PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 14 Oktober 2020

Sinopsis Record of Youth Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 

Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


 

Hye Jun melihat ponselnya dan terdiam saat melihat nama Ji A yang menelp dan akhirnya mengangkatnya. Ji A memberitahu kalau baru saja bertemu reporter hari ini dan akan muncul berita. Hye Jun tak mengerti apa maksudnya.

“Ji-a mendatangiku.” Ucap Hae Hyo. Hye Jun langsung melotot tajam pada temanya.

“Aku tak mengerti maksudmu.” Ucap Hye Jun. Ji A mengaku ia yang emosional dan egois sedikit berkorban untukmnya.

“Hae-hyo di sini. Aku akan bicara dengannya.” Ucap Hye Jun lalu menutup telpnya. 


“Ji-a memang begitu, tapi bukankah seharusnya kau beri tahu aku sebelum dia bertemu reporter?” ucap Hye Jun marah

“Karena itu aku datang.” Kata Hae Hyo. Hye Jun mengeluh kalau ini sudah telat.

“Apa Kamu marah? Aku ingin membantumu. Aku bekerja sama karena pikir bantuan itu akan membantumu. Apa aku salah?” ucap Hae Hyo

“Ada bantuan yang diterima dan tidak. Bantuan Ji-a tak bisa diterima.” Tegas Hye Jun marah

“Kau berubah.”komentar Hae Hyo. Hae Jun tak mengerti maksudnya dengan nada penuh amarah 


“Sa Hye-jun yang dulu… akan menghargai orang-orang yang membantunya dengan niat baik.” Ucap Hae Hyo.

“Apa Tak terpikirkan jika aku marah karena merasa berterima kasih? Aku tak mau memberi alasan yang payah. Ini akan terungkap seiring waktu. Aku hanya perlu bertahan.” Tegas Hae Jun

“Aku menawarkan alasan dan terlihat payah menggantikanmu. Kau juga akan seperti ini jika aku dalam situasi yang sama. Itu kau yang dulu.” Ucap Hae Hyo

“Kenapa kau terus menggunakan kata "dulu"? Kau yang dulu juga tak begini. Kau selalu menghargaiku dan berdiskusi denganku!” tegas Hae Jun dengan nada tinggi 


“Apa kau punya waktu untuk berdiskusi? Kau selalu sibuk. Kau bertemu Jeong-ha saat senggang. Tak ada waktu untuk kita.” Ucap Hae Hyo. Hae Jun hanya bisa terdiam.

“Jin-u dan Hae-na berpacaran.” Kata Hae Hyo. Hae Jun tak kaget mendengarnya. Hae Hyo tak percaya melihat reaksi Hae Ju.

“Kapan kau tahu… Jin-u dan Hae-na pacaran?” ucap Hae Jun. Hae Hyo tak percaya kalau temanya sudah tahu adiknya berpacaran dengan teman mereka.

“Kalian sungguh berengsek. Selain aku, kalian… Apa Kau menipuku?” ucap Hae Hyo sangat marah

“Bukan menipu. Hanya sampai Jin-u bicara…” kata Hae Jun. Hae Hyo tak peduli dan akhirnya berjalan keluar dari ruangan. 

“Ada apa dengannya? Aku yang seharusnya marah.” Ucap Hae Jun heran melihat temanya yang marah

“Rupanya pria sama saja seperti wanita saat bertengkar. Apa Tak saling pukul? Kalian tenang sekali. Di film biasanya saling meninju.” Ucap Nyonya Lee yang sedari tadihanya diam saja.

“Maaf... Pokoknya, kau harus berterima kasih saat bertemu Ji-a. Aku berterima kasih karena dia bertindak.” Kata Nyonya Lee

“Apa yang Hae-hyo dan Ji-a bicarakan?” ucap Hae Jun penasaran. 


Flash Back

Hae Hyo bertemu dengan Ji A,  berkomentar kalau Tak biasanya  melakukan ini dan yakin Orang tua Ji A  takkan diam jika berita keluar. Ji A bertanya apakah Hae Hyo masih menyukai pacar Hye-jun. Hae Hyo hanya  terdiam dengan senyuman bahagia.

