Jumat, 04 Maret 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 4 Part 2

Flash Back
Myung Joo dengan dress putihnya masuk gedung bersama Dae Young sambil bertanya apakah Dae Young sangat mencintai mantanya. Dae Young bertanya balik kenapa Myung Joo menanyakan hal itu.  Myung Soo yakin Pasti ada alasannya kenapa Dae Young bisa dendam.
Aku pernah berjanji untuk membuatnya bahagia.” Kata Dae Young, keduanya pun menaiki tangga bersama
Tapi, dia tak akan bahagia jika acara penikahanya jadi kacau, 'kan?” ucap Myung Joo
Kau tak akan bahagia jika kau masih memiliki penyesalan.” Kata Dae Young terhenti melihat sisi kirinya.
Jadi, kau tak di sini untuk balas  dendam, Apa kau ingin memberikan dia support?” tanya Myung Joo binggung. 

Dae Young berjalan lebih dulu, Myung Joo melihat kearah Dae Young berjalan. Si calon pengantin wanita terkejut tangan memegang buket bunganya lemas, melihat Dae Yong bisa datang ke tempatnya. Dae Young menegaskan ingin bertemu dengan calon suaminya dan sudah menemuinya sebelum datang ke tempat itu.
Sang Mantan panik karena Dae Young tak boleh menemuinya, Dae Young tahu sebentar lagi calon suaminya akan datang. Sang mantan berteriak kesal. Myung Joo datang sambil merangkul lengan Dae Young menyapanya dan mengucapkan selamat. Sang mantan bertanya siapa wanita yang ada disamping Dae Young.
Sepertinya aku harus menyapamu lebih dulu Terima kasih telah mau melepaskannya. Aku adalah pacarnya. Tapi, agak aneh jadinya jika kau memanggilku, "pacarnya", jadi panggil aku, Dr. Yoon saja. Aku adalah seorang dokter.” Kata Myung Joo bersandar manja di lengan Dae Young,
Apa kalian sungguh pacaran?” tanya sang mantan tak percaya
Aku tak perlu menjelaskan apa-apa padamu. Berkat dia, aku tak akan pernah memikirkanmu lagi sekarang. Jadi... hiduplah dengan bahagia. Dan selamat atas penikahanmu. Aku tulus mengucapkannya.” Ucap Dae Young sambil mengengam tangan Myung Soo. Myung Soo sempat kaget dan merasakan genggama tangan Dae Young semakin keras ketika berbicara pada mantanya. 

Di restoran
Myung Joo menuangkan soju bertanya apakah Dae Young masih merasa menyesal. Dae Young mengatakan tidak tapi merasa sangat lega lalu meminum sojunya. Myung Joo merasa masih ada rasa penyesalan. Dae Young bertanya penyesalan seperti apa. Myung Joo juga tak tahu, seperti ada sesuatu yang menganjal dalam dirinya.
Aku sudah melaksanakan tugasku. Jangan lupa untuk memberitahu Shi Jin bahwa kita sudah berkencan” kata Myung Joo menuagkan kembali soju kedalam gelas. Dae Young pikir tak perlu mengkhawatirkan hal itu dan keduanya kembali minum bersama. 

Di pertemuan berikutnya
Myung Joo sedikit mabuk mengakui tak ingin menikah dengan Shi Jin tapi bukan berarti tak mau menikah dengan pria lainnya, lalu bertanya apa yang dikatakan Dae Young pada Shi Jin sebelumnya.
Aku hanya bilang..."Aku adalah pacar Letnan Yoon." Hanya satu kalimat itu. Itulah kesepakatan kita.” Kata Dae Young
Jadi, kenapa ada rumor mengatakan kita tidur bersama?” ucap Myung Joo geram
Karena tentara memang suka berimajinasi.” Balas Dae Young
Myung Joo melipat tangan didadanya dengan kesal kalau Dae Young itu sedang bercanda denganya. Dae Young mengatakan sengaja melakukan Agar masalah seperti ini tidak membosankan saja lalu meminum sojunya. Myung Joo hanya bisa menghela nafas. 

Pertemuan ke tiga saat salju lebat turun
Myung Joo tak percaya dengan yang teman-teman lain pikirkan kalau mereka pacaran itu dianggap dengan tidur bersama. Dae Young menegaskan itu hanya pikiran dari pria saja jadi Myung Joo tak perlu emosi.
Jika kau emosi begini, maka kau kalah dalam pertarungan.” Ucap Dae Young menjawab dengan gaya militer
kau bilang aku Kalah?” kata Myung Joo tak terima, Dae Young pun meminta maaf dan mengaku salah bicara
Jangan bercanda lagi. Apa yang pria pikirkan itu hanyalah tentang "tidur dengan wanita"? Karena pembahasan "tidur" inilah aku selalu jadi... emosi.” Kata Myung Joo terlihat canggung membahasnya dengan Dae Young. 

Pertemuan berikutnya
Keduanya keluar dari restoran pada musim semi dimana sakuran mulai berguguran. Dae Young pikir walaupuan Myung Joo tak bisa menang tapi bisa mendapatkan sesuatu. Myung Joo bertanya apa itu. Dae Young berjalan lebih dulu mengatakan kalau yang tadinya rumor jadi kenyataan. Myung Joo berpikir sejenak lalu memukul Dae Young karena berpikir ia wanita murahan, tiba-tiba ia hampir jatuh.
Dae Young menahanya sambil menanyakan keadaaanya. Myung Joo terus memukulnya karena Dae Young ternyata berpikir selicik itu. Dae Young pun meminta maaf dan berusaha menghindari pukulan Myung Joo. 

Sebuah foto Myung Joo dan ayahnya berada diatas meja, Anak buah Letnan Yoon melaporkan Myung Joo baru saja tiba di Taebaek. Dan Sersan Mayor Seo Dae Young berangkat ke bandara pukul 1 siang. Letnan Yoon mengerti, lalu deringan telp terdengar kalau dari Blue House ingin berbicara denganya. Letnan Yoon pun berbicara dengan video call dari laptopnya dengan Presiden.
Kami baru saja menerima permintaan tidak resmi mengenai operasi VIP Liga Arab. Singkatnya, mereka meminta agar oeprasi itu dianggap tak pernah terjadi. Jadi, kedatangannya ke Mediacube juga tak pernah terjadi Dan mereka tak ingin... tak ada catatan apapun tentang kejadian itu. Pemerintah menerima permintaan itu. “ jelas Presiden Lee
Mengenai Kapten. Yoo Shi Jin, apakah dia akan dihukum atau tidak, Kalian yang akan memutuskannya.” Ucap Presiden, Letnan Yoon pun menerima perintahnya lalu mematikan laptopnya.
Ia bertanya pada bawahanya, kalau Shi Jin itu masih ada dalam tahanan, lalu meminta untuk menghapus semua catatan tentang operasi itu dan bebaskan Shi Jin Tapi, dia tetap akan mendapat hukuman. Anak buahnya kaget Shi Jin mendapatkan hukuman padahal sebelumnya akan mendapat promosi kenaikan jabatan.Tuan Yoon tak menanggapinya lalu menelp  Komanda Devisi Taebaek.

Sebuah Tahu berbentuk bintang dan dihias dengan cantik diatas piring, semua jenis tahu ada diatas meja. Shi Jin tak menyangka ternyata banya Tahu ada di Urk, lalu bertanya apakah semuanya itu menyetujui menu ini. Woo Geum dkk hanya bisa tertunduk diam.
Untuk Kapten yang bermalam 1 hari 2 malam di pos jaga dan akhirnya dibebaskan, kami sudah menyiapkan tahu, ada tahu rebus, dan tahu kimchi di sebelah kanan. Ada tahu bentuk hati juga.” Jelas Ki Bum seperti seorang chef memberitahu pelangganya dengan gaya militer.
Kau bilang, "Dibebaskan"?” keluh Shi Jin kesal
Bukankah memang begitu? Kalau begitu...Kedatangan?” kata Ki Bum polos semua tertawa
“Kau bilang Kedatangan? "Kapten sudah hadir" yang benar.” Ucap Shi Jin sambil memukul bagian perut Ki Bum
Chul Ho mengeluarkan suara seperti baru tahu, Shi Jin heran melihat anak buahnya, Woo Geun menceritakan sudah berusaha mengajarinya lalu memberikan minuma ginseng kesukaanya. Shi Jin menegaskan keduanya itu diselamatkan oleh Woo Geun.

Semuanya, perhatian.... Aku akan berpidato sebentar. Kalian sudah berusaha keras, Meskipun dalam siaga darurat dan Sersan Mayor tidak ada Dan meskipun, sekarang kita pesta tahu, tapi, saat akhir pekan nanti, aku akan mentraktir kalian barbekyu. Selamat makan semuanya.” Kata Shi Jin  berdiri sambil bertolak pinggang
Semua mengucapakan terimakasih dan bahagia memakan makanan menu tahu diatas meja. Mo Yun berlari masuk ke dalam dan terlihat kebinggungan karena banyak tentara yang makan dan hanya dia wanita didalam ruangan, akhirnya ia memilih berjalan keluar. Shi Jin bertanya kenapa Mo Yun keluar padahal sudah tahu ingin bertemu denganya. Mo Yun pikir nanti saja dan menyuruh Shi Jin makan saja. Shi Jin tak mau dan mengajak Mo Yun untuk bicara sekarang dan keluar dari rumah. 


Dibawah renuntuhan bangan dan tempat menjemur beberapa seprai, keduanya berbicara. Shi Ji mengejek selama ini Mo Yun hanya berakting jadi dokter saja tapi ternyata sudah menyelamatkan pasiennya. Mo Yun membalas kalau itu semua yang dinginkanya. Shi Jin tersenyum karena Mo Yun menurutinya.
Bukannya kau bilang, kaulah Komandan untuk tim medis.” Sindir Shi Jin, Mo Yun merasa Shi Jin itu tipe yang pendendam.
Sepertinya kau jadi wanita kalem sejak malam itu.” Ejek Shi Jin, keduanya sama-sama terdiam.
Kau bilang jika memang ingin berterima kasih katakan saja. Aku akan bilang Terima kasih sudah mau mempercayaiku.” Kata Mo Yun
Shi Jin mengangguk, lalu bertanya apakah Mo Yun merasa takut. Mo Yun mengaku sebenarnya merasa sedikit takut lalu bertanya balik. Shi Jin menceritakan sudah terbiasa dengan situasi yang seperti itu. Mo Yun tertunduk diam dan terlihat sedih.

Dan... Aku ingin mengatakan sesuatu tapi tidak mendapatkan kesempatan. Tapi, aku tidak serius saat mengatakan..."Dan beberapa dokter hanya muncul di TV saja." Aku harap kau tidak marah.” Kata Shi Jin, Mo Yun pikir benar juga ucapan Sih Jin
Tapi, yang tidak benar adalah... saat dokter tetap mengoperasi pasiennya ketika dia ditodongkan senjata” ucap Shi Jin
Ya sudah, kalau kau anggap begitu, Mungkin kau benar juga. Tapi, mereka tak akan berani menembakku, 'kan?” kata Mo Yun yakin
Shi Jin terdiam menatap Mo Yun, Mo Yun mengartikan kalau dugaanya itu tak benar dan meminta Shi Jin tak perlu menjawabnya sambil menutup kupingnya. Shi Jin tersenyum melihatnya, terdengar suara yang memanggilnya.
Dari balik seprai terlihat Chul Ho berdiri dan ada pengawal arab sudah berdiri lalu membuka pintu mempersilahkan keduanya masih. Shi Jin dan Mo Yun saling bertatapan dengan wajah binggung. 


Disebuah ruangan
Pria duduk dikursi roda menyabut Mo Yun dan Shi Jin datang ke tempatnya, pria itu adalah Presiden yang dibantu oleh Mo Yun saat operasi di Urk. Di ruang tenang keduanya berbicara dengan dibantu penerjemah.
Kudengar, karena keputusan kalian... aku bisa menghindari kematian. Terima kasih, Tuhan memberiku lebih banyak waktu untuk melakukan tugasku. Terima kasih telah menyelamatkanku.” Ucap Presiden Mubarat melalui penerjemah.
Karena anda mengindap penyakit jantung kronis, anda harus menghindari stres. Untuk sementara ini anda tak boleh menerima banyak tekanan.” Kata Mo Yun
Dia mengatakan... Dokter memang pada hakekatnya suka mengomel.” Ucap si penerjemah menyampaikan pesan dari Presiden Mubarat, Mo Yun tersenyum.
Memulai perang itu sangat mudah dan memulai perdamaianlah yang sulit. Mungkin karena itu diktator selalu hidup lama.” Ucap Shi Jin
Ya, sepertinya tentara lebih mengerti aku daripada seorang dokter. Tapi, aku akan menerima saranmu, Dokter. Tuhan pasti akan memberikanku jalan. Insya Allah” ucap Presiden Mubarat
Ini adalah sebuah kehormatan untuk bisa mengobati orang penting.” Ungkap Mo Yun

Presiden Mubarat merasa harus  mengucapakan lebih banyak berterima kasih dan sudah menyiapkan hadiah kecil lalu meminta pengawalnya memberikanya. Mo Yun binggung melihat kartu ditanganya, tanpa ada gambar apapun hanya ada tertulis Mubarat.
Ini bukanlah sembarang kartu. Kartu ini akan menyelamatkanmu dalam situasi apapun di area Arab.” Jelas Pengawal
Jadi, anda ingin memberikan kami kartu ini? Apa kami bisa dapat 2 kartu? Kami datang berdua, kartu ini mungkin saja basaj dan robek nanti.” Ucap Mo Yun
Presiden Mubarat tertawa mendengarnya, Shi Jin ikut tertawa karena Mo Yun meminta tambah. 



Di depan gedung
Mo Yun mendapatkan dua kartu ditanganya, berpikir kalau kartu itu seperti  free pass. Shi Jin meminta satu dan ingin mencoba mengeceknya lebih dulu.
Aku yang akan menyetir dan akan meminjam mobilnya untuk sehari penuh.” Kata Shi Jin pada pengawal, Sang pengawal bingung karena memberikan kartu itu padanya. 
Didalam mobil
Mo Yun mengomel karena Shi Jin menggunakan kartuuntuk menyewa mobil ini, menurutnya lebih baik mereka mencari perusahaan rental mobiln saja sambil mengumpat Shi Jin itu sudah gila.
Aku tak menyangka kau akan senaif ini. Apa kau tak punya tujuan hidup? Di sini kan  tempat tambang minyak. Kita bisa saja menggali minyak di sini. Apa kau tahu berapa harga minyak itu? Kita sudah menyelamatkannya dan Dia siap memberikan apapun.” Kata Mo Yun terus mengomel
Kenapa kau kesal begini? Aku hanya menggunakannya dengan bijak.” Ucap Shi Jin, Mo Yun pikir pilihan seperti ini bukan bijak.
Jika mereka yang menyetir, kita akan sampai 2 setengah jam. Tapi, jika aku yang menyetir, maka kita bisa sampai dalam waktu 30 menit. Dan sisa 2 jam lainnya, kita bisa isi dengan kencan.” Goda Shi Jin, Mo Yun mengumpat Shi Jin benar-benar gila karena  menghilangkan harta karun untuk kencan.
Tapi tunggu sebentar, aku tak pernah bilang "Iya" untuk kencan denganmu.” Kata Mo Yun
Aku memang tak meminta persetujuanmu, jadi Kita bisa pergi minum teh.” Ucap Shi Jin, Mo Yun menegaskan kalau seharusnya Shi Jin bertanya dulu, Shi Jin hanya tersenyum menyusuri jalan yang sangat cantik dari atas bukit. 

Mo Yun menatap kartu ditanganya, merengek tak mau melepaskanya dan memperingatkan Shi Jin itu tak boleh menyentuhnya karena itu miliknya. Keduanya sudah ada dicafe diatas tebing dengan pemandangan indah didepanya. Mo Yun berpikir apa yang harus dilakukan dengan kartu itu
Apa aku buka klinik di Arab saja ? Oh! Aku pakai untuk bisa berfoto dengannya saja. Jika aku memasangnya di rumah sakit, aku akan dapat banyak uang, 'kan?” jerit Mo Yun menyesal
“Sebenarnya untuk apa kau jadi dokter?” tanya Shi Jin sambil minum jusnya.
Karena aku ini murid pintar, Terutama dalam matematika. Dan juga, dokter punya gaji yang banyak. Karena prinsipku adalah... lebih baik hidup mengejar uang daripada dikejar oleh uang Aku tak peduli kata orang, tapi aku akan mencari uang sebanyak mungkin. Dan cita-citaku adalah bias membuka klinik di Gangnam. Terserah kau mau menyebut sebagai cewek matre atau apapun” cerita Mo Yun
Kenapa kau selalu mau terlihat seperti orang yang jahat?” tanya Shi Jin
Aku memang menjadi dokter untuk bisa mendapat uang banyak. Begitu banyak yang terjadi saat kau pergi. Dan aku telah banyak berubah semenjak itu. Tapi, bagiku kau tak berubah sama sekali.” Komentar Mo Yun
“Apa Kau tak lihat? Aku jadi semakin tampan sekarang.” Kata Shi Jin bangga
Mo Yun tersenyum mengejek bercandan Shi Jin itu selalu sama, Shi Jin memuji senyum Mo Yun semakin indah saja. Keduanya saling menatap cukup lama, ponsel Shi Jin berdering. Shi Jin mengangkatkanya dan mengatakan PBB lalu bertanya siapa, setelah itu menutup telpnya dengan wajah sedih.
Dengan berat hati meminta maaf, Mo Yun kesal lagi-lagi Shi Jin harus pergi. Shi Jin membenarkan dan meminta Mo Yun  membawa mobilnya. Mo Yun merasa Akhir dari kencan mereka selalu sama di Korea dan ditempat lainya dan bertanya kemana Shi Jin akan pergi apakah kali ini menjadi rahasia lagi.
Shi Jin terdiam, Mo Yun pikir tempat itu tak boleh didatangi olehnya. Shi Jin mengatakan Mo Yun tak dilarang pergi ke sana,tapi, menurutnya ia tak akan mendapatkan apa-apa jika Mo Yun ikut. Mo Yun bertanya kenapa Shi Jin selalu ingin bisa mendapatkan sesuatu, Shi Jin merasa karena perkerjaannya tidak menguntungkan dalam hubungan mereka. Mo Yun menantang bagaimana Jika ia tetap ingin ikut bersamanya. Shi Jin terdiam menatap Mo Yun. 


Di lapangan udara
Dua peti jenazah ada didepan pesawat, salah satunya ditutupi bendara inggris dan satunya bendera China taipei, terlihat Agus yang memberikan bunga tanda penghormatana. Shi Jin datang dengan melepaskan topinya berjalan menuju peti menaruh bunga didepan bendara inggris, ada satu foto dibawah pesawat.
Flash Back
Setelah melakukan foto bersama, Shi Jin memuji sesama rekannya yang bergabung melakukan perdamaian. Shi Jin memanggil salah satu kaptennya (Pria yang meninggal) dan mengajak foto bersama, lalu mereka membuka penutup mulutnya, dengan senyum lebar sambil berpelukan mengatakan “kimchi”

Agus terlihat berdiri disamping mobilnya, melihat Shi Jin berjalan meninggalkan peti tapi tatapan terus mengarah pada jasad temanya yang telah tiada. Diluar lapangan udara dibelakang pagar kawat besi, Mo Yun berdiri melihat pelayat lain dan Shi Jin yang masih tetap tak bisa beranjak dari tempatnya berdiri.
Saat itu juga Agus masuk ke dalam mobil menyuruh Sopirnya untuk segera pergi karena mereka harus kembali berkerja. Mobil Agus melewati Shi Jin dan Mo Yun yang ada ditengah-tengah. 

Malam harinya, Keduanya baru sampai di markas. Shi Jin pikir hari ini cukup panjang dan melelahkan jadi menyuruh Mo Yun segera beristirahat. Mo Yun bertanya sebelum Shi Jin pergi, apakah itu temanya, Shi Jin menatap Mo Yun dengan binggung. Mo Yun menjelaskan maksudnya di lapangan terbang tadi.
Kenapa ragu-ragu bertanya? Kau pasti sudah penasaran sejak tadi. Dia adalah rekanku” ucap Shi Jin, Mo Yun bertanya apa sebenarnya yang terjadi.
Ini terjadi saat dia mencoba untuk membela perdamaian.”cerita Shi Jin
Itu berarti... Itu berarti bahwa kau bisa saja...” kata Mo Yun ragu
Shi Jin meminta Mo Yun Tak usah membicarakan hal itu, dan membuktikan kalau perkerjaannya sangat tak menguntukan ditempat ini. Mo Yu menatap Shi Jin dengan mata berkaca-kaca. Shi Jin mengucapkan selama malam dan berjalan pergi. Pelahan ia menaiki tangga dan sempat duduk diatas tangga sebelum masuk sambil memegang topinya yang memiliki 3 bintang. 

Pagi hari
Mo Yun melihat beberapa tentara sedang berlari bertelanjang dada, sambil bernyanyi tapi tak melihat Shi Jin ikut berlari dibelakangnya. Ia berusaha memanggil seseorang, Woo Geum akhirnya berhenti menghampiri Mo yun.
Aku belum melihat Kapten. Yoo sejak tadi. Apa dia sedang keluar?” tanya Mo Yun
Dia sedang mendatangi komite kedisiplinan.” Kata Woo Geum
Komite kedisiplinan? Kenapa? Bukannya hukumannya sudah selesai?” ucap Mo Yun binggung
Sepertinya tidak, Melanggar perintah sangat dilarang dalam dunia militer Dan kau adalah orang yang tetap ingin melakukan operasi itu. Bagaimana kau bisa tak tahu?” tegas Woo Geum terlihat kesal dengan Mo Yun.

[ Markas Taebaek]
Pihak komite kedisiplinan mengatakan tak bisa memberikan hukuman mengenai tindakan pembangkangan.Tapi, komite kedisiplinan juga berpendapat pembangkangan tak dapat dimaafkan.
Oleh karena itu, mengenai insiden pada tanggal 18 Mei, kami memberikanmu hukuman yaitu pengurangan gaji selama 3 bulan. Apa kau keberatan?” ucap kepala Komite, Shi Jin dengan baju seragamnya mengatakan tidak
Dan juga, kau akan dikeluarkan sebagai kandidat dari promosi pemimpin skuadron. Apa kau keberatan?” ucap kepala, Shi Jin kembali mengatakan tidak, Ketua Komite pun menyuruh Shi Jin bubar. Shi Jin pun memberikan hormat lebih dulu. 

Shi Jin baru keluar dan kakinya langsung diselengkat sampai jatuh tersungkur, Myung Joo tersenyum licik sambil mengejek Shi Jin melamum sampai tak fokus seperti itu. Shi Jin kesal seperti ingin mencolok mata Myung Joo.
Kapan kau sampai?” tanya Shi Jin, Myung Joo menjawab kemarin
Sepertinya kau sudah melakukan kesalahan, kan?” kata Myung Joo, Shi Jin merasa tak usah khawatir padanya.
“Hei... Kau harusnya buka klinik yang mewah saja di Gangnam. Kenapa kau mau jauh-jauh datang ke sini?” ejek Shi Jin
“Dasar Kau ini. Aku kan juga punya cita-cita, Aku pasti akan mendapatkan bintang itu. Sepertinya, aku akan duluan mendapatkan bintang, Sunbae. Coba Lihatah kelakuanmu ini.” balas Myung Joo dengan bangga menepuk pundaknya ingin menambah bintang
Shi Jin langsung mengucapkan selamat, lalu melihat sikap Myung Joo pasti sudah tahu Dae Young kembali Korea karena tak pernah mencarinya. Myung Joo menceritakan sudah bertemu dengannya di bandara. Shi Jin pikir sudah pasti mereka bertemu, lalu mengejeknya apakah bandaranya tidak hancur. Myung Joo kesal karena Shi Jin plin plan dalam memihak. Shi Jin tersenyum mengatakan akan selalu memihak negaranya, lalu matanya menatap seorang yang dikenalanya. 

Mo Yun berjalan dengan terburu-buru menanyakan sesuatu pada tentara lain, Myung Joo melihat seorang wanita yang masuk tenda dan merasa wajahnya tidak asing. Shi Jin juga merasakan hal yang sama dan langsung pamit pergi dengan wajah panik.
Apanya yang bukan urusanku? Ini semua adalah salahku. Kenapa hanya Shi Jin yang bertanggung jawab? Dia tak melakukan kesalahan apa pun.” Ucap Mo Yun membela Shi Jin didepan Byung Soo.
Tindakannya lah yang salah. Dia tak menaati perintah sebagai seorang tentara! Dan kau, kau adalah dokter dan harus menyelamatkan pasienmu. Itu adalah yang terpenting. Hukum militer sama sekali berbeda dengan hukum kedokteran.” Tegas Byung Soo dengan nada tinggi
Aku juga ada di sana, jadi aku bisa menjadi saksi. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan!” ucap Mo Yun merasa tak terima Shi Jin mendapatkan hukuman karena dirinya. Byung Joo mengebrak meja dan berdiri dari tempat duduknya.
Dengar aku, Dokter. Ini bukanlah pengadilan. Apa kau tahu hukumannya? Gaji Yoo Si Jin akan dikurangi selama 3 bulan, dan dia dikeluarkan dari daftar kandidat promosi. Apa kau bisa bertanggung jawab dengan hukumannya itu?” kata Byung Soo yang membuat Mo Yun terdiam.
Shi Jin masuk kedalam tenda langsung memberikan hormat, lalu meminta maaf dan menarik Mo Yun keluar dari tenda. 

Shi Jin mengemudikan mobilnya sampai keatas bukit dan langsung turun tanpa banyak bicara. Mo Yun mengejarnya bertanya apa sebenarnya yang diinginkan Shi Jin. Akhirnya Shi Jin berhenti berjalan mengeluh Mo Yun yang selalu melakukan hal yang tak berguna.
“menurutmu ini Hal yang tak berguna? Aku baru saja mengacaukan kehidupan seseorang....” kata Mo Yun merasa bersalah
Ini bukan karena kau. Apa kau pikir aku melakukannya hanya untuk menyelamatkan seorang wanita?” tegas Shi Jin yang membuat Mo yun terdiam
Apa kau ingat... luka tembak saat kita pertama kali bertemu dulu? Salah satu atasanku pernah berkata padaku pada hari pertamaku sebagai Kapten Pasukan Khusus. "Tentara akan selalu hidup dengan menggunakan kain kafan. Saat kau mati di negeri antah berantah demi kepentingan Bangsamu, maka tempat kematianmu itu akan menjadi kuburanmu. Dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Jadi Kau harus ingat itu selama kau memakai seragammu itu. Jika kau menanamkan prinsip itu, kau akan mati secara terhormat, di mana dan kapan pun itu." Dan aku menyerahkan hidupku untuk dia.” Tegas Shi Jin

“Lalu saat itulah aku mendapatkan luka tembak itu. Seberapa kecil atau besarnya keputusanku itu, Termasuk rekan, kehormatan dan juga kawajiban. Semuanya sama saja bagiku. Aku telah membuat keputusan atas dasar prinsip itu dan aku tak menyesali keputusanku. Tapi, hanya karena prinsip itu... pelanggaran hokum militerku tak akan dihapus.” Ucap Shi Jin sambil meremas topi baretnya, lalu berjalan mendekati Mo Yun
Karena dunia militer punya hukumnya sendiri. Dan karena itu pula, kau tak perlu ikut campur...Dr. Kang.” Kata Shi Jin memperingatkanya.
Mo Yun menatap Shi Jin meminta maaf karena kekhawatiran telah menganggunya lalu masuk ke mobil dan mengendarai sendiri dan meninggalkan Shi Jin sendirian. 


Mo Yun menangis sambil menyetir mobil, sesekali airmatanya dihapus dengan tanganya dan berusaha untuk konsterasi menyetir. Shi Jin berjalan dibebatuan, terdengar suara menanyakan keberadaanya. Tapi Shi Jin malah bertanya balik apakah temanya itu sampai dengan selamat dan memberitahu sedang berada dipuncak
Temanya pikir Shi Jin itu sedang mengambil keputusan, Shi Jin menegaska sedang ada di bukti sungguhan. Dae Young masih mengunakan seragam lengkapnya menebak Shi Jin itu sedang dalam perjalanan pulang ke maskras. Shi Jin menyangkal kalau  hanya jalan-jalan saja.
Oh, ya sudahlah. Apa Kau sudang bertemu dengan Myung Joo?” tanya Dae Young
Apa itu pertanyaan yang penting sekarang? Aku baru saja kehilangan promosi dan juga gajiku!” jerit Shi Jin kesal
Kau pantas mendapatkannya, karena Kau kehilangan banyak demi wanita itu.” Komentar Dae Young sudah mengenal Shi Jin
Aku tak melakukannya karena wanita itu. Aku membuat keputusan sebagai seorang tentara untuk menyelamatkan orang.” Tegas Shi Jin mengelak
Ya, dan juga "Orang yang cantik".” Ejek Dae Young
Shi Jin terlihat kesal karena  Dae Young hanya mengejeknya, Dae Young mengatakan tak juga karena hanya ingin menelp temanya saja, lalu bertanya kembali apakah Shi Jin sudah bertemu dengan Myung Joo, Shi Jin pun menyindir Dae Young yang tak tahu dengan mahalnya panggilan internasional itu dan dengan nada geram mengejek tagihan temanya itu akan meledak hanya karena seorang wanita lalu menutup telpnya. 

Shi Jin turun dari mobil diantar oleh anak buahnya sampai ke markas, lalu masuk ke dapur. Ia membuka lemari sesuai dengan perintah Dae Young Promosimu dicabut dan gajimu dikurangi. Sepertinya kau membutuhkan minuman.Dan melihat sebotol wine yang masih disimpan.
Tiba-tiba diluar hujan turun dengan sangat deras membahasi jendela, Mo Yun masuk dan keduanya saling menatap, lalu Mo Yun memilih untuk pergi. Shi Jin langsung bertanya kenapa Mo Yun datang ke dapur. Mo Yun mengaku ingin minum. Shi Jin bertanya kenapa Mo Yun malah ingin keluar karenas seharus mengambil minum lebih dulu.
Mo Yun merasa Shi Jin itu ingin sendirian, Shi Jin mengatakan tidak seperti itu dengan blak-blakan ingin Mo Yun menemaninya. Mo Yun menengok, Shi Jin mengaku sudah tak uring-uringan lagi sekarang dan meminta Mo Yun untuk mendekat. Mo Yun pun akhirnya mendekat bersandar di lemari.

Suasana canggung terasa, Shi Jin bertanya Mo Yun ingin minum wine atau air putih. Mo Yun melirik, Shi Jin pun memberikan botol wine dan mengambilkan gelas. Tapi Mo Yun langsung meminumnya dari botol dan gelas ditanganya sia-sia. Mo Yun memberikan botolnya agar Shi Jin juga bisa minum.
Pasukan yang bertugas tak diijinkan untuk minum alkohol.” Ucap Shi Jin
Jadi, untuk apa kau mengeluarkan botol ini?” kata Mo Yun heran
Aku memang awalnya mau minum, Tapi, gagal karena ada saksi yang melihatku.” Ungkap Shi Jin, Mo Yun tersenyum mendengarnya.
Maaf... karena aku sudah egois.” Kata Mo Yun menyadari kesalahanya.
Aku juga mau meminta maaf, jadi Anggap saja aku sudah meminta maaf.” Ucap Shi Jin, Mo Yun langsung menolaknya.
Keduanya saling menatap Shi Jin terlihat ketakutan, Mo Yun mengejek Shi Jin yang tak perlu takut dan berpikir kalau ia bersikap egois lagi, lalu bertanya Bagaimana cara Shi Jin bisa pulang. Shi Jin berjalan ke tiang dapur sambil menceritakan dirinya jalan kaki dan dengan bangga hanya dirinya saja yang bisa sampai markas dengan berjalan kaki.


Mo Yun pikir tidak seperti itu, karena  melihatnya turun dari mobil tadi. Shi Jin melotot kaget dan merasa malu karena ketahuan, dengan wajah kesal kenapa Mo Yun harus bertanya lagi. Mo Yun mengaku ingin mendengar candaan Shi Jin lagi. Shi Jin tersenyum mendengarnya.
Kau terlihat tampan dengan seragam itu. Meskipun pujianku yang tadi tak begitu pantas bagi orang yang kena hukuman.” Kata Mo Yun
Bagaimana kau bisa tahu ini adalah seragamku?” goda Shi Jin menatap Mo Yun dengan menyandarkan tubuhnya ke tiang. Mo Yun heran dengan pertanyaan Shi Jin,
Wanita sangat menyukai seragam itu.” Jelas Mo Yun
Karena itulah aku suka jadi tentara.” Ungkap Shi Jin banga
Mo Yun kembali tersenyum lalu meminum wine dari botol, Shi Jin bertanya apakah rasanya enak. Mo Yun menganguk lalu memberikan botol winenya agar Shi Jin mencoba juga. Shi Jin menatap Mo Yun mengaku ingin menonton film dan minum bersamanya. Mo Yun merasa  Itu bisa saja menjadi kencan yang sempurna.

Shi Jin bertanya apakah Mo Yun ingin menonton film, Mo Yun menolaknya, Shi Jin menanyakan alasan Mo yun menolaknya. Mo Yun mengatakan ingin menonton film dengan seseorang danjuga sudah memikirkanya jika ia kencan bersama dengan pria tampan nantinya maka ia tak boleh nonton film yang bagus.
Aku selalu melihat majalah tentang film Dan majalah itu akhirnya... mengingatkanku padamu karena film itu menggambarkan Yoo Shi Jin bagiku.” Akui Mo Yun kembali meminum winenya, Shi Jin terus menatapnya, Mo Yun pikir Shi Jin itu ingin minum juga lalu menawarkannya.
Aku tahu cara lain untuk meminumnya.” Kata Shi Jin dan langsung mencium Mo Yun. 
bersambung ke episode 5 



FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar