PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 10 September 2020

Sinopsis Record of Youth Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Nyonya Kim melihat media social anaknya sudah berubah PENGIKUT, 553.000 Ia pun bahagia melihatnya. Ia mengaku  Sebenarnya aku ingin membeli 10.000 pengikut lagi, tapi tak ada isu karena nanti Pasti ketahuan.
“Aku harus tambah banyak saat artikelmengenai pemilihan pemain film keluar.” Ucap Nyonya Kim memasang iklan untuk menambah pengikut. Dan memilih BIAYA 1.357.000 WON UNTUK 3.670 PENGIKUT
Saat itu Hae Nee ddtang mengambil minum. Nyonya Kim tahu anaknya  selalu menganggur setiap selesai ujian jadi memintaagar Berhenti mencamil karena itu membuatnya gemuk. Hae Nee mnegerti dan mengambil botol minum di kulkas.
“Ibu punya bakat untuk berbuat kejam pada orang. Tapi Ibu sedang apa?” ucap Hae Nee
“Bukan apa-apa.” Ucap Nyonya Kim langsung menutup laptopnya. Hae Nee pun curig karena ibunya buru-buru menutup laptopnya dan menduga sesuatu. Nyonya Kim mulai panik
“Kudengar sedang tren bagi ibu-ibu Gangnam punya pacar.” Ucap Hae Nee. Nyonya Kim menegaskan bukan orang seperti itu.
“Meski ayahmu membosankan, ibu adalah orang yang bermoral.” Tegas Nyonya Kim. Hae Nee muji itu bagus.
“Apa kau mau dijodohkan?” ucap Nyonya Kim sebelum anaknya pergi. Hae Nee mengeluh kalau itu Kuno sekali.
“Cari pacar saat masuk sekolah hukum.” Ucap Nyonya Kim. Hae Nee meminta agar membiarkan memilih sesukanya.
“Baik. Lakukan sesukamu. Namun, pernikahan tak bisa sesukamu. Semua keluarga harus setuju.” Tegas Nyonya Kim
“Aku tak bisa bersama Ibu lebih dari sepuluh menit.  Tingkat stresku meningkat.” Keluh Hae Nee kesal
“Ibu mau ke mal. Sepatu kets Chanel yang baru keluar sangat cantik.” Ucap Nyonya Kim
“Apa Ibu pergi sekarang?” tanya Hae Nee berubah dengan senyuman bahagia. Nyonya Kim menegaskan Hanya ia yang memihak anaknya sampai akhir.
“Kau cukup pintar untuk mengerti.” Ucap Nyonya Kim. Hae Nee bertanya Ibunya mau terlihat adil dengan memercayainya.
“Semua perhatian Ibu tertuju ke Hae-hyo. Ibu hanya memberikanku barang mewah.” Keluh Hae Nee.
“Tunggu saja. Giliranmu tiba setelah ibu selesai dengan Hae-hyo.” Tegas Nyonya Kim.
“Apa Ibu tak jadi ke mal?” tanya Hae Nee. Nyonya Kim berjalan pergi mengaku harus ganti baju.



Jin U menemani Hye Hyo di luar gedung dan melihat Kaki temanya  selalu gemetar tiap ada masalah dan ingin tahu Ada apa. Hye Hyo mengaku dapat kabar dari audisi film. Jin U pikir Hye Hyo bisa Katakan saja karena Hye-jun terus gelisah menunggu kabar.
“Aku tak enak hati. Dia akan wajib militer jika tak lulus.” Ucap Hae Hyo bingung
“Aku ajak dia untuk wajib militer bersama, tapi dia tak mau.” Keluh Jin U
“Saat itu dia bersiap untuk acara Gucci, jadi, tak bisa pergi.” kata Hae Hyo. Jin U pun menyarankan agar menyuruh menelepon studio.
“Hari ini mereka tutup. .. Kau saja yang beri tahu.” Ucap Hye Ho. Jin U langsung menolak merasa  Tak bisa
“Aku tak terlibat. Lebih baik dengar langsung dari kau.” Kata Jin U. Hye Hyo pun memikirkan apa yang akan dilakukan.
“Beri tahu saat dia senang.” Ucap Jin U. Hye Hyo mengeluh  Bagaimana bisa tahu kapan Hye Jun sedang senang.
“Hei! Hari ini pertandingan sepak bola. Bagaimana jika Korea menang?” ucap Jin U. Hye Hyo pun berpikir kalau itu ide Luar biasa. 