“Kendalikan ekspresimu. Kau bisa ketahuan Hye-jun. Dia pasti sangat terluka jika tahu.” Kata Ji A mengejek

“Kau tahu persis titik lemah orang. Kau akan menjadi pengacara hebat.” Kata Hae Hyo 



“Aku ingin melindungi Hye-jun. Saat kami berpacaran, aku berkali-kali menguji dia dan cintaku. Dia tulus. Itu kesimpulanku. Karena sekarang ada halangan untuk memilikinya, maka aku makin menginginkannya.” Ucap Ji A

“Aku senang karena ada satu hal yang tak bisa kau miliki sesukamu.” Kata Hae Hyo

“Jika aku tak bisa memilikinya, kau tak punya kesempatan untuk memiliki Jeong-ha. Bukankah kau diuntungkan jika hubunganku dengan Hye-jun baik? Meyakinkan, 'kan?” ucap Ji A yakin

“Meyakinkan. Namun, Jeong-ha bukan orang yang memacari siapa saja karena putus dengan Hye-jun.” ucap Hae Hyo

“Apa Kau pikir aku begitu? Kau pintar menyindir orang. Telepon reporter Out News dan buat janji untukku.” Ucap Ji A. 


Di ruangan bawah tanah, Tuan Sa melihat semua pekerjaa meminta agar Harus tambah satu sakelar dan stopkontak dibagian dinding.  Tuan Kim mengeluh kalau Tuan Sa sudah bilang jadi menyuruh agar naik saja, dan mengejek kalau Tuan Sa yang sedang mengawasi.

“Tidak. Aku akan naik ke atas.” Kata Tuan Sa. Anak buahnya memanggil Tuan Sa kalau Tak perlu beri makan malam.

“Kau berharap dapat makan malam?”ejek Tuan Sa.  Tuan Kim menyuruh agar cepat naik dan istirahat. Tuan Sa mengerti lalu keluar ruangan,  saat akan masuk dan akhirnya langsung pergi keluar rumah. 


Kakek Sa sibuk merapihkan rambutnya, dan terlihat tampan dengan setelan wajahnya. Pintu kamarnya diketuk, Tuan Kim masuk ke kamar. Kakek Sa bertanya apakah Konstruksi sudah selesai. Tuan Kim merasa kalau sudah menduga kalau Tuan Sa tak naik.

“Apa maksudmu?” tanya Kakek Sa heran. Tuan Kim memberitahu kalau sudah menyuruh Tuan Sa naik dan istirahat, tapi malah pergi.

“Kenapa istirahat? Apa Dia sakit?” tanya Kakek Sa. Tuan Sa memberitahu kalau  Tuan Sa tak mau keluarga tahu.

“Aku dipaksa tutup mulut. Dia ke rumah sakit untuk periksa bahunya. Katanya harus dioperasi lagi jika dia tak hati-hati. Tolonglah bicara dengannya. Sebelumnya dia pernah dioperasi, tapi keadaannya tak membaik.” Ucap Tuan Kim

“Dia bisa terus bekerja?”tanya Kakek Sa. Tuan Kim menjawab  Tidak bisa tapi Tuan Sa itu keras kepala sekali.

“Dia terlalu keras kepala. Dia sangat dominan seperti ibunya.” UcapKakek Sa.

“Sepertinya dia malu pada Hye-jun. Dia sangat menentang karier Hye-jun.” kata Tuan Kim. Kakek Sa hanya bisa mengeluh dengan tingkah anaknya. 


Kakek Sa keluar dari rumah melihat anaknya yang baru pulang dan langsung bertanya Habis dari mana. Tuan Sa menjawab Dari sana dan bertanya Ayahnya mau ke mana. Kakek Sa pikir Sepertinya dapat pekerjaan karena diminta ke tempat kursus.

“Pergilah.” Ucap Tuan Sa tak peduli. Kakek Sa pun bertanya apa yang akan dilakukan anaknya.

“Kenapa bertanya? Aku harus selesaikan kamar Hye-jun.” ucap Tuan Sa. Kakek Sa pun meminta agar bisa mengantarnya.

“Ayah harus berjalan sampai ujung sana jika pergi naik bus.” Ucap Tuan Sa. Kakek Sa mengeluh kalau sudah tua, mudah lelah.

“Ayah terlihat lebih bugar dariku.” Keluh Tuan Sa. Kakek Sa kembali bertanya apatak mau mengantarnya.

“Tak mau. Kenapa aku harus antar Ayah?” ucap Tuan Sa dengan nada sinis. 


Tapi akhirnya Tuan Sa mengantar ayahnya dengan truk. Kakek Sa menyindir kalau Alangkah baiknya jika  anaknya bisa bicara lemah lembut. Tuan Sa pikir terlalu sempurna jika bicara lemah lembut.

“Kau kehabisan kata-kata setelah mengatakan itu, 'kan?” ejek Kakek Sa.

“Aku tak pernah tonton drama, tapi jadi suka karena Hye-jun. Di drama, para wanita suka jika pria berkata seperti itu.” Kata Tuan Sa.

“Itu karena wajah tampan. Tak akan diterima jika kau yang katakan.”ejek Kakek Sa 

“Siapa yang melahirkanku seperti ini? Ayah tak menurunkan satu pun hal baik padaku.” Keluh Tuan sa.

“Apa Boleh nyalakan musik?” tanya Kakek Sa. Tuan Sa langsung melarangnya, tapi akhirnya menyalakan untuk ayahnya. 


Keduanya menaiki tangga, Tuan Sa mengeluh kalau  Ayahnya bisa masuk sendiri dan Kenapa mengajaknya masuk juga. Kakek Sa mengaku Itu mengganggu pikirannya karena anaknya pasti bosan menunggu di depan sendirian dan akhirnya masuk ke sebuah ruangan.

“Kau sudah datang?Apa Kau sudah menemukan manajer?” sapa guru melihat Kakek Sa datang dengan seorang pria.

“Bukan. Ini putraku.” Ucap Kakek Sa. Guru kaget ternyata putramnya karena Tak mirip sama sekali. Tuan Sa menahan amarahnya dan akhirnya mereka pun duduk.

“Sejujurnya masih terlalu dini untuk mencari manajer. Namun, bisa berubah jika kami bekerja keras dan memberikan banyak pekerjaan padamu.” Ucap Guru. 


“Ada pekerjaan apa?” tanya Kakek Sa. Guru mengaku Ada tawaran iklan televisi, yaitu Produk kesehatan. Tuan Sa kaget mendengarnya.

“Bayarannya pasti mahal.” Kata Kakek Sa tak percaya. Guru membenakran kalau Ini iklan televisi.

“Berbeda dengan iklan selebaran. Apa Mau minum?” ucap Guru.  Kakek Sa membenarkan dan ingin tahu ada minuman apa saja.

“Itu… Pak. Apa bisa beli minum di lantai satu gedung ini?” ucap Guru. Tuan Sa akan pergi.

“Kenapa kau menyuruh putraku? Aku tak perlu minum apa pun.” Ucap Kakek Sa marah.

“Itu bukan hal sulit. Kalian Mau dibelikan apa?” ucap Tuan Sa.  Kakek Sa menyuruh agar Jangan merepotkan diri sendiri.

“Astaga. Tampaknya kau sangat menyayangi putramu. Aku suruh karyawanku saja.” Ucap Guru.

“Ada apa dengan Ayah? Aku bisa pergi membelinya.”kata Tuan Sa heran dengan sikap temanya.

“Ayah perhatian padamu, kenapa kau mengeluh?” ucap Kakek Sa. Tuan Sa mengaku tak mengeluh.

“Itu karena Ayah bertingkah aneh.” Ucap Tuan sa. Kakek Sa pikir anaknya  harus memperbaiki sifatnya


“Apa harus memperlakukan ayah seperti ini di depan pengajar? Bagaimana dia akan memandang ayah? Bagaimana dengan keluarga kita? Pasti dia kira kita kasar.” Ucap Kakek Sa

“Tak seperti itu. Aku saja yang pergi.” ucap sang guru merasa tak enak hat. Kakek Sa merasa tak enak hati dengan gurunya yang bergegas keluar.

“Ayah tak seharusnya mengajakmu ke sini. Ini memalukan.” Kata Kakek Sa. Tuan Sa pikir akan pergi saja

“Tidak. Tunggu sampai selesai.” Ucap Kakek Sa. Tuan Sa duduk dan kakek Sa kembai mengeluh kalau ini Malu sekali.


Nyonya Han melihat artikel [KELAYAKAN KEMENANGAN SA HYE-JUN SEBAGAI AKTOR TERBAIK DIPERTANYAKAN] Dan komentar [BUKANKAH SA HYE-JUN, MASIH PENDATANG BARU? AKU TAK PAHAM ALASAN DIA BISA MENANG] wajahnya pun langsung sedih.

“Ae-suk! Kenapa?” ucap Nyonya Kim saat masuk rumah. Nyonya Han mengaku kesal setiap melihatnya.

“Orang-orang stasiun siaran tak bodoh. Dia menang karena memang berhak.” Ucap Nyonya Han kesal

“Tentu saja. Tak ada yang pantas menang selain Hye-jun. Apa Orang-orang masih bahas penghargaan?” ucap Nyonya Kim

“Kulihat berita dengan komentar jahat.” Keluh Nyonya Han. Nyonya Kim kesal dan ingin tahu berita apa.

“Aku harus beri tahu para anggota kami. Anggota Pohon Pemberi, Hye-jun Segalanya, Galeri Sa Hye-jun. Aku akan kumpulkan penggemardan galang dana untuk menggugat.” Ucap Nyonya Kim



“Namun, apa harus digugat?” ucap Nyonya Han.Nyonya Kim meegaskan kalau itu Harus.

“Di masa kini, orang-orang didorong untuk menggugat. Tren sekarang tak beri ampun.” Kata Nyonya Kim 

“Kenapa Bu Lee tak menggugat?” kata Nyonya Han.  Nyonya Kim juga heran merkea menggugat karena frustrasi. 

“Kontrak Hye-jun sampai kapan?” ucap Nyonya Kim. Nyonya Han mengaku tak tahu. Nyonya Han menjawab Coba cari tahu.

“Dia butuh agensi yang lebih besar dan bagus. Agensi ini tak becus. Nama Jjamppong juga aneh. Memangnya restoran masakan Tionghoa?” ucap Nyonya Kim kesal. 


Nyonya Han melihat apa yang dibawa Nyonya Kim. Nyonya Kim memberitahu kalau Hari ini harus antarkan lauk ke rumah Hae-hyo jadi buatkan untuk keluarga Nyonya Han juga.

“Baguslah. Jika kamar Hye-jun sudah selesai dibangun, aku bingung mau masak apa.” Ucap Nyonya Han tersenyum

“Apa Yeong-nam ikut mengerjakannya?” ucap Nyonya Kim. Nyonya Han pikir Seharusnya begitu.

“Ae-suk. Yeong-nam…Tak jadi.” Kata Nyonya Kim ragu, Nyonya Han ingin tahu ada apa.

“Aku beri tahu nanti. Aku harus ke rumah Hae-hyo. Aku selalu tak mau beranjak jika ke rumah ini.” Ucap Nyonya Kim pamit. Nyonya Han pun mengucapkan Terima kasih.


Nyonya Kim mencoba menelp anaknya tapi tak diangkat, lalu berbicar sendiri.

“Won Hae-na... Jadi, kau akan terus begini? Menurutmu berapa lama lagi Apa kau bisa menghindari ibu?” ucap Nyonya Kim. Saat itu Hae Na mengendap-ngendap menuruni tangga dan akan keluar dari rumah.

“Kau di rumah, tapi tak angkat telepon ibu?” sindir Nyonya Kim. Hae Na kaget dan langsung tertunduk meminta maaf.

“Apa Mau bertemu Jin-u?” tanya Nyonya Kim. Hae Na membenarkan.

“Sebelum bertemu, Apa kau bisa luangkan sepuluh menit untuk ibu? Kita bicara nanti jika tak bisa.” Kata Nyonya Kim. Hae Na mengaku bisa dan langsung duduk. 


“Ibu sudah memikirkannya.” Kata Nyonya Kim. Hae Na pikir kalau Ibunya akan marah

“Tidak. Ibu bukan orang yang seketat itu.Kau harus hidup mencintai seorang pria jika menikah. Sebelum itu, ibu setuju kau mencoba berbagai hubungan.” Ucap Nyonya Kim. Hae Na tak percaya mendengarnya.

“Tentu, ibu berharap pacarmu adalah pria yang ibu suka.Namun, tak apa-apa. Kau bisa terpesona pada Jin-u.” Kata  Nyonya Han. Hae Na langsung mengucapkan terimakasih.

“ Tapi kau, Jangan hamil dan jangan menikah. Pulang setelah main. Diizinkan.” Ucap Nyonya Kim

“Ini bukan disetujui.” Keluh  Hae Na. Nyonya Kim menegaksan Tak ada milik anaknya yang bukan milik ibunya. 


“Kau bisa mengeklaim kepemilikanmu.Namun, hanya tubuhmu yang bisa kau klaim sepenuhnya.” Kata Nyonya Kim

“Apa aku pernah minta? Kenapa klaim kepemilikan?” keluh Hae Na. Nyonya Kim menegaskan kalau iajuga patuh pada orang tua.

“Apa Aku harus hidup begitu karena Ibu juga begitu?” ucap Hae Na. Nyonya Kim membenarkan.

“Kau bisa Pergi dan temui Jin-u. Bahkan Main dan ubah suasana hatimu. Pelajarilah betapa menyakitkannya memiliki hubungan tanpa masa depan. Itu akan mendewasakanmu.” Ucap Nyonya Kim

“Rupanya Ibu jauh lebih menakutkan daripada yang aku kira.” Keluh Hae N. 


“Ibu terus memandumu. Hubungan kita baik karena kau terus bertindak sesuai panduan ibu. Kau yang merusak hubungan kita. Memang sudah rusak dan takkan bisa kembali seperti dulu. Atur ulang hubungan kita.” Ucap Nyonya Kim

“ Tak mau.”kata Hae Na. Nyonya Kim menegaskan juga tak mau dan menegaskan akan mulai memberikan sanksi.

“Kau tahu sanksi pertama saat suatu hubungan memburuk?” ucap Nyonya Kim. Hae Na bertanya Kartu dulu Atau mobil dulu.

“Kau sungguh pintar. Mana yang lebih merugikanmu?” kata Nyonya Kim. Hae Na merasa Sama-sama merugikan.

“Jangan menggunakan trik. Menurut ibu, kartu lebih merugikanmu. Mari kita mulai dari yang lemah. Mobilmu disita. Serahkan kunci mobilmu.” Ucap Nyonya Kim. Hae Na mengeluh kesal tapi akhirnya memberikan kunci mobilnya.

“Ini sudah Beres. Silakan pergi dan bersenang-senang. Selamat berpacaran. Selamat datang di kenyataan.” Ucap Nyonya Kim. Hae Na cemberut pun keluar dari rumah. 


Ji A bertemu dengan Nona Kim melihat ruangan dan  tak tahu kalau akan merekam video. Nona Kim pkir Jika mau membantu, lakukan hal yang pasti. Ji Ah mengaku suka itu. Nona Kim pikir Ji A sudah tahu firma hukum tujuannya setelah lulus. Ji A kaget Nona Kim yang bisa tahu.

“Salah satu sepupuku bekerja di firma hukum ternama. Kami selalu dibandingkan sejak kecil. Jadi Kau dan Hye-jun pacaran cukup lama?” kata Nona Kim

“Kenapa dia tak sopan?” gumam Ji A kesal lalu menjawab kalau mereka bersama di awal dan pertengahan 20-an.

“Aku tahu semua mengenai Hye-jun saat itu.” Kata Ji A. Kameramen memberitahu kalau sudah siap.

“Calon pengacara yang masih setia meski cinta sudah berakhir. Apa benar sudah berakhir?” tanya Nona Kim

“Bukan urusanmu. Menyebalkan.” Gumam Ji A kesal dan akhirnya Nona Kim menyuruh agar menjawab ke arah kamera. 


Jin U menungu ditaman, Hae Na datang menghampirinya. Jin U menyambutnya lalu bertanya apa tak ketahuan ibunya.  Hae Na memberitahu kalau Ibu mengizinkan berpacaran dengan Jin U. Jin U memuji kalau Ibu Hae Na  sungguh orang baik dan merasa tak perlu cemas yang tak beralasan.

“Kita lebih terperangkap dalam aturan. Ibu sangat kreatif. Ini kali pertama aku merasa tak bisa mengalahkan Ibu.” Ucap Hae Na.

“Kenapa harus kalahkan ibumu? Aku tak pernah berpikir begitu.” Ucap Jin U

“Jika terpikir, aku tak akan menyembunyikan hubungan kita. Rupanya kau lebih pengecut dariku.” Kata Hae Na. 


“Ya. Aku pengecut. Pernikahan adalah kenyataan. Pacaran adalah fantasi. Aku tak mau beralih dari fantasi ke kenyataan.” Jelas Jin U. Hae Na menganguk mengerti.

“Kau kini sedikit bisa diandalkan. Bukan orang yang emosional tanpa solusi.” Ucap Hae Na memuji

“Itu karena aku mencintaimu.” Ungkap Jin U. Hae Na hanya bisa terdiam. Jin U mengejek kalau jantung Hae Na yang berdebar.

“Tidak!” teriak Hae Na. Jin U mengeluh Ha Nae galak sekali lalu melihat ponselnya yang bergetar.

“Apa ini? Dia pasti sibuk mengurus masalahnya. Kenapa menelepon?” ucap Jin U lalu mengangkat telp dari Hye Jun.

“Apa Kau baik-baik saja?” tanya Jin U. Hye Jun heran Jin U yangtahu kalau tak baik-baik saja.

“Ayo bertemu di tempat kita biasa bertemu. Aku terlalu mengabaikan kalian belakangan ini.” Kata Hae Jun. 


Ji A berjalan di lorong rumah dan melihat papan nama agency, lalu tersenyum melihat nama Jammppong. Akhirnya Ia menekan bel rumah, Nyonya Lee pun membuka pintu lalu menyuruh masuk. Ji A melihat Hye Jun yang ada didalam ruangan.

“Aku akan keluar sebentar. Panggil aku jika sudah selesai.” Kata Nyonya Lee. Hye Jun menganguk mengerti 


“Kantor ini lebih kecil dari perkiraanku. Tidakkah seharusnya pindah?” komentar Ji A. Hye Jun merasa kalau itu pas untuk mereka lalu menawarkan teh.

Dua cangkir teh di atas meja, Hye Jun mengaku tak berhara muncul di hidupnya lagi. Ji A mengaku selalu menentang harapan Hye Jun karena Dengan cara itu bisa menguji cintanya. Hye Jun pikir kalau Butuh waktu cukup lama untuk sadar bahwa itu ujian.

“Aku memutuskan tak bisa diuji terus setiap bertemu.” Kata Hye Jun. Ji A pikir mereka Kini santailah.

“Aku tahu kita tak bisa menjalin hubungan kembali. Aku juga menerima bahwa kita tak bisa menjadi teman.” Jelas Ji A. Hye Jun pun mengucapkan Terima kasih.


“Aku senang kau sukses. Namun, hanya aku yang bisa menghancurkanmu. Aku tak bisa membiarkan orang lain menyakitimu”ucap Ji A. Hye Jun pun ingin tahu kelanjutannya.

“Aku membuktikan bahwa Sa Hye-jun mencintai perempuan. Aku senang bisa melakukan itu. Aku tak berutang padamu lagi.” Kata Ji A

“ Aku tak mengira kau berpikir kau berutang padaku.” Tegas Hye Jun. Ji A menegaskan kalau Ji A juga punya hati.

“Kurasa kau menganggap aku sangat jahat. Ada banyak tindakan yang membuatku terlihat begitu, tapi aku menyesal. Aku pikir itu perhatian yang bisa aku lakukan untukmu.’ Jelas Ji A. 




Di salon, Jeong Ha menerima pelanggan memberitahu kalau Kulitya langsung memerah meski disentuh sedikit. Ia tahu kalau pelangganya punya kulit kombinasi yang juga sangat sensitif. Si pelanggan mengaku Makin parah karena kurang tidur.

“Ini hari jadi pernikahanmu. Kau juga akan melakukan pemotretan. Gugup hal yang wajar. Pertama-tama, aku akan oleskan krim untuk menenangkan kulit.” Ucap Jeong Ha

“Senang ada salon untuk satu orang. Aku merasa seperti putri.” Kata Si wanita. Jeong Ha meminta agar sering-seringlah datang.

“Aku harap kau tak terlalu terkenal. Biar aku saja yang tahu.”kata Si wanita. Jeong Ha mengucapkan Terima kasih dan anggap itu pujian dan tak melihat kalau Hye Jun yang menelp. 


Do Ha melihat SNS milik HAE-HYO dengan 1,1 JUTA PENGIKUT sambil menaikan kaki ke meja. Tuan Lee masuk ruangan, berkomentar Do Ha terlihat nyaman sekali sambil menyindir Apa ini ruangannya. Do Ha tahu kalau Ini bukan ruangannya tapi ia yang bayar perawatan ruangan ini.

“Bajingan ini berlagak lagi.” Ucap Tuan Lee mengumpat. Do Ha mengaku Ini sungguh aneh.

“Jumlah pengikut media sosial Hae-hyo terlalu banyak.” Kata Do Ha. Tuan Lee heran Kenapa memikirkan itu

“Aku terus menggali jika terpikirkan sesuatu. Masuk akal jika dia menggunakan layanan penambah pengikut seperti katamu.” Kata Do Ha

“Meski dia menggunakan layanan itu, apa hubungannya denganmu?” ucap Tuan Lee

“Hae-hyo terlalu sempurna. Aku terganggu dengan aura santainya. Harga diriku sangat jatuh belakangan ini. Jika tahu dia melakukan trik semacam ini, perasaanku menjadi lebih tenang. "Kau tetap melakukan itu meski keluargamu kaya."” Ucap Do Ha

“Dalam hal itu, popularitas itu adil. Tak bisa didapat sembarangan. “ kata Tuan Lee. Tapi Do Ha yakin Menurutnya dia menggunakan layanan.


Di rumah, Nyonya Kim datang melihat majikanya yang tak pergi keluar.. Ibu Hae Na mengeluh kalau anaknya memiliki ibu mertua seperti itu. Nyonya Kim memberitahu kalau akan menaruh lauk di dalam kulkas dan bisa memberitahu lauk apa yang harus dibuat selanjutnya.

“Aku harus minta dia berhenti kerja.” Gumam Nyonya Kim lalu teringat dengan komentar suaminya.

Flash Back

Tuan Won makan dengan menu lengkap lalu memuji Ibunya Jin-u memang pintar memasak karena Rasa lauknya pas. Ia pun memuji ada rasa yang tertinggal bersih.

“Makanya, aku menahan banyak hal. Agar kau bisa makan enak.” Ucap Nyonya Kim

“Terima kasih. Kau buat aku terharu, Tahan terus” ucap Tuan Won. 


***

Nyonya Kim duduk di ruangan, Ibu Ji U heran majikanya yang belum memberikannya padaku. Nyonya Kim menghela nafas kalau harus minta dberhenti bekerja lalu bertanya Belakangan ini ada hidangan musiman apa, karena sedang  tak nafsu makan.

“Itu… Bagaimana dengan makanan pedas? Deodeok dibumbui gochujang?” ucap Ibu Ji U

“Jangan dibumbui gochujang, tapi goreng dengan tepung ketan. Jangan buat di rumahmu. Buat di sini saja. Enak dimakan langsung.” Ucap Nyonya Kim penuh semangat. 


“Apa kau Mau kodari-jjim juga?”tanya Ibu Jin U. Nyonya Kim dengan senyuman sumringah mengaku sangat suka,

“Apa ini? Aku tak jadi minta dia berhenti karena makanan?” gumam Nyonya Kim bingung dengan sikapnya.

“Aku bisa membuat agu-jjim juga.” Kata Ibu Jin U. Nyonya Kim mengaku ingin sekali makan itu.  Ibu Jin U berjanji akan membuatkanya.

“Saat kesal, melampiaskan dengan makanan adalah hal terbaik” kata Ibu Jin U . Nyonya Kim heran Kenapa ia kesal?

“Kau tak kesal?” tanya Ibu Jin U. Nyonya Kim mengaku tak kesal lalu mengeluh Ibu Jin U pintar ambil kesimpulan mengenai perasaan orang.



“Lebih baik komentar jahat daripada tak ada komentar. Aku pikir kau kesal karena Hae-hyo tak ada komentar.” Ucap Ibu Jin U

“Jika tak menjadi pesohor, Hae-hyo bisa lakukan hal lain  Ada banyak option.”kata Nyonya Kim. Ibu Jin U tak mengerti apa itu option.

“Maksudku, ada banyak pilihan.” Kata Nyonya Kim menahan amarahnya.

“Begitu. Seharusnya kau bilang "pilihan" dari awal. Aku tak paham kau bicara apa. Aku harus gunakan kata itu. Aku pamit dulu.” Kata Nyonya Kim

“Aku harus bilang” gumam Nyonya Kim lalu meminta agar Jangan datang lagi. Tapi Ibu Jin U sudah pergi. Nyonya Kim pikir sudah bilang.

“Dia yang tak dengar dan terus datang.” Kata Nyonya Kim merasa sudah melakukanya. 


Hae Hyo masuk ke dalam salon, Jeong ha melihat Tampaknya jadwal Hae Hyo longgar. Hae Hyo mengaku sudah bicara dan dia ingin bertemu. Jeong Ha bingung. Hae Hyo meberitahu Aktris yang dibilang waktu itu. Jeong Ha pun mengucapkan terimakasih dan ingin tahu siapa dia.

“Akan kuberi nomornya.” Ucap Hae Hyo.  Jeong Ha berteriak bahagia karena  Luar biasa!

“Aku selalu melakukan sesuatu untukmu. Namun, kau? Aku datang meluangkan waktu. Kau balas dengan "tampaknya jadwalmu longgar"? Astaga.” Ucap Hae Hyo

“Astaga, aku tak merasa bersalah lagi. Aku mau mengolok-olokmu. Jangan sok tua. Kapan ulang tahunmu?” kata Jeong Ha.

“27 September. Kau kapan?” tanya Hae Hyo. Jeong Ha menjawab 4 November lalu memanggilnya “Oppa” Hae Hyo mengeluh meminta agar Jangan lakukan itu.

“Ayo makan.” Kata Hae Hyo.  Jeong Ha mengaku  harus pulang. Hae Hyo mengeluh Jeong Ha yangselalu mau pulang saat bersamanya dan ingin tahu alasanya hari ini.

“Aku harus siap-siap untuk siaran nanti.” ucap Jeong Ha. Hae Hyo pikir Jeong Ha berubah menjadi Youtuber hari ini.

“Pengikutmu tak begitu banyak, 'kan?” ejek Hae Hyo. Jeong Ha mengaku Itu karena tak fokus padanya dan tak berencana begitu.


“Itu hanya media untuk berinteraksi ringan dengan orang-orang seperti buku harian.” Kata Jeong Ha.

“Berinteraksi apa hari ini?” tanya Hae Hyo. Jeong Ha menyuruh Hae Hyo  Lihat siarannya jika penasaran.

“Apa Kau bertemu Hye-jun?” tanya Jeong Ha. Hae Hyo menganguk  dan mengaku tak suka dia.

“Dia tak peduli dengan teman karena asyik dengan pacar. Hye-jun pintar sekali. Kapan kau bertemu Hye-jun?” ucap Hae Hyo

“Kami hanya berkirim pesan. Dia sibuk dan lelah. Aku enggan mengajak bertemu. Aku juga tak mau tanya soal rumor itu.” Kata Jeong Ha.

“Bukankah hubungan kalian kuat? Kenapa tak bisa tanya?” ucap Hae Hyo. Jeong Ha pikirakan menunggu sampai dia bicara.



“Dulu aku tak bisa menunggu. Aku berubah.” Ucap Jeong Ha. Hae Hyo merasa Jeong Ha mencintainya.

“Cinta memang seperti itu. Kau mulai suka hal yang tak bisa dilakukan.” Ucap Hae Hyo

“Kau sangat paham, tapi kenapa tak pacaran?” ejek Jeong Ha. Hae Hyo melihat JeongHa itu Ceria sekali mengajak pergi dan akan mengantar.

“Biar aku yang lakukan tugas Hye-jun.” kata Hae Hyo. Jeong Ha mengaku tak pernah minta Hye-jun lakukan ini.

“Dia lelah. Aku suruh dia istirahat di rumah.” Ucap JeongHa. Hae Hyo pikir Jeong Ha agar Cepat keluar.

***

Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad...   First Love

Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

 

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar