalian. Kalian tahu protokol triase, 'kan?” kata Mo Yun memberikan perintah
Hijau untuk non-darurat, kuning untuk cedera ringan... Dan merah untuk pasien gawat darurat yang membutuhkan pengobatan cepat.” Jelas Chi Joon
Dan untuk pasien kritis yang tak dapat diobati di TKP, diberi label merah.  Dan Hitam. Warna untuk status meninggal.” Ucap Mo Yun mengingatkan 

Semua berjibaku memakaikan rompi dan juga tas medis untuk masing-masing dokter dan perawat. Mo Yun berpesan agar fokus pada korban yang bisa diselamatkan.
Apa kami perlu persetujuanmu untuk penggunaan morfin atau demerol?” tanya dokter lain
Ya, obat itu tak bisa digunakan untuk sembarang pasien. Kalian harus menganilisis kondisinya, dan memilih alternatif yang lain yang terbaik.” Kata Mo Yun dan memerintahkan semuanya untuk mulai bergerak.
Mo Yun sempat tersandung lalu sengaja mematakah haknya agar bisa berjalan dengan nyaman walaupun bagian depanya masih ada hak beberapa centi.
Tentara dengan tandu membawa korban yang ditemukan, beberapa lainya membawa korban yang masih bisa berjalan keluar dari rentuhan, tiba-tiba ada runtuhan lain yang keluar karena keadaan belum seimbang.
Mo Yun melihat satu korban yang dibawa ole tentara, dan berusaha memeriksa apakah korban masih sadar. Tentara memberitahu korban tak mengalami pendarahan dan Denyut nadinya masih terasa. Mo Yun melihat korban mengalami syok sesaat jadi meminta untuk memberikan oksigen dan ia mau menyiapkan pengobatannya.

Korban terus berdatang ke dalam tenda, Ki Bum juga terlihat membantu dengan membawa barang-barang medis. Kepala Manager Jin datang bertanya pada Woo Geum menanyakan Apa sudah melakukan pencarian di dalam gedung. Woo Geum memberitahu  Bagunannya runtuh total dan mereka sudah berusaha masuk, lalu bertanya apakah tahu keberadan Manager Go karena tak melihatnya sedari tadi.
Kepala Manager Jin pikir Manager Go itu  mendapat shift sore hari ini dan mungkin ada sekitar 30 orang atau lebih, Woo Geum kaget. Kepala Manager Jin memberitahu kalau semua pegawai masih ada didalam gedung yang runtuh.
Aku ingin memberitahumu sesuatu. Ada barang yang sangat penting di dalam kantorku.” Bisik Kepala Manager Jin. Woo Geum yang mendengar dari radionya meminta bantuan langsung pergi seperti tak peduli dengan ucapan Manager Jin.
Salah satu pasien tiba-tiba muntah darah dan kejang-kejang, Min Ji berteriak meminta tolong pada Ja Ae melihat pasien, Ja Ae melihat pasien tak bisa bernafas dan berteriak meminta bantuan Chi Hoon dan pasien tiba-tiba berguling dan jatuh. Chi Hoon pun berlari mendekatinya. 

Manager Go tersadar dan melihat badannya tertimpa dengan bangunan tembok, dengan kekuatan mencoba mengesernya tapi tak kuat, akhirnya ia bertanya apakah ada orang di ruangan itu. Salah satu anak buahnya memanggil dengan bahasa korea memberitahu kalau ia merasa sakit dan meminta seseorang untuk cepat menyelamatknya. Manager Go tak melihat bertanya siapa orang itu.
Anak buahnya terus mengatakan kalau itu sakit dan seperti akan mati, terlihat ada besi yang menembus kebagian dada sebelah kananya dan badanya pun tergantung karena tertancap besi. Manager Go masih bertanya apakah terluka parah, tapi menurutnya salah mengatakan hal itu, lalu meminta untuk bersabar menunggu pertolongan. Dengan memukul batu untuk memberitahu ada orang didalam dan meminta bantuan. 

Mo Yun membantu salah satu pasien yang dibawa oleh pengawai lainya, Myung Joo juga datang membantu dan menyuruh Mo Yun untuk membantu yang lainya karena ia yang akan menangani pasien ini. Mo Yun melihat ada Chi Hoon yang sudah membantu dibagian tenda. Myung Joo mengatakan kalau ia yang akan mengobatinya jadi meminta Mo Yun untuk membantu dokter lainya. 
Chi Hoon berusaha menekan bagian dada pasien agar jantungnya bisa kembali berdenyut. Mo Yun menanyakan keadaan pasien yang ditangani Ja Ae dan Chi Hoon. Ja Ae mengelengkan kepala, Chi Hoon mengatakan denyut nadinya masih ada dan akan bertahan jika mereka terus memompanya.
Mo Yun memeriksa denyut nadi lalu mengubah label kuning dengan hitam dan menjelaskan meskipun denyut nadinya masih terasa, tapi jantungnya sudah berhenti karena mengalami pendarahan lalu memberitahu korban sudah meninggal.  
Chi Hoon tak percaya karena merasa masih bisa menyelamatkannya dan terus menekan bagian dadanya. Mo Yun meminta Chi Hoon untuk berhenti dan ingin mengatakan waktu kematian, Chi Hoon berteriak menolaknya karena masih yakin pasien itu baik-baik saja.
Karena dia tak mengalami luka parah, aku memberinya warna kuning. Dia masih bisa selamat.” Ucap Chi Hoon, Sang Hyun datang dan langsung menamparnya.
Apa kau sudah gila? Sadarlah.... Jangan seperti ini dan Jangan cengeng. Bersikaplah seperti selayaknya seorang dokter.” Tegas Sang Hyun, semua terkejut karena Sang Hyun memberikan tamparan pada Chi Hoon.
Memangnya aku ini dokter apa? Aku bahkan tak bisa memasang warna yang tepat. Dokter macam apa itu?” kata Chi Hoon merasa bersalah.
Kau adalah dokter.... Seseorang yang akan dibutuhkan ditempat seperti ini. Kau adalah orang itu.... Jadi, umumkan waktu kematian pasien... dan lanjutkan tugasmu. Pergilah ke pasien yang masih bisa kau selamatkan. Apa kau tak bisa mendengar teriakan mereka?” tegas Sang Hyun menyadarkan juniornya
Chi Hoon menangis, Mo Yun memegang pundak Chi Hoon meminta agar tetap kuat. Dengan air mata yang turun dengan deras Chi Hoon mengumukan waktu kematian 03:40 sore Waktu Urk lalu menutup matanya, Mo Yun ikut menangis melihat korban yang meninggal dunia didepanya. Tentara dibantu oleh Ja Ae pun memasukan pada kantung mayat. 


Ji Soo terlihat sangat gelisah dalam ruanganya, berusaha mengirimkan voice mall
Hei, Mo Yun.... Apa semuanya baik-baik saja? Cepat telepon aku. Aku sudah membeli wine. Jadi, cepat pulang dan minum bersama.” Ucap Ji Soo dengan nada panik
Dilayar komputernya berita tentang gempa di Urk dan juga pesan terakhir kali yang dikirimkan Mo Yun. Ada foto kebersamaan Mo Yun dan Ji Soo saat sama-sama meraih gelar sarjana saat menjadi dokter. 

Dengan mesin pemotong, Tentara berusaha menebus besi-besi yang menghalangi jalan untuk membantu korban. Mo Yun juga terus membantu dengan masang infus pada korban gempa, rasa amarahnya pada Myung Joo seperti hilang dan berjibaku untuk menolong para korban.
Aku telah diberikan perintah untuk menjadi seorang dokter. Aku sudah berjanji... untuk mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkan umat manusia.
Sang Hyun dan Ki Bum makan nasi instan sejenak untuk mengurangi rasa lapar setelah menolong banyak korban. Tiba-tiba tentara datang memanggil tim medis kalau ada keadan darurat. Sang Hyun langsung pergi tanpa memperdulikan nasi yang akan dimakannya, begitu juga Ki Bum.
Kesehatan dan kehidupan pasienku adalah... prioritas utamaku.

Chi Hoon memberikan suntikan dan ditemani oleh Ja Ae disampingnya, pasienya berkulit hitam pun bisa bernafas lagi.
Aku akan melaksanakan tugasku...dan menyelamatkan pasienku Tanpa memandang ras, agama, atau kebangsaan.
Tentara bergotong royong dengan rantai untuk menarik rentuhan bangunan tapi rantai mereka malah putus karena tak kuat menarik bangunan.
Aku tak akan melepaskan tanggung jawanku... bahkan saat aku berada dalam ancaman.
Mo Yun menempelkan plester pada bahu pekerja yang terluka lalu memberitahu cederanya tidak parah. Ketika akan pergi, tangan pekerja itu menariknya, Mo Yun pikir pasien itu merasakan ada yang sesuatu yang sakit lagi. Tapi si pekerja itu  memberikan sepatunya karena melihat kaki Mo Yun yang berdarah karena sandal yang digunakanya.
Aku telah menerima sumpah ini... dan menjadi hidupku...Dan atas nama kehormatanku.
Foto Mo Yun terlihat mengucap sumpah janji seoran dokter dirumahnya dengan lilin yang biasa dinyalakanya. 
Ki Bum melihat Woo Geum membawa tandu dan bertanya apakah itu pasien yang datang dan harus memanggil tim medis. Woo Geum mengeleng dan akhirnya Ki Bum menganti angka kematian di papan tulis jadi 14 orang.
Tiba-tiba terdengar bunyi helikopter mendekat, semua langsung melihat kearah helikopter yang datang dan terlihat beberapa orang turun dengan mengunakan tali dari helikopter. Enam orang tentara berjalan masuk ke area pembangkit tenaga listrik.
Mo Yun melihat bayangan tentara yang datang didepanya, salah satunya terlihat melepaskan helmnya. Matanya terkejut melihat Shi Jin kembali datang ke Urk, Shi Jin melihat Mo Yun didepanya dan beberapa anak buahnya pun berbaris menutupi pandanganya. Mo Yun terus berusaha melihat Shi Jin yang berada didepanya, sampai salah seorang pegawai memegang tanganya meminta tolong kalau temanya terluka.
Akhirnya Mo Yun pergi dengan membawa tasnya meningalkan Shi Jin yang datang. Mata Shi Jin sempat mencari-cari perginya Mo Yun dari hadapanya, tapi kembali di sadarkan kalau ia datang untuk bertugas sebagai tentara. 


Woo Geum pun memberikan komando untuk memberikan hormat pada komandan Yoo yang baru datang. Shi Jin pun menerima hormat dari bawahnya, Dae Young melihat beberapa tentara wajahnya sudah penuh debu dan Ki Bum harus memakai penyanggah tanganya.
Kalian sudah bekerja keras. Apa ada yang terluka?” tanya Shi Jin, semua menjawab “tidak ada”
Baiklah.... Aku sudah mendengarnya semuanya, jadi tak usah ada laporan. Kita akan memulai... gerakan penyelamatan pada pembangkit listrik. Apa ada orang yang ingin meminta ijin mengundurkan diri?”kata Shi Jin, Semua kembali menjawab tidak ada
Baiklah.... Hanya ada satu hal yang perlu kalian ingat selalu. Jangan sampai kalian terluka. Jika kita terluka, Kita tak bisa menyelamatkan orang-orang yang perlu diselamatkan. Mengerti?” kata Shi Jin, semua menjawab mengerti dan Shi Jin pun memerintahkan untuk kembali ke posisi mereka masing-masing. 

Dae Young mengambil tali tiba-tiba melihat Myung Joo berlari kearahnya, keduanya saling menatap karena harus terpisah beberapa waktu. Dae Young mengucap syukur karena melihat keadaan Myung Joo yang baik-baik saja karena ia sangat mengkhawatirkanya lalu pamit pergi karena akan bertugas.
Myung Joo memanggil nama dengan jabatanya “Sersan Mayor Seo Dae Young.” Berpesan agar jangan sampai terluka dan menegaskan kalau itu adalah perintah dan harus melaksanakan selamanya. Dae Young memberikan hormat tanda menerima perintahnya.  Myung Joo pun menerima hormat dengan mata berkaca-kaca dan saling menatap. 

Mo Yun baru saja selesai memeriksa pasien dan akan kembali, melihat tali sepatunya lepas ia berlutut ingin mengikatnya. Seorang tentara menaruh helm di depannya dan membantu menalikan sepatunya. Mo Yun kaget melihat Shi Jin sudah berlutut didepanya menalikan sepatunya.
Tatapan tak bisa terhenti melihat Shi Jin yang datang kembali ke Urk dan ada didepanya, Shi Jin tetap diam ketika membantu menalikan sepatu Mo Yun. 

Setelah selesai Mo Yun lebih dulu berdiri dan Shi Jin pun mengangkat topinya dan berdiri. Keduanya saling menatap, Shi Jin mengucap syukur karena melihat Mo Yun yang terlihat baik-baik saja dan tak terluka, Mo Yun menatap Shi Jin dengan mata berkaca-kaca.
Shi Jin meminta maaf karena  tak mengatakan salam berpisahan sebelum pulang kemarin dan ia pun tak bisa menemaninya jadi meminta agar berhati-hatilah. Mo Yun dengan berkaca-kaca meminta agar Shi Jin juga berhati-hati, mereka pun berjalan saling berbeda arah.

bersambung ke episode 7

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



3 komentar:

  1. gomawo unnie..semangat trus sehat trus dtnggu eps selanjutnya..

    BalasHapus
  2. Keren bgt dramanya.,, gak sabar nunggu minggu dpn hik hik

    BalasHapus
  3. Wah ternyata ceritanya seru juga ...tp syg blm sempat nonton

    BalasHapus