Hye Jun keluar dengan Jeong Ha, Jin U melambaikan tanganya. Hye Jun pun membalasnya. Jeong Ha meminta agar mengembalikan tasnya. Hye Jun pikir tasnya berat jadi akan antar sampai halte bus. Hye Jun mengambil tasnya merasa tak perlu karena bisa sendiri.
“Kau mandiri sekali.” komentar Hye Jun. Jeong Ha mengaku tak punya tempat bersandar.
“Itu Tak disangka. Kukira kau tumbuh nyaman karena kau penggemar Hae-hyo.” Ucap Hye Jun. Jeong Ha heran Hye Jun berpikir seperti itu.
“Biasanya orang tertarik dengan orang yang serupa. Aku begitu.” Ucap Hye Jun.
“Kau tak ikut pergi?” teriak Jin U yang tak tahan menunggu. Hye Jun menjawab akan ikut.
“Sampai jumpa nanti.” ucap Hye Jun pamit. Jeong Ha berpikir  Mana bisa bertemu lagi dan menurutnya Berbasa-basi seperti itu tak baik.
“Berikan ponselmu.” Ucap Hye Jun. Jeong Ha memberikan ponselnya lalu  meminta Hye Jun agar Datanglah ke salonnya karena akan memberi diskon pesohor.
“Kau cuek sekali pada idolamu. Biasanya orang tunda pekerjaan dan ikut pergi.” komentar Hye Jun
“Jika begitu, rutinitasku terganggu. Rutinitasku harus teratur agar bisa mendukung seseorang dengan stabil.” Ucap Jeong Ha.
“Apa Karena namamu, kau suka kestabilan?” ejek Hye Jun. Jeong Ha mengaku bukan
“Karena namaku, hidupku penuh ketidakpastian.” Ucap Jeong Ha. Hye Jun pikir Jeong HaTak kalah sekata pun.
“Kalah sekata akan membuatmu kalah terus.” Tegas Jeong Ha. Hye Jun yakin Jeong Ha  pasti tak akan tertindas.
“Aku terus tertindas.  Setelah keluar dari perusahaan, aku lebih tertindas.” Keluh Jeong Ha
“Jadi, kau melampiaskan semua unek-unekmu padaku?” kata Hye Jun heran. Jeong Ha pikir Hye Jun menyerang dengan fakta.
“Orang bilang aku lugas.” Kata Hye Jun lalu memperlihatkan nomor ponselnya pada Jeong Han.
“Dia berbeda dengan yang aku bayangkan.” Gumam Jeong Ha terpana. Hye Jun heran dengan tatapan Jeong Ha.
“Tanpa alasan.” Ucap Jeong Ha dengan senyuman. Hye Jun bertanya sampai kapan akan menatapnya. Jeong Ha menjawab samapi Hye Jun pergi.
“Aku harus segera pergi. Kau membuatku tak nyaman.” Ucap Hye Jun malu lalu beranjak pergi.
 “Aku berbicara dengan manusia, tapi seperti berbicara dengan boneka.” Ucap Jeong Ha bahagia dan melihat Hye Jun pergi dengan teman-temanya. 
“Hei...Sadarlah, An Jeong-ha! Sekarang Hye-jun adalah kenyataan.” Ucap Jeong Ha menepuk wajahnya. 



Di ruangan, Tuan Lee memberikan surat kontrak pada seorang pria lalu mengeluh karena terus membaca seperti itu. Si pria tahu kalau Kata teman-temannya masa kontraknya terlalu lama. Tuan Lee pikir si pria tak perlu melakukanya.
“Kita tak bisa kerja sama jika tak saling percaya. Apa kau tahu seberapa banyak waktu dan uang yang diperlukan untuk melatih pemula?” ucap Tuan Lee mencoba menyakinkan.
“Kata teman-temanku, pembagian hasil 30 persen terlalu sedikit.”ucap Si pria.
“Siapa teman-temanmu itu? Anak-anak zaman sekarang terlalu perhitungan, materialistis, dan mudah menyerah. Itu sebabnya kalian tak bisa berhasil.” Ucap Tuan Lee mengeluh. Sipria menutup KONTRAK KERJA
“Itu karena aku sangat berhati-hati. Aku pikirkan sekali lagi. Kau benar-benar membutuhkanku. Bagaimana kau bisa menjalani hidupmu jika tak bisa tegas? Kau pasti akan kena tipu.”ucap Tuan Lee terus menyakinkan.
“Ibuku bilang aku tak cukup baik untuk ditipu. Selamat tinggal.” Ucap si Pria pamit pergi. Tuan Lee pun mengeluh kesal dan menyuruhnya pergi. 


Nyonya Lee datang bertanya Siapa pria itu dan apakah Dia tanda tangan kontrak. Tuan Lee mengeluh Kenapa harus merekrut pecundang seperti itu dan bertanya balik ada apa datang. Nyonya Lee heran Tuan Lee yang masih bertanya.
“Aku Mau pastikan Hye-jun terima uang.” Tegas Nyonya Lee. Tuan Lee mengeluh Belakangan ini terus berurusan dengan orang menyebalkan.
“Lanjut ke rencana kedua?” ucap Nyonya Lee memperlihatkan ponselnya.
“Kau tak mengenal Hye-jun. Apa kau pikir dia akan mengganggumu?” kata Tuan Lee akhirnya pindah ke meja kerjanya.
“Kau sangat mengenal dia, tapi tega melakukan itu?” keluh Nyonya Lee. Tuan Lee menegaskan Itulah hidup.
“Dia terlalu baik. Dia tak bisa bertahan. Dia terlalu bersih untuk bekerja di industri ini. Penata peran Dalman menghubungiku. Dia ingin Hye-jun di peragaan busananya.” Ucap Tuan Lee. Nyonya Lee pikir itu bagus.
“Kau tahu aku bilang apa? Aku bilang bahwa dia sudah pensiun.” Ucap Tuan Lee sambil mengangkat telpnya. Nyonya Lee hanya bisa melonggo. 


Kakek Sa duduk di luar rumah. Nyonya Han pulang melihat ayah mertuanya terlihat bahagia. Kakek Sa melihat Nyonya Han telat hari ini dan dari arah yang berbeda. Nyonya Han mengaku harus beli bahan makanan karena mau membuatkan sup kesukaan Yeong-nam.
“Apa Kau dapat sesuatu?” tanya kakek Sa melihat tas belanjaan menantunya.
“Aku mendapatkan jas yang cocok untuk Ayah. Jadi Aku akan cuci dulu.” Ucap Nyonya Han bahagia. Kakek Sa pun terlihat senang.
“Apa ada untuk suamimu?” tanya Kakek Sa. Nyonya Han mengaku Ada jaket, tapi tak yakin Tuan Sa mau memakainya.
“Ayah pakai dulu, lalu berikan. Seolah aku yang beli.” Ucap Kakek Sa. Nyonya Han pun senang mendengarnya merasa Kakek Sa memang pintar sekali.
“Jika menang lotre, maka ayah akan membelikanmu rumah.”ucap Kakek Sa. Nyonya Han pun mengucapkan Terima kasih.
“Astaga. Terima kasih sudah menerima harapan tak bermutu ayah.” Ucap Kakek Sa.
“Aku tak bisa membenci Ayah. Sampai saat ini, tak ada wanita yang membenci ayah. Kuharap Yeong-nam  bisa berbicara lembut seperti Ayah.” Ucap Nyonya Ha. Kakek Sa hanya tersenyum dan mengajak untuk pulang. 


Tuan Sa mengeluh bertanya pukul berapa istrinya baru pulang. Nyonya Han melihat suaminya sedang berbaring sambil di kompres lalu mengaluh agar Pergilah ke rumah sakit jika sakit.
Tuan Sa merasa Tak ada gunanya pergi ke rumah sakit karean Biaya satu suntikan saja mahal sekali. Nyonya Han pikir Daripada makan obat dan tempel koyo, lebih murah jika langsung diobati.
“Biar aku yang bayar biaya RS. Berhenti merengek.”ucap Nyonya Han. Tuan Sa langsung duduk tak terima dianggap Merengek
“Beraninya kau berkata begitu padaku?” ucap Tuan Ha. Nyonya Han pikir suaminya  yang harus belajar kapan harus tutup mulut.
“Meski dekat dengan Jang-man, harus hati-hati saat cerita.” Ucap Nyonya Han kesal
“Lagi pula, semua orang sudah tahu. Aku akan akhiri hal ini saat Hye-jun pulang Bermain film takkan mengubah hidupnya.” Kata Tuan Sa.
“Siapa tahu?” ucap Nyonya Han. Tuan Han yakin itu mustahil jadi meminta istrinya agar diam saja dan jangan ikut campur.


Saat itu disebuah restoran, semua orang sedang menonton bola bersama. Mereka melihat pertandingan Korea melawan Jepang. Hye Jun dkk berteriak bahagia saat Lee Seung-woo, Hwang Hee-chan membuat gol. Semua penonton berteriak histeris.
Sebuah tempat terlihat papan bertuliskan [AREA PERTUNJUKAN RUANG TERBUKA] beberapa orang sedang menyanyi dan juga menar memperlihatkan semua keahilanya. Jeong Ha menaruh meja dan juga peralatan make up lengkap dengan cahaya dan juga handphonenya.
“Jika ada pertanyaan, tanya saja.” Ucap Jeong Ha melihat seorang wanita berdiri tak jauh darinya.
“Halo... Aku tak pernah berias. Namun, saat banyak debu halus, wajahku terasa gatal dan tak nyaman.” Ucap Si wanita
“Ada cara merias untuk menangkal debu halus. Aku sedang merekamnya. Jika tak masalah terekam, maka aku akan mengajarimu.” Ucap Jeong Ha
“Aku tak pandai berias. Apa aku bisa?”ucap si wanita akhirnya duduk disamping Heong Ha.
“Aku akan memberi tahu cara merias untuk menyangkal debu halus. Warna kulitmu… Coba lihat ke arahku sebentar.” Ucap Jeong Ha akhirnya membuat videonya. 

Hye Jun dkk akhirnya berjalan pulang, Jin U berkomentar  Son Heung-min pasti senang sekali hari ini. Hye Jun yakin Heung-min pantas dapat pengecualian wamil. Hae Hyo pun berharap Heung-min terus berjaya dan menurutnya Beruntung sekali.
“Bukankah itu suatu kehormatan bagi pria?” kata Hae Hyo. Ji Un merasa bukan hanya itu
“Kehormatan sejati milik para pemuda seperti kita yang menghabiskan dua tahun untuk menjaga negara! Apa kalian pernah makan ayam tiga kali sehari? Jika ada wabah flu burung…” ucap Jin U
“ Pagi, samgyetang Siang, dakbokkeumtang. Malam, ayam goreng.” Kata Hye Jun.
“Jika ada wabah kolera babi?” ucap Jin U. Hye Jun menjawab Pagi, jeyukbokkeum Siang, dwaejigalbijjim Malam, samgyeopsal. Lalu mereka berterik kalau rasanya Mau muntah.
“Kau punya banyak pengalaman secara tak langsung melaluiku. Pergi sekarang pun, kau akan langsung terbiasa.” Ucap  Jin U
“Memangnya aku pergi sekarang?” kata Hye Jun. Hae Hyo terdiam lalu mengaku sudah dapat kabar dari studio.
“Aku tak tahu bagaimana memberitahumu. Kurasa lebih cepat lebih baik.” Kata Hae Hyo
“Kau kejam sekali! Kenapa harus beri tahu sekarang?” ucap Hye Jun marah. Jin U merasa temanya sudah gila.
“Kau yang membahasnya.” ucap Hae Hyo. Jin U mengeluh Kenapa sekarang. Hae Hyo menegaskan kalau Jin U yang menyuruhnya. Hye Jun sudah berjalan melalu sebuah papan bertuliskan [AKU PUNYA MIMPI]



Mereka pun akhirnya pergi ke karaoke dan Hye Jun melampiaskan semuanya sambil bernyanyi. Jin U mendengar Hye Jun bernyanyi dengan lirik keputus asaan meminta agar berhenti karena  terlihat menyedihkan dan Sudah cukup  karena terlalu banyak minum.
“Kalian menghancurkan momen berhargaku. Aku jarang merasa bahagia tanpa harus memikirkan apa pun.” Ucap Hye Jun kesal
“Dia bilang untuk memberitahumu saat kau senang.” Ucap Hae Hyo membela diri. Jin U mengeluh apakah harus mengatakan itu padanya?
“Aku suka kisah lagu-lagu BTS. Lagu mereka membuatku ingin hidup dengan benar..” Ucap Hye Jun.
“Hei! Lakukan saja sesuai keinginan kalian Tentu, itu tak mungkin terjadi.” Kata Jin U
“Kau hanya merusak suasana saja. Kau pantas dipukul.” Kata Hae Hyo memberikan pukulan.  Jin U mengeluh sakit. 


Di rumah, Jeong Ha melihat hasil rekaman videoanya yang memberikan tips make up, dengan memberikan shading maka fitur wajahnya akan terlihat jelas.
Flash Back
Si wanita melihat Jeong Ha merasa kalau pasti punya pacar. Jeong Ha mengaku tak mau pacaran karena itu menguras emosi dan mengganggu hidupnya dan hanya mengidolakan pesohor. Si wanita ingin tahu siapa itu karena ingin mengikutinya juga karena sedang berhenti dari hal itu.
“Ini rahasia. Tadi siang aku bertemu dengan idolaku.” Akui Jeong Ha. Si wanita berkomentar Jeong Ha beruntung sekali.

Jin U berjalan pulang dengan Hye Jun bertanya  Apa butuh penghiburan. Hye Jun merasa Tadi sudah cukup. Jin Un memberikan semngat pada temanya kalau  yakin akan berhasil dan menurutnya Ini bukan sekadar basa-basi.
“Aku sangat objektif. Kau tahu itu, 'kan?” ucap Jin U. Hye Jun mengaku kalau sekarang ingin jalan dengan tenang. Jin U menganguk mengerti.
“Ketenangan adalah yang terbaik saat banyak pikiran. Wah.. Waktunya pas sekali. Jika wanita, aku nikahi.” Ucap Jin U mendengar ponselnya berbunyi.
Hae Nee mengirimkan pesan [Ayo makan ramyeon.]  Hye Jun pun bertanya apakah Jin U akan menikah. Jin U mengumpat  dan langsung pamit pergi sambil berpesan agar  Jangan terlalu banyak berpikir untuk Hari ini saja.


Hye Jun terdiam melihat bayangan dirinya dinding, seperti akan menghilang apabila tak ada sinar. Ia pun mengingat ucapan Tuan Jung.
“Pikirkan baik-baik masa depanmu. Sudah kuperingatkan lima tahun lalu, kau tak bisa melakukannya sendiri.” Kata Tuan Jung
“Jika tak bisa kulakukan sendiri, aku harus berhenti.” Kata Hye Jun
“Kenapa kau tak punya ambisi? Apa Kau mau begini terus sampai mati?” ucap Tuan Jung. Hye Jun mengeluh kalau itu Persetan.

Nyonya Kim menonton drama di TV dan terlihat senang melihat adegan berciuman. Saat itu Ia mendengar bunyi suara pintu dan tahu kalau anaknya pulang. Hae Hyo pun masuk rumah, Nyonya Kim bertanya apakah anaknya minum miras dan pergi ke acara penutup. Hae Hyo mengaku  tak ke sana dan hanya minum dengan Jin-u dan Hye-jun.
“Ini hari baik. Kenapa kau terlihat tak senang?” ucap Nyonya Kim heran melihat anaknya.
“Ibu. Apa Ibu kenal seseorangdi perusahaan film?” tanya Hae Hyo. Nyonya Kim panik dan mengaku itu tak mungkin dan ingin tahu alasan bertanya.
“Mungkin ada peran lain untuk Hye-jun.” ucap Hae Hyo. Nyonya im mengeluh anaknya yang selalu memikirkan Hye-jun.
“Dia bukan saudaramu. Kenapa begitu memikirkannya? Meski tahu, ibu tak mau bantu.” Ucap Nyonya Kim marah
“Baiklah. Aku menyesal mengatakannya. Maaf... Apa Ayah sudah pulang?” tanya Hae Hyo melihat ibunya cemberut dan mengalihkan ke percakapan lainya.
“Tidur. Karena senang, ibu menunggumu untuk merayakannya Kau mengecewakan ibu.” Ucap Nyonya Kim kesal
“Sepertinya Ibu tetap mau merayakan, 'kan? Tapi aku mau tidur.” Kata  Hae Hyo berlari ke lantai atas. Nyonya Kim makin berterika kesal. 


Nyonya Kim masuk kamar mengeluh kesal melihat suaminya yang tidur tenang sekali tapi ia masih kesal jika memikirkan sekolah Hae-hyo. Tuan Won yang berbaring menyahut bertanya  Kenapa begitu kesal. Nyonya Kim kaget karena ternyata suaminya masih belum tidur.
“Asupan kafeinku hari ini terlalu banyak.” Ucap Tuan Won akhirnya duduk diatas tempat tidurnya.
“Aku ingin Hae-hyo masuk sekolah swasta, tapi malah dimasukkan sekolah negeri. Coba Lihat temannya. Dia berteman dekat dengan anak ART.” Keluh Nyonya Kim
“Pria harus berteman dengan orang dari berbagai kelas. Hanya berteman dengan orang sekelas membuat pandangannya sempit.” Ucap Tuan Won
“Berhenti mengutip perkataan Konfusius.
Hidup harus sesuai kelas. Suatu saat nanti Hye-jun akan menghambat Hae-hyo. Dia tak bisa mengekspresikan kebahagiaannya setelah lulus audisi karena Hye-jun.” keluh Nyonya Lee.
“Kenapa harus begitu? Itu hanya hobi. Dia akan segera berhenti. Kenapa kau begitu marah?” ucap Tuan Won.
“Kata siapa cuma hobi? Mengambil alih sekolah adalah hobi, pesohor adalah pekerjaan utama.” Ucap Nyonya Kim kesal
“Belakangan ini kau keterlaluan. Kau selalu Bicara formal dan kasual sesukamu. Sudah kubilang dalam hubungan harus ada tata krama. Vulgar sekali.” keluh Tuan Won akhirnya memilih untuk berbaring kembali.
“Kebanyakan orang bilang bahwa mereka iri denganku. Mereka kira aku punya semua. Tapi Mereka tak tahu. Sangat menderita tinggal bersama suami yang tak bisa berkomunikasi. Astaga.” Ucap Nyonya Kim kesal meihat suaminya. 


Hae Hyo akhirnya mandi tapi seperti memikirkan tentang nasib temanya. Ia lalu menelp seseorang memberitahu kalau mau melakukan pemotretan Arena dengan Hye-jun. Managernya mengeluh kalau Mereka menginginkan Hae Hyo saja.
“Mereka tak akan suka jika Hye-jun ikut.” Ucap si manager. Hae Hyo pun menegaskan kalau tak mau melakukanya.
“Konsepnya adalah model yang menjadi aktor, 'kan? Aku bayar biaya tambahannya.” Ucap Hae Hyo.
“Aku akan coba bicara. Pengikut media sosialmu bertambah lagi. Mari raih satu juta pengikut.” Ucap managernya.
Hae Hyo akhirnya melihat jumlah PENGIKUT, 557.000 dan tak percaya kalau Bertambah 3.000 dalam sehari. Ia pun tersenyum bahagia karena makin banyak orang yang kenal denganya. 

Jeong Ha menguploud video CARA MERIAS UNTUK MENANGKAL DEBU HALUS lalu berteriak bahagia karena Akhirnya Selesai. Ia pun measa kalau Hari yang sempurna jadi hari seperti ini harus diabadikan. Ia pun memula mengunakan fitur video di media sosialnya.
“Hari ini adalah hari yang sempurna.” Ucap Jeong Ha mengingat saat pertama kali melihat sosok Hye Jun yang akan dimake up olehnya.
“Ini Mendebarkan.” Ungkap Jeong  Ha lalu mengingat keadaan yang membuatnya sedih saat Jin Ju memarahinya karena dianggap Selalu merebut klien orang lain.
“Ini Tak adil.” Kata Jeong ha lalu mengingat saat duduk bersama dengan Hye Jun dan karena mereka seumuran jadi mengajak untuk berbicara santai
“Ini Tak disangka.” Kata Jeong ha bahagia mengingatnya dan mengingat saat Hye Jun berbicara lagi padanya.
“Tadi terasa tak adil, 'kan? Kau tak mencuri kliennya, tapi dia salah paham. Aku tahu rasanya.” Ucap Hye Jun seperti sangat mengerti perasaan Jeong Ha. 
“Tersentuh.” Ucap Jeong Ha. Dan saat diruang make up. Hye Jun memberitahu kalau Orang bilang dirinya itu lugas.
“Realitas.” Ucap Jeong Ha lalu mengirikan foto dengan hastag  #HARI SEMPURNA #MENDEBARKAN #TAK ADIL #TAK DISANGKA #MENYENTUH



Tuan Sa sibuk memasang pintu di kamar Gyeong Jun. Nyonya Han mengeluh  kalau tak mengerti jalan pikiran suaminya padahal Bahunya sedang sakit jadi Kenapa harus dipasang sekarang. Tuan Sa merasa Putranya mendapat pekerjaan dan tak bisa belikan rumah.
“Setidaknya ganti daun pintu Ini Kukuh sekali. Hidup Gyeong-jun juga harus sekukuh ini.” Ucap Tuan Sa bangga melihat pintu buatanya.
“Jika terima upah bulan ini, aku akan mentraktir Ayah.”kata Gyeong Jun. Nyonya Han ingin tahu dengan nasibnya. Gyeong Jun pun mengatakan kalau akan traktir Ibunya juga dan pergi ke mal.

Hye Jun pulang ke rumah melihat dari jendela rumahnya, sang ayah memuji kakaknya yang sangat berbakti. Gyeong Jun merendah agar Jangan berlebihan. Hye Jun akan berjalan masuk tak melihat ada sesuatu didepan lalu tersandung.
“Menyedihkan sekali.” keluh Tuan Sa bisa melihat kalau anaknya baru saja tersandung.
“Kau tak seharusnya minum miras.” Ucap Tuan Sa menyindir anaknya saat akan masuk kamar.
“Tolong biarkan aku sendiri untuk hari ini.” Pinta Hye Jun yang sedang frustasi.
“Bagaimana kau menghadapi dunia jika lemah seperti ini?” ucap Tuan Sa menyindir.
“Ayah tak memarahiku pun, aku sudah cukup menderita. Hentikan.” Pintu Hye Jun.
“Saat seusiamu, ayah kerja di lokasi konstruksi untuk menghidupi keluarga. Kau hanya perlu merawat diri sendiri. Kenapa begitu menderita?” ucap Tuan Sa.
“Jika kuberi tahu penderitaanku, apa Ayah bisa paham?” ucap Hye Jun mencoba menahan amarahnya.
“Kapan ayah tak memahamimu?” keluh Tuan Sa. Hye Jun memberitahu kalau tak lulus audisi.
“Bagus. Kini, kau bisa pergi wajib militer.” Ucap Tuan Sa. Gyeong Ju pikir  Rupanya berakhir begini.
“Coba Lihat aku. Wajib militer dulu. Anak keluarga miskin seperti kita lebih baik selesaikan kewajiban secepatnya.” Ucap Gyeong Jun.
“Kau malah pamer.” Keluh Hye Jun kesal. Gyeong Jun mengaku sangat cemas karena adiknya harus pergi wajib militer.
“Wajib militer adalah tugas. Aku harus menyelesaikannya. Jika tak diselesaikan, akan terus terpikirkan. Siapa yang lebih menderita? Ini hidupku. Siapa yang lebih menderita?” ucap Hye Jun dengan nada tinggi
“Siapa yang menyuruhmu menjadi model? Saat kau berkeliaran ingin menjadi model, tapi dia masuk Universitas Nasional Seoul tanpa les sekali pun. Meski orang tua tak bisa membantu, kakakmu berhasil melakukannya. Duduk dan belajar adalah hal paling mudah.” Ucap Tuan Sa membela.
“Aku mulai bekerja lebih dulu daripada Gyeong-jun. Aku menjadi model terkenal.” Kata Hye Jun membela diri.
“Tak berguna. Tak ada orang yang mengenalimu di jalanan.” Kata Tuan Sa. Hye Jun tak percaya mendengar komentar ayahnya.
“Keberuntunganmu hanya sampai di sini.” Ucap Tuan Sa. Nyonya Han pun tak bisa membela anak bungsunya.
“Menyerahlah dan hadapi kenyataan. Kau sudah bekerja selama tujuh tahun, berapa uang di tabunganmu? Kita harus mencari nafkah. Aku tak mau berkorban hanya karena aku anak sulung keluarga miskin ini!” tegas Gyeong Jun.
“ Aku tak peduli kita miskin. Tapi Apa harus merendahkan orang begini? Di luar aku diserang, di rumah lebih diserang. Katanya, kalian keluargaku. Semua demi aku.” Keluh Hye Jun.
“ Keluarga tak bisa bereskan segalanya.”tegas Gyeong Jun. Hye Jun pun berteriak meminta agar jangan mengatur hidupnya.
“Semenjak lulus SMA, maka aku tak pernah minta uang ke Ayah. Kenapa kalian mengatur masa depanku dan merendahkanku?” ucap Hye Jun dengan nada tinggi.
“Apa sekarang kau merasa menjadi korban?”keluh Gyeong Jun. Hye Jun pikir kalau dirinya korban, maka kakaknya adalah psikopat.
“Aku tak lulus audisi. Biasanya akan ada yang mengatakan "Sayang sekali. Kau pasti sedih." Itu perkataan yang wajar. Tapi ayah mengatakan "Bagus. Kini, kau bisa pergi wajib militer." Apa Ayah manusia?” Ucap Hye Jun marah. Tuan Sa pun mulai mengumpat marah. 




“Kau mengatai ayah?Anak durhaka. Beraninya bicara begitu ke orang tua?”ucap Tuan Sa marah. Saat itu kakek Sa pun keluar kamar.
“Hei! Jika dia durhaka, maka kau juga sama melihat perlakuanmu pada ayah!” ucap Kakek Sa.
“Ayah. Jangan ikut-ikutan.” Ucap Tuan Sa. Hye Jun pun mulai menangis karena hanya kakeknya yang membela.
“Kenapa kau hanya memarahi Hye-jun? Dia tak lulus audisi dan tak bisa melakukan hal yang dia inginkan. Kau seharusnya menghibur dia terlebih dulu... Ya ampun.” Ucap Kakek Sa.
“ Jika kakek menyela seperti ini, maka kau merusak cara mendidik ayah.” Ucap Gyeong Jun marah


“Hei! Hye-jun masih 26 tahun! Dulu, dia cukup tua untuk menikah! Biar dia tentukan hidupnya! Kenapa mengajarinya?” kata Kakek Sa.
“Kakek, ayo kita masuk kamar.” Ucap Hye Jun tak ingin adu mulut lagi. Kakek Sa pun mengikuti permintaan cucunya.
“Orang serupa berkumpul bersama.”ejek Tuan Sa. Kakek Sa keluar kamar berteriak agar anaknya bisa melihat daun pintu ini!
“Kau mengganti daun pintu anak sulungmu agar hidupnya kukuh Lalu, kau mengharapkan kami hidup menderita? Jika kau mau melakukannya, lakukan untuk keduanya atau jangan sama sekali. Kau selalu membeda-bedakan.” Teriak Kakek Sa lalu membanting pintu.
Tapi karena pintunya sudah lapuk malah jatuh di lantai. Nyonya Han hanya bisa melonggo. Kakek San pun panik mengaku tak melakukannya.

1 komentar